
Matahari telah terbenam,
menarik cahaya kembali ke ufuk barat. Rombongan penjemput calon selir
memutuskan untuk beristirahat di bawah bukit dekat Danau Duyung. Mereka keluar
dari kereta kuda, mengeluarkan perbekalan secukupnya. Letnan Alexi yang
mengatur segalanya, memastikan para prajurit yang ikut dengannya menempati
posisi tertentu demi menjaga keamanan Wasa.
Para Petualang tidak
tinggal diam, mereka juga melakukan pemeriksaan singkat sebelum bergabung di
tengah tenda-tenda yang baru saja dibangun. Keseriusan Bara sebagai pemimpin
regu mulai tampak. Sang Elf mengumpulkan rekan-rekannya.
“Dengar, sepintas tempat
ini terlihat aman, tapi sebenarnya tidak. Banyak isu yang simpang siur mengenai
monster laba-laba yang sering muncul di malam hari. Pastikan kalian bersiaga.
Terutama kamu, Kyra.”
“Siap! Aku akan sangat berhati-hati!”
Kyra menjawab begitu antusias.
“Kalau begitu aku akan
menemani – ”
“Pergi ke dekat Tuan Wasa,
Meena. Melindunginya saat ini adalah prioritas utama kita.”
Meena ternganga, keisengan
Bara tak habis-habisnya. Setelah sepanjang hari dia harus menelan kekesalan
menemani musang itu, malamnya pun ... dia ditempatkan di dekat sang Menteri.
“Kenapa selalu aku!” Gadis
imut itu menghentakkan kakinya kesal. Kedua tangannya pun diguncang-guncang saking
gemasnya.
“Kau favoritnya. Aku harus
mengawasi Kyra dan memastikan menjaga parameter.” Ugh, alasan Bara begitu
profesional. Bagaimana Meena bisa mengeluh lagi. Dia hanya akan terlihat
terlalu manja.
“Huft! Elf tua bodoh!” Meena meninggalkan Bara dan Kyra, kembali ke sisi
musang tua yang terlihat begitu senang menantikan kedatangannya.
“Kenapa kamu selalu
membuat Meena kesal?”
“Perasaanmu saja. Ikut
denganku, jangan banyak tanya.”
Kyra mengecutkan bibirnya,
ikut dengan patuh. Bara kadang baik, tapi kadang menyebalkan. Beradaptasi dengan
regu baru ini agak sulit karena seringnya mereka berselisih, hingga Kyra selalu
merasa tersisihkan.
Namun, Bara tidak punya
niat demikian. Mulutnya memang pedas dan Meena gampang merajuk. Dengan Kyra
lebih mudah berkomunikasi, meskipun anggota termuda regunya itu kurang berguna.
Bara berhenti di bawah
tumpukan bebatuan berjarak lima meter dari tenda utama. Dia menunjuk pada
sebuah lubang hitam mirip gua mini di antara celah-celah tumpukan batu
tersebut.
“Lihat ini baik-baik, batu
di sekitar sini berwarna hitam. Itu artinya monster laba-laba bukan hanya isu.”
“Oh ....” Kyra
mengangguk-angguk. Bila ditanya tentang pengetahuan umum, dia benar-benar tidak
tahu.
“Kau paham maksudku?”
“Mereka keluar dari sana,
tapi lubangnya kok kecil?
Bara tepuk jidat. Si polos
ini tak benar-benar paham. Sejak awal saja, yang namanya monster itu tidak
selalu mengenai ukuran. Tampaknya masalah utama Bara bukan hanya harus
mengajarkan tentang sihir, tetapi juga hal-hal kecil lainnya.
“Maksudku, mereka
meninggalkan racunnya di sini.”
“Terus?” Reaksi Kyra itu
... ingin rasanya Bara menjitaknya.
“Bakar setiap kali kau
melihat bercak hitam seperti ini atau serangga apa pun yang muncul. Kalau hanya
itu, kau bisa, kan?”
Kyra sebenarnya beruntung.
