Phoenix Bride

Phoenix Bride
Episode 4


__ADS_3

Baru saja Kyra dan


teman-teman memasuki Danau Duyung, mereka sudah bisa merasakan bahaya yang


datang. Riak air bermunculan tak wajar, suara-suara serangga menghilang seakan


tengah bersembunyi dari predator buas.


Kereta kuda mengambil


jalan sejauh mungkin dari permukaan air danau. Namun, itu tidak menjamin


keamanan mereka. Bara telah berpindah posisi ke depan. Sebagai satu-satunya


orang yang bisa bertarung di dalam air, dia yang paling tahu akan sulitnya


keadaan bila manusia setengah ikan penghuni danau tersebut menarik mereka ke


dasar danau.


Bahkan Alexi terlihat


waspada. Berkali-kali sang Letnan bertukar pandang dengan Bara. Satu-satunya


rekan yang bisa dia percayai saat ini. Bawahannya kebanyakan berada di kelas


Prajurit, Kyra dan Meena pun jelas tak bisa diharapkan dalam pertarungan.


Firasat buruk mereka pun


terbukti. Belum setengah jalan melewati pinggir danau, para manusia ikan telah


naik ke daratan. Sosok mereka jauh dari kata cantik. Tubuh berwarna biru dan


hijau gelap, tangan dan kaki bersirip, tubuh yang dipenuhi oleh sisik dan wajah


menakutkan berhias gigi-gigi runcing yang mampu merobek daging begitu mudah.


“Khe ... khe ... khe ... lihat


siapa yang berani memasuki wilayah kita. Makanan yang lezat.” Tawa para Duyung


begitu aneh, sorot matanya penuh niat buruk. Siapa pun yang melihatnya akan


langsung paham, bila mencoba berbicara dengan makhluk-makhluk ini adalah


keputusan *****. Mereka hanya ingin menghancurkan, merobek tubuhmu dan


memakannya dengan lahap.


Alexi segera melompat


turun dari kereta kuda. “Akan kutahan mereka, cepatlah pergi!” Dia memutuskan


untuk melawan mereka sendiri dan meninggalkan sisanya pada Bara.


“Jangan mencuri pekerjaanku.


Inilah kenapa Raja membayar kami! Untuk memastikan kau tidak bekerja sendiri.”


Sayang sekali, gengsi Bara tak membiarkannya lari dari musuh. Elf itu ikut


melompat turun, meninggalkan rekan-rekannya di dalam kereta.


“Ah! Mengesalkan!


Lagi-lagi Bara begitu!” Meena marah-marah, mengeluarkan kepalanya dari kereta


kuda.


“Kalau begitu apa yang


harus kita lakukan, Meena?” Kyra yang berada di kereta lain menoleh ke


belakang, meminta saran apa yang harus mereka lakukan.


Kuda-kuda berlari semakin


kencang dan para bawahan Alexi mulai ragu. Tak ada perintah yang ditinggalkan. Meninggalkan


Bara dan Alexi di belakang atau kembali menolong mereka adalah keputusan yang


harus segera pilih.


Meena menggigit jarinya.


Bahkan dia tak berani mengambil perintah. Masalahnya kembali bisa berarti


menolong mereka, tapi juga bisa berakhir menyusahkan saja. Kedua orang itu


telah membukakan jalan. Bila mereka berhasil masuk ke Hutan Pinus, tak akan


lagi ada bahaya.


“Apa yang kalian


pusingkan? Tinggalkan mereka. Pinggir Hutan Pinus hanya berjarak lima kilometer


lagi.” Di antara kebingungan tersebut, Wasa memberi perintah.


Meena tersentak. Ia


teringat, bila selain Alexi, ada Wasa yang berhak memerintah mereka. Musang


satu ini tampak tenang, tak ada keraguan dalam keputusannya.


Tentunya Wasa tak asal


memberi perintah. Dia paham kemampuan Alexi dan Bara, rute perjalanan dan tahu


pasti apa prioritas mereka. Tak masalah meninggalkan kedua orang itu. Mereka


akan segera menyusul setelah menjatuhkan para Duyung.


