Phoenix Bride

Phoenix Bride
Episode 49


__ADS_3

Keesokan harinya Bara


memanggil teman-temannya ke ruang pertemuan. Dia menunggu mereka sendirian di


sana, tanpa seorang pun Elf penjaga yang biasanya mengikuti Bara ke mana-mana.


Kyra yang lebih dulu memasuki ruangan. Dia melihat sekeliling dengan anehnya.


“Rhea belum datang?” tanya


Kyra.


“Aku sudah melepaskannya,


Kyra. Dia mungkin sudah kembali teritorinya.”


“Kau bilang apa?” Soli


langsung menimpali dari belakang. Suaranya melengking hingga membuat Meena


refleks menutup telinganya.


“Kenapa sih? Kan Bara


memang sudah bilang akan melepaskannya.”


“Nona Meena tak mengerti.


Siluman Rubah itu menyimpan dendam pada kita. Siapa yang tahu kalau dia


benar-benar pulang begitu saja atau diam-diam bersembunyi sambil menunggu


kesempatan untuk menyerang kita!”


“Dia tidak terlihat


sejahat itu.”


“Nona Kanya, tolong jangan


ikut-ikutan.”


Kanya memalingkan mukanya,


tidak membalas perkataan Soli. Dia memang pendiam, tapi ada kalanya Kanya ingin


mengungkapkan pemikirannya. Dan menurut pengamatannya, Rhea sudah sedikit


berubah bila dibandingkan dengan sosok berbahaya yang mereka hadapi di hutan


dulu.


“Kupikir juga begitu.”


Kyra ikut-ikutan membela Rhea.


Tingkah Kyra itu membuat


Soli geleng-geleng kepala tidak mengerti apa yang dipikirkan gadis-gadis itu.


Dia masih ingat pasti ketika Rhea menyerang mereka terlebih dulu di waktu itu.


Makanya sulit baginya untuk mengubah pemikiran negatif tentang Rhea hanya


karena gadis rubah itu membantu mereka beberapa kali.


“Dia membantu kita karena


terpaksa. Jangan lupakan itu.”


“Soli, sudah cukup. Tak


perlu membahas orang yang sudah pergi.”


“Apa jaminannya kalau dia


benar-benar sudah pergi! Bagaimana kalau dia kembali lagi dan menyerang kita!”


“Kamu terlalu cemas,


Soli.”


“Hah ... kalian semua naif


sekali!”


Bara terlihat tidak


bersemangat. Dia menjawab Soli dengan ekspresi datar seperti tidak tertarik


sama sekali. Sampai akhirnya Soli menyerah sendiri untuk meyakinkan mereka.


Lagian mereka kemari untuk berpamitan dengan Bara. Bukan untuk bertengkar


dengannya.


“Kalian sudah memutuskan


ingin ke mana?”


“Ya dan kami berniat


berangkat sekarang,” jawab Kyra.


Bara mengangguk mengerti


setelah mendengar rencana mereka selanjutnya. Dia juga berjanji akan memperluas


kekuasaan kerajaannya ke seluruh wilayah Aurora Sea hingga tak ada lagi anak


buah Declan yang berkeliaran dan berbuat buruk di sekitarnya.


“Saat aku telah menguasai


seluruh wilayah perairan, aku akan menghubungi Nakula untuk menyatukan kekuatan


kami berperang dengan pasukan Declan. Setidaknya ini yang bisa kulakukan untuk


membantu kalian.”


Tujuan Bara mungkin sulit


dicapai, tapi tidak mustahil. Bila dia sungguh berhasil mendepak keluar pasukan


mayat hidup Declan dari wilayahnya. Maka pengaruh kekuasaan musuh mereka juga


akan melemah. Nakula telah menguasai sepertiga wilayah yang ada. Jika


ditambahkan dengan sepertiga wilayahnya, maka persentase kemenangan mereka akan


semakin besar.


“Kamu yakin bisa melakukan


semua ini, Bara?”


Meena mendekati Bara. Dia


mencengkeram bahu sahabat lamanya itu dengan keras. Dia merasa cemas Bara


terlalu memaksakan diri dengan tujuan begitu besar padahal dia baru saja naik


tahta.


