Phoenix Bride

Phoenix Bride
Episode 18


__ADS_3

Kembali pada pertarungan


di atas arena, Kyra kini telah dikepung oleh keenam Raksasa. Dia belum


mengeluarkan senjata apa pun, hanya tubuh berlapis api dan dukungan sihir dari


Meena.


Gadis api berlari ke


depan, menerjang lawannya dengan berani. Dia menendang sang ketua, kemudian


memutar tubuhnya ke samping untuk memukul seseorang di arah sana.


Saat sadar kedua pukulan


itu hanya berefek melontarkan mereka tanpa melukai kulitnya, Kyra mundur ke


belakang. “Naiklah ke atas Meena, mereka terlihat akan mengincarmu.” Kyra tak


bisa bertarung sambil melindung Meena. Selain itu dia berniat menaikkan kobaran


apinya. Takutnya suhunya terlalu panas hingga tak sengaja membakar rekannya


sendiri.


“Oke, sebelumnya akan


kukuatkan seranganmu.” Usai memberikan sihir penguat, Meena terbang ke atas.


Lawannya berdecak kesal, tapi tak masalah, tipe pendukung tak akan ada artinya


setelah mereka mengalahkan penyerangnya.


Ketua Raksasa mundur ke


belakang, menyuruh kelima anggota lain mengeroyok Kyra. “Aku tak perlu turun


tangan melawan gadis kecil seperti mu.” Omongannya begitu sombong, membuat orang-orang


yang menonton bersorak semakin keras.


Kyra tetap tenang. Dia mengembuskan


napas panjang, mengeluarkan semburan api dari pori-porinya. Tubuhnya semakin membara,


mengumpulkan panas yang terpusat pada telapak tangan. Tekanan kekuatan yang


besar membuat tubuhnya melayang setinggi lima sentimeter dari atas tanah.


“Kalau begitu diam dan


lihatlah bagaimana aku membakar mereka.”


“Hahaha! Api kecil begitu


tak akan bisa menembus kulit kami!”


Dua orang maju secara


bersamaan. Mereka melayangkan pemukul batu ke arah kepala kiri dan kanan Kyra.


Pemukul itu ditahan dengan telapak tangan gadis api. Kemudian benturan antara


batu dan luapan energi api di telapak tangan Kyra meledak, menghancurkan


senjata mereka hanya dengan sekali tubrukan.


Kedua raksasa segera mundur.


Teman-temannya mulai berhati-hati. Kali ini serangan datang dari tiga arah.


Kyra memutar tubuhnya membentuk pusaran api yang memantulkan tubuh lawannya.


Mereka tidak terbakar, tetapi


panasnya bara api Kyra meretakkan lapisan pelindung kulit mereka yang keras. “Bos,


itu sihir api tingkat tinggi.” Seseorang melapor, ia mulai takut menghadapi


Kyra.


Penyihir api yang berasal


dari ras manusia rata-rata lemah. Itulah kenapa di awal pertarungan mereka begitu


besar kepala. Saat lawannya menunjukkan sedikit saja keunggulan, kepercayaan


diri para Raksasa memudar.


“Jangan cari alasan! Sihir


api manusia adalah yang paling rendah!” Sang ketua tak mendengarkan, dia


memerintah mereka untuk kembali menyerang.


Bila Kyra masih sama


seperti dulu, dia mungkin tak akan bisa berbuat apa pun. Akan tetapi, setelah


sekali kematian ... seluruh inderanya menjadi lebih peka. Daya tahan tubuh dan refleksnya


pun jauh membaik dari sebelumnya.


Mata Kyra bisa mengikuti tiap


gerakan kelima Raksasa, sehingga mudah baginya untuk mengelaki tiap serangan


yang datang padanya. Di saat yang sama, kecepatannya membuat dia sempat


menyiapkan serangan balasan.


Setelah beberapa saat,


kelima raksasa yang berada satu Rank di atasnya jatuh tak berdaya di atas


panggung. Penonton menelan ludah. Tercengang dengan apa yang mereka lihat.


“Gadis manusia itu menang


lima lawan satu?”


“Dasar bodoh! Itu lima


lawan dua! Gadis bersayap di atasnya memberikan banyak sihir pendukung padanya.”


“Pasti Raksasa yang


menang, bos mereka belum bergerak dari tadi!”


Berbagai dugaan meramaikan


suasana kembali. Keadaan sekilas menguntungkan Meena dan Kyra, nyatanya tidak


demikian. Kedua gadis itu tahu jelas bahwa lawan sesungguhnya adalah si ketua.


Meena turun ke bawah,

__ADS_1


berhenti di belakang Kyra. “Hati-hati, apimu saat ini tak akan bisa menembus


kulitnya.” Dia bisa melihat perbedaan ketebalan kulit antara lima lawan


sebelumnya dengan satu yang tersisa.


