
Ini adalah dunia bernama
Mystisia, tempat di mana sihir hidup menyatu bersama dengan ribuan ras berbeda.
Orang-orang percaya akan keajaiban, baik itu berasal dari cahaya maupun
kegelapan.
Di saat keputusasaan
hadir, permohonan dijatuhkan kepada siapa pun yang sanggup mengabulkannya.
Bahkan ketika bayarannya merupakan sesuatu yang akan dia sesali nantinya.
***
Pada suatu malam di kota
Nebula, terdengar suara isak tangis pilu dari sebuah rumah dengan cerobong asap
memutih ke atas langit. Putri satu-satunya pemilik rumah, Kyra yang mereka
cintai semakin mendekati ajalnya.
Sakit yang diderita sejak
lahir tak ada obatnya dan semakin buruk dari hari ke hari. Setelah sekian lama
melihat perjuangan keras putrinya untuk bertahan hidup, hati pasangan muda itu
tersayat ketika harus menerima kematian Kyra.
“Siapa saja tolong ... akan
kuberikan segalanya. Hanya saja kumohon, selamatkan putriku.” Sang ibu berdoa
dalam keputusasaan. Permohonannya yang tulus terdengar hingga ke atas langit,
memanggil seekor burung api raksasa yang tengah melintasi kota tersebut.
Burung itu adalah burung
Phoenix. Binatang mistis legendaris yang dipercaya mampu membawa seseorang
kembali dari kematian.
Tergerak akan suara yang
memanggil, sang Phoenix turun ke atas tanah tepat di depan rumah tersebut.
Pasangan muda itu segera membuka pintu rumahnya, terpaku kehilangan suara
melihat betapa megah dan kuatnya sosok bercahaya terbakar api merah keemasan.
“Siapa yang memanggilku?”
Dia bertanya, menarik kembali kesadaran pasangan tersebut.
Ayah Kyra segera berlari
masuk, membawa putrinya ke hadapan sang Phoenix. Baginya, monster mengerikan di
depan matanya saat ini tidaklah menakutkan bila dibandingkan dengan rasa takut
kehilangan putrinya.
“Kumohon, selamatkan
putriku, Kyra.”
Pasangan itu menunduk,
bersujud memohon sepenuh hati pada kemurahan hati sang Phoenix. Mereka percaya
kedatangannya merupakan takdir yang menjawab doa mereka.
Kenyataannya, Phoenix
bukanlah malaikat. Dia tak akan menolong hanya karena dipinta atau ditawarkan
bayaran yang tidak jelas. Dia bisa menyelamatkan, tapi tak akan dia lakukan
kepada seseorang yang tidak dikenal. Karena satu-satunya cara menyelamatkan
nyawa yang telah berada di ujung tanduk hanyalah dengan menggunakan darahnya.
Bagian tubuh paling berharga yang hanya akan diberikan kepada belah jiwanya.
Setidaknya itulah yang dia
pikirkan sebelum melihat senyuman indah Kyra. Gadis kecil itu terlihat
kesakitan dengan air mata berurai di pelupuk mata, kesulitan bernapas hingga
kulitnya membiru kekurangan oksigen. Namun di antara rasa sakit yang menyiksa,
tangan kecil itu masih mencoba meraih ujung kakinya yang membara oleh api.
Kyra berucap dengan
berani. “Cantik ... sekali ... apa kamu da ... tang menjemputku?” Dia bahkan
tidak takut menerima kematiannya saat orang tuanya begitu putus asa.
Ketegaran dan keberanian
Kyra menyentuh hati sang Phoenix. Burung api yang tadinya berniat untuk segera
pergi, mengurungkan niatnya. Ia menunduk, mendekatkan ujung patuknya ke depan
wajah Kyra.
“Apa kau ingin hidup? Jika
ingin, jadilah pengantinku.” Sebuah lamaran yang Kyra dapatkan, sesuatu yang
bahkan belum begitu dipahami oleh anak seusianya.
