Phoenix Bride

Phoenix Bride
Episode 1


__ADS_3

Ini adalah dunia bernama


Mystisia, tempat di mana sihir hidup menyatu bersama dengan ribuan ras berbeda.


Orang-orang percaya akan keajaiban, baik itu berasal dari cahaya maupun


kegelapan.


Di saat keputusasaan


hadir, permohonan dijatuhkan kepada siapa pun yang sanggup mengabulkannya.


Bahkan ketika bayarannya merupakan sesuatu yang akan dia sesali nantinya.


***


Pada suatu malam di kota


Nebula, terdengar suara isak tangis pilu dari sebuah rumah dengan cerobong asap


memutih ke atas langit. Putri satu-satunya pemilik rumah, Kyra yang mereka


cintai semakin mendekati ajalnya.


Sakit yang diderita sejak


lahir tak ada obatnya dan semakin buruk dari hari ke hari. Setelah sekian lama


melihat perjuangan keras putrinya untuk bertahan hidup, hati pasangan muda itu


tersayat ketika harus menerima kematian Kyra.


“Siapa saja tolong ... akan


kuberikan segalanya. Hanya saja kumohon, selamatkan putriku.” Sang ibu berdoa


dalam keputusasaan. Permohonannya yang tulus terdengar hingga ke atas langit,


memanggil seekor burung api raksasa yang tengah melintasi kota tersebut.


Burung itu adalah burung


Phoenix. Binatang mistis legendaris yang dipercaya mampu membawa seseorang


kembali dari kematian.


Tergerak akan suara yang


memanggil, sang Phoenix turun ke atas tanah tepat di depan rumah tersebut.


Pasangan muda itu segera membuka pintu rumahnya, terpaku kehilangan suara


melihat betapa megah dan kuatnya sosok bercahaya terbakar api merah keemasan.


“Siapa yang memanggilku?”


Dia bertanya, menarik kembali kesadaran pasangan tersebut.


Ayah Kyra segera berlari


masuk, membawa putrinya ke hadapan sang Phoenix. Baginya, monster mengerikan di


depan matanya saat ini tidaklah menakutkan bila dibandingkan dengan rasa takut


kehilangan putrinya.


“Kumohon, selamatkan


putriku, Kyra.”


Pasangan itu menunduk,


bersujud memohon sepenuh hati pada kemurahan hati sang Phoenix. Mereka percaya


kedatangannya merupakan takdir yang menjawab doa mereka.


Kenyataannya, Phoenix


bukanlah malaikat. Dia tak akan menolong hanya karena dipinta atau ditawarkan


bayaran yang tidak jelas. Dia bisa menyelamatkan, tapi tak akan dia lakukan


kepada seseorang yang tidak dikenal. Karena satu-satunya cara menyelamatkan


nyawa yang telah berada di ujung tanduk hanyalah dengan menggunakan darahnya.


Bagian tubuh paling berharga yang hanya akan diberikan kepada belah jiwanya.


Setidaknya itulah yang dia


pikirkan sebelum melihat senyuman indah Kyra. Gadis kecil itu terlihat


kesakitan dengan air mata berurai di pelupuk mata, kesulitan bernapas hingga


kulitnya membiru kekurangan oksigen. Namun di antara rasa sakit yang menyiksa,


tangan kecil itu masih mencoba meraih ujung kakinya yang membara oleh api.


Kyra berucap dengan


berani. “Cantik ... sekali ... apa kamu da ... tang menjemputku?” Dia bahkan


tidak takut menerima kematiannya saat orang tuanya begitu putus asa.


Ketegaran dan keberanian


Kyra menyentuh hati sang Phoenix. Burung api yang tadinya berniat untuk segera


pergi, mengurungkan niatnya. Ia menunduk, mendekatkan ujung patuknya ke depan


wajah Kyra.


“Apa kau ingin hidup? Jika


ingin, jadilah pengantinku.” Sebuah lamaran yang Kyra dapatkan, sesuatu yang


bahkan belum begitu dipahami oleh anak seusianya.


