Phoenix Bride

Phoenix Bride
Episode 47


__ADS_3

Begitu Bastian jatuh ke


tanah, Bara segera meluncurkan serangan susulan. Ia menyiram Bastian dengan


semburan air yang kemudian berubah menjadi es untuk mengekang tubuh Bastian


pada tanah. Setelah itu Bara berlari padanya, menggunakan sebuah tombak dari es


untuk menusuk jantung sang Elf.


“Akhirnya selesai,” ucap


Bara setelahnya.


“Ya, akhirnya mati juga,” sambung


Meena.


Meena pun turun ke


permukaan tanah, menyimpan kembali sayapnya saat merasa tak ada lagi ancaman.


Mereka berdua berpikir Bastian telah tiada. Makanya mereka menjadi lengah,


berani membelakangi Bastian dan memusatkan perhatiannya pada altar jahat


setengah rusak itu.


Bara dan Meena tidak


melihat sulur merah yang terbentuk di antara darah Bastian. Sulur aneh yang


bergerak dengan cepat memperbaiki jantung yang rusak dan menutup luka yang


terbuka lebar. Bastian pun segera bangkit, bergerak perlahan tanpa suara


berniat mencengkeram leher Meena yang berada paling dekat dengannya.


“Kaulah yang akan mati


kali ini,” ujar Bastian dengan nada mengancam.


“Meena, belakangmu!”


“Terlambat.”


Bara tersentak, menyadari


aura mirip Undead yang Bastian keluarkan. Ia segera berbalik, mengulurkan


tangannya pada tubuh Meena dan menarik gadis mungil itu ke dalam dekapannya. Namun,


tangan Bastian telah berhasil mendapatkan leher Meena. Ia mencengkeramnya


dengan kuat hingga mengeluarkan suara seperti tulang retak.


Sang Elf yang telah


menjadi setengah mayat hidup itu menyeringai jahat, merasa senang melihat


tatapan horor bercampur marah dari Bara yang tidak dapat berbuat apa pun untuk


menyingkirkan tangannya dari leher Meena. Seberapa kuat Bara berusaha menarik


lepas cengkeraman tangannya, semakin keras juga ia mencengkeram leher Meena.


“Dia akan mati dan itu


salahmu, Bara,” sambung Bastian.


Di saat itulah, Kyra


datang dari arah belakang Bastian. Ia melemparkan api kejutan pada punggung


Bastian. Api itu membakar dengan cepat, menyebar rasa sakit tak tertahankan


pada seluruh tubuh Bastian. Ia pun kehilangan tenaga untuk menyerang dan


berakhir melepaskan cengkeraman tangannya pada Meena.


“ARGHHH! API APA INI!!!”


jerit Bastian, seraya berguling ke salju mencoba memadamkan api keabadian yang


tak dapat padam.


“Api yang akan membakar


segala niat burukmu,” balas Kyra.


Meena pun terduduk,


terbatuk mencoba mengisi udara ke paru-parunya. Ia begitu tenang karena telah


melihat kedatangan Kyra saat Bastian mencekiknya tadi. Ia percaya Kyra akan


menolongnya dan Kyra telah mengabulkan harapan Meena. Dan akhirnya pertempuran


ini benar-benar berakhir sesuai harapan mereka.


“Kamu tak apa-apa, Meena?”


“Tidak apa, aku tahu kamu


akan datang menolongku.”


Meena tersenyum pada Kyra,


bersikap enteng untuk mencairkan rasa tegang dari sikap Bara. Dia mungkin


terlihat seperti gadis kecil, tapi ada kalanya Meena menempatkan diri sebagai


kakak untuk rekan-rekannya.


“Jangan nangis ya, Elf


tua.”


Meena sengaja mengolok


sang Elf untuk menghapus rasa bersalah dan takut yang Bara rasakan beberapa


saat yang lalu ketika melihatnya hampir mati. Air mata yang nyaris menetes dari


ujung mata Bara pun mengering, mengubah ekspresi wajah kalutnya menjadi kesal.