“Kita tidak punya pilihan.


Bukannya sejak awal tujuan kita adalah mengalahkan Declan dan pasukannya?


Inilah alasan kenapa kita melakukan perjalanan mencari pecahan jiwa sang


Phoenix.”


Ya, ini tujuan mereka


dibalik usaha mengumpulkan pecahan sang Phoenix dan membangkitkan kekuatan


aslinya. Bukan hanya demi Kyra, tetapi juga untuk masa depan mereka. Demi dunia


yang lebih baik di mana mereka bisa hidup dengan damai tanpa takut pada


serangan tiba-tiba yang bisa merampas segalanya.


“Aku mengerti, Bara.


Serahkan pencarian Phoenix pada kami.”


“Bagus, cebol. Kau lebih


cocok dengan ekspresi bodoh ini daripada cemas seperti orang tua.”


“Diam kau, Elf tua!”


Meena menendang Bara.


Kemudian dia berlari ke Kyra, mengolok Bara untuk menyembunyikan rasa sedihnya.


Rasanya masih sulit untuk berpisah, tapi mereka harus melakukannya. Terlebih ketika


Bara telah memutuskan tujuan besar untuk mendukung mereka dengan caranya

__ADS_1


sendiri.


“Kami akan segera kembali


setelah menemukan burung api biru itu, Bara.”


“Hati-hati, Kyra.”


“Sampai jumpa lagi.”


Karena Kyra terlihat


begitu tenang memercayai janji Bara, ia pun menjadi termotivasi untuk membayar


janjinya. Bukan hanya bangsa Elf, tetapi juga seluruh makhluk hidup yang hidup


dalam kelompok kecil tersebar di seluruh wilayah. Bara ingin mengumpulkan semua


yang masih selamat, menyatukan kekuatan mereka untuk merebut kembali tanah


kelahiran mereka.


Saat Kyra dan


teman-temannya pergi meninggalkan Bara, sang Elf menghapus segala perasaan


negatif yang menguasainya. Dia mengesampingkan hatinya, memutuskan untuk


berfokus dengan ambisinya. Dan untuk itu, pertama-tama dia akan mempersiapkan


pertemuan dengan bangsa Treant yang sudah mereka kenal sebelumnya.


***


Meninggalkan pergunungan


es, Kyra dan kawan-kawannya mulai memasuki wilayah perairan di mana sebuah


sungai besar yang mengalir menuju ke lautan berada. Di sekeliling sungai itu


terdapat beberapa gua buatan yang dihuni oleh Lizardman. Sebuah ras yang


dikenal juga sebagai manusia reptil.


Kyra merasa tak tenang.


Terus-menerus mengawasi sekelilingnya karena kondisi tempat itu terlalu sunyi


untuk disebut sebagai rumah Lizardman yang dikenal dengan sifatnya yang buas


dan senang memulai perkelahian.


“Kanya, kamu yakin masih


ada Lizardman yang tinggal di sini?”


Kyra berjalan dengan cepat


menyusul Kanya yang berjalan di depannya. Di belakang mereka, Meena dan Soli


berjalan berdampingan dengan diam. Si cebol sedang merajuk dan Soli malas


membujuknya. Mereka berdua terlihat terlalu santai, sangat bertolak belakang


dengan sikap Kyra yang terkesan terlalu cemas bagi Kanya.


“Mungkin mereka sudah


pindah,” sambung Meena.


“Tidak. Mereka masih ada


di sini.” Disusul oleh jawaban mantap dari Kanya. Dia bisa merasakan keberadaan


mereka di balik bebatuan. Tengah bersembunyi mencari waktu tepat untuk


menyerang.


“Lalu, kenapa mereka tidak


kelihatan?”


Kyra kembali bertanya.


Sibuk mengawasi sekeliling. Soli yang dari tadi diam, mulai ikut waspada. Dia


mengeluarkan sebuah pisau dari sabuknya. Digenggam dengan erat di balik mantel


yang menutupi seluruh tubuhnya dari penglihatan musuh mereka.