“Terima lamaranku dan


bersumpahlah akan mendampingiku selamanya. Ambil tanganku, dan katakan kau


bersedia.” Tangan yang dimaksudkan adalah ujung sayap berkobaran api. Panasnya


melebih panas api unggun yang biasa digunakan untuk menghangatkan perapian.


Bahkan orang tua Kyra


merasa ngeri mendengarnya. Mereka yang memohon, tapi mereka juga yang ketakutan


pada panas yang mampu membakar putrinya.


Mata Kyra dan sang Phoenix


bertukar pandang. Gadis kecil itu tak mengerti situasi, tapi di matanya sosok


terang dan panas itu tidaklah menakutkan. Dengan susah-payah ia mengangkat


tangannya, meraih sehelai bulu yang langsung membakar kulit rapuh itu.


“KYRA, LEPASKAN MONSTER ITU,


NAK!” Ibunya menjerit, tak sanggup lagi melihat penderitaan Kyra. Dia lupa,


bahwa dialah yang memanggil makhluk yang dipanggilnya dengan sebutan monster.


Kyra tak menjawab ibunya,


isi kepalanya kosong. Tubuh yang sudah remuk tak bisa lagi merasakan sakit.


Senyuman ringkih itu perlahan pudar dirampas oleh kesadarannya yang mulai


menipis.


Di saat itulah, burung api


itu mengeluarkan sebuah permata merah menyala dari dadanya. Bentuknya seperti


tetesan air berdiameter satu sentimeter. Dia memberikannya kepada Kyra. Dengan


cara meletakkan permata yang berupa darahnya itu ke atas jantung Kyra.


Awalnya tubuh Kyra


terbakar, menyerap seluruh darah itu menyatu perlahan-lahan dengannya. Jeritan


tangis orang tuanya semakin menggema, memanggil keluar para tetangga yang kini


menjadi saksi akan dibuatnya janji abadi tersebut.


Setelah beberapa saat, api


tersebut padam. Rona pada kulit pucat itu mulai kembali segar. Luka bakar yang


baru saja diterima Kyra hilang bersama dengan embusan napas yang mulai stabil.


Itu adalah penampakan tersehat yang pernah mereka lihat pada sosok gadis kecil


yang terlahir begitu lemah.


Orang-orang mulai


bergerombol, menatap dengan takjub akan keajaiban yang baru saja terjadi di


depan mata mereka. Legenda tentang keabadian burung Phoenix ternyata benar


adanya. Binatang mistik itu telah membuktikan. Dia memberikan kehidupan kepada


seorang anak yang telah kehabisan masa hidupnya.


“Akan kutitipkan


pengantinku kepada kalian untuk sementara waktu. Saat dia telah dewasa,


kembalikan padaku ke atas gunung api sebelah utara kota ini.” Suara mengerikan


itu merupakan sebuah perintah, harga yang harus dibayar atas ganti nyawa putri


mereka.


Pasangan muda itu tak


punya pilihan selain menyanggupi. Akan tetapi, saat Kyra terbangun dengan


keadaan lupa pada sang Phoenix karena rasa syok yang diterima tubuhnya ketika


menerima darah tersebut ... orang-orang dewasa di sekitarnya membuat


kesepakatan untuk menjadikan kejadian itu sebagai rahasia bersama.


***


Hari ini adalah hari ulang


tahun keenam belas Kyra dan dari semua hadiah yang bisa diminta, ia malah


meminta sebuah kebebasan. Izin untuk meninggalkan kota kelahirannya, Nebula.


“Aku ingin pergi ke kota


Filia!”


Filia yang Kyra maksudkan


adalah kota di sebelah timur Nebula. Merupakan kota besar di mana gedung utama


Serikat Petualang berada. Sudah sejak bertahun-tahun lalu dia selalu berkata


ingin menjadi Petualang. Ingin mengenal orang-orang yang memiliki kemampuan


spesial sepertinya.


Ayahnya merasa sangat


sedih. Baru saja putrinya menginjak usia dewasa, Kyra sudah ingin meninggal


rumah. Akan tetapi, dia juga takut sang Phoenix akan kembali menagih janji di


masa lalu.


