
Ditinggal oleh Meena, Nakula
barulah menunjukkan kepeduliannya pada keadaan Benteng Barat. Ia memang datang
untuk menolong Meena, tetapi setelah tahu adanya masalah serius di Benteng
Barat, tak mungkin Nakula akan pulang begitu saja tanpa melakukan apa pun.
“Kenapa tidak ada seorang
pun yang melaporkan tentang keadaan Jenderal Roman?” Hanya dengan satu
pertanyaan, Nakula membuat semua orang ketakutan.
“Mohon maaf, Yang mulia.
Kami kira, kami masih bisa mengatasi hal ini sendirian.” Amara yang menjawab.
Di belakangnya, Kanya hanya diam tak berani bertatapan mata dengan Nakula. Sekali pandang, ia tahu seberapa
menakutkan kekuatan Naga itu.
“Mengatasi dengan cara
memancing musuh? Lihatlah kenyataannya. Sekarang semua orang tahu ada tiga
pengantin binatang mistik di benteng ini. Kau bisa bayangkan serangan seperti
apa yang datang selanjutnya?”
Amara menggeleng. Sebagai
satu-satunya kerajaan yang selamat di Mystisia, bukan berarti tak ada kekuatan
lain yang mampu menghancurkannya. Selain banyaknya organisasi ilegal, kelompok
yang selamat dari kerajaan lain juga pasti tak mau melepaskan kesempatan untuk
mendapatkan kekuatan.
Saat memutuskan
menyembunyikan keadaan ayahnya, Amara tak menyangka bila keadaan bisa
berkembang sejauh ini. Sejak awal, ia tak seharusnya memanfaatkan kekuatan
Kanya.
“Seberapa buruk keadaan
ayahmu?”
Kedua tangan Amara
bergetar. Dia tak punya keberanian untuk mengungkapkannya meskipun sudah tahu
bila tak ada jalan keluar. Batas hidup merupakan sesuatu yang tidak bisa
disembuhkan.
“Ayah tak punya banyak
waktu lagi. Mungkin hanya tersisa seminggu.” Kanya memberanikan diri menjawab
Nakula. Dia tak mau terus dilindungi oleh kakaknya. Gadis kecil itu maju ke
depan, menghadapi kemarahan Raja sebagai seorang Tuan Putri Benteng Barat.
“Kau bukanlah anak
Jenderal Roman, benar?” Kanya bukan manusia. Nakula bisa melihatnya. Dia mengambil
sosok manusia, menyamar menjadi gadis kecil untuk menutupi sosok aslinya.
Bahkan Amara dan Roman tak ada yang tahu sosok sebenarnya Kanya saat mereka
mengadopsinya.
“Ayahku mengadopsi Kanya.
Dia telah tinggal dengan kami sejak kecil. Tolong Yang Mulia jangan
menyalahkannya. Kanya hanya anak-anak, semua kekacauan ini akan menjadi
tanggung jawabku.” Amara segera memberi tahu. Dia tak ingin Nakula salah paham
mengira Kanya menipunya. Seluruh penduduk kota air tahu akan hal itu, tapi
mungkin kabarnya tidak sampai ke istana.
“Anak kecil. Hem ... jadi
kau menipu semua orang, benar Kanya?”
Kanya terbelalak. Cara
Nakula menatapnya begitu mengintimidasi, seakan tengah mengintip ke dalam
pikirannya. Ia segera mengerti bila sosoknya telah ketahuan. Tak peduli sebaik
apa dia menyamar menjadi manusia, ia tak akan pernah menjadi manusia sepenuhnya.
“Kanya tidak bermaksud
jahat! Dia menipu untuk melindungi keluarganya!”
Tiba-tiba saja Kyra
memotong pembicaraan. Ia menyadari ancaman Nakula pada temanya, makanya gadis
api tak bisa menahan diri hanya dengan diam dan menonton tanpa melakukan apa
pun. Alexi sampai tak sempat menahan Kyra. Padahal sampai beberapa saat yang
lalu Kyra masih takut dengan Nakula, tapi sekarang malah nekat ingin melawan.
“Aku tidak bicara soal
kebohongannya mengatakan Amara yang merupakan pengantin Kura-kura Hitam. Aku
bertanya padanya kenapa ia menyamar menjadi manusia dan berbohong soal usianya,
Kyra. Kembali ke tempatmu, tak seharusnya kau membelanya tanpa tahu apa-apa.”
