Phoenix Bride

Phoenix Bride
Episode 11


__ADS_3

Baru kali ini Kyra


menginjakkan kaki di dataran salju. Tempat itu tidaklah indah seperti dalam


bayangannya. Hanya ada warna putih di mana-mana. Pohon-pohon yang tumbuh


beranting hitam tanpa ada hiasan warna hijau sedikit pun. Beberapa tanaman


semak berwarna biru dengan buah kecil-kecil berwarna ungu gelap terlihat mencurigakan.


Kelinci yang dikenalnya sebagai makhluk kecil dan imut, terlihat berbahaya di


sini. Ukurannya besar dengan cakar tajam dan bergigi runcing.


Kyra menelan ludah. Baru


sampai di kaki gunung es saja dia sudah merasa ingin pulang. Kaki dan tangannya


membeku, seakan mati rasa kehilangan tenaga untuk bergerak.


Martin yang membawa beban


baju zirah ditambah dengan senjata hingga melebihi 100 kg itu, mulai tampak


luar biasa keren di mata Kyra. Meena dan Bara juga begitu bersemangat, beradu


mulut di depannya seakan hawa dingin tidak menyiksa mereka.


“Katakan padaku, kenapa


ada orang yang meminta kita membunuh Kera Salju.” Dibiarkan saja kenapa? Tempat


ini begitu terpencil. Selama tak ada yang datang, maka tak akan ada yang


dilukai makhluk-makhluk itu.


Badan Kyra mulai


menggigil, dia berjalan dengan susah-payah mencoba mengimbangi langkah Martin.


Kepalanya penuh akan rasa penasaran, mulai meragukan misi konyol yang mereka


terima.


“Permintaan datang dari


desa di bawah kaki gunung. Setiap tahun Kera Salju turun ke sana, menculik anak


perempuan mereka dan mengembalikannya setelah tiada. Lama kelamaan, penduduk


desa menaruh dendam. Itulah kenapa permintaan ini ada.” Martin menggaruk


kepalanya. Dia paham kalau memburu sebuah kawanan begitu saja terdengar seperti


pekerjaan tak masuk akal, tapi tak ada akibat tanpa sebab. Dendam itu ada


karena perbuatan para Kera. Bila penduduk desa menginginkan pembalasan, maka


mereka harus menerima konsekuensinya.


“Apa Kera Salju memakan


manusia?” Sekarang rasa ngeri telah merasuk ke dalam tubuh Kyra, melebihi rasa


dinginnya suhu di tempat itu.


Soli maju ke depan,


memberikan sebuah mantel kepada Kyra. “Mereka menculik anak perempuan itu untuk


dijadikan istri, bukan makanan. Pakailah, kau akan mati beku bila memaksakan


diri berjalan dengan pakaian tipis.” Pria itu juga memberikan rasa lega. Senang


rasanya mendengar lawan mereka bukan pemakan daging seperti lawan-lawan


sebelumnya.


“Tunggu dulu! Kalau


dijadikan istri, kenapa gadis-gadis dikembalikan tak bernyawa?”


“Karena manusia tidak


punya tubuh yang kuat,” ujar Bara. Sang Elf lahir di tempat dingin. Dia yang


paling tahu akan betapa sulitnya bertahan hidup melawan cuaca tak menentu di


tempat semacam ini.


Bara menunjuk pada semak


biru. “Lihatlah, itu adalah buah beri salju. Makanan utama Kera Salju. Buah itu


aman bagi mereka, tetapi merupakan racun bagi manusia. Memakannya setiap hari


selama setahun akan membunuh manusia secara perlahan-lahan. Ditambah cuaca yang


dingin membuat kekebalan tubuh mereka menurut. Itulah kenapa semua manusia yang


diculik dikembalikan dalam keadaan tidak bernyawa.” Di tempat ini sulit


menemukan makanan lain. Selain itu Kera Salju tidak pintar. Mereka tak mengerti,


tak peduli berapa keras gadis yang diculiknya menolak makanan beracun itu.


Mereka hanya ingin gadis itu memakan sesuatu dan bertahan hidup tanpa menyadari


bila niat baik mereka berujung pada kematian.


Kyra menaruh rasa kasihan.


