Phoenix Bride

Phoenix Bride
Episode 48


__ADS_3

“Kota itu dipenuhi oleh


udara beracun,” jawab Kanya kemudian.


Ada rasa sedih tersirat


dalam sorot mata Kanya. Pikirannya terseret kembali ke masa lalu. Kala di mana


kota Shura – tempat yang ditunjuk oleh Kyra tadi masih merupakan kota yang


begitu indah dipenuhi oleh perahu dan pertokoan mengapung di permukaan danau.


Sebelum akhirnya menjadi lokasi serangan pasukan Declan sang Raja Undead dan


menjadi tanah terkutuk yang tidak lagi bisa dihuni oleh manusia.


Kanya yang selalu berusaha


melupakan kenangan buruk itu jelas tidak ingin kembali ke sana. Danau tempatnya


lahir dan tinggal pun telah menjadi tercemar, dipenuhi oleh makhluk-makhluk


menjijikkan yang membawa wabah penyakit dan kutukan.


“Lupakan niatmu, Kyra.


Kalian tak akan bisa memasuki kota itu.”


Sekali lagi Kanya mencoba


menghentikan niat Kyra. Dia tidak ingin teman-teman barunya itu celaka. Apalagi


Kyra dan Meena hanyalah seorang manusia. Tidak peduli jikalau mereka merupakan


pengantin binatang mistik sekalipun, daya tahan tubuh manusia yang tergolong


lemah tak dapat diubah. Dia dan Soli mungkin bisa menghirup udara beracun itu,


tapi Kanya yakin mereka pun tak akan bertahan lebih dari satu minggu.


Melihat kecemasan Kanya


yang biasanya bersikap dingin, Kyra menjadi ragu. Ia mengerti maksud Kanya,


tapi api biru peninggalan Alexi menuntunnya ke sana. Kyra jadi tidak punya


pilihan selain menghadapinya dengan berani.


“Aku tetap akan ke sana.


Burung api biru itu ada di sana.”


“Kau yakin?”


Kanya menatap Kyra begitu


seriusnya, memberi tekanan dalam pertanyaannya. Kalau memang benar pecahan diri


sang Phoenix ada di kota Shura, dia hanya bisa mengambil risiko pergi ke sana.


Namun jika Kyra tidak begitu yakin, Kanya akan melakukan apa pun untuk menghentikan


Kyra.


“Aku yakin. Dia pasti ada


di sana!”


“Kalau begitu aku


mengerti, tapi kita harus mencari cara mengatasi udara beracun itu dulu sebelum


berangkat.”


“Nona Kanya tak punya


solusi?”


“Kalau aku punya, aku


tidak akan mencoba menghentikan Kyra sejak tadi.”


“Oh, benar juga.”


Tujuan mereka sekarang


sudah pasti, tapi masalahnya mereka belum menemukan cara mengatasi udara


beracun tersebut. Bahkan Soli yang berwawasan pun tidak punya solusi. Kalau


begini ceritanya, bagaimana mereka bisa melanjutkan perjalanan?


“Mungkin Bara tahu


sesuatu. Coba kita tunggu dulu dan tanyakan pada Bara besok.”


“Untuk apa menunggu Bara.


Kalau hanya udara beracun saja aku juga bisa memurnikannya!”


Si Meena yang dari tadi


hanya diam saja, mendadak menyela perkataan Kyra. Dia terlihat begitu serius,


menatap mereka dengan bangganya. Seakan dirinya baru saja memberikan pencerahan


pada anak-anak kucing yang tersesat.


Refleks, Kanya dan Kyra


menoleh pada Meena.


“Kamu tidak berbohong,


kan?” tanya Kanya.


“Kamu benar-benar bisa,


Meena?” Dilanjutkan oleh Kyra.


“Jangan memberikan harapan


palsu, Nona Meena. Kami semua sedang serius di sini.” Sedangkan Soli curigaan


pada Meena, terlalu meragukan pernyataan serius dari seorang gadis yang


dianggapnya sebagai bocah merepotkan.


Meena mengguncang-guncangkan


tangan sambil menghentakkan kaki dengan kesalnya. Sudah sampai begini pun,


dirinya masih juga diragukan.


“Kalian pikir aku nggak


pernah serius apa! Kalian lupa kelasku itu apa!?”


Meskipun Meena selalu


menyusahkan dan tidak terlalu bisa diandalkan dalam pertarungan. Dia tetaplah


petualang veteran. Perannya sebagai pendukung dalam tim selalu dia pegang

__ADS_1


dengan serius. Karena ia paham betul, bila keberadaannya ada untuk membantu


teman-temannya.


“Aku Dukun Rank A! Salah


satu yang terbaik di kerajaan!”


