
Baru saja Kyra dan
teman-teman memasuki Danau Duyung, mereka sudah bisa merasakan bahaya yang
datang. Riak air bermunculan tak wajar, suara-suara serangga menghilang seakan
tengah bersembunyi dari predator buas.
Kereta kuda mengambil
jalan sejauh mungkin dari permukaan air danau. Namun, itu tidak menjamin
keamanan mereka. Bara telah berpindah posisi ke depan. Sebagai satu-satunya
orang yang bisa bertarung di dalam air, dia yang paling tahu akan sulitnya
keadaan bila manusia setengah ikan penghuni danau tersebut menarik mereka ke
dasar danau.
Bahkan Alexi terlihat
waspada. Berkali-kali sang Letnan bertukar pandang dengan Bara. Satu-satunya
rekan yang bisa dia percayai saat ini. Bawahannya kebanyakan berada di kelas
Prajurit, Kyra dan Meena pun jelas tak bisa diharapkan dalam pertarungan.
Firasat buruk mereka pun
terbukti. Belum setengah jalan melewati pinggir danau, para manusia ikan telah
naik ke daratan. Sosok mereka jauh dari kata cantik. Tubuh berwarna biru dan
hijau gelap, tangan dan kaki bersirip, tubuh yang dipenuhi oleh sisik dan wajah
menakutkan berhias gigi-gigi runcing yang mampu merobek daging begitu mudah.
“Khe ... khe ... khe ... lihat
siapa yang berani memasuki wilayah kita. Makanan yang lezat.” Tawa para Duyung
begitu aneh, sorot matanya penuh niat buruk. Siapa pun yang melihatnya akan
langsung paham, bila mencoba berbicara dengan makhluk-makhluk ini adalah
keputusan *****. Mereka hanya ingin menghancurkan, merobek tubuhmu dan
memakannya dengan lahap.
Alexi segera melompat
turun dari kereta kuda. “Akan kutahan mereka, cepatlah pergi!” Dia memutuskan
untuk melawan mereka sendiri dan meninggalkan sisanya pada Bara.
“Jangan mencuri pekerjaanku.
Inilah kenapa Raja membayar kami! Untuk memastikan kau tidak bekerja sendiri.”
Sayang sekali, gengsi Bara tak membiarkannya lari dari musuh. Elf itu ikut
melompat turun, meninggalkan rekan-rekannya di dalam kereta.
“Ah! Mengesalkan!
Lagi-lagi Bara begitu!” Meena marah-marah, mengeluarkan kepalanya dari kereta
kuda.
“Kalau begitu apa yang
harus kita lakukan, Meena?” Kyra yang berada di kereta lain menoleh ke
belakang, meminta saran apa yang harus mereka lakukan.
Kuda-kuda berlari semakin
kencang dan para bawahan Alexi mulai ragu. Tak ada perintah yang ditinggalkan. Meninggalkan
Bara dan Alexi di belakang atau kembali menolong mereka adalah keputusan yang
harus segera pilih.
Meena menggigit jarinya.
Bahkan dia tak berani mengambil perintah. Masalahnya kembali bisa berarti
menolong mereka, tapi juga bisa berakhir menyusahkan saja. Kedua orang itu
telah membukakan jalan. Bila mereka berhasil masuk ke Hutan Pinus, tak akan
lagi ada bahaya.
“Apa yang kalian
pusingkan? Tinggalkan mereka. Pinggir Hutan Pinus hanya berjarak lima kilometer
lagi.” Di antara kebingungan tersebut, Wasa memberi perintah.
Meena tersentak. Ia
teringat, bila selain Alexi, ada Wasa yang berhak memerintah mereka. Musang
satu ini tampak tenang, tak ada keraguan dalam keputusannya.
Tentunya Wasa tak asal
memberi perintah. Dia paham kemampuan Alexi dan Bara, rute perjalanan dan tahu
pasti apa prioritas mereka. Tak masalah meninggalkan kedua orang itu. Mereka
akan segera menyusul setelah menjatuhkan para Duyung.
