Phoenix Bride

Phoenix Bride
Episode 15


__ADS_3

Satu jam kemudian, mereka


berangkat ke kota Nero. Bara sudah menyerah mengomeli Meena. Si cebol satu itu


terkadang terlalu kekanakan sampai sulit dihentikan.


Kota Nero begitu dekat


dengan toko alat sihir terbesar di kerajaan. Dia berpikir untuk membawa mereka


ke sana lebih dulu. Membeli beberapa alat dukung dan senjata baru. Martin dan


rombongannya pasti akan ke sana. Mengingat bila Martin telah kehilangan senjata


di misi sebelumnya, ia pasti membutuhkan senjata baru. Dan senjata terbaik di


dunia hanya dijual di sana.


“Kita akan pergi ke toko


alat sihir sebelum ke kota Nero. Perhatikan jalanmu, Meena!” Bara memberi tahu


karena Meena yang memimpin jalan. Si cebol asyik bergosip dengan Kyra, terlihat


meragukan sebagai penunjuk jalan.


“Iya, tahu,” sahut Meena.


Setelah itu Meena kembali


mengobrol dengan Kyra, menceritakan betapa megahnya suasana di kota tujuan


mereka. Bara tak dianggap, apalagi Soli yang didiamkan dari tadi.


Soli berjalan sendirian begitu


serius mengawasi sekitar. “Bara, ada yang mengikuti sejak kita meninggalkan


Filia.” Ia melapor pada Bara. Berbisik agar gadis-gadis di depan sana tidak mengetahuinya.


Bara mengangguk. Dia juga


sadar diikuti. Namun, ia sama sekali tidak merasakan bahaya dari penguntit


mereka. “Biarkan saja.” Lebih baik begini. Berpura-pura tak menyadari


keberadaan mereka tanpa memberikan kesempatan bagi penguntit-penguntit itu


untuk menyerang mereka.


“Kalau kau tak mau repot,


biar aku yang diam-diam menyelinap membunuh mereka semua.” Soli tidak


sependapat. Dia tak mau mengambil risiko sekecil apa pun yang bisa melukai nona-nona


muda di depan sana.


“Sudah kukatakan tak


perlu. Mereka hanya serangga kecil.” Bara memelototinya, tak senang dengan


sikap Soli yang dianggap berlebihan.


“Bara, Soli, lihat ini! Ada


anak kura-kura!” Tiba-tiba saja Kyra memanggil. Gadis api menunjuk pada sebuah makhluk


setinggi satu meter dengan tubuh berwarna hijau dilapis oleh cangkang keras di


punggungnya. Dilihat dari sisi mana pun, itu bukanlah anak kura-kura.


Bara dan Soli saling


tatap. Detik berikut, Soli berlari ke depan, menarik Kyra dan Meena menjauh


dari makhluk itu. Di saat yang sama, Bara mengeluarkan busurnya. Dia menebak ke


arah makhluk berwarna hijau tersebut.


Tembakan Bara mengenai


cangkang lawannya, memantulkan anak panah jatuh ke tanah. Kemudian, makhluk bertubuh


hijau itu melarikan diri, melompat ke dalam Danau Mineral yang terletak tak


jauh dari jalan yang mereka lewati.


“Apa yang terjadi, kenapa


kau mendadak menembaknya?” Kyra dan Meena kebingungan. Mereka tak merasakan


bahaya sama sekali dari makhluk kecil itu.


“Itu adalah Anak Sungai.


Jika sampai lengah, dia akan menarik kalian ke dalam air dan meminum darah


kalian sampai kering,” jelas Bara.


“Anak Sungai? Tapi di sini


tak ada sungai.” Meena tak percaya. Bagaimana makhluk itu bisa pergi sejauh ini


sendirian dari habitat aslinya.


Soli menunjuk pada Danau


Mineral. “Air di tempat itu mengalir dari sungai yang terhubung dengan air


terjun di samping gunung batu.” Maksud Soli adalah, besar kemungkinan bila Anak


Sungai telah mengikuti mereka dari awal. Sebab, jalan setapak yang mereka


lewati tepat bersebelahan dengan aliran sungai.


“Jadi, maksudmu masih ada


yang lain? Apa mereka akan menyerang kita?” Kyra jadi takut. Dia celingak-celinguk


mencari sosok serupa yang baru saja dia temui.


“Ada, tapi kurasa mereka


tak akan berani memunculkan diri.” Bara mengangkat busurnya, menyeringai


menakutkan. Kalau penguntitnya hanya Anak Sungai dia tak takut. Mereka terbiasa


bergerak dalam kelompok kecil yang terdiri dari empat hingga lima orang. Membunuh


satu kelompok bukan hal sulit.


“Bara sudah menakutinya. Seharusnya


mereka memang tak akan berani menampakkan diri lagi, tapi kenapa sekarang malah


muncul beramai-ramai?”


“Apa?” Bara berbalik


dengan kaget setelah mendengar perkataan Soli. Pria itu benar. Anak Sungai

__ADS_1


memunculkan diri dari arah semak berlawanan arah dengan danau. Jumlahnya ada


belasan, sama sekali tidak sesuai dengan prediksinya.