“Oh ... benar juga. Aku


lupa,” balas Soli dengan polosnya.


“Huft! Kamu itu selalu


saja begitu padaku!”


Meena bersedekap, membuang


muka pada Soli. Mau seperti apa pun reaksi lelaki itu, semuanya salah di mata


Meena. Tugasnya sebagai pengawas berkedok pengawal membuat Meena merasa tidak


nyaman dan canggung terhadap Soli. Dia membencinya, marah akan Naga sialan yang


mengirim Soli mengikutinya ke mana-mana. Dan Soli yang paham betul akan


sulitnya posisi di antara mereka tidak pernah menanggapi Meena dengan serius.


Selalu saja, menatapnya dengan curiga. Ragu pada perkataan dan membuatnya


merasa terbatasi.


“Aku akan melindungi


kalian semua,” ucap Meena, tegas.


Kyra menatap Meena dengan


kerutan di dahi. Kanya mengembuskan napas tanpa mengucapkan apa-apa. Sedangkan


Soli tampak khawatir, ingin berucap sesuatu. Namun sebelum ia berucap, Meena


kembali menimpali.


“Percaya padaku!” Dia


menepuk dadanya dengan mantap. Menatap mereka dengan matanya yang besar yang


indah. Mencoba untuk meyakinkan pada teman-temannya akan kemampuannya yang


belum mendapatkan kesempatan untuk bersinar selama perjalanan panjang mereka.


“Baiklah, aku percaya


padamu.”


Kyra pun menyerah. Dia


meletakkan kedua tangannya pada pundak Meena. Menunjukkan senyuman tulus yang


Meena harapkan. Gadis cebol itu pun merasa puas. Dia menabur senyuman lebar.


Dalam hati ia berjanji akan memegang kata-katanya apa pun yang terjadi


nantinya. Kepercayaan yang Kyra berikan padanya akan dia bayar dengan hasil


memuaskan.


“Aku tahu Kyra memang yang


terbaik!”


Meena melompat memeluk


mereka. Reaksi itu sungguh membuat Kanya merasa gelisah. Hatinya tak tenang,


tapi dia memilih diam dan percaya pada rekannya.


***


Setelah Bara menyelesaikan


seluruh urusan kerajaannya, dia baru sempat untuk pergi menemui teman-temannya.


Langit sudah begitu gelap, tanpa cahaya bulan sama sekali. Hanya cahaya biru


redup dari batu-batu lampu terpasang di sepanjang lorong istana yang menjadi


penerangan baginya. Dengan rasa ragu dan canggung, Bara berjalan begitu lambat


ke arah kamar yang ditempati oleh teman-temannya.


Bara tidak yakin apakah


mereka masih bangun atau sudah tidur. Dia paham bila menemui mereka esok hari


juga bukan masalah. Hanya saja keresahan hatinya membuatnya tidak bisa tidur


dan ingin berbicara dengan seseorang. Makanya dia tetap nekat pergi mencari


mereka tidak peduli betapa larut malam ini.


Saat ia telah berada di


depan kamar Soli, Rhea memunculkan dirinya dari kegelapan. Tiada suara langkah


kaki yang terdengar, hanya penampakannya yang samar dan tatapan tajam matanya


yang membuat Bara menurunkan kembali tangan yang sudah berada di engsel pintu.


“Dia sudah tidur. Ketiga


anak gadis itu juga sudah tidur,” ucap Rhea.


Bara berpaling, berjalan


mendekati Rhea yang bergerak meninggalkan tempat itu perlahan. Dia terlihat


seperti ingin menuntun Bara pergi ke suatu tempat. Di mana saja tak masalah,


selama mereka bisa berbicara tenang tanpa membangunkan orang-orang menyusahkan


yang sejak tadi mengabaikannya.


“Kalau begitu kau mau


menemaniku?”


“Aku yang lebih dulu


menemuimu dan kau masih perlu bertanya.”


“Haha, maaf.”


Sang rubah menghela napas.


Memelankan langkah kakinya mengikuti tempo Bara yang tumben begitu lambat hari


ini. Lelaki Elf itu baru saja diangkat menjadi seorang raja, tapi entah kenapa


dia terlihat tidak bahagia. Bahkan sang siluman yang terbiasa dengan kehidupan


keras pun menjadi kasihan padanya. Tanpa mengerti kenapa hatinya bisa

__ADS_1


bersimpati pada orang yang menjadikannya sebagai budak.


“Dasar bodoh. Aku tak


butuh permintaan maafmu.”


“Aku tahu, kamu


menginginkan kebebasanmu.”


“Kau benar-benar ... akan


membebaskanku?”