“Boleh ya, Ayah ...,” Kyra


memohon.


“Di sini orang-orang

__ADS_1


melihatku dengan tatapan aneh. Aku ingin pergi ke tempat di mana seorang


Penyihir dianggap sesuatu yang wajar.” Dia sendiri tak tahu kenapa dirinya bisa


menggunakan sihir, sementara tak satu pun anggota keluarganya yang bisa.


Normalnya manusia tak bisa


menggunakan sihir. Kecuali bila salah satu orang tuanya bukan manusia.


Sedangkan orang tua Kyra dan seluruh penduduk kota Nebula adalah manusia biasa.


Dia merasa sendirian,


diasingkan karena alasan yang tak dia pahami. Karenanya, Kyra ingin


berpetualang. Ingin mencari jawaban atas keanehan tubuhnya.


Mengetahui alasan Kyra,


hati sang ayah trenyuh. Dia tahu kebenarannya, tapi hingga saat ini keberanian


untuk menceritakan malam penuh bara api itu tak pernah bisa ia kumpulkan.


Tak mendapatkan jawaban


dari ayahnya, Kyra pindah pada ibunya. “Bu, boleh ya. Aku sudah enam belas


tahun. Anak-anak lain umur segini sudah meninggalkan rumah dan mencari


pekerjaan ke tempat lain.” Dia mengingatkan pada mereka akan standar usia


dewasa di dunia itu.


Kalau saja putri mereka


normal, pasangan itu tidak akan sesulit ini mengambil keputusan. Sayangnya


hidup Kyra telah mereka usik demi kepuasan pribadi. Kyra bukan lagi manusia


seutuhnya dan putri mereka masih percaya bila dia manusia yang punya kekuatan


spesial. Bukan pengantin sang raja burung api.


Wanita paruh baya itu


memeluk erat putrinya, berusaha merelakan kepergian Kyra. Karena dia paham


benar, ini satu-satunya cara untuk menjauhkan Kyra pada gunung api yang berada tepat


di sebelah utara kota kecil itu.


“Ibu mengerti. Jaga diri


baik-baik. Sering-sering kabari rumah, pulang kapan pun saat kamu kesepian,


Nak.”


“Terima kasih! Ibu baik


deh!”


Kyra sudah keburu merasa


senang. Dia tak pernah sadar akan tatapan sendu dari wanita yang melahirkannya


itu. Gadis penuh energik dengan pemikiran positif itu menikmati pesta ulang


tahunnya, menghabiskan waktu terakhir bersama dengan keluarga sebelum


berangkat.


***


Esok paginya, Kyra


meninggalkan rumah dengan penuh semangat. Sebuah tas ransel sihir pemberian


ayahnya yang berisikan seluruh barang bawaan menemani. Dia sampai ke Filia


seminggu kemudian dengan berjalan kaki dan menumpang pada kereta kuda orang


yang berpapasan di jalan.


Polosnya tatapan berbinar


menghiasi wajah cantik itu. Gerbang masuk kota yang kokoh, ramainya orang-orang


berlalu lalang sangat berbeda jika dibandingkan dengan kota kecil tempat ia


dibesarkan.


Betapa senangnya Kyra


hanya dengan menginjakkan kaki di sana. “Awasi langkahmu, jangan berdiri di


tengah jalan!” Teriakan kemarahan pedagang yang lewat pun tetap bisa membuatnya


tersenyum.


“Paman bisa memberitahukan


padaku letak Gedung Serikat Petualang?” Masih sempat bertanya jalan, kelihatan


sekali seperti anak udik yang baru pertama kali datang ke kota besar.


Ya sudahlah, pedagang itu


memaklumi saja. “Di sebelah sana, yang gedungnya paling besar, ada bendera


merah di atasnya.” Dia memberi petunjuk jalan, kemudian pergi dengan


tergesa-gesa mengejar waktu.


“Terima kasih, Paman!”


Kyra langsung pergi ke arah yang ditunjuk. Kali ini jalannya hati-hati agar


tidak sengaja menabrak orang.


