Phoenix Bride

Phoenix Bride
Episode 35


__ADS_3

“Benar juga. Kenapa Paman


berpikir demikian?” Bara ikut mempertanyakan hal yang sama dengan Kyra. Mereka


berdua membuat sang tuan rumah menjadi tak nyaman. Hanya dengan satu pertanyaan


dari Kyra, dia mengerti bila Kyra telah mengetahui soal ikatannya dengan sang


Phoenix.


“Memangnya ada alasan


lain? Saat makhluk seperti itu memberikan kehidupan, tak aneh bila suatu saat


dia ingin merampas kembali apa yang dia berikan.” Jadi begitu, Bara mengerti


sekarang. Orang tua satu ini tidak benar-benar paham apa itu artinya menjadi


pengantin seekor binatang mistik. Dia hanya berpikir sederhana, melihat dari


sudut pandang seorang manusia.


“Memang tak ada yang


namanya makanan gratis di dunia ini, tapi bisa kujamin bila menjadikan


seseorang – baik itu manusia atau ras apa pun sebagai pengantinnya, maka seekor


binatang mistik tidak akan pernah melukainya.”


“Atas dasar apa jaminan


itu!”


“Ayah, apa yang Bara katakan


adalah sebuah kebenaran. Ayah yang salah paham di sini.” Akhirnya Kyra angkat


suara.


Bara pun tak perlu lagi


berdebat soal ini. Dia melirik pada Soli dan Rhea, memberi tanda agar mereka


ikut pergi dengannya meninggalkan Kyra berdua saja dengan ayahnya. Ini bukan


soal serius, hanya kesalahpahaman dari seorang manusia yang tidak mengenal


dunia luas.


“Apa sekarang putriku


sudah tak lagi mau mendengarkan perkataan ayahnya?” Kyra menggeleng, berpindah


duduk di samping ayahnya. Dia memeluk tubuh renta itu, mencoba menyalurkan rasa


sayangnya.


“Ayah, putrimu ini tak


akan pernah berubah. Aku hanya ingin memberitahukan padamu bila Phoenix itu


tidak punya maksud jahat padaku. Setidaknya, dia telah menolongku


berkali-kali.” Betapa kagetnya ayah Kyra. Dia tak menyangka akan ada saatnya


dia mendengar putrinya menyanjung makhluk yang selalu dia takuti.


Kerasnya hati seorang ayah


selalu bisa dilelehkan oleh putri kesayangannya. Karena Kyra sudah berkata


seperti itu, dia ingin mencoba percaya pada penilaian Kyra sendiri.


“Jika memang benar begitu,


mungkin kami semua telah melakukan kesalahan padamu.”


“Maksud ayah?”


“Kami tak seharusnya


menyimpan rahasia padamu.”


Oh iya! Ingatan itu! Dalam


ingatannya yang samar-samar, ada ayahnya di sana. Inilah kesempatannya. Kyra


tak perlu lagi mencari Peri Mimpi. Ada orang yang menyaksikan dan mengetahui


apa yang mengawali ikatannya dengan sang Phoenix. Dia hanya perlu bertanya dan


percaya pada perkataan mereka.


“Rahasia itu, tentang


ingatanku yang hilang?”


Ayah Kyra mengangguk.


Kemudian dia menceritakan malam di musim dingin sepuluh tahun yang lalu. Kyra


mendengarkan dengan seksama dan akhirnya dia mengerti akan keadaan yang


sebenarnya. Sang Phoenix tidak jahat. Dia hanya meminta kembali haknya. Kyra


yang menginginkan kehidupan darinya. Kyra juga yang berkata bersedia menjadi


pengantinnya. Memang benar orang tuanya yang memohon bantuan burung api itu,


tapi dia yang mengambil keputusan akhir saat itu.


Segala kejanggalan hati


Kyra terjawab sudah. Namun dia tidak merasa bahagia, hatinya resah. Memang dulu


dia bersedia menjadi milik sang Phoenix, tapi sekarang hatinya telah berubah.


