
"Cakra, siapa nama karyawan kamu yang berani menghina Luna dengan mengatai dia perempuan yang bermulut kotor?"
Cakra baru saja menginjakkan kakinya di dalam rumah, namun ia sudah disambut pertanyaan yang membuatnya kesal. Sama siapa lagi manusia di rumah itu yang membuatnya kesal selain Oma Ning.
Entah apa yang ada dalam pikiran wanita tua itu, wanita itu tidak pernah mengerti perasaan siapapun selain perasaan dirinya sendiri. Bahkan Cakra belum bernafas saat menginjak lantai ruang tamu, tapi dengan teganya Oma Ning menyumpal Cakra dengan pertanyaan bodohnya.
"Oma sepenting itukah Luna di mata Oma? Aku baru saja sampai dan Oma sudah mempertanyakan orang lain?" protes Cakra berjalan mendekati Omanya.
"Dia bukan orang lain, dia calon istrimu. Kalian akan menikah tiga tahun lagi. Oma merasa waktu tiga tahun sudah lebih dari cukup untuk kamu melupakan Aura dalam hidup kamu."
Cakra menggeleng tak percaya. Ia benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikiran Oma Ning. Beliau dulu begitu mengelu-elukan Aura dan memamerkan perempuan itu di depan keluarganya.
Sering mempromosikan Aura sebagai perempuan yang sholehah dan juga baik hati. Beliau begitu kekeuh untuk menyakinkan Cakra bahwa Aura adalah wanita yang pas untuk dijadikan istri. Tapi begitu wanita itu pergi selamanya dengan mudahnya Oma Ning berpaling dengan wanita lain.
"Aku nggak ngerti, ya jalan pikiran Oma itu gimana? Mau Oma itu apa sih? Aku sudah bahagia dengan hidupku yang sekarang, kenapa aku harus menikah secepat itu? Ini terlalu dini untuk memikirkan apalagi membicarakan soal pernikahan, Oma. Aku ingin fokus pada Aura dan juga pekerjaanku. Tolong, untuk saat ini saja jangan paksa aku. Jangan memaksakan kehendak Oma ke aku. Yang menjalani hidup itu aku, Oma. Kehidupan yang Oma tentukan buat aku itu Oma nggak ikut menjalani."
Cakra bicara panjang lebar mengungkapkan isi hati dan juga ketidak terimaan atas aturan hidup yang Oma ning berikan. Selama ini ia sudah mengikuti aturan kehidupan yang Oma Ning berikan, tapi nampaknya selama ini sia-sia saja ia menuruti apapun yang beliau inginkan. Karena wanita itu terus-menerus menuntut keinginan dari cucunya itu.
__ADS_1
"Sudah mulai berani kamu sama oma, ya. Panjang lebar sekali bicaramu sekarang. Oma tadi bertanya siapa pekerja baru di kantormu yang sudah mengatai Luna punya mulut kotor, tapi jawaban kamu malah melebar ke mana-mana."
Mendengar keributan Bu Nisa seketika keluar kamar dengan membawa Aura digandonganya. Wanita itu sebenarnya juga sudah sangat muak dengan kelakuan Oma Ning yang selalu memaksakan kehendaknya pada siapapun.
"Bukannya aku berani sama Oma, aku ini cape Oma, baru pulang dari kantor. Aku baru aja menginjakkan kakiku di rumah ini, tapi aku disambut dengan pertanyaan yang begitu konyol. Aku cape mau istirahat. Bawa Aura ke kamarku, Ma."
Cakra melanjutkan perjalanan yang sempat terhenti. Ia tak lagi peduli omanya berteriak memanggil namanya, ia terus melanjutkan langkah menuju kamar yang disusul oleh Bu Nisa dan juga cucunya.
Nafas Oma Ning seketika memburu. Baru pertama kali ini beliau ditentang oleh Cakra, cucu kesayangan dari sekian banyak cucu yang beliau punya.
"Cakra ada apa sebenarnya? Kenapa kamu pulang-pulang ngajak ribut Oma?" Bu Nisa yang baru saja sampai di kamar anaknya langsung melemparkan pertanyaan pada Cakra. Seakan mengerti dengan kekesalan sang ayah, Aura yang berada di gendongan Bu Nisa sedikit merengek.