“Kalau begitu akan


kupadatkan apiku.” Kyra mengubah apinya menjadi cambuk di tangan kiri dan


pedang di tangan kanan. Dia mengubah posisi tubuhnya, bersiap untuk melancarkan


serangan cepat sebelum lawannya menyerang lebih dulu.  Api saja mungkin tak akan bisa menembus kulit


Raksasa, tapi setelah diubah menjadi ledakan, Kyra yakin bila dia masih punya


kesempatan untuk menang.


Sayang sekali, ternyata


kecepatan sang ketua pun jauh di atas anak buahnya. Sebelum Kyra sadar, dia


telah dilewati. Sejak awal sasarannya bukanlah Kyra, melainkan Meena. Meena ditangkap,


dicekik dan kemudian dilemparkan hingga menabrak lapisan pelindung arena.


“Tinggalkan dia, lawanmu


adalah aku!” Melihat temannya terkapar sambil merintih kesakitan, Kyra


kehilangan ketenangan. Ia segera melesat mengambil posisi di depan Meena. Ujung


pedangnya diarahkan pada tubuh Raksasa itu.


Sang Raksasa menyeringai. “Si


kecil itu sudah tak bisa bergerak. Bisa apa kau dukungan kecepatan dan kekuatan


darinya?” Bantuan Meena setidaknya meningkatkan kemampuan Kyra sebanyak 30%


hingga 50%, tetapi saat ia kehilangan konsentrasi untuk mempertahankan sihirnya,


dukungan sihir itu pun menghilang. Itulah kelemahan dari jenis dukungan yang


digunakan oleh Meena.


“Tak masalah, aku masih


punya apiku.” Kyra berlari ke arah Raksasa, dia mendorong pedangnya pada


permukaan kulit keras yang tak bisa dipotong.


“Api yang lemah!” Sebagai


balasannya, Raksasa memukulnya. Kyra terpental, jatuh menabrak lantai. Kemudian


Raksasa menyatukan kedua tangannya, melompat ke atas dan menjatuhkannya ke atas


tubuh Kyra.


Sadar akan serangan itu,


Kyra melemparkan sebuah ledakan untuk memperlambat Raksasa. Dia berguling ke


samping menghindari tinju itu. Sesegera mungkin Kyra bangkit berdiri, lalu ia


berlari menjaga jarak.


Raksasa juga ikut berdiri.


Dia mendengus saat sadar serangannya meleset. Lantai batu yang hancur menunjukkan


itu, tulangnya pasti akan remuk.


“Kau pikir bisa lari dari ku!?”


Detik berikutnya, Raksasa itu telah berhasil mengejar Kyra. Dia berhenti tepat


di depan gadis api. Sebelum Kyra sempat melarikan diri lagi, pria itu menendang


pinggangnya dari arah samping.


Kyra jatuh terduduk,


memuntahkan darah merasakan organnya remuk di dalam tubuh. Ia mengusap darah


dari mulutnya, segera bangkit saat melihat ke arah mata pandangan Raksasa.


“Jangan bergerak dulu, Kyra!


Aku akan menyembuhkanmu!” Ya, pada Meena yang telah bangkit dan kini tengah


menyembuhkannya dari jauh.


“Gadis kecil sialan!


Ternyata kau bisa menyembuhkan dirimu sendiri!” Raksasa itu marah, dia ingin


melihat seberapa bagus kemampuan regenerasi Meena dibandingkan dengan efek


serangan penghancurnya.


“Kubilang lawanmu adalah


aku!” Kyra menghentikan kakinya dengan cambuk api. Benda itu melilit di kaki


sang Raksasa, menarik kembali pria itu ke hadapan Kyra.


“Cambuk seperti ini tak


akan bisa menghentikanku!” Ujung cambuk Kyra ditarik oleh Raksasa, sehingga


tubuh Kyra yang ringan itu juga ikut tertarik ke hadapannya. Sebuah tinjuan terarah


pada perut Kyra telah menanti, menghantam dengan keras hingga luka yang baru


saja dipulihkan kembali.


Kyra menahan rasa


sakitnya. Gadis itu tersenyum, mencengkeram baju Raksasa agar ia tak terjatuh.


Dari kedua tangannya, keluar bola api berdiameter 10 sentimeter yang terus


membesar begitu cepat.


“Coba saja ledakan, api


ini juga akan membakarmu!” Raksasa itu begitu percaya diri. Karena memang


kebanyakan serangan ledakan api juga bisa melukai pemakainya. Dia tak tahu,


bila api Phoenix tidak memiliki hukum yang sama dengan api biasa.


“Meena, terbang ke atas!”


Kyra berteriak dan kemudian ....

__ADS_1


Boom!


Ledakan besar terjadi,


menghancurkan kerasnya kulit Raksasa. Apinya menyebar hingga ke seluruh arena.


