Phoenix Bride

Phoenix Bride
Episode 17


__ADS_3

Kota Nero yang merupakan


tempat janjian mereka hanya berjarak tempuh setengah hari toko alat sihir.


Mereka tiba di malam hari, tepat saat kemegahan kota itu terbangun. Gemerlap


lampu memenuhi kota. Berbagai atraksi jalanan, pertunjukan teater dan pagelaran


musik dapat ditemukan sepanjang jalan utama.


Nama lain kota Nero adalah


kota hiburan, tempat di mana sekumpulan tuan tanah menetap. Sayang sekali Kyra


dan kawan-kawan tak bisa terlalu lama  di


sana. Mereka harus segera menemukan rombongan Martin dan pergi menuju ke


Benteng Barat.


“Harusnya mereka di sini.”


Bara membawa teman-temannya memasuki sebuah penginapan yang menjadi langganan


para Petualang saat singgah di kota Nero. Tempat itu begitu ramai dipenuhi oleh


orang-orang yang terlihat kuat. Mereka yang juga datang dengan tujuan sama.


Yakni mengambil misi serupa.


“Itu Bara, jadi gosipnya


benar.”


“Bara benar-benar


membentuk Regu. Apa bagusnya mereka? Tak ada yang terlihat kuat.”


“Sampai mengambil misi


kecil begini, pastilah karena dihambat oleh anggotanya.”


“Gadis-gadis itu cantik,


haruskah kita menyapa mereka?”


Baru saja Kyra dan


teman-temannya masuk, kehadiran mereka sudah menarik banyak perhatian.


Kebanyakan bertuju pada Bara, tapi ketua kelompok mereka sama sekali tak peduli.


Bara terkenal pemilih


dalam mengambil rekan. Selalu mengambil misi dengan tingkat kesulitan sangat


tinggi seorang diri. Tak terhitung banyaknya tawaran membentuk regu yang dia


tolak mentah-mentah. Karena itulah, banyak yang tak senang melihat regu baru


Bara. Terutama karena Kyra dan Meena kelihatan lemah.


Rasa iri dan tak senang


itu bisa segera Meena pahami. Dia menggenggam tangan Kyra, memastikan anak


polos satu itu tak terseret keisengan orang-orang itu secara tak sengaja.


“Meena, mereka –”


“Abaikan saja, mereka


hanya iri pada kita.”


Kyra tak paham maksud kata


iri itu. Dia bahkan tak mengerti kenapa Soli dan Meena memasang tampang seram


seakan tengah mengancam sekelilingnya. Bara yang di depan sana sibuk mengobrol


dengan resepsionis, menawar kamar dan mempertanyakan keberadaan rombongan


Martin.


“Mereka sedang pergi


melihat pagelaran musik. Kita makan dulu!” Setelah dapat kamar, Bara memanggil


mereka ke sebuah meja kosong.


“Kamarnya gimana? Di sini


lebih ramai dari biasanya.”


“Hanya ada satu, terima


saja.”


Benar dugaan Meena, pasti


sulit mendapatkan kamar di saat seperti ini. Banyaknya jumlah orang yang


mengambil pekerjaan sama juga membuatnya merasa waswas. Seakan menegaskan


seberapa parah keadaan di Benteng Barat.


Misi lain hanya bisa


diambil satu regu. Hanya ada beberapa pengecualian di mana satu misi bisa


diambil oleh banyak regu tanpa batas dan itu biasanya merupakan misi yang


melibatkan peperangan besar.


Kali ini juga Meena yang


memilih misinya. Bila tak mau berakhir kacau seperti sebelumnya, dia harus


benar-benar serius mengawasi sekeliling.

__ADS_1


“Hei, Bara. Regu barumu


penuh dengan anak-anak manusia. Memangnya kaupikir mereka tak akan mati dengan


mudah?” Belum apa-apa, sudah ada yang mendatangi mereka. Satu regu yang terdiri


dari enam orang pria dari ras Raksasa.


