
Satu jam kemudian, mereka
berangkat ke kota Nero. Bara sudah menyerah mengomeli Meena. Si cebol satu itu
terkadang terlalu kekanakan sampai sulit dihentikan.
Kota Nero begitu dekat
dengan toko alat sihir terbesar di kerajaan. Dia berpikir untuk membawa mereka
ke sana lebih dulu. Membeli beberapa alat dukung dan senjata baru. Martin dan
rombongannya pasti akan ke sana. Mengingat bila Martin telah kehilangan senjata
di misi sebelumnya, ia pasti membutuhkan senjata baru. Dan senjata terbaik di
dunia hanya dijual di sana.
“Kita akan pergi ke toko
alat sihir sebelum ke kota Nero. Perhatikan jalanmu, Meena!” Bara memberi tahu
karena Meena yang memimpin jalan. Si cebol asyik bergosip dengan Kyra, terlihat
meragukan sebagai penunjuk jalan.
“Iya, tahu,” sahut Meena.
Setelah itu Meena kembali
mengobrol dengan Kyra, menceritakan betapa megahnya suasana di kota tujuan
mereka. Bara tak dianggap, apalagi Soli yang didiamkan dari tadi.
Soli berjalan sendirian begitu
serius mengawasi sekitar. “Bara, ada yang mengikuti sejak kita meninggalkan
Filia.” Ia melapor pada Bara. Berbisik agar gadis-gadis di depan sana tidak mengetahuinya.
Bara mengangguk. Dia juga
sadar diikuti. Namun, ia sama sekali tidak merasakan bahaya dari penguntit
mereka. “Biarkan saja.” Lebih baik begini. Berpura-pura tak menyadari
keberadaan mereka tanpa memberikan kesempatan bagi penguntit-penguntit itu
untuk menyerang mereka.
“Kalau kau tak mau repot,
biar aku yang diam-diam menyelinap membunuh mereka semua.” Soli tidak
sependapat. Dia tak mau mengambil risiko sekecil apa pun yang bisa melukai nona-nona
muda di depan sana.
“Sudah kukatakan tak
perlu. Mereka hanya serangga kecil.” Bara memelototinya, tak senang dengan
sikap Soli yang dianggap berlebihan.
“Bara, Soli, lihat ini! Ada
anak kura-kura!” Tiba-tiba saja Kyra memanggil. Gadis api menunjuk pada sebuah makhluk
setinggi satu meter dengan tubuh berwarna hijau dilapis oleh cangkang keras di
punggungnya. Dilihat dari sisi mana pun, itu bukanlah anak kura-kura.
Bara dan Soli saling
tatap. Detik berikut, Soli berlari ke depan, menarik Kyra dan Meena menjauh
dari makhluk itu. Di saat yang sama, Bara mengeluarkan busurnya. Dia menebak ke
arah makhluk berwarna hijau tersebut.
Tembakan Bara mengenai
cangkang lawannya, memantulkan anak panah jatuh ke tanah. Kemudian, makhluk bertubuh
hijau itu melarikan diri, melompat ke dalam Danau Mineral yang terletak tak
jauh dari jalan yang mereka lewati.
“Apa yang terjadi, kenapa
kau mendadak menembaknya?” Kyra dan Meena kebingungan. Mereka tak merasakan
bahaya sama sekali dari makhluk kecil itu.
“Itu adalah Anak Sungai.
Jika sampai lengah, dia akan menarik kalian ke dalam air dan meminum darah
kalian sampai kering,” jelas Bara.
“Anak Sungai? Tapi di sini
tak ada sungai.” Meena tak percaya. Bagaimana makhluk itu bisa pergi sejauh ini
sendirian dari habitat aslinya.
Soli menunjuk pada Danau
Mineral. “Air di tempat itu mengalir dari sungai yang terhubung dengan air
terjun di samping gunung batu.” Maksud Soli adalah, besar kemungkinan bila Anak
Sungai telah mengikuti mereka dari awal. Sebab, jalan setapak yang mereka
lewati tepat bersebelahan dengan aliran sungai.
“Jadi, maksudmu masih ada
yang lain? Apa mereka akan menyerang kita?” Kyra jadi takut. Dia celingak-celinguk
mencari sosok serupa yang baru saja dia temui.
“Ada, tapi kurasa mereka
tak akan berani memunculkan diri.” Bara mengangkat busurnya, menyeringai
menakutkan. Kalau penguntitnya hanya Anak Sungai dia tak takut. Mereka terbiasa
bergerak dalam kelompok kecil yang terdiri dari empat hingga lima orang. Membunuh
satu kelompok bukan hal sulit.
“Bara sudah menakutinya. Seharusnya
mereka memang tak akan berani menampakkan diri lagi, tapi kenapa sekarang malah
muncul beramai-ramai?”
“Apa?” Bara berbalik
dengan kaget setelah mendengar perkataan Soli. Pria itu benar. Anak Sungai
__ADS_1
memunculkan diri dari arah semak berlawanan arah dengan danau. Jumlahnya ada
belasan, sama sekali tidak sesuai dengan prediksinya.
