Phoenix Bride

Phoenix Bride
Episode 22


__ADS_3

Tak ada yang bisa mereka


lakukan mengenai Kanya. Membongkar keadaan Jenderal Roman juga hanya akan


membuat orang-orang menjadi panik. Mereka hanya bisa mengikuti keadaan, melihat


perkembangan situasi di sini sebelum memutuskan untuk melakukan sesuatu.


Lagi pula serangan yang


datang tidak terlalu berarti. Setiap harinya hanya ada serangan kecil di


gerbang belakang. Kebanyakan Petualang mulai lengah dan tak menanggapi


pekerjaan ini dengan serius.


Kyra sendiri hanya


jalan-jalan di dalam kota setelah jam patrolinya berakhir. Meena masih


bolak-balik ke kastil untuk membujuk Kanya mengajarinya beberapa hal. Karena


sihir Kyra dan Kanya saling bertolak satu sama lainnya, dia tak bisa belajar


apa pun. Bara dan Soli dapat jadwal berpatroli yang berbeda. Jadi setiap ada


waktu luang, Kyra selalu sendirian.


Sampai saat ini, Kyra


masih belum paham kenapa Benteng Barat dianggap tempat berbahaya. Dia merasa bahwa


ini adalah misi teraman yang pernah diambilnya. Orang-orang yang tinggal di


sini begitu ramah. Makanan selalu tersedia dan banyak sekali pertokoan yang menjual


barang-barang menarik.


“Nona, apa kamu mau


meramal masa depanmu?”


Langkah Kyra berhenti.


Panggilan seorang wanita tua menarik perhatiannya. Sebuah kios yang menawarkan


jasa meramal terlihat sangat mencurigakan, tetapi Kyra tetap pergi ke sana.


“Nenek bisa melihat masa


depan?”


Kyra pernah dengar bila


Dukun spesialis pemanggil bisa melihat masa depan dengan menggunakan kekuatan


Iblis yang ia panggil. Berhubung Meena bilang kota ini melahirkan banyak Dukun


hebat, Kyra percaya saja apa yang wanita tua itu ucapkan.


“Apa yang Nona ingin


ketahui?”


Kyra ingin mengetahui


banyak hal. Saking banyaknya dia bingung ingin bertanya soal apa. Hem ...


begini saja. “Aku mau tahu apa yang akan terjadi di kota ini dalam waktu dekat!”


Bertanya soal akhir misi mungkin tak ada salahnya. Setidaknya itulah yang Kyra


pikirkan sebelum ia mendengar jawaban peramal tersebut.


“Kehancuran.” Hanya satu


kata dan tatapan mata menakutkan yang ia dapat sebagai jawaban atas


pertanyaannya.


Kyra tahu nenek itu berbohong.


Karena si nenek tidak memanggil apa pun untuk meramal, tetapi keresahan dan


firasat buruk yang ia rasakan saat tatapan mata mereka bertemu memengaruhi


Kyra.


“Kenapa Nenek berbohong


seperti itu?” Kyra menggelengkan kepalanya, menguatkan hati melawan segala


emosi negatif yang ia rasakan.


Wanita tua itu tertawa


menakutkan, berubah menjadi asap dan menghilang tepat di depan matanya. Itu

__ADS_1


adalah tipe sihir kegelapan, salah satu yang langka dan menakutkan.


Kyra menelan ludah,


membalikkan badan mencari di sekitarnya. Harusnya nenek itu tidak pergi terlalu


jauh, tetapi matanya tak bisa menemukan sosok yang ia cari di antara keramaian.


“Maaf, aku meninggalkan


kiosku terlalu lama. Apa kamu pelanggan?” Tak lama setelahnya, seorang lelaki


muda berbicara padanya. Ia keluar dari kios peramal tersebut. Memakai jubah


aneh dan berbicara seakan dia bekerja di sana.


“Nenek yang tadi meramalku


ke mana?” tanya Kyra, takut-takut.


Lelaki muda itu terlihat


bingung. “Nenek? Aku menjaga kiosku sendiri. Spesialisku meramal percintaan.


Kamu mau kuramalkan jodohmu?” Kemudian dia promosi bisnisnya. Seketika itu


juga, Kyra tahu kalau dia baru saja dipermainkan oleh seseorang, tapi kenapa?


Merasa cemas, Kyra


memutuskan untuk berlari kembali ke kastil. Dia merasa nenek itu bukan hanya


ingin mengerjainya saja, tetapi memang membawa niat buruk.


BOOM!


Terdengar suara ledakan


besar dari arah kastil. Asap dan api terlihat menjulang tinggi di balik


gedung-gedung yang berjejer rapi. Ternyata firasatnya tak salah. Itu bukan


ramalan, melainkan peringatan.


“Aku harus cepat!”


Kyra mempercepat langkah


kakinya. Dengan begitu ia bisa sampai tepat waktu. Namun sayang sekali, dua


“Jangan terburu-buru,


Nona.”


