Phoenix Bride

Phoenix Bride
Episode 20


__ADS_3

Perjalanan dari kota Nero


hingga Benteng Barat berjalan dengan mulus. Regu Bara bahkan tak perlu capek


berjalan kaki. Kereta kuda Martin bisa menampung mereka semua. Kelompok lain


yang juga satu tujuan, berangkat bersama-sama hingga tak memberi kesempatan


pada bandit atau pembunuh sewaan untuk bertindak.


Kyra dan Meena santai


sekali, asyik menulis surat menghabiskan waktu luang. Para pria juga bermain


kartu, mengisi perjalanan dengan hal-hal menyenangkan sebelum menghadapi


pertarungan.


Saat tiba di Benteng


Barat, pemandangan indah menyambut mereka. Megahnya kastil raksasa yang


dikelilingi oleh benteng menutupi sepanjang tepian Hutan Malam, membuat siapa


pun yang pertama kali melihat terpaku.


Bukan hanya itu, banyaknya


rumah penduduk di belakang kastil juga menunjukkan betapa makmurnya kota


tersebut. Siapa pun tak akan menyangka bisa melihat sesuatu seperti ini di wilayah


yang terus berperang sepanjang waktu.


“Indahnya! Kota ini lebih besar


dari kota Nero!” Kyra berseru kegirangan. Dia baru melihat pasar yang


mengelilingi kota begitu masuk dari gerbang utama. Belum melihat area


pertempuran sebenarnya yang selalu berfokus di gerbang belakang.


“Tentu saja lebih besar


dan makmur. Karena Benteng Barat merupakan pendukung utama kota Nero. Orang-orang


juga mengenalnya sebagai kota air. Wilayah penuh dengan mata air gunung murni


yang memiliki kekuatan perlindungan dan penyembuhan,” ujar Martin, memberi


tahu.


“Kota air, jadi ini tempatnya.


Fufufu!” Meena mengangguk paham, tertawa aneh saking senangnya. Dia sering


mendengar orang membicarakan tentang kota air, tapi dia tak pernah tahu bila


itu merupakan nama lain dari Benteng Barat. Beruntung sekali dia bisa sampai di


sini.


“Tempat apa?” Kyra jadi


semakin bingung. Tawa aneh Meena selalu memiliki banyak arti.


“Kota penghasil Dukun


terbanyak di dunia.” Gadis mungil itu melompat-lompat, mengangkat kedua


tangannya mengekspresikan perasaan senang. Petualang kelas Dukun adalah yang


paling sedikit bila dibandingkan dengan kelas Penyihir, Prajurit dan Pengembara.


Terutama yang memiliki kekuatan penyembuhan. Itulah kenapa orang-orang berlomba


merekrut penduduk lokal dari kota air. Karena sejak dahulu kala, kota ini terkenal


mampu menghasilkan seorang Dukun Elit spesialis penyembuhan.


Meena sendiri merupakan


salah satu Dukun yang mampu menyembuhkan, tetapi karena dia lebih fokus pada


spesialis peningkatan, penyembuhannya tidak sebaik mereka yang berasal dari


kota ini.


“Aku tahu isi kepalamu.


Manfaatkan kesempatan ini, Meena. Curilah kesempatan untuk mempelajari rahasia kemampuan


penyembuhan mereka.”


“Siap! Serahkan saja


padaku!”


Bara menyeringai, dibalas dengan


acungan jempol dari Meena. Kedua orang itu memang selalu bertengkar, tetapi


mereka juga yang paling memahami satu sama lainnya.


“Haha! Bagus! Bagus!


Paling tidak ada yang beruntung di antara kita. Ayo temui Jenderal Roman.”


Martin tertawa dengan keras, mengajak mereka menemui orang yang mengajukan


misi.


Jenderal Roman merupakan


Ksatria dengan posisi tertinggi di kerajaan. Sekaligus merupakan pemilik


Benteng Barat. Selama masa jabatannya, tak sekalipun bangsa Undead berhasil


masuk dari wilayahnya.


“Jenderal? Posisinya di


atas Letnan Alexi dong.”


“Benar.”


Martin memberikan


penjelasan singkat mengenai alasan kenapa Jenderal Roman mendapatkan posisi lebih


tinggi dari Alexi meskipun mereka berdua berada di Rank yang sama. Selain


karena dia satu-satunya manusia dengan Rank SS, Roman juga telah memberikan


begitu banyak kontribusi pada kerajaan. Tak heran jika ia sangat dihargai dan


diakui oleh seluruh Ksatria yang ada.


“Tapi sayang sekali, umur


Jenderal Roman sudah tak muda. Cepat atau lambat dia harus pensiun dan satu-satunya


penerus adalah anak perempuan yang membawanya dalam masalah.” Di akhir cerita,

__ADS_1


Bara menimpali.