“Mereka di sana, Kyra,” ujar


bersembunyi. Namun, mereka dapat segera mengelaki serangan Kanya. Di saat yang


sama, seorang dari Lizardman itu menembakkan panah es ke arah Kyra yang berada


di samping Kanya.


Kyra yang terkejut tidak


sempat mengelak. Dia hanya bisa membangun dinding api tipis secara refleks.


Dinding yang bisa dengan begitu mudah ditembus oleh panah es tersebut.


“Awas, Kyra!”


“Terima kasih, Meena.”


“Lain kali lebih


hati-hati.”


Untungnya, Meena dengan


gesit melompat ke arah Kyra. Dia mendorong Kyra bersama dengan dirinya hingga


jatuh ke tanah menghindari anak panah tersebut. Sedangkan Kanya dan Soli telah


menyebar, tengah sibuk berhadapan dengan musuh lain yang ikut memunculkan diri


dari arah berlawan.


Awalnya hanya terlihat


lima orang Lizardman, tapi sebelum mereka dapat mengendalikan situasi,


sekelompok pasukan bantuan dari manusia reptil itu mulai berdatangan


mengelilingi mereka.


“Kami bukan musuh kalian!


Kami petualangan yang kebetulan melewati wilayah kalian.” Soli mencoba


memberikan penjelasan. Ia berharap mereka tidak perlu berselisih hanya karena


kesalahpahaman kecil.


“Semua orang yang memasuki


wilayah kami adalah musuh,” balas seorang Lizardman berkulit biru gelap.


Satu-satunya yang memiliki warna kulit berbeda bila dibandingkan dengan


teman-temannya yang memiliki warna kulit hijau tua seperti lumut. Perbedaan


yang jelas yang menunjukkan statusnya sebagai pemimpin suku.


“Jangan bodoh reptil


jelek! Kalau sikapmu seperti itu, semua ras lain sama saja dengan musuhmu.”


Meena membalasnya dengan nada tinggi, menatap tak senang pada pemimpin


Lizardman tersebut.


“Kaupikir kami peduli


dengan pendapat seorang gadis manusia?”


“Cih! Reptil menyebalkan!”


“Serang mereka!!!”


Alhasil, tidak ada solusi


dalam pembicaraan tak penting itu. Para Lizardman terlalu angkuh untuk peduli


dengan pendapat mereka. Serangan beruntun dari panah es dan semburan pusaran


air ditembakkan kepada Kyra dan teman-temannya yang kini telah berkumpul di


tengah.


“Coba saja kalau bisa!”


Meena menerima sikap para


Lizardman sebagai tantangan. Dia membangun dinding angin raksasa yang berputar

__ADS_1


mengelilingi teman-temannya. Dinding angin mirip tornado itu menelan semua


serangan air, mematahkan panah-panah es dan mendorong musuh mereka menjauh.


Entah karena memang sedang


kesal atau karena lawannya sesama reptil, Meena tidak ingin mengalah atau diam


saja membiarkan mereka menyudutkannya. Dia lupa posisinya sebagai pendukung


dalam tim dan malah berinisiatif menyerang dari depan setelah pertahanannya


menghancurkan serangan lawan.


“Meena kenapa?” Bahkan


Kanya terkejut, bertanya dengan Kyra yang sebenarnya juga tidak mengerti dengan


sikap Meena.


“Entahlah, tapi aku tahu


ini saat yang tepat untuk menyerang balik.”


Kanya dan Soli setuju.


Begitu dinding angin Meena menghilang, mereka segera menyerang balik dengan


serangan besar. Kyra menjatuhkan bebatuan berlapis api seperti hujan meteor


dari atas dan Kanya yang mengendalikan air sungai seperti ombak yang menabrak


musuh-musuh mereka.


Lalu Soli bersembunyi


dibalik uap yang muncul dari tabrakan air dan api seperti hantu. Dia muncul


dibalik punggung musuhnya, menyayat leher mereka begitu cepat sebelum


keberadaannya diketahui. Dan dalam sekejap, pertempuran tidak imbang itu


berakhir dengan kemenangan mutlak bagi mereka.


“Ini yang kalian dapat


dari menyerang orang sembarangan,” ujar Kyra kepada kepada pemimpin Lizardman


yang terduduk karena terluka oleh serangan brutalnya.


