
“Kota itu dipenuhi oleh
udara beracun,” jawab Kanya kemudian.
Ada rasa sedih tersirat
dalam sorot mata Kanya. Pikirannya terseret kembali ke masa lalu. Kala di mana
kota Shura – tempat yang ditunjuk oleh Kyra tadi masih merupakan kota yang
begitu indah dipenuhi oleh perahu dan pertokoan mengapung di permukaan danau.
Sebelum akhirnya menjadi lokasi serangan pasukan Declan sang Raja Undead dan
menjadi tanah terkutuk yang tidak lagi bisa dihuni oleh manusia.
Kanya yang selalu berusaha
melupakan kenangan buruk itu jelas tidak ingin kembali ke sana. Danau tempatnya
lahir dan tinggal pun telah menjadi tercemar, dipenuhi oleh makhluk-makhluk
menjijikkan yang membawa wabah penyakit dan kutukan.
“Lupakan niatmu, Kyra.
Kalian tak akan bisa memasuki kota itu.”
Sekali lagi Kanya mencoba
menghentikan niat Kyra. Dia tidak ingin teman-teman barunya itu celaka. Apalagi
Kyra dan Meena hanyalah seorang manusia. Tidak peduli jikalau mereka merupakan
pengantin binatang mistik sekalipun, daya tahan tubuh manusia yang tergolong
lemah tak dapat diubah. Dia dan Soli mungkin bisa menghirup udara beracun itu,
tapi Kanya yakin mereka pun tak akan bertahan lebih dari satu minggu.
Melihat kecemasan Kanya
yang biasanya bersikap dingin, Kyra menjadi ragu. Ia mengerti maksud Kanya,
tapi api biru peninggalan Alexi menuntunnya ke sana. Kyra jadi tidak punya
pilihan selain menghadapinya dengan berani.
“Aku tetap akan ke sana.
Burung api biru itu ada di sana.”
“Kau yakin?”
Kanya menatap Kyra begitu
seriusnya, memberi tekanan dalam pertanyaannya. Kalau memang benar pecahan diri
sang Phoenix ada di kota Shura, dia hanya bisa mengambil risiko pergi ke sana.
Namun jika Kyra tidak begitu yakin, Kanya akan melakukan apa pun untuk menghentikan
Kyra.
“Aku yakin. Dia pasti ada
di sana!”
“Kalau begitu aku
mengerti, tapi kita harus mencari cara mengatasi udara beracun itu dulu sebelum
berangkat.”
“Nona Kanya tak punya
solusi?”
“Kalau aku punya, aku
tidak akan mencoba menghentikan Kyra sejak tadi.”
“Oh, benar juga.”
Tujuan mereka sekarang
sudah pasti, tapi masalahnya mereka belum menemukan cara mengatasi udara
beracun tersebut. Bahkan Soli yang berwawasan pun tidak punya solusi. Kalau
begini ceritanya, bagaimana mereka bisa melanjutkan perjalanan?
“Mungkin Bara tahu
sesuatu. Coba kita tunggu dulu dan tanyakan pada Bara besok.”
“Untuk apa menunggu Bara.
Kalau hanya udara beracun saja aku juga bisa memurnikannya!”
Si Meena yang dari tadi
hanya diam saja, mendadak menyela perkataan Kyra. Dia terlihat begitu serius,
menatap mereka dengan bangganya. Seakan dirinya baru saja memberikan pencerahan
pada anak-anak kucing yang tersesat.
Refleks, Kanya dan Kyra
menoleh pada Meena.
“Kamu tidak berbohong,
kan?” tanya Kanya.
“Kamu benar-benar bisa,
Meena?” Dilanjutkan oleh Kyra.
“Jangan memberikan harapan
palsu, Nona Meena. Kami semua sedang serius di sini.” Sedangkan Soli curigaan
pada Meena, terlalu meragukan pernyataan serius dari seorang gadis yang
dianggapnya sebagai bocah merepotkan.
Meena mengguncang-guncangkan
tangan sambil menghentakkan kaki dengan kesalnya. Sudah sampai begini pun,
dirinya masih juga diragukan.
“Kalian pikir aku nggak
pernah serius apa! Kalian lupa kelasku itu apa!?”
Meskipun Meena selalu
menyusahkan dan tidak terlalu bisa diandalkan dalam pertarungan. Dia tetaplah
petualang veteran. Perannya sebagai pendukung dalam tim selalu dia pegang
__ADS_1
dengan serius. Karena ia paham betul, bila keberadaannya ada untuk membantu
teman-temannya.
“Aku Dukun Rank A! Salah
satu yang terbaik di kerajaan!”