“Meena, jadi apa yang


harus kita lakukan!?” Kyra kembali bertanya dari depan. Saat ini dia memimpin


rombongan. Dia pula yang paling cemas dan ingin kembali ke sana.


Meena keluar dari kereta


kuda, mengeluarkan sayap yang begitu gagah dari punggungnya. Dia terbang,


berpindah posisi ke kereta yang sama dengan Kyra. Sayap itu merupakan sayap


Naga, berwarna biru pucat dengan bagian runcing mirip tanduk di ujung


tulangnya.


“Sa-sayap apa itu!?” Kyra


terbelalak kaget. Setahunya Meena manusia, tapi kenapa gadis manis itu punya


sayap seekor Naga?


“Sayap pinjaman seseorang.


Percepat kudamu, Kyra. Ada beberapa Duyung yang mengejar. Tuan Wasa memutuskan


untuk meninggalkan Bara dan Letnan Alexi. Kita akan aman begitu memasuki


hutan.” Jawaban Meena kurang jelas. Kedatangannya untuk menginformasi, bukan


untuk membicarakan dirinya.


“Tapi – ”


“Kita hanya akan menjadi


beban mereka. Dalam menjalankan misi, ada kalanya kita harus berpisah dengan


rekan.”


Meena juga sulit menerima


keputusan ini, tapi dia seorang profesional. Mendengarkan perintah dari klien


dalam mempertimbangkan pilihan adalah bagian dari tugasnya.


Kyra sebenarnya tidak


setuju. Namun, bila mengingat kekacauan yang dia lakukan kemarin, kata ‘menjadi


beban’ itu benar-benar mampu mempengaruhinya.


“Sekarang, tugas kita akan


menghentikan mereka.” Mereka yang Meena maksudkan adalah dua ekor Duyung


berhasil menyusul. Mereka berada di kereta paling ujung, tengah berhadapan


dengan pasukan rombongan mereka.


“Kalau begitu aku akan


menghadapinya.”


Kyra melompat keluar


kereta, berdiri di atasnya berniat berlari melompati tiga kereta di


belakangnya. Ia mengepalkan tangan mengumpulkan semangat, menelan ludah


membuang rasa takut.


“Aku akan mendukungmu.


Buatlah api sebesar yang kau bisa, bakar sirip mereka.” Secara tiba-tiba Meena


mengangkat Kyra. Dia berada di belakang sang Penyihir, memegangi pinggang Kyra


dan membawa mereka ke atas langit.


Kyra tertakjub, tapi tak


ada waktu untuk kagum. Ada musuh yang harus mereka bereskan. “Majulah ke depan,


kami akan segera menyusul!” Meena telah menarik mundur pasukan, memercayakan


Wasa pada mereka.


“Baiklah, kalau begitu


kami akan menunggu di depan Hutan Pinus hingga malam hari! Pastikan teman


kalian dan Letnan juga menyusul!”

__ADS_1


“Kau dengar itu, Kyra. Aku


tak bisa bertarung, tapi aku bisa meningkatkan kemampuanmu. Kita harus menang.”


“Aku mengerti.”


Meena menurunkan Kyra, dia


sendiri masih melayang di atas setinggi dua meter. Sihir peningkatan


diaktifkan, memperkuat tiap serangan yang Kyra keluarkan sekaligus meningkatkan


kecepatan si gadis api.


Tubuh Kyra menjadi ringan.


Pukulannya menguat hingga mampu mementalkan musuhnya. Kepalan tangan yang


berbalur api juga meningkatkan efek serangan tersebut.


“Cih! Gadis setengah Naga


dan Penyihir Api rupanya!”


Seorang Duyung maju ke


depan. Ia mengeluarkan semburan air dari tangannya. Kyra berhasil mengelak,


berlari ke depan dan memukul perutnya dengan tangan kosong.


Di kata Penyihir, tapi


sebenarnya Kyra lebih jago beladiri. Hanya api yang membungkus tubuhnya yang


menjadikan ia seorang Penyihir. Akhirnya Meena bisa menemukan di mana


keunggulan Kyra. Bila begini keadaannya, kemungkinan persentase kemenangan


mereka akan lebih tinggi.