Bersama dengan perkataannya, Nakula menghempaskan tubuh Kyra ke belakang. Bila
Alexi dan Bara tidak menangkapnya, ia pasti sudah menabrak tembok.
“Kanya adalah manusia!”
teriak Kyra, masih saja ingin melawan.
“Kyra, Yang Mulia benar.
Kanya bukanlah manusia. Diam di sini, biarkan dia menjelaskan sendiri.” Detik
berikutnya, Kyra dibuat bungkam oleh Alexi. Dia menoleh, menatap Bara
memastikan perkataan Alexi.
Beberapa makhluk memang
bisa mengambil sosok manusia, tapi selalu ada luapan energi berbeda yang
membuat mereka tidak terlihat seperti manusia dan luapan energi itu tidak bisa
Kyra rasakan pada Kanya.
“Jangan menatapku. Aku
juga tak bisa membedakannya, tapi yang pasti ia berasal dari ras kuno yang memiliki
kemampuan khusus untuk menyembunyikan sosok aslinya hingga hanya bisa terlihat
oleh binatang mistik,” ujar Bara.
__ADS_1
Bicara soal ras kuno dan
tertua, pastilah empat binatang mistik. Pengetahuan dan kekuatan mereka tak ada
tandingannya. Hanya sesama binatang mistik yang bisa saling membunuh. Itulah
kenapa semua orang begitu terobsesi menginginkan kekuatan mereka meskipun hanya
setengahnya.
Di bawah posisi keempat
binatang mistik, ada yang namanya ras kuno. Kebanyakan dari mereka telah punah
atau bersembunyi di tempat yang tak terbayangkan oleh siapa pun. Kemudian ada banyak
isu yang beredar mengatakan bila mereka menguasai sebuah teknik yang membuat
mereka tampak seperti manusia biasa. Itulah kenapa mereka tak pernah bisa
ditemukan.
Karena Nakula bisa
melihatnya, Bara rasa besar kemungkinan Kanya berasal dari salah satu ras kuno
itu. Hanya saja ada yang mengganggu pikiran Bara. Yakni kenapa Alexi juga bisa
melihat sosok asli Kanya?
“Aku adalah Roh Air.”
Karena Nakula sudah menyergapnya seperti itu, Kanya memutuskan untuk mengaku.
Lagian percuma saja mencari alasan. Lawanannya adalah binatang mistik, siapa
yang sanggup menghadapinya.
“Oho ... sudah kuduga.
Auramu terasa tak asing. Kebetulan sekali, salah satu selirku juga Roh Air. Dia
menyatu di kolam istana.” Tiba-tiba saja Nakula tertawa. Setelah bertingkah
seperti ingin menghakimi Kanya, sekarang ia malah bercerita tentang selirnya.
Alexi menghela napas
panjang. Ia salah menebak lagi. Raja genit itu tak pernah berubah. Hanya ingin
main-main. Harusnya ia tak perlu tegang mengkhawatirkan apa yang akan terjadi.
“Kalian tak usah panik
begitu. Aku tak berniat menghukumnya,” sambung Nakula.
“Yang Mulia sudah
memutuskan. Kalian bisa tenang.” Alexi menjelaskan, bila Nakula tak punya niat
jahat saat meminta Kanya menunjukkan sosok aslinya. Kyra pun telah ia lepaskan.
Nyatanya, percaya pada keseriusan Nakula adalah hal bodoh. Pria satu ini tak
akan bisa serius bahkan di saat genting. Apalagi hanya dalam situasi yang
menurutnya tak terlalu serius.
“Kalau begitu syukurlah.”
Kyra merasa lega. Ia tak akan marah hanya karena temannya tidak menunjukkan
sosok aslinya.
“Kanya pasti punya alasan
sendiri kenapa menyembunyikan sosoknya,” kata Amara.
Kyra mengangguk setuju
dengan perkataan Amara. Namun, tidak semua orang berpikiran sama. Banyak dari
“Punya alasan? Memangnya
hanya dengan berkata seperti itu, kami bisa terima? Kebohongannya membuat
seluruh kota diserang! Banyak saudara-saudara kami yang terbunuh!” Suara protes
dari perwakilan prajurit benteng mengagetkan Amara. Pada akhirnya, dirinya tak
pernah diakui sebagai Pemilik Benteng. Kelemahan dan keputusannya yang
mendatangkan masalah. Dia bahkan tak bisa melindungi keluarganya sendiri.
“Jangan menyalahkan
kakakku! Akulah yang berbohong pada kalian!” Kanya paham keadaannya. Ia tahu ia
tak punya hak untuk tinggal di sini lagi, tapi setidaknya dia ingin melakukan
sesuatu untuk Amara.
Karena sekarang masalah telah
beralih ke persoalan pribadi orang-orang Benteng Barat, Nakula malas ikut
campur. Dia makan buah sambil menonton. Bahkan Kyra dan Bara bisa melihat
betapa tak tertariknya Raja pada masalah Kanya dan Amara. Mereka ingin
melakukan sesuatu, tapi Alexi melarang.
“Ini adalah masalah yang
harus mereka selesaikan lebih dulu,” kata Alexi.
Para Petualang juga tak
bisa ikut campur. Toh mereka berniat meninggalkan Benteng Barat besok pagi.
Misinya hanya untuk mempertahankan benteng dari satu serangan besar dan
serangan tadi siang telah mengakhiri misi. Yang tersisa adalah masalah pribadi
benteng itu sendiri. Kemudian soal para pengantin, biar Nakula yang memutuskan.
“Kalian berdua sama saja!
Jangan kira ada yang mau memercayai kalian lagi!” Tentu saja Kanya dan Amara
sadar akan posisi mereka. Apa yang mereka mulai, mereka juga yang harus
mengakhirnya. Amara bangkit berdiri, menggenggam tangan Kanya erat-erat.
“Apa yang harus kami
lakukan agar kalian merasa puas?” Ini pertama kalinya Amara berdiri dengan
ketetapan hati. Dia telah siap menerima apa pun tuntutan mereka. Bahkan jika
mereka memintanya meninggalkan tanah kelahirannya. Ayahnya akan segera tiada
dan bila Kanya juga pergi, Amara akan memiliki siapa pun lagi di sini.
“Tinggalkan Benteng Barat.
Tidak ada yang menginginkan pemimpin yang mementingkan urusan pribadi melebihi
keamanan kota.” Mereka benar. Sejak awal Amara telah banyak berbuat salah. Ia bahkan
sadar diri bila ia memang tak pantas menjadi pemilik benteng.
“Bila kalian menginginkan
kedua gadis ini meninggalkan benteng, lalu siapa yang akan mengambil tanggung
__ADS_1
jawab melindungi perbatasan?” Entah kenapa Nakula lagi-lagi menyela. Sesaat
terlihat tak peduli dan sekarang mau ikut campur lagi.
Prajurit pelindung benteng
menelan ludah, merasa tertekan dengan pertanyaan Nakula. Mereka hanya ingin
menyalahkan Amara dan Kanya. Tak ada satu pun yang berpikir akan tanggung jawab
dari posisi pemilik benteng itu sendiri.
“Yang Mulia bisa
menentukannya. Aku, Roman akan menerima siapa pun yang akan terpilih menjadi
penerusku.” Kedatangan Roman membuat seluruh ruangan menjadi sunyi. Tak ada
yang berpikir seorang pria tua yang tengah berbaring sekarat bisa bangun dan
berdiri dengan tegap di hadapan mereka.
Nakula menyeringai. Sang
Raja tahu. Meena pura-pura merajuk meninggalkan kastil untuk melakukan sesuatu
pada Roman. Ia bisa merasakan kekuatan Meena melapisi tubuh Roman. Gadis mungil
kesayangannya pastilah menggunakan semua kekuatannya hanya untuk membuat Roman
bangun meski hanya dalam waktu singkat.
Pada akhirnya Meena
memilih untuk menolong kakak beradik itu. Dia tak mau tahu tentang konflik pribadi
penghuni benteng ataupun tentang kebohongan Kanya. Selama Roman bisa
mengeluarkan suara, maka semua bisa terselesaikan dengan baik.
“Bila Jenderal masih
begini sehat, kami tak perlu pengganti!” Prajurit-prajurit itu hanya melihat
dari luar. Sosok tegap Roman yang di depan mata mereka. Tak ada yang sadar
betapa lemahnya tubuh tua itu dan apa yang akan dia hadapi setelah seluruh efek
sihir Meena menghilang.
