
Seorang dokter perempuan dengan dibantu salah satu suster sedang memasang alat yang diperliilam Baby. Setelah semuanya selesai dokter itu memancing kembali detak jantung Baby. Tiga kali percobaan dan akhirnya degak jantung itu kembali meski sangat lemah. Sudah satu jam petugas medis berkuat berusaha menangani Baby.
"Pastikan suhu pasien tetap hangat," titah dokter itu dan berlalu dari ruangan.
Diluar ruangan, nampak Cakra yang terduduk di salah satu kursi. Menenggelamkan wajahnya di kedua telepak tangan. Entah kenapa ia sangat merasa bersalah dan tak mau jika Baby pergi seperti Aura. Ia tak sempat memikirkan apa alasan itu semua. Yang ada dalam pikirannya hanya harapannya terkabul. Sungguh ia hanya ingin itu saat ini.
"Mama, kenapa dokternya lama sekali? Bagaimana jika Clarissa... Ya Tuhan, apa yang harus aku jelaskan pada orang tuanya. Ma, dia pasti kembali, kan? Akun sudah bilang tadi kalau aku akak marah kalah dia nggak dengar aku. Biasanya dia nurut kalah aku ancam begitu, kenapa sekarang nggak selesai-selesai diperiksa?" Cakra bicara panjang lebar mengenai kecemasan hatinya.
"Tunggu dulu, berpikir yang positif Cakra, semua akan baik-baik saja."
Tidak berselang lama pintu UGD terbuka. Cakra dan ibunya langsung berdiri dan menanyakan keadaan Baby.
"Alhamdulillah pasien bisa diselamatkan. Detak jantungnya sudah kembali meski masih lemah. Kita tunggu sampai beberapa jam, mudah-mudahan bisa kembali selain normal. Semua butuh waktu, jadi kita harus sabar."
"Ah syukurlah. Terima kasih banyak, Dok. Boleh kami masuk?" Cakra yang bertanya.
"Silakan. Saya permisi kalau begitu."
Ibu dan anak itu berhamburan masuk ke ruangan. Cakra bahkan melupakan bajunya yang sudah sedikit mengering. Ia tak peduli dengan menggigil nya dirinya karena kedinginan.
"Ma, lihatlah. Wajahnya masih sangat pucat, badannya juga dingin." Cakra menyentuh beberapa bagian tubuh gadis yang sedang terbaring lemah dengan bantuan alat bernafas di hidungnya.
"Nanti akan membaik, Mama keluar sebentar."
Bu Nisa yang tadi sempat mengatakan pada supirnya untuk mengambil pakaian ganti untuk Cakra sedang menunggu di luar. Beliau seorang diri berjalan di koridor rumah sakit. Karena hari sudah sedikit malam dan beliau juga baru sadar jika kedua orang tua Baby harusnya diberi kabar mengenai kondisi anaknya. Entah bagaimana reaksinya nanti, biarlah menjadi tanggung jawab dirinya dan Cakra. Akan lebih salah lagi jika beliau tidak memberitahu apa yang sudah terjadi pada Baby.
__ADS_1
"Seharusnya aku sudah melakukannya sejak tadi, kenapa aku bisa sampai lupa?"
Bu Nisa lalu merogoh tas Baby yang sejak tadi ia bawa kemana-mana. Tas yang basah kuyup itu sudah membuat ponselnya juga ikut mati. Besar harapan beliau untuk bisa menghubungi orang tua Baby melalui gawai milik Baby.
"Ah syukurlah masih bisa nyala."
Begitu gawai itu menyala, sudah banyak sekali notif panggilan dan juga pesan dari nama kontak yang sama. 'Ayah' itulah nama kontak yang menghiasi ponsel Baby.
Tanpa pikir panjang lagi Bu Nisa segera menghubungi ayah Baby kembali. Beliau sudah siap apapun reaksinya nanti.
"Selamat malam, Pak. Maaf mengganggu waktunya malam-malam. Ini saya Nisa. Saya adalah Ibu dari atasan Baby di mana Baby bekerja. Saat ini Baby sedang berada di rumah sakit, karena tadi tenggelam di kolam renang saat menghadiri acara cucu saya, yaitu Cakra atasan Baby yang ada di kantor. " Entah sudah berapa kali Bu Nisa mengulang kata yang sama karena saking gugupnya.
