Phoenix Bride

Phoenix Bride
Episode 37


__ADS_3

Mereka semua baru saja


sampai di Perkemahan Centaur. Tempat itu merupakan sebuah area luas yang di


kelilingi oleh pagar besi dan beberapa menara pengawas. Pohon-pohon besar


mengelilingi seluruh area belakang pondok-pondok kayu yang menjadi bangunan standar


di tempat itu.


Seperti yang diharapkan


dari area perbatasan akhir kerajaan. Bukan hanya Centaur yang memenuhi tempat


tersebut, melainkan puluhan ribu pasukan kerjaan yang bersiap untuk perang


kapan saja.


Kyra bisa merasakan sihir


yang sangat familier di tempat itu. Arahnya berasal dari lapangan tanding di


mana para prajurit memakai pakaian Zirah. Mereka berlatih tanding bersama


mengasah kemampuan, mencoba mempraktekkan strategi tempur dalam kelompok kecil.


Saat Kyra berhenti


melangkah, teman-temannya pun ikut berhenti. Mereka berada di lokasi lebih


tinggi dari perkemahan sehingga bisa melihat semua aktivitas dalam area


tersebut. Namun, mereka sendiri belum memasuki gerbang dan meminta izin untuk


masuk.


“Kita sudah sampai,” ujar


Bara.


Ini pertama kalinya Bara


datang kemari. Karena Perkemahan Centaur merupakan tempat pelatihan sekaligus


markas sementara pasukan penyerangan milik Raja Nakula. Selain petugas yang


berwenang, orang luar dilarang memasuki area tersebut.


Kali ini, mereka punya


Soli dan Meena yang mungkin bisa membantu masuk ke sana. Makanya Bara berani


memimpin regunya datang ke sini. Bila tidak, jangan harap bisa kembali


hidup-hidup saat datang ke markas penyerang terkuat di bawah kekuasaan Nakula.


“Wow! Naga menyebalkan itu


ternyata masih punya pasukan sekuat ini.”


Meena terkagum. Tak


menyangka bila selain pasukan di Benteng Barat, kerajaannya masih memiliki


pasukan lain dengan kekuatan tempur berkali-kali lipat besarnya. Bukan hanya


penyihir, melainkan ras-ras binatang buas yang terkenal sulit ditaklukkan.


“Jadi, kita bisa masuk ke


sana?” Bara mengalihkan pandangan pada Soli, meminta jawaban pasti apakah dia


punya wewenang di lokasi ini atau tidak.


“Letnan Alexi ada di sana.


Kurasa kita pasti bisa masuk,” ujar Kyra, sebelum Soli menjawab.


“Dia ada di sini?” Di


mana? Kenapa Soli tak melihatnya?


“Tepat di tengah


lapangan.”


“Kau yakin?”


“Ya. Aku tak mungkin


salah.”


Kyra menunjuk pada seorang


prajurit dengan baju zirah. Wajahnya jelas tak terlihat dan dia tidak sedang


menggunakan kekuatan sihir. Selain itu, baju zirahnya sama dengan yang dipakai


oleh prajurit lain.


“Tak mungkin Letnan Alexi


berlatih dengan pasukan tingkat rendah.” Soli geleng-geleng kepala tak percaya.


Memang ini pasukan yang dipimpin oleh Alexi, tapi sang Letnan tidak selalu


berada di markasnya. Dengan banyaknya pertemuan mereka yang sudah-sudah, telah


membuktikan kebenaran tersebut.


“Kalian juga tidak percaya


padaku?” Sejak Kyra menerima kekuatan di gunung api, sensornya menjadi sensitif


terhadap bagian tubuh sang Phoenix. Mau percaya atau tidak, Kyra tak bisa


mengabaikan peringatan instingnya sendiri.


Meena dan Kanya saling


pandang. Pernyataan Kyra memang tak bisa dibuktikan atau dijelaskan dengan


logika, tapi mereka bisa mengerti maksudnya. Mewarisi setengah kekuatan binatang


mistik sama saja dengan menyatukan sebagian jiwa mereka. Yang berarti juga


memungkinkan untuk mengetahui lokasi pasangan mereka dengan ketentuan tertentu.


“Kurasa, penilaian Kyra


tak salah. Lihatlah, orang itu telah menemukan kita.”


“Dia melihat kemari.”


Kanya dan Meena benar.


Pria berbaju zirah itu menatap ke arah mereka sambil memberi perintah kepada


penjaga yang berada di dekatnya. Kelihatannya mereka memang dikenali.


“Sudah kukatakan. Itu


Letnan Alexi.” Kyra tersenyum, lega instingnya tak salah.


Setelah itu, seorang


penjaga mendatangi lokasi mereka dengan tergesa-gesa. Melihatnya, Bara mengajak

__ADS_1


teman-temannya untuk mendekat ke arah gerbang.


“Kalian yang ada di sana,


Letnan Alexi mengundang kalian masuk ke perkemahan kami!” seru sang penjaga.


“Tunjukkan jalannya.”


