
Kota Nero yang merupakan
tempat janjian mereka hanya berjarak tempuh setengah hari toko alat sihir.
Mereka tiba di malam hari, tepat saat kemegahan kota itu terbangun. Gemerlap
lampu memenuhi kota. Berbagai atraksi jalanan, pertunjukan teater dan pagelaran
musik dapat ditemukan sepanjang jalan utama.
Nama lain kota Nero adalah
kota hiburan, tempat di mana sekumpulan tuan tanah menetap. Sayang sekali Kyra
dan kawan-kawan tak bisa terlalu lama di
sana. Mereka harus segera menemukan rombongan Martin dan pergi menuju ke
Benteng Barat.
“Harusnya mereka di sini.”
Bara membawa teman-temannya memasuki sebuah penginapan yang menjadi langganan
para Petualang saat singgah di kota Nero. Tempat itu begitu ramai dipenuhi oleh
orang-orang yang terlihat kuat. Mereka yang juga datang dengan tujuan sama.
Yakni mengambil misi serupa.
“Itu Bara, jadi gosipnya
benar.”
“Bara benar-benar
membentuk Regu. Apa bagusnya mereka? Tak ada yang terlihat kuat.”
“Sampai mengambil misi
kecil begini, pastilah karena dihambat oleh anggotanya.”
“Gadis-gadis itu cantik,
haruskah kita menyapa mereka?”
Baru saja Kyra dan
teman-temannya masuk, kehadiran mereka sudah menarik banyak perhatian.
Kebanyakan bertuju pada Bara, tapi ketua kelompok mereka sama sekali tak peduli.
Bara terkenal pemilih
dalam mengambil rekan. Selalu mengambil misi dengan tingkat kesulitan sangat
tinggi seorang diri. Tak terhitung banyaknya tawaran membentuk regu yang dia
tolak mentah-mentah. Karena itulah, banyak yang tak senang melihat regu baru
Bara. Terutama karena Kyra dan Meena kelihatan lemah.
Rasa iri dan tak senang
itu bisa segera Meena pahami. Dia menggenggam tangan Kyra, memastikan anak
polos satu itu tak terseret keisengan orang-orang itu secara tak sengaja.
“Meena, mereka –”
“Abaikan saja, mereka
hanya iri pada kita.”
Kyra tak paham maksud kata
iri itu. Dia bahkan tak mengerti kenapa Soli dan Meena memasang tampang seram
seakan tengah mengancam sekelilingnya. Bara yang di depan sana sibuk mengobrol
dengan resepsionis, menawar kamar dan mempertanyakan keberadaan rombongan
Martin.
“Mereka sedang pergi
melihat pagelaran musik. Kita makan dulu!” Setelah dapat kamar, Bara memanggil
mereka ke sebuah meja kosong.
“Kamarnya gimana? Di sini
lebih ramai dari biasanya.”
“Hanya ada satu, terima
saja.”
Benar dugaan Meena, pasti
sulit mendapatkan kamar di saat seperti ini. Banyaknya jumlah orang yang
mengambil pekerjaan sama juga membuatnya merasa waswas. Seakan menegaskan
seberapa parah keadaan di Benteng Barat.
Misi lain hanya bisa
diambil satu regu. Hanya ada beberapa pengecualian di mana satu misi bisa
diambil oleh banyak regu tanpa batas dan itu biasanya merupakan misi yang
melibatkan peperangan besar.
Kali ini juga Meena yang
memilih misinya. Bila tak mau berakhir kacau seperti sebelumnya, dia harus
benar-benar serius mengawasi sekeliling.
__ADS_1
“Hei, Bara. Regu barumu
penuh dengan anak-anak manusia. Memangnya kaupikir mereka tak akan mati dengan
mudah?” Belum apa-apa, sudah ada yang mendatangi mereka. Satu regu yang terdiri
dari enam orang pria dari ras Raksasa.