“Ya, kautahu syarat utama


satu regu denganku. Seseorang yang tak akan mati dengan mudah.” Cara Bara


menghadapi mereka seperti menghina. Pasalnya orang-orang itu pernah ditolak


ketika merekrutnya bergabung beberapa tahun yang lalu.


“MAKSUDMU KAMI LEBIH LEMAH


DARI MANUSIA-MANUSIA KECIL INI!”


“Ya, masih perlu


kujelaskan?” Ups. Mulut jahat Bara kambuh. Akibat suasana hati yang memang


sudah buruk, ditambah gangguan dari orang-orang yang dia anggap sampah,


beginilah jadinya.


Brak!


Meja makan mereka dipukul


hingga hancur. Makanan yang tersaji di depannya jatuh semua. Sedangkan Bara


masih duduk di tempat semula, menatap mereka datar tanpa ada niat meladeni.


“Sebaiknya kalian pergi.


Jangan mempermalukan diri sendiri.” Dari enam orang itu, hanya satu yang


memiliki Rank S, sisanya Rank A. Tak ada yang spesial. Terlebih semuanya berada


di kelas Prajurit tanpa kemampuan sihir. Regu tanpa variasi kekuatan seperti


itu akan sangat dirugikan dalam misi tertentu.


“Apa kau takut?” Sang


pemimpin regu mengejek.


“Ayo buktikan!”


“Biarkan anggotamu melawan


mereka!”


Orang-orang mulai


bersorak. Mencari masalah karena merasa menang jumlah. Inilah kenapa Bara malas


berurusan dengan mereka.


“Si kecil ini manis


sebuah boneka.


Bara menghela napas


melihatnya. “Hati-hatilah, kau sudah membuat cebol itu marah. Dia paling benci


bau Raksasa dan kau malah menangkapnya.” Dia harap bisa kabur saat ini juga.


“Kurang ajar ... KYRA,


BAKAR MEREKA UNTUKKU!” Tuh, kan teriakan Meena memekikkan telinga. Dia bahkan


menggunakan peledak yang baru saja dia beli untuk melukai pria yang


menangkapnya. Tubuhnya sendiri telah dipasangi dengan tameng hingga tak terkena


efek ledakan. Sehingga Meena bisa segera lari ke belakang Kyra.


Mendengar teriakan Meena, Kyra


refleks maju ke depan. Seluruh tubuhnya berbalut api, berkobar-kobar. Tinjuan


berlapis ledakan api dilontarkan beruntun, memukul satu per satu anggota regu


Raksasa.


“Kau boleh juga. Kalau kau


kalah, kau harus bergabung dengan reguku.” Pukulan terakhir Kyra mampu ditepis


oleh kerasnya kulit sang ketua. Ia bahkan memukul balik, melontarkan Kyra


hingga jatuh ke lantai.


Soli berniat membantu,


tapi Bara telah lebih dulu menarik tangannya. “Meena, Kyra, kalahkan mereka


berdua. Jika tak bisa, kalian berdua akan kuhapus dari daftar misi ini!” Dia


sengaja memanfaatkan keributan ini untuk mencegah gadis-gadis itu mencari Peri


Mimpi.


“Kau pasti sengaja. Rank


Nona Meena dan Nona Kyra di bawah mereka berenam.” Soli mencoba melepaskan


cengkeraman Bara, tapi apa pun usahanya selalu gagal. Inilah yang dinamakan


dengan perbedaan tingkat kemampuan Rank S dan Rank SS.


“Mereka hanya raksasa.


Rank lebih tinggi bukan segalanya. Bila mereka tak sanggup menang melawan makhluk

__ADS_1


penuh otot ini. Pergi ke Perkemahan Centaur sama saja mengantarkan nyawa.” Rank


gadis-gadis dalam regunya mungkin lebih rendah, tapi kekuatan sihir mereka


lebih tinggi. Perlindungan darah Phoenix dan sayap Naga jelas sama sekali tak


bisa dibandingkan dengan kekuatan seorang Raksasa biasa.