Ada orang lain yang menempati tempat spesial itu dan karena itulah pula, rasa


bersalah kini mengganggunya.


“Kyra, apa kamu marah,


Nak?”


Karena Kyra terdiam cukup


lama, ayahnya mulai cemas. Gadis kecilnya terlihat tidak senang. Meskipun


awalnya gadis itulah yang mengucapkan hal-hal baik tentang sang Phoenix, tapi


kebaikan saja tak cukup untuk membuat seorang wanita ingin menghabiskan seluruh


hidupnya bersama dengan orang itu.


“Atau jangan-jangan, kamu


keberatan pergi ke gunung api?”


“Aku sudah pergi ke sana


dan Phoenix itu berkata belum saatnya  bagiku untuk kembali.”


Lega rasanya mendengar


perkataan Kyra, tapi pada akhirnya semua ini hanyalah tentang waktu. Cepat atau


lambat, Kyra harus pulang ke gunung api. Bukan lagi pulang ke rumah tempatnya


dilahirkan.

__ADS_1


“Lalu sekarang apa


rencanamu? Kembali ke kota Filia?”


“Aku tak tahu.”


Rencana awal Kyra hanyalah


singgah sebentar di rumah dan kemudian pergi meninggalkan wilayah Kerajaan


Draco, tapi alasan kepergiannya adalah mencari kunci ingatan yang hilang. Saat


ingatan itu telah dia temukan, tak ada alasan untuk mencari makhluk yang tak


jelas keberadaannya itu lagi.


Kembali ke Filia juga


bukan pilihan baik saat ini. Kabar soal regunya yang diisi oleh tiga orang


pengantin binatang mistik sudah menyebar luas. Ke mana pun mereka pergi,


pastilah ada musuh yang menanti. Satu-satunya yang menjadi tujuan sampingan


mereka semua adalah membangkitkan kekuatan dirinya, Meena dan Kanya. Hanya


saja, Kyra tak tahu harus memulai hal itu dari mana.


***


Ketika semua orang telah


tertidur dengan pulas, Kyra menyelinap keluar dari rumahnya. Dia hanya


meninggalkan sepucuk surat di atas meja ruang tamu. Isi surat tersebut


memberitahukan pada keluarga dan teman-temannya apa yang ingin dia lakukan.


Sekaligus meminta mereka menunggunya kembali.


Kyra mendaki gunung api seorang


diri. Dia melewati jalur terdekat dari kotanya, jalur di mana tak ada seekor


monster ataupun tanaman yang hidup di sana. Bebatuan tempatnya berpijak


dipenuhi oleh magma, terus membakar tanpa henti sehingga tak memungkinkan bagi


siapa pun melewati jalur itu. Seakan jalan tersebut memang dibuat khusus


untuknya.


Setelah berjalan selama


beberapa jam, Kyra menemukan sebuah gua di depan jalan yang harusnya kosong.


Gua itu tidak ada sejak awal. Mungkin lebih tepat disebut sebagai keretakan


kaki gunung atau jalan rahasia yang terbuka untuknya.


Kyra merasa cukup positif


bila bukan hanya dia yang ingin bertemu dengan penghuni gunung api tersebut.


Sang Phoenix telah mengetahui kedatangannya dan sengaja membukakan jalan pintas


agar dia tak perlu mendaki berhari-hari ke puncak gunung.


Begitu Kyra telah memasuki


gua tersebut, pintu masuknya tertutup. Berubah kembali menjadi dinding batu.


Sedangkan bagian dalamnya masih utuh, berbentuk terowongan terang benderang


dicahayai oleh api di seluruh permukaan dinding lorong tersebut. Tiap kali Kyra


melangkah masuk, jalan di belakangnya menghilang. Sebagai tanda bila jalan itu


Ada sedikit rasa khawatir


dalam hati Kyra. Selain keinginan makhluk yang bisa dikatakan sebagai calon


suaminya itu, Kyra juga sama sekali tak bisa menebak isi kepalanya. Entah


niatnya hanya ingin bertemu, atau ingin mengurungnya di tempat ini. Apa pun


tujuannya, Kyra tahu bila hanya sang Phoenix yang bisa mengeluarkannya dari


tempat itu.