“Jangan lukai kami. Kami


tidak berniat menyerang kalian.” Sudah begitu, salah satu di antara makhluk penghuni


air itu mengajak Bara berbicara.


Meena dan Kyra menatap


Bara penuh curiga. Apakah perkataannya benar atau tidak. Di mata mereka,


sosok-sosok hijau itu tidak terlihat seperti peminum darah.


“Dasar Elf tua jahat,


menakuti makhluk lemah,” ujar Meena.


“Um, itu ... kita tak


seharusnya menindas makhluk lemah.” Diikuti oleh Kyra.


“Jangan mau diperdaya. Mereka


mengikuti kita sejak awal, mustahil tidak menyimpan niat buruk.” Soli


bersikukuh pada pendapat awalnya. Dia tak tahu apa yang disembunyikan dibalik


tatapan memelas para Anak Sungai.


“Kau sama saja dengan Bara.


Dasar laki-laki jahat!” Meena jadi kesal, masih sensian dengan Soli.


“Kami hanya kebetulan


melewati jalan searah. Sama sekali tak ada niat mengikuti kalian.” Anak sungai


paling tua berucap, seakan sengaja memanfaatkan rasa kasihan Meena.


“Jangan bohong. Kebetulan


lewat sambil bersembunyi di balik semak dan aliran sungai?” Ujung busur Bara


diarahkan pada leher Anak Sungai tua. Dia mengancam, memastikan mereka paham


kalau hanya Meena dan Kyra yang bisa mereka kelabui. Bara dan Soli jangan


harap. Kedua lelaki itu punya pengetahuan. Memiliki sifat yang begitu waspada


dan tidak punya keraguan untuk membunuh.


“Tenang dulu, Bara.


Lihatlah mereka ketakutan sampai saling memeluk. Mungkin saking takutnya tak


berani lewat jalan terbuka.” Kyra menarik tangan Bara, menjauhkan ujung busur


emas dari leher si Anak Sungai tua.


Seketika itu juga, regu


mereka seperti terbagi dua. Meena menarik Kyra ke sisinya untuk membela Anak


Sungai. Sementara Bara dan Soli dalam satu kubu. Keduanya terlihat sangat


emosi. Bertanya-tanya kenapa kedua gadis itu mudah sekali tertipu. Kyra sih


memang sifatnya, nah ini Meena malah ikut-ikutan.


bawa-bawa Kyra mendekati mereka.” Bara memerintah.


“Siapa yang mau mendengarkan


penjahat seperti mu!” Namun, Meena menolak. Ia memeletkan lidah, memeluk Kyra


saat Bara menarik gadis api ke sisinya. Pada saat itulah, seorang Anak Sungai


yang berada di belakang Meena mengeluarkan sebuah pisau yang di arahkan pada


punggung Meena.


Gerakannya begitu cepat.


Namun, Soli lebih cepat. Sang ahli menyelinap di regu mereka telah berpindah ke


samping Meena. Dia merebut pisau itu, mendorong Meena dan Kyra ke pelukan Bara.


“Kalian masih berpikir


mereka tak punya niat jahat?” Pertanyaan Soli terdengar bagai suara kemurkaan,


membuat Meena bungkam.


Begitu sekumpulan Anak


Sungai berbalik menyerang mereka, Soli segera ambil posisi. Dia membunuh


pemimpin mereka dengan cepat, melemparkan mayatnya untuk menakuti sisa kelompok.


“Katakan padaku, apa mau


kalian!” Tak mungkin hanya ingin berburu. Karena biasanya, Anak Sungai akan


melarikan diri saat sadar mangsanya lebih kuat dari mereka. Ini aneh sekali.


Jelas-jelas perbedaan kekuatan mereka terlalu jauh, tapi sekelompok penghuni


air itu masih saja bersikeras menyerang mereka sampai memaksakan diri


berpura-pura di hadapan Meena dan Kyra.


“La-lari!” Anak-anak sungai


melarikan diri ke arah Danau Mineral. Mereka bahkan tak berbalik ketika Soli


membunuh teman mereka yang tertinggal di belakang.


“Sudah cukup, mereka sudah


melarikan diri.” Kyra melepaskan diri dari Bara. Dia menahan Soli saat rekannya


itu ingin membunuh seorang Anak Sungai muda yang terjatuh saat kabur. Teman-temannya


telah kabur dan tewas, meninggalkannya sendirian di sana. Terduduk di atas


tanah dengan tubuh gemetaran ketakutan.


“Mereka nyaris membunuh


Nona Meena. Apa menurut Nona Kyra, mereka masih layak diampuni?” Kyra tak bisa


menyangkal, tapi ia juga tak tega. Satu-satunya Anak Sungai yang tertinggal


terlihat masih kecil.


“Tak apa. Aku tak terluka.