“Terima lamaranku dan
bersumpahlah akan mendampingiku selamanya. Ambil tanganku, dan katakan kau
bersedia.” Tangan yang dimaksudkan adalah ujung sayap berkobaran api. Panasnya
melebih panas api unggun yang biasa digunakan untuk menghangatkan perapian.
Bahkan orang tua Kyra
merasa ngeri mendengarnya. Mereka yang memohon, tapi mereka juga yang ketakutan
pada panas yang mampu membakar putrinya.
Mata Kyra dan sang Phoenix
bertukar pandang. Gadis kecil itu tak mengerti situasi, tapi di matanya sosok
terang dan panas itu tidaklah menakutkan. Dengan susah-payah ia mengangkat
tangannya, meraih sehelai bulu yang langsung membakar kulit rapuh itu.
“KYRA, LEPASKAN MONSTER ITU,
NAK!” Ibunya menjerit, tak sanggup lagi melihat penderitaan Kyra. Dia lupa,
bahwa dialah yang memanggil makhluk yang dipanggilnya dengan sebutan monster.
Kyra tak menjawab ibunya,
isi kepalanya kosong. Tubuh yang sudah remuk tak bisa lagi merasakan sakit.
Senyuman ringkih itu perlahan pudar dirampas oleh kesadarannya yang mulai
menipis.
Di saat itulah, burung api
itu mengeluarkan sebuah permata merah menyala dari dadanya. Bentuknya seperti
tetesan air berdiameter satu sentimeter. Dia memberikannya kepada Kyra. Dengan
cara meletakkan permata yang berupa darahnya itu ke atas jantung Kyra.
Awalnya tubuh Kyra
terbakar, menyerap seluruh darah itu menyatu perlahan-lahan dengannya. Jeritan
tangis orang tuanya semakin menggema, memanggil keluar para tetangga yang kini
menjadi saksi akan dibuatnya janji abadi tersebut.
Setelah beberapa saat, api
tersebut padam. Rona pada kulit pucat itu mulai kembali segar. Luka bakar yang
baru saja diterima Kyra hilang bersama dengan embusan napas yang mulai stabil.
Itu adalah penampakan tersehat yang pernah mereka lihat pada sosok gadis kecil
yang terlahir begitu lemah.
Orang-orang mulai
bergerombol, menatap dengan takjub akan keajaiban yang baru saja terjadi di
depan mata mereka. Legenda tentang keabadian burung Phoenix ternyata benar
adanya. Binatang mistik itu telah membuktikan. Dia memberikan kehidupan kepada
seorang anak yang telah kehabisan masa hidupnya.
“Akan kutitipkan
pengantinku kepada kalian untuk sementara waktu. Saat dia telah dewasa,
kembalikan padaku ke atas gunung api sebelah utara kota ini.” Suara mengerikan
itu merupakan sebuah perintah, harga yang harus dibayar atas ganti nyawa putri
mereka.
Pasangan muda itu tak
punya pilihan selain menyanggupi. Akan tetapi, saat Kyra terbangun dengan
keadaan lupa pada sang Phoenix karena rasa syok yang diterima tubuhnya ketika
menerima darah tersebut ... orang-orang dewasa di sekitarnya membuat
kesepakatan untuk menjadikan kejadian itu sebagai rahasia bersama.
***
Hari ini adalah hari ulang
tahun keenam belas Kyra dan dari semua hadiah yang bisa diminta, ia malah
meminta sebuah kebebasan. Izin untuk meninggalkan kota kelahirannya, Nebula.
“Aku ingin pergi ke kota
Filia!”
Filia yang Kyra maksudkan
adalah kota di sebelah timur Nebula. Merupakan kota besar di mana gedung utama
Serikat Petualang berada. Sudah sejak bertahun-tahun lalu dia selalu berkata
ingin menjadi Petualang. Ingin mengenal orang-orang yang memiliki kemampuan
spesial sepertinya.
Ayahnya merasa sangat
sedih. Baru saja putrinya menginjak usia dewasa, Kyra sudah ingin meninggal
rumah. Akan tetapi, dia juga takut sang Phoenix akan kembali menagih janji di
masa lalu.