Kelihatannya mereka tak


akan mendapatkan kesulitan di sini. Tak perlu lagi merasa waspada atau tegang


terhadap reaksi para Centaur. Mereka terkenal kuat, tetapi terorganisir dan


mendengarkan pemimpinnya. Karena Alexi ada di sini, maka semuanya akan menjadi


mudah.


Tak butuh waktu lama,


mereka telah tiba di tengah lapangan pelatihan. Helm yang menutupi kepala Alexi


telah dia turunkan. Dari reaksinya, Kyra bisa melihat bila Alexi sama sekali


tidak terkejut melihat kedatangan mereka.


“Kalian sampai lebih cepat


dari perhitunganku. Tinggallah beberapa hari, setelah itu baru akan kuberikan


token yang kalian inginkan.”


“Semudah itu? Kau yakin


tak meminta syarat yang aneh-aneh?”


“Meena, jangan begitu.”


“Habis mencurigakan! Kok


mendadak orang dingin ini jadi pengertian?”


Kyra menarik tangan Meena,


mencoba menghentikan si gadis cebol membuat masalah. Baru saja dia merasa


senang bisa melihat wajah Alexi, dan Meena sudah merusak momen haru pertemuan


kembali mereka.


“Aku hanya menjalankan


perintah Yang Mulia Nakula.” Alexi tidak berubah sama sekali. Dia memang hanya


menjalankan perintah Nakula. Sejak hari perpisahan mereka di Benteng Barat,


Nakula telah memahami betul tujuan Kyra dan Meena. Dia tak berniat menghentikan


atau menghambat mereka mencari pengalaman hidup.


“Dengar itu, jangan


curigaan terus, cebol.” Bara menyenggol Meena, memintanya untuk sedikit


menerima niat baik Nakula. Toh, dialah raja yang berkuasa atas seluruh wilayah


Kerajaan Draco. Bersikap manis padanya akan memberikan keuntungan.


“Hump! Kalau memang niatnya membantu kami. Kenapa tak langsung


dikasih tokennya?” Pertanyaan bagus. Kyra juga ingin tahu kenapa Alexi meminta


mereka tinggal dulu selama beberapa hari.


Arah pandangan Kyra


Alexi inginkan dari mereka. Masa mau diberi misi lagi? Tidak, terima kasih.


Mereka sudah ogah berurusan dengan hal yang tak ada hubungannya sama sekali


dengan tujuan mereka.


“Kalian butuh perbekalan


dan peta dunia luar. Aku juga berniat melatih Kyra sedikit sebelum membiarkan


kalian pergi.”


Alexi cemas Kyra tak cukup


punya kekuatan hidup di dunia luar. Dia mungkin tak punya ingatan atau


pemahaman terhadap hubungan mereka yang sebenarnya, tetapi kepedulian dan


perasaan pada Kyra yang hadir dari dasar hatinya merupakan sesuatu yang nyata.


Betapa senangnya hati


Kyra. Karena dia tahu. Mereka mungkin tak akan bertemu lagi selama beberapa


tahun lamanya setelah dia meninggalkan tempat ini. Menghabiskan waktu selama


beberapa hari dengan Alexi akan menjadi kenangan manis tersendiri baginya,


“Bara, jangan menolak


kebaikan Letnan Alexi. Menunggu beberapa hari tak akan mengubah banyak hal.”


Gadis satu ini, pandai saja bicaranya. Bara peka dong ... masa tak sadar motif


sebenarnya dibalik perkataan basa-basi itu.


“Baiklah. Kita tinggal.”


Bara pasrah saja. Mau tinggal ya sudah. Mungkin ini merupakan kesempatan bagus


baginya untuk mencoba menjinakkan Rhea. Kanya, Meena dan Soli pun bisa memiliki


kesempatan untuk berlatih dengan anak buah Alexi.


***


Teman-teman Kyra telah


berpencar, berkumpul dengan orang-orang yang mungkin bisa membantu dengan


tujuan mereka masing-masing. Makanya Kyra sendirian datang ke pondok Alexi. Dia


ingat bila Alexi berkata ingin melatihnya. Meskipun niat Kyra tidak murni hanya


ingin berlatih, tapi siapa yang peduli dengan alasan sebenarnya.


Dengan gugup, Kyra


mengetuk pintu. Berkali-kali dia merapikan rambutnya, berusaha terlihat sedikit


lebih menarik di depan Alexi. Ia tersenyum manis saat dibukakan pintu. Layaknya


anak kecil polos yang tak bisa menyembunyikan kegirangannya.


Kerasnya hati Alexi


terpengaruh. Ekspresi wajahnya melunak. Tampang datar kaku yang biasa mengiasi


wajah tampannya pun telah runtuh, berganti menjadi sebuah ulasan senyuman


lembut.

__ADS_1


“Apa aku mengganggumu?”


Kyra melirik hati-hati,


menatap tersipu pada sorot mata tertarik Alexi. Dia lupa bila Alexi tak tahu


dia merupakan tunangan yang terlupakan. Semua itu karena Alexi memberinya


perlakuan spesial, sehingga secara alami Kyra menganggap Alexi memiliki


ketertarikan yang sama dengan sosok burung cantik di dalam gunung api.


