
Kembali pada pertarungan
di atas arena, Kyra kini telah dikepung oleh keenam Raksasa. Dia belum
mengeluarkan senjata apa pun, hanya tubuh berlapis api dan dukungan sihir dari
Meena.
Gadis api berlari ke
depan, menerjang lawannya dengan berani. Dia menendang sang ketua, kemudian
memutar tubuhnya ke samping untuk memukul seseorang di arah sana.
Saat sadar kedua pukulan
itu hanya berefek melontarkan mereka tanpa melukai kulitnya, Kyra mundur ke
belakang. “Naiklah ke atas Meena, mereka terlihat akan mengincarmu.” Kyra tak
bisa bertarung sambil melindung Meena. Selain itu dia berniat menaikkan kobaran
apinya. Takutnya suhunya terlalu panas hingga tak sengaja membakar rekannya
sendiri.
“Oke, sebelumnya akan
kukuatkan seranganmu.” Usai memberikan sihir penguat, Meena terbang ke atas.
Lawannya berdecak kesal, tapi tak masalah, tipe pendukung tak akan ada artinya
setelah mereka mengalahkan penyerangnya.
Ketua Raksasa mundur ke
belakang, menyuruh kelima anggota lain mengeroyok Kyra. “Aku tak perlu turun
tangan melawan gadis kecil seperti mu.” Omongannya begitu sombong, membuat orang-orang
yang menonton bersorak semakin keras.
Kyra tetap tenang. Dia mengembuskan
napas panjang, mengeluarkan semburan api dari pori-porinya. Tubuhnya semakin membara,
mengumpulkan panas yang terpusat pada telapak tangan. Tekanan kekuatan yang
besar membuat tubuhnya melayang setinggi lima sentimeter dari atas tanah.
“Kalau begitu diam dan
lihatlah bagaimana aku membakar mereka.”
“Hahaha! Api kecil begitu
tak akan bisa menembus kulit kami!”
Dua orang maju secara
bersamaan. Mereka melayangkan pemukul batu ke arah kepala kiri dan kanan Kyra.
Pemukul itu ditahan dengan telapak tangan gadis api. Kemudian benturan antara
batu dan luapan energi api di telapak tangan Kyra meledak, menghancurkan
senjata mereka hanya dengan sekali tubrukan.
Kedua raksasa segera mundur.
Teman-temannya mulai berhati-hati. Kali ini serangan datang dari tiga arah.
Kyra memutar tubuhnya membentuk pusaran api yang memantulkan tubuh lawannya.
Mereka tidak terbakar, tetapi
panasnya bara api Kyra meretakkan lapisan pelindung kulit mereka yang keras. “Bos,
itu sihir api tingkat tinggi.” Seseorang melapor, ia mulai takut menghadapi
Kyra.
Penyihir api yang berasal
dari ras manusia rata-rata lemah. Itulah kenapa di awal pertarungan mereka begitu
besar kepala. Saat lawannya menunjukkan sedikit saja keunggulan, kepercayaan
diri para Raksasa memudar.
“Jangan cari alasan! Sihir
api manusia adalah yang paling rendah!” Sang ketua tak mendengarkan, dia
memerintah mereka untuk kembali menyerang.
Bila Kyra masih sama
seperti dulu, dia mungkin tak akan bisa berbuat apa pun. Akan tetapi, setelah
sekali kematian ... seluruh inderanya menjadi lebih peka. Daya tahan tubuh dan refleksnya
pun jauh membaik dari sebelumnya.
Mata Kyra bisa mengikuti tiap
gerakan kelima Raksasa, sehingga mudah baginya untuk mengelaki tiap serangan
yang datang padanya. Di saat yang sama, kecepatannya membuat dia sempat
menyiapkan serangan balasan.
Setelah beberapa saat,
kelima raksasa yang berada satu Rank di atasnya jatuh tak berdaya di atas
panggung. Penonton menelan ludah. Tercengang dengan apa yang mereka lihat.
“Gadis manusia itu menang
lima lawan satu?”
“Dasar bodoh! Itu lima
lawan dua! Gadis bersayap di atasnya memberikan banyak sihir pendukung padanya.”
“Pasti Raksasa yang
menang, bos mereka belum bergerak dari tadi!”
Berbagai dugaan meramaikan
suasana kembali. Keadaan sekilas menguntungkan Meena dan Kyra, nyatanya tidak
demikian. Kedua gadis itu tahu jelas bahwa lawan sesungguhnya adalah si ketua.
Meena turun ke bawah,
__ADS_1
berhenti di belakang Kyra. “Hati-hati, apimu saat ini tak akan bisa menembus
kulitnya.” Dia bisa melihat perbedaan ketebalan kulit antara lima lawan
sebelumnya dengan satu yang tersisa.