“Boleh ya, Ayah ...,” Kyra
memohon.
“Di sini orang-orang
__ADS_1
melihatku dengan tatapan aneh. Aku ingin pergi ke tempat di mana seorang
Penyihir dianggap sesuatu yang wajar.” Dia sendiri tak tahu kenapa dirinya bisa
menggunakan sihir, sementara tak satu pun anggota keluarganya yang bisa.
Normalnya manusia tak bisa
menggunakan sihir. Kecuali bila salah satu orang tuanya bukan manusia.
Sedangkan orang tua Kyra dan seluruh penduduk kota Nebula adalah manusia biasa.
Dia merasa sendirian,
diasingkan karena alasan yang tak dia pahami. Karenanya, Kyra ingin
berpetualang. Ingin mencari jawaban atas keanehan tubuhnya.
Mengetahui alasan Kyra,
hati sang ayah trenyuh. Dia tahu kebenarannya, tapi hingga saat ini keberanian
untuk menceritakan malam penuh bara api itu tak pernah bisa ia kumpulkan.
Tak mendapatkan jawaban
dari ayahnya, Kyra pindah pada ibunya. “Bu, boleh ya. Aku sudah enam belas
tahun. Anak-anak lain umur segini sudah meninggalkan rumah dan mencari
pekerjaan ke tempat lain.” Dia mengingatkan pada mereka akan standar usia
dewasa di dunia itu.
Kalau saja putri mereka
normal, pasangan itu tidak akan sesulit ini mengambil keputusan. Sayangnya
hidup Kyra telah mereka usik demi kepuasan pribadi. Kyra bukan lagi manusia
seutuhnya dan putri mereka masih percaya bila dia manusia yang punya kekuatan
spesial. Bukan pengantin sang raja burung api.
Wanita paruh baya itu
memeluk erat putrinya, berusaha merelakan kepergian Kyra. Karena dia paham
benar, ini satu-satunya cara untuk menjauhkan Kyra pada gunung api yang berada tepat
di sebelah utara kota kecil itu.
“Ibu mengerti. Jaga diri
baik-baik. Sering-sering kabari rumah, pulang kapan pun saat kamu kesepian,
Nak.”
“Terima kasih! Ibu baik
deh!”
Kyra sudah keburu merasa
senang. Dia tak pernah sadar akan tatapan sendu dari wanita yang melahirkannya
itu. Gadis penuh energik dengan pemikiran positif itu menikmati pesta ulang
tahunnya, menghabiskan waktu terakhir bersama dengan keluarga sebelum
berangkat.
***
Esok paginya, Kyra
meninggalkan rumah dengan penuh semangat. Sebuah tas ransel sihir pemberian
ayahnya yang berisikan seluruh barang bawaan menemani. Dia sampai ke Filia
seminggu kemudian dengan berjalan kaki dan menumpang pada kereta kuda orang
yang berpapasan di jalan.
Polosnya tatapan berbinar
menghiasi wajah cantik itu. Gerbang masuk kota yang kokoh, ramainya orang-orang
berlalu lalang sangat berbeda jika dibandingkan dengan kota kecil tempat ia
dibesarkan.
Betapa senangnya Kyra
hanya dengan menginjakkan kaki di sana. “Awasi langkahmu, jangan berdiri di
tengah jalan!” Teriakan kemarahan pedagang yang lewat pun tetap bisa membuatnya
tersenyum.
“Paman bisa memberitahukan
padaku letak Gedung Serikat Petualang?” Masih sempat bertanya jalan, kelihatan
sekali seperti anak udik yang baru pertama kali datang ke kota besar.
Ya sudahlah, pedagang itu
memaklumi saja. “Di sebelah sana, yang gedungnya paling besar, ada bendera
merah di atasnya.” Dia memberi petunjuk jalan, kemudian pergi dengan
tergesa-gesa mengejar waktu.
“Terima kasih, Paman!”
Kyra langsung pergi ke arah yang ditunjuk. Kali ini jalannya hati-hati agar
tidak sengaja menabrak orang.