Hanya mengampuni satu anak kecil saja bukan masalah besar.” Meena mengerti

__ADS_1


maksud Kyra. Dia meninggalkan Bara, menemani Kyra beradu mulut dengan Soli.


“Akan kujawab semua


pertanyaan kalian. Kumohon, biarkan aku hidup.”


“Kau sebaiknya menjawab


dengan jujur!” Soli berdecak kesal, melemparkan Anak Sungai pada Bara. Dia


mulai merasa muak harus menjaga gadis-gadis naif itu. Mereka hanya bisa


menyusahkan, tak bisa melihat keadaan dan suka bersikap sok baik.


“Lihatlah, kalian


membuatnya emosi.” Bara mengingatkan pada Meena dan Kyra. Dia cemas Soli


kehilangan kesabaran dan lupa pada tugasnya.


“Biarkan saja. Kalau tak


suka, dia bisa kembali ke istana.” Kalau hanya kembali ke istana saja Bara juga


senang, tapi bagaimana jika berefek sebaliknya? Inilah kenapa Bara tak bisa


berhenti mengawasi Meena. Cebol satu ini selalu membuatnya cemas.


“Meena, dewasalah sedikit.”


Setelah berkata seperti itu, Bara meninggalkan Meena untuk pergi menginterogasi


Anak Sungai.


Meena terdiam memikirkan


kata-kata terakhir Bara. Dia tahu kalau dirinya memang sering membuat masalah


dan Bara selalu sengaja mengalah padanya, tapi semua itu bagian dari


karakternya yang tak bisa dia kendalikan dengan mudah. Meena hanya tak bisa


menahan diri saat dia merasa tak suka akan sesuatu.


***


Setelah Bara selesai


menanyai Anak Sungai, dia membiarkan makhluk hijau itu bebas. Mereka berempat


melanjutkan perjalanan dan baru beristirahat setelah Danau Mineral tidak lagi


terlihat.


Mereka menyalakan api


unggun. Duduk membentuk lingkaran mengelilingi api unggun itu. “Mulai sekarang


kita harus lebih berhati-hati. Terutama kau, Meena.” Bara yang lebih dulu


bersuara. Belum apa-apa, dia sudah membuat Meena kesal.


“Memangnya kau pikir aku


tak bisa diandalkan.” Meena membuang muka, membuat suasana di antara mereka


kembali canggung.


“Apa ini ada hubungannya dengan


yang dikatakan oleh Anak Sungai itu?” Jadi Kyra mencoba mencairkan suasana.


Karena dia merasa aneh. Jika hanya masalah tak bisa diandalkan atau terlalu


lengah, harusnya dia yang diingatkan.


“Kau benar. Yang


memerintahkan mereka adalah Dewi Nuwa, salah satu selir Nakula.” Dewi Nuwa adalah


wanita setengah ular yang merupakan penguasa Danau Mineral. Kabarnya setelah


diangkat menjadi selir, Raja membuatkan terowongan bawah danau yang terhubung


hingga ke halaman istana agar ia bisa bergerak leluasa kembali ke wilayahnya


kapan pun ia mau.


Hanya dengan mendengar


statusnya saja Meena sudah mengerti. Pastilah Syra melanggar janjinya untuk


tidak memberitahukan keberadaan Meena pada selir lain. Hutan Pinus dan Danau


Mineral cukup dekat. Tak menutup kemungkinan bila Syra dan Dewi Nuwa telah


saling mengenal sebelum dibondong ke istana.


“Singkat kata, dia ingin


membunuh Meena sebelum Raja Nakula mengumumkan posisi Meena sebagai Ratu.”


Kecemburuan wanita sungguh mengerikan. Hanya karena mereka tak bisa menjadi


nomor satu di hati Raja, mereka juga tak akan membiarkan orang lain mengisi


posisi itu.


“Aku tahu, cepat atau


lambat hal ini akan terjadi.” Soli menghela napas. Kali ini percobaan Dewi Nuwa


gagal, tapi selalu ada yang namanya lain kali. Bisa jadi, malah ada lebih dari


satu selir yang mengirimkan orang untuk membunuh Meena.


“Itu bukan salahku! Selir bodoh


itu yang cemburuan tak jelas.” Meena berpura-pura tak peduli. Dalam hati dia


yang paling merasa gelisah. Pasalnya bukan hanya dia yang menjadi sasaran. Teman-temannya


pun akan terlibat nantinya.


“Aku tahu, tapi kau tetap


harus hati-hati.” Meena mengangguk, memejamkan mata saat Bara mengusap


kepalanya. Mau bertengkar seperti apa pun, mereka selalu kembali akur tanpa


perlu meminta maaf satu sama lainnya.


Perjalanan mereka baru


saja dimulai, tetapi masalah yang menemani tak akan ada habisnya. Kejadian ini


membuat Kyra sedikit membuka mata. Ia sadar, bila ini terjadi pada Meena, maka


hanya soal waktu terjadi juga padanya. Apabila waktu itu tiba dan dia masih


begitu lemah, ia mungkin akan kehilangan teman berharganya.

__ADS_1


__ADS_2