Phoenix Bride

Phoenix Bride
Episode 34


__ADS_3

Dengan keberadaan Rhea,


perjalanan mereka menjadi mudah. Tak butuh waktu lama hingga Kyra dan


teman-temannya tiba di kota Nebula. Akhirnya mereka bisa beristirahat sebentar


sebelum meninggalkan kerajaan milik Nakula. Tempat itu masih sama. Terlihat


seperti sebuah kota tua dengan arsitektur berumur ratusan tahun. Kota yang


tertutup untuk orang luar dan terlindung oleh sebuah formasi sihir berbasis


elemen api.


Kyra membuka gerbang kota,


membawa teman-temannya masuk. Penduduk lokal di sana tidaklah banyak, makanya


mereka langsung mengenali wajah Kyra.


“Kamu kembali, Kyra!”


“Ya, aku membawa


teman-temanku.”


Kyra tersenyum, menyapa


penjaga gerbang sambil meminta izin membiarkan teman-temannya masuk. Pandangan


orang-orang menjadi aneh. Satu Elf, dua siluman dan seorang lagi yang tidak


jelas apa rasnya. Hanya Meena yang tidak membuat mereka merasa waspada.


“Kamu dan gadis kecil itu


boleh masuk, tapi yang lainnya tidak boleh,” ujar kepala penjaga.


Kyra merenggut tak suka.


Seluruh kerajaan Draco di isi oleh ribuan ras dan tak ada satu pun kota yang


menolak ras lain. Kenapa malah kampung halamannya menolak mereka?


“Kenapa tidak boleh? Mereka


teman-temanku, aku bisa menjamin mereka,” balas Kyra.


“Kayaknya mereka tak


menerima makhluk selain manusia di sini,” ucap Kanya, sarkastis.


“Apa itu benar?” Kyra


menatap para penjaga, meminta kejelasan kenapa mereka menolak ras lain. Rasanya


tak ada peraturan kota yang melarang.


“Kami bisa menunggumu di


luar gerbang.” Bara tak berniat bertengkar. Dia datang ke sini karena Kyra


bilang ingin berpamitan dengan orang tuanya sebelum meninggalkan wilayah


kerajaan mereka. Tak perlu sampai bertengkar dengan penduduk kota untuk memaksa


masuk.


“Tak perlu. Kita masuk


sama-sama.” Kyra jelas tak terima. Mereka berbagi hidup bersama-sama.


Meninggalkan rekan-rekannya di luar sama saja tidak setia pada regunya.


“Kyra, kita tak bisa


mengambil risiko keamanan kota.”


“Jadi kalian tak percaya


pada rekan-rekanku? Memangnya apa buktinya bila selain manusia bisa


membahayakan kalian!”


Tidak ada yang bisa


memastikan. Mereka hanya takut. Terutama pada Bara dan Rhea yang terlihat


sangat kuat. Tak ada seorang pun penduduk kota Nebula yang bisa bertarung.


Sihir elemen apa pun tidak bersahabat bagi mereka, seakan tak memberi mereka


pilihan lain untuk hidup.


“Kami melakukan ini karena


kami tak bisa menggunakan sihir, Kyra. Kenapa kamu tidak bisa mengerti?”


“Kalian tak bisa


menggunakan sihir? Lalu siapa yang membuat formasi perlindungan ini? Ada sihir


api kuat di dalamnya!” Meena agak kaget. Dia yakin bukan Kyra yang membuatnya.


Kelas Kyra tidak mendukung untuk membuat perlindungan. Meskipun kebetulan rank


api dalam perlindungan kota ini bisa dikatakan setingkat dengan api Kyra.


“Pelindung kota ini,


Phoenix yang tinggal di atas gunung api.” Kyra yang menjawab. Ini juga yang menjadi

__ADS_1


alasan kepulangannya. Karena setahu Kyra, perlindungan ini dulu sekali tak ada.


Jadi kemungkinan besar, formasi itu dibuat untuk melindunginya sebelum dia


tumbuh dewasa. Hanya saja formasinya terlalu kuat hingga bisa bertahan ratusan


tahun lagi.


“Izinkan mereka masuk


denganku atau aku yang ikut keluar bersama dengan mereka,” sambung Kyra.


Bila Kyra sudah memaksa


seperti itu, siapa yang berani mengusirnya? Mereka dilindungi karena Kyra.


Mengusir Kyra sama saja dengan menolak perlindungan dan membuat sang Phoenix


marah.


Para penjaga menurunkan


senjata mereka, mengizinkan ragu Bara masuk bersama dengan Kyra. Teman-temannya


jadi merasa tak enak, tapi Kyra sama sekali tidak memedulikannya. Pikirannya ke


mana-mana, seperti sibuk mencari jawaban di antara deretan bangunan kuno


tersebut.


“Kyra, kau yakin tak akan


menjadi masalah nantinya?” tanya Bara.


Sang Elf menahan tangan


Kyra, berbisik melirik pada dua orang penjaga yang mengikuti mereka berjalan


menuju ke rumah Kyra. Gadis api hanya menggeleng pelan, sama sekali tak


mencemaskan apa pun.


“Kita datang untuk mencari


jawaban, bukan mencari masalah.” Kyra percaya pada apa yang dia lihat saat


masih berada dalam pengaruh ilusi Rhea. Karena ilusi itu menunjukkan ingatan


masa lalu. Bukti bila orang tuanya dan penduduk kota ini menyimpan rahasia yang


terlupakan darinya. Kyra tidak menceritakan hal itu pada teman-temannya karena


dia ingin bertanya secara pribadi pada orang tuanya.