Syukurlah, sangat mudah
mengikuti petunjuk jalan di Filia. Kyra sampai dengan selamat di depan gedung.
seenaknya masuk ke dalam atau tidak.
“Minggir, jangan bengong
di depan pintu.” Lagi-lagi, Kyra menghalangi jalan. Seorang Prajurit memakai
baju zirah menegur. Refleks ia geser ke samping, memberi jalan sambil tersenyum
kikuk.
Pria bertubuh besar itu
berhenti. Dia selalu berpatroli setiap hari dan baru kali ini melihat muka
Kyra. “Kau datang untuk memberi misi?” Biasanya orang asing datang untuk
mendaftarkan pemintaan mereka yang diterima oleh Admin Serikat, kemudian
diumumkan pada Papan Informasi agar para Petualang yang tertarik bisa mengambil
misi tersebut.
Kyra menggeleng. “Aku
ingin bergabung dengan Serikat Petualang!” Kemudian dia mengangkat kedua
tangannya penuh semangat. Khas anak muda dengan impian indah yang belum tahu
susahnya pekerjaan satu ini.
“Kalau begitu masuk, temui
Mary. Biarkan dia mengukur kemampuanmu, baru tentukan kau bisa bergabung atau
tidak.”
“Paman baik sekali, terima
kasih telah dikasih tahu!”
Paman? Pria zirah itu
ingin marah. Dia baru berada di pertengahan dua puluhan dan sudah dipanggil
dengan sebuatan paman, tapi ya sudahlah ... aura anak polos Kyra terlalu
menonjol hingga membuatnya malas sendiri.
Begitu masuk ke dalam,
Kyra ditinggalkan di depan meja administrasi. Mary, Admin yang bertugas menyambutnya.
“Ada perlu apa, Nona? Apa
Martin habis mengerjaimu?” Martin yang dimaksudkan adalah pria zirah barusan,
salah satu anggota senior mereka.
“Aku ingin bergabung!”
Telinga Kyra tuli akan semua hal, dia terlalu bersemangat ingin segera memulai
kariernya.
“Hihi ... semangat sekali.
Sudah lama tak ada anak muda manis begini. Sebentar ya, akan kuambil alat
pendeteksi dulu.”
Kyra angguk-angguk kepala
seperti mainan pegas. Sambil menunggu, dia mengedarkan pandangan ke sekeliling.
Tempat itu daripada dibilang kantor resmi, lebih mirip dengan bar yang buka dua
puluh empat jam.
Makanan dan minuman bisa
dipesan kapan saja. Para anggota yang sedang tak mengambil misi berkumpul
bersama berbagi cerita perjalanan mereka. Tak hanya manusia, tapi ada lebih
dari ratusan spesies lain yang tinggal di kota Filia. Dan pusat berkumpulnya orang-orang
kuat itu adalah di sini, Gedung Serikat Petualang yang merupakan tempat mereka
mengambil pekerjaan.
Kyra sudah tak sabar ingin
bergabung dan mendengarkan cerita heroik mereka, tapi dia harus bersabar hingga
pendaftarannya selesai.
“Sudah kuambil, coba
letakkan tanganmu di atas batu mana ini. Pastikan beri dua atau tiga tetes
darahmu untuk mengetes jenis tipe kekuatanmu.”
Begitu Mary kembali, Kyra
langsung mengikuti instruksinya. Alat pendeteksi bekerja dengan baik, mengambil
sampel darah dan aliran energi Kyra untuk membaca Informasi Petualang. Hasilnya
keluar kurang dari tiga menit dan langsung dibacakan oleh Mary untuk
mencocokkan kembali sebelum membuatkan Kyra Kartu Petualang.
“Nama : Kyra, Umur : 16
tahun, Ras : Manusia, Peringkat : Rank B, Tipe : Api dan Cahaya, Kelas :
Penyihir, dan Kemampuan Spesial : Keabadian dan Penggunaan sihir tanpa alat
bantu.” Mary yang membacakan sampai terkejut sendiri melihat Informasi Petualang
Kyra. Gadis muda ini manusia, tapi kelas Penyihir. Baru Rank B, tapi punya
__ADS_1
kemampuan spesial setaraf mereka yang berperingkat Rank SS.
