Phoenix Bride

Phoenix Bride
Episode 26


__ADS_3

Ditinggal oleh Meena, Nakula


barulah menunjukkan kepeduliannya pada keadaan Benteng Barat. Ia memang datang


untuk menolong Meena, tetapi setelah tahu adanya masalah serius di Benteng


Barat, tak mungkin Nakula akan pulang begitu saja tanpa melakukan apa pun.


“Kenapa tidak ada seorang


pun yang melaporkan tentang keadaan Jenderal Roman?” Hanya dengan satu


pertanyaan, Nakula membuat semua orang ketakutan.


“Mohon maaf, Yang mulia.


Kami kira, kami masih bisa mengatasi hal ini sendirian.” Amara yang menjawab.


Di belakangnya, Kanya hanya diam tak berani  bertatapan mata dengan Nakula. Sekali pandang, ia tahu seberapa


menakutkan kekuatan Naga itu.


“Mengatasi dengan cara


memancing musuh? Lihatlah kenyataannya. Sekarang semua orang tahu ada tiga


pengantin binatang mistik di benteng ini. Kau bisa bayangkan serangan seperti


apa yang datang selanjutnya?”


Amara menggeleng. Sebagai


satu-satunya kerajaan yang selamat di Mystisia, bukan berarti tak ada kekuatan


lain yang mampu menghancurkannya. Selain banyaknya organisasi ilegal, kelompok


yang selamat dari kerajaan lain juga pasti tak mau melepaskan kesempatan untuk


mendapatkan kekuatan.


Saat memutuskan


menyembunyikan keadaan ayahnya, Amara tak menyangka bila keadaan bisa


berkembang sejauh ini. Sejak awal, ia tak seharusnya memanfaatkan kekuatan


Kanya.


“Seberapa buruk keadaan


ayahmu?”


Kedua tangan Amara


bergetar. Dia tak punya keberanian untuk mengungkapkannya meskipun sudah tahu


bila tak ada jalan keluar. Batas hidup merupakan sesuatu yang tidak bisa


disembuhkan.


“Ayah tak punya banyak


waktu lagi. Mungkin hanya tersisa seminggu.” Kanya memberanikan diri menjawab


Nakula. Dia tak mau terus dilindungi oleh kakaknya. Gadis kecil itu maju ke


depan, menghadapi kemarahan Raja sebagai seorang Tuan Putri Benteng Barat.


“Kau bukanlah anak


Jenderal Roman, benar?” Kanya bukan manusia. Nakula bisa melihatnya. Dia mengambil


sosok manusia, menyamar menjadi gadis kecil untuk menutupi sosok aslinya.


Bahkan Amara dan Roman tak ada yang tahu sosok sebenarnya Kanya saat mereka


mengadopsinya.


“Ayahku mengadopsi Kanya.


Dia telah tinggal dengan kami sejak kecil. Tolong Yang Mulia jangan


menyalahkannya. Kanya hanya anak-anak, semua kekacauan ini akan menjadi


tanggung jawabku.” Amara segera memberi tahu. Dia tak ingin Nakula salah paham


mengira Kanya menipunya. Seluruh penduduk kota air tahu akan hal itu, tapi


mungkin kabarnya tidak sampai ke istana.


“Anak kecil. Hem ... jadi


kau menipu semua orang, benar Kanya?”


Kanya terbelalak. Cara


Nakula menatapnya begitu mengintimidasi, seakan tengah mengintip ke dalam


pikirannya. Ia segera mengerti bila sosoknya telah ketahuan. Tak peduli sebaik


apa dia menyamar menjadi manusia, ia tak akan pernah menjadi manusia sepenuhnya.


“Kanya tidak bermaksud


jahat! Dia menipu untuk melindungi keluarganya!”


Tiba-tiba saja Kyra


memotong pembicaraan. Ia menyadari ancaman Nakula pada temanya, makanya gadis


api tak bisa menahan diri hanya dengan diam dan menonton tanpa melakukan apa


pun. Alexi sampai tak sempat menahan Kyra. Padahal sampai beberapa saat yang


lalu Kyra masih takut dengan Nakula, tapi sekarang malah nekat ingin melawan.


“Aku tidak bicara soal


kebohongannya mengatakan Amara yang merupakan pengantin Kura-kura Hitam. Aku


bertanya padanya kenapa ia menyamar menjadi manusia dan berbohong soal usianya,


Kyra. Kembali ke tempatmu, tak seharusnya kau membelanya tanpa tahu apa-apa.”


Bersama dengan perkataannya, Nakula menghempaskan tubuh Kyra ke belakang. Bila


Alexi dan Bara tidak menangkapnya, ia pasti sudah menabrak tembok.


“Kanya adalah manusia!”


teriak Kyra, masih saja ingin melawan.


“Kyra, Yang Mulia benar.


Kanya bukanlah manusia. Diam di sini, biarkan dia menjelaskan sendiri.” Detik


berikutnya, Kyra dibuat bungkam oleh Alexi. Dia menoleh, menatap Bara


memastikan perkataan Alexi.


Beberapa makhluk memang


bisa mengambil sosok manusia, tapi selalu ada luapan energi berbeda yang


membuat mereka tidak terlihat seperti manusia dan luapan energi itu tidak bisa


Kyra rasakan pada Kanya.


“Jangan menatapku. Aku


juga tak bisa membedakannya, tapi yang pasti ia berasal dari ras kuno yang memiliki


kemampuan khusus untuk menyembunyikan sosok aslinya hingga hanya bisa terlihat


oleh binatang mistik,” ujar Bara.

