
“Benar juga. Kenapa Paman
berpikir demikian?” Bara ikut mempertanyakan hal yang sama dengan Kyra. Mereka
berdua membuat sang tuan rumah menjadi tak nyaman. Hanya dengan satu pertanyaan
dari Kyra, dia mengerti bila Kyra telah mengetahui soal ikatannya dengan sang
Phoenix.
“Memangnya ada alasan
lain? Saat makhluk seperti itu memberikan kehidupan, tak aneh bila suatu saat
dia ingin merampas kembali apa yang dia berikan.” Jadi begitu, Bara mengerti
sekarang. Orang tua satu ini tidak benar-benar paham apa itu artinya menjadi
pengantin seekor binatang mistik. Dia hanya berpikir sederhana, melihat dari
sudut pandang seorang manusia.
“Memang tak ada yang
namanya makanan gratis di dunia ini, tapi bisa kujamin bila menjadikan
seseorang – baik itu manusia atau ras apa pun sebagai pengantinnya, maka seekor
binatang mistik tidak akan pernah melukainya.”
“Atas dasar apa jaminan
itu!”
“Ayah, apa yang Bara katakan
adalah sebuah kebenaran. Ayah yang salah paham di sini.” Akhirnya Kyra angkat
suara.
Bara pun tak perlu lagi
berdebat soal ini. Dia melirik pada Soli dan Rhea, memberi tanda agar mereka
ikut pergi dengannya meninggalkan Kyra berdua saja dengan ayahnya. Ini bukan
soal serius, hanya kesalahpahaman dari seorang manusia yang tidak mengenal
dunia luas.
“Apa sekarang putriku
sudah tak lagi mau mendengarkan perkataan ayahnya?” Kyra menggeleng, berpindah
duduk di samping ayahnya. Dia memeluk tubuh renta itu, mencoba menyalurkan rasa
sayangnya.
“Ayah, putrimu ini tak
akan pernah berubah. Aku hanya ingin memberitahukan padamu bila Phoenix itu
tidak punya maksud jahat padaku. Setidaknya, dia telah menolongku
berkali-kali.” Betapa kagetnya ayah Kyra. Dia tak menyangka akan ada saatnya
dia mendengar putrinya menyanjung makhluk yang selalu dia takuti.
Kerasnya hati seorang ayah
selalu bisa dilelehkan oleh putri kesayangannya. Karena Kyra sudah berkata
seperti itu, dia ingin mencoba percaya pada penilaian Kyra sendiri.
“Jika memang benar begitu,
mungkin kami semua telah melakukan kesalahan padamu.”
“Maksud ayah?”
“Kami tak seharusnya
menyimpan rahasia padamu.”
Oh iya! Ingatan itu! Dalam
ingatannya yang samar-samar, ada ayahnya di sana. Inilah kesempatannya. Kyra
tak perlu lagi mencari Peri Mimpi. Ada orang yang menyaksikan dan mengetahui
apa yang mengawali ikatannya dengan sang Phoenix. Dia hanya perlu bertanya dan
percaya pada perkataan mereka.
“Rahasia itu, tentang
ingatanku yang hilang?”
Ayah Kyra mengangguk.
Kemudian dia menceritakan malam di musim dingin sepuluh tahun yang lalu. Kyra
mendengarkan dengan seksama dan akhirnya dia mengerti akan keadaan yang
sebenarnya. Sang Phoenix tidak jahat. Dia hanya meminta kembali haknya. Kyra
yang menginginkan kehidupan darinya. Kyra juga yang berkata bersedia menjadi
pengantinnya. Memang benar orang tuanya yang memohon bantuan burung api itu,
tapi dia yang mengambil keputusan akhir saat itu.
Segala kejanggalan hati
Kyra terjawab sudah. Namun dia tidak merasa bahagia, hatinya resah. Memang dulu
dia bersedia menjadi milik sang Phoenix, tapi sekarang hatinya telah berubah.
Ada orang lain yang menempati tempat spesial itu dan karena itulah pula, rasa
bersalah kini mengganggunya.
“Kyra, apa kamu marah,
Nak?”
Karena Kyra terdiam cukup
lama, ayahnya mulai cemas. Gadis kecilnya terlihat tidak senang. Meskipun
awalnya gadis itulah yang mengucapkan hal-hal baik tentang sang Phoenix, tapi
kebaikan saja tak cukup untuk membuat seorang wanita ingin menghabiskan seluruh
hidupnya bersama dengan orang itu.
“Atau jangan-jangan, kamu
keberatan pergi ke gunung api?”
“Aku sudah pergi ke sana
dan Phoenix itu berkata belum saatnya bagiku untuk kembali.”
Lega rasanya mendengar
perkataan Kyra, tapi pada akhirnya semua ini hanyalah tentang waktu. Cepat atau
lambat, Kyra harus pulang ke gunung api. Bukan lagi pulang ke rumah tempatnya
dilahirkan.
__ADS_1
“Lalu sekarang apa
rencanamu? Kembali ke kota Filia?”
“Aku tak tahu.”
Rencana awal Kyra hanyalah
singgah sebentar di rumah dan kemudian pergi meninggalkan wilayah Kerajaan
Draco, tapi alasan kepergiannya adalah mencari kunci ingatan yang hilang. Saat
ingatan itu telah dia temukan, tak ada alasan untuk mencari makhluk yang tak
jelas keberadaannya itu lagi.
Kembali ke Filia juga
bukan pilihan baik saat ini. Kabar soal regunya yang diisi oleh tiga orang
pengantin binatang mistik sudah menyebar luas. Ke mana pun mereka pergi,
pastilah ada musuh yang menanti. Satu-satunya yang menjadi tujuan sampingan
mereka semua adalah membangkitkan kekuatan dirinya, Meena dan Kanya. Hanya
saja, Kyra tak tahu harus memulai hal itu dari mana.
***
Ketika semua orang telah
tertidur dengan pulas, Kyra menyelinap keluar dari rumahnya. Dia hanya
meninggalkan sepucuk surat di atas meja ruang tamu. Isi surat tersebut
memberitahukan pada keluarga dan teman-temannya apa yang ingin dia lakukan.
Sekaligus meminta mereka menunggunya kembali.
Kyra mendaki gunung api seorang
diri. Dia melewati jalur terdekat dari kotanya, jalur di mana tak ada seekor
monster ataupun tanaman yang hidup di sana. Bebatuan tempatnya berpijak
dipenuhi oleh magma, terus membakar tanpa henti sehingga tak memungkinkan bagi
siapa pun melewati jalur itu. Seakan jalan tersebut memang dibuat khusus
untuknya.
Setelah berjalan selama
beberapa jam, Kyra menemukan sebuah gua di depan jalan yang harusnya kosong.
Gua itu tidak ada sejak awal. Mungkin lebih tepat disebut sebagai keretakan
kaki gunung atau jalan rahasia yang terbuka untuknya.
Kyra merasa cukup positif
bila bukan hanya dia yang ingin bertemu dengan penghuni gunung api tersebut.
Sang Phoenix telah mengetahui kedatangannya dan sengaja membukakan jalan pintas
agar dia tak perlu mendaki berhari-hari ke puncak gunung.
Begitu Kyra telah memasuki
gua tersebut, pintu masuknya tertutup. Berubah kembali menjadi dinding batu.
Sedangkan bagian dalamnya masih utuh, berbentuk terowongan terang benderang
dicahayai oleh api di seluruh permukaan dinding lorong tersebut. Tiap kali Kyra
melangkah masuk, jalan di belakangnya menghilang. Sebagai tanda bila jalan itu
Ada sedikit rasa khawatir
dalam hati Kyra. Selain keinginan makhluk yang bisa dikatakan sebagai calon
suaminya itu, Kyra juga sama sekali tak bisa menebak isi kepalanya. Entah
niatnya hanya ingin bertemu, atau ingin mengurungnya di tempat ini. Apa pun
tujuannya, Kyra tahu bila hanya sang Phoenix yang bisa mengeluarkannya dari
tempat itu.