“Ya, kautahu syarat utama
satu regu denganku. Seseorang yang tak akan mati dengan mudah.” Cara Bara
menghadapi mereka seperti menghina. Pasalnya orang-orang itu pernah ditolak
ketika merekrutnya bergabung beberapa tahun yang lalu.
“MAKSUDMU KAMI LEBIH LEMAH
DARI MANUSIA-MANUSIA KECIL INI!”
“Ya, masih perlu
kujelaskan?” Ups. Mulut jahat Bara kambuh. Akibat suasana hati yang memang
sudah buruk, ditambah gangguan dari orang-orang yang dia anggap sampah,
beginilah jadinya.
Brak!
Meja makan mereka dipukul
hingga hancur. Makanan yang tersaji di depannya jatuh semua. Sedangkan Bara
masih duduk di tempat semula, menatap mereka datar tanpa ada niat meladeni.
“Sebaiknya kalian pergi.
Jangan mempermalukan diri sendiri.” Dari enam orang itu, hanya satu yang
memiliki Rank S, sisanya Rank A. Tak ada yang spesial. Terlebih semuanya berada
di kelas Prajurit tanpa kemampuan sihir. Regu tanpa variasi kekuatan seperti
itu akan sangat dirugikan dalam misi tertentu.
“Apa kau takut?” Sang
pemimpin regu mengejek.
“Ayo buktikan!”
“Biarkan anggotamu melawan
mereka!”
Orang-orang mulai
bersorak. Mencari masalah karena merasa menang jumlah. Inilah kenapa Bara malas
berurusan dengan mereka.
“Si kecil ini manis
sebuah boneka.
Bara menghela napas
melihatnya. “Hati-hatilah, kau sudah membuat cebol itu marah. Dia paling benci
bau Raksasa dan kau malah menangkapnya.” Dia harap bisa kabur saat ini juga.
“Kurang ajar ... KYRA,
BAKAR MEREKA UNTUKKU!” Tuh, kan teriakan Meena memekikkan telinga. Dia bahkan
menggunakan peledak yang baru saja dia beli untuk melukai pria yang
menangkapnya. Tubuhnya sendiri telah dipasangi dengan tameng hingga tak terkena
efek ledakan. Sehingga Meena bisa segera lari ke belakang Kyra.
Mendengar teriakan Meena, Kyra
refleks maju ke depan. Seluruh tubuhnya berbalut api, berkobar-kobar. Tinjuan
berlapis ledakan api dilontarkan beruntun, memukul satu per satu anggota regu
Raksasa.
“Kau boleh juga. Kalau kau
kalah, kau harus bergabung dengan reguku.” Pukulan terakhir Kyra mampu ditepis
oleh kerasnya kulit sang ketua. Ia bahkan memukul balik, melontarkan Kyra
hingga jatuh ke lantai.
Soli berniat membantu,
tapi Bara telah lebih dulu menarik tangannya. “Meena, Kyra, kalahkan mereka
berdua. Jika tak bisa, kalian berdua akan kuhapus dari daftar misi ini!” Dia
sengaja memanfaatkan keributan ini untuk mencegah gadis-gadis itu mencari Peri
Mimpi.
“Kau pasti sengaja. Rank
Nona Meena dan Nona Kyra di bawah mereka berenam.” Soli mencoba melepaskan
cengkeraman Bara, tapi apa pun usahanya selalu gagal. Inilah yang dinamakan
dengan perbedaan tingkat kemampuan Rank S dan Rank SS.
“Mereka hanya raksasa.
Rank lebih tinggi bukan segalanya. Bila mereka tak sanggup menang melawan makhluk
__ADS_1
penuh otot ini. Pergi ke Perkemahan Centaur sama saja mengantarkan nyawa.” Rank
gadis-gadis dalam regunya mungkin lebih rendah, tapi kekuatan sihir mereka
lebih tinggi. Perlindungan darah Phoenix dan sayap Naga jelas sama sekali tak
bisa dibandingkan dengan kekuatan seorang Raksasa biasa.
