Phoenix Bride

Phoenix Bride
Episode 3


__ADS_3

Matahari telah terbenam,


menarik cahaya kembali ke ufuk barat. Rombongan penjemput calon selir


memutuskan untuk beristirahat di bawah bukit dekat Danau Duyung. Mereka keluar


dari kereta kuda, mengeluarkan perbekalan secukupnya. Letnan Alexi yang


mengatur segalanya, memastikan para prajurit yang ikut dengannya menempati


posisi tertentu demi menjaga keamanan Wasa.


Para Petualang tidak


tinggal diam, mereka juga melakukan pemeriksaan singkat sebelum bergabung di


tengah tenda-tenda yang baru saja dibangun. Keseriusan Bara sebagai pemimpin


regu mulai tampak. Sang Elf mengumpulkan rekan-rekannya.


“Dengar, sepintas tempat


ini terlihat aman, tapi sebenarnya tidak. Banyak isu yang simpang siur mengenai


monster laba-laba yang sering muncul di malam hari. Pastikan kalian bersiaga.


Terutama kamu, Kyra.”


“Siap! Aku akan sangat berhati-hati!”


Kyra menjawab begitu antusias.


“Kalau begitu aku akan


menemani – ”


“Pergi ke dekat Tuan Wasa,


Meena. Melindunginya saat ini adalah prioritas utama kita.”


Meena ternganga, keisengan


Bara tak habis-habisnya. Setelah sepanjang hari dia harus menelan kekesalan


menemani musang itu, malamnya pun ... dia ditempatkan di dekat sang Menteri.


“Kenapa selalu aku!” Gadis


imut itu menghentakkan kakinya kesal. Kedua tangannya pun diguncang-guncang saking


gemasnya.


“Kau favoritnya. Aku harus


mengawasi Kyra dan memastikan menjaga parameter.” Ugh, alasan Bara begitu


profesional. Bagaimana Meena bisa mengeluh lagi. Dia hanya akan terlihat


terlalu manja.


“Huft! Elf tua bodoh!” Meena meninggalkan Bara dan Kyra, kembali ke sisi


musang tua yang terlihat begitu senang menantikan kedatangannya.


“Kenapa kamu selalu


membuat Meena kesal?”


“Perasaanmu saja. Ikut


denganku, jangan banyak tanya.”


Kyra mengecutkan bibirnya,


ikut dengan patuh. Bara kadang baik, tapi kadang menyebalkan. Beradaptasi dengan


regu baru ini agak sulit karena seringnya mereka berselisih, hingga Kyra selalu


merasa tersisihkan.


Namun, Bara tidak punya


niat demikian. Mulutnya memang pedas dan Meena gampang merajuk. Dengan Kyra


lebih mudah berkomunikasi, meskipun anggota termuda regunya itu kurang berguna.


Bara berhenti di bawah


tumpukan bebatuan berjarak lima meter dari tenda utama. Dia menunjuk pada


sebuah lubang hitam mirip gua mini di antara celah-celah tumpukan batu


tersebut.


“Lihat ini baik-baik, batu


di sekitar sini berwarna hitam. Itu artinya monster laba-laba bukan hanya isu.”


“Oh ....” Kyra


mengangguk-angguk. Bila ditanya tentang pengetahuan umum, dia benar-benar tidak


tahu.


“Kau paham maksudku?”


“Mereka keluar dari sana,


tapi lubangnya kok kecil?


Bara tepuk jidat. Si polos


ini tak benar-benar paham. Sejak awal saja, yang namanya monster itu tidak


selalu mengenai ukuran. Tampaknya masalah utama Bara bukan hanya harus


mengajarkan tentang sihir, tetapi juga hal-hal kecil lainnya.


“Maksudku, mereka


meninggalkan racunnya di sini.”


“Terus?” Reaksi Kyra itu


... ingin rasanya Bara menjitaknya.


“Bakar setiap kali kau


melihat bercak hitam seperti ini atau serangga apa pun yang muncul. Kalau hanya


itu, kau bisa, kan?”


Kyra sebenarnya beruntung.