Kalau Kyra jangan ditanya,
dia tak tahu apa arti dari semua informasi itu. Lagian ini pertama kalinya dia
dengar kalau dirinya abadi. Dia pikir semua Penyihir seperti itu, tanpa pernah
tahu kalau kedua kemampuan spesial yang dimilikinya termasuk langka bahkan di
antara golongan Penyihir Elit.
“Jadi aku boleh
bergabung?” Pertanyaan itu terdengar begitu polos, tak ada kesombongan untuk
ukuran seseorang yang memiliki bakat sejak lahir begini.
Kyra bahkan tak sadar,
bila orang-orang sudah mulai memperhatikannya. Mereka memasang telinga, menguping
pembicaraan Kyra dengan Mary. Sebagian sudah siap-siap ingin merekrut. Rank B
memang tak terlalu bagus untuk regu yang berfokus mengambil pekerjaan berbahaya,
tapi kemampuan abadi itu akan sangat berguna.
“Tentu saja. Dengan
kemampuan spesial begini banyak yang akan dengan senang hati mengajakmu
bergabung dengan regu mereka. Akan kubuatkan kartumu, tunggulah sebentar.”
“Iya!” Betapa senangnya
Kyra. Ternyata bergabung tidaklah sulit. Dia pikir ada tes atau sejenisnya,
ternyata hanya perlu mendata diri.
Kyra mulai
celingak-celinguk lagi. Tingkah itu menarik perhatian. Salah satu Petualang
solo bahkan mendekatinya. Orang itu seorang Elf bernama Bara. Dia merupakan
anggota senior dengan Rank SS yang sangat pemilih dalam mencari rekan. Makanya
hingga ratusan tahun pun, Bara tak pernah bergabung dengan regu mana pun.
“Siapa guru sihirmu?” Bara
penasaran, bagaimana gadis kecil seperti Kyra bisa menggunakan sihir tanpa
bantuan alat. Memang kemampuan itu tidak terlalu langka, tapi hanya bisa
ditemukan pada Penyihir Elit yang bukan manusia.
“Tidak ada. Apiku bergerak
sendiri mengikuti perintah otak.” Jawaban itu polos atau sombong? Bara jadi
semakin tertarik.
“Jadi kau bagus dalam
pertarungan?”
“Aku hanya bisa
menggerakkan api seperti bagian tubuh sendiri, tapi aku tak bisa tertarung!”
Kemudian, Bara tepuk jidat. Ternyata kemampuan Kyra hanya setingkat dengan
mereka yang berada di Rank E.
“Dan kau bergabung dengan
Serikat Petualang? Rank B itu pekerjaannya rata-rata sudah melibatkan
pertarungan.”
“Aku akan mencari guru
mulai sekarang!”
Bukannya itu sudah telat?
Cewek satu ini ... gemas rasanya. Di mana-mana orang mencari guru saat masih
anak-anak. Mana ada yang mau mengajarkannya saat dia sudah jadi Petualang.
“Pemikiran yang positif.
Aku suka, ayo buat regu denganku! Aku juga menggunakan sejenis sihir, akan
kuajarkan dengan senang hati.” Seseorang datang menimpali obrolan mereka. Dia
merupakan anggota yang baru bergabung tahun lalu. Tak punya regu, tapi selalu
diundang untuk mengisi kekosongan regu lain.
“Namaku Meena! Kelas
Dukun, Rank A! Kemampuan spesialku penyembuhan!” Meena mengenalkan diri dengan
penuh semangat. Tubuhnya yang mungil dan suara yang imut begitu menggemaskan.
Kyra langsung suka.
“Ayo berjuang bersama!”
“Hore!”
Kedua gadis muda itu sudah
bersemangat sendiri, tanpa sadar membuat kecewa orang-orang yang ingin merekrut
Kyra. Habis bagaimana lagi, Meena adalah idola mereka, siapa yang tega merebut
anggota regu pertamanya.
