
Dengan keberadaan Rhea,
perjalanan mereka menjadi mudah. Tak butuh waktu lama hingga Kyra dan
teman-temannya tiba di kota Nebula. Akhirnya mereka bisa beristirahat sebentar
sebelum meninggalkan kerajaan milik Nakula. Tempat itu masih sama. Terlihat
seperti sebuah kota tua dengan arsitektur berumur ratusan tahun. Kota yang
tertutup untuk orang luar dan terlindung oleh sebuah formasi sihir berbasis
elemen api.
Kyra membuka gerbang kota,
membawa teman-temannya masuk. Penduduk lokal di sana tidaklah banyak, makanya
mereka langsung mengenali wajah Kyra.
“Kamu kembali, Kyra!”
“Ya, aku membawa
teman-temanku.”
Kyra tersenyum, menyapa
penjaga gerbang sambil meminta izin membiarkan teman-temannya masuk. Pandangan
orang-orang menjadi aneh. Satu Elf, dua siluman dan seorang lagi yang tidak
jelas apa rasnya. Hanya Meena yang tidak membuat mereka merasa waspada.
“Kamu dan gadis kecil itu
boleh masuk, tapi yang lainnya tidak boleh,” ujar kepala penjaga.
Kyra merenggut tak suka.
Seluruh kerajaan Draco di isi oleh ribuan ras dan tak ada satu pun kota yang
menolak ras lain. Kenapa malah kampung halamannya menolak mereka?
“Kenapa tidak boleh? Mereka
teman-temanku, aku bisa menjamin mereka,” balas Kyra.
“Kayaknya mereka tak
menerima makhluk selain manusia di sini,” ucap Kanya, sarkastis.
“Apa itu benar?” Kyra
menatap para penjaga, meminta kejelasan kenapa mereka menolak ras lain. Rasanya
tak ada peraturan kota yang melarang.
“Kami bisa menunggumu di
luar gerbang.” Bara tak berniat bertengkar. Dia datang ke sini karena Kyra
bilang ingin berpamitan dengan orang tuanya sebelum meninggalkan wilayah
kerajaan mereka. Tak perlu sampai bertengkar dengan penduduk kota untuk memaksa
masuk.
“Tak perlu. Kita masuk
sama-sama.” Kyra jelas tak terima. Mereka berbagi hidup bersama-sama.
Meninggalkan rekan-rekannya di luar sama saja tidak setia pada regunya.
“Kyra, kita tak bisa
mengambil risiko keamanan kota.”
“Jadi kalian tak percaya
pada rekan-rekanku? Memangnya apa buktinya bila selain manusia bisa
membahayakan kalian!”
Tidak ada yang bisa
memastikan. Mereka hanya takut. Terutama pada Bara dan Rhea yang terlihat
sangat kuat. Tak ada seorang pun penduduk kota Nebula yang bisa bertarung.
Sihir elemen apa pun tidak bersahabat bagi mereka, seakan tak memberi mereka
pilihan lain untuk hidup.
“Kami melakukan ini karena
kami tak bisa menggunakan sihir, Kyra. Kenapa kamu tidak bisa mengerti?”
“Kalian tak bisa
menggunakan sihir? Lalu siapa yang membuat formasi perlindungan ini? Ada sihir
api kuat di dalamnya!” Meena agak kaget. Dia yakin bukan Kyra yang membuatnya.
Kelas Kyra tidak mendukung untuk membuat perlindungan. Meskipun kebetulan rank
api dalam perlindungan kota ini bisa dikatakan setingkat dengan api Kyra.
“Pelindung kota ini,
Phoenix yang tinggal di atas gunung api.” Kyra yang menjawab. Ini juga yang menjadi
__ADS_1
alasan kepulangannya. Karena setahu Kyra, perlindungan ini dulu sekali tak ada.
Jadi kemungkinan besar, formasi itu dibuat untuk melindunginya sebelum dia
tumbuh dewasa. Hanya saja formasinya terlalu kuat hingga bisa bertahan ratusan
tahun lagi.
“Izinkan mereka masuk
denganku atau aku yang ikut keluar bersama dengan mereka,” sambung Kyra.
Bila Kyra sudah memaksa
seperti itu, siapa yang berani mengusirnya? Mereka dilindungi karena Kyra.
Mengusir Kyra sama saja dengan menolak perlindungan dan membuat sang Phoenix
marah.
Para penjaga menurunkan
senjata mereka, mengizinkan ragu Bara masuk bersama dengan Kyra. Teman-temannya
jadi merasa tak enak, tapi Kyra sama sekali tidak memedulikannya. Pikirannya ke
mana-mana, seperti sibuk mencari jawaban di antara deretan bangunan kuno
tersebut.
“Kyra, kau yakin tak akan
menjadi masalah nantinya?” tanya Bara.
Sang Elf menahan tangan
Kyra, berbisik melirik pada dua orang penjaga yang mengikuti mereka berjalan
menuju ke rumah Kyra. Gadis api hanya menggeleng pelan, sama sekali tak
mencemaskan apa pun.
“Kita datang untuk mencari
jawaban, bukan mencari masalah.” Kyra percaya pada apa yang dia lihat saat
masih berada dalam pengaruh ilusi Rhea. Karena ilusi itu menunjukkan ingatan
masa lalu. Bukti bila orang tuanya dan penduduk kota ini menyimpan rahasia yang
terlupakan darinya. Kyra tidak menceritakan hal itu pada teman-temannya karena
dia ingin bertanya secara pribadi pada orang tuanya.