“Jangan lukai kami. Kami
tidak berniat menyerang kalian.” Sudah begitu, salah satu di antara makhluk penghuni
air itu mengajak Bara berbicara.
Meena dan Kyra menatap
Bara penuh curiga. Apakah perkataannya benar atau tidak. Di mata mereka,
sosok-sosok hijau itu tidak terlihat seperti peminum darah.
“Dasar Elf tua jahat,
menakuti makhluk lemah,” ujar Meena.
“Um, itu ... kita tak
seharusnya menindas makhluk lemah.” Diikuti oleh Kyra.
“Jangan mau diperdaya. Mereka
mengikuti kita sejak awal, mustahil tidak menyimpan niat buruk.” Soli
bersikukuh pada pendapat awalnya. Dia tak tahu apa yang disembunyikan dibalik
tatapan memelas para Anak Sungai.
“Kau sama saja dengan Bara.
Dasar laki-laki jahat!” Meena jadi kesal, masih sensian dengan Soli.
“Kami hanya kebetulan
melewati jalan searah. Sama sekali tak ada niat mengikuti kalian.” Anak sungai
paling tua berucap, seakan sengaja memanfaatkan rasa kasihan Meena.
“Jangan bohong. Kebetulan
lewat sambil bersembunyi di balik semak dan aliran sungai?” Ujung busur Bara
diarahkan pada leher Anak Sungai tua. Dia mengancam, memastikan mereka paham
kalau hanya Meena dan Kyra yang bisa mereka kelabui. Bara dan Soli jangan
harap. Kedua lelaki itu punya pengetahuan. Memiliki sifat yang begitu waspada
dan tidak punya keraguan untuk membunuh.
“Tenang dulu, Bara.
Lihatlah mereka ketakutan sampai saling memeluk. Mungkin saking takutnya tak
berani lewat jalan terbuka.” Kyra menarik tangan Bara, menjauhkan ujung busur
emas dari leher si Anak Sungai tua.
Seketika itu juga, regu
mereka seperti terbagi dua. Meena menarik Kyra ke sisinya untuk membela Anak
Sungai. Sementara Bara dan Soli dalam satu kubu. Keduanya terlihat sangat
emosi. Bertanya-tanya kenapa kedua gadis itu mudah sekali tertipu. Kyra sih
memang sifatnya, nah ini Meena malah ikut-ikutan.
bawa-bawa Kyra mendekati mereka.” Bara memerintah.
“Siapa yang mau mendengarkan
penjahat seperti mu!” Namun, Meena menolak. Ia memeletkan lidah, memeluk Kyra
saat Bara menarik gadis api ke sisinya. Pada saat itulah, seorang Anak Sungai
yang berada di belakang Meena mengeluarkan sebuah pisau yang di arahkan pada
punggung Meena.
Gerakannya begitu cepat.
Namun, Soli lebih cepat. Sang ahli menyelinap di regu mereka telah berpindah ke
samping Meena. Dia merebut pisau itu, mendorong Meena dan Kyra ke pelukan Bara.
“Kalian masih berpikir
mereka tak punya niat jahat?” Pertanyaan Soli terdengar bagai suara kemurkaan,
membuat Meena bungkam.
Begitu sekumpulan Anak
Sungai berbalik menyerang mereka, Soli segera ambil posisi. Dia membunuh
pemimpin mereka dengan cepat, melemparkan mayatnya untuk menakuti sisa kelompok.
“Katakan padaku, apa mau
kalian!” Tak mungkin hanya ingin berburu. Karena biasanya, Anak Sungai akan
melarikan diri saat sadar mangsanya lebih kuat dari mereka. Ini aneh sekali.
Jelas-jelas perbedaan kekuatan mereka terlalu jauh, tapi sekelompok penghuni
air itu masih saja bersikeras menyerang mereka sampai memaksakan diri
berpura-pura di hadapan Meena dan Kyra.
“La-lari!” Anak-anak sungai
melarikan diri ke arah Danau Mineral. Mereka bahkan tak berbalik ketika Soli
membunuh teman mereka yang tertinggal di belakang.
“Sudah cukup, mereka sudah
melarikan diri.” Kyra melepaskan diri dari Bara. Dia menahan Soli saat rekannya
itu ingin membunuh seorang Anak Sungai muda yang terjatuh saat kabur. Teman-temannya
telah kabur dan tewas, meninggalkannya sendirian di sana. Terduduk di atas
tanah dengan tubuh gemetaran ketakutan.
“Mereka nyaris membunuh
Nona Meena. Apa menurut Nona Kyra, mereka masih layak diampuni?” Kyra tak bisa
menyangkal, tapi ia juga tak tega. Satu-satunya Anak Sungai yang tertinggal
terlihat masih kecil.
“Tak apa. Aku tak terluka.
