
Keesokan harinya Bara
memanggil teman-temannya ke ruang pertemuan. Dia menunggu mereka sendirian di
sana, tanpa seorang pun Elf penjaga yang biasanya mengikuti Bara ke mana-mana.
Kyra yang lebih dulu memasuki ruangan. Dia melihat sekeliling dengan anehnya.
“Rhea belum datang?” tanya
Kyra.
“Aku sudah melepaskannya,
Kyra. Dia mungkin sudah kembali teritorinya.”
“Kau bilang apa?” Soli
langsung menimpali dari belakang. Suaranya melengking hingga membuat Meena
refleks menutup telinganya.
“Kenapa sih? Kan Bara
memang sudah bilang akan melepaskannya.”
“Nona Meena tak mengerti.
Siluman Rubah itu menyimpan dendam pada kita. Siapa yang tahu kalau dia
benar-benar pulang begitu saja atau diam-diam bersembunyi sambil menunggu
kesempatan untuk menyerang kita!”
“Dia tidak terlihat
sejahat itu.”
“Nona Kanya, tolong jangan
ikut-ikutan.”
Kanya memalingkan mukanya,
tidak membalas perkataan Soli. Dia memang pendiam, tapi ada kalanya Kanya ingin
mengungkapkan pemikirannya. Dan menurut pengamatannya, Rhea sudah sedikit
berubah bila dibandingkan dengan sosok berbahaya yang mereka hadapi di hutan
dulu.
“Kupikir juga begitu.”
Kyra ikut-ikutan membela Rhea.
Tingkah Kyra itu membuat
Soli geleng-geleng kepala tidak mengerti apa yang dipikirkan gadis-gadis itu.
Dia masih ingat pasti ketika Rhea menyerang mereka terlebih dulu di waktu itu.
Makanya sulit baginya untuk mengubah pemikiran negatif tentang Rhea hanya
karena gadis rubah itu membantu mereka beberapa kali.
“Dia membantu kita karena
terpaksa. Jangan lupakan itu.”
“Soli, sudah cukup. Tak
perlu membahas orang yang sudah pergi.”
“Apa jaminannya kalau dia
benar-benar sudah pergi! Bagaimana kalau dia kembali lagi dan menyerang kita!”
“Kamu terlalu cemas,
Soli.”
“Hah ... kalian semua naif
sekali!”
Bara terlihat tidak
bersemangat. Dia menjawab Soli dengan ekspresi datar seperti tidak tertarik
sama sekali. Sampai akhirnya Soli menyerah sendiri untuk meyakinkan mereka.
Lagian mereka kemari untuk berpamitan dengan Bara. Bukan untuk bertengkar
dengannya.
“Kalian sudah memutuskan
ingin ke mana?”
“Ya dan kami berniat
berangkat sekarang,” jawab Kyra.
Bara mengangguk mengerti
setelah mendengar rencana mereka selanjutnya. Dia juga berjanji akan memperluas
kekuasaan kerajaannya ke seluruh wilayah Aurora Sea hingga tak ada lagi anak
buah Declan yang berkeliaran dan berbuat buruk di sekitarnya.
“Saat aku telah menguasai
seluruh wilayah perairan, aku akan menghubungi Nakula untuk menyatukan kekuatan
kami berperang dengan pasukan Declan. Setidaknya ini yang bisa kulakukan untuk
membantu kalian.”
Tujuan Bara mungkin sulit
dicapai, tapi tidak mustahil. Bila dia sungguh berhasil mendepak keluar pasukan
mayat hidup Declan dari wilayahnya. Maka pengaruh kekuasaan musuh mereka juga
akan melemah. Nakula telah menguasai sepertiga wilayah yang ada. Jika
ditambahkan dengan sepertiga wilayahnya, maka persentase kemenangan mereka akan
semakin besar.
“Kamu yakin bisa melakukan
semua ini, Bara?”
Meena mendekati Bara. Dia
mencengkeram bahu sahabat lamanya itu dengan keras. Dia merasa cemas Bara
terlalu memaksakan diri dengan tujuan begitu besar padahal dia baru saja naik
tahta.
“Kita tidak punya pilihan.
Bukannya sejak awal tujuan kita adalah mengalahkan Declan dan pasukannya?
Inilah alasan kenapa kita melakukan perjalanan mencari pecahan jiwa sang
Phoenix.”
Ya, ini tujuan mereka
dibalik usaha mengumpulkan pecahan sang Phoenix dan membangkitkan kekuatan
aslinya. Bukan hanya demi Kyra, tetapi juga untuk masa depan mereka. Demi dunia
yang lebih baik di mana mereka bisa hidup dengan damai tanpa takut pada
serangan tiba-tiba yang bisa merampas segalanya.
“Aku mengerti, Bara.
Serahkan pencarian Phoenix pada kami.”
“Bagus, cebol. Kau lebih
cocok dengan ekspresi bodoh ini daripada cemas seperti orang tua.”
“Diam kau, Elf tua!”
Meena menendang Bara.
Kemudian dia berlari ke Kyra, mengolok Bara untuk menyembunyikan rasa sedihnya.
Rasanya masih sulit untuk berpisah, tapi mereka harus melakukannya. Terlebih ketika
Bara telah memutuskan tujuan besar untuk mendukung mereka dengan caranya
__ADS_1
sendiri.
“Kami akan segera kembali
setelah menemukan burung api biru itu, Bara.”
“Hati-hati, Kyra.”
“Sampai jumpa lagi.”
Karena Kyra terlihat
begitu tenang memercayai janji Bara, ia pun menjadi termotivasi untuk membayar
janjinya. Bukan hanya bangsa Elf, tetapi juga seluruh makhluk hidup yang hidup
dalam kelompok kecil tersebar di seluruh wilayah. Bara ingin mengumpulkan semua
yang masih selamat, menyatukan kekuatan mereka untuk merebut kembali tanah
kelahiran mereka.
Saat Kyra dan
teman-temannya pergi meninggalkan Bara, sang Elf menghapus segala perasaan
negatif yang menguasainya. Dia mengesampingkan hatinya, memutuskan untuk
berfokus dengan ambisinya. Dan untuk itu, pertama-tama dia akan mempersiapkan
pertemuan dengan bangsa Treant yang sudah mereka kenal sebelumnya.
***
Meninggalkan pergunungan
es, Kyra dan kawan-kawannya mulai memasuki wilayah perairan di mana sebuah
sungai besar yang mengalir menuju ke lautan berada. Di sekeliling sungai itu
terdapat beberapa gua buatan yang dihuni oleh Lizardman. Sebuah ras yang
dikenal juga sebagai manusia reptil.
Kyra merasa tak tenang.
Terus-menerus mengawasi sekelilingnya karena kondisi tempat itu terlalu sunyi
untuk disebut sebagai rumah Lizardman yang dikenal dengan sifatnya yang buas
dan senang memulai perkelahian.
“Kanya, kamu yakin masih
ada Lizardman yang tinggal di sini?”
Kyra berjalan dengan cepat
menyusul Kanya yang berjalan di depannya. Di belakang mereka, Meena dan Soli
berjalan berdampingan dengan diam. Si cebol sedang merajuk dan Soli malas
membujuknya. Mereka berdua terlihat terlalu santai, sangat bertolak belakang
dengan sikap Kyra yang terkesan terlalu cemas bagi Kanya.
“Mungkin mereka sudah
pindah,” sambung Meena.
“Tidak. Mereka masih ada
di sini.” Disusul oleh jawaban mantap dari Kanya. Dia bisa merasakan keberadaan
mereka di balik bebatuan. Tengah bersembunyi mencari waktu tepat untuk
menyerang.
“Lalu, kenapa mereka tidak
kelihatan?”
Kyra kembali bertanya.
Sibuk mengawasi sekeliling. Soli yang dari tadi diam, mulai ikut waspada. Dia
mengeluarkan sebuah pisau dari sabuknya. Digenggam dengan erat di balik mantel
yang menutupi seluruh tubuhnya dari penglihatan musuh mereka.
“Mereka di sana, Kyra,” ujar
bersembunyi. Namun, mereka dapat segera mengelaki serangan Kanya. Di saat yang
sama, seorang dari Lizardman itu menembakkan panah es ke arah Kyra yang berada
di samping Kanya.