“Tingkah Kyra aneh


sekali.”


“Mungkin nggak senang


“Tak mungkin hanya karena


itu. Kami tak bisa leluasa bergerak di sini. Kau awasi Kyra.”


“Hanya aku?”


Kanya dan Meena mulai


bergosip sendiri di belakang. Suasana kota ini tidak buruk, hanya terasa


seperti tak nyata. Setelah mengelilingi hampir semua kota yang ada, melihat


kota terbelakang seperti ini terasa janggal bagi mereka.


“Hanya kau yang tak


dicurigai di sini,” sambung Bara.


Meena mengecutkan


bibirnya. Sebal disuruh-suruh. Dia berlari menyusul Kyra. Kemudian menggandeng


tangan si gadis api, berjalan lebih dulu meninggalkan keempat orang lainnya di


belakang.


Sesampai di rumah Kyra,


mereka disambut dengan hangat oleh pasangan pemilik rumah. Kyra dipeluk erat.


Selayaknya orang yang telah ditunggu-tunggu kepulangannya. Sekarang Bara


mengerti dari mana datangnya sifat polos itu. Ternyata karena Kyra dibesarkan


seperti itu.


Rumah Kyra terbuka untuk


mereka. Bahkan ayahnya berbicara pada penjaga dan bersedia menjamin mereka


sebagai tamu. Makanya kedua penjaga itu bersedia pergi  dan membiarkan mereka tinggal di rumah Kyra.


“Kalian semua masuklah,


anggap saja rumah sendiri.”


“Hehe, kalau begitu kami


nggak akan sungkan!”


Meena yang berlari masuk

__ADS_1


bersama dengan Kanya. Tiga orang lainnya menyusul, tersenyum mencoba bersikap


sopan. Bocah-bocah tak bisa dikendalikan, tapi mereka punya sopan santun.


“Maaf, kedua gadis itu


masih anak-anak,” ujar Bara.


Anggap saja Kanya masih


anak-anak juga. Tak usah diungkit umurnya yang sudah ribuan tahun.


“Tak usah dipikirkan. Kyra


bercerita banyak dalam suratnya.” Ayah Kyra tak mempermasalahkan apa pun.


Setahunya, mereka menjaga anaknya dan itu sudah cukup baginya.


Setelahnya, suasana


menjadi lebih baik. Mereka berkumpul bersama di ruang keluarga, saling


mengobrol dan bercerita seakan sudah lama saling mengenal. Hanya Rhea dan Soli


yang seperti terasingkan, menjaga jarak hati-hati dengan semua orang.


Mereka berdua tidak


terbiasa pada kehangatan manusia. Terutama Rhea yang mengikuti mereka karena


terpaksa. Dia hanya makan dalam diam, memberikan pelototan penuh kebencian pada


Bara. Soli duduk di dekat jendela, mengawasi bagian luar rumah seakan tak tahu


apa itu namanya hari libur.


Bara geleng-geleng kepala


melihat tingkah mereka. Beda sekali dengan ketiga gadis pengantin yang sudah


asyik sendiri membuat kue di dapur bersama dengan ibu Kyra.


Mumpung sudah diajak


mengobrol dengan ayah Kyra, Bara ingin memastikan sejauh apa penduduk kota ini


tahu mengenai hubungan Kyra dan burung api legendaris itu.


“Paman, boleh kutanya


kenapa Phoenix melindungi kota ini?”


Pertanyaan Bara membuat


ayah Kyra tersentak kaget. Dia masih belum mengetahui bila Kyra sudah tahu


sedikit akan hubungannya dengan sang Phoenix.


“Apa ini ada hubungannya


dengan Kyra?”


Sorot mata Bara begitu


tegas, menunjukkan bila dia bertanya bukan hanya karena rasa penasaran. Rasanya


jadi berat terus menyembunyikan rahasia, terutama ketika tak ada yang tahu apa


yang sebenarnya diinginkan oleh sang Phoenix.


Ayah Kyra mengangguk.


Kemudian ia berujar, “Bukan kota ini yang dilindungi, tetapi Kyra.”


Ternyata benar dugaan


Bara. Mereka tahu bila Kyra adalah pengantin sang Phoenix. Pantas saja satu


kalimat saja yang Kyra ucapkan, bisa mengubah keputusan kepala penjaga.


“Aku tahu bila


permintaanku ini egois, tapi kumohon, lindungi putriku dari sang Phoenix


setelah meninggalkan kota ini!” Mendadak ayah Kyra memohon pada Bara. Sikapnya


itu membuat bingung. Daripada meminta melindungi Kyra dari bahaya di luar, dia


malah meminta melindungi Kyra dari makhluk yang paling ingin melindungi gadis


itu.


“Apa yang Paman takutkan?


Binatang mistik tak akan melukai pengantinnya.”


“Omong kosong! Monster itu


pasti ingin memakan putriku!”


“Kenapa Ayah berkata


seperti itu?”


Ayah Kyra terdiam. Mereka


terlalu serius hingga tak menyadari kedatangan Kyra. Rahasia yang dia jaga,


buyar begitu saja hanya karena dia tak bisa menahan diri untuk memohon kepada


Bara. Sedangkan Bara sendiri sama bingungnya dengan Kyra. Mereka punya dua

__ADS_1


gadis pengantin lain dan keduanya melihat pasangan mereka sebagai sekutu


terlepas dari ada tidaknya perasaan spesial satu sama lainnya.


__ADS_2