“Kau dengar kata-kataku,


Meena. Silakan pakai apa pun untuk mendukung Kyra hingga menang. Ini syarat


dari ku!” Meena sadar benar maksud Bara dan dia tak masalah dengan keputusan


ini.


“Aku dengar, Elf tua


bodoh! Lihat saja, kami akan menang!” Kyra tak berani berucap apa pun melihat


Bara dan Meena bertaruh. Satu hal yang pasti, alasan Bara menguji mereka adalah


demi kebaikan mereka sendiri. Dia yang egois ingin mencari Peri dalam legenda


dan Meena yang telah memberinya dukungan penuh. Maka dia juga yang harus


membuktikan tekatnya.


“Meena, tingkatkan


kecepatanku!” Kyra telah bangkit kembali. Dia sadar bila pukulan lawannya lebih


kuat, pertahanan kulit mereka juga keras. Jadi satu-satunya keunggulannya hanya


di kecepatan saja.


“Siap!” Meena ikut serius.


Ia mengambil posisi tepat di belakang Kyra.


Lawan mereka menyeringai


senang. Setelah semua omongan sombong itu, Bara dan Soli sudah tak ikut campur.


Mereka akan menang mudah melawan gadis-gadis kecil ini.


“Tunggu dulu, jangan


membuat kekacauan di penginapanku. Kalau ingin bertarung, naiklah ke atas arena.”


Pemilik penginapan muncul, meminta mereka untuk pindah tempat. Api Kyra dan


pukulan Raksasa akan menghancurkan penginapannya dengan cepat. Selain itu, ada


yang namanya aturan dalam kota Nero. Setiap pertikaian yang ada, harus


diselesaikan di atas arena kota.


“Tak masalah, ayo pindah!”


Baru sekarang Bara mau bangkit berdiri dan memang ini niatnya dari awal.


Menunggu penduduk lokal mengarahkan mereka ke atas arena. Dengan demikian, saat


mereka menang, tak akan ada lagi yang berani mencari masalah.


“Bagaimana dengan kalian?”


“Kita juga pindah!”


Setelah regu Raksasa


setuju, mereka berpindah keluar. Arena kota berada tak jauh dari sana. Sebuah arena


yang terbuat dari batu dan dilapisi oleh lapisan pelindung. Orang-orang yang


lewat akan menjadi saksi. Pertarungan berakhir saat salah satu pihak mengaku


kalah atau tewas, barulah lapisan yang mengelilingi arena akan hilang.


Soli begitu kesal. Setelah


Meena dan Kyra naik ke atas panggung, apa pun yang terjadi nanti tak akan bisa


dia hentikan. “Kau sungguh bernyali menerima tantangan seperti ini. Bila mereka


terluka, apa kau siap mempertanggungjawabkannya pada Raja?”


“Mereka tak akan mati


dengan mudah. Percayalah, mereka akan menang.” Bara percaya pada rekannya, jika


tidak, sejak awal dia tak akan merekrut mereka. Biarkan pertarungan ini


mendewasakan Meena dan Kyra. Mereka tak akan menjadi kuat bila terus dilindungi


oleh Soli.


“Meena dan Kyra melawan


regu Raksasa? Oke, ayo pasang taruhan.” Kebetulan sekali, rombongan Martin


terpancing oleh keramaian dan datang menghampiri Bara. Sekali muncul langsung mengajak


taruhan.


“Aku pasang untuk mereka.


100 keping emas.” Bara ikutan, berbarengan dengan Martin pergi menemui bandar


yang selalu muncul setiap kali ada pertarungan.


“Orang-orang itu ...


beraninya meremehkanku.” Tak ada yang sadar, bila sikap seenaknya mereka telah


menguras seluruh kesabaran Soli. Tingkah Meena seorang saja sudah membuatnya


kesal. Kini Bara juga ikut-ikutan mencari masalah dan dia hanya bisa bungkam

__ADS_1


menahan diri mendengarkan keegoisan mereka. Yang benar saja ... mana mungkin


Soli bisa terima!


__ADS_2