Menjadikan tempat itu seperti balok api yang baru padam setelah beberapa menit.


Usai api dan asapnya


hilang, apa yang sebenarnya terjadi di sana terlihat. Meena ada di atas langit


dan Kyra ada di tengah arena. Gadis api berdiri dengan kokoh, sama sekali tak


terbakar efek ledakan tersebut. Keenam lawan mereka tergelepar di mana-mana,


terbakar hingga gosong. Kalau saja mereka bukan bangsa Raksasa, pastilah keenam


orang itu telah tewas. Mereka beruntung, meskipun kulitnya hancur, daging dan


tulang mereka mampu menahan serangan Kyra.


“Mereka memang!”


“Gadis-gadis manusia itu


yang menang!”


Sorak-sorakan penonton


begitu ramai, terdengar bagai genderang penuh kemegahan saat lapisan pelindung


arena menghilang. Meena dan Kyra segera turun, menghampiri Bara untuk pamer.


“Kami menang! Jadi jangan


larang kami ke Perkemahan Centaur lagi!” teriakan mereka berdua begitu kompak,


membuat Bara geleng-geleng kepala. Namun, dia juga tersenyum. Bangga akan


kekeraskepalaan mereka yang membawa kemenangan tersebut.


“Jangan kesenangan dulu.


Luka kalian parah begini.” Tak salah membiarkan mereka bersama. Kedua gadis itu


saling peduli satu sama lainnya. Mereka tidak takut pada lawan yang lebih kuat.


Itulah yang dibutuhkan untuk menjadi membangkitkan kekuatan mereka. Dengan


begini, Bara bisa merasa sedikit tenang.


“Sebentar juga sembuh kok!”


Meena memeletkan lidahnya, menarik Kyra kembali ke penginapan. Dia akan


menyembuhkan sisa luka mereka segera. Selama energi sihir Meena masih ada, tak


ada luka yang tak bisa ia sembuhkan. Terima kasih berkat sayap Nakula, bila tak


benda itu, Meena pastilah tak akan punya energi sihir sebanyak ini.


“Mereka langsung pergi?


Ini uangmu.” Setelah Meena pergi, Martin kembali dari mengambil hadiah taruhan.


“Memang cebol itu selalu seenaknya,


tapi lihatlah Kyra. Kemampuannya meningkat banyak.” Perkembangan Kyra terlalu


cepat. Dari tak bisa apa-apa, hingga sanggup melawan Petarung Rank S. Lawannya memang


tak terlalu kuat jika dibandingkan dengan Soli, tapi itu sudah jauh lebih bagus


dari kemampuan awal Kyra.


“Kau benar. Terlalu cepat


sampai mengerikan. Jenis apinya terasa aneh, seperti api binatang buas daripada


api Penyihir manusia.” Bara menelan ludah. Jika seorang Petualang tanpa ilmu


sihir bahkan bisa menyadarinya, tentunya Penyihir tingkat tinggi akan segera


sadar.


Kota ini begitu ramai.


Sayap Meena dan api Kyra terlalu mencolok. Bara cemas bila identitas mereka


segera dikenali oleh orang yang salah.


“Kekuatan Meena juga aneh


sejak awal. Seorang Dukun manusia tak ada yang punya kemampuan regenerasi secepat


itu. Energi sihirnya juga besar sekali, jauh melebihi Dukun dengan tingkat yang


sama.” Semakin Martin menyadari banyak hal, semakin besar pula kecemasan Bara,


tapi melarikan diri tak akan bisa mengubah apa pun.


Cepat atau lambat orang-orang


yang menginginkan kekuatan pengantin binatang mistik akan berdatangan. Bara


hanya bisa berharap, bila saat itu tiba ... Kyra dan Meena sudah cukup kuat


untuk menghadapinya.


“Tak usah dibahas lagi.


Kita juga harus kembali ke penginapan.” Teman-teman Martin sudah pulang lebih


dulu. Hanya Bara, Soli dan Martin yang masih tinggal. Lebih baik segera


menghindari keramaian.


“Kau benar, tapi ke mana


Soli?” Ketika Martin menoleh, Soli telah menghilang.


Wajah Bara memucat seketika.


Kalau mau pergi, Soli selalu mengatakan padanya. Atau paling tidak dia akan segera


sadar bila Soli bergerak sendiri. Kali ini sama sekali tak ia sadari. Mungkin


karena ia terlalu sibuk menonton pertarungan, atau Soli sengaja menggunakan


kekuatannya untuk menghilangkan jejak.


“Kita kembali secepatnya!”


Bara langsung berlari. Dia tak mau berpikiran buruk, tapi bila mengingat


bagaimana ekspresi wajah Soli tadi ... Bara cemas bila pria itu berniat

__ADS_1


mengkhianati mereka.


__ADS_2