“Tingkah Kyra aneh
sekali.”
“Mungkin nggak senang
“Tak mungkin hanya karena
itu. Kami tak bisa leluasa bergerak di sini. Kau awasi Kyra.”
“Hanya aku?”
Kanya dan Meena mulai
bergosip sendiri di belakang. Suasana kota ini tidak buruk, hanya terasa
seperti tak nyata. Setelah mengelilingi hampir semua kota yang ada, melihat
kota terbelakang seperti ini terasa janggal bagi mereka.
“Hanya kau yang tak
dicurigai di sini,” sambung Bara.
Meena mengecutkan
bibirnya. Sebal disuruh-suruh. Dia berlari menyusul Kyra. Kemudian menggandeng
tangan si gadis api, berjalan lebih dulu meninggalkan keempat orang lainnya di
belakang.
Sesampai di rumah Kyra,
mereka disambut dengan hangat oleh pasangan pemilik rumah. Kyra dipeluk erat.
Selayaknya orang yang telah ditunggu-tunggu kepulangannya. Sekarang Bara
mengerti dari mana datangnya sifat polos itu. Ternyata karena Kyra dibesarkan
seperti itu.
Rumah Kyra terbuka untuk
mereka. Bahkan ayahnya berbicara pada penjaga dan bersedia menjamin mereka
sebagai tamu. Makanya kedua penjaga itu bersedia pergi dan membiarkan mereka tinggal di rumah Kyra.
“Kalian semua masuklah,
anggap saja rumah sendiri.”
“Hehe, kalau begitu kami
nggak akan sungkan!”
Meena yang berlari masuk
__ADS_1
bersama dengan Kanya. Tiga orang lainnya menyusul, tersenyum mencoba bersikap
sopan. Bocah-bocah tak bisa dikendalikan, tapi mereka punya sopan santun.
“Maaf, kedua gadis itu
masih anak-anak,” ujar Bara.
Anggap saja Kanya masih
anak-anak juga. Tak usah diungkit umurnya yang sudah ribuan tahun.
“Tak usah dipikirkan. Kyra
bercerita banyak dalam suratnya.” Ayah Kyra tak mempermasalahkan apa pun.
Setahunya, mereka menjaga anaknya dan itu sudah cukup baginya.
Setelahnya, suasana
menjadi lebih baik. Mereka berkumpul bersama di ruang keluarga, saling
mengobrol dan bercerita seakan sudah lama saling mengenal. Hanya Rhea dan Soli
yang seperti terasingkan, menjaga jarak hati-hati dengan semua orang.
Mereka berdua tidak
terbiasa pada kehangatan manusia. Terutama Rhea yang mengikuti mereka karena
terpaksa. Dia hanya makan dalam diam, memberikan pelototan penuh kebencian pada
Bara. Soli duduk di dekat jendela, mengawasi bagian luar rumah seakan tak tahu
apa itu namanya hari libur.
Bara geleng-geleng kepala
melihat tingkah mereka. Beda sekali dengan ketiga gadis pengantin yang sudah
asyik sendiri membuat kue di dapur bersama dengan ibu Kyra.
Mumpung sudah diajak
mengobrol dengan ayah Kyra, Bara ingin memastikan sejauh apa penduduk kota ini
tahu mengenai hubungan Kyra dan burung api legendaris itu.
“Paman, boleh kutanya
kenapa Phoenix melindungi kota ini?”
Pertanyaan Bara membuat
ayah Kyra tersentak kaget. Dia masih belum mengetahui bila Kyra sudah tahu
sedikit akan hubungannya dengan sang Phoenix.
“Apa ini ada hubungannya
dengan Kyra?”
Sorot mata Bara begitu
tegas, menunjukkan bila dia bertanya bukan hanya karena rasa penasaran. Rasanya
jadi berat terus menyembunyikan rahasia, terutama ketika tak ada yang tahu apa
yang sebenarnya diinginkan oleh sang Phoenix.
Ayah Kyra mengangguk.
Kemudian ia berujar, “Bukan kota ini yang dilindungi, tetapi Kyra.”
Ternyata benar dugaan
Bara. Mereka tahu bila Kyra adalah pengantin sang Phoenix. Pantas saja satu
kalimat saja yang Kyra ucapkan, bisa mengubah keputusan kepala penjaga.
“Aku tahu bila
permintaanku ini egois, tapi kumohon, lindungi putriku dari sang Phoenix
setelah meninggalkan kota ini!” Mendadak ayah Kyra memohon pada Bara. Sikapnya
itu membuat bingung. Daripada meminta melindungi Kyra dari bahaya di luar, dia
malah meminta melindungi Kyra dari makhluk yang paling ingin melindungi gadis
itu.
“Apa yang Paman takutkan?
Binatang mistik tak akan melukai pengantinnya.”
“Omong kosong! Monster itu
pasti ingin memakan putriku!”
“Kenapa Ayah berkata
seperti itu?”
Ayah Kyra terdiam. Mereka
terlalu serius hingga tak menyadari kedatangan Kyra. Rahasia yang dia jaga,
buyar begitu saja hanya karena dia tak bisa menahan diri untuk memohon kepada
Bara. Sedangkan Bara sendiri sama bingungnya dengan Kyra. Mereka punya dua
__ADS_1
gadis pengantin lain dan keduanya melihat pasangan mereka sebagai sekutu
terlepas dari ada tidaknya perasaan spesial satu sama lainnya.