Petrus Samyang (Pepet Terus Sampai Sayang)

Petrus Samyang (Pepet Terus Sampai Sayang)
20. Drama Luna


__ADS_3

Hari ini adalah waktu yang sangat di tunggu oleh Cakra. Weekend kali ini ia keluarganya diundang makan malam bersama di rumah Luna. Entah ada acara apa ia tak tahu dan tak penting juga baginya ia tahu.


Pukul tujuh malam mereka sampai di kediaman keluarga Luna. Rupanya keluarga itu sudah menunggu kedatangan mereka dengan menyambutnya di rumah tamu.


Seperti tamu agung pada umumnya, mereka di sambut baik dan hangat oleh kedua orang tua Luna. Hubungan persahabatan yang terjalin antara Oma Ning dan juga neneknya Luna rupanya tak putus meski Nenek Luna telah tiada sudah sejak lama.


Kedua orang tua Luna lalu menggiring mereka untuk duduk lebih dulu di sofa ruang tamu, membicarakan hal-hal yang ringan dan santai.


Luna menjadikan pertemuan ini kesempatan untuk dekat-dekat dengan Cakra. Gadis itu sejak tadi menempel pada Cakra. Entah di mana urat malu gadis itu, ia bersikap seakan tidak ada orang lain di sekitarnya.


Gadis yang sebenarnya dinikahkan dengan Cakra beberapa waktu lalu adalah dirinya. Namun, ia menolak perjodohan itu mentah-mentah bahkan sebelum mereka di pertemukan. Dan akhirnya perjodohan itu di lempar pada Aura.


Penyesalan datang begitu saja saat menghadiri pernikahan Cakra dan Aura. Ketampanan yang luar biasa di pancarkan oleh Cakra mampu membaqa Luna ke dalam penyesalan yang dalam.


"Cakra, bagaimana kalau kita ngobrol di teras?" ajak Luna.


Belum sempat Cakra menjawab, Oma Ning sudah bersuara.


"Ajaklah dia keluar, kalian bisa ngobrol tanpa sungkan."


Tatapan dan ekspresi malas seketika tercetak jelas di wajah Cakra. Namun, ia tetap melakukan apa yang diminta oleh Luna. Dengan manja dan tak tahu diri Luna bergelayut di lengan Cakra.

__ADS_1


"Jangan pernah sentuh aku seperti ini. Nggak punya malu apa nggak punya harga diri?" sentak Cakra dengan amarah tertahan.


Pria itu menepis tangan Luna kasar lalu berjala ke teras. Jika Luna tidak peduli tempat, maka ia juga akan melakukan hal yang sama. Ia tak peduli sebanyak apa sepasang mata yang menatapnya dengan murka.


Luna menghentakkan kakinya dengan kesal sebelum menyusul Cakra ke teras.


"Kamu kenapa, sih? Kita ini nanti akan jadi suami istri, kenapa kamu bicara kasar begitu?"


"Itu yang kau inginkan, tidak denganku. Sudah berapa kali aku katakan, aku tidak akan pernah menikah denganmu. Aku tidak akan sudi."


"Kita lihat saja, keinginan siapa yang akan terwujud, aku atau kamu?"


Jiwa licik Luna seakan sangat terlihat malam ini. Mungkin ia sudah bosan dengan tingkahnya sendiri, sehingga ia mengeluarkan jurus dan dirinya di sisi lain.


Cakra kembali masuk rumah dengan ekspresi kesal. Ucapan yang sejak menginjakkan kaki di rumah Luna sebisa mungkin ia tahan, akhirnya keluar juga saat ia duduk di sofa.


"Maaf semua, ada hal penting yang mau saya bicarakan. Ini soal saya dan Luna. Sebelumnya saya mohon maaf yang sebesar-besarnya, saya dengan sadar dan tegas menolak perjodohan ini. Saya tidak ingin menikah dengan siapapun saat ini, apalagi dengan Luna. Saya ingin fokus pada Aura saja. Lagipula saya dan Luna suah dewasa, sepertinya kami bisa mencari jalan dan cara masing-masing untuk menemukan kebahagiaan tanpa harus bersama. Sekali lagi saya minta maaf."


Ucapan panjang lebar dari Cakra dihadiahi tatapan membunuh dari Oma Ning. Wajah wanita tua itu terlihat merah meriah dengan rahang yang sudah mengerat. Cakra tak peduli, ia sudah siap dengan segala resiko yang akan ia terima. Lebih baik ia mendapat amukan dari pada harus menikah dengan Luna.


"Ada apa Cakra? Kenapa tiba-tiba bicara seperti itu?" tanya Ayah Luna.

__ADS_1


"Tiba-tiba? Memang saya pernah mengatakan bersedia menikah dengan Luna. Yang bicara seperti itu Oma, bukan saya. Oma tidak pernah meminta persetujuan dari saya saat kalian membicarakan perjodohan ini."


"Cakra, kenapa kamu bicara seperti itu? Aku nggak ada hubungan sama siapapun, mana mungkin aku mengkhianati kamu ketika kita sudah merencakan pernikahan." Luna datang dengan wajah paniknya.


Dengan wajah meyakinkan ia bicara dan siap akan menjadi aktris yang handal mengarang cerita.


"Ma, Pa, Cakra hanya salah paham. Dia pernah lihat aku sama temen kampusku dulu sedang makan di restoran. Padahal aku waktu itu nggak berdua aja, rame-rame sama temen aku, tapi dia salah paham. Dia mengira aku dekat dengan salah satu di antara mereka."


Cakra jelas tercengang. Ia tak mengira, Luna yang tak tahu malu ternyata punya keahlian untuk merubah dan membuat cerita baru.


"Ngomong apa, sih? Jangan mengarang cerita Luna!" ujar Cakra tegas dan keras.


"Cakra, aku bisa kok mempertemukan kamu sama teman aku kalau kamu mau. Atau kalau nggak aku nggak akan lagi jalan bareng sama mereka kalau hal itu membuat kamu cemburu. Maafkan Aku."


Cakra mengusap wajahnya kasar, ternyata rencana yang sudah lama ia rencanakan tidak berjalan dengan sempurna. Ingin sekali rasanya ia mencekik Luna saat ini.


"Oh jadi ini salah paham saja? Kalau begitu kalian belajar menyelesaikan masalah kalian sendiri tanpa bantuan dari kami. Kalau begitu mari kita makan malam."


"Om maaf, ini tidak seperti yang kalian kira. Aku tidak peduli Luna mau bergaul dengan siapapun. Aku menolak perjodohan ini karena memang aku nggak mau nikah sama dia. Bukan karena aku cemburu, aku nggak cinta sama Luna." Cakra masih berusaha menjelaskan, ia tak mau ada yang salah paham dan akan semakin membuat dirinya terikat dengan Luna.


"Sekarang nggak cinta nggak apa-apa. kamu sama Aura dulu juga begitu, tapi nyatanya tetap punya anak, kan? Mari ke meja makan?" ajak Ayah Luna lagi.

__ADS_1


Cakra hendak berucap kembali, namun urung karena dicegah oleh sang Ibu. Cakra menatap Luna dengan sangat marah, sementara yang ditatap hanya menunjukkan senyum liciknya. Seakan ia menunjukkan bahwa 'jangan main-main dengan Luna'.


__ADS_2