
Perjalanan dari kota Nero
hingga Benteng Barat berjalan dengan mulus. Regu Bara bahkan tak perlu capek
berjalan kaki. Kereta kuda Martin bisa menampung mereka semua. Kelompok lain
yang juga satu tujuan, berangkat bersama-sama hingga tak memberi kesempatan
pada bandit atau pembunuh sewaan untuk bertindak.
Kyra dan Meena santai
sekali, asyik menulis surat menghabiskan waktu luang. Para pria juga bermain
kartu, mengisi perjalanan dengan hal-hal menyenangkan sebelum menghadapi
pertarungan.
Saat tiba di Benteng
Barat, pemandangan indah menyambut mereka. Megahnya kastil raksasa yang
dikelilingi oleh benteng menutupi sepanjang tepian Hutan Malam, membuat siapa
pun yang pertama kali melihat terpaku.
Bukan hanya itu, banyaknya
rumah penduduk di belakang kastil juga menunjukkan betapa makmurnya kota
tersebut. Siapa pun tak akan menyangka bisa melihat sesuatu seperti ini di wilayah
yang terus berperang sepanjang waktu.
“Indahnya! Kota ini lebih besar
dari kota Nero!” Kyra berseru kegirangan. Dia baru melihat pasar yang
mengelilingi kota begitu masuk dari gerbang utama. Belum melihat area
pertempuran sebenarnya yang selalu berfokus di gerbang belakang.
“Tentu saja lebih besar
dan makmur. Karena Benteng Barat merupakan pendukung utama kota Nero. Orang-orang
juga mengenalnya sebagai kota air. Wilayah penuh dengan mata air gunung murni
yang memiliki kekuatan perlindungan dan penyembuhan,” ujar Martin, memberi
tahu.
“Kota air, jadi ini tempatnya.
Fufufu!” Meena mengangguk paham, tertawa aneh saking senangnya. Dia sering
mendengar orang membicarakan tentang kota air, tapi dia tak pernah tahu bila
itu merupakan nama lain dari Benteng Barat. Beruntung sekali dia bisa sampai di
sini.
“Tempat apa?” Kyra jadi
semakin bingung. Tawa aneh Meena selalu memiliki banyak arti.
“Kota penghasil Dukun
terbanyak di dunia.” Gadis mungil itu melompat-lompat, mengangkat kedua
tangannya mengekspresikan perasaan senang. Petualang kelas Dukun adalah yang
paling sedikit bila dibandingkan dengan kelas Penyihir, Prajurit dan Pengembara.
Terutama yang memiliki kekuatan penyembuhan. Itulah kenapa orang-orang berlomba
merekrut penduduk lokal dari kota air. Karena sejak dahulu kala, kota ini terkenal
mampu menghasilkan seorang Dukun Elit spesialis penyembuhan.
Meena sendiri merupakan
salah satu Dukun yang mampu menyembuhkan, tetapi karena dia lebih fokus pada
spesialis peningkatan, penyembuhannya tidak sebaik mereka yang berasal dari
kota ini.
“Aku tahu isi kepalamu.
Manfaatkan kesempatan ini, Meena. Curilah kesempatan untuk mempelajari rahasia kemampuan
penyembuhan mereka.”
“Siap! Serahkan saja
padaku!”
Bara menyeringai, dibalas dengan
acungan jempol dari Meena. Kedua orang itu memang selalu bertengkar, tetapi
mereka juga yang paling memahami satu sama lainnya.
“Haha! Bagus! Bagus!
Paling tidak ada yang beruntung di antara kita. Ayo temui Jenderal Roman.”
Martin tertawa dengan keras, mengajak mereka menemui orang yang mengajukan
misi.
Jenderal Roman merupakan
Ksatria dengan posisi tertinggi di kerajaan. Sekaligus merupakan pemilik
Benteng Barat. Selama masa jabatannya, tak sekalipun bangsa Undead berhasil
masuk dari wilayahnya.
“Jenderal? Posisinya di
atas Letnan Alexi dong.”
“Benar.”
Martin memberikan
penjelasan singkat mengenai alasan kenapa Jenderal Roman mendapatkan posisi lebih
tinggi dari Alexi meskipun mereka berdua berada di Rank yang sama. Selain
karena dia satu-satunya manusia dengan Rank SS, Roman juga telah memberikan
begitu banyak kontribusi pada kerajaan. Tak heran jika ia sangat dihargai dan
diakui oleh seluruh Ksatria yang ada.
“Tapi sayang sekali, umur
Jenderal Roman sudah tak muda. Cepat atau lambat dia harus pensiun dan satu-satunya
penerus adalah anak perempuan yang membawanya dalam masalah.” Di akhir cerita,
__ADS_1
Bara menimpali.