“Meena, jadi apa yang
harus kita lakukan!?” Kyra kembali bertanya dari depan. Saat ini dia memimpin
rombongan. Dia pula yang paling cemas dan ingin kembali ke sana.
Meena keluar dari kereta
kuda, mengeluarkan sayap yang begitu gagah dari punggungnya. Dia terbang,
berpindah posisi ke kereta yang sama dengan Kyra. Sayap itu merupakan sayap
Naga, berwarna biru pucat dengan bagian runcing mirip tanduk di ujung
tulangnya.
“Sa-sayap apa itu!?” Kyra
terbelalak kaget. Setahunya Meena manusia, tapi kenapa gadis manis itu punya
sayap seekor Naga?
“Sayap pinjaman seseorang.
Percepat kudamu, Kyra. Ada beberapa Duyung yang mengejar. Tuan Wasa memutuskan
untuk meninggalkan Bara dan Letnan Alexi. Kita akan aman begitu memasuki
hutan.” Jawaban Meena kurang jelas. Kedatangannya untuk menginformasi, bukan
untuk membicarakan dirinya.
“Tapi – ”
“Kita hanya akan menjadi
beban mereka. Dalam menjalankan misi, ada kalanya kita harus berpisah dengan
rekan.”
Meena juga sulit menerima
keputusan ini, tapi dia seorang profesional. Mendengarkan perintah dari klien
dalam mempertimbangkan pilihan adalah bagian dari tugasnya.
Kyra sebenarnya tidak
setuju. Namun, bila mengingat kekacauan yang dia lakukan kemarin, kata ‘menjadi
beban’ itu benar-benar mampu mempengaruhinya.
“Sekarang, tugas kita akan
menghentikan mereka.” Mereka yang Meena maksudkan adalah dua ekor Duyung
berhasil menyusul. Mereka berada di kereta paling ujung, tengah berhadapan
dengan pasukan rombongan mereka.
“Kalau begitu aku akan
menghadapinya.”
Kyra melompat keluar
kereta, berdiri di atasnya berniat berlari melompati tiga kereta di
belakangnya. Ia mengepalkan tangan mengumpulkan semangat, menelan ludah
membuang rasa takut.
“Aku akan mendukungmu.
Buatlah api sebesar yang kau bisa, bakar sirip mereka.” Secara tiba-tiba Meena
mengangkat Kyra. Dia berada di belakang sang Penyihir, memegangi pinggang Kyra
dan membawa mereka ke atas langit.
Kyra tertakjub, tapi tak
ada waktu untuk kagum. Ada musuh yang harus mereka bereskan. “Majulah ke depan,
kami akan segera menyusul!” Meena telah menarik mundur pasukan, memercayakan
Wasa pada mereka.
“Baiklah, kalau begitu
kami akan menunggu di depan Hutan Pinus hingga malam hari! Pastikan teman
kalian dan Letnan juga menyusul!”
__ADS_1
“Kau dengar itu, Kyra. Aku
tak bisa bertarung, tapi aku bisa meningkatkan kemampuanmu. Kita harus menang.”
“Aku mengerti.”
Meena menurunkan Kyra, dia
sendiri masih melayang di atas setinggi dua meter. Sihir peningkatan
diaktifkan, memperkuat tiap serangan yang Kyra keluarkan sekaligus meningkatkan
kecepatan si gadis api.
Tubuh Kyra menjadi ringan.
Pukulannya menguat hingga mampu mementalkan musuhnya. Kepalan tangan yang
berbalur api juga meningkatkan efek serangan tersebut.
“Cih! Gadis setengah Naga
dan Penyihir Api rupanya!”
Seorang Duyung maju ke
depan. Ia mengeluarkan semburan air dari tangannya. Kyra berhasil mengelak,
berlari ke depan dan memukul perutnya dengan tangan kosong.
Di kata Penyihir, tapi
sebenarnya Kyra lebih jago beladiri. Hanya api yang membungkus tubuhnya yang
menjadikan ia seorang Penyihir. Akhirnya Meena bisa menemukan di mana
keunggulan Kyra. Bila begini keadaannya, kemungkinan persentase kemenangan
mereka akan lebih tinggi.