“Kalau begitu akan
kupadatkan apiku.” Kyra mengubah apinya menjadi cambuk di tangan kiri dan
pedang di tangan kanan. Dia mengubah posisi tubuhnya, bersiap untuk melancarkan
serangan cepat sebelum lawannya menyerang lebih dulu. Api saja mungkin tak akan bisa menembus kulit
Raksasa, tapi setelah diubah menjadi ledakan, Kyra yakin bila dia masih punya
kesempatan untuk menang.
Sayang sekali, ternyata
kecepatan sang ketua pun jauh di atas anak buahnya. Sebelum Kyra sadar, dia
telah dilewati. Sejak awal sasarannya bukanlah Kyra, melainkan Meena. Meena ditangkap,
dicekik dan kemudian dilemparkan hingga menabrak lapisan pelindung arena.
“Tinggalkan dia, lawanmu
adalah aku!” Melihat temannya terkapar sambil merintih kesakitan, Kyra
kehilangan ketenangan. Ia segera melesat mengambil posisi di depan Meena. Ujung
pedangnya diarahkan pada tubuh Raksasa itu.
Sang Raksasa menyeringai. “Si
kecil itu sudah tak bisa bergerak. Bisa apa kau dukungan kecepatan dan kekuatan
darinya?” Bantuan Meena setidaknya meningkatkan kemampuan Kyra sebanyak 30%
hingga 50%, tetapi saat ia kehilangan konsentrasi untuk mempertahankan sihirnya,
dukungan sihir itu pun menghilang. Itulah kelemahan dari jenis dukungan yang
digunakan oleh Meena.
“Tak masalah, aku masih
punya apiku.” Kyra berlari ke arah Raksasa, dia mendorong pedangnya pada
permukaan kulit keras yang tak bisa dipotong.
“Api yang lemah!” Sebagai
balasannya, Raksasa memukulnya. Kyra terpental, jatuh menabrak lantai. Kemudian
Raksasa menyatukan kedua tangannya, melompat ke atas dan menjatuhkannya ke atas
tubuh Kyra.
Sadar akan serangan itu,
Kyra melemparkan sebuah ledakan untuk memperlambat Raksasa. Dia berguling ke
samping menghindari tinju itu. Sesegera mungkin Kyra bangkit berdiri, lalu ia
berlari menjaga jarak.
Raksasa juga ikut berdiri.
Dia mendengus saat sadar serangannya meleset. Lantai batu yang hancur menunjukkan
itu, tulangnya pasti akan remuk.
“Kau pikir bisa lari dari ku!?”
Detik berikutnya, Raksasa itu telah berhasil mengejar Kyra. Dia berhenti tepat
di depan gadis api. Sebelum Kyra sempat melarikan diri lagi, pria itu menendang
pinggangnya dari arah samping.
Kyra jatuh terduduk,
memuntahkan darah merasakan organnya remuk di dalam tubuh. Ia mengusap darah
dari mulutnya, segera bangkit saat melihat ke arah mata pandangan Raksasa.
“Jangan bergerak dulu, Kyra!
Aku akan menyembuhkanmu!” Ya, pada Meena yang telah bangkit dan kini tengah
menyembuhkannya dari jauh.
“Gadis kecil sialan!
Ternyata kau bisa menyembuhkan dirimu sendiri!” Raksasa itu marah, dia ingin
melihat seberapa bagus kemampuan regenerasi Meena dibandingkan dengan efek
serangan penghancurnya.
“Kubilang lawanmu adalah
aku!” Kyra menghentikan kakinya dengan cambuk api. Benda itu melilit di kaki
sang Raksasa, menarik kembali pria itu ke hadapan Kyra.
“Cambuk seperti ini tak
akan bisa menghentikanku!” Ujung cambuk Kyra ditarik oleh Raksasa, sehingga
tubuh Kyra yang ringan itu juga ikut tertarik ke hadapannya. Sebuah tinjuan terarah
pada perut Kyra telah menanti, menghantam dengan keras hingga luka yang baru
saja dipulihkan kembali.
Kyra menahan rasa
sakitnya. Gadis itu tersenyum, mencengkeram baju Raksasa agar ia tak terjatuh.
Dari kedua tangannya, keluar bola api berdiameter 10 sentimeter yang terus
membesar begitu cepat.
“Coba saja ledakan, api
ini juga akan membakarmu!” Raksasa itu begitu percaya diri. Karena memang
kebanyakan serangan ledakan api juga bisa melukai pemakainya. Dia tak tahu,
bila api Phoenix tidak memiliki hukum yang sama dengan api biasa.
“Meena, terbang ke atas!”
Kyra berteriak dan kemudian ....
__ADS_1
Boom!
Ledakan besar terjadi,
menghancurkan kerasnya kulit Raksasa. Apinya menyebar hingga ke seluruh arena.