Ketidakpahaman dan perbedaan membuat keadaan menjadi sulit. Dia mengerti luka


dari keluarga yang ditinggalkan, tetapi juga paham akan niat si Kera.


“Apa tak ada cara lain


menyelesaikan masalah ini?”


“Tidak ada. Itulah kenapa


kita ada di sini untuk memburu mereka.”


Bara begitu keras. Dia


harus mengajarkan pada Kyra bahwa rasa simpati tidak akan selalu menolong.


Hidup di Mystisia begitu sulit dan apa yang dilihat oleh Kyra hanya sebagian


kecil kepelikannya saja.


“Jangan biarkan tubuhmu


membeku, tak masalah menyalakan apimu sekarang,” ujar Bara, mengingatkan.


Kyra celingak-celinguk


melihat keadaan teman-temannya. Ia baru sadar, bahwa hanya dia satu-satunya


yang menggigil di sini.


“Kenapa kalian semua tahan


dengan cuaca dingin?”


“Latih kekuatanmu, lapisi


sihir di bagian kulit terluar. Itu bisa membuatmu lebih tahan pada dingin dan


panas.”


“Tapi Martin tak punya energi


sihir saja tak apa-apa.” Kyra tak mengerti, bahwa sebenarnya dengan melapisi


tubuhnya dengan api sama saja fungsinya dengan melapisi sihirnya di atas kulit.


Kyra berpikir jika dia menggunakan kekuatannya terus, maka dia akan kelelahan


saat pertarungan nanti.


“Baju zirahku dilapisi


sihir pelindung. Beberapa atribut punya fungsi tambahan. Lain kali pergilah ke


toko alat sihir, kau akan menemukan banyak benda bagus.” Setelah Martin berkata

__ADS_1


seperti itu, barulah Kyra menggunakan apinya. Tubuhnya menjadi hangat, tapi dia


bisa merasakan bila energi sihirnya terkuras sedikit demi sedikit.


Gadis api berlari ke


depan, menyusul Meena yang dari tadi berlarian sambil bermain seakan gunung ini


adalah taman bunga yang indah. “Meena, kau tak apa-apa memboros energimu


seperti itu?” Kyra pikir, jika dia merasakan hal yang sama, maka Meena pun


demikian.


“Nggak kok, kan kukontrol


dengan baik. Memangnya Bara tidak mengajarkanmu mengontrol tekanan energi yang


digunakan? Itu adalah dasar penggunaan sihir.” Mendengar perkataan Meena, Bara


memalingkan muka. Dia terlalu sibuk mengajarkan sihir serangan, sampai lupa hal


paling dasar.


“Aku diajarkan memadatkan


api dan menyerang dengan kekuatan besar. Katanya itu keren sekali! Seperti


jurus pemungkas!” Kepolosan dan kejujuran Kyra membuat Bara berkeringat dingin,


menerima tatapan tajam dari teman-temannya.


“Wow, hebat sekali ...


Tuan Bara memang luar biasa bodohnya.” Meena menyindir.


“Bilang apa kau cebol!


Coba ulangi!”


“Bodoh! Bodoh!”


Setelahnya pasti begitu


lagi. Ribut tak usai-usainya. Padahal Kyra tak masalah dengan cara mengajar


Bara. Dia berbalik, bertanya pada teman-teman yang lain. “Memangnya salah ya,


belajar jurus serangan?”


“Tidak salah, tapi tanpa


kemampuan mengontrol energi, kau akan mudah kehabisan energi sihir di pertarungan.


Kemarilah, akan kuajarkan padamu.” Kyra mendengarkan Soli, mengikuti ajarannya


dan hanya dalam sekali percobaan, dia berhasil menguasainya.


“Aku bisa! Rasanya tubuhku


jadi ringan! Rasa lelahku juga berkurang!” Kyra begitu senang, berlari ke depan


memberitahukan kepada Bara dan Meena.


“Kalau kau pintar, kenapa


susah sekali waktu kuajari.” Kenapa ya? Kyra juga tak tahu.


“Masih tanya kenapa? Sudah


jelas karena gurunya yang bodoh.” Meena menyela, bersedekap sambil menghina


Bara.


“Aku tak tanya padamu,


cebol!” Akhirnya mereka kejar-kejaran, melanjutkan perdebatan tadi.