__ADS_1


Bicara soal ras kuno dan


tertua, pastilah empat binatang mistik. Pengetahuan dan kekuatan mereka tak ada


tandingannya. Hanya sesama binatang mistik yang bisa saling membunuh. Itulah


kenapa semua orang begitu terobsesi menginginkan kekuatan mereka meskipun hanya


setengahnya.


Di bawah posisi keempat


binatang mistik, ada yang namanya ras kuno. Kebanyakan dari mereka telah punah


atau bersembunyi di tempat yang tak terbayangkan oleh siapa pun. Kemudian ada banyak


isu yang beredar mengatakan bila mereka menguasai sebuah teknik yang membuat


mereka tampak seperti manusia biasa. Itulah kenapa mereka tak pernah bisa


ditemukan.


Karena Nakula bisa


melihatnya, Bara rasa besar kemungkinan Kanya berasal dari salah satu ras kuno


itu. Hanya saja ada yang mengganggu pikiran Bara. Yakni kenapa Alexi juga bisa


melihat sosok asli Kanya?


“Aku adalah Roh Air.”


Karena Nakula sudah menyergapnya seperti itu, Kanya memutuskan untuk mengaku.


Lagian percuma saja mencari alasan. Lawanannya adalah binatang mistik, siapa


yang sanggup menghadapinya.


“Oho ... sudah kuduga.


Auramu terasa tak asing. Kebetulan sekali, salah satu selirku juga Roh Air. Dia


menyatu di kolam istana.” Tiba-tiba saja Nakula tertawa. Setelah bertingkah


seperti ingin menghakimi Kanya, sekarang ia malah bercerita tentang selirnya.


Alexi menghela napas


panjang. Ia salah menebak lagi. Raja genit itu tak pernah berubah. Hanya ingin


main-main. Harusnya ia tak perlu tegang mengkhawatirkan apa yang akan terjadi.


“Kalian tak usah panik


begitu. Aku tak berniat menghukumnya,” sambung Nakula.


“Yang Mulia sudah


memutuskan. Kalian bisa tenang.” Alexi menjelaskan, bila Nakula tak punya niat


jahat saat meminta Kanya menunjukkan sosok aslinya. Kyra pun telah ia lepaskan.


Nyatanya, percaya pada keseriusan Nakula adalah hal bodoh. Pria satu ini tak


akan bisa serius bahkan di saat genting. Apalagi hanya dalam situasi yang


menurutnya tak terlalu serius.


“Kalau begitu syukurlah.”


Kyra merasa lega. Ia tak akan marah hanya karena temannya tidak menunjukkan


sosok aslinya.


“Kanya pasti punya alasan


sendiri kenapa menyembunyikan sosoknya,” kata Amara.


Kyra mengangguk setuju


dengan perkataan Amara. Namun, tidak semua orang berpikiran sama. Banyak dari


“Punya alasan? Memangnya


hanya dengan berkata seperti itu, kami bisa terima? Kebohongannya membuat


seluruh kota diserang! Banyak saudara-saudara kami yang terbunuh!” Suara protes


dari perwakilan prajurit benteng mengagetkan Amara. Pada akhirnya, dirinya tak


pernah diakui sebagai Pemilik Benteng. Kelemahan dan keputusannya yang


mendatangkan masalah. Dia bahkan tak bisa melindungi keluarganya sendiri.


“Jangan menyalahkan


kakakku! Akulah yang berbohong pada kalian!” Kanya paham keadaannya. Ia tahu ia


tak punya hak untuk tinggal di sini lagi, tapi setidaknya dia ingin melakukan


sesuatu untuk Amara.


Karena sekarang masalah telah


beralih ke persoalan pribadi orang-orang Benteng Barat, Nakula malas ikut


campur. Dia makan buah sambil menonton. Bahkan Kyra dan Bara bisa melihat


betapa tak tertariknya Raja pada masalah Kanya dan Amara. Mereka ingin


melakukan sesuatu, tapi Alexi melarang.


“Ini adalah masalah yang


harus mereka selesaikan lebih dulu,” kata Alexi.


Para Petualang juga tak


bisa ikut campur. Toh mereka berniat meninggalkan Benteng Barat besok pagi.


Misinya hanya untuk mempertahankan benteng dari satu serangan besar dan


serangan tadi siang telah mengakhiri misi. Yang tersisa adalah masalah pribadi


benteng itu sendiri. Kemudian soal para pengantin, biar Nakula yang memutuskan.


“Kalian berdua sama saja!


Jangan kira ada yang mau memercayai kalian lagi!” Tentu saja Kanya dan Amara


sadar akan posisi mereka. Apa yang mereka mulai, mereka juga yang harus


mengakhirnya. Amara bangkit berdiri, menggenggam tangan Kanya erat-erat.


“Apa yang harus kami


lakukan agar kalian merasa puas?” Ini pertama kalinya Amara berdiri dengan


ketetapan hati. Dia telah siap menerima apa pun tuntutan mereka. Bahkan jika


mereka memintanya meninggalkan tanah kelahirannya. Ayahnya akan segera tiada


dan bila Kanya juga pergi, Amara akan memiliki siapa pun lagi di sini.


“Tinggalkan Benteng Barat.


Tidak ada yang menginginkan pemimpin yang mementingkan urusan pribadi melebihi


keamanan kota.” Mereka benar. Sejak awal Amara telah banyak berbuat salah. Ia bahkan


sadar diri bila ia memang tak pantas menjadi pemilik benteng.


“Bila kