Petrus Samyang (Pepet Terus Sampai Sayang)

Petrus Samyang (Pepet Terus Sampai Sayang)
24. Ada Yang Beda


__ADS_3

Seperti biasa, Cakra di jam yang sama selalu melakukan hal yang sama setiap harinya. Jangan tanyakan apakah ia bosan, jawabannya tentu dan sudah pasti iya. Pria itu bahkan kini sedang berada di titik di mana ia sudah bosan dengan kehidupan, aktivitas, dan juga dirinya sendiri yang sudah seakan tak punya kebebasan dalam hal apapun. Masa remaja dan dewasa yang harusnya ia gunakan untuk memperluas pergaulan hilang dan berlalu begitu saja dengan aktivitas yang membosankan dan pekerjaan yang tidak seharusnya ia kerjakan di usianya.


Tok tok tok.


"Masuk!"


"Selamat pagi, Pak." Petugas pantry yang biasa mengantar asupan pagi untuk Cakra masuk dengan membawa secangkir minuman untuknya.


Tumben, Clarissa ke mana?


Entah sadar atau tidak, pertanyaan seperti itu muncul begitu saja di hatinya. Selama berbulan-bulan mendapat pelayanan dari Baby membuat pria itu merasa aneh jika pagi ini ia tidak mengganggunya.


Ya, Cakra sudah terbiasa dengan gangguan Baby yang sudah lebih dari setengah tahun ini. Delapan bulan bekerja di perusahaannya, selama itu pula Baby tidak pernah absen mengganggu kehidupannya.


Mungkin dia sudan bosan melakukannya. Syukurlah aku bisa tenang. Mudah-mudahan hariku damai mulai hari ini dan seterusnya. Damai? Apanya yang damai, Cakra? Ini sudah bulan ke enam setelah perencanaan pernikahan biadab itu dan kau belum melakukan apapun.


Di saat Cakra sedang kembali mengingat peliknya kehidupan, tiba-tiba wanita yang membuatnya semakin menderita dan tersiksa datang. Ah Cakra sama sekali tidak mengharapkan bahwa wanita ini memiliki umur yang panjang.


"Selamat pagi calon suami." Luna datang dengan seperti biasa, duduk di meja bermaksud agar ia lebih dekat dengan Cakra.


"Kau tidak bosan terus mengejarku? Kau seperti wanita yang tidak punya harga diri dengan melakukan ini."


"Mengejar? Aku sudah mendapatkanmu, mau kau akui atau tidak, kau tetap akan kalah dan berakhir duduk di pelaminan denganku."


"Ku rasa harus ada seseorang yang membangunkanmu dari tidur panjang mu ini."


"Tidak bisa Cakra. Kau tahu, aku ke sini untuk memberitahumu bahwa hari sabtu malam ada pembahasan untuk tanggal tunangan dan pernikahan kita. Mau di akui atau tidak, kau kalah dalam permainan ini. Aku masih ingat, kalau kau punya keyakinan yang besar akan gagalnya apa yang aku inginkan. Tapi lihat sekarang!"


"Jangan mengada-ngada. Mau dibahas sekarang atau nanti. Pernikahan akan dilakukan enam bulan lagi, sesusai perjanjian awal, kan? Aku masih punya waktu enam bulan untuk membuatmu sadar bahwa kau adalah satu-satunya wanita yang tidak pantas mendapatkan aku. Kau dengar itu!"

__ADS_1


Cakra lalu meninggalkan Luna yang masih terduduk di meja dengan perasaan yang seperti biasa, kesal dan amarah akan selalu datang di saat ia menemui Cakra.


"Pak, aku baru saja akan ke ruanganmu," ujar Dandi pada Cakra saat pria itu membuka pintu ruangannya.


"Apa yang membuatmu kesal?" ujar Dandi lagi. Tidak seperti biasanya atasannya itu menampakkan wajah yang kesal. Meskipun ia sering kesal dengan Baby, wajahnya tidak semuram ini.


"Apa yang dilakukan Baby?" Tidak mendapat jawaban dari mulut Cakra membuat Dandi kembali melempar pertanyaan.


"Bukan Clarissa, tapi Luna. Dia datang dan mengatakan sabtu malam akan membahas tanggal pertunangan dan pernikahan."


Meskipun tadi Cakra percaya diri dengan sanggahan yang dilakukannya di depan Luna, tetap saja ada terselip rasa khawatir akan gagalnya penolakan ini.