“Aduh, mereka ini tak


henti-hentinya.” Bahkan Martin sudah menyerah untuk melerai. Hanya bisa


geleng-geleng kepala tertawa bersama dengan Kyra.


Baru saja mereka merasa


menarik mereka semua, memaksa bersembunyi di balik tumpukan salju.


“Ada Undead, jangan


berisik,” ujar Martin.


Wajah Bara dan Meena


berubah serius. Sedangkan Soli telah mengeluarkan senjatanya, tetapi ditahan


oleh Martin. Menyerang tergesa-gesa tanpa tahu jumlah lawan adalah suatu


kebodohan.


Kesan pertama Kyra melihat


Undead adalah rasa ngeri. Mereka tidak punya darah dan daging. Hanya tengkorak berlapis


baju zirah dengan bola mata berpendar hijau lumut. Sebuah bentuk kehidupan tak


masuk akal tanpa adanya inti kehidupan.


Bila mereka sampai bisa


masuk ke dalam perlindungan wilayah kerajaan, maka itu artinya di antara mayat


hidup itu terdapat setidaknya seorang dengan Rank S yang sanggup membuat lubang


di lapisan pelindung Nakula. Sebisa mungkin Martin ingin menghindari


pertarungan dengan mereka. Namun, Bara ingin menyerang.


“Kita harus membunuh


mereka,” ujar Bara.


“Jangan gegabah. Biarkan


saja. Melawan mereka hanya akan membuang-buang tenagamu.” Martin keberatan.


Mereka masih punya misi yang harus dikerjakan dan kedua gadis muda dalam


anggota mereka tidak cukup kuat untuk melawan bila Undead berperingkat tinggi


itu muncul.


“Tidak. Bara benar. Tujuan


mereka kemari hanya ada satu. Rumput Langit yang tumbuh di puncak gunung ini.


Kita tak boleh membiarkan mereka mendapatkannya.” Soli cemas, bila mereka


berhasil mendapatkan Rumput Langit, maka para mayat hidup itu akan membentuk


pasukan baru dan menyerang istana dengan kekuatan tempur lebih besar.


“Rumput Langit, apa itu?”


Martin tak tahu. Berbanding terbalik dengan reaksi Meena. Gadis mungil itu tahu


benar akan salah satu kegunaan Rumput Langit.


“Bahan utama pembuatan


Ramuan Kebangkitan. Benda yang dipakai untuk mengubah manusia menjadi Undead.”


Ramuan terkutuk itu adalah ramuan rahasia Raja Undead. Dia yang dikenal sebagai


monster abadi dengan obsesi ingin menguasai seluruh daratan Mystisia.


“Kalau begitu kita memang


harus menghentikannya!” Kyra telah memutuskan. Dia akan menghentikan mereka apa


pun caranya.


“Kita maju sekarang!” teriak


Bara.


Bara yang pertama menyerang,

__ADS_1


diikuti oleh Soli dan Kyra. Martin dan Meena baru saja akan menyusul, tapi


sekelompok Kera Salju muncul dari arah belakang.


“Ada seorang gadis,


tangkap dia!”


“Cih, kalahkan mereka,


Martin! Aku akan mendukungmu dari atas!”


“Serahkan padaku!”


Meena melepaskan sayapnya.


Terbang ke atas agar tidak menjadi beban Martin. Dia menggunakan beberapa sihir


penguat tubuh pada Martin, sambil mengawasi rekan-rekan di arah berlawanan.


Mayat-mayat hidup itu berdatangan


setelah mereka mulai menyerang, hingga membuat ketiga orang itu terpisah-pisah.


Meena mencoba sebisanya untuk membantu mereka semua.


Dia meningkatkan kecepatan


Soli dan Kyra. Untuk Bara dia memberikan penguat tubuh dan peningkat serangan.


Kemudian dia berbalik lagi, menyembuhkan tangan Martin yang terluka oleh gigitan


Kera.


“Tembak gadis kecil di


atas! Habisi pendukung mereka lebih dulu!” Perintah berasal dari kelompok


Undead. Sang Kapten dengan bentuk tengkorak beruang. Satu-satunya mayat hidup


yang terlihat bisa berbicara.