Syukurlah, sangat mudah


mengikuti petunjuk jalan di Filia. Kyra sampai dengan selamat di depan gedung.


seenaknya masuk ke dalam atau tidak.


“Minggir, jangan bengong


di depan pintu.” Lagi-lagi, Kyra menghalangi jalan. Seorang Prajurit memakai


baju zirah menegur. Refleks ia geser ke samping, memberi jalan sambil tersenyum


kikuk.


Pria bertubuh besar itu


berhenti. Dia selalu berpatroli setiap hari dan baru kali ini melihat muka


Kyra. “Kau datang untuk memberi misi?” Biasanya orang asing datang untuk


mendaftarkan pemintaan mereka yang diterima oleh Admin Serikat, kemudian


diumumkan pada Papan Informasi agar para Petualang yang tertarik bisa mengambil


misi tersebut.


Kyra menggeleng. “Aku


ingin bergabung dengan Serikat Petualang!” Kemudian dia mengangkat kedua


tangannya penuh semangat. Khas anak muda dengan impian indah yang belum tahu


susahnya pekerjaan satu ini.


“Kalau begitu masuk, temui


Mary. Biarkan dia mengukur kemampuanmu, baru tentukan kau bisa bergabung atau


tidak.”


“Paman baik sekali, terima


kasih telah dikasih tahu!”


Paman? Pria zirah itu


ingin marah. Dia baru berada di pertengahan dua puluhan dan sudah dipanggil


dengan sebuatan paman, tapi ya sudahlah ... aura anak polos Kyra terlalu


menonjol hingga membuatnya malas sendiri.


Begitu masuk ke dalam,


Kyra ditinggalkan di depan meja administrasi. Mary, Admin yang bertugas menyambutnya.


“Ada perlu apa, Nona? Apa


Martin habis mengerjaimu?” Martin yang dimaksudkan adalah pria zirah barusan,


salah satu anggota senior mereka.


“Aku ingin bergabung!”


Telinga Kyra tuli akan semua hal, dia terlalu bersemangat ingin segera memulai


kariernya.


“Hihi ... semangat sekali.


Sudah lama tak ada anak muda manis begini. Sebentar ya, akan kuambil alat


pendeteksi dulu.”


Kyra angguk-angguk kepala


seperti mainan pegas. Sambil menunggu, dia mengedarkan pandangan ke sekeliling.


Tempat itu daripada dibilang kantor resmi, lebih mirip dengan bar yang buka dua


puluh empat jam.


Makanan dan minuman bisa


dipesan kapan saja. Para anggota yang sedang tak mengambil misi berkumpul


bersama berbagi cerita perjalanan mereka. Tak hanya manusia, tapi ada lebih


dari ratusan spesies lain yang tinggal di kota Filia. Dan pusat berkumpulnya orang-orang


kuat itu adalah di sini, Gedung Serikat Petualang yang merupakan tempat mereka


mengambil pekerjaan.


Kyra sudah tak sabar ingin


bergabung dan mendengarkan cerita heroik mereka, tapi dia harus bersabar hingga


pendaftarannya selesai.


“Sudah kuambil, coba


letakkan tanganmu di atas batu mana ini. Pastikan beri dua atau tiga tetes


darahmu untuk mengetes jenis tipe kekuatanmu.”


Begitu Mary kembali, Kyra


langsung mengikuti instruksinya. Alat pendeteksi bekerja dengan baik, mengambil


sampel darah dan aliran energi Kyra untuk membaca Informasi Petualang. Hasilnya


keluar kurang dari tiga menit dan langsung dibacakan oleh Mary untuk


mencocokkan kembali sebelum membuatkan Kyra Kartu Petualang.


“Nama : Kyra, Umur : 16


tahun, Ras : Manusia, Peringkat : Rank B, Tipe : Api dan Cahaya, Kelas :


Penyihir, dan Kemampuan Spesial : Keabadian dan Penggunaan sihir tanpa alat


bantu.” Mary yang membacakan sampai terkejut sendiri melihat Informasi Petualang


Kyra. Gadis muda ini manusia, tapi kelas Penyihir. Baru Rank B, tapi punya

__ADS_1


kemampuan spesial setaraf mereka yang berperingkat Rank SS.


