
Begitu Bastian jatuh ke
tanah, Bara segera meluncurkan serangan susulan. Ia menyiram Bastian dengan
semburan air yang kemudian berubah menjadi es untuk mengekang tubuh Bastian
pada tanah. Setelah itu Bara berlari padanya, menggunakan sebuah tombak dari es
untuk menusuk jantung sang Elf.
“Akhirnya selesai,” ucap
Bara setelahnya.
“Ya, akhirnya mati juga,” sambung
Meena.
Meena pun turun ke
permukaan tanah, menyimpan kembali sayapnya saat merasa tak ada lagi ancaman.
Mereka berdua berpikir Bastian telah tiada. Makanya mereka menjadi lengah,
berani membelakangi Bastian dan memusatkan perhatiannya pada altar jahat
setengah rusak itu.
Bara dan Meena tidak
melihat sulur merah yang terbentuk di antara darah Bastian. Sulur aneh yang
bergerak dengan cepat memperbaiki jantung yang rusak dan menutup luka yang
terbuka lebar. Bastian pun segera bangkit, bergerak perlahan tanpa suara
berniat mencengkeram leher Meena yang berada paling dekat dengannya.
“Kaulah yang akan mati
kali ini,” ujar Bastian dengan nada mengancam.
“Meena, belakangmu!”
“Terlambat.”
Bara tersentak, menyadari
aura mirip Undead yang Bastian keluarkan. Ia segera berbalik, mengulurkan
tangannya pada tubuh Meena dan menarik gadis mungil itu ke dalam dekapannya. Namun,
tangan Bastian telah berhasil mendapatkan leher Meena. Ia mencengkeramnya
dengan kuat hingga mengeluarkan suara seperti tulang retak.
Sang Elf yang telah
menjadi setengah mayat hidup itu menyeringai jahat, merasa senang melihat
tatapan horor bercampur marah dari Bara yang tidak dapat berbuat apa pun untuk
menyingkirkan tangannya dari leher Meena. Seberapa kuat Bara berusaha menarik
lepas cengkeraman tangannya, semakin keras juga ia mencengkeram leher Meena.
“Dia akan mati dan itu
salahmu, Bara,” sambung Bastian.
Di saat itulah, Kyra
datang dari arah belakang Bastian. Ia melemparkan api kejutan pada punggung
Bastian. Api itu membakar dengan cepat, menyebar rasa sakit tak tertahankan
pada seluruh tubuh Bastian. Ia pun kehilangan tenaga untuk menyerang dan
berakhir melepaskan cengkeraman tangannya pada Meena.
“ARGHHH! API APA INI!!!”
jerit Bastian, seraya berguling ke salju mencoba memadamkan api keabadian yang
tak dapat padam.
“Api yang akan membakar
segala niat burukmu,” balas Kyra.
Meena pun terduduk,
terbatuk mencoba mengisi udara ke paru-parunya. Ia begitu tenang karena telah
melihat kedatangan Kyra saat Bastian mencekiknya tadi. Ia percaya Kyra akan
menolongnya dan Kyra telah mengabulkan harapan Meena. Dan akhirnya pertempuran
ini benar-benar berakhir sesuai harapan mereka.
“Kamu tak apa-apa, Meena?”
“Tidak apa, aku tahu kamu
akan datang menolongku.”
Meena tersenyum pada Kyra,
bersikap enteng untuk mencairkan rasa tegang dari sikap Bara. Dia mungkin
terlihat seperti gadis kecil, tapi ada kalanya Meena menempatkan diri sebagai
kakak untuk rekan-rekannya.
“Jangan nangis ya, Elf
tua.”
Meena sengaja mengolok
sang Elf untuk menghapus rasa bersalah dan takut yang Bara rasakan beberapa
saat yang lalu ketika melihatnya hampir mati. Air mata yang nyaris menetes dari
ujung mata Bara pun mengering, mengubah ekspresi wajah kalutnya menjadi kesal.