"Apa? Lalu bagaimana keadaan anak saya? Apakah dia baik-baik saja? di rumah sakit mana?" Ayah Baby memberikan berbagai rentetan pertanyaan.
"Baby baik-baik saja, di sudah ditangani dokter. Jalan bisa ke rumah sakit harapan sembuh. Sebelumnya kami minta maaf, ya, Pak. Baby mengalami kecelakaan saat menghadiri acara kami."
Jika terdengar dari suaranya, Ayah Baby tidak terdengar marah atau sejenisnya. Beliau nampak tenang, tidak tahu lagi jika beliau melihat Baby nantinya.
Bu Nisa lalu melanjutkan langkahnya keluar rumah sakit untuk mengambil pakaian Cakra.
Sementara itu yang terjadi di dalam ruang rawat Baby masih keheningan yang mendominasi. Hanya terdengar suara suara alat detak jantung saja yng terdengar.
Cakra diam tidak bergeming memandangi Baby yang sedang tertidur. Entah kenapa dirinya merasa ikut tidak berdaya saat melihat Baby yang juga lemah tidak berdaya. Ia juga tak tahu kenapa ia bersusah hati seperti ini.
"Cakra, ini kamu ganti baju dulu. Biar nggak masuk angin. Kamu akan sakit juga kalau kamu nggak peduli sama badan kamu sendiri. Ini, ganti." Bu Nisa menyerahkan sepasang pakaian untuk anaknya.
__ADS_1
Cakra rasanya malas untuk beranjak. Namun, paksaan dari ibunya membuat Cakra terpaksa membawa tubuhnya ke kamar mandi.
Hanya butuh waktu beberapa menit saja bagi Cakra untuk mengganti pakaiannya.
"Ini teh hangat, minum!"
"Udah," balasan Cakra setelah menenggak sedikit teh hangat yang menghangatkan tubuhnya.
"Tadi Mama kasih tahu ayahnya Baby kalau anaknya di rumah sakit. Kalau dari respon yang Ma dengar tadi, sih. Ayahnya biasa aja, nggak marah. Mungkin syok, panik, itu udah pasti. Tapi kayaknya nggak ditunjukan aja. Mama harap nggak marah atau merespon yang dengan apa yang kita takutkan."
"Respon apapun akak akun terima, Ma. Lagipula ini salah aku. Aku udah berjanji sama diri aku sendiri untuk jaga dia tapi aku lengah. Tapi, Ma. Bagaimana bisa Cla bisa sampai di kolam? Ngapain dia di sana? Kalau dia kecebur nggak sengaja, paling juga masih di pinggiran aja, kan. Ini kita nemuin dia udah di tengah. Pasti kakinya nggak bisa napak di lantai dan dia nggak bisa renang. Dia terlalu lama di kolam sampai nggak nafas. Untunglah kita masih bisa nyelametin dia."
"Kita bisa cek CCTV besok. Atau kapan-kapan di saat kondisi Baby sudah membaik."
Tok tok tok
Terdengar pintu diketik dari luar. Bu Nisa audah menebak siapa yang datang. Dan ternyata tebakannya benar.
"Selamat malam, Bu. Apa benar ini ruangan Baby Clarissa? Saya Pak Rahmat dan ini istri saya Bu Nur. Kami orang tau Baby."
"Ah, iya. Pak, Bu. Saya Bu Nisa, yang tdi telepon Bapak. Mari masuk."
"Ya Allah, Nak. Kok sampai dingin begini?" Bu Nur mulai terisak. Wajar saja, tidak ada orang tua yang baik-baik saja jika melihat anaknya sedang tak berdaya.
"Maaf, Pak, Bu. Ini salah saya. Saya kurang bisa jaga Clarissa, e maksud saya Baby."
__ADS_1
"Apa tadi Baby sedang bersama Anda, Pak? Baby tadi hanya izin ke kami untuk keluar ke rumah temannya yang sedang ulang tahun. Tapi kata Bu Nisa tadi menghadiri ulang tahun cucunya. Bu Nisa punya cucu sebesar Baby? Apa itu mungkin?" Pak Rahmat yang bertanya.
Bu Nisa dan Cakra saling tatap. Pasalnya, mereka tak tahu jika Baby tidak jujur pada kedua orang tuanya.