Kelemahan monster laba-laba adalah api yang merupakan kekuatan utamanya. Seharusnya
Kyra tak akan mendapatkan masalah disuruh berkeliling melakukan pembersihan.
“Serahkan padaku. Akan
kubakar semua!”
“Awas, jangan sampai
membakar tanaman atau tenda kita!”
“Iya, percaya sedikit
dong!”
“Panggil aku kalau
serangga yang muncul banyak!”
“Iya, Baraaa.”
Bara mau pergi saja
pesannya banyak, saking tak percaya dengan Kyra. Tiap jawaban riang yang dia
terima tak pernah membuatnya merasa puas. Namun, dia harus segera memisahkan
diri.
Tak jauh dari sana, ada
sekumpulan bandit yang telah mengikuti mereka dari siang. Bara dan Alexi telah
menyadarinya. Mereka sengaja membiarkan rombongan diikuti karena tahu
bandit-bandit itu tak akan menyerang sampai malam.
__ADS_1
Bara bertatapan singkat
dengan Alexi sebelum meninggalkan perkemahan mereka. Sebagai kode bahwa dia
akan pergi mengurus bandit-bandit itu dan memercayakan keamanan di sini kepada
sang Letnan.
“Segeralah kembali,” ujar
Alexi.
Bara mengangguk. Kemudian
melesat pergi, menghilang di antara gelapnya malam. Kepergian Bara disadari
oleh Meena. Gadis bertubuh mungil itu segera mengalihkan pandangan kepada Kyra.
Rekannya sedang asyik bermain api, membakar makhluk-makhluk kecil di dekat
bebatuan. Dia langsung mengerti. Si sombong Bara lagi-lagi bertindak sendiri.
Meena menghampiri Alexi. “Apa
sesuatu terjadi?” Ia bertanya karena tahu Bara pastilah melapor sebelum pergi.
“Tak ada masalah serius.
Kembalilah pada posisimu.” Betapa kesalnya Meena. Kedua laki-laki itu sama
menyebalkannya.
“Ya sudah!” Dukun mungil
itu kembali merajuk. Kelihatannya tak peduli lagi, tapi sebenarnya dia tetap
mengawasi sekitar.
Setelah beberapa waktu,
Kyra sudah selesai melakukan pembersihan. Dia berkumpul dengan para prajurit
yang tengah mengitari api unggun. Roti yang tengah ia makan masih menyangkut di
mulut, tapi tak ia kunyah karena gugup ditatap lekat-lekat oleh Alexi.
Pria misterius itu
bersandar pada pohon tak jauh dari sana, tapi entah kenapa matanya selalu terus
mengawasi Kyra. Agaknya seperti punya niat terselubung. Bagaimana Kyra bisa
merasa tenang?
“Apa aku membuat Letnan
kalian marah?” Kyra mulai konsultasi. Pada siapa pun tak masalah. Karena dia
selalu terbuka bahkan kepada orang yang baru dikenal.
“Tidak kok, santai saja.
Letnan Alexi memang selalu terlihat marah.”
“Wajahnya terlahir seram.
Mungkin karena dia seorang Naga.”
“Letnan Naga?” Kyra kaget,
tapi dia juga paham sekarang. Dari mana asal mata dan rambut berwarna merah mencolok
itu.
“Sembarangan! Siapa yang
bilang, kudengar dia serigala.”
“Itu juga hanya isu.”
Sekarang, semuanya tampak buyar. Bahkan bawahan Alexi tak tahu wujud aslinya. Mereka
hanya yakin kalau Alexi termasuk ke dalam ras binatang buas.
Rasa penasaran Kyra tak
pernah terjawab. Semakin lama mereka bergosip, semakin banyak juga kecurigaan
Sekali lagi Kyra dan Alexi
saling bertemu pandang, bertukar rasa asing yang tak dia kenal. Dan kemudian,
momen berharga itu hancur dengan sekejap mata.
“Grauuuw!” Suara amukan datang dari arah bebatuan, diiringi dengan gempa
ringan yang menjatuhkan batu-batu kecil dari atas bukti.
“Lindungi Tuan Wasa!”