Kemudian, Bara mencubit
pipi Meena keras-keras. “Bilang padaku kalau kau sadar Bastian belum mati dan
Kyra ada di dekat kita!” Dia melampiaskan kekesalannya, mengikuti niat Meena
untuk menjadikan hal buruk yang baru saja mereka alami menjadi suatu yang
remeh.
“Gimana bilangnya! Aku
juga baru melihat Kyra setelah dicekik! Kaupikir aku punya sensor mayat hidup
apa!”
“Gunakan otakmu,” balas
Bara, tak mau tahu.
“Sudah-sudah ... jangan
bertengkar.”
“Siapa yang bertengkar,
dia yang salah!”
Kyra tak berhenti mencoba
__ADS_1
melerai mereka saat melihat Bara dan Meena tak mau mendengarkannya. Ia
menengadah, menatap langit yang mulai menjadi cerah saat altar di depannya perlahan
runtuh bersama dengan kematian Bastian. Hujan salju pun berhenti setelah semua
pasir di atas tanah tertutup. Kemudian, Roh Salju terbangun. Makhluk kecil itu
melayang di atas udara, memancarkan sinar menyilaukan mata yang membangkitkan
kembali para Elf Salju yang sudah lama tertidur dalam tanah. Sisa Undead yang
tertinggal di sana, dibantai dengan sekali serang. Mengubah sebuah pertarungan
yang terlihat takkan berakhir, berakhir dengan kesunyian tak terucap.
Begitu permukaan tanah
mulai bergerak, Meena dan Bara berhenti bertengkar. Mereka bangkit berdiri,
menyaksikan fenomena luar biasa itu dengan takjubnya. Di sisi lain gunung,
teman-teman Kyra pun berdiam diri, menjadi saksi atas bangkitnya kembali ras
yang sempat dianggap telah mendekati kepunahan.
“Luar biasa,” gumam Kyra.
Ia tak pernah menyangka,
bila seluruh bangsa Elf benar-benar bisa dihidupkan kembali hanya dengan
kekuatan satu makhluk hidup. Kalau begini, upaya mereka membawa Roh Salju
kembali, terbayarkan dengan indah. Bahkan istana es yang dikira telah hancur
pun, dapat terbentuk kembali seakan tak pernah runtuh. Dan kerajaan yang telah
hilang, berdiri kokoh di hadapan mereka bagai ilusi yang menjadi nyata.
Keteguhan hati Bara
melembut seketika. Rasa lega dan harunya membuncah, membuat air matanya
benar-benar jatuh tak tertahankan. Ia tak menyangka akan ada masa di mana
keluarganya kembali dari kematian. Dan masa itu datang dari kerja keras dan
upayanya.
“Kyra, maafkan aku. Kurasa
aku tak dapat menemani perjalananmu lagi.”
Setelah melihat semua ini,
Bara tak yakin ia dapat meninggalkan tanah kelahirannya lagi. Ia ingin tinggal
dan berjuang melindungi tempat itu bersama dengan bangsanya. Bahkan jika itu
berarti sebuah perpisahan dengan rekan-rekannya.
Meena yang tadinya ingin
menahan Bara mengurungkan niatnya ketika melihat senyuman hangat di wajah Kyra.
Ia menunduk, menguatkan kepalan tangannya menahan teriakan agar tak keluar dari
mulutnya.
“Aku mengerti, Bara. Kita
semua punya sesuatu yang lebih penting dari segalanya.” Itulah jawaban pasti
Kyra pada Bara.
“Terima kasih, Kyra. Ayo
pergi ke istana. Aku yakin teman-teman kita juga telah berlari ke sana!”
mengubah raut wajahnya menjadi senyuman penuh kegirangan. Rasa sedih selama
ratusan tahun telah hilang, tergantikan semangat baru yang memulihkan rasa
luka. Harapan baru tumbuh bersama dengan semangatnya, menular dengan hangat
pada Kyra. Gadis api itu ikut tersenyum. Hatinya menguat setelah menerima
pelajaran hidup dari Bara, membuatnya percaya bila ia bisa melakukan apa pun
selama ia tidak menyerah.
