
Mereka semua baru saja
sampai di Perkemahan Centaur. Tempat itu merupakan sebuah area luas yang di
kelilingi oleh pagar besi dan beberapa menara pengawas. Pohon-pohon besar
mengelilingi seluruh area belakang pondok-pondok kayu yang menjadi bangunan standar
di tempat itu.
Seperti yang diharapkan
dari area perbatasan akhir kerajaan. Bukan hanya Centaur yang memenuhi tempat
tersebut, melainkan puluhan ribu pasukan kerjaan yang bersiap untuk perang
kapan saja.
Kyra bisa merasakan sihir
yang sangat familier di tempat itu. Arahnya berasal dari lapangan tanding di
mana para prajurit memakai pakaian Zirah. Mereka berlatih tanding bersama
mengasah kemampuan, mencoba mempraktekkan strategi tempur dalam kelompok kecil.
Saat Kyra berhenti
melangkah, teman-temannya pun ikut berhenti. Mereka berada di lokasi lebih
tinggi dari perkemahan sehingga bisa melihat semua aktivitas dalam area
tersebut. Namun, mereka sendiri belum memasuki gerbang dan meminta izin untuk
masuk.
“Kita sudah sampai,” ujar
Bara.
Ini pertama kalinya Bara
datang kemari. Karena Perkemahan Centaur merupakan tempat pelatihan sekaligus
markas sementara pasukan penyerangan milik Raja Nakula. Selain petugas yang
berwenang, orang luar dilarang memasuki area tersebut.
Kali ini, mereka punya
Soli dan Meena yang mungkin bisa membantu masuk ke sana. Makanya Bara berani
memimpin regunya datang ke sini. Bila tidak, jangan harap bisa kembali
hidup-hidup saat datang ke markas penyerang terkuat di bawah kekuasaan Nakula.
“Wow! Naga menyebalkan itu
ternyata masih punya pasukan sekuat ini.”
Meena terkagum. Tak
menyangka bila selain pasukan di Benteng Barat, kerajaannya masih memiliki
pasukan lain dengan kekuatan tempur berkali-kali lipat besarnya. Bukan hanya
penyihir, melainkan ras-ras binatang buas yang terkenal sulit ditaklukkan.
“Jadi, kita bisa masuk ke
sana?” Bara mengalihkan pandangan pada Soli, meminta jawaban pasti apakah dia
punya wewenang di lokasi ini atau tidak.
“Letnan Alexi ada di sana.
Kurasa kita pasti bisa masuk,” ujar Kyra, sebelum Soli menjawab.
“Dia ada di sini?” Di
mana? Kenapa Soli tak melihatnya?
“Tepat di tengah
lapangan.”
“Kau yakin?”
“Ya. Aku tak mungkin
salah.”
Kyra menunjuk pada seorang
prajurit dengan baju zirah. Wajahnya jelas tak terlihat dan dia tidak sedang
menggunakan kekuatan sihir. Selain itu, baju zirahnya sama dengan yang dipakai
oleh prajurit lain.
“Tak mungkin Letnan Alexi
berlatih dengan pasukan tingkat rendah.” Soli geleng-geleng kepala tak percaya.
Memang ini pasukan yang dipimpin oleh Alexi, tapi sang Letnan tidak selalu
berada di markasnya. Dengan banyaknya pertemuan mereka yang sudah-sudah, telah
membuktikan kebenaran tersebut.
“Kalian juga tidak percaya
padaku?” Sejak Kyra menerima kekuatan di gunung api, sensornya menjadi sensitif
terhadap bagian tubuh sang Phoenix. Mau percaya atau tidak, Kyra tak bisa
mengabaikan peringatan instingnya sendiri.
Meena dan Kanya saling
pandang. Pernyataan Kyra memang tak bisa dibuktikan atau dijelaskan dengan
logika, tapi mereka bisa mengerti maksudnya. Mewarisi setengah kekuatan binatang
mistik sama saja dengan menyatukan sebagian jiwa mereka. Yang berarti juga
memungkinkan untuk mengetahui lokasi pasangan mereka dengan ketentuan tertentu.
“Kurasa, penilaian Kyra
tak salah. Lihatlah, orang itu telah menemukan kita.”
“Dia melihat kemari.”
Kanya dan Meena benar.
Pria berbaju zirah itu menatap ke arah mereka sambil memberi perintah kepada
penjaga yang berada di dekatnya. Kelihatannya mereka memang dikenali.
“Sudah kukatakan. Itu
Letnan Alexi.” Kyra tersenyum, lega instingnya tak salah.
Setelah itu, seorang
penjaga mendatangi lokasi mereka dengan tergesa-gesa. Melihatnya, Bara mengajak
__ADS_1
teman-temannya untuk mendekat ke arah gerbang.
“Kalian yang ada di sana,
Letnan Alexi mengundang kalian masuk ke perkemahan kami!” seru sang penjaga.
“Tunjukkan jalannya.”
Kelihatannya mereka tak
akan mendapatkan kesulitan di sini. Tak perlu lagi merasa waspada atau tegang
terhadap reaksi para Centaur. Mereka terkenal kuat, tetapi terorganisir dan
mendengarkan pemimpinnya. Karena Alexi ada di sini, maka semuanya akan menjadi
mudah.
Tak butuh waktu lama,
mereka telah tiba di tengah lapangan pelatihan. Helm yang menutupi kepala Alexi
telah dia turunkan. Dari reaksinya, Kyra bisa melihat bila Alexi sama sekali
tidak terkejut melihat kedatangan mereka.
“Kalian sampai lebih cepat
dari perhitunganku. Tinggallah beberapa hari, setelah itu baru akan kuberikan
token yang kalian inginkan.”
“Semudah itu? Kau yakin
tak meminta syarat yang aneh-aneh?”
“Meena, jangan begitu.”
“Habis mencurigakan! Kok
mendadak orang dingin ini jadi pengertian?”
Kyra menarik tangan Meena,
mencoba menghentikan si gadis cebol membuat masalah. Baru saja dia merasa
senang bisa melihat wajah Alexi, dan Meena sudah merusak momen haru pertemuan
kembali mereka.
“Aku hanya menjalankan
perintah Yang Mulia Nakula.” Alexi tidak berubah sama sekali. Dia memang hanya
menjalankan perintah Nakula. Sejak hari perpisahan mereka di Benteng Barat,
Nakula telah memahami betul tujuan Kyra dan Meena. Dia tak berniat menghentikan
atau menghambat mereka mencari pengalaman hidup.
“Dengar itu, jangan
curigaan terus, cebol.” Bara menyenggol Meena, memintanya untuk sedikit
menerima niat baik Nakula. Toh, dialah raja yang berkuasa atas seluruh wilayah
Kerajaan Draco. Bersikap manis padanya akan memberikan keuntungan.
“Hump! Kalau memang niatnya membantu kami. Kenapa tak langsung
dikasih tokennya?” Pertanyaan bagus. Kyra juga ingin tahu kenapa Alexi meminta
mereka tinggal dulu selama beberapa hari.
Arah pandangan Kyra
Alexi inginkan dari mereka. Masa mau diberi misi lagi? Tidak, terima kasih.
Mereka sudah ogah berurusan dengan hal yang tak ada hubungannya sama sekali
dengan tujuan mereka.
“Kalian butuh perbekalan
dan peta dunia luar. Aku juga berniat melatih Kyra sedikit sebelum membiarkan
kalian pergi.”
Alexi cemas Kyra tak cukup
punya kekuatan hidup di dunia luar. Dia mungkin tak punya ingatan atau
pemahaman terhadap hubungan mereka yang sebenarnya, tetapi kepedulian dan
perasaan pada Kyra yang hadir dari dasar hatinya merupakan sesuatu yang nyata.
Betapa senangnya hati
Kyra. Karena dia tahu. Mereka mungkin tak akan bertemu lagi selama beberapa
tahun lamanya setelah dia meninggalkan tempat ini. Menghabiskan waktu selama
beberapa hari dengan Alexi akan menjadi kenangan manis tersendiri baginya,
“Bara, jangan menolak
kebaikan Letnan Alexi. Menunggu beberapa hari tak akan mengubah banyak hal.”
Gadis satu ini, pandai saja bicaranya. Bara peka dong ... masa tak sadar motif
sebenarnya dibalik perkataan basa-basi itu.
“Baiklah. Kita tinggal.”
Bara pasrah saja. Mau tinggal ya sudah. Mungkin ini merupakan kesempatan bagus
baginya untuk mencoba menjinakkan Rhea. Kanya, Meena dan Soli pun bisa memiliki
kesempatan untuk berlatih dengan anak buah Alexi.
***
Teman-teman Kyra telah
berpencar, berkumpul dengan orang-orang yang mungkin bisa membantu dengan
tujuan mereka masing-masing. Makanya Kyra sendirian datang ke pondok Alexi. Dia
ingat bila Alexi berkata ingin melatihnya. Meskipun niat Kyra tidak murni hanya
ingin berlatih, tapi siapa yang peduli dengan alasan sebenarnya.
Dengan gugup, Kyra
mengetuk pintu. Berkali-kali dia merapikan rambutnya, berusaha terlihat sedikit
lebih menarik di depan Alexi. Ia tersenyum manis saat dibukakan pintu. Layaknya
anak kecil polos yang tak bisa menyembunyikan kegirangannya.
Kerasnya hati Alexi
terpengaruh. Ekspresi wajahnya melunak. Tampang datar kaku yang biasa mengiasi
wajah tampannya pun telah runtuh, berganti menjadi sebuah ulasan senyuman
lembut.
__ADS_1
“Apa aku mengganggumu?”
Kyra melirik hati-hati,
menatap tersipu pada sorot mata tertarik Alexi. Dia lupa bila Alexi tak tahu
dia merupakan tunangan yang terlupakan. Semua itu karena Alexi memberinya
perlakuan spesial, sehingga secara alami Kyra menganggap Alexi memiliki
ketertarikan yang sama dengan sosok burung cantik di dalam gunung api.
“Aku yang ingin bertemu
denganmu. Bagaimana aku bisa merasa terganggu?”
“Begitu, jadi aku boleh
masuk?”
“Silakan.”
Alexi membuka jalan,
mengajak Kyra masuk ke dalam pondok pribadinya. Tak banyak barang di tempat
itu. Hanya ada beberapa senjata, satu set meja untuk rapat dan sebuah tempat
tidur yang terlihat tak pernah terpakai.
Kyra merasa semakin gugup
saat Alexi menutup pintu. Padahal ini bukan pertama kali mereka hanya berduaan saja
di suatu tempat, tapi rasanya berbeda setelah apa yang mereka alami. Tangannya
bergerak sedikit canggung saat menarik sebuah kursi.
Setelah Kyra duduk, Alexi
duduk di sampingnya. Sangat dekat hingga menimbulkan rasa tak nyaman yang
menyenangkan. Mereka kebanyakan diam saja, tapi tak ada yang bisa menghentikan
hati mereka untuk saling tertarik satu sama lainnya.
“Aku senang kita bisa
bertemu lagi.” Tiba-tiba saja Alexi menyapu rambut Kyra, merapikan beberapa
helai rambut yang berjatuhan di wajahnya. Gerakan jari yang ringan meninggalkan
debaran nyata dalam dada Kyra.
Mereka bahkan tidak
berpacaran. Hanya kerinduan dan perasaan
yang membuat mereka merasa tak masalah melompati semua tahap tersebut. Pria ini
bukan manusia, mengikuti logika hubungan manusia pada umumnya tak akan ada
gunanya.
“Aku juga,” balas Kyra.
Kepala gadis itu
tertunduk. Kelopak matanya jatuh ke bawah, membuatnya terlihat lebih menarik di
mata Alexi. Rasanya, Alexi jadi ingin memeluk Kyra, memintanya tinggal dan
membuang jauh-jauh tujuannya untuk melatih gadis ini.
“Oh ya, katanya Letnan
ingin melatihku.” Mencoba menghapus kegugupannya, Kyra mengalihkan pembicaraan
kembali ke latihan.
“Itu hanya alasan.
Bagaimana jika aku bilang, bila sebenarnya aku hanya ingin menghabiskan lebih banyak
waktu denganmu.” Kemudian, Kyra dibuat tak bisa berkata-kata saat mendengar
perasaan Alexi padanya. Inilah yang dia harapkan. Hanya saja, perasaan dari
sepertiga bagian tak cukup untuknya.
“Apa kamu bersedia
berhenti menjadi Petualang dan menungguku pulang di rumah yang kusiapkan?” Kyra
merasa seperti benar-benar dilamar, diminta untuk tinggal bersama dengan orang
yang dicintainya. Akan tetapi, dia tidak bisa menerima semua itu. Sebelum
kekuatannya dibangkitkan, dia hanya manusia yang punya batas hidup. Dia akan
menjadi tua dengan cepat, meninggalkan Alexi yang tak tahu apa-apa sendirian. Kyra
paham benar bila pilihannya hanya ada satu. Mengumpulkan seluruh bagian dari
Phoenix dan membangkitkan kekuatannya agar mereka bisa hidup bersama selamanya.
“Aku tidak bisa. Maafkan
aku, Letnan Alexi.” Saat melihat Kyra menggelengkan kepalanya kuat-kuat, Alexi
merasa ditolak. Namun di sisi lain, dia bisa mengerti. Kyra tak sepenuhnya
tidak menginginkannya. Perasaan Kyra terlalu mudah terlihat, jelas-jelas tergambarkan
dari reaksinya. Hati seorang gadis yang sepenuhnya telah jatuh padanya.
“Bisakah kamu yang
menungguku? Aku janji, di saat aku kembali lagi ke kerajaan ini, saat itulah
giliran aku yang menunggumu. Sekarang, aku hanya bisa memintamu percaya dan
menungguku kembali.”
Rasa frustrasi Kyra
tersampaikan pada Alexi. Bagaimana mata indah gadis muda itu menatapnya penuh
cinta dan bagaimana tangan kecilnya mengepal dengan erat di atas meja membuat
Alexi tak bisa memaksakan kehendaknya.
“Aku sudah hidup selama
ratusan tahun tanpa pernah mengetahui dari mana asalku dan apa yang benar-benar
kuinginkan. Dan sekarang, untuk pertama kalinya aku merasa menginginkan
seseorang. Menunggu sedikit lebih lama lagi sama sekali bukan masalah untukku,
Kyra. Aku akan menunggumu.”
Kyra tersenyum lebar,
merasa tersentuh oleh ketulusan Alexi. Dia menjatuhkan tubuhnya dalam dekapan
erat lengan kokoh Alexi. Rasanya masih sulit percaya ... bila semudah ini bagi
__ADS_1
mereka untuk saling memahami.