Hanya mengampuni satu anak kecil saja bukan masalah besar.” Meena mengerti
__ADS_1
maksud Kyra. Dia meninggalkan Bara, menemani Kyra beradu mulut dengan Soli.
“Akan kujawab semua
pertanyaan kalian. Kumohon, biarkan aku hidup.”
“Kau sebaiknya menjawab
dengan jujur!” Soli berdecak kesal, melemparkan Anak Sungai pada Bara. Dia
mulai merasa muak harus menjaga gadis-gadis naif itu. Mereka hanya bisa
menyusahkan, tak bisa melihat keadaan dan suka bersikap sok baik.
“Lihatlah, kalian
membuatnya emosi.” Bara mengingatkan pada Meena dan Kyra. Dia cemas Soli
kehilangan kesabaran dan lupa pada tugasnya.
“Biarkan saja. Kalau tak
suka, dia bisa kembali ke istana.” Kalau hanya kembali ke istana saja Bara juga
senang, tapi bagaimana jika berefek sebaliknya? Inilah kenapa Bara tak bisa
berhenti mengawasi Meena. Cebol satu ini selalu membuatnya cemas.
“Meena, dewasalah sedikit.”
Setelah berkata seperti itu, Bara meninggalkan Meena untuk pergi menginterogasi
Anak Sungai.
Meena terdiam memikirkan
kata-kata terakhir Bara. Dia tahu kalau dirinya memang sering membuat masalah
dan Bara selalu sengaja mengalah padanya, tapi semua itu bagian dari
karakternya yang tak bisa dia kendalikan dengan mudah. Meena hanya tak bisa
menahan diri saat dia merasa tak suka akan sesuatu.
***
Setelah Bara selesai
menanyai Anak Sungai, dia membiarkan makhluk hijau itu bebas. Mereka berempat
melanjutkan perjalanan dan baru beristirahat setelah Danau Mineral tidak lagi
terlihat.
Mereka menyalakan api
unggun. Duduk membentuk lingkaran mengelilingi api unggun itu. “Mulai sekarang
kita harus lebih berhati-hati. Terutama kau, Meena.” Bara yang lebih dulu
bersuara. Belum apa-apa, dia sudah membuat Meena kesal.
“Memangnya kau pikir aku
tak bisa diandalkan.” Meena membuang muka, membuat suasana di antara mereka
kembali canggung.
“Apa ini ada hubungannya dengan
yang dikatakan oleh Anak Sungai itu?” Jadi Kyra mencoba mencairkan suasana.
Karena dia merasa aneh. Jika hanya masalah tak bisa diandalkan atau terlalu
lengah, harusnya dia yang diingatkan.
“Kau benar. Yang
memerintahkan mereka adalah Dewi Nuwa, salah satu selir Nakula.” Dewi Nuwa adalah
wanita setengah ular yang merupakan penguasa Danau Mineral. Kabarnya setelah
diangkat menjadi selir, Raja membuatkan terowongan bawah danau yang terhubung
hingga ke halaman istana agar ia bisa bergerak leluasa kembali ke wilayahnya
kapan pun ia mau.
Hanya dengan mendengar
statusnya saja Meena sudah mengerti. Pastilah Syra melanggar janjinya untuk
tidak memberitahukan keberadaan Meena pada selir lain. Hutan Pinus dan Danau
Mineral cukup dekat. Tak menutup kemungkinan bila Syra dan Dewi Nuwa telah
saling mengenal sebelum dibondong ke istana.
“Singkat kata, dia ingin
membunuh Meena sebelum Raja Nakula mengumumkan posisi Meena sebagai Ratu.”
Kecemburuan wanita sungguh mengerikan. Hanya karena mereka tak bisa menjadi
nomor satu di hati Raja, mereka juga tak akan membiarkan orang lain mengisi
posisi itu.
“Aku tahu, cepat atau
lambat hal ini akan terjadi.” Soli menghela napas. Kali ini percobaan Dewi Nuwa
gagal, tapi selalu ada yang namanya lain kali. Bisa jadi, malah ada lebih dari
satu selir yang mengirimkan orang untuk membunuh Meena.
“Itu bukan salahku! Selir bodoh
itu yang cemburuan tak jelas.” Meena berpura-pura tak peduli. Dalam hati dia
yang paling merasa gelisah. Pasalnya bukan hanya dia yang menjadi sasaran. Teman-temannya
pun akan terlibat nantinya.
“Aku tahu, tapi kau tetap
harus hati-hati.” Meena mengangguk, memejamkan mata saat Bara mengusap
kepalanya. Mau bertengkar seperti apa pun, mereka selalu kembali akur tanpa
perlu meminta maaf satu sama lainnya.
Perjalanan mereka baru
saja dimulai, tetapi masalah yang menemani tak akan ada habisnya. Kejadian ini
membuat Kyra sedikit membuka mata. Ia sadar, bila ini terjadi pada Meena, maka
hanya soal waktu terjadi juga padanya. Apabila waktu itu tiba dan dia masih
begitu lemah, ia mungkin akan kehilangan teman berharganya.
__ADS_1