Kemudian, Bara mencubit


pipi Meena keras-keras. “Bilang padaku kalau kau sadar Bastian belum mati dan


Kyra ada di dekat kita!” Dia melampiaskan kekesalannya, mengikuti niat Meena


untuk menjadikan hal buruk yang baru saja mereka alami menjadi suatu yang


remeh.


“Gimana bilangnya! Aku


juga baru melihat Kyra setelah dicekik! Kaupikir aku punya sensor mayat hidup


apa!”


“Gunakan otakmu,” balas


Bara, tak mau tahu.


“Sudah-sudah ... jangan


bertengkar.”


“Siapa yang bertengkar,


dia yang salah!”


Kyra tak berhenti mencoba

__ADS_1


melerai mereka saat melihat Bara dan Meena tak mau mendengarkannya. Ia


menengadah, menatap langit yang mulai menjadi cerah saat altar di depannya perlahan


runtuh bersama dengan kematian Bastian. Hujan salju pun berhenti setelah semua


pasir di atas tanah tertutup. Kemudian, Roh Salju terbangun. Makhluk kecil itu


melayang di atas udara, memancarkan sinar menyilaukan mata yang membangkitkan


kembali para Elf Salju yang sudah lama tertidur dalam tanah. Sisa Undead yang


tertinggal di sana, dibantai dengan sekali serang. Mengubah sebuah pertarungan


yang terlihat takkan berakhir, berakhir dengan kesunyian tak terucap.


Begitu permukaan tanah


mulai bergerak, Meena dan Bara berhenti bertengkar. Mereka bangkit berdiri,


menyaksikan fenomena luar biasa itu dengan takjubnya. Di sisi lain gunung,


teman-teman Kyra pun berdiam diri, menjadi saksi atas bangkitnya kembali ras


yang sempat dianggap telah mendekati kepunahan.


“Luar biasa,” gumam Kyra.


Ia tak pernah menyangka,


bila seluruh bangsa Elf benar-benar bisa dihidupkan kembali hanya dengan


kekuatan satu makhluk hidup. Kalau begini, upaya mereka membawa Roh Salju


kembali, terbayarkan dengan indah. Bahkan istana es yang dikira telah hancur


pun, dapat terbentuk kembali seakan tak pernah runtuh. Dan kerajaan yang telah


hilang, berdiri kokoh di hadapan mereka bagai ilusi yang menjadi nyata.


Keteguhan hati Bara


melembut seketika. Rasa lega dan harunya membuncah, membuat air matanya


benar-benar jatuh tak tertahankan. Ia tak menyangka akan ada masa di mana


keluarganya kembali dari kematian. Dan masa itu datang dari kerja keras dan


upayanya.


“Kyra, maafkan aku. Kurasa


aku tak dapat menemani perjalananmu lagi.”


Setelah melihat semua ini,


Bara tak yakin ia dapat meninggalkan tanah kelahirannya lagi. Ia ingin tinggal


dan berjuang melindungi tempat itu bersama dengan bangsanya. Bahkan jika itu


berarti sebuah perpisahan dengan rekan-rekannya.


Meena yang tadinya ingin


menahan Bara mengurungkan niatnya ketika melihat senyuman hangat di wajah Kyra.


Ia menunduk, menguatkan kepalan tangannya menahan teriakan agar tak keluar dari


mulutnya.


“Aku mengerti, Bara. Kita


semua punya sesuatu yang lebih penting dari segalanya.” Itulah jawaban pasti


Kyra pada Bara.


“Terima kasih, Kyra. Ayo


pergi ke istana. Aku yakin teman-teman kita juga telah berlari ke sana!”


mengubah raut wajahnya menjadi senyuman penuh kegirangan. Rasa sedih selama


ratusan tahun telah hilang, tergantikan semangat baru yang memulihkan rasa


luka. Harapan baru tumbuh bersama dengan semangatnya, menular dengan hangat


pada Kyra. Gadis api itu ikut tersenyum. Hatinya menguat setelah menerima


pelajaran hidup dari Bara, membuatnya percaya bila ia bisa melakukan apa pun


selama ia tidak menyerah.