Kelemahan monster laba-laba adalah api yang merupakan kekuatan utamanya. Seharusnya


Kyra tak akan mendapatkan masalah disuruh berkeliling melakukan pembersihan.


“Serahkan padaku. Akan


kubakar semua!”


“Awas, jangan sampai


membakar tanaman atau tenda kita!”


“Iya, percaya sedikit


dong!”


“Panggil aku kalau


serangga yang muncul banyak!”


“Iya, Baraaa.”


Bara mau pergi saja


pesannya banyak, saking tak percaya dengan Kyra. Tiap jawaban riang yang dia


terima tak pernah membuatnya merasa puas. Namun, dia harus segera memisahkan


diri.


Tak jauh dari sana, ada


sekumpulan bandit yang telah mengikuti mereka dari siang. Bara dan Alexi telah


menyadarinya. Mereka sengaja membiarkan rombongan diikuti karena tahu


bandit-bandit itu tak akan menyerang sampai malam.

__ADS_1


Bara bertatapan singkat


dengan Alexi sebelum meninggalkan perkemahan mereka. Sebagai kode bahwa dia


akan pergi mengurus bandit-bandit itu dan memercayakan keamanan di sini kepada


sang Letnan.


“Segeralah kembali,” ujar


Alexi.


Bara mengangguk. Kemudian


melesat pergi, menghilang di antara gelapnya malam. Kepergian Bara disadari


oleh Meena. Gadis bertubuh mungil itu segera mengalihkan pandangan kepada Kyra.


Rekannya sedang asyik bermain api, membakar makhluk-makhluk kecil di dekat


bebatuan. Dia langsung mengerti. Si sombong Bara lagi-lagi bertindak sendiri.


Meena menghampiri Alexi. “Apa


sesuatu terjadi?” Ia bertanya karena tahu Bara pastilah melapor sebelum pergi.


“Tak ada masalah serius.


Kembalilah pada posisimu.” Betapa kesalnya Meena. Kedua laki-laki itu sama


menyebalkannya.


“Ya sudah!” Dukun mungil


itu kembali merajuk. Kelihatannya tak peduli lagi, tapi sebenarnya dia tetap


mengawasi sekitar.


Setelah beberapa waktu,


Kyra sudah selesai melakukan pembersihan. Dia berkumpul dengan para prajurit


yang tengah mengitari api unggun. Roti yang tengah ia makan masih menyangkut di


mulut, tapi tak ia kunyah karena gugup ditatap lekat-lekat oleh Alexi.


Pria misterius itu


bersandar pada pohon tak jauh dari sana, tapi entah kenapa matanya selalu terus


mengawasi Kyra. Agaknya seperti punya niat terselubung. Bagaimana Kyra bisa


merasa tenang?


“Apa aku membuat Letnan


kalian marah?” Kyra mulai konsultasi. Pada siapa pun tak masalah. Karena dia


selalu terbuka bahkan kepada orang yang baru dikenal.


“Tidak kok, santai saja.


Letnan Alexi memang selalu terlihat marah.”


“Wajahnya terlahir seram.


Mungkin karena dia seorang Naga.”


“Letnan Naga?” Kyra kaget,


tapi dia juga paham sekarang. Dari mana asal mata dan rambut berwarna merah mencolok


itu.


“Sembarangan! Siapa yang


bilang, kudengar dia serigala.”


“Itu juga hanya isu.”


Sekarang, semuanya tampak buyar. Bahkan bawahan Alexi tak tahu wujud aslinya. Mereka


hanya yakin kalau Alexi termasuk ke dalam ras binatang buas.


Rasa penasaran Kyra tak


pernah terjawab. Semakin lama mereka bergosip, semakin banyak juga kecurigaan


Sekali lagi Kyra dan Alexi


saling bertemu pandang, bertukar rasa asing yang tak dia kenal. Dan kemudian,


momen berharga itu hancur dengan sekejap mata.


“Grauuuw!” Suara amukan datang dari arah bebatuan, diiringi dengan gempa


ringan yang menjatuhkan batu-batu kecil dari atas bukti.