Kyra yang terkejut tidak
sempat mengelak. Dia hanya bisa membangun dinding api tipis secara refleks.
Dinding yang bisa dengan begitu mudah ditembus oleh panah es tersebut.
“Awas, Kyra!”
“Terima kasih, Meena.”
“Lain kali lebih
hati-hati.”
Untungnya, Meena dengan
gesit melompat ke arah Kyra. Dia mendorong Kyra bersama dengan dirinya hingga
jatuh ke tanah menghindari anak panah tersebut. Sedangkan Kanya dan Soli telah
menyebar, tengah sibuk berhadapan dengan musuh lain yang ikut memunculkan diri
dari arah berlawan.
Awalnya hanya terlihat
lima orang Lizardman, tapi sebelum mereka dapat mengendalikan situasi,
sekelompok pasukan bantuan dari manusia reptil itu mulai berdatangan
mengelilingi mereka.
“Kami bukan musuh kalian!
Kami petualangan yang kebetulan melewati wilayah kalian.” Soli mencoba
memberikan penjelasan. Ia berharap mereka tidak perlu berselisih hanya karena
kesalahpahaman kecil.
“Semua orang yang memasuki
wilayah kami adalah musuh,” balas seorang Lizardman berkulit biru gelap.
Satu-satunya yang memiliki warna kulit berbeda bila dibandingkan dengan
teman-temannya yang memiliki warna kulit hijau tua seperti lumut. Perbedaan
yang jelas yang menunjukkan statusnya sebagai pemimpin suku.
“Jangan bodoh reptil
jelek! Kalau sikapmu seperti itu, semua ras lain sama saja dengan musuhmu.”
Meena membalasnya dengan nada tinggi, menatap tak senang pada pemimpin
Lizardman tersebut.
“Kaupikir kami peduli
dengan pendapat seorang gadis manusia?”
“Cih! Reptil menyebalkan!”
“Serang mereka!!!”
Alhasil, tidak ada solusi
dalam pembicaraan tak penting itu. Para Lizardman terlalu angkuh untuk peduli
dengan pendapat mereka. Serangan beruntun dari panah es dan semburan pusaran
air ditembakkan kepada Kyra dan teman-temannya yang kini telah berkumpul di
tengah.
“Coba saja kalau bisa!”
Meena menerima sikap para
Lizardman sebagai tantangan. Dia membangun dinding angin raksasa yang berputar
__ADS_1
mengelilingi teman-temannya. Dinding angin mirip tornado itu menelan semua
serangan air, mematahkan panah-panah es dan mendorong musuh mereka menjauh.
Entah karena memang sedang
kesal atau karena lawannya sesama reptil, Meena tidak ingin mengalah atau diam
saja membiarkan mereka menyudutkannya. Dia lupa posisinya sebagai pendukung
dalam tim dan malah berinisiatif menyerang dari depan setelah pertahanannya
menghancurkan serangan lawan.
“Meena kenapa?” Bahkan
Kanya terkejut, bertanya dengan Kyra yang sebenarnya juga tidak mengerti dengan
sikap Meena.
“Entahlah, tapi aku tahu
ini saat yang tepat untuk menyerang balik.”
Kanya dan Soli setuju.
Begitu dinding angin Meena menghilang, mereka segera menyerang balik dengan
serangan besar. Kyra menjatuhkan bebatuan berlapis api seperti hujan meteor
dari atas dan Kanya yang mengendalikan air sungai seperti ombak yang menabrak
musuh-musuh mereka.
Lalu Soli bersembunyi
dibalik uap yang muncul dari tabrakan air dan api seperti hantu. Dia muncul
dibalik punggung musuhnya, menyayat leher mereka begitu cepat sebelum
keberadaannya diketahui. Dan dalam sekejap, pertempuran tidak imbang itu
berakhir dengan kemenangan mutlak bagi mereka.
“Ini yang kalian dapat
dari menyerang orang sembarangan,” ujar Kyra kepada kepada pemimpin Lizardman
yang terduduk karena terluka oleh serangan brutalnya.
