
Baru kali ini Kyra
menginjakkan kaki di dataran salju. Tempat itu tidaklah indah seperti dalam
bayangannya. Hanya ada warna putih di mana-mana. Pohon-pohon yang tumbuh
beranting hitam tanpa ada hiasan warna hijau sedikit pun. Beberapa tanaman
semak berwarna biru dengan buah kecil-kecil berwarna ungu gelap terlihat mencurigakan.
Kelinci yang dikenalnya sebagai makhluk kecil dan imut, terlihat berbahaya di
sini. Ukurannya besar dengan cakar tajam dan bergigi runcing.
Kyra menelan ludah. Baru
sampai di kaki gunung es saja dia sudah merasa ingin pulang. Kaki dan tangannya
membeku, seakan mati rasa kehilangan tenaga untuk bergerak.
Martin yang membawa beban
baju zirah ditambah dengan senjata hingga melebihi 100 kg itu, mulai tampak
luar biasa keren di mata Kyra. Meena dan Bara juga begitu bersemangat, beradu
mulut di depannya seakan hawa dingin tidak menyiksa mereka.
“Katakan padaku, kenapa
ada orang yang meminta kita membunuh Kera Salju.” Dibiarkan saja kenapa? Tempat
ini begitu terpencil. Selama tak ada yang datang, maka tak akan ada yang
dilukai makhluk-makhluk itu.
Badan Kyra mulai
menggigil, dia berjalan dengan susah-payah mencoba mengimbangi langkah Martin.
Kepalanya penuh akan rasa penasaran, mulai meragukan misi konyol yang mereka
terima.
“Permintaan datang dari
desa di bawah kaki gunung. Setiap tahun Kera Salju turun ke sana, menculik anak
perempuan mereka dan mengembalikannya setelah tiada. Lama kelamaan, penduduk
desa menaruh dendam. Itulah kenapa permintaan ini ada.” Martin menggaruk
kepalanya. Dia paham kalau memburu sebuah kawanan begitu saja terdengar seperti
pekerjaan tak masuk akal, tapi tak ada akibat tanpa sebab. Dendam itu ada
karena perbuatan para Kera. Bila penduduk desa menginginkan pembalasan, maka
mereka harus menerima konsekuensinya.
“Apa Kera Salju memakan
manusia?” Sekarang rasa ngeri telah merasuk ke dalam tubuh Kyra, melebihi rasa
dinginnya suhu di tempat itu.
Soli maju ke depan,
memberikan sebuah mantel kepada Kyra. “Mereka menculik anak perempuan itu untuk
dijadikan istri, bukan makanan. Pakailah, kau akan mati beku bila memaksakan
diri berjalan dengan pakaian tipis.” Pria itu juga memberikan rasa lega. Senang
rasanya mendengar lawan mereka bukan pemakan daging seperti lawan-lawan
sebelumnya.
“Tunggu dulu! Kalau
dijadikan istri, kenapa gadis-gadis dikembalikan tak bernyawa?”
“Karena manusia tidak
punya tubuh yang kuat,” ujar Bara. Sang Elf lahir di tempat dingin. Dia yang
paling tahu akan betapa sulitnya bertahan hidup melawan cuaca tak menentu di
tempat semacam ini.
Bara menunjuk pada semak
biru. “Lihatlah, itu adalah buah beri salju. Makanan utama Kera Salju. Buah itu
aman bagi mereka, tetapi merupakan racun bagi manusia. Memakannya setiap hari
selama setahun akan membunuh manusia secara perlahan-lahan. Ditambah cuaca yang
dingin membuat kekebalan tubuh mereka menurut. Itulah kenapa semua manusia yang
diculik dikembalikan dalam keadaan tidak bernyawa.” Di tempat ini sulit
menemukan makanan lain. Selain itu Kera Salju tidak pintar. Mereka tak mengerti,
tak peduli berapa keras gadis yang diculiknya menolak makanan beracun itu.
Mereka hanya ingin gadis itu memakan sesuatu dan bertahan hidup tanpa menyadari
bila niat baik mereka berujung pada kematian.
Kyra menaruh rasa kasihan.