“Oke, ayo Meena.”
Kyra mengikuti Bara dari
belakang. Ia merangkul bahu Meena untuk menghibur. Dia mengerti betapa tak
relanya Meena berpisah dengan Bara. Bila mengingat betapa lamanya mereka saling
kenal, tapi ia juga tahu kalau Meena bukan gadis egois yang akan menahan Bara
setelah temannya itu memilih jalan yang berbeda dengan pilihan mereka.
***
Tak lama setelah Kyra,
Bara dan Meena sampai di istana. Soli, Kanya dan Rhea pun menyusul. Mereka
disambut oleh bangsa Elf yang berkumpul di sana menunggu kedatangan penyelamat
mereka.
“Kami telah menunggu
kepulanganmu, Yang Mulia. Dan tamu-tamu terhormat yang datang bersama dengan
raja kami.” Pernyataan pertama yang dituturkan oleh perwakilan bangsa Elf
tersebut menunjukkan dengan jelas niat mereka untuk menjadikan Bara menjadi
raja. Lagi pula, memang itulah posisi yang akan Bara tempati cepat atau lambat.
“Kalian tahu apa yang
terjadi selama ini?”
“Jiwa kami selalu hidup di
sini, mengawasi semua yang terjadi dalam diam.”
Bahkan Bara tak perlu
menjelaskan apa-apa. Ternyata tak ada rahasia yang bisa disembunyikan dari
penglihatan alam. Jiwa yang telah bangkit, membawa semua ingatan dan pemahaman
yang ada. Mereka otomatis mengerti keadaan dunia saat ini dan telah siap
menemani Bara memimpin mereka untuk bertahan atau melawan dari serangan bangsa
Undead yang akan datang nantinya.
Teman-teman Bara jadi tak
kebagian ruang untuk berbicara. Mereka hanya bisa mengikuti keadaan, membiarkan
dirinya diperlakukan sebagai tamu di rumah Bara. Sementara Bara dibawa ke
tempat lain, disibukkan dengan urusan kerajaan yang tidak mereka pahami.
Setelah semua formalitas
itu berakhir, Soli dan ketiga gadis pengantin binatang mistik tersebut
__ADS_1
berkumpul dalam satu ruangan. Sementara Rhea yang mereka yakini tak akan
mengikuti mereka lagi, berada di ruangan lain sendirian. Mereka harus segera
menentukan tujuan berikutnya setelah meninggalkan gunung bersalju tersebut.
“Jadi Bara benar-benar
akan tinggal?”
Soli terlihat tak
bersemangat. Bara adalah pemimpin mereka, orang yang paling kuat dalam kelompok
dan paling dapat ia andalkan dalam menghadapi keegoisan gadis-gadis muda yang
ia jaga. Namun, ia tak dapat berbuat apa pun. Keberadaan Bara di gunung ini
juga merupakan hal penting jika ia mempertimbangkan tujuan masa panjang mereka.
“Apa kalian baik-baik saja
melanjutkan perjalanan tanpa Bara?” Sekali lagi, Soli bertanya. Ia melirik pada
Meena, seakan pertanyaan itu hanya untuk Meena dan bukan untuk kedua gadis
lainnya.
Meena yang dari tadi diam,
terlihat makin kesal. Ia melotot sinis pada Soli. Sadar bila penjaga
menyebalkan itu sengaja mengujinya.
“Sejak awal perjalanan ini
untuk mencari pasangan Kyra. Ada Bara atau tidak, bukan masalah!” Akhirnya
Meena buka suara, menjawab pertanyaan Soli seperti ingin mencari ribut.
Kanya yang cuek hanya
menggelengkan kepalanya, mengulas sebuah senyuman simpul. Tanda bahwa ia telah
pasrah pada keadaan. Lagian sejak awal tujuannya adalah untuk berlatih dan
mengawasi perkembangan musuh, bukannya bermain-main dengan roman persahabatan
antara anak-anak manusia itu.