“Diamlah dan bunuh saja
kami! Kami tidak butuh belas kasihan dari manusia!”
“Aku tidak merasa kasihan
pada kalian.”
Tatapan mata Kyra begitu
dingin seakan tidak peduli. Begitu juga dengan teman-temannya. Mereka telah
belajar untuk tidak mudah bersimpati pada musuh bila ingin menyelesaikan misi
mereka dan pulang dengan selamat.
“Kami tidak sudi menjadi
budak kalian!”
Para Lizardman merasa
salah paham. Mengira Kyra dan teman-temannya akan menangkap mereka dan
menjadikan mereka sebagai tahanan seperti bagaimana bangsa mereka memperlakukan
musuh yang mereka kalahkan.
Akan tetapi, Kyra bukanlah
orang seperti itu. Dia mungkin tidak merasa kasihan, tapi dia masih memiliki
moral. Dia tidak ingin menangkap mereka ataupun menggunakan mereka untuk melakukan
sesuatu. Dia hanya ingin bertanya. Ingin mengetahui bagaimana kondisi di tempat
ini dan daerah di sekitar kota Shura yang menjadi tujuan mereka.
“Kami juga tidak butuh
kalian. Kalian pikir Kyra serendah kalian? Dasar reptil bodoh.”
Karena kesal, Meena maju
ke depan. Dia mengintimidasi sebagian kecil dari Lizardman yang masih hidup.
Aura Naga yang tercampur di dalam mananya membuat mereka tak bisa bergerak,
gemetaran karena insting. Sebab Naga adalah rantai makanan tertinggi dari
segala ras reptil. Keberadaan yang tidak dapat dilawan oleh mereka.
“Apa yang kaulakukan pada
kami?” Para Lizardman masih tidak mengerti dari mana datangnya rasa takut
mereka pada Meena. Padahal serangan kombinasi Kyra dan Kanya yang mengalahkan
mereka, tapi justru Meena yang paling membuat mereka merasa paling
terintimidasi.
“Kami tidak melakukan apa
pun dan tidak berniat melakukan apa pun pada kalian. Kalian hanya perlu
menjawab pertanyaan kami.”
“Dengar itu! Jawab saja
pertanyaan dari Kyra dan coba-coba melawan balik!”
Tekanan dari kedua gadis
itu begitu tidak biasa. Hingga mampu menghancurkan gengsi para Lizardman yang dikenal
tidak takut mati. Mereka menjatuhkan kepalanya mengikuti insting. Menjawab
segala pertanyaan Kyra dengan suara pelan. Kemudian mereka hanya diam di
tempat, tidak bergerak sama sekali hingga Kyra dan teman-temannya meninggalkan
sungai tersebut.
Tidak ada yang benar-benar
mengerti kenapa para Lizardman tiba-tiba kehilangan semangat tempur dan tunduk
kepada mereka. Kecuali Meena yang sadar akan pengaruh kekuatan Nakula dalam
tubuhnya.
“Kenapa?” Dia bergumam
kecil menatap telapak tangannya. Bertanya-tanya dalam hati apa yang membuat
kekuatan Naga dalam dirinya meningkat tanpa alasan yang jelas. Sudah lama Meena
dapat menggunakan kekuatan Nakula, tapi tidak pernah sampai sebesar ini dan
terasa begitu natural seakan kekuatan itu merupakan miliknya sendiri dan
bukannya kekuatan pinjaman.
“Kamu bilang apa Meena?”
tanya Kyra, mengira Meena tengah berbicara dengannya.
“Tidak kok. Salah dengar
kali.”
“Aneh, aku yakin
mendengarmu berbicara.”
“Salah dengar tuh! Cepat
jalan Kyra. Nanti reptil itu kembali lagi.”
Meena segera mengelak. Dia
berlari menabrak punggung Kyra dengan pelan. Lalu dia menarik tangan Kyra
sambil memaksa Kyra berjalan lebih cepat. Dia memutuskan untuk mengabaikan
pertanyaan dalam benaknya. Bersikap seperti tidak ada yang berubah karena tidak
ingin berpraduga atas apa yang tidak dia pahami.
__ADS_1