Ketidakpahaman dan perbedaan membuat keadaan menjadi sulit. Dia mengerti luka
dari keluarga yang ditinggalkan, tetapi juga paham akan niat si Kera.
“Apa tak ada cara lain
menyelesaikan masalah ini?”
“Tidak ada. Itulah kenapa
kita ada di sini untuk memburu mereka.”
Bara begitu keras. Dia
harus mengajarkan pada Kyra bahwa rasa simpati tidak akan selalu menolong.
Hidup di Mystisia begitu sulit dan apa yang dilihat oleh Kyra hanya sebagian
kecil kepelikannya saja.
“Jangan biarkan tubuhmu
membeku, tak masalah menyalakan apimu sekarang,” ujar Bara, mengingatkan.
Kyra celingak-celinguk
melihat keadaan teman-temannya. Ia baru sadar, bahwa hanya dia satu-satunya
yang menggigil di sini.
“Kenapa kalian semua tahan
dengan cuaca dingin?”
“Latih kekuatanmu, lapisi
sihir di bagian kulit terluar. Itu bisa membuatmu lebih tahan pada dingin dan
panas.”
“Tapi Martin tak punya energi
sihir saja tak apa-apa.” Kyra tak mengerti, bahwa sebenarnya dengan melapisi
tubuhnya dengan api sama saja fungsinya dengan melapisi sihirnya di atas kulit.
Kyra berpikir jika dia menggunakan kekuatannya terus, maka dia akan kelelahan
saat pertarungan nanti.
“Baju zirahku dilapisi
sihir pelindung. Beberapa atribut punya fungsi tambahan. Lain kali pergilah ke
toko alat sihir, kau akan menemukan banyak benda bagus.” Setelah Martin berkata
__ADS_1
seperti itu, barulah Kyra menggunakan apinya. Tubuhnya menjadi hangat, tapi dia
bisa merasakan bila energi sihirnya terkuras sedikit demi sedikit.
Gadis api berlari ke
depan, menyusul Meena yang dari tadi berlarian sambil bermain seakan gunung ini
adalah taman bunga yang indah. “Meena, kau tak apa-apa memboros energimu
seperti itu?” Kyra pikir, jika dia merasakan hal yang sama, maka Meena pun
demikian.
“Nggak kok, kan kukontrol
dengan baik. Memangnya Bara tidak mengajarkanmu mengontrol tekanan energi yang
digunakan? Itu adalah dasar penggunaan sihir.” Mendengar perkataan Meena, Bara
memalingkan muka. Dia terlalu sibuk mengajarkan sihir serangan, sampai lupa hal
paling dasar.
“Aku diajarkan memadatkan
api dan menyerang dengan kekuatan besar. Katanya itu keren sekali! Seperti
jurus pemungkas!” Kepolosan dan kejujuran Kyra membuat Bara berkeringat dingin,
menerima tatapan tajam dari teman-temannya.
“Wow, hebat sekali ...
Tuan Bara memang luar biasa bodohnya.” Meena menyindir.
“Bilang apa kau cebol!
Coba ulangi!”
“Bodoh! Bodoh!”
Setelahnya pasti begitu
lagi. Ribut tak usai-usainya. Padahal Kyra tak masalah dengan cara mengajar
Bara. Dia berbalik, bertanya pada teman-teman yang lain. “Memangnya salah ya,
belajar jurus serangan?”
“Tidak salah, tapi tanpa
kemampuan mengontrol energi, kau akan mudah kehabisan energi sihir di pertarungan.
Kemarilah, akan kuajarkan padamu.” Kyra mendengarkan Soli, mengikuti ajarannya
dan hanya dalam sekali percobaan, dia berhasil menguasainya.
“Aku bisa! Rasanya tubuhku
jadi ringan! Rasa lelahku juga berkurang!” Kyra begitu senang, berlari ke depan
memberitahukan kepada Bara dan Meena.
“Kalau kau pintar, kenapa
susah sekali waktu kuajari.” Kenapa ya? Kyra juga tak tahu.
“Masih tanya kenapa? Sudah
jelas karena gurunya yang bodoh.” Meena menyela, bersedekap sambil menghina
Bara.
“Aku tak tanya padamu,
cebol!” Akhirnya mereka kejar-kejaran, melanjutkan perdebatan tadi.