“Pukul kakinya, Kyra! Kaki
mereka lemah di daratan!”
“Tutup mulutmu!” teriak
Duyung yang lain. Dia meninggalkan Kyra pada rekannya. Mengalihkan serangan
pada Meena. Bola-bola air di lemparkan ke atas, dielaki dengan gesit oleh
Meena.
Melihat Meena mulai
diserang. Kyra menjadi sedikit panik sekaligus bersemangat. Serangan berikutnya
ia lancarkan. Sebuah tendangan yang terarah pada kaki lawannya.
Duyung itu melompati
tendangan Kyra, melompat ke depan mencengkeram kepala Kyra dengan tangan
dipenuhi oleh air.
Brak!
Kyra terlontar, terlentang
di atas tanah. Lawannya mendudukinya, membungkus kepala Kyra dengan bola air.
Meena ingin menolong, tapi saat akan mendekat, Duyung yang mengejarnya
menghalangi.
“Hahaha! Bagaimana rasanya
tak bisa bernapas di dalam air?” Ejekan menyebalkan pun terdengar, membuat Kyra
begitu frustrasi meronta-ronta.
Kemudian, dia teringat
akan kata-kata pedas Bara semalam. Juga ajaran Alexi di siang harinya. Dengan
susah-payah Kyra mengumpulkan energi di telapak tangan. Kemarin gagal, tapi
hari dia akan kembali bertaruh.
Api mulai berkobar, keluar
dari pori-pori kulit Kara. Panasnya bara itu mendidihkan air, membuat kulit
sang Duyung melepuh. Lawannya terpaksa melepaskan Kyra. Tepat di saat itu,
sebuah bom lava Kyra lemparkan.
“Arghhh!” Bersama dengan
jeritan itu, musuhnya terbakar dengan cepat, meleleh ditelan oleh cairan gunung
berapi itu.
Kyra bangkit berdiri,
memegangi lututnya terengah-engah mengumpulkan oksigen. Dia nyaris tak percaya
dengan apa yang terjadi. Dia hanya mencoba melemparkan api dan yang keluar
“Gadis sialan, terima
ini!”
“Kyra belakangmu!”
Kyra menoleh mendengar
teriak-teriakan itu. Matanya terbelakang mendapati sebuah sapuan ombak besar
yang menerjang tubuhnya. Menghanyutkannya ke arah danau tak jauh dari sana.
“Kyra, pegang tanganku!”
Meena segera mengejar Kyra. Ie mengulurkan tangan mencoba menangkap tangan
Kyra. Sayangnya kekuatan sapuan ombak itu lebih cepat daripada kecepatan
kepakan sayapnya.
Kyra tertarik ombak,
tubuhnya tenggelam. Dinginnya air membekukannya, mengingatkan kembali pada Kyra
bahwa sihir air adalah kelemahan terbesarnya.
“Kau selalu saja
menyusahkan.” Di saat itulah, Bara muncul dari arah berlawanan, mengangkatnya
keluar dari danau.
“Aku mendapatkannya!” Kyra
terbatuk-batuk mengeluarkan air dari mulutnya saat Bara menurunkannya ke atas
tanah. Di depannya, Meena menyusul bersama dengan Alexi. Sepertinya Letnan itu
telah membunuh Duyung yang membuat ombak tersebut.
“Ternyata kau berguna
juga!” Meena begitu kegirangan, memeluk Bara dengan terjangan mengagetkan.
“Kau mau memeluk atau
membunuhku!” Bara mengamuk, tak senang dengan cara Meena memujinya.
Syukurlah, meninggalkan
mereka adalah keputusan tepat. Kedua pria itu kembali hanya dengan luka-luka
kecil. Kyra tersenyum geli melihat kedua rekannya kembali bertengkar karena hal
kecil.
“Kau baik-baik saja?”
Alexi mengeringkan badan
Kyra dengan uap panas, mengulurkan tangannya membantu Kyra berdiri. Refleks
Kyra menerima tangan sang Letnan. Gadis itu begitu bingung, tak pernah terbiasa
diperhatikan oleh pria dengan tatapan dingin ini.