“Oke, ayo Meena.”


Kyra mengikuti Bara dari


belakang. Ia merangkul bahu Meena untuk menghibur. Dia mengerti betapa tak


relanya Meena berpisah dengan Bara. Bila mengingat betapa lamanya mereka saling


kenal, tapi ia juga tahu kalau Meena bukan gadis egois yang akan menahan Bara


setelah temannya itu memilih jalan yang berbeda dengan pilihan mereka.


***


Tak lama setelah Kyra,


Bara dan Meena sampai di istana. Soli, Kanya dan Rhea pun menyusul. Mereka


disambut oleh bangsa Elf yang berkumpul di sana menunggu kedatangan penyelamat


mereka.


“Kami telah menunggu


kepulanganmu, Yang Mulia. Dan tamu-tamu terhormat yang datang bersama dengan


raja kami.” Pernyataan pertama yang dituturkan oleh perwakilan bangsa Elf


tersebut menunjukkan dengan jelas niat mereka untuk menjadikan Bara menjadi


raja. Lagi pula, memang itulah posisi yang akan Bara tempati cepat atau lambat.


“Kalian tahu apa yang


terjadi selama ini?”


“Jiwa kami selalu hidup di


sini, mengawasi semua yang terjadi dalam diam.”


Bahkan Bara tak perlu


menjelaskan apa-apa. Ternyata tak ada rahasia yang bisa disembunyikan dari


penglihatan alam. Jiwa yang telah bangkit, membawa semua ingatan dan pemahaman


yang ada. Mereka otomatis mengerti keadaan dunia saat ini dan telah siap


menemani Bara memimpin mereka untuk bertahan atau melawan dari serangan bangsa


Undead yang akan datang nantinya.


Teman-teman Bara jadi tak


kebagian ruang untuk berbicara. Mereka hanya bisa mengikuti keadaan, membiarkan


dirinya diperlakukan sebagai tamu di rumah Bara. Sementara Bara dibawa ke


tempat lain, disibukkan dengan urusan kerajaan yang tidak mereka pahami.


Setelah semua formalitas


itu berakhir, Soli dan ketiga gadis pengantin binatang mistik tersebut

__ADS_1


berkumpul dalam satu ruangan. Sementara Rhea yang mereka yakini tak akan


mengikuti mereka lagi, berada di ruangan lain sendirian. Mereka harus segera


menentukan tujuan berikutnya setelah meninggalkan gunung bersalju  tersebut.


“Jadi Bara benar-benar


akan tinggal?”


Soli terlihat tak


bersemangat. Bara adalah pemimpin mereka, orang yang paling kuat dalam kelompok


dan paling dapat ia andalkan dalam menghadapi keegoisan gadis-gadis muda yang


ia jaga. Namun, ia tak dapat berbuat apa pun. Keberadaan Bara di gunung ini


juga merupakan hal penting jika ia mempertimbangkan tujuan masa panjang mereka.


“Apa kalian baik-baik saja


melanjutkan perjalanan tanpa Bara?” Sekali lagi, Soli bertanya. Ia melirik pada


Meena, seakan pertanyaan itu hanya untuk Meena dan bukan untuk kedua gadis


lainnya.


Meena yang dari tadi diam,


terlihat makin kesal. Ia melotot sinis pada Soli. Sadar bila penjaga


menyebalkan itu sengaja mengujinya.


“Sejak awal perjalanan ini


untuk mencari pasangan Kyra. Ada Bara atau tidak, bukan masalah!” Akhirnya


Meena buka suara, menjawab pertanyaan Soli seperti ingin mencari ribut.


Kanya yang cuek hanya


menggelengkan kepalanya, mengulas sebuah senyuman simpul. Tanda bahwa ia telah


pasrah pada keadaan. Lagian sejak awal tujuannya adalah untuk berlatih dan


mengawasi perkembangan musuh, bukannya bermain-main dengan roman persahabatan


antara anak-anak manusia itu.