“Meena, terbang ke atas.


Lewati jarak serang anak panah mereka!” Bara segera memberi instruksi, tapi


Meena tidak mendengarkan. Karena bila dia lari terlalu jauh, dia juga tak akan


bisa memberikan bantuan kepada rekannya.


“Aku bisa mengelakinya!”


balas Meena.


Meena tetap terbang


rendah, mengelaki tiap anak panah yang ditembakkan padanya. Dia mengepakkan


sayapnya ke arah depan, menerbangkan kembali anak-anak panah itu ke pasukan


Undead.


“Kalau begitu, apa kau


bisa mengelaki ini?”


“Apa? Sejak kapan – ”


Sang Kapten tersinggung.


Dia menerjang Meena, memukul perut gadis mungil itu hingga kehilangan kesadaran.


Kemudian membawanya di atas pundak. “Kalian habis mereka semua!” Perintah


diberikan sebelum dia pergi, meninggalkan pasukannya untuk menahan sisa anggota


regu yang lain.


“Soli, selamatkan Meena!”


Soli segera mengejar, membuat mereka semakin terpencar-pencar.


Baik Bara maupun Kyra


telah kehilangan konsentrasi. Martin di belakang mereka terlihat kewalahan,


tapi mereka sendiri tak bisa meninggalkan lawan di depannya. Tengkorak-tengkorak


itu tidaklah kuat, tapi selalu bisa hidup kembali mau hancurkan seperti apa pun


juga.


“Mereka tak bisa terbakar,


apa yang harus kulakukan, Bara?” Kyra mulai merasa frustrasi. Tengkorak gosong di


hadapannya itu masih saja bisa bangkit berdiri, menyerangnya dengan laser yang


dilontarkan dari bola mata berpendar itu.


“Belah kepala mereka. Kita


lihat, apakah mereka masih bisa bangkit setelah kepalanya hancur!” Bara tak


yakin cara ini akan berhasil. Dia hanya tahu kalau menghancurkan kepala mereka


bisa memperlambat waktu musuh untuk menyatukan tulang-tulang mereka kembali.


“Baiklah.” Kyra mengumpulkan


api di kedua tangan, mengubah telapak tangannya menjadi ganggang pedang. Di


bagian ujung, dia padatkan api berubah menjadi ujung pedang yang runcing.


Setelah membentuk


senjatanya, Kyra menerjang lawan dengan agresif. Dia mengelaki sebuah serangan,


memutar tubuhnya memotong lawan dari arah kanan. Kemudian ia melompat ke atas saat


mereka datang lagi dari empat arah.


Kyra mendarat di atas


kepala sebuah tengkorak, menjadikannya pijakan sementara. Dia mengayunkan


pedang menyilang untuk memotong lawan dari arah kiri dan kanan.


Kaki Kyra ditangkap, tapi


dengan cepat Kyra memotong tangan itu. Melompat sekali lagi, mendarat pada


pijakan es. Dia berlari kembali ke arah sana, menebas siapa pun yang ditemukan


di depannya.


Gadis api itu berhenti sejenak


menarik napas. Dia melihat sekeliling, mencari keberadaan Bara dan Martin yang


telah menghilang. Terseret oleh sekelompok Undead dan Kera Salju.


“Bara! Martin! Kalian di


mana!” Kyra berteriak dengan panik. Dia tak tahu jalan, bingung harus bagaimana


melanjutkan misi ini sendirian.


“ARGH!” Kelengahan Kyra


dimanfaatkan oleh sekelompok tengkorak yang telah menyatukan tubuhnya kembali.


Laser mematikan itu menebus pinggang Kyra, meninggalkan luka berupa lubang


berdiameter satu sentimeter.


Kyra segera berbalik,


menebas tengkorak itu. Dia membakar lukanya, menutupnya untuk menghentikan


pendarahan. Rasanya sakit sekali, cukup untuk mengembalikan semangat juangnya.


Bukan hanya dia yang


kesulitan. Saat ini pastilah teman-temannya juga terluka di tempat lain. Kyra


harus cepat. Dia harus menemukan cara membunuh mereka untuk selamanya. Lalu

__ADS_1


pergi mencari anggota regu yang lain.


__ADS_2