"Masih ada waktu enam bulan, kan? Jangan tunda lagi untuk mencari wanita yang bersedia memabanti Bapak. Sudah aku katakan dari awal, Bapak bisa memakai bantuan Baby. Kenapa nggak dilakukan? Baby sudah terbukti berani dengan Luna. Dia berani speake up, wanita lain belum tentu bisa."


"Ngomong-ngomong soal Clarissa, ke mana dia? Aku tadi pas sampai di sini, dia nggak ada di meja kerja. Dan hari ini yang antar minuman ku petugas pantry, apa dia tidak masuk?"


"Bapak mulai peduli padanya?"


"Dia izin sakit. Dari kemarin malam katanya demam tinggi, udah minum obat tapi turun sebentar dan kembali demam tinggi lagi. Katanya pagi ini main diperiksakan ke rumah sakit."


"Kau tahun sedetail itu? Lalu kenapa kau tadi menebak aku kesal karena dia kalau kau tahu dia sakit?"


"Hanya ingin menguji saja. Kalau soal sakitnya Baby saya tahu dari grup. Saya, Baby, dan Mira, kan membuat satu grup..." Dandi menutup mulutnya karena keceplosan. Ia tak mau menjadi bulan-bulanan Cakra karena tergabung dalam grup chat yang berisi tiga orang dan ia adalah satu-satunya pria di sana.


"Apa? Satu grup apa?" tanya Cakra menyelidik.


"Lupakan saja, aku punya nomer Baby dan dia mengatakan itu padaku."


"Sedekat itu kalian?"

__ADS_1


"Bukan hanya dengan Baby, tapi Mira juga. Aku sedang mengincar dia. Aku banyak bertanya soal Mira padanya. Itulah kenapa aku jadi dekat juga dengan Baby."


"Kau mengincar Mira? Bisa-bisanya aku tertinggal. Lalu bagaimana perkembangannya?"


"Yang harusnya dibahas itu bukan saya, tapi Bapak. Cepat lakukan apa yang saya sarankan, jika Bapak ingin selamat dunia akhirat. Mari kita berangkat meeting sekarang. Kita bahas nasib Bapak di mobil."


Namun, yang terjadi di mobil malah sebaliknya. Baru saja memasukkan tubuh di mobil. Dandi sudah mendapat kabar dari grupnya bahwa Baby harus di rawat di rumah sakit beberapa hari lantaran tipes yang ia derita sedang dalam proses tahap akut jika tidak mendapat penanganan yang tepat.


Baby mengatakan harus izin tidak masuk beberapa hari karena tipes nya itu.


"Baby barusan bilang kalau dia harus istirahat di rumah sakit bebeberapa hari karena tipes."


"Iya." Hanya itu yang keluar dari mulut Cakra.


Memang harus apalagi yang Cakra jawab selain itu? Sudah jelas alasan tidak masuk karena sakit, maka, ya sudah. Ia tidak akan mempermasalahkan itu. Namun, hal itu tidak terjadi dua hari kemudian.


Dua hari setelah itu, kepala Cakra di penuhi oleh Baby yang sudah tiga hari tidak masuk kantor. Memang separah apa tipes yang dideritanya sampai hari ke tiga ini ia tak kunjung bekerja.


Pria yang sedang menikmati menjadi seorang orang tua tunggal untuk anaknya yang sedang aktif merangkak itu sejak tadi tidak fokus dengan berkasnya. Matanya kemudian menatap secangkir kopi yang terpajang di meja. Padahal sebelum ada Baby, ia terbiasa minum kopi di depannya itu. Tapi, rasanya kali ini berbeda. Entahlah, ia merasa ada yang aneh saja jika dirinya tidak diganggu oleh Baby. Apakah ia merindukannya? Ah entahlah.


"Permisi, bisa saya masuk, Pak?" tanya Dandi yang melongokkan kepalanya ke ruangan Cakra.


Entah sudah berapa lama Dandi berdiri dan mengetuk pintu, namun tidak ada jawaban dari Cakra. Bahkan deheman saja tak ia dengar, hal itu membuat Dandi memastikan apakah ada orang di dalam.


"Ha? Masuklah!"


"Ada apa? Sejak tadi saya ketuk pintu tapi tidak ada sahutan sama sekali. Biasanya kalau sudah begitu pikiran Bapak mengambil alih semuanya. Bapak memikirkan malam yang akan dijadikan malam pembahasan untuk tanggal tunangan dan pernikahan?" tebak Dandi.


"Apa Clarissa belum keluar dari rumah sakit?" Alih-alih menjawab pertanyaan Dandi, pria itu justru tanpa sadar menanyakan Baby.

__ADS_1


"Hahaha." Tawa yang dikeluarkan Dandi membuat Cakra mengernyit bingung.


__ADS_2