Petrus Samyang (Pepet Terus Sampai Sayang)

Petrus Samyang (Pepet Terus Sampai Sayang)
18. Menang Banyak


__ADS_3

Detak jantung milik dua insan berbeda usia itu sama-sama berpacu dalam dekapan waktu yang sama dan cepat. Gerakan Baby yang tiba-tiba dan cepat membuat hidung Baby dan bibir Cakra tak sengaja bertemu.


Bola mata meraka saling membola begitu sentuhan fisik itu terjadi. Namun, di antara mereka tidak ada yang sadar atau setidaknya memulai untuk melepas pagutan bibir dan hidung itu.


Sementara wanita yang sejak tadi menjadi saksi hidup diam membisu, jantungnya pun seakan ikut tiba-tiba terdiam melihat yang terjadi di depan mata. Yang lebih mengherankan, mereka tak kunjung sadar dengan pertemuan haram itu.


"Bapak, mau sampai kapan seperti ini? Setidaknya biarkan saya mencari posisi yang enak kalau Bapak tidak ingin melepasnya. Saya cape kalau hari jinjit terus."


Seakan tersadar dari posisinya, Cakra dengan segera melepas pagutan itu. Wajahnya memucat dan nampak salah tingkah. Berkali-kali ia menghapus kasar bibirnya yang baru saja menyentuh hidung mungil Baby.


"Saya tidak menyangka, yang ulang tahun siapa yang mendapatkan hadiah siapa. Terima kasih untuk kecupannya, Pak."


"Jaga bicaramu. Silakan keluar dan bawa kue mu itu. Aku tidak butuh!"


Cakra kembali duduk di kursi kebesarannya dengan wajah memerah. Entah karena malu atau sedang menahan amarah. Namun, bukan Baby namanya jika ia pergi begitu saja sebelum tercapai tujuannya.


"Saya akan pergi setelah Bapak mencoba ini. Kalau tidak, saya akan terus di sini."


"Clarissa kenapa kau tidak mengerti juga. Jangan paksa aku untuk melakukan apa yang tidak aku sukai. Kau boleh membuatkan aku kue kapan saja, asal jangan hari ini. Aku sangat benci perayaan. Kekanak-kanakan sekali kau ini. Kau pikir aku anak-anak yang akan sumringah kalau di kasih beginian? Bawa pergi sekarang!"


Cakra bicara dengan nada pelan meskipun amarahnya sangat kentara di setiap kata yang ia keluarkan.


"Baiklah, saya pergi sekarang. Akan saya ceritakan apa yang barusan terjadi ke semua orang. Mereka harus tahu kalau saya bahagia hari ini. Saya tidak akan siapapun menyentuh hidung saya untuk beberapa minggu."


Cakra mencebik. Baby di rasa terlalu berani padanya. Ia seperti lupa dengan siapa dirinya bicara.


"Lakukan saja! Kau kehilangan pekerjaan kalau kau berani melakukan itu."

__ADS_1


"Yang penting, kan saya sudah memberi tahu semua orang. Saya nggak di sini pun nggak masalah, yang jadi masalah adalah Bapak masih bertemu mereka setiap hari. Rasa malu pasti tidak akan pernah hilang dari wajah Bapak setiap kali ketemu mereka!"


"Clarissa kau benar-benar membuatku ingin marah. Kemarikan kue mu dan pergilah dari sini setelah itu!"


Setelah berdebat yang entah menghabiskan waktu berapa lama akhirnya Cakra dengan sangat amat terpaksa dan tekanan yang di terima dari Baby membuat ia menerima kue itu.


Dengan senang hati Baby berjalan maju ke meja Cakra dan membuka muka kue mini itu. Tanpa di minta ia duduk di kursi yang bersebrangan dengan Cakra. Sikap Baby ini terlalu berani dan keberaniannya sudah melampaui batas-batas yang ada.


Bu Marissa yang masih mengintip di balik celah pintu sampai geleng kepala melihat Baby yang berhasil membuat Cakra bersedia menerima kue ulang tahun darinya.


"Ngapain kau duduk?"


"Seperti yang saya bilang di awal tadi. Kita akan makan ini bersama. Bapak cobalah sedikit dulu, kalau tidak suka boleh berhenti makan. Kalau suka, habiskan."