“Lindungi Tuan Wasa!”


Alexi memberi perintah, menggerakkan para prajurit berkumpul di satu posisi.


Dia sendiri berdiri di depan sang monster. Laba-laba raksasa berukuran


berkali-kali lipat dari yang pernah Kyra lihat.


“BERANINYA KALIAN MEMBUNUH


ANAK-ANAKKU!” Anak-anak itu pastilah makhluk-makhluk kecil yang Kyra bakar


tadi.


“A-apa aku membuatnya


marah?” Kyra berdiri di belakang Alexi. Dia menelan ludah, takut kalau semua ini


karena kesalahannya.


“Tak usah dipikirkan. Dia


tetap akan menyerang sekalipun kita tak berbuat apa pun.” Suara Alexi menenangkan


Kyra, tapi tak dapat membantu saat salah satu kaki laba-laba menerjangnya.


“Ah!” Kyra menjerit.


Sekalipun dia sempat


melompat, tapi bagian depan perutnya sempat tersayat. Keabadian Kyra memang


luar biasa, tapi tidak dapat menyembuhkan lukanya dengan cepat. Dengan kata


lain, hanya bisa digunakan ketika dia telah mati.


Gadis itu terduduk di atas


tanah, gemetaran menatap raksasa menakutkan di depan matanya. Dia tak pernah


tahu, bila menjadi seorang Petualang akan membawanya pada keadaan seperti ini.


Ketika serangan susulan


datang, ia menutup matanya. Di saat itulah, Alexi menolong. Sang Letnan mengeluarkan


sebuah pedang yang dilapisi oleh sihir api. Panasnya kobaran api dan tajamnya


bilah pedang menyayat kaki sang laba-laba, memutusnya dalam sekali serang.


Begitu mata Kyra kembali ia


buka, pemandangan heroik yang ia impikan terlihat luar biasa di hadapannya.


Alexi tengah berhadapan satu per satu dengan raksasa itu. Lompat tinggi dan


gesit saat menghindari semburan jaring sangatlah keren. Begitu memesona hingga


Kyra lupa akan rasa sakitnya.


Semburan jaring kedua


terlontar ke arah Kyra. Tak sempat Alexi hentikan karena dia terlalu disibukkan


oleh ayunan kaki laba-laba yang tak ada habis-habisnya. Prajurit lainnya pun


tengah sibuk menghadapi banyaknya pasukan laba-laba berukur setinggi satu meter


yang mulai berdatangan.


“Kyra, lakukan yang


kuajarkan padamu tadi siang!”

__ADS_1


Kyra tersentak oleh


teriakan Alexi. Dia segera berdiri, mengumpulkan energi sihirnya di telapak


tangan. Sayangnya usaha itu tak mudah. Dia bisa membuat api mengelilingi


tubuhnya, tapi tidak dengan melepaskan sebuah ledakan.


“Argh!” Alhasil, tubuh


Kyra terlilit oleh jaring sang monster. Tulangnya berasa remuk, terikat dengan


kuat oleh jaring tersebut.


Biarpun api Kyra terus


keluar dari pori-pori kulitnya dan membakar jaring-jaring itu, tapi selalu ada


jaring baru yang mengikatnya kembali sebelum ia bisa meloloskan diri.


“Jangan menyerah, ledakan


ikatannya!” Alexi jadi tak fokus. Keadaan Kyra membuatnya cemas dan cewek itu


terlihat mulai kesulitan bernapas.


Alexi berdecak kesal. Dari


ujung jarinya keluar kobaran bara api sebesar api dari pematik. Dia baru saja akan


melontarkan api itu, tetapi puluhan tombak es telah datang lebih dulu memotong


jaring yang melilit tubuh Kyra.


Kyra terjatuh dan segera


ditangkap oleh si pembuat tombak. “Ckck ... kalian sungguh menyedihkan tanpa


kehadiranku.” Ya, orang itu adalah Bara. Elf salju dengan kepercayaan diri


terlalu tinggi.


Kyra menghela napas lelah,


kehilangan kesadarannya seketika. Tentu itu bukan berarti masalah mereka


selesai. Raksasa laba-laba masih memiliki separuh kaki dan anak-anaknya


semakin banyak berdatangan.