“Pukul kakinya, Kyra! Kaki


mereka lemah di daratan!”


“Tutup mulutmu!” teriak


Duyung yang lain. Dia meninggalkan Kyra pada rekannya. Mengalihkan serangan


pada Meena. Bola-bola air di lemparkan ke atas, dielaki dengan gesit oleh


Meena.


Melihat Meena mulai


diserang. Kyra menjadi sedikit panik sekaligus bersemangat. Serangan berikutnya


ia lancarkan. Sebuah tendangan yang terarah pada kaki lawannya.


Duyung itu melompati


tendangan Kyra, melompat ke depan mencengkeram kepala Kyra dengan tangan


dipenuhi oleh air.


Brak!


Kyra terlontar, terlentang


di atas tanah. Lawannya mendudukinya, membungkus kepala Kyra dengan bola air.


Meena ingin menolong, tapi saat akan mendekat, Duyung yang mengejarnya


menghalangi.


“Hahaha! Bagaimana rasanya


tak bisa bernapas di dalam air?” Ejekan menyebalkan pun terdengar, membuat Kyra


begitu frustrasi meronta-ronta.


Kemudian, dia teringat


akan kata-kata pedas Bara semalam. Juga ajaran Alexi di siang harinya. Dengan


susah-payah Kyra mengumpulkan energi di telapak tangan. Kemarin gagal, tapi


hari dia akan kembali bertaruh.


Api mulai berkobar, keluar


dari pori-pori kulit Kara. Panasnya bara itu mendidihkan air, membuat kulit


sang Duyung melepuh. Lawannya terpaksa melepaskan Kyra. Tepat di saat itu,


sebuah bom lava Kyra lemparkan.


“Arghhh!” Bersama dengan


jeritan itu, musuhnya terbakar dengan cepat, meleleh ditelan oleh cairan gunung


berapi itu.


Kyra bangkit berdiri,


memegangi lututnya terengah-engah mengumpulkan oksigen. Dia nyaris tak percaya


dengan apa yang terjadi. Dia hanya mencoba melemparkan api dan yang keluar


“Gadis sialan, terima


ini!”


“Kyra belakangmu!”


Kyra menoleh mendengar


teriak-teriakan itu. Matanya terbelakang mendapati sebuah sapuan ombak besar


yang menerjang tubuhnya. Menghanyutkannya ke arah danau tak jauh dari sana.


“Kyra, pegang tanganku!”


Meena segera mengejar Kyra. Ie mengulurkan tangan mencoba menangkap tangan


Kyra. Sayangnya kekuatan sapuan ombak itu lebih cepat daripada kecepatan


kepakan sayapnya.


Kyra tertarik ombak,


tubuhnya tenggelam. Dinginnya air membekukannya, mengingatkan kembali pada Kyra


bahwa sihir air adalah kelemahan terbesarnya.


“Kau selalu saja


menyusahkan.” Di saat itulah, Bara muncul dari arah berlawanan, mengangkatnya


keluar dari danau.


“Aku mendapatkannya!” Kyra


terbatuk-batuk mengeluarkan air dari mulutnya saat Bara menurunkannya ke atas


tanah. Di depannya, Meena menyusul bersama dengan Alexi. Sepertinya Letnan itu


telah membunuh Duyung yang membuat ombak tersebut.


“Ternyata kau berguna


juga!” Meena begitu kegirangan, memeluk Bara dengan terjangan mengagetkan.


“Kau mau memeluk atau


membunuhku!” Bara mengamuk, tak senang dengan cara Meena memujinya.


Syukurlah, meninggalkan


mereka adalah keputusan tepat. Kedua pria itu kembali hanya dengan luka-luka


kecil. Kyra tersenyum geli melihat kedua rekannya kembali bertengkar karena hal


kecil.


“Kau baik-baik saja?”


Alexi mengeringkan badan


Kyra dengan uap panas, mengulurkan tangannya membantu Kyra berdiri. Refleks


Kyra menerima tangan sang Letnan. Gadis itu begitu bingung, tak pernah terbiasa


diperhatikan oleh pria dengan tatapan dingin ini.