“Sudah kukatakan, waktumu
belum tiba.” Sebuah suara terdengar dari ujung jalan. Tempat itu adalah danau
lava di dasar gunung api, sebuah sarang megah mendidih yang bisa memanggang
seekor Naga sekalipun.
Kyra berlari ke arah asal
suara. Dia baru berhenti ketika sampai di depan wajah sang Phoenix. Burung
raksasa itu tertidur dalam genangan danau lava. Matanya terpejam, tubuhnya tak
bergerak. Akan tetapi, ia bisa berbicara. Lebih tepatnya dia berbicara di dalam
benak Kyra, berkomunikasi dengan kekuatan yang tak bisa dijelaskan oleh akal
sehat manusia.
“Aku datang untuk meminta
arahanmu.”
Kebimbangan Kyra tak bisa
diredakan sendiri. Semenjak dia memberikan dirinya pada makhluk indah ini,
segala keputusan penting dalam hidupnya juga akan dia berikan kepada calon
suaminya itu.
Dengan tangan gemetaran,
Kyra membelai paruh sang Phoenix. Rasanya hangat, menyebarkan kekuatan ke dalam
tubuhnya. Seakan dirinya tengah mencuri kekuatan burung itu, tapi sang Phoenix
sendiri tidak menghentikan Kyra. Membagi sedikit kekuatannya tak ada bedanya
setelah dia membagi separuh kehidupannya pada gadis yang telah mencuri hatinya
sepuluh tahun yang lalu.
“Apa yang kauinginkan?
Jawabanku ataukah pengampunanku?” Pertanyaan yang terdengar di dalam benak Kyra
menakutinya sedikit. Karena dia paham, bila lawan bicaranya tahu semua isi
hatinya. Bisa melihat ke dalam ingatannya dan memahami ambisi Kyra.
Kyra menundukkan
kepalanya, melekatkan keningnya pada paruh Phoenix. Hatinya terasa getir.
Antara rasa bersalah yang dia rasakan, terdapat kenyamanan dan rasa aman dari
makhluk yang dianggap monster bagi orang-orang di sekitarnya.
“Aku ingin menepati
__ADS_1
janjiku, tapi hatiku telah kuberikan kepada orang lain. Maafkan aku,” ujar
Kyra.
“Kamu tidak melakukan
kesalahan apa pun, istriku. Dia yang kauinginkan adalah pecahan diriku.” Kyra
mengangkat kepalanya. Menatap penuh kebingungan pada sosok yang tak bergerak
sama sekali. Dia kurang yakin apa maksud dari kalimat yang baru saja ia dengar.
Kyra merasa seperti sang Phoenix berkata bila Letnan Alexi adalah dirinya, tapi
apa benar? Ataukah hanya hatinya yang mencoba menipu diri sendiri untuk
membenarkan kesalahannya?
“Maksudmu?”
“Dulu sekali, aku membantu
Nakula memenangkan pertempuran dengan Undead dan menciptakan kerajaan ini
bersama-sama. Setelah Nakula naik tahta, aku membagi diriku sendiri menjadi
tiga bagian. Tubuhku terbentuk menjadi sosok yang bernamakan Alexi. Dia berdiri
di sisi Nakula sebagai pedang untuk melawan musuh kami. Bagian kedua adalah aku
yang tidur di sini, inti apiku yang tak banyak bergerak dan hanya bisa bangun
dalam waktu singkat. Kemudian bagian ketiga adalah jiwaku. Dia berkeliling ke seluruh
benua untuk mencari informasi tentang musuhku.”
“Jadi selama ini, kamu
menolongku dengan sosokmu yang lain.” Rasa lega mengisi relung hati Kyra.
Ternyata dia tidak mengkhianati janjinya. Rasa tertarik pada Alexi ada karena
pria itu merupakan bagian tubuh dari sang Phoenix itu sendiri. Sekarang
semuanya jelas. Keanehan dan bantuan tanpa pamrih adalah karena Alexi
menghargai janji mereka.