“Sudah kukatakan, waktumu


belum tiba.” Sebuah suara terdengar dari ujung jalan. Tempat itu adalah danau


lava di dasar gunung api, sebuah sarang megah mendidih yang bisa memanggang


seekor Naga sekalipun.


Kyra berlari ke arah asal


suara. Dia baru berhenti ketika sampai di depan wajah sang Phoenix. Burung


raksasa itu tertidur dalam genangan danau lava. Matanya terpejam, tubuhnya tak


bergerak. Akan tetapi, ia bisa berbicara. Lebih tepatnya dia berbicara di dalam


benak Kyra, berkomunikasi dengan kekuatan yang tak bisa dijelaskan oleh akal


sehat manusia.


“Aku datang untuk meminta


arahanmu.”


Kebimbangan Kyra tak bisa


diredakan sendiri. Semenjak dia memberikan dirinya pada makhluk indah ini,


segala keputusan penting dalam hidupnya juga akan dia berikan kepada calon


suaminya itu.


Dengan tangan gemetaran,


Kyra membelai paruh sang Phoenix. Rasanya hangat, menyebarkan kekuatan ke dalam


tubuhnya. Seakan dirinya tengah mencuri kekuatan burung itu, tapi sang Phoenix


sendiri tidak menghentikan Kyra. Membagi sedikit kekuatannya tak ada bedanya


setelah dia membagi separuh kehidupannya pada gadis yang telah mencuri hatinya


sepuluh tahun yang lalu.


“Apa yang kauinginkan?


Jawabanku ataukah pengampunanku?” Pertanyaan yang terdengar di dalam benak Kyra


menakutinya sedikit. Karena dia paham, bila lawan bicaranya tahu semua isi


hatinya. Bisa melihat ke dalam ingatannya dan memahami ambisi Kyra.


Kyra menundukkan


kepalanya, melekatkan keningnya pada paruh Phoenix. Hatinya terasa getir.


Antara rasa bersalah yang dia rasakan, terdapat kenyamanan dan rasa aman dari


makhluk yang dianggap monster bagi orang-orang di sekitarnya.


“Aku ingin menepati

__ADS_1


janjiku, tapi hatiku telah kuberikan kepada orang lain. Maafkan aku,” ujar


Kyra.


“Kamu tidak melakukan


kesalahan apa pun, istriku. Dia yang kauinginkan adalah pecahan diriku.” Kyra


mengangkat kepalanya. Menatap penuh kebingungan pada sosok yang tak bergerak


sama sekali. Dia kurang yakin apa maksud dari kalimat yang baru saja ia dengar.


Kyra merasa seperti sang Phoenix berkata bila Letnan Alexi adalah dirinya, tapi


apa benar? Ataukah hanya hatinya yang mencoba menipu diri sendiri untuk


membenarkan kesalahannya?


“Maksudmu?”


“Dulu sekali, aku membantu


Nakula memenangkan pertempuran dengan Undead dan menciptakan kerajaan ini


bersama-sama. Setelah Nakula naik tahta, aku membagi diriku sendiri menjadi


tiga bagian. Tubuhku terbentuk menjadi sosok yang bernamakan Alexi. Dia berdiri


di sisi Nakula sebagai pedang untuk melawan musuh kami. Bagian kedua adalah aku


yang tidur di sini, inti apiku yang tak banyak bergerak dan hanya bisa bangun


dalam waktu singkat. Kemudian bagian ketiga adalah jiwaku. Dia berkeliling ke seluruh


benua untuk mencari informasi tentang musuhku.”


“Jadi selama ini, kamu


menolongku dengan sosokmu yang lain.” Rasa lega mengisi relung hati Kyra.


Ternyata dia tidak mengkhianati janjinya. Rasa tertarik pada Alexi ada karena


pria itu merupakan bagian tubuh dari sang Phoenix itu sendiri. Sekarang


semuanya jelas. Keanehan dan bantuan tanpa pamrih adalah karena Alexi


menghargai janji mereka.