Alexi memberi perintah, menggerakkan para prajurit berkumpul di satu posisi.
Dia sendiri berdiri di depan sang monster. Laba-laba raksasa berukuran
berkali-kali lipat dari yang pernah Kyra lihat.
“BERANINYA KALIAN MEMBUNUH
ANAK-ANAKKU!” Anak-anak itu pastilah makhluk-makhluk kecil yang Kyra bakar
tadi.
“A-apa aku membuatnya
marah?” Kyra berdiri di belakang Alexi. Dia menelan ludah, takut kalau semua ini
karena kesalahannya.
“Tak usah dipikirkan. Dia
tetap akan menyerang sekalipun kita tak berbuat apa pun.” Suara Alexi menenangkan
Kyra, tapi tak dapat membantu saat salah satu kaki laba-laba menerjangnya.
“Ah!” Kyra menjerit.
Sekalipun dia sempat
melompat, tapi bagian depan perutnya sempat tersayat. Keabadian Kyra memang
luar biasa, tapi tidak dapat menyembuhkan lukanya dengan cepat. Dengan kata
lain, hanya bisa digunakan ketika dia telah mati.
Gadis itu terduduk di atas
tanah, gemetaran menatap raksasa menakutkan di depan matanya. Dia tak pernah
tahu, bila menjadi seorang Petualang akan membawanya pada keadaan seperti ini.
Ketika serangan susulan
datang, ia menutup matanya. Di saat itulah, Alexi menolong. Sang Letnan mengeluarkan
sebuah pedang yang dilapisi oleh sihir api. Panasnya kobaran api dan tajamnya
bilah pedang menyayat kaki sang laba-laba, memutusnya dalam sekali serang.
Begitu mata Kyra kembali ia
buka, pemandangan heroik yang ia impikan terlihat luar biasa di hadapannya.
Alexi tengah berhadapan satu per satu dengan raksasa itu. Lompat tinggi dan
gesit saat menghindari semburan jaring sangatlah keren. Begitu memesona hingga
Kyra lupa akan rasa sakitnya.
Semburan jaring kedua
terlontar ke arah Kyra. Tak sempat Alexi hentikan karena dia terlalu disibukkan
oleh ayunan kaki laba-laba yang tak ada habis-habisnya. Prajurit lainnya pun
tengah sibuk menghadapi banyaknya pasukan laba-laba berukur setinggi satu meter
yang mulai berdatangan.
“Kyra, lakukan yang
kuajarkan padamu tadi siang!”
__ADS_1
Kyra tersentak oleh
teriakan Alexi. Dia segera berdiri, mengumpulkan energi sihirnya di telapak
tangan. Sayangnya usaha itu tak mudah. Dia bisa membuat api mengelilingi
tubuhnya, tapi tidak dengan melepaskan sebuah ledakan.
“Argh!” Alhasil, tubuh
Kyra terlilit oleh jaring sang monster. Tulangnya berasa remuk, terikat dengan
kuat oleh jaring tersebut.
Biarpun api Kyra terus
keluar dari pori-pori kulitnya dan membakar jaring-jaring itu, tapi selalu ada
jaring baru yang mengikatnya kembali sebelum ia bisa meloloskan diri.
“Jangan menyerah, ledakan
ikatannya!” Alexi jadi tak fokus. Keadaan Kyra membuatnya cemas dan cewek itu
terlihat mulai kesulitan bernapas.
Alexi berdecak kesal. Dari
ujung jarinya keluar kobaran bara api sebesar api dari pematik. Dia baru saja akan
melontarkan api itu, tetapi puluhan tombak es telah datang lebih dulu memotong
jaring yang melilit tubuh Kyra.
Kyra terjatuh dan segera
ditangkap oleh si pembuat tombak. “Ckck ... kalian sungguh menyedihkan tanpa
kehadiranku.” Ya, orang itu adalah Bara. Elf salju dengan kepercayaan diri
terlalu tinggi.
Kyra menghela napas lelah,
kehilangan kesadarannya seketika. Tentu itu bukan berarti masalah mereka
selesai. Raksasa laba-laba masih memiliki separuh kaki dan anak-anaknya
semakin banyak berdatangan.