Kalau Kyra jangan ditanya,


dia tak tahu apa arti dari semua informasi itu. Lagian ini pertama kalinya dia


dengar kalau dirinya abadi. Dia pikir semua Penyihir seperti itu, tanpa pernah


tahu kalau kedua kemampuan spesial yang dimilikinya termasuk langka bahkan di


antara golongan Penyihir Elit.


“Jadi aku boleh


bergabung?” Pertanyaan itu terdengar begitu polos, tak ada kesombongan untuk


ukuran seseorang yang memiliki bakat sejak lahir begini.


Kyra bahkan tak sadar,


bila orang-orang sudah mulai memperhatikannya. Mereka memasang telinga, menguping


pembicaraan Kyra dengan Mary. Sebagian sudah siap-siap ingin merekrut. Rank B


memang tak terlalu bagus untuk regu yang berfokus mengambil pekerjaan berbahaya,


tapi kemampuan abadi itu akan sangat berguna.


“Tentu saja. Dengan


kemampuan spesial begini banyak yang akan dengan senang hati mengajakmu


bergabung dengan regu mereka. Akan kubuatkan kartumu, tunggulah sebentar.”


“Iya!” Betapa senangnya


Kyra. Ternyata bergabung tidaklah sulit. Dia pikir ada tes atau sejenisnya,


ternyata hanya perlu mendata diri.


Kyra mulai


celingak-celinguk lagi. Tingkah itu menarik perhatian. Salah satu Petualang


solo bahkan mendekatinya. Orang itu seorang Elf bernama Bara. Dia merupakan


anggota senior dengan Rank SS yang sangat pemilih dalam mencari rekan. Makanya


hingga ratusan tahun pun, Bara tak pernah bergabung dengan regu mana pun.


“Siapa guru sihirmu?” Bara


penasaran, bagaimana gadis kecil seperti Kyra bisa menggunakan sihir tanpa


bantuan alat. Memang kemampuan itu tidak terlalu langka, tapi hanya bisa


ditemukan pada Penyihir Elit yang bukan manusia.


“Tidak ada. Apiku bergerak


sendiri mengikuti perintah otak.” Jawaban itu polos atau sombong? Bara jadi


semakin tertarik.


“Jadi kau bagus dalam


pertarungan?”


“Aku hanya bisa


menggerakkan api seperti bagian tubuh sendiri, tapi aku tak bisa tertarung!”


Kemudian, Bara tepuk jidat. Ternyata kemampuan Kyra hanya setingkat dengan


mereka yang berada di Rank E.


“Dan kau bergabung dengan


Serikat Petualang? Rank B itu pekerjaannya rata-rata sudah melibatkan


pertarungan.”


“Aku akan mencari guru


mulai sekarang!”


Bukannya itu sudah telat?


Cewek satu ini ... gemas rasanya. Di mana-mana orang mencari guru saat masih


anak-anak. Mana ada yang mau mengajarkannya saat dia sudah jadi Petualang.


“Pemikiran yang positif.


Aku suka, ayo buat regu denganku! Aku juga menggunakan sejenis sihir, akan


kuajarkan dengan senang hati.” Seseorang datang menimpali obrolan mereka. Dia


merupakan anggota yang baru bergabung tahun lalu. Tak punya regu, tapi selalu


diundang untuk mengisi kekosongan regu lain.


“Namaku Meena! Kelas


Dukun, Rank A! Kemampuan spesialku penyembuhan!” Meena mengenalkan diri dengan


penuh semangat. Tubuhnya yang mungil dan suara yang imut begitu menggemaskan.


Kyra langsung suka.


“Ayo berjuang bersama!”


“Hore!”


Kedua gadis muda itu sudah


bersemangat sendiri, tanpa sadar membuat kecewa orang-orang yang ingin merekrut


Kyra. Habis bagaimana lagi, Meena adalah idola mereka, siapa yang tega merebut


anggota regu pertamanya.