“Urus dia, Meena.


Tunjukkan keahlianmu. Biar kubereskan mereka segera.”


“Hati-hati bodoh!”


Bara melemparkan Kyra pada


Meena. Protes dari si gadis Dukun ia abaikan. Pengembara itu telah maju ke


depan, mendampingi Alexi menangani keadaan.


“Terima kasih.”


“Tak usah dipikirkan. Toh


Kyra memang tanggung jawabku.”


Setelahnya keadaan berbalik.


Dengan bantuan Bara, dan Alexi yang bisa fokus tanpa perlu mencemaskan Kyra,


kekacauan itu bisa segera teratasi. Kerja sama baik antara pengguna sihir api


dan air itu begitu luar biasa.


Bara dengan ahlinya


memancing sang monster, membuatnya fokus mengejar sang Elf. Memanfaatkan hal


itu, Alexi membangun sebuah bola api sebesar ukuran tubuh lawannya, dilemparkan


pada punggung laba-laba.


Seketika itu, amukan dan


jeritan kesakitan menggema. Menakuti laba-laba kecil. Mereka berlarian, kabur


meninggalkan bos yang kini mulai terbakar tak bersisa.


Selesai. Ketegangan


singkat itu pun berakhir saat monster laba-laba tewas. Meninggalkan bekas-bekas


pertempuran yang menjadi saksi akan cerita heroik mereka.


Kyra baru membuka matanya


beberapa saat kemudian. Luka-lukanya sudah sembuh berkat sihir penyembuhan dari Meena.


Namun, luka hatinya justru membekas. Kenyataan bila dirinya memang tak berguna


dan menyusahkan membuat Kyra marah pada dirinya sendiri. Keinginan menjadi kuat


semakin berkembang.


“Syukurlah! Aku takut


sekali tadi!” Pelukan erat Meena terasa begitu hangat dan menyayat hati. Tidak


ada yang menyalahkannya. Mereka mengerti dia hanya pemula, tapi Kyra tidak


merasa puas dimaklumi seperti itu.


“Jadi keabadianmu tidak


termasuk kemampuan regenerasi? Sama saja kurang berguna.” Kata-kata tajam Bara


menambah luka itu, membuat Kyra mulai berpikir yang tidak-tidak.


“Apa ... kau menyesal


merekrutku?” Pertanyaan seperti itu pun terlontarkan. Mengagetkan Bara,


sekaligus membuat Meena kesal.


“Bicara apa sih! Tak


apa-apa tak punya kemampuan regenerasi. Itu tugasku, menyembuhkan kalian saat


terluka!” Regu mereka punya Meena sebagai Dukun Penyembuh. Kalau sampai Bara


berani menjawab iya, akan Meena cakar muka Elf dingin tak sensitif itu.


“Aku bukan orang plin-plan


yang akan menyesali keputusanku sendiri. Kalau kau sadar diri tak berguna, maka


berlatih keraslah agar menjadi berguna di lain waktu.” Kata-kata Bara tetap


saja kasar, tetapi belaian tangannya pada kepala Kyra terasa lembut. Kyra


menangis terharu, mengangguk merasa bersyukur memiliki rekan-rekan yang luar


biasa.


“Ap-apaan! Kenapa kau


masih saja menangis!?”


“Itu salahmu! Bodoh!


Bodoh! Elf tua bodoh!”


“Hentikan, Meena! Kau


pikir mencakar muka orang itu imut!?”


Kemudian, tingkah Meena


dan Bara membuat Kyra tertawa. Segala emosi negatif itu hilang begitu saja.


Bara benar, dia tak bisa melakukan apa pun pada sesuatu yang telah terjadi,


tapi lain kali dia akan berusaha lebih keras sebelum menyerah.


Author’s Note :


Kelas Prajurit merupakan penyerang


garis depan yang mengandalkan kemampuan fisik dan otot. Kebanyakan dari mereka

__ADS_1


tidak bisa menggunakan sihir.


__ADS_2