“Aku yang ingin bertemu


denganmu. Bagaimana aku bisa merasa terganggu?”


“Begitu, jadi aku boleh


masuk?”


“Silakan.”


Alexi membuka jalan,


mengajak Kyra masuk ke dalam pondok pribadinya. Tak banyak barang di tempat


itu. Hanya ada beberapa senjata, satu set meja untuk rapat dan sebuah tempat


tidur yang terlihat tak pernah terpakai.


Kyra merasa semakin gugup


saat Alexi menutup pintu. Padahal ini bukan pertama kali mereka hanya berduaan saja


di suatu tempat, tapi rasanya berbeda setelah apa yang mereka alami. Tangannya


bergerak sedikit canggung saat menarik sebuah kursi.


Setelah Kyra duduk, Alexi


duduk di sampingnya. Sangat dekat hingga menimbulkan rasa tak nyaman yang


menyenangkan. Mereka kebanyakan diam saja, tapi tak ada yang bisa menghentikan


hati mereka untuk saling tertarik satu sama lainnya.


“Aku senang kita bisa


bertemu lagi.” Tiba-tiba saja Alexi menyapu rambut Kyra, merapikan beberapa


helai rambut yang berjatuhan di wajahnya. Gerakan jari yang ringan meninggalkan


debaran nyata dalam dada Kyra.


Mereka bahkan tidak


berpacaran. Hanya kerinduan dan  perasaan


yang membuat mereka merasa tak masalah melompati semua tahap tersebut. Pria ini


bukan manusia, mengikuti logika hubungan manusia pada umumnya tak akan ada


gunanya.


“Aku juga,” balas Kyra.


Kepala gadis itu


tertunduk. Kelopak matanya jatuh ke bawah, membuatnya terlihat lebih menarik di


mata Alexi. Rasanya, Alexi jadi ingin memeluk Kyra, memintanya tinggal dan


membuang jauh-jauh tujuannya untuk melatih gadis ini.


“Oh ya, katanya Letnan


ingin melatihku.” Mencoba menghapus kegugupannya, Kyra mengalihkan pembicaraan


kembali ke latihan.


“Itu hanya alasan.


Bagaimana jika aku bilang, bila sebenarnya aku hanya ingin menghabiskan lebih banyak


waktu denganmu.” Kemudian, Kyra dibuat tak bisa berkata-kata saat mendengar


perasaan Alexi padanya. Inilah yang dia harapkan. Hanya saja, perasaan dari


sepertiga bagian tak cukup untuknya.


“Apa kamu bersedia


berhenti menjadi Petualang dan menungguku pulang di rumah yang kusiapkan?” Kyra


merasa seperti benar-benar dilamar, diminta untuk tinggal bersama dengan orang


yang dicintainya. Akan tetapi, dia tidak bisa menerima semua itu. Sebelum


kekuatannya dibangkitkan, dia hanya manusia yang punya batas hidup. Dia akan


menjadi tua dengan cepat, meninggalkan Alexi yang tak tahu apa-apa sendirian. Kyra


paham benar bila pilihannya hanya ada satu. Mengumpulkan seluruh bagian dari


Phoenix dan membangkitkan kekuatannya agar mereka bisa hidup bersama selamanya.


“Aku tidak bisa. Maafkan


aku, Letnan Alexi.” Saat melihat Kyra menggelengkan kepalanya kuat-kuat, Alexi


merasa ditolak. Namun di sisi lain, dia bisa mengerti. Kyra tak sepenuhnya


tidak menginginkannya. Perasaan Kyra terlalu mudah terlihat, jelas-jelas tergambarkan


dari reaksinya. Hati seorang gadis yang sepenuhnya telah jatuh padanya.


“Bisakah kamu yang


menungguku? Aku janji, di saat aku kembali lagi ke kerajaan ini, saat itulah


giliran aku yang menunggumu. Sekarang, aku hanya bisa memintamu percaya dan


menungguku kembali.”


Rasa frustrasi Kyra


tersampaikan pada Alexi. Bagaimana mata indah gadis muda itu menatapnya penuh


cinta dan bagaimana tangan kecilnya mengepal dengan erat di atas meja membuat


Alexi tak bisa memaksakan kehendaknya.


“Aku sudah hidup selama


ratusan tahun tanpa pernah mengetahui dari mana asalku dan apa yang benar-benar


kuinginkan. Dan sekarang, untuk pertama kalinya aku merasa menginginkan


seseorang. Menunggu sedikit lebih lama lagi sama sekali bukan masalah untukku,


Kyra. Aku akan menunggumu.”


Kyra tersenyum lebar,


merasa tersentuh oleh ketulusan Alexi. Dia menjatuhkan tubuhnya dalam dekapan


erat lengan kokoh Alexi. Rasanya masih sulit percaya ... bila semudah ini bagi

__ADS_1


mereka untuk saling memahami.


__ADS_2