“Ya, sesekali aku merasuki


dan mengendalikannya untuk memberi petunjuk dan bantuan kecil padamu.” Apa


katanya? Kenapa perkataan burung api itu seperti membedakan mereka menjadi dua


individual yang berbeda?


“Bukannya kalian adalah


satu?”


“Kami satu. Dia adalah aku,


ambisi dan tujuanku. Segala tindakannya berdasar dari keinginanku, terdorong


dari perintahku. Namun, sosok Alexi sendiri tak punya ingatan ataupun kesadaran


bila dirinya adalah aku.”


“Jadi kalian berbeda?”


“Tidak tepat. Saat kami


menyatu kembali, ingatannya akan menjadi milikku. Bahkan saat terpisah, semua


itu sudah menjadi milikku. Pada dasarnya pecahan tubuh saja tak bisa menjadi


makhluk hidup sempurna. Pahamilah ini, Kyra.” Bagaimana bisa Kyra memahami


sepenuhnya? Dia bukan makhluk yang bisa membagi tubuhnya dan hidup menjadi tiga


orang di saat yang sama.


“Letnan Alexi tak tahu apa


pun tentangmu, lalu bagaimana bisa dia mewujudkan keinginanmu?”


“Karena keinginanku adalah


keinginannya. Dia tidak mengenalmu saat pertama kali kalian bertemu, tapi


begitu dia melihatmu, dia tahu bila kamu berharga untuknya. Tak masalah


bergantung padanya. Dia tak akan pernah mengkhianati atau melukaimu.”


Sikap Kyra begitu mudah


terbaca. Bahkan setelah segala penjelasan ini, gadis itu masih sulit melihat


burung raksasa ini dan Alexi sebagai orang yang sama. Sang Phoenix sedikit


tidak senang, tapi dia tak perlu cemburu pada dirinya sendiri. Setelah tubuhnya


menyatu kembali, tak ada lagi perbedaan apakah orang itu dia atau Alexi.


“Bila kamu masih ragu,


carilah sosok ketigaku. Bawa dia dan Alexi ke tempat ini. Setelah itu, hanya


ada satu pria yang akan menikahimu.”


“Di mana aku bisa


menemukannya?” Bukannya tadi sang Phoenix bilang sosok ketiganya ada di luar


sana, berkeliaran mencari informasi sejak waktu yang sudah tak terhitung lagi


berapa lamanya waktu berlalu. Mengingat sosok Alexi sudah ada selama ratusan


tahun, maka sudah dipastikan bila sosok ketiga itu juga sudah ada pada waktu


yang sama.


“Tidak tahu. Sulit


mengontrol dan melacaknya di luar dari lapisan pelindung Nakula. Ambillah


beberapa helai buluku. Saat kamu sudah dekat dengannya, dia akan datang sendiri


kepadamu. Sosoknya saat ini adalah seekor burung kecil berkobar api berwarna


biru.” Mengikuti keinginan sang Phoenix, Kyra mencabut beberapa helai bulu


burung itu. Kemudian bulu tersebut masuk ke dalam tubuhnya, menyatu dan berubah


menjadi sayap indah di punggung Kyra.


Betapa luar biasanya


kekuatan yang telah dibagi menjadi tiga tersebut. Bisa membuat anggota tubuh


baru untuk Kyra dan bahkan menguatkan kekuatan bawaannya. Kyra jadi tak bisa


membayangkan seberapa kuat sosok asli Phoenix itu ketika ketiga bagian yang


telah terpisah menyatu kembali nantinya.


Kyra datang untuk meminta jawaban


atas kebingungan. Dan sebagai gantinya, dia pulang membawa kekuatan dan tujuan


hidup yang jelas. Pada akhirnya rencananya tak melenceng jauh. Dia tetap akan

__ADS_1


pergi keluar. Hanya tujuan pencariannya yang berbeda.


__ADS_2