“Iya, aku tak terlalu lama
terendam air.” Kyra menunduk selama beberapa detik, kemudian ia mengangkat
kepalanya, menatap mata Alexi ragu-ragu.
“Terima kasih, sihir
serangan yang kau ajarkan kemarin menolongku tadi.” Tak ada jawaban dari
ungkapan terima kasihnya. Senyuman sekadar basa-basi pun tidak. Hanya elusan di
kepala yang membuat Kyra semakin bertanya-tanya, apa yang sebenarnya ada di
dalam benak Alexi?
Sebelum rasa penasaran
Kyra terjawab, Alexi telah meninggalkannya. Sang Letnan bertanya kepada Meena,
“Kenapa kau memiliki sayap Naga?”
“Nah itu! Aku juga
penasaran dari dulu. Kenapa si cebol ini bisa punya sayap Naga.” Bara ikut
penasaran, sama halnya dengan Kyra.
“Sudah kukatakan padamu
dulu, seseorang meminjamkannya padaku!”
“Siapa yang percaya hal
__ADS_1
bodoh begitu. Naga baik hati mana yang mau meminjamkan sayapnya!”
“Bara benar. Naga termasuk
salah satu dari Empat Makhluk Mistik Legendaris, raja penguasa angin.
Meminjamkan sayapnya memiliki arti yang dalam.”
“Empat Makhluk Mistik
Legendaris, apa itu?”
Ketiga orang itu langsung
menoleh kepada Kyra. Tak mereka sangka ada orang di dunia ini yang tidak tahu
akan sosok tertinggi yang bisa dianggap makhluk paling kuat dan abadi sepanjang
masa.
“Kepolosanmu jangan
dibiarkan! Jadi bodoh, kan!”
Bara menjitak kepala Kyra.
Dia tak habis pikir. Biar Kyra anak yang tumbuh di kota terpencil, tetap saja
keterlaluan jika tidak mengetahui akan keberadaan keempat sosok luar biasa itu.
“Tak usah marah segala,
biar aku yang kasih tahu!”
“Ya, kasih tahu yang benar
sana! Kenapa kau masih memukulku di sini!”
“Teman-teman, sudah dong!”
Meena seperti biasa,
selalu saja membela Kyra. Berakhir ribut dengan Bara. Kyra jadi terlupakan, tak
bisa menyela kalau mereka sudah ribut.
“Akan kuberitahukan
padamu, tapi apa kau sungguh tak tahu sama sekali? Apa orang tuamu tidak
mengajarkan?” Akhirnya Kyra berjalan bersama Alexi di belakang. Dia memasang
wajah polos ditanyai balik seperti itu.
“Aku diajarkan bela diri
dan menulis puisi.” Bela diri oke saja, tapi menulis puisi? Alexi tak habis
pikir apa yang dipikirkan oleh orang tua Kyra. Membiarkan anaknya menjadi Petualang
tanpa mengajarkan apa pun yang berguna.
“Kau harus belajar yang
giat mulai sekarang. Di dunia ini banyak makhluk berbahaya. Berpetualang tanpa
pengetahuan sama saja cari mati.”
“Iya, aku akan sering
bertanya pada Meena.”
Kyra melirik Alexi dengan
aneh. Katanya mau diberi tahu, tapi dia malah merasa diberi nasihat dan
dicemaskan secara berlebihan. Saat Alexi membalas tatapannya, dada Kyra seperti
diremas, ada rasa aneh membuat perasaannya tak karuan. Mungkin karena tampang
pria ini menakutkan, hingga rasa takutnya masih juga sering kembali meskipun
sudah terbiasa bersama.
“Katanya Letnan mau
memberitahukan soal Empat Makhluk Mistis Legendaris?” Tatapan Mata itu segera
Kyra putus. Pembicaraan pun segera dia alihkan kembali. Selain rasa penasaran,
keinginan untuk mengendalikan emosi tak diharapkan itu begitu mendesak.
Alexi tampaknya sadar akan
perasaan Kyra. Ia memilih mengalah, membiarkannya untuk sementara. Saat ini,
memberitahukan hal ini memang lebih mendesak.