Tiba-tiba saja Rhea


berbalik arah, berhenti tiba-tiba tepat di hadapan Bara yang tadinya berjalan


di belakangnya. Mata tajamnya yang berbahaya, membuat Bara merasa sesak. Janji


untuk membebaskan Rhea setelah rakyatnya kembali dihidupkan pasti akan dia


tepati. Namun dalam hati, ada tekanan yang membuatnya ingin mengulur waktu


selama mungkin.


“Sejak awal, aku tidak


pernah menyukai konsep seorang budak. Semua orang, tidak peduli apa pun rasnya


berhak mendapatkan kebebasan. Kami terpaksa mengikatmu karena saat itu kami


tidak bisa mengalahkanmu maupun melindungi diri kami dari mu.” Rasa bersalah.


Itulah yang selalu Bara rasakan setiap kali ia bersikap keras dan memaksa Rhea


dengan perintah yang tidak bisa dibantah oleh siluman rubah itu.


“Jadi kamu mau bilang


kalau saat ini kau sudah tidak takut padaku?”


Bara tertawa hampa. Bukan


karena tidak takut, tapi dia tidak ingin lagi memperlakukan Rhea dengan buruk.


Sekalipun dia ingin menahan wanita rubah itu selama mungkin dengannya, tapi dia


lebih tidak ingin menginjak-injak perasaan orang yang membantunya mendapatkan


kembali keluarganya yang berharga.


“Aku akan membebaskanmu


sekarang,” balas Bara.


“Maaf menyeretmu sampai ke


sini. Bila kau masih marah dan mendendam pada kami, lampiaskan padaku. Jangan


salahkan teman-temanku. Aku yang mengendalikan dan memerintahmu selama ini,


bukan mereka.” Setelah Bara melepaskan kontrak yang mengikatnya dengan Rhea, ia


mencengkeram tangan sang rubah. Memohon dengan frustrasi tertelan oleh rasa bersalahnya.


Rasa marah yang selama ini


Rhea rasakan memenuhi hatinya. Jujur saja dia ingin menghentakkan tangan Bara,


lalu mencakar wajah tampan itu hingga hancur. Bahkan bila akhirnya mereka


berkelahi hingga saling membunuh pun, dia tidak akan menyesal selama rasa


dendamnya diperbudak bisa terbalaskan. Akan tetapi, sikap Bara yang sedikit


melankolis. Dan pemikirannya yang masih ingin melindungi teman-teman yang akan


segera berpisah dengannya itu, membuat Rhea yang tidak pernah merasakan


kehangatan merasa ragu.


Memang benar dia membenci


Bara, tapi ia pun paham bila kebencian di antara mereka diawali oleh


tindakannya. Dan semua yang ia saksikan selama perjalanan mereka berbulan-bulan


ini, membuat Rhea sedikit berubah. Nilai persahabatan, tulusnya pengorbanan,


dan tingginya kejujuran dalam regu Bara dan teman-temannya membuat Rhea bisa


melihat dunia dari sisi yang berbeda. Hidupnya selama ribuan tahun dipenuhi


oleh musuh, jadi seperti mimpi buruk bila dibandingkan dengan hidup anak-anak


muda itu.


“Oke, kau menang. Aku


anggap hutang kita sudah impas.”


Sederhananya, Rhea hanya


merasa lelah. Keinginannya untuk berkelahi hilang saat tatapan matanya


menemukan kelemahan dalam diri Bara. Rasanya hatinya benar-benar kosong dan


dirinya hanya akan terlihat semakin menyedihkan bila tidak dapat melihat masa


depan yang terus terjebak dalam kesalahan masa lalunya.


“Terima kasih, Rhea.”


“Dasar bodoh. Kau yang


seperti ini benar-benar tidak cocok menjadi seorang raja.”


Senyuman lega Bara


membuatnya Rhea merasa semakin canggung. Karenanya, ia menghentakkan tangan


Bara. Lalu berlari pergi tanpa ingin melakukan ritual berpamitan yang hanya


akan membuat mereka semakin canggung. Lagian sejak awal, mereka bukanlah teman.


Melainkan musuh yang lebih baik tidak pernah ditemui lagi selamanya.


“Jadi sebenci itu kau


padaku?”


Bara tertegun, berdiri


membatu sambil menatap tangannya yang masih mencoba meraih sesuatu yang telah


hilang dari hadapannya. Ia tertawa pilu, mempertanyakan sesuatu yang sudah


sangat jelas kebenarannya. Ia juga merasa menyesal tidak bisa mengutarakan apa


yang benar-benar ingin ucapkan saat akhirnya dia menyadari perasaan apa yang


terus membuat hatinya melembut terhadap Rhea.

__ADS_1


__ADS_2