“Iya, aku tak terlalu lama


terendam air.” Kyra menunduk selama beberapa detik, kemudian ia mengangkat


kepalanya, menatap mata Alexi ragu-ragu.


“Terima kasih, sihir


serangan yang kau ajarkan kemarin menolongku tadi.” Tak ada jawaban dari


ungkapan terima kasihnya. Senyuman sekadar basa-basi pun tidak. Hanya elusan di


kepala yang membuat Kyra semakin bertanya-tanya, apa yang sebenarnya ada di


dalam benak Alexi?


Sebelum rasa penasaran


Kyra terjawab, Alexi telah meninggalkannya. Sang Letnan bertanya kepada Meena,


“Kenapa kau memiliki sayap Naga?”


“Nah itu! Aku juga


penasaran dari dulu. Kenapa si cebol ini bisa punya sayap Naga.” Bara ikut


penasaran, sama halnya dengan Kyra.


“Sudah kukatakan padamu


dulu, seseorang meminjamkannya padaku!”


“Siapa yang percaya hal

__ADS_1


bodoh begitu. Naga baik hati mana yang mau meminjamkan sayapnya!”


“Bara benar. Naga termasuk


salah satu dari Empat Makhluk Mistik Legendaris, raja penguasa angin.


Meminjamkan sayapnya memiliki arti yang dalam.”


“Empat Makhluk Mistik


Legendaris, apa itu?”


Ketiga orang itu langsung


menoleh kepada Kyra. Tak mereka sangka ada orang di dunia ini yang tidak tahu


akan sosok tertinggi yang bisa dianggap makhluk paling kuat dan abadi sepanjang


masa.


“Kepolosanmu jangan


dibiarkan! Jadi bodoh, kan!”


Bara menjitak kepala Kyra.


Dia tak habis pikir. Biar Kyra anak yang tumbuh di kota terpencil, tetap saja


keterlaluan jika tidak mengetahui akan keberadaan keempat sosok luar biasa itu.


“Tak usah marah segala,


biar aku yang kasih tahu!”


“Ya, kasih tahu yang benar


sana! Kenapa kau masih memukulku di sini!”


“Teman-teman, sudah dong!”


Meena seperti biasa,


selalu saja membela Kyra. Berakhir ribut dengan Bara. Kyra jadi terlupakan, tak


bisa menyela kalau mereka sudah ribut.


“Akan kuberitahukan


padamu, tapi apa kau sungguh tak tahu sama sekali? Apa orang tuamu tidak


mengajarkan?” Akhirnya Kyra berjalan bersama Alexi di belakang. Dia memasang


wajah polos ditanyai balik seperti itu.


“Aku diajarkan bela diri


dan menulis puisi.” Bela diri oke saja, tapi menulis puisi? Alexi tak habis


pikir apa yang dipikirkan oleh orang tua Kyra. Membiarkan anaknya menjadi Petualang


tanpa mengajarkan apa pun yang berguna.


“Kau harus belajar yang


giat mulai sekarang. Di dunia ini banyak makhluk berbahaya. Berpetualang tanpa


pengetahuan sama saja cari mati.”


“Iya, aku akan sering


bertanya pada Meena.”


Kyra melirik Alexi dengan


aneh. Katanya mau diberi tahu, tapi dia malah merasa diberi nasihat dan


dicemaskan secara berlebihan. Saat Alexi membalas tatapannya, dada Kyra seperti


diremas, ada rasa aneh membuat perasaannya tak karuan. Mungkin karena tampang


pria ini menakutkan, hingga rasa takutnya masih juga sering kembali meskipun


sudah terbiasa bersama.


“Katanya Letnan mau


memberitahukan soal Empat Makhluk Mistis Legendaris?” Tatapan Mata itu segera


Kyra putus. Pembicaraan pun segera dia alihkan kembali. Selain rasa penasaran,


keinginan untuk mengendalikan emosi tak diharapkan itu begitu mendesak.


Alexi tampaknya sadar akan


perasaan Kyra. Ia memilih mengalah, membiarkannya untuk sementara. Saat ini,


memberitahukan hal ini memang lebih mendesak.


