
"Ya sudah tunggu apalagi, ayo kita ke sana. Pilih baju yang kau suka," ujar Cakra berjalan lebih dulu keluar rumah. Bahkan ia masih mengenakan pakain rumahan dan belum membersihkan dirinya. Rasa kesal yang lebih mendominasi rasanya mengalahkan segalanya. Rasa lapar yang tadinya menyeruak hilang entah ke mana.
"Makan dulu, Cakra," kata Bu Nisa.
"Nanti aja. Sepertinya Luna tidak sabar ingin memilih pakaian. Itu sebabnya dia datang ke sini di hari yang masih pagi. Aku harus menghargainya, bukan?"
Luna dan Oma Ning saling tatap seakan memikirkan hal yang sama. Di detik berikutnya, Oma Ning memeberikan kode pada Luna untuk segera menyusul Cakra. Seakan sudah memiliki ilmu kebatinan yang kuat, Luna paham dengan kode Oma Ning, hal itu terbukti dari langkah kaki Luna yang melebar menyusul Cakra yang sudah berada di teras.
"Cakra, aku mau gaunnya nanti yang mewah dan bagus. Aku mau warna putih tapi kayaknya pink juga bagus. Kamu mau warna apa?" tanya Luna begitu mobil melaju.
Wanita itu juga tak sungkan-sungkan untuk bergelayut manja di lengam Cakra yang sudah jelas ia sedang fokus dengan jalanan.
"Bisa singkirkan tanganmu? Ini bahaya, keselamatan kita jadi taruhan. Kau ingin kita celaka? Kalau kita celaka sekarang, otomatis pernikahan kita juga akan diundur. Jadi turunkan tanganmu."
"Jadi kamu juga nggak sabar nunggu kita menikah?" tanya Luna melepas tangannya dari lengan Cakra.
"Sangat tidak sabar."
Ya, aku sangat tidak sabar menunggu kehancuran mu, Luna. Akan ku buat kau menyesal sudah berbuat terlalu jauh padaku.
Luna terlihat bahagia. Ia sama sekali tidak menyadari perubahan yang mendadak di diri Cakra. Mungkin ia terfokus pasa perubahannya saja, tanpa curiga apa yang membuat pria itu berubah.
Setelah menghabiskan banyak menit di jalan. Akhirnya mereka sampai di butik di mana keluarga Cakra selalu memesan pakaian apa pun di sana.
Kedatangan mereka disambut baik oleh sang pemilik butik. Begitu melihat gambar desain yang terdapat beberapa lembar, Luna mulai bingung dengan desain yang akan ia pilih. Semua nampak bagus dan indah di mata wanita itu. Sementara itu, Cakra tak peduli dengan apa yang dilakukan Luna. Ia malah fokus dengan ponsel yang ada di tangannya. Sangat menunjukkan bahwa benda pipih itu lebih berharga dari Luna.
__ADS_1
"Sayang, ini sama ini bagus yang mana? tanya Luna menunjukkan gambar pada Cakra.
Astaga, jijik sekali aku mendengarnya. Tahan Cakra, jangan membuat suasana hatinya buruk. Kau harus membuat dirinya terbang sebelum tersungkur ke dalam jurang.
"Aku merasa ini lebih bagus. Sebenarnya semua bagus, tapi akan lebih bagus jika kamu pakai ini. Lebih elegan. Kamu mau yang mewah, kan?" Jawaban yang diberikan terdengar sepenuh hati, namun yang terjadi sebenarnya adalah ia setengah hati memberikan saran. Tentu saja saran yang asal. Tidak penting ia memberi saran pakaian apa yang akan ia kenakan. Ia juga tidak peduli dengan hal tidak penting begitu.
"Jas kamu mau yang bagaimana? Atau kamu mau yang semi formal aja?"
"Apa pun pilihan kamu akan aku pakai. Kamu tahu aku tidak pandai memilih hal seperti itu. Aku serahkan semua padamu. Aku yakin kamu bisa."
"Pasti bisa," balas Luna dengan cepat.