“Bara sudah memutuskan dan
aku ingin menghargai pilihannya,” sambung Kyra. Hanya dia yang menjawab Soli
dengan serius, memberikan jawaban jujur dan tulus berharap yang terbaik untuk
mereka semua.
Soli jadi merasa kekanakan
menguji mereka setelah melihat reaksi ketiga gadis itu. Ia selalu berpikir
mental mereka seperti anak-anak dan tak mengerti betapa sulitnya keadaan mereka
saat ini. Nyatanya, pandangan matanya yang salah. Meena tak seegois yang ia
kira. Kyra tidak senaif yang terlihat dan Kanya jauh lebih dewasa dari
penampilannya.
“Kalian benar. Aku yang
salah.” Tak seharusnya Soli bertanya sejak awal. Dia hanya perlu mengikuti
keputusan mereka dan menjaga Meena dalam diam.
“Kalau kalian sudah
selesai berbicara, ayo putuskan tujuan berikutnya.” Baru sekarang Kanya mau
berbicara. Tak tanggung-tanggung, ia bahkan telah mengeluarkan petanya. Seakan
menuntut mereka untuk segera bergerak alih-alih memanfaatkan kesempatan untuk
beristirahat sejenak di rumah Bara.
Peta yang Kanya keluarkan
merupakan peta utuh seluruh benua. Denah lengkap mencakup tiga kerajaan. Kyra
yang melihat peta itu, terdiam beberapa saat. Api biru yang baru saja ia
dapatkan, terasa panas dalam tubuhnya, seakan tengah memberi petunjuk dan
dengan misteriusnya menggerakkan jari Kyra agar menunjuk pada sebuah lokasi.
“Tempat apa ini? Apa
sebaiknya kita ke sana saja?” tanya Kyra, kemudian.
Meena dan Soli menoleh,
menatap Kanya menunggu jawaban dari Roh Air itu. Karena setelah Bara keluar
dari tim pencarian, hanya Kanya satu-satunya orang yang pernah pergi dan
melihat langsung seperti apa seluruh daratan Mystisia.
Kanya menghela napas
berat. Baru kali ini mereka ingat bila ia sudah hidup ratusan tahun dan dapat
diandalkan. Akan tetapi, Kanya tetap tidak merasa senang. Masalahnya, tempat
yang Kyra tunjuk adalah tempat yang paling tidak ingin ia datangi saat ini.
“Sebaiknya kita tidak ke
sana. Manusia tidak dapat hidup di sana.”
“Kenapa?”
Bukan Kyra yang bertanya,
melainkan rasa penasaran Meena yang membuat gadis mungil itu tak bisa menahan
diri. Matanya yang besar terus menatap Kanya, seperti sebuah tusukan jarum
mengganggu yang tidak dapat disingkirkan. Kanya sungguh tak ingin menjawab
pertanyaan Meena, tapi dia juga tak tahu bagaimana caranya meyakinkan mereka
untuk tidak ke sana tanpa memberikan alasan yang jelas.
“Manusia tidak dapat hidup
di sana.” Akhirnya, Kanya hanya mengulangi perkataannya tadi.
“Kenapa manusia tidak
dapat hidup di sana? Kalau kita lihat dari peta, harusnya dulu tempat ini
merupakan sebuah kota.” Kali ini bukan hanya Meena, Kyra ikut menjadi
penasaran. Ia juga menatap pada Kanya, mempertegas pertanyaan Meena agar Kanya
tidak dapat mengelak.
Memang betul dulu tempat
itu merupakan sebuah kota. Lebih tepatnya merupakan kota perbatasan terbesar di
seluruh daratan. Tempat yang dulunya merupakan pusat perdagangan antara Aurora
Sea dan Albus Tiger. Akan tetapi, sekarang kota itu sudah musnah. Berubah
__ADS_1
menjadi tanah tercemar setelah melewati banyaknya perang brutal di masa lalu.