Menjadikan tempat itu seperti balok api yang baru padam setelah beberapa menit.
Usai api dan asapnya
hilang, apa yang sebenarnya terjadi di sana terlihat. Meena ada di atas langit
dan Kyra ada di tengah arena. Gadis api berdiri dengan kokoh, sama sekali tak
terbakar efek ledakan tersebut. Keenam lawan mereka tergelepar di mana-mana,
terbakar hingga gosong. Kalau saja mereka bukan bangsa Raksasa, pastilah keenam
orang itu telah tewas. Mereka beruntung, meskipun kulitnya hancur, daging dan
tulang mereka mampu menahan serangan Kyra.
“Mereka memang!”
“Gadis-gadis manusia itu
yang menang!”
Sorak-sorakan penonton
begitu ramai, terdengar bagai genderang penuh kemegahan saat lapisan pelindung
arena menghilang. Meena dan Kyra segera turun, menghampiri Bara untuk pamer.
“Kami menang! Jadi jangan
larang kami ke Perkemahan Centaur lagi!” teriakan mereka berdua begitu kompak,
membuat Bara geleng-geleng kepala. Namun, dia juga tersenyum. Bangga akan
kekeraskepalaan mereka yang membawa kemenangan tersebut.
“Jangan kesenangan dulu.
Luka kalian parah begini.” Tak salah membiarkan mereka bersama. Kedua gadis itu
saling peduli satu sama lainnya. Mereka tidak takut pada lawan yang lebih kuat.
Itulah yang dibutuhkan untuk menjadi membangkitkan kekuatan mereka. Dengan
begini, Bara bisa merasa sedikit tenang.
“Sebentar juga sembuh kok!”
Meena memeletkan lidahnya, menarik Kyra kembali ke penginapan. Dia akan
menyembuhkan sisa luka mereka segera. Selama energi sihir Meena masih ada, tak
ada luka yang tak bisa ia sembuhkan. Terima kasih berkat sayap Nakula, bila tak
benda itu, Meena pastilah tak akan punya energi sihir sebanyak ini.
“Mereka langsung pergi?
Ini uangmu.” Setelah Meena pergi, Martin kembali dari mengambil hadiah taruhan.
“Memang cebol itu selalu seenaknya,
tapi lihatlah Kyra. Kemampuannya meningkat banyak.” Perkembangan Kyra terlalu
cepat. Dari tak bisa apa-apa, hingga sanggup melawan Petarung Rank S. Lawannya memang
tak terlalu kuat jika dibandingkan dengan Soli, tapi itu sudah jauh lebih bagus
dari kemampuan awal Kyra.
“Kau benar. Terlalu cepat
sampai mengerikan. Jenis apinya terasa aneh, seperti api binatang buas daripada
api Penyihir manusia.” Bara menelan ludah. Jika seorang Petualang tanpa ilmu
sihir bahkan bisa menyadarinya, tentunya Penyihir tingkat tinggi akan segera
sadar.
Kota ini begitu ramai.
Sayap Meena dan api Kyra terlalu mencolok. Bara cemas bila identitas mereka
segera dikenali oleh orang yang salah.
“Kekuatan Meena juga aneh
sejak awal. Seorang Dukun manusia tak ada yang punya kemampuan regenerasi secepat
itu. Energi sihirnya juga besar sekali, jauh melebihi Dukun dengan tingkat yang
sama.” Semakin Martin menyadari banyak hal, semakin besar pula kecemasan Bara,
tapi melarikan diri tak akan bisa mengubah apa pun.
Cepat atau lambat orang-orang
yang menginginkan kekuatan pengantin binatang mistik akan berdatangan. Bara
hanya bisa berharap, bila saat itu tiba ... Kyra dan Meena sudah cukup kuat
untuk menghadapinya.
“Tak usah dibahas lagi.
Kita juga harus kembali ke penginapan.” Teman-teman Martin sudah pulang lebih
dulu. Hanya Bara, Soli dan Martin yang masih tinggal. Lebih baik segera
menghindari keramaian.
“Kau benar, tapi ke mana
Soli?” Ketika Martin menoleh, Soli telah menghilang.
Wajah Bara memucat seketika.
Kalau mau pergi, Soli selalu mengatakan padanya. Atau paling tidak dia akan segera
sadar bila Soli bergerak sendiri. Kali ini sama sekali tak ia sadari. Mungkin
karena ia terlalu sibuk menonton pertarungan, atau Soli sengaja menggunakan
kekuatannya untuk menghilangkan jejak.
“Kita kembali secepatnya!”
Bara langsung berlari. Dia tak mau berpikiran buruk, tapi bila mengingat
bagaimana ekspresi wajah Soli tadi ... Bara cemas bila pria itu berniat
__ADS_1
mengkhianati mereka.