“Aduh, mereka ini tak
henti-hentinya.” Bahkan Martin sudah menyerah untuk melerai. Hanya bisa
geleng-geleng kepala tertawa bersama dengan Kyra.
Baru saja mereka merasa
menarik mereka semua, memaksa bersembunyi di balik tumpukan salju.
“Ada Undead, jangan
berisik,” ujar Martin.
Wajah Bara dan Meena
berubah serius. Sedangkan Soli telah mengeluarkan senjatanya, tetapi ditahan
oleh Martin. Menyerang tergesa-gesa tanpa tahu jumlah lawan adalah suatu
kebodohan.
Kesan pertama Kyra melihat
Undead adalah rasa ngeri. Mereka tidak punya darah dan daging. Hanya tengkorak berlapis
baju zirah dengan bola mata berpendar hijau lumut. Sebuah bentuk kehidupan tak
masuk akal tanpa adanya inti kehidupan.
Bila mereka sampai bisa
masuk ke dalam perlindungan wilayah kerajaan, maka itu artinya di antara mayat
hidup itu terdapat setidaknya seorang dengan Rank S yang sanggup membuat lubang
di lapisan pelindung Nakula. Sebisa mungkin Martin ingin menghindari
pertarungan dengan mereka. Namun, Bara ingin menyerang.
“Kita harus membunuh
mereka,” ujar Bara.
“Jangan gegabah. Biarkan
saja. Melawan mereka hanya akan membuang-buang tenagamu.” Martin keberatan.
Mereka masih punya misi yang harus dikerjakan dan kedua gadis muda dalam
anggota mereka tidak cukup kuat untuk melawan bila Undead berperingkat tinggi
itu muncul.
“Tidak. Bara benar. Tujuan
mereka kemari hanya ada satu. Rumput Langit yang tumbuh di puncak gunung ini.
Kita tak boleh membiarkan mereka mendapatkannya.” Soli cemas, bila mereka
berhasil mendapatkan Rumput Langit, maka para mayat hidup itu akan membentuk
pasukan baru dan menyerang istana dengan kekuatan tempur lebih besar.
“Rumput Langit, apa itu?”
Martin tak tahu. Berbanding terbalik dengan reaksi Meena. Gadis mungil itu tahu
benar akan salah satu kegunaan Rumput Langit.
“Bahan utama pembuatan
Ramuan Kebangkitan. Benda yang dipakai untuk mengubah manusia menjadi Undead.”
Ramuan terkutuk itu adalah ramuan rahasia Raja Undead. Dia yang dikenal sebagai
monster abadi dengan obsesi ingin menguasai seluruh daratan Mystisia.
“Kalau begitu kita memang
harus menghentikannya!” Kyra telah memutuskan. Dia akan menghentikan mereka apa
pun caranya.
“Kita maju sekarang!” teriak
Bara.
Bara yang pertama menyerang,
__ADS_1
diikuti oleh Soli dan Kyra. Martin dan Meena baru saja akan menyusul, tapi
sekelompok Kera Salju muncul dari arah belakang.
“Ada seorang gadis,
tangkap dia!”
“Cih, kalahkan mereka,
Martin! Aku akan mendukungmu dari atas!”
“Serahkan padaku!”
Meena melepaskan sayapnya.
Terbang ke atas agar tidak menjadi beban Martin. Dia menggunakan beberapa sihir
penguat tubuh pada Martin, sambil mengawasi rekan-rekan di arah berlawanan.
Mayat-mayat hidup itu berdatangan
setelah mereka mulai menyerang, hingga membuat ketiga orang itu terpisah-pisah.
Meena mencoba sebisanya untuk membantu mereka semua.
Dia meningkatkan kecepatan
Soli dan Kyra. Untuk Bara dia memberikan penguat tubuh dan peningkat serangan.
Kemudian dia berbalik lagi, menyembuhkan tangan Martin yang terluka oleh gigitan
Kera.
“Tembak gadis kecil di
atas! Habisi pendukung mereka lebih dulu!” Perintah berasal dari kelompok
Undead. Sang Kapten dengan bentuk tengkorak beruang. Satu-satunya mayat hidup
yang terlihat bisa berbicara.