“Bara sudah memutuskan dan


aku ingin menghargai pilihannya,” sambung Kyra. Hanya dia yang menjawab Soli


dengan serius, memberikan jawaban jujur dan tulus berharap yang terbaik untuk


mereka semua.


Soli jadi merasa kekanakan


menguji mereka setelah melihat reaksi ketiga gadis itu. Ia selalu berpikir


mental mereka seperti anak-anak dan tak mengerti betapa sulitnya keadaan mereka


saat ini. Nyatanya, pandangan matanya yang salah. Meena tak seegois yang ia


kira. Kyra tidak senaif yang terlihat dan Kanya jauh lebih dewasa dari


penampilannya.


“Kalian benar. Aku yang


salah.” Tak seharusnya Soli bertanya sejak awal. Dia hanya perlu mengikuti


keputusan mereka dan menjaga Meena dalam diam.


“Kalau kalian sudah


selesai berbicara, ayo putuskan tujuan berikutnya.” Baru sekarang Kanya mau


berbicara. Tak tanggung-tanggung, ia bahkan telah mengeluarkan petanya. Seakan


menuntut mereka untuk segera bergerak alih-alih memanfaatkan kesempatan untuk


beristirahat sejenak di rumah Bara.


Peta yang Kanya keluarkan


merupakan peta utuh seluruh benua. Denah lengkap mencakup tiga kerajaan. Kyra


yang melihat peta itu, terdiam beberapa saat. Api biru yang baru saja ia


dapatkan, terasa panas dalam tubuhnya, seakan tengah memberi petunjuk dan


dengan misteriusnya menggerakkan jari Kyra agar menunjuk pada sebuah lokasi.


“Tempat apa ini? Apa


sebaiknya kita ke sana saja?” tanya Kyra, kemudian.


Meena dan Soli menoleh,


menatap Kanya menunggu jawaban dari Roh Air itu. Karena setelah Bara keluar


dari tim pencarian, hanya Kanya satu-satunya orang yang pernah pergi dan


melihat langsung seperti apa seluruh daratan Mystisia.


Kanya menghela napas


berat. Baru kali ini mereka ingat bila ia sudah hidup ratusan tahun dan dapat


diandalkan. Akan tetapi, Kanya tetap tidak merasa senang. Masalahnya, tempat


yang Kyra tunjuk adalah tempat yang paling tidak ingin ia datangi saat ini.


“Sebaiknya kita tidak ke


sana. Manusia tidak dapat hidup di sana.”


“Kenapa?”


Bukan Kyra yang bertanya,


melainkan rasa penasaran Meena yang membuat gadis mungil itu tak bisa menahan


diri. Matanya yang besar terus menatap Kanya, seperti sebuah tusukan jarum


mengganggu yang tidak dapat disingkirkan. Kanya sungguh tak ingin menjawab


pertanyaan Meena, tapi dia juga tak tahu bagaimana caranya meyakinkan mereka


untuk tidak ke sana tanpa memberikan alasan yang jelas.


“Manusia tidak dapat hidup


di sana.” Akhirnya, Kanya hanya mengulangi perkataannya tadi.


“Kenapa manusia tidak


dapat hidup di sana? Kalau kita lihat dari peta, harusnya dulu tempat ini


merupakan sebuah kota.” Kali ini bukan hanya Meena, Kyra ikut menjadi


penasaran. Ia juga menatap pada Kanya, mempertegas pertanyaan Meena agar Kanya


tidak dapat mengelak.


Memang betul dulu tempat


itu merupakan sebuah kota. Lebih tepatnya merupakan kota perbatasan terbesar di


seluruh daratan. Tempat yang dulunya merupakan pusat perdagangan antara Aurora


Sea dan Albus Tiger. Akan tetapi, sekarang kota itu sudah musnah. Berubah

__ADS_1


menjadi tanah tercemar setelah melewati banyaknya perang brutal di masa lalu.


__ADS_2