“Ya, soal itu. Apa kau tahu,
di dunia ini ada empat ras paling kuat. Naga, Phoenix, Harimau Putih dan
Kura-Kura Hitam. Mereka dibilang legendaris bukan tanpa alasan. Selain jarang
bisa ditemui, mereka juga mempunyai kekuatan yang mampu menghancurkan atau
menyelamatkan dunia. Banyak cerita tentang mereka yang beredar, tapi tak pernah ada yang tahu kebenaran yang sungguhnya.”
“Lebih kuat dari Undead?”
Bila ada sosok yang seperti itu? Kenapa mereka membiarkan para Undead membuat
keonaran di seluruh dunia?
“Ya, mereka adalah keberadaan
yang spesial. Lebih kuat dan berkuasa, tapi tidak tertarik untuk mencampuri masalah
di dunia.” Kyra tak mengerti, kenapa mereka tak mau peduli saat bisa menolong?
Untuk apa keberadaannya jika hanya berperan sebagai penonton?
“Begitu,” gumam Kyra.
“Bicara soal itu, Raja
Nakula adalah seekor Naga. Kudengar dia yang terkuat di antara rasnya.” Mendadak,
Bara berjalan mundur ke belakang, menyambung obrolan Kyra dan Alexi.
Alexi mengernyitkan
kening. Kebenaran tentang sosok asli sang Raja adalah rahasia kerajaan. Bagaimana
mungkin bocor ke telinga seorang Petualang biasa?
“Makanya, aku dengar kalau
kau juga Naga. Bawahan setia, Raja. Apa benar, Alexi?” Bara bahkan bisa begitu
percaya diri bertanya kepadanya, membuktikan kalau Elf ini yakin akan sumber
informasinya.
“Aku tidak akan menjawab.
Daripada itu, dari siapa kau mendengar isu itu?” Bahkan para selir tak ada yang
tahu, lalu siapa yang membocorkan? Menteri? Mustahil, mereka akan dipecat bila
berani membuka mulut. Ksatria juga tidak, mereka terikat dengan sumpah oleh
sihir sang Raja.
“Meena memberitahukannya
padaku. Dia bilang Naga punya bau yang unik, dan saat melihat Raja Nakula dia
bisa langsung membedakan.” Meena merinding saat Bara menunjuknya, tatapan tajam
Alexi membuatnya takut.
“Manusia tidak bisa
membedakan bau Naga.” Pernyataan itu ditujukan kepada Meena. Gadis bertubuh
mungil yang menyimpan rahasia besar di dalam benaknya.
“Apa kau merahasiakan sesuatu?
Sejak awal aku merasa aneh melihatmu. Kau punya bau reptil yang kuat.” Lebih
tepatnya bau Naga, tapi Informasi Petualang Meena bertuliskan ras manusia dan
data itu tak bisa dipalsukan.
“Jangan mendesak Meena
begitu! Mungkin saja Meena bisa menggunakan sihir pemanggil! Katanya sihir itu bisa
mengikat perjanjian tertentu dengan makhluk lain!” Sadar Meena terdesak, Kyra
berpindah ke depan gadis kecil itu. Dia membela Meena, seperti Meena yang
selalu membelanya.
“Sihir Pemanggil ada untuk
memanggil Iblis dari dunia lain. Bukan ras lain, apalagi binatang mistik.”
Biarpun begitu, Alexi tetap saja mengotot. Dia menakuti para gadis, membuat
Bara jadi pusing sendiri. Apalagi dia yang memulai obrolan ini.
“Sudahlah, biarkan si
cebol itu. Kalau kau tak suka kami membicarakan Raja, akan kupastikan anggota
reguku menutup mulut.” Sebagai ketua ragu yang baik, Bara menghentikan Alexi. Mereka
berdebat sebentar, kemudian setuju untuk melupakan hal ini dengan syarat ketiga
orang itu menyimpan baik-baik rahasia akan sosok asli Raja Nakula.
Author’s Note :
Kelas Dukun merupakan
__ADS_1
pendukung dalam pertempuran. Baik itu menyembuhkan, meningkatkan kemampuan rekan,
atau memanggil Iblis dari dunia lain.