Baby membuka penutup kue yang ia rekatkan dengan staples. Membukanya satu persatu dengan berucap


"Sebenarnya saya bawa dua lilin kecil. Tapi karena Bapak tidak suka ulang tahun yang dirayakan jadi kita nggak ada acara tiup lilin. Tapi no problem, karena bagi saya Bapak bersedia menampung sesuatu buatan saya saja, saya sudah senang. Apalagi kalau menampung yang lain," ujar Baby sesekali melirik ke arah Cakra yang masih saja menampakkan wajah seramnya. Padahal Baby sama sekali tidak takut dengan wajah yang sering ia cetak itu.


"Apa?" tanya Cakra galak.


"Buka mulutnya. Mau masuk, nih."


Tanpa diminta dua kali, Cakra membuka mulut dengan terpaksa. Ia, melakukan ini bukan tanpa alasan, ia ingin segera terbebas dari Baby si gadis pengganggu yang membuat ia semakin berat menjalani hidup.


Bu Marissa kembali menganga yang entah untuk ke berapa kalinya. Beliau benar-benar takjub dan terkesima dengan cara Baby melunakkan hati Cakra.


Wanita seperti ini yang dibutuhkan Cakra. Wanita yang bisa mengubah pola pikir dan juga kakunya Cakra saat di luar rumah.

__ADS_1


"Bagaimana rasanya?"


"Tidak enak kau bawa saja lagi, bagikan pada siapapun terserah. Aku tidak mau makan."


"Kalau begitu saya akan memberikan ini pada Pak Dandi. Biarkan ini di sini. Nanti bisa Bapak berikan padanya."


"Kau berikan saja sendiri. Kau siapa memerintah aku begitu?"


"Saya tidak memerintah, Pak. Kan saya bilangnya untuk diberikan kepada Pak Dandi ketika dia ke sini. Saya tidak meminta Bapak untuk membawa kue ini ke ruangannya. Jangan lupa beda ucapan, beda arti. Oh, ya, saya sampai lupa. Ini saya ada hadiah untuk Bapak, ukurannya kecil, sih. Tapi saya yakin Bapak akan suka sama isinya." Baby menyerahkan satu kotak kecil yang terbungkus kertas kado.


"Terima kasih," kata Cakra menerima kado itu dengan malas.


Lagi-lagi ia tidak menyangkal Baby karena ia ingin gadis itu segera pergi dari ruangannya. Ia sudah menahan sejak tadi untuk meladeni Baby yang menurutnya keterlaluan menyebalkan.


Setelah dirasa cukup, Baby izin untuk kembali ke mejanya. Rasanya ia tidak lagi merasakan lapar saat ini. Perutnya sudah kenyang dengan kecupan dari Cakra. Meski tidak disengaja, sentuhan itu sangat terasa dan tak akan pernah Baby lupakan sepanjang hidupnya.


Melihat Baby yang berjalan keluar membuat Bu Marissa segera melipir pergi dari sana. Bersembunyi di balik tembok adalah pilihan satu-satunya.


Akhirnya Cakra bisa bernafas lega setelah melihat punggung Baby yang berjalan menjauh dari dirinya. Namun, tidak ada yang tahu bahwa ia tadi sedang menciptakan kebohongan. Ia mengatakan pada Baby bahwa kue buatannya tidak enak. Tapi yang terjadi sebenarnya adalah diam-diam Cakra memuji bahwa kue yang dibuat oleh Baby sangat pas di lidahnya. Tidak enek, tidak manis dan campuran krimnya pun tidak berlebihan dan rasa itu cocok di lidah Cakra.


Setelah melihat pintu ruangan yang benar-benar tertutup, diam-diam Cakra menggerakkan tangannya untuk kembali meraih kue yang ada di mejanya. Kembali menyendoknya dan memasukkannya ke dalam mulut.


Ceklek


"Pak maaf, sepertinya barang saya ada yang tertinggal di sini."


Cakra seketika salah tingkah dan berusaha untuk menahan kunyahannya. Jangan sampai Baby tahu bahwa dirinya kembali mengunyah kue itu atau kalau tidak harga dirinya menjadi taruhan.

__ADS_1


"Lagi-lagi kau tidak punya sopan santun, ya Clarissa ketuk pintu dulu!"


"Maafkan saya, saya tadi buru-buru, tapi sepertinya saya salah, ternyata hp-nya ada di saku. Maafkan aku mengganggumu menikmati perbuatanku," kata Baby dengan wajah menggodanya.


__ADS_2