Sang Elf tahu semua yang


terjadi di kerajaan. Termasuk di dalamnya, keadaan benteng terkuat yang kini


mulai melemah. Mereka sudah disibukkan oleh perang sepanjang waktu. Dan kini,


satu-satu penerus malah membawa musuh tambahan. Takutnya Benteng Barat akan runtuh


di generasi selanjutnya. Mungkin karena alasan itulah, Jenderal Roman


mengumpulkan Petualang seperti ini.


“Oh, memang kudengar


Jenderal sudah sangat tua. Berapa umurnya?” Kalau masih aktif harusnya tidak terlalu


tua, kan? Martin rasa tak akan melewati 70 tahun.


“Umurnya 87 tahun. Sudah


melewati usia pensiun untuk ras manusia, tapi Raja belum menemukan orang yang


pantas menggantikan posisinya.” Soli yang menjawab. Tak sadar terbawa obrolan. Posisi


pemilik benteng memang diwariskan kepada keturunan. Namun, posisi Jenderal


kerjaan tidak demikian.


“Setua itu masih mampu


bertarung?” Semua yang berada di dalam kereta berseru. Tak ada yang menyangka


bila orang yang akan memimpin mereka selama misi berlangsung sudah setua itu.


“Harusnya Raja segera


mengangkat Letnan Alexi menggantikan posisinya.”


“Bodoh. Kau tahu apa.


Selama ini Jenderal Roman selalu melindungi perbatasan sementara Letnan Alexi


pergi menyerang dan menangkap musuh yang berhasil menyusup masuk. Posisi


keduanya harus tetap ada.”


“Betul juga, tapi tak ada


Ksatria sebaik mereka lagi di kerajaan.”


Mendengar orang-orang


mulai mengobrol sendiri, Kyra mulai bisa memahami kondisi mereka saat ini.


Selain kecemasan pada serangan yang semakin banyak, tanah ini juga memiliki


kecemasan akan masa depan mereka.


Jika saja Tuan Putri


pemilik benteng mampu mengejar dan menggantikan posisi ayahnya, masalah


pertahanan kerajaan akan bisa diatasi. Kendatipun demikian, menjadi pemilik


benteng sekaligus Jenderal kerajaan bukan perkara mudah. Dia memang bisa


memanfaatkan kekuatan yang didapat dari Kura-kura Hitam, tapi itu hanya jika ia


bisa membangkitkan kekuatannya.


Melihat kondisi saat ini


mendapatkan satu kesimpulan. Tuan Putri belum mampu membangkitkan kekuatannya,


tapi kenapa dia sengaja mengungkap identitasnya?


“Meena, menurutku ada hal


lain yang disembunyikan dalam misi ini.” Kyra mendekati Meena. Bila dia sendiri


bisa membaca keadaan, Meena juga pasti bisa.


“Aku yakin ada dan kurang


lebih bisa menebaknya. Hanya saja –” Meena menggelengkan kepalanya. Dia tidak jadi


mengungkapkan dugaannya tanpa bukti. Sikap Meena itu membuat Kyra semakin


bingung. Apalagi karena Bara dan Soli sangat diam. Kedua orang itu seperti


tengah berpikir keras. Mencari dugaan lain yang masuk akal selain dari dugaan


terburuk yang tidak mereka harapkan.


“Apa? Kalian juga kenapa


diam?” Kyra celingak-celinguk.


Mereka telah sampai ke


halaman kastil. Orang-orang yang datang sebelum mereka telah berkumpul di sana.


Menunggu Jenderal menunjukkan dirinya. Sebagian masih terus berdatangan,


membuat suasana terasa tak nyaman.


***


Satu jam kemudian, pintu


kastil baru terbuka. Orang yang keluar bukanlah Jenderal Roman. Melainkan seorang


wanita yang terlihat berusia sekitar akhir dua puluhan. Ia memakai baju zirah


sang Letnan. Membawa trisula emas yang merupakan barang pusaka simbol


kepemilikan terhadap Benteng Barat.


Bara berdiri, menatap


lurus pada wanita di depan pintu. “Namanya Amara, Tuan Putri pemilik benteng.”


Puluhan tahun yang lalu mereka pernah bertemu, tetapi saat itu Amara hanyalah


gadis kecil yang cengeng. Bukan seorang yang mampu berdiri penuh karisma di


hadapan ratusan Petualang.


“Dia pengantinnya? Kok tak


terlihat kuat?” Meena tak percaya. Tak ada luapan energi apa pun dari Amara.


Bahkan bau Kura-kura Hitam pun tak tercium. Harusnya itu berarti kekuatannya


masih setingkat dengan Kyra.


Karena semakin kuat orang


itu, semakin kuat juga baunya. Bau api Phoenix Kyra awalnya juga tidak tercium


dan setelah kembali dari gunung api baru bisa tercium oleh Meena. Itulah kenapa

__ADS_1


dia yakin Amara sangatlah lemah.