“Meena, terbang ke atas.
Lewati jarak serang anak panah mereka!” Bara segera memberi instruksi, tapi
Meena tidak mendengarkan. Karena bila dia lari terlalu jauh, dia juga tak akan
bisa memberikan bantuan kepada rekannya.
“Aku bisa mengelakinya!”
balas Meena.
Meena tetap terbang
rendah, mengelaki tiap anak panah yang ditembakkan padanya. Dia mengepakkan
sayapnya ke arah depan, menerbangkan kembali anak-anak panah itu ke pasukan
Undead.
“Kalau begitu, apa kau
bisa mengelaki ini?”
“Apa? Sejak kapan – ”
Sang Kapten tersinggung.
Dia menerjang Meena, memukul perut gadis mungil itu hingga kehilangan kesadaran.
Kemudian membawanya di atas pundak. “Kalian habis mereka semua!” Perintah
diberikan sebelum dia pergi, meninggalkan pasukannya untuk menahan sisa anggota
regu yang lain.
“Soli, selamatkan Meena!”
Soli segera mengejar, membuat mereka semakin terpencar-pencar.
Baik Bara maupun Kyra
telah kehilangan konsentrasi. Martin di belakang mereka terlihat kewalahan,
tapi mereka sendiri tak bisa meninggalkan lawan di depannya. Tengkorak-tengkorak
itu tidaklah kuat, tapi selalu bisa hidup kembali mau hancurkan seperti apa pun
juga.
“Mereka tak bisa terbakar,
apa yang harus kulakukan, Bara?” Kyra mulai merasa frustrasi. Tengkorak gosong di
hadapannya itu masih saja bisa bangkit berdiri, menyerangnya dengan laser yang
dilontarkan dari bola mata berpendar itu.
“Belah kepala mereka. Kita
lihat, apakah mereka masih bisa bangkit setelah kepalanya hancur!” Bara tak
yakin cara ini akan berhasil. Dia hanya tahu kalau menghancurkan kepala mereka
bisa memperlambat waktu musuh untuk menyatukan tulang-tulang mereka kembali.
“Baiklah.” Kyra mengumpulkan
api di kedua tangan, mengubah telapak tangannya menjadi ganggang pedang. Di
bagian ujung, dia padatkan api berubah menjadi ujung pedang yang runcing.
Setelah membentuk
senjatanya, Kyra menerjang lawan dengan agresif. Dia mengelaki sebuah serangan,
memutar tubuhnya memotong lawan dari arah kanan. Kemudian ia melompat ke atas saat
mereka datang lagi dari empat arah.
Kyra mendarat di atas
kepala sebuah tengkorak, menjadikannya pijakan sementara. Dia mengayunkan
pedang menyilang untuk memotong lawan dari arah kiri dan kanan.
Kaki Kyra ditangkap, tapi
dengan cepat Kyra memotong tangan itu. Melompat sekali lagi, mendarat pada
pijakan es. Dia berlari kembali ke arah sana, menebas siapa pun yang ditemukan
di depannya.
Gadis api itu berhenti sejenak
menarik napas. Dia melihat sekeliling, mencari keberadaan Bara dan Martin yang
telah menghilang. Terseret oleh sekelompok Undead dan Kera Salju.
“Bara! Martin! Kalian di
mana!” Kyra berteriak dengan panik. Dia tak tahu jalan, bingung harus bagaimana
melanjutkan misi ini sendirian.
“ARGH!” Kelengahan Kyra
dimanfaatkan oleh sekelompok tengkorak yang telah menyatukan tubuhnya kembali.
Laser mematikan itu menebus pinggang Kyra, meninggalkan luka berupa lubang
berdiameter satu sentimeter.
Kyra segera berbalik,
menebas tengkorak itu. Dia membakar lukanya, menutupnya untuk menghentikan
pendarahan. Rasanya sakit sekali, cukup untuk mengembalikan semangat juangnya.
Bukan hanya dia yang
kesulitan. Saat ini pastilah teman-temannya juga terluka di tempat lain. Kyra
harus cepat. Dia harus menemukan cara membunuh mereka untuk selamanya. Lalu
__ADS_1
pergi mencari anggota regu yang lain.