“Kau dengar kata-kataku,
Meena. Silakan pakai apa pun untuk mendukung Kyra hingga menang. Ini syarat
dari ku!” Meena sadar benar maksud Bara dan dia tak masalah dengan keputusan
ini.
“Aku dengar, Elf tua
bodoh! Lihat saja, kami akan menang!” Kyra tak berani berucap apa pun melihat
Bara dan Meena bertaruh. Satu hal yang pasti, alasan Bara menguji mereka adalah
demi kebaikan mereka sendiri. Dia yang egois ingin mencari Peri dalam legenda
dan Meena yang telah memberinya dukungan penuh. Maka dia juga yang harus
membuktikan tekatnya.
“Meena, tingkatkan
kecepatanku!” Kyra telah bangkit kembali. Dia sadar bila pukulan lawannya lebih
kuat, pertahanan kulit mereka juga keras. Jadi satu-satunya keunggulannya hanya
di kecepatan saja.
“Siap!” Meena ikut serius.
Ia mengambil posisi tepat di belakang Kyra.
Lawan mereka menyeringai
senang. Setelah semua omongan sombong itu, Bara dan Soli sudah tak ikut campur.
Mereka akan menang mudah melawan gadis-gadis kecil ini.
“Tunggu dulu, jangan
membuat kekacauan di penginapanku. Kalau ingin bertarung, naiklah ke atas arena.”
Pemilik penginapan muncul, meminta mereka untuk pindah tempat. Api Kyra dan
pukulan Raksasa akan menghancurkan penginapannya dengan cepat. Selain itu, ada
yang namanya aturan dalam kota Nero. Setiap pertikaian yang ada, harus
diselesaikan di atas arena kota.
“Tak masalah, ayo pindah!”
Baru sekarang Bara mau bangkit berdiri dan memang ini niatnya dari awal.
Menunggu penduduk lokal mengarahkan mereka ke atas arena. Dengan demikian, saat
mereka menang, tak akan ada lagi yang berani mencari masalah.
“Bagaimana dengan kalian?”
“Kita juga pindah!”
Setelah regu Raksasa
setuju, mereka berpindah keluar. Arena kota berada tak jauh dari sana. Sebuah arena
yang terbuat dari batu dan dilapisi oleh lapisan pelindung. Orang-orang yang
lewat akan menjadi saksi. Pertarungan berakhir saat salah satu pihak mengaku
kalah atau tewas, barulah lapisan yang mengelilingi arena akan hilang.
Soli begitu kesal. Setelah
Meena dan Kyra naik ke atas panggung, apa pun yang terjadi nanti tak akan bisa
dia hentikan. “Kau sungguh bernyali menerima tantangan seperti ini. Bila mereka
terluka, apa kau siap mempertanggungjawabkannya pada Raja?”
“Mereka tak akan mati
dengan mudah. Percayalah, mereka akan menang.” Bara percaya pada rekannya, jika
tidak, sejak awal dia tak akan merekrut mereka. Biarkan pertarungan ini
mendewasakan Meena dan Kyra. Mereka tak akan menjadi kuat bila terus dilindungi
oleh Soli.
“Meena dan Kyra melawan
regu Raksasa? Oke, ayo pasang taruhan.” Kebetulan sekali, rombongan Martin
terpancing oleh keramaian dan datang menghampiri Bara. Sekali muncul langsung mengajak
taruhan.
“Aku pasang untuk mereka.
100 keping emas.” Bara ikutan, berbarengan dengan Martin pergi menemui bandar
yang selalu muncul setiap kali ada pertarungan.
“Orang-orang itu ...
beraninya meremehkanku.” Tak ada yang sadar, bila sikap seenaknya mereka telah
menguras seluruh kesabaran Soli. Tingkah Meena seorang saja sudah membuatnya
kesal. Kini Bara juga ikut-ikutan mencari masalah dan dia hanya bisa bungkam
__ADS_1
menahan diri mendengarkan keegoisan mereka. Yang benar saja ... mana mungkin
Soli bisa terima!