“Aku akan mati esok pagi.
Mulai dari sini, kalian yang harus melindungi Benteng Barat. Berdirilah yang
tegar, patuhi penerusku.” Permintaan terakhir Roman terasa menyakitkan.
Terlebih saat ia mengucapkannya dengan keadaan terlihat sehat.
“Karena kau sudah berkata
begitu, akan kuhormati keinginanmu, Jenderal Roman. Akan kuangkat Jenderal baru
untuk menjadi pemilik Benteng Barat dan orang itu akan menikahi putrimu, Amara.”
“Aku mengerti. Perintah
Yang Mulia akan diterima oleh seluruh penduduk Benteng Barat.”
Banyak yang tak setuju
dengan keputusan Nakula, tetapi karena Roman telah menyetuinya, tak ada yang
berani protes. Apalagi keputusan itu sebenarnya bisa dianggap paling tepat
mengingat bila keluarga pemilik benteng telah melindungi kota selama beberapa
generasi. Bila mereka mengesampingkan kesalahan Amara, membiarkan suaminya yang
memimpin bisa mempertahankan garis darah keluarga pemilik. Hanya saja, tak ada
seorang pun yang tahu siapa yang akan datang sebagai Jenderal baru.
“Bila Yang Mulia tak
keberatan, bolehkah aku mengetahui siapa penerusku?” Pertanyaan Roman mewakili
pertanyaan semua orang. Sorot matanya yang tertuju pada Alexi membuat mereka
mulai menduga-duga. Jika mengikuti urutan jabatan dalam tingkat Ksatria
kerajaan, posisi Alexi tepat di bawah Jenderal Roman. Kebetulan ia juga sudah
ada di sini. Jadi wajar bila Roman berpikir Alexi adalah kandidat utamanya.
Akan tetapi, bila melihat
dari keadaan sebenarnya ... Nakula tak akan punya nyali menunjuk Alexi. Tatapan
mengancam Letnan Alexi menyerangnya tanpa suara, membuat Nakula berkeringat
dingin takut pada bawahan sendiri.
“Jangan menatap Letnan
Alexi, Jenderal Roman. Aku membutuhkannya untuk memimpin pasukan penyerangan.
Menempatkannya untuk mempertahankan benteng akan melemahkan kekuatan serang
kerajaan. Letnan Oris yang akan menjadi penerusmu.” Nakula berbicara seakan serius
mempertimbangkan situasi kerajaan. Aslinya dia tak peduli siapa saja asalkan
tidak membuat Alexi marah.
“Syukurlah, Letnan Oris pengguna
sihir air bertahan. Kekuatannya memang cocok untuk memimpin Benteng Barat. Yang
Mulia sungguh bijaksana.”
“Haha! Tentu saja, aku
memang seorang Raja yang luar biasa.”
Dan begitulah bagaimana
keadaan Benteng Barat kembali terkontrol. Nama Letnan Oris sudah dikenal baik,
banyak orang yang menghormatinya dan Amara pun menyukai pribadi pria itu.
Menikah dan menjaga benteng bersama merupakan hal bagus untuknya, tetapi
bagaimana dengan nasib Kanya?
“Untuk urusan benteng,
sisanya kuserahkan kepada kalian. Sedangkan gadis-gadis pengantin harus ikut
denganku.” Sebelum Amara sempat bertanya, Nakula telah memberikan jawaban.
Lebih tepatnya perintah yang tak bisa dibantah.
Kanya pun terlihat tak
punya keinginan untuk membantah. Sehingga Amara dan Roman tak punya pilihan
selain mengucapkan selamat tinggal. Kyra sendiri tak yakin apa yang akan dia
lakukan. Tujuannya mencari Peri Mimpi sudah dekat, tapi setelah kekacauan ini,
dia tak bisa membantah perintah Nakula.
“Untuk sekarang jangan
melawan Raja, Kyra. Aku yakin beliau masih berpihak pada kita.” Bahkan Bara
__ADS_1
telah berkata seperti itu. Apalagi yang bisa dia lakukan. Kyra hanya berharap
besok pagi Meena tak mengamuk dan mulai mencakari Nakula.