“Mungkin dia pandai


menyembunyikan kekuatannya?” Kyra asal sahut saja. Aslinya dia tak bisa


mengukur kemampuan orang hanya dengan sekali lihat.


“Itu karena dia adalah


Dukun spesialis penyembuh. Wanita itu tak bisa apa-apa selain menyembuhkan.” Kalau


Soli memang sudah tahu. Sebab, ia mendapatkan banyak informasi tambahan dari


Raja secara langsung.


Hanya saja Soli heran,


kenapa Raja Nakula tidak memberitahukan padanya kalau Amara adalah pengantin


binatang mistik. Memang beliau juga tidak memberitahukan soal Kyra, tapi


setidaknya dia diberi tahu untuk melindungi si gadis api. Sedangkan Amara tidak


dipedulikan.


“Masa? Kenapa tak bilang


dari kemarin!” Meena kesal deh. Tahu begitu dia tak akan banyak berharap bisa


belajar dari Amara. Setidaknya dia bisa meningkatkan kemampuan bawaan, terbang


dan menggunakan sedikit kemampuan bertahan dengan sihir angin.


“Sihir air selain bagus


menjadi media sihir penyembuhan, juga sihir yang memiliki serangan besar dan


pertahanan mutlak. Mustahil dia tak bisa apa-apa sebagai pengantin binatang


mistik. Gadis itu harusnya punya cangkang kura-kura.” Bara yakin bila cangkang


adalah bagian tubuh yang menjadi ikatan mereka. Sama seperti darah pada Kyra


dan sayap pada Meena.


“Betul juga. Meena bisa


menggunakan sihir angin dari sayapnya untuk menyerang.”


“Dia pasti


menyembunyikannya. Ayo cari tahu!”


Mulai lagi. Kedua gadis


dalam regu mereka memang mudah sekali terpengaruh dan selalu ingin tahu. Baru


sampai sudah mau melakukan sesuatu.


“Kau awasi mereka,” suruh Bara.


Sudah bisa menebak apa yang akan dilakukan oleh Meena dan Kyra. Soli hanya bisa


menghela napas, pasrah menjadi bayangan pengawas gadis-gadis itu.


“Akulah yang mengajukan


misi pada kalian dan aku juga yang akan memimpin kalian selama di sini.” Di


saat yang sama, Amara mengucapkan sesuatu yang membuat orang-orang ribut.


Semuanya mengira mereka akan dipimpin oleh Jenderal Roman. Tak tahunya malah Amara


yang muncul dan sosok Jenderal itu sendiri tak terlihat.


“Siapa yang mau dipimpin


oleh seorang Dukun Penyembuh! Kau tak bisa bertarung, bagaimana bisa menghadapi


musuh!” Sebuah seruan dari keramaian memprovokasi.


“Panggil ayahmu keluar!”


“Kami tak mau berperang


dengan seorang pendukung!”


“Beraninya kalian menipu


kami!”


Selanjutnya, suara-suara


penolakan lain mulai menyusul. Bahkan kelompok Kyra dan kawan-kawan tak tahu


harus bagaimana menenangkan mereka.


“Tidak ada yang menipu


kalian! Misi diminta oleh pemilik Benteng Barat. Dan yang berdiri di depan


kalian ini adalah pemilik benteng yang baru! Tidak ada yang mengatakan bila


Jenderal Roman masih merupakan pemilik Benteng Barat.” Di saat itulah,


seseorang gadis muda keluar dari pintu kastil. Penampilannya seperti gadis umur


belasan tahun, tapi suaranya begitu kuat hingga mampu membungkam orang-orang


yang saling berteriak.


“Dia pengantinnya!”


Melihat gadis itu, Meena berseru. Bau Kura-kura Hitam dan tekanan kekuatan


besar keluar dari tubuh gadis muda itu, bukan dari Amara. Infonya salah.


“Nona Meena yakin?” Soli


tak percaya. Bagaimana bisa mereka mengelabui Serikat Dagang.


“Aku tak mungkin salah.


Lihat, Kyra juga bereaksi.” Api mulai keluar dari telapak tangan Kyra, seperti


ingin mengamuk terpancing oleh kekuatan air gadis muda itu.


“Dia sangat kuat,” ujar


Kyra.


Tak ada yang sadar kalau


gadis muda di belakang Amara menyisipkan sihir dalam kata-katanya, tapi Kyra


dan Meena sadar. Sebuah gelombang suara samar yang membuat orang-orang berhenti


berteriak. Bahkan mereka mendengarkan arahan Amara setelahnya. Padahal gadis


kecil yang tak diketahui namanya itu, hanya berdiri di sisi sang pemilik


benteng tanpa mengucapkan apa pun lagi. Dari itu saja, sudah cukup untuk membuktikan

__ADS_1


kekuatannya.


__ADS_2