Selesai dari sana, Luna mengajak Cakra untuk mampir ke sebuah cafe. Malas sebenarnya, tapi ia harus membuat Luna dan keluarganya tidak mencurigai apa pun dengan rencana yang akan ia lakukan di hari pertunangannya nanti. Tak apa jika ia harus berkorban waktu dan dirinya yang disentuh-sentuh oleh Luna. Yang penting apa yang sudah ada di kepalanya akan berjalan dengan lancar nantinya.
Hak yang tak terduga terjadi saat mereka baru menginjakkan kaki di cafe. Siapa sangka, cafe yang di datangi oleh Cakra dan Luna adalah tempat di mana Baby mencari nafkah. Tentu saja mereka akhirnya bertemu di satu atap yang sama. Baby yang sempat sibuk membuat minuman untuk para pengunjung kini sedang tertegun dengan dua orang yang berada di depannya.
Ah sial, kenapa Luna harus bawa aku kemari? Clarissa pasti berpikir yang tidak-tidak.
Memang kenapa kalau Clarissa berpikir yang tidak-tidak? Apa masalahnya?
Hati dan logika Cakra mulai gaduh saat ini. Untuk menetralisir kegugupan yang sedang menguasai, Cakra izin ke kamar mandi.
Kini tinggalah Baby dan Luna yang saling berhadapan. Sorot mata kemenangan dan menghina Luna pancarkan dalam waktu yang bersamaan.
"Aku tidak menyangka kita akan bertemu lagi. Bagaimana rasanya sempat menemui ajal?" tanya Luna tanpa rasa dosa.
__ADS_1
"Kau ingin tahu? Mau coba? Akan aku bantu kalau iya. Mudah saja bagiku membuatmu mengalami apa yang pernah aku alami. Bahkan tanpa aku menyentuh dirimu seperti yang kau lakukan padaku."
Luna geram, Baby masih saja berani menjawab ucapannya. Ia masih berani menggunakan mulutnya untuk menantang dan membuat jiwa jahat Luna bangun seketika.
"Kau tidak berubah ternyata. Tapi tidak apa, kau tidak penting bagiku. Yang penting sekarang adalah aku sudah mendapatkan apa yang aku mau. Laki-laki yang kau dambakan sudah menjadi milikku. Kau kalah!" ujar Luna bangga.
"Ambil saja jika kau mau. Aku sudah pernah merasakannya, itu saja sudah cukup untukku."
Entah apa yang Baby katakan. Yang jelas sampai kapan pun, Baby tidak mau kalah debat dengan Luna. Baik dirinya yang salah atau tidak, kemenagan adu mulut dengan Luna adalah sebuah keharusan.
"Merasakan apa maksudmu?" tanya Luna mulai nampak emosi.
Cakra yang sempat mendengar obrolan mereka, akhirnya memutuskan untuk kembali bergabung. Ia tak mau tejadi pertengkaran di sini. Dalam hati ia bangga dengan Baby yang selalu saja punya cara untuk melumpuhkan mulut Luna.
"Kau sudah pesan minuman?"
"Belum, aku sengaja menunggu kamu." Luna kembali bereaksi untuk membuat Baby panas. Cakra sesekali melirik ke arah Baby yang menampilkan wajah biasa saja.
Ya, Baby memang memasang wajah biasa saja meskipun dalam hati ia merasa sakit dimana kedekatan mereka, ia tak mau menunjukkannya di depan Luna. Ia tak mau membuat Luna merasa senang dan menang atas kecemburuannya itu.
Ayolah Baby, punya hak apa kau cemburu dan tidak terima seperti ini. Kau bukan siapa-siapa dan tidak akan pernah menjadi siapa-siapa.
Merasa sungkan dengan kelakuan Luna. Cakra segea memesan minuman dan snack agar segera bisa menyingkirkan dari depan Baby.
"Kau masih suka dengan teh hijau? Sepertinya teh buatan ku meninggalkan kesan tersendiri."
__ADS_1
Luna tambah kesal. Ia menggeret Cakra agar menjaubdadu Baby. Sementara Baby hanya menampilkan senyum liciknya yang tidak pernah ia perlihatkan pada orang lain.