“Urus dia, Meena.
Tunjukkan keahlianmu. Biar kubereskan mereka segera.”
“Hati-hati bodoh!”
Bara melemparkan Kyra pada
Meena. Protes dari si gadis Dukun ia abaikan. Pengembara itu telah maju ke
depan, mendampingi Alexi menangani keadaan.
“Terima kasih.”
“Tak usah dipikirkan. Toh
Kyra memang tanggung jawabku.”
Setelahnya keadaan berbalik.
Dengan bantuan Bara, dan Alexi yang bisa fokus tanpa perlu mencemaskan Kyra,
kekacauan itu bisa segera teratasi. Kerja sama baik antara pengguna sihir api
dan air itu begitu luar biasa.
Bara dengan ahlinya
memancing sang monster, membuatnya fokus mengejar sang Elf. Memanfaatkan hal
itu, Alexi membangun sebuah bola api sebesar ukuran tubuh lawannya, dilemparkan
pada punggung laba-laba.
Seketika itu, amukan dan
jeritan kesakitan menggema. Menakuti laba-laba kecil. Mereka berlarian, kabur
meninggalkan bos yang kini mulai terbakar tak bersisa.
Selesai. Ketegangan
singkat itu pun berakhir saat monster laba-laba tewas. Meninggalkan bekas-bekas
pertempuran yang menjadi saksi akan cerita heroik mereka.
Kyra baru membuka matanya
beberapa saat kemudian. Luka-lukanya sudah sembuh berkat sihir penyembuhan dari Meena.
Namun, luka hatinya justru membekas. Kenyataan bila dirinya memang tak berguna
dan menyusahkan membuat Kyra marah pada dirinya sendiri. Keinginan menjadi kuat
semakin berkembang.
“Syukurlah! Aku takut
sekali tadi!” Pelukan erat Meena terasa begitu hangat dan menyayat hati. Tidak
ada yang menyalahkannya. Mereka mengerti dia hanya pemula, tapi Kyra tidak
merasa puas dimaklumi seperti itu.
“Jadi keabadianmu tidak
termasuk kemampuan regenerasi? Sama saja kurang berguna.” Kata-kata tajam Bara
menambah luka itu, membuat Kyra mulai berpikir yang tidak-tidak.
“Apa ... kau menyesal
merekrutku?” Pertanyaan seperti itu pun terlontarkan. Mengagetkan Bara,
sekaligus membuat Meena kesal.
“Bicara apa sih! Tak
apa-apa tak punya kemampuan regenerasi. Itu tugasku, menyembuhkan kalian saat
terluka!” Regu mereka punya Meena sebagai Dukun Penyembuh. Kalau sampai Bara
berani menjawab iya, akan Meena cakar muka Elf dingin tak sensitif itu.
“Aku bukan orang plin-plan
yang akan menyesali keputusanku sendiri. Kalau kau sadar diri tak berguna, maka
berlatih keraslah agar menjadi berguna di lain waktu.” Kata-kata Bara tetap
saja kasar, tetapi belaian tangannya pada kepala Kyra terasa lembut. Kyra
menangis terharu, mengangguk merasa bersyukur memiliki rekan-rekan yang luar
biasa.
“Ap-apaan! Kenapa kau
masih saja menangis!?”
“Itu salahmu! Bodoh!
Bodoh! Elf tua bodoh!”
“Hentikan, Meena! Kau
pikir mencakar muka orang itu imut!?”
Kemudian, tingkah Meena
dan Bara membuat Kyra tertawa. Segala emosi negatif itu hilang begitu saja.
Bara benar, dia tak bisa melakukan apa pun pada sesuatu yang telah terjadi,
tapi lain kali dia akan berusaha lebih keras sebelum menyerah.
Author’s Note :
Kelas Prajurit merupakan penyerang
garis depan yang mengandalkan kemampuan fisik dan otot. Kebanyakan dari mereka
__ADS_1
tidak bisa menggunakan sihir.