"Cakra, Oma itu sudah tua, kamu jangan bicara begitu sama Oma, dia cuman punya kita," tutup Bu Nisa dengan lembut.
"Cuma punya kita? Mama nggak salah ngomong? Anak Oma itu banyak, cucu Oma banyak, menantu Oma juga banyak, tapi kenapa yang di kekang cuman kita? Mama mau jawab kalau Papa anak kesayangan Oma begitu? Papa yang paling nurut sama Oma, makanya Oma memberikan kasih sayang yang lebih pada Papa lalu diturunkan pada cucunya. Kasih sayang apa, sih yang dikasih? Mengekang begini apanya yang disebut kasih sayang? Aku selama ini juga udah menjadi cucu yang nurut. Apapun yang Oma mau aku turuti, tapi kenapa masih kurang terus. Aku juga mau menentukan hidup aku sendiri, Ma. Aku nggak mau nikah sama Luna."
"Cakra, Mama tahu apa yang kamu inginkan, tapi ngomongnya jangan begitu Sayang. Pelan-pelan, orang yang sudah berusia seperti Oma itu akan kembali pada usia anak kecil. Itu sebabnya Oma selalu minta kita untuk menuruti apa yang dia mau."
__ADS_1
"Oma nggak baru sekarang begitu, Mama. Dari dulu Oma juga begitu, dari aku kecil. Mama udah deh, nggak usah belain Oma terus. Mama sendiri juga sebenarnya terkekang dengan Oma, kan? Kenapa masih belain dia terus sih? Aku mau mandi, Aura jangan dibawa ke bawah. Aku nggak mau dia mendengar ocehan dari Oma."
Bu Nisa menghel nafas panjang. Kehidupan yang ia jalani setelah kematian sang suami justru jauh lebih rumit. Memang benar apa yang dikatakan oleh Cakra, sebenarnya dirinya sendiri juga terkekang oleh omongan Oma yang terkadang menyakitkan dan juga tidak sadar usia.
Selalu membedakan dirinya dan juga menantu lainnya yang lebih kaya. Du Nisa sadar, beliau masuk ke rumah mewah ini tidak membawa apapun, bahkan beliau juga lahir dari orang yang sederhana. Kecintaan suaminya terhadapnya mampu membuat Oma luluh dan mengizinkan putranya menikah dengan dirinya dan seiring dengan berjalannya waktu, Bu Nisa berhasil merebut hati ibu mertuanya. Tapi sayangnya tidak sepenuhnya, karena terkadang Oma Ning masih sering membahas asal usul keluarganya ketika beliau kesal dengan Bu Nisa.
Bu Nisa ikut iba dan kasihan dengan kehidupan Cakra yang tidak bebas. Tapi Bu Nisa sadar beliau tidak punya kuasa untuk menolak ataupun membela anaknya sendiri di depan Ibu mertuanya.
Selesai dengan ritual mandinya, Cakra mengambil sang anak dari Bu Nisa. Wanita itu belum beranjak dari kamar sang anak.
"Memang ada apa lagi sama Luna?"
Bu Nisa kembali bertanya pada anaknya. Beliau tahu, jika sudah ada Aura dalam gendongan pria itu, maka emosi sebesar apapun akan mereda dengan sendirinya.
"Dia ngadu ke Oma. Katanya ada pekerja ku di perusahaan yang ngatain dia punya mulut kotor. Itu salah dia, dia yang ngatain karyawan aku nggak sadar posisi, katanya dia itu kayak sampah. Nggak ada yang mau dikatain kayak gitu, Ma."
"Apa penyebabnya Luna berkata seperti itu?"
__ADS_1
"Jadi ada karyawan aku yang baru itu memang sedikit berani, Ma. Dia kayak beda sama karyawan baru pada umumnya yang diam, penurut, nah dia ini nggak. Kelakuannya emang nyebelin, Ma. Tapi dia nggak akan ngatain orang kalau orang lain nggak mulai."