“Kami yang akan bermain


denganmu.”


“Siapa kalian?”


Kyra berhenti berlari. Ia


memasang kuda-kuda waspada. Api keluar dari kepalan tangannya. Bersiap


menyerang kapan saja jika mereka berani macam-macam.


“Itu yang ini kami


tanyakan. Kau dan temanmu yang mungil itu, apa hubunganmu dengan Tuan Putri


pemilik benteng.” Jadi begitu, mereka pastilah melihat Kyra dan Meena bertemu


dengan Kanya dan Amara sebelumnya.


“Kalian dari Persekutuan


Kegelapan?” Kyra menebak. Bila dugaannya benar, maka nenek peramal palsu itu


pasti teman mereka.


Bara mengatakan padanya


untuk hati-hati pada orang yang menggunakan tipe sihir kegelapan. Karena


Penyihir dengan tipe sihir kegelapan kebanyakan bergabung dengan Persekutuan


Kegelapan.


“Kamu terlihat polos dan


bodoh, tapi sepertinya kami salah.” Jadi benar, dia mengakuinya. Kalau begitu tak


ada gunanya mereka berbincang. Kyra harus segera mengalahkan mereka sebelum dia


yang dikalahkan.


“Kalau begitu kita tak

__ADS_1


perlu berbicara lagi!” Detik berikutnya, Kyra berlari ke arah mereka. Seluruh


tubuhnya telah terbakar. Tangannya telah ia ubah menjadi pedang api yang kokoh.


Menebas dengan gesit incaran di depan matanya.


“Wow ... tenanglah, kami


belum selesai bertanya!” Serangan Kyra berhasil dielaki. Kedua laki-laki itu


melompat ke arah berlawanan.


“Azada, berhenti


bermain-main. Kita tangkap saja dia, baru tanyai.” Pria dengan rambut panjang


yang dari tadi diam, akhirnya berbicara. Ia terlihat tak berbuat apa pun, tapi sebenarnya


ia terus mengawasi sambil membaca keadaan. Api Kyra terasa aneh, jadi ia merasa


perlu berhati-hati.


“Jangan memerintahku, Hun!


Penyihir Api lemah pada Penyihir Air seperti ku!” Sedangkan rekannya yang


bernama Azada meremehkan. Ia kembali lagi ke hadapan Kyra.


“Kau diam saja di sana.


Gadis kecil begini aku sendiri sudah cukup.”


“Terserah kau saja.”


Kyra diam mengamati. Ia


tak tahu apakah Hun sungguhan hanya akan diam menonton atau ikut menyerangnya


bersamaan. Nyatanya memang benar sihir api lemah pada sihir air, tapi bukan berarti


dia pasti kalah. Dalam pertarungan, strategi menjadi kunci kemenangan melawan


musuh yang lebih kuat darinya.


“Hati-hati pada apinya.


Ada tekanan energi aneh di dalamnya,” sambung Hun.


“Tak ada api yang tak bisa


kupadamkan!” Sekali lagi Azada tak mendengarkan. Ia menyerang Kyra menggunakan


pusaran air yang dilemparkan dengan menggunakan kedua tangannya. Pusaran kedua


air itu melingkar menjadi satu serangan, terarah tepat ke depan Kyra.


Kyra tahu ia tak akan


sempat menghindar. Maka dari itu, dia mengumpulkan kekuatan di kepalan tangan


kanannya. Tinjuan ledakan api ia lepaskan.


Kekuatan besar itu bertabrakan


dengan pusaran air Azada, saling mendorong dan kemudian meledak di


tengah-tengah. Tubuh Kyra dan Azada terdorong ke belakang, tapi tak ada satu


pun dari mereka yang tumbang.


“Cih, ternyata kau boleh


juga.” Azada mengumpat, sama sekali tidak menyembunyikan kekesalannya. Kyra


melihat itu sebagai sebuah peluang. Ia teringat akan ajaran Alexi, bahwa dalam


pertarungan, emosi lawan merupakan sebuah kelemahan. Selama ia tetap tenang dan


terus memancing emosi Azada, maka ia akan bisa membuka celah untuk menyerang.


“Um, bukannya tadi kamu


bilang bisa memadamkan semua api?” Baiklah, akan Kyra coba membuatnya kesal.


“Pfft.” Hun tertawa


tertahan, menganggap reaksi Kyra lucu.


“DIAM KAU HUN, JANGAN


IKUT-IKUTAN MENGHINAKU!” Dan ternyata sangat mudah memancing Azada. Serangannya


kuat, tapi Kyra merasa dia bisa menang selama memainkan kartu dengan baik.


Hanya saja, temannya yang bernama Hun itu membuat Kyra takut. Kekuatannya belum


ketahuan dan ketenangannya bukan sesuatu yang bisa Kyra uji.

__ADS_1


__ADS_2