“Oh ... benar juga. Aku
lupa,” balas Soli dengan polosnya.
“Huft! Kamu itu selalu
saja begitu padaku!”
Meena bersedekap, membuang
muka pada Soli. Mau seperti apa pun reaksi lelaki itu, semuanya salah di mata
Meena. Tugasnya sebagai pengawas berkedok pengawal membuat Meena merasa tidak
nyaman dan canggung terhadap Soli. Dia membencinya, marah akan Naga sialan yang
mengirim Soli mengikutinya ke mana-mana. Dan Soli yang paham betul akan
sulitnya posisi di antara mereka tidak pernah menanggapi Meena dengan serius.
Selalu saja, menatapnya dengan curiga. Ragu pada perkataan dan membuatnya
merasa terbatasi.
“Aku akan melindungi
kalian semua,” ucap Meena, tegas.
Kyra menatap Meena dengan
kerutan di dahi. Kanya mengembuskan napas tanpa mengucapkan apa-apa. Sedangkan
Soli tampak khawatir, ingin berucap sesuatu. Namun sebelum ia berucap, Meena
kembali menimpali.
“Percaya padaku!” Dia
menepuk dadanya dengan mantap. Menatap mereka dengan matanya yang besar yang
indah. Mencoba untuk meyakinkan pada teman-temannya akan kemampuannya yang
belum mendapatkan kesempatan untuk bersinar selama perjalanan panjang mereka.
“Baiklah, aku percaya
padamu.”
Kyra pun menyerah. Dia
meletakkan kedua tangannya pada pundak Meena. Menunjukkan senyuman tulus yang
Meena harapkan. Gadis cebol itu pun merasa puas. Dia menabur senyuman lebar.
Dalam hati ia berjanji akan memegang kata-katanya apa pun yang terjadi
nantinya. Kepercayaan yang Kyra berikan padanya akan dia bayar dengan hasil
memuaskan.
“Aku tahu Kyra memang yang
terbaik!”
Meena melompat memeluk
mereka. Reaksi itu sungguh membuat Kanya merasa gelisah. Hatinya tak tenang,
tapi dia memilih diam dan percaya pada rekannya.
***
Setelah Bara menyelesaikan
seluruh urusan kerajaannya, dia baru sempat untuk pergi menemui teman-temannya.
Langit sudah begitu gelap, tanpa cahaya bulan sama sekali. Hanya cahaya biru
redup dari batu-batu lampu terpasang di sepanjang lorong istana yang menjadi
penerangan baginya. Dengan rasa ragu dan canggung, Bara berjalan begitu lambat
ke arah kamar yang ditempati oleh teman-temannya.
Bara tidak yakin apakah
mereka masih bangun atau sudah tidur. Dia paham bila menemui mereka esok hari
juga bukan masalah. Hanya saja keresahan hatinya membuatnya tidak bisa tidur
dan ingin berbicara dengan seseorang. Makanya dia tetap nekat pergi mencari
mereka tidak peduli betapa larut malam ini.
Saat ia telah berada di
depan kamar Soli, Rhea memunculkan dirinya dari kegelapan. Tiada suara langkah
kaki yang terdengar, hanya penampakannya yang samar dan tatapan tajam matanya
yang membuat Bara menurunkan kembali tangan yang sudah berada di engsel pintu.
“Dia sudah tidur. Ketiga
anak gadis itu juga sudah tidur,” ucap Rhea.
Bara berpaling, berjalan
mendekati Rhea yang bergerak meninggalkan tempat itu perlahan. Dia terlihat
seperti ingin menuntun Bara pergi ke suatu tempat. Di mana saja tak masalah,
selama mereka bisa berbicara tenang tanpa membangunkan orang-orang menyusahkan
yang sejak tadi mengabaikannya.
“Kalau begitu kau mau
menemaniku?”
“Aku yang lebih dulu
menemuimu dan kau masih perlu bertanya.”
“Haha, maaf.”
Sang rubah menghela napas.
Memelankan langkah kakinya mengikuti tempo Bara yang tumben begitu lambat hari
ini. Lelaki Elf itu baru saja diangkat menjadi seorang raja, tapi entah kenapa
dia terlihat tidak bahagia. Bahkan sang siluman yang terbiasa dengan kehidupan
keras pun menjadi kasihan padanya. Tanpa mengerti kenapa hatinya bisa
__ADS_1
bersimpati pada orang yang menjadikannya sebagai budak.
“Dasar bodoh. Aku tak
butuh permintaan maafmu.”
“Aku tahu, kamu
menginginkan kebebasanmu.”
“Kau benar-benar ... akan
membebaskanku?”
