
Tak ada yang bisa mereka
lakukan mengenai Kanya. Membongkar keadaan Jenderal Roman juga hanya akan
membuat orang-orang menjadi panik. Mereka hanya bisa mengikuti keadaan, melihat
perkembangan situasi di sini sebelum memutuskan untuk melakukan sesuatu.
Lagi pula serangan yang
datang tidak terlalu berarti. Setiap harinya hanya ada serangan kecil di
gerbang belakang. Kebanyakan Petualang mulai lengah dan tak menanggapi
pekerjaan ini dengan serius.
Kyra sendiri hanya
jalan-jalan di dalam kota setelah jam patrolinya berakhir. Meena masih
bolak-balik ke kastil untuk membujuk Kanya mengajarinya beberapa hal. Karena
sihir Kyra dan Kanya saling bertolak satu sama lainnya, dia tak bisa belajar
apa pun. Bara dan Soli dapat jadwal berpatroli yang berbeda. Jadi setiap ada
waktu luang, Kyra selalu sendirian.
Sampai saat ini, Kyra
masih belum paham kenapa Benteng Barat dianggap tempat berbahaya. Dia merasa bahwa
ini adalah misi teraman yang pernah diambilnya. Orang-orang yang tinggal di
sini begitu ramah. Makanan selalu tersedia dan banyak sekali pertokoan yang menjual
barang-barang menarik.
“Nona, apa kamu mau
meramal masa depanmu?”
Langkah Kyra berhenti.
Panggilan seorang wanita tua menarik perhatiannya. Sebuah kios yang menawarkan
jasa meramal terlihat sangat mencurigakan, tetapi Kyra tetap pergi ke sana.
“Nenek bisa melihat masa
depan?”
Kyra pernah dengar bila
Dukun spesialis pemanggil bisa melihat masa depan dengan menggunakan kekuatan
Iblis yang ia panggil. Berhubung Meena bilang kota ini melahirkan banyak Dukun
hebat, Kyra percaya saja apa yang wanita tua itu ucapkan.
“Apa yang Nona ingin
ketahui?”
Kyra ingin mengetahui
banyak hal. Saking banyaknya dia bingung ingin bertanya soal apa. Hem ...
begini saja. “Aku mau tahu apa yang akan terjadi di kota ini dalam waktu dekat!”
Bertanya soal akhir misi mungkin tak ada salahnya. Setidaknya itulah yang Kyra
pikirkan sebelum ia mendengar jawaban peramal tersebut.
“Kehancuran.” Hanya satu
kata dan tatapan mata menakutkan yang ia dapat sebagai jawaban atas
pertanyaannya.
Kyra tahu nenek itu berbohong.
Karena si nenek tidak memanggil apa pun untuk meramal, tetapi keresahan dan
firasat buruk yang ia rasakan saat tatapan mata mereka bertemu memengaruhi
Kyra.
“Kenapa Nenek berbohong
seperti itu?” Kyra menggelengkan kepalanya, menguatkan hati melawan segala
emosi negatif yang ia rasakan.
Wanita tua itu tertawa
menakutkan, berubah menjadi asap dan menghilang tepat di depan matanya. Itu
__ADS_1
adalah tipe sihir kegelapan, salah satu yang langka dan menakutkan.
Kyra menelan ludah,
membalikkan badan mencari di sekitarnya. Harusnya nenek itu tidak pergi terlalu
jauh, tetapi matanya tak bisa menemukan sosok yang ia cari di antara keramaian.
“Maaf, aku meninggalkan
kiosku terlalu lama. Apa kamu pelanggan?” Tak lama setelahnya, seorang lelaki
muda berbicara padanya. Ia keluar dari kios peramal tersebut. Memakai jubah
aneh dan berbicara seakan dia bekerja di sana.
“Nenek yang tadi meramalku
ke mana?” tanya Kyra, takut-takut.
Lelaki muda itu terlihat
bingung. “Nenek? Aku menjaga kiosku sendiri. Spesialisku meramal percintaan.
Kamu mau kuramalkan jodohmu?” Kemudian dia promosi bisnisnya. Seketika itu
juga, Kyra tahu kalau dia baru saja dipermainkan oleh seseorang, tapi kenapa?
Merasa cemas, Kyra
memutuskan untuk berlari kembali ke kastil. Dia merasa nenek itu bukan hanya
ingin mengerjainya saja, tetapi memang membawa niat buruk.
BOOM!
Terdengar suara ledakan
besar dari arah kastil. Asap dan api terlihat menjulang tinggi di balik
gedung-gedung yang berjejer rapi. Ternyata firasatnya tak salah. Itu bukan
ramalan, melainkan peringatan.
“Aku harus cepat!”
Kyra mempercepat langkah
kakinya. Dengan begitu ia bisa sampai tepat waktu. Namun sayang sekali, dua
“Jangan terburu-buru,
Nona.”