“Ya, sesekali aku merasuki
dan mengendalikannya untuk memberi petunjuk dan bantuan kecil padamu.” Apa
katanya? Kenapa perkataan burung api itu seperti membedakan mereka menjadi dua
individual yang berbeda?
“Bukannya kalian adalah
satu?”
“Kami satu. Dia adalah aku,
ambisi dan tujuanku. Segala tindakannya berdasar dari keinginanku, terdorong
dari perintahku. Namun, sosok Alexi sendiri tak punya ingatan ataupun kesadaran
bila dirinya adalah aku.”
“Jadi kalian berbeda?”
“Tidak tepat. Saat kami
menyatu kembali, ingatannya akan menjadi milikku. Bahkan saat terpisah, semua
itu sudah menjadi milikku. Pada dasarnya pecahan tubuh saja tak bisa menjadi
makhluk hidup sempurna. Pahamilah ini, Kyra.” Bagaimana bisa Kyra memahami
sepenuhnya? Dia bukan makhluk yang bisa membagi tubuhnya dan hidup menjadi tiga
orang di saat yang sama.
“Letnan Alexi tak tahu apa
pun tentangmu, lalu bagaimana bisa dia mewujudkan keinginanmu?”
“Karena keinginanku adalah
keinginannya. Dia tidak mengenalmu saat pertama kali kalian bertemu, tapi
begitu dia melihatmu, dia tahu bila kamu berharga untuknya. Tak masalah
bergantung padanya. Dia tak akan pernah mengkhianati atau melukaimu.”
Sikap Kyra begitu mudah
terbaca. Bahkan setelah segala penjelasan ini, gadis itu masih sulit melihat
burung raksasa ini dan Alexi sebagai orang yang sama. Sang Phoenix sedikit
tidak senang, tapi dia tak perlu cemburu pada dirinya sendiri. Setelah tubuhnya
menyatu kembali, tak ada lagi perbedaan apakah orang itu dia atau Alexi.
“Bila kamu masih ragu,
carilah sosok ketigaku. Bawa dia dan Alexi ke tempat ini. Setelah itu, hanya
ada satu pria yang akan menikahimu.”
“Di mana aku bisa
menemukannya?” Bukannya tadi sang Phoenix bilang sosok ketiganya ada di luar
sana, berkeliaran mencari informasi sejak waktu yang sudah tak terhitung lagi
berapa lamanya waktu berlalu. Mengingat sosok Alexi sudah ada selama ratusan
tahun, maka sudah dipastikan bila sosok ketiga itu juga sudah ada pada waktu
yang sama.
“Tidak tahu. Sulit
mengontrol dan melacaknya di luar dari lapisan pelindung Nakula. Ambillah
beberapa helai buluku. Saat kamu sudah dekat dengannya, dia akan datang sendiri
kepadamu. Sosoknya saat ini adalah seekor burung kecil berkobar api berwarna
biru.” Mengikuti keinginan sang Phoenix, Kyra mencabut beberapa helai bulu
burung itu. Kemudian bulu tersebut masuk ke dalam tubuhnya, menyatu dan berubah
menjadi sayap indah di punggung Kyra.
Betapa luar biasanya
kekuatan yang telah dibagi menjadi tiga tersebut. Bisa membuat anggota tubuh
baru untuk Kyra dan bahkan menguatkan kekuatan bawaannya. Kyra jadi tak bisa
membayangkan seberapa kuat sosok asli Phoenix itu ketika ketiga bagian yang
telah terpisah menyatu kembali nantinya.
Kyra datang untuk meminta jawaban
atas kebingungan. Dan sebagai gantinya, dia pulang membawa kekuatan dan tujuan
hidup yang jelas. Pada akhirnya rencananya tak melenceng jauh. Dia tetap akan
__ADS_1
pergi keluar. Hanya tujuan pencariannya yang berbeda.