Tiba-tiba saja Rhea
berbalik arah, berhenti tiba-tiba tepat di hadapan Bara yang tadinya berjalan
di belakangnya. Mata tajamnya yang berbahaya, membuat Bara merasa sesak. Janji
untuk membebaskan Rhea setelah rakyatnya kembali dihidupkan pasti akan dia
tepati. Namun dalam hati, ada tekanan yang membuatnya ingin mengulur waktu
selama mungkin.
“Sejak awal, aku tidak
pernah menyukai konsep seorang budak. Semua orang, tidak peduli apa pun rasnya
berhak mendapatkan kebebasan. Kami terpaksa mengikatmu karena saat itu kami
tidak bisa mengalahkanmu maupun melindungi diri kami dari mu.” Rasa bersalah.
Itulah yang selalu Bara rasakan setiap kali ia bersikap keras dan memaksa Rhea
dengan perintah yang tidak bisa dibantah oleh siluman rubah itu.
“Jadi kamu mau bilang
kalau saat ini kau sudah tidak takut padaku?”
Bara tertawa hampa. Bukan
karena tidak takut, tapi dia tidak ingin lagi memperlakukan Rhea dengan buruk.
Sekalipun dia ingin menahan wanita rubah itu selama mungkin dengannya, tapi dia
lebih tidak ingin menginjak-injak perasaan orang yang membantunya mendapatkan
kembali keluarganya yang berharga.
“Aku akan membebaskanmu
sekarang,” balas Bara.
“Maaf menyeretmu sampai ke
sini. Bila kau masih marah dan mendendam pada kami, lampiaskan padaku. Jangan
salahkan teman-temanku. Aku yang mengendalikan dan memerintahmu selama ini,
bukan mereka.” Setelah Bara melepaskan kontrak yang mengikatnya dengan Rhea, ia
mencengkeram tangan sang rubah. Memohon dengan frustrasi tertelan oleh rasa bersalahnya.
Rasa marah yang selama ini
Rhea rasakan memenuhi hatinya. Jujur saja dia ingin menghentakkan tangan Bara,
lalu mencakar wajah tampan itu hingga hancur. Bahkan bila akhirnya mereka
berkelahi hingga saling membunuh pun, dia tidak akan menyesal selama rasa
dendamnya diperbudak bisa terbalaskan. Akan tetapi, sikap Bara yang sedikit
melankolis. Dan pemikirannya yang masih ingin melindungi teman-teman yang akan
segera berpisah dengannya itu, membuat Rhea yang tidak pernah merasakan
kehangatan merasa ragu.
Memang benar dia membenci
Bara, tapi ia pun paham bila kebencian di antara mereka diawali oleh
tindakannya. Dan semua yang ia saksikan selama perjalanan mereka berbulan-bulan
ini, membuat Rhea sedikit berubah. Nilai persahabatan, tulusnya pengorbanan,
dan tingginya kejujuran dalam regu Bara dan teman-temannya membuat Rhea bisa
melihat dunia dari sisi yang berbeda. Hidupnya selama ribuan tahun dipenuhi
oleh musuh, jadi seperti mimpi buruk bila dibandingkan dengan hidup anak-anak
muda itu.
“Oke, kau menang. Aku
anggap hutang kita sudah impas.”
Sederhananya, Rhea hanya
merasa lelah. Keinginannya untuk berkelahi hilang saat tatapan matanya
menemukan kelemahan dalam diri Bara. Rasanya hatinya benar-benar kosong dan
dirinya hanya akan terlihat semakin menyedihkan bila tidak dapat melihat masa
depan yang terus terjebak dalam kesalahan masa lalunya.
“Terima kasih, Rhea.”
“Dasar bodoh. Kau yang
seperti ini benar-benar tidak cocok menjadi seorang raja.”
Senyuman lega Bara
membuatnya Rhea merasa semakin canggung. Karenanya, ia menghentakkan tangan
Bara. Lalu berlari pergi tanpa ingin melakukan ritual berpamitan yang hanya
akan membuat mereka semakin canggung. Lagian sejak awal, mereka bukanlah teman.
Melainkan musuh yang lebih baik tidak pernah ditemui lagi selamanya.
“Jadi sebenci itu kau
padaku?”
Bara tertegun, berdiri
membatu sambil menatap tangannya yang masih mencoba meraih sesuatu yang telah
hilang dari hadapannya. Ia tertawa pilu, mempertanyakan sesuatu yang sudah
sangat jelas kebenarannya. Ia juga merasa menyesal tidak bisa mengutarakan apa
yang benar-benar ingin ucapkan saat akhirnya dia menyadari perasaan apa yang
terus membuat hatinya melembut terhadap Rhea.
__ADS_1