“Tunggu dulu! Aku yang
lebih dulu ingin merekrutnya, jangan kau serobot cebol!” Ups, ternyata ada
satu. Bara si Elf bermulut pedas.
“Kyra sudah bergabung
dengan reguku. Lagian kau itu selalu bekerja sendiri. Kenapa tiba-tiba ingin
seregu dengan amatiran!” Meena langsung melawan. Mereka selalu seperti tikus
dan kucing tiap kali bertemu.
“Bukannya sudah jelas,
gadis desa satu ini tak bisa mati. Aku tak butuh rekan yang gampang mati.”
Kata-kata yang jahat, siapa yang mau bekerja sama dengan orang seperti ini?
“Itulah kenapa tak ada
yang mau jadi rekanmu. Dasar Elf tua jahat!” Meena bilang begitu, tapi
sebenarnya dia tidak berpikir kalau Bara jahat. Nyatanya terkadang dia membantu
misi Bara, biarpun mereka tak pernah membentuk regu.
“Diam! Daripada kau sok
sekali. Mau mengajari Penyihir, padahal bukan itu spesialismu!”
“Kau sendiri kelas
Pengembara!”
“Kelas Pengembara sesama pemakai
sihir!”
“Dukun juga!”
Keributan mereka membuat
Kyra panik. Gadis itu bolak-balik menatap Meena dan Bara. Dia ingin memisahkan,
tapi suaranya selalu kalah oleh kerasnya suara mereka. Tak ada yang mencoba
melerai juga, karena semua sudah terlalu terbiasa melihat tingkah Meena dan
Bara.
“Kenapa kalian bertiga
tidak membentuk regu bersama saja. Bara bisa jadi Ketua Regu. Rank dia yang
paling tinggi di antara kalian.” Kemudian, kedatangan Mary menghentikan
keributan seketika.
“Ide bagus! Jangan bertengkar,
ayo berteman bersama!” Kyra langsung setuju, tersenyum begitu manis menggenggam
tangan mereka berdua.
“Apa boleh buat, demi Kyra
aku akan terima.”
“Huh! Ya sudah. Lagian kau
juga tak gampang mati!”
Kedua orang itu masih saja
begitu. Sudah setuju, tapi saling buang muka, bicaranya seakan terpaksa. “Hihi
... kalian mengemaskan sekali.” Mary tertawa melihatnya, merasa kalau tingkah
mereka lucu sekali.
“Ini Kartu Petualangmu,
Kyra. Jangan sampai hilang, gunakan itu untuk mengambil pekerjaan dan menagih
bayaranmu.”
“Akan kujaga baik-baik!!”
“Bagus. Jadi sekarang kita
sudah bisa ambil misi. Apa yang kaupunya, Mary?”
“Jangan bodoh! Kyra baru
gabung, kita buat pesta penyambutan dulu!”
“Aku ingin mencari tempat
tinggal dulu!”
Lagi-lagi Meena dan Bara bertengkar,
tapi kemudian mereka dibuat tercengang oleh kata-kata Kyra. Ternyata julukan
gadis desa itu tak salah, pemikiran naif itu sudah terlewat batas.
“Kau harusnya mencari
tempat tinggal dulu sebelum ke sini!” Prioritas Kyra membuat Bara berteriak.
“Ehehe, habis aku sudah
tak sabar.” Sedangkan cewek itu hanya tertawa-tawa seakan bukan masalah besar.
Akhirnya misi pertama regu baru mereka adalah mencarikan rumah sewaan untuk
Kyra.
Author's Note :
Mengenai Informasi Petualang, Nama, Umur, Ras dan Kemampuan Spesial menyesuaikan. Berbeda satu sama lainnya. Kemudian, Peringkat yang tersedia dari Rank E, D, C, B, A, S, SS, dan SSS. Tipe : Air, Api, Angin, Tanah, Cahaya, Kegelapan dan Pemanggil. Kelas : Prajurit, Penyihir, Pembunuh, Pengembara dan Dukun. Untuk rincian dan istilah lain akan selalu kuselipkan di bagian Author's Note.
__ADS_1