“Kami yang akan bermain
denganmu.”
“Siapa kalian?”
Kyra berhenti berlari. Ia
memasang kuda-kuda waspada. Api keluar dari kepalan tangannya. Bersiap
menyerang kapan saja jika mereka berani macam-macam.
“Itu yang ini kami
tanyakan. Kau dan temanmu yang mungil itu, apa hubunganmu dengan Tuan Putri
pemilik benteng.” Jadi begitu, mereka pastilah melihat Kyra dan Meena bertemu
dengan Kanya dan Amara sebelumnya.
“Kalian dari Persekutuan
Kegelapan?” Kyra menebak. Bila dugaannya benar, maka nenek peramal palsu itu
pasti teman mereka.
Bara mengatakan padanya
untuk hati-hati pada orang yang menggunakan tipe sihir kegelapan. Karena
Penyihir dengan tipe sihir kegelapan kebanyakan bergabung dengan Persekutuan
Kegelapan.
“Kamu terlihat polos dan
bodoh, tapi sepertinya kami salah.” Jadi benar, dia mengakuinya. Kalau begitu tak
ada gunanya mereka berbincang. Kyra harus segera mengalahkan mereka sebelum dia
yang dikalahkan.
“Kalau begitu kita tak
__ADS_1
perlu berbicara lagi!” Detik berikutnya, Kyra berlari ke arah mereka. Seluruh
tubuhnya telah terbakar. Tangannya telah ia ubah menjadi pedang api yang kokoh.
Menebas dengan gesit incaran di depan matanya.
“Wow ... tenanglah, kami
belum selesai bertanya!” Serangan Kyra berhasil dielaki. Kedua laki-laki itu
melompat ke arah berlawanan.
“Azada, berhenti
bermain-main. Kita tangkap saja dia, baru tanyai.” Pria dengan rambut panjang
yang dari tadi diam, akhirnya berbicara. Ia terlihat tak berbuat apa pun, tapi sebenarnya
ia terus mengawasi sambil membaca keadaan. Api Kyra terasa aneh, jadi ia merasa
perlu berhati-hati.
“Jangan memerintahku, Hun!
Penyihir Api lemah pada Penyihir Air seperti ku!” Sedangkan rekannya yang
bernama Azada meremehkan. Ia kembali lagi ke hadapan Kyra.
“Kau diam saja di sana.
Gadis kecil begini aku sendiri sudah cukup.”
“Terserah kau saja.”
Kyra diam mengamati. Ia
tak tahu apakah Hun sungguhan hanya akan diam menonton atau ikut menyerangnya
bersamaan. Nyatanya memang benar sihir api lemah pada sihir air, tapi bukan berarti
dia pasti kalah. Dalam pertarungan, strategi menjadi kunci kemenangan melawan
musuh yang lebih kuat darinya.
“Hati-hati pada apinya.
Ada tekanan energi aneh di dalamnya,” sambung Hun.
“Tak ada api yang tak bisa
kupadamkan!” Sekali lagi Azada tak mendengarkan. Ia menyerang Kyra menggunakan
pusaran air yang dilemparkan dengan menggunakan kedua tangannya. Pusaran kedua
air itu melingkar menjadi satu serangan, terarah tepat ke depan Kyra.
Kyra tahu ia tak akan
sempat menghindar. Maka dari itu, dia mengumpulkan kekuatan di kepalan tangan
kanannya. Tinjuan ledakan api ia lepaskan.
Kekuatan besar itu bertabrakan
dengan pusaran air Azada, saling mendorong dan kemudian meledak di
tengah-tengah. Tubuh Kyra dan Azada terdorong ke belakang, tapi tak ada satu
pun dari mereka yang tumbang.
“Cih, ternyata kau boleh
juga.” Azada mengumpat, sama sekali tidak menyembunyikan kekesalannya. Kyra
melihat itu sebagai sebuah peluang. Ia teringat akan ajaran Alexi, bahwa dalam
pertarungan, emosi lawan merupakan sebuah kelemahan. Selama ia tetap tenang dan
terus memancing emosi Azada, maka ia akan bisa membuka celah untuk menyerang.
“Um, bukannya tadi kamu
bilang bisa memadamkan semua api?” Baiklah, akan Kyra coba membuatnya kesal.
“Pfft.” Hun tertawa
tertahan, menganggap reaksi Kyra lucu.
“DIAM KAU HUN, JANGAN
IKUT-IKUTAN MENGHINAKU!” Dan ternyata sangat mudah memancing Azada. Serangannya
kuat, tapi Kyra merasa dia bisa menang selama memainkan kartu dengan baik.
Hanya saja, temannya yang bernama Hun itu membuat Kyra takut. Kekuatannya belum
ketahuan dan ketenangannya bukan sesuatu yang bisa Kyra uji.
__ADS_1