“Diamlah dan bunuh saja


kami! Kami tidak butuh belas kasihan dari manusia!”


“Aku tidak merasa kasihan


pada kalian.”


Tatapan mata Kyra begitu


dingin seakan tidak peduli. Begitu juga dengan teman-temannya. Mereka telah


belajar untuk tidak mudah bersimpati pada musuh bila ingin menyelesaikan misi


mereka dan pulang dengan selamat.


“Kami tidak sudi menjadi


budak kalian!”


Para Lizardman merasa


salah paham. Mengira Kyra dan teman-temannya akan menangkap mereka dan


menjadikan mereka sebagai tahanan seperti bagaimana bangsa mereka memperlakukan


musuh yang mereka kalahkan.


Akan tetapi, Kyra bukanlah


orang seperti itu. Dia mungkin tidak merasa kasihan, tapi dia masih memiliki


moral. Dia tidak ingin menangkap mereka ataupun menggunakan mereka untuk melakukan


sesuatu. Dia hanya ingin bertanya. Ingin mengetahui bagaimana kondisi di tempat


ini dan daerah di sekitar kota Shura yang menjadi tujuan mereka.


“Kami juga tidak butuh


kalian. Kalian pikir Kyra serendah kalian? Dasar reptil bodoh.”


Karena kesal, Meena maju


ke depan. Dia mengintimidasi sebagian kecil dari Lizardman yang masih hidup.


Aura Naga yang tercampur di dalam mananya membuat mereka tak bisa bergerak,


gemetaran karena insting. Sebab Naga adalah rantai makanan tertinggi dari


segala ras reptil. Keberadaan yang tidak dapat dilawan oleh mereka.


“Apa yang kaulakukan pada


kami?” Para Lizardman masih tidak mengerti dari mana datangnya rasa takut


mereka pada Meena. Padahal serangan kombinasi Kyra dan Kanya yang mengalahkan


mereka, tapi justru Meena yang paling membuat mereka merasa paling


terintimidasi.


“Kami tidak melakukan apa


pun dan tidak berniat melakukan apa pun pada kalian. Kalian hanya perlu


menjawab pertanyaan kami.”


“Dengar itu! Jawab saja


pertanyaan dari Kyra dan coba-coba melawan balik!”


Tekanan dari kedua gadis


itu begitu tidak biasa. Hingga mampu menghancurkan gengsi para Lizardman yang dikenal


tidak takut mati. Mereka menjatuhkan kepalanya mengikuti insting. Menjawab


segala pertanyaan Kyra dengan suara pelan. Kemudian mereka hanya diam di


tempat, tidak bergerak sama sekali hingga Kyra dan teman-temannya meninggalkan


sungai tersebut.


Tidak ada yang benar-benar


mengerti kenapa para Lizardman tiba-tiba kehilangan semangat tempur dan tunduk


kepada mereka. Kecuali Meena yang sadar akan pengaruh kekuatan Nakula dalam


tubuhnya.


“Kenapa?” Dia bergumam


kecil menatap telapak tangannya. Bertanya-tanya dalam hati apa yang membuat


kekuatan Naga dalam dirinya meningkat tanpa alasan yang jelas. Sudah lama Meena


dapat menggunakan kekuatan Nakula, tapi tidak pernah sampai sebesar ini dan


terasa begitu natural seakan kekuatan itu merupakan miliknya sendiri dan


bukannya kekuatan pinjaman.


“Kamu bilang apa Meena?”


tanya Kyra, mengira Meena tengah berbicara dengannya.


“Tidak kok. Salah dengar


kali.”


“Aneh, aku yakin


mendengarmu berbicara.”


“Salah dengar tuh! Cepat


jalan Kyra. Nanti reptil itu kembali lagi.”


Meena segera mengelak. Dia


berlari menabrak punggung Kyra dengan pelan. Lalu dia menarik tangan Kyra


sambil memaksa Kyra berjalan lebih cepat. Dia memutuskan untuk mengabaikan


pertanyaan dalam benaknya. Bersikap seperti tidak ada yang berubah karena tidak


ingin berpraduga atas apa yang tidak dia pahami.

__ADS_1


__ADS_2