“Ya, soal itu. Apa kau tahu,


di dunia ini ada empat ras paling kuat. Naga, Phoenix, Harimau Putih dan


Kura-Kura Hitam. Mereka dibilang legendaris bukan tanpa alasan. Selain jarang


bisa ditemui, mereka juga mempunyai kekuatan yang mampu menghancurkan atau


menyelamatkan dunia. Banyak cerita tentang mereka yang beredar, tapi tak pernah ada yang tahu kebenaran yang sungguhnya.”


“Lebih kuat dari Undead?”


Bila ada sosok yang seperti itu? Kenapa mereka membiarkan para Undead membuat


keonaran di seluruh dunia?


“Ya, mereka adalah keberadaan


yang spesial. Lebih kuat dan berkuasa, tapi tidak tertarik untuk mencampuri masalah


di dunia.” Kyra tak mengerti, kenapa mereka tak mau peduli saat bisa menolong?


Untuk apa keberadaannya jika hanya berperan sebagai penonton?


“Begitu,” gumam Kyra.


“Bicara soal itu, Raja


Nakula adalah seekor Naga. Kudengar dia yang terkuat di antara rasnya.” Mendadak,


Bara berjalan mundur ke belakang, menyambung obrolan Kyra dan Alexi.


Alexi mengernyitkan


kening. Kebenaran tentang sosok asli sang Raja adalah rahasia kerajaan. Bagaimana


mungkin bocor ke telinga seorang Petualang biasa?


“Makanya, aku dengar kalau


kau juga Naga. Bawahan setia, Raja. Apa benar, Alexi?” Bara bahkan bisa begitu


percaya diri bertanya kepadanya, membuktikan kalau Elf ini yakin akan sumber


informasinya.


“Aku tidak akan menjawab.


Daripada itu, dari siapa kau mendengar isu itu?” Bahkan para selir tak ada yang


tahu, lalu siapa yang membocorkan? Menteri? Mustahil, mereka akan dipecat bila


berani membuka mulut. Ksatria juga tidak, mereka terikat dengan sumpah oleh


sihir sang Raja.


“Meena memberitahukannya


padaku. Dia bilang Naga punya bau yang unik, dan saat melihat Raja Nakula dia


bisa langsung membedakan.” Meena merinding saat Bara menunjuknya, tatapan tajam


Alexi membuatnya takut.


“Manusia tidak bisa


membedakan bau Naga.” Pernyataan itu ditujukan kepada Meena. Gadis bertubuh


mungil yang menyimpan rahasia besar di dalam benaknya.


“Apa kau merahasiakan sesuatu?


Sejak awal aku merasa aneh melihatmu. Kau punya bau reptil yang kuat.” Lebih


tepatnya bau Naga, tapi Informasi Petualang Meena bertuliskan ras manusia dan


data itu tak bisa dipalsukan.


“Jangan mendesak Meena


begitu! Mungkin saja Meena bisa menggunakan sihir pemanggil! Katanya sihir itu bisa


mengikat perjanjian tertentu dengan makhluk lain!” Sadar Meena terdesak, Kyra


berpindah ke depan gadis kecil itu. Dia membela Meena, seperti Meena yang


selalu membelanya.


“Sihir Pemanggil ada untuk


memanggil Iblis dari dunia lain. Bukan ras lain, apalagi binatang mistik.”


Biarpun begitu, Alexi tetap saja mengotot. Dia menakuti para gadis, membuat


Bara jadi pusing sendiri. Apalagi dia yang memulai obrolan ini.


“Sudahlah, biarkan si


cebol itu. Kalau kau tak suka kami membicarakan Raja, akan kupastikan anggota


reguku menutup mulut.” Sebagai ketua ragu yang baik, Bara menghentikan Alexi. Mereka


berdebat sebentar, kemudian setuju untuk melupakan hal ini dengan syarat ketiga


orang itu menyimpan baik-baik rahasia akan sosok asli Raja Nakula.


Author’s Note :


Kelas Dukun merupakan

__ADS_1


pendukung dalam pertempuran. Baik itu menyembuhkan, meningkatkan kemampuan rekan,


atau memanggil Iblis dari dunia lain.


__ADS_2