Sang Elf tahu semua yang
terjadi di kerajaan. Termasuk di dalamnya, keadaan benteng terkuat yang kini
mulai melemah. Mereka sudah disibukkan oleh perang sepanjang waktu. Dan kini,
satu-satu penerus malah membawa musuh tambahan. Takutnya Benteng Barat akan runtuh
di generasi selanjutnya. Mungkin karena alasan itulah, Jenderal Roman
mengumpulkan Petualang seperti ini.
“Oh, memang kudengar
Jenderal sudah sangat tua. Berapa umurnya?” Kalau masih aktif harusnya tidak terlalu
tua, kan? Martin rasa tak akan melewati 70 tahun.
“Umurnya 87 tahun. Sudah
melewati usia pensiun untuk ras manusia, tapi Raja belum menemukan orang yang
pantas menggantikan posisinya.” Soli yang menjawab. Tak sadar terbawa obrolan. Posisi
pemilik benteng memang diwariskan kepada keturunan. Namun, posisi Jenderal
kerjaan tidak demikian.
“Setua itu masih mampu
bertarung?” Semua yang berada di dalam kereta berseru. Tak ada yang menyangka
bila orang yang akan memimpin mereka selama misi berlangsung sudah setua itu.
“Harusnya Raja segera
mengangkat Letnan Alexi menggantikan posisinya.”
“Bodoh. Kau tahu apa.
Selama ini Jenderal Roman selalu melindungi perbatasan sementara Letnan Alexi
pergi menyerang dan menangkap musuh yang berhasil menyusup masuk. Posisi
keduanya harus tetap ada.”
“Betul juga, tapi tak ada
Ksatria sebaik mereka lagi di kerajaan.”
Mendengar orang-orang
mulai mengobrol sendiri, Kyra mulai bisa memahami kondisi mereka saat ini.
Selain kecemasan pada serangan yang semakin banyak, tanah ini juga memiliki
kecemasan akan masa depan mereka.
Jika saja Tuan Putri
pemilik benteng mampu mengejar dan menggantikan posisi ayahnya, masalah
pertahanan kerajaan akan bisa diatasi. Kendatipun demikian, menjadi pemilik
benteng sekaligus Jenderal kerajaan bukan perkara mudah. Dia memang bisa
memanfaatkan kekuatan yang didapat dari Kura-kura Hitam, tapi itu hanya jika ia
bisa membangkitkan kekuatannya.
Melihat kondisi saat ini
mendapatkan satu kesimpulan. Tuan Putri belum mampu membangkitkan kekuatannya,
tapi kenapa dia sengaja mengungkap identitasnya?
“Meena, menurutku ada hal
lain yang disembunyikan dalam misi ini.” Kyra mendekati Meena. Bila dia sendiri
bisa membaca keadaan, Meena juga pasti bisa.
“Aku yakin ada dan kurang
lebih bisa menebaknya. Hanya saja –” Meena menggelengkan kepalanya. Dia tidak jadi
mengungkapkan dugaannya tanpa bukti. Sikap Meena itu membuat Kyra semakin
bingung. Apalagi karena Bara dan Soli sangat diam. Kedua orang itu seperti
tengah berpikir keras. Mencari dugaan lain yang masuk akal selain dari dugaan
terburuk yang tidak mereka harapkan.
“Apa? Kalian juga kenapa
diam?” Kyra celingak-celinguk.
Mereka telah sampai ke
halaman kastil. Orang-orang yang datang sebelum mereka telah berkumpul di sana.
Menunggu Jenderal menunjukkan dirinya. Sebagian masih terus berdatangan,
membuat suasana terasa tak nyaman.
***
Satu jam kemudian, pintu
kastil baru terbuka. Orang yang keluar bukanlah Jenderal Roman. Melainkan seorang
wanita yang terlihat berusia sekitar akhir dua puluhan. Ia memakai baju zirah
sang Letnan. Membawa trisula emas yang merupakan barang pusaka simbol
kepemilikan terhadap Benteng Barat.
Bara berdiri, menatap
lurus pada wanita di depan pintu. “Namanya Amara, Tuan Putri pemilik benteng.”
Puluhan tahun yang lalu mereka pernah bertemu, tetapi saat itu Amara hanyalah
gadis kecil yang cengeng. Bukan seorang yang mampu berdiri penuh karisma di
hadapan ratusan Petualang.
“Dia pengantinnya? Kok tak
terlihat kuat?” Meena tak percaya. Tak ada luapan energi apa pun dari Amara.
Bahkan bau Kura-kura Hitam pun tak tercium. Harusnya itu berarti kekuatannya
masih setingkat dengan Kyra.
Karena semakin kuat orang
itu, semakin kuat juga baunya. Bau api Phoenix Kyra awalnya juga tidak tercium
dan setelah kembali dari gunung api baru bisa tercium oleh Meena. Itulah kenapa
__ADS_1
dia yakin Amara sangatlah lemah.