“Tunggu dulu! Aku yang


lebih dulu ingin merekrutnya, jangan kau serobot cebol!” Ups, ternyata ada


satu. Bara si Elf bermulut pedas.


“Kyra sudah bergabung


dengan reguku. Lagian kau itu selalu bekerja sendiri. Kenapa tiba-tiba ingin


seregu dengan amatiran!” Meena langsung melawan. Mereka selalu seperti tikus


dan kucing tiap kali bertemu.


“Bukannya sudah jelas,


gadis desa satu ini tak bisa mati. Aku tak butuh rekan yang gampang mati.”


Kata-kata yang jahat, siapa yang mau bekerja sama dengan orang seperti ini?


“Itulah kenapa tak ada


yang mau jadi rekanmu. Dasar Elf tua jahat!” Meena bilang begitu, tapi


sebenarnya dia tidak berpikir kalau Bara jahat. Nyatanya terkadang dia membantu


misi Bara, biarpun mereka tak pernah membentuk regu.


“Diam! Daripada kau sok


sekali. Mau mengajari Penyihir, padahal bukan itu spesialismu!”


“Kau sendiri kelas


Pengembara!”


“Kelas Pengembara sesama pemakai


sihir!”


“Dukun juga!”


Keributan mereka membuat


Kyra panik. Gadis itu bolak-balik menatap Meena dan Bara. Dia ingin memisahkan,


tapi suaranya selalu kalah oleh kerasnya suara mereka. Tak ada yang mencoba


melerai juga, karena semua sudah terlalu terbiasa melihat tingkah Meena dan


Bara.


“Kenapa kalian bertiga


tidak membentuk regu bersama saja. Bara bisa jadi Ketua Regu. Rank dia yang


paling tinggi di antara kalian.” Kemudian, kedatangan Mary menghentikan


keributan seketika.


“Ide bagus! Jangan bertengkar,


ayo berteman bersama!” Kyra langsung setuju, tersenyum begitu manis menggenggam


tangan mereka berdua.


“Apa boleh buat, demi Kyra


aku akan terima.”


“Huh! Ya sudah. Lagian kau


juga tak gampang mati!”


Kedua orang itu masih saja


begitu. Sudah setuju, tapi saling buang muka, bicaranya seakan terpaksa. “Hihi


... kalian mengemaskan sekali.” Mary tertawa melihatnya, merasa kalau tingkah


mereka lucu sekali.


“Ini Kartu Petualangmu,


Kyra. Jangan sampai hilang, gunakan itu untuk mengambil pekerjaan dan menagih


bayaranmu.”


“Akan kujaga baik-baik!!”


“Bagus. Jadi sekarang kita


sudah bisa ambil misi. Apa yang kaupunya, Mary?”


“Jangan bodoh! Kyra baru


gabung, kita buat pesta penyambutan dulu!”


“Aku ingin mencari tempat


tinggal dulu!”


Lagi-lagi Meena dan Bara bertengkar,


tapi kemudian mereka dibuat tercengang oleh kata-kata Kyra. Ternyata julukan


gadis desa itu tak salah, pemikiran naif itu sudah terlewat batas.


“Kau harusnya mencari


tempat tinggal dulu sebelum ke sini!” Prioritas Kyra membuat Bara berteriak.


“Ehehe, habis aku sudah


tak sabar.” Sedangkan cewek itu hanya tertawa-tawa seakan bukan masalah besar.


Akhirnya misi pertama regu baru mereka adalah mencarikan rumah sewaan untuk


Kyra.


Author's Note :


Mengenai Informasi Petualang, Nama, Umur, Ras dan Kemampuan Spesial menyesuaikan. Berbeda satu sama lainnya. Kemudian, Peringkat yang tersedia dari Rank E, D, C, B, A, S, SS, dan SSS. Tipe : Air, Api, Angin, Tanah, Cahaya, Kegelapan dan Pemanggil. Kelas : Prajurit, Penyihir, Pembunuh, Pengembara dan Dukun. Untuk rincian dan istilah lain akan selalu kuselipkan di bagian Author's Note.

__ADS_1


__ADS_2