“Mungkin dia pandai
menyembunyikan kekuatannya?” Kyra asal sahut saja. Aslinya dia tak bisa
mengukur kemampuan orang hanya dengan sekali lihat.
“Itu karena dia adalah
Dukun spesialis penyembuh. Wanita itu tak bisa apa-apa selain menyembuhkan.” Kalau
Soli memang sudah tahu. Sebab, ia mendapatkan banyak informasi tambahan dari
Raja secara langsung.
Hanya saja Soli heran,
kenapa Raja Nakula tidak memberitahukan padanya kalau Amara adalah pengantin
binatang mistik. Memang beliau juga tidak memberitahukan soal Kyra, tapi
setidaknya dia diberi tahu untuk melindungi si gadis api. Sedangkan Amara tidak
dipedulikan.
“Masa? Kenapa tak bilang
dari kemarin!” Meena kesal deh. Tahu begitu dia tak akan banyak berharap bisa
belajar dari Amara. Setidaknya dia bisa meningkatkan kemampuan bawaan, terbang
dan menggunakan sedikit kemampuan bertahan dengan sihir angin.
“Sihir air selain bagus
menjadi media sihir penyembuhan, juga sihir yang memiliki serangan besar dan
pertahanan mutlak. Mustahil dia tak bisa apa-apa sebagai pengantin binatang
mistik. Gadis itu harusnya punya cangkang kura-kura.” Bara yakin bila cangkang
adalah bagian tubuh yang menjadi ikatan mereka. Sama seperti darah pada Kyra
dan sayap pada Meena.
“Betul juga. Meena bisa
menggunakan sihir angin dari sayapnya untuk menyerang.”
“Dia pasti
menyembunyikannya. Ayo cari tahu!”
Mulai lagi. Kedua gadis
dalam regu mereka memang mudah sekali terpengaruh dan selalu ingin tahu. Baru
sampai sudah mau melakukan sesuatu.
“Kau awasi mereka,” suruh Bara.
Sudah bisa menebak apa yang akan dilakukan oleh Meena dan Kyra. Soli hanya bisa
menghela napas, pasrah menjadi bayangan pengawas gadis-gadis itu.
“Akulah yang mengajukan
misi pada kalian dan aku juga yang akan memimpin kalian selama di sini.” Di
saat yang sama, Amara mengucapkan sesuatu yang membuat orang-orang ribut.
Semuanya mengira mereka akan dipimpin oleh Jenderal Roman. Tak tahunya malah Amara
yang muncul dan sosok Jenderal itu sendiri tak terlihat.
“Siapa yang mau dipimpin
oleh seorang Dukun Penyembuh! Kau tak bisa bertarung, bagaimana bisa menghadapi
musuh!” Sebuah seruan dari keramaian memprovokasi.
“Panggil ayahmu keluar!”
“Kami tak mau berperang
dengan seorang pendukung!”
“Beraninya kalian menipu
kami!”
Selanjutnya, suara-suara
penolakan lain mulai menyusul. Bahkan kelompok Kyra dan kawan-kawan tak tahu
harus bagaimana menenangkan mereka.
“Tidak ada yang menipu
kalian! Misi diminta oleh pemilik Benteng Barat. Dan yang berdiri di depan
kalian ini adalah pemilik benteng yang baru! Tidak ada yang mengatakan bila
Jenderal Roman masih merupakan pemilik Benteng Barat.” Di saat itulah,
seseorang gadis muda keluar dari pintu kastil. Penampilannya seperti gadis umur
belasan tahun, tapi suaranya begitu kuat hingga mampu membungkam orang-orang
yang saling berteriak.
“Dia pengantinnya!”
Melihat gadis itu, Meena berseru. Bau Kura-kura Hitam dan tekanan kekuatan
besar keluar dari tubuh gadis muda itu, bukan dari Amara. Infonya salah.
“Nona Meena yakin?” Soli
tak percaya. Bagaimana bisa mereka mengelabui Serikat Dagang.
“Aku tak mungkin salah.
Lihat, Kyra juga bereaksi.” Api mulai keluar dari telapak tangan Kyra, seperti
ingin mengamuk terpancing oleh kekuatan air gadis muda itu.
“Dia sangat kuat,” ujar
Kyra.
Tak ada yang sadar kalau
gadis muda di belakang Amara menyisipkan sihir dalam kata-katanya, tapi Kyra
dan Meena sadar. Sebuah gelombang suara samar yang membuat orang-orang berhenti
berteriak. Bahkan mereka mendengarkan arahan Amara setelahnya. Padahal gadis
kecil yang tak diketahui namanya itu, hanya berdiri di sisi sang pemilik
benteng tanpa mengucapkan apa pun lagi. Dari itu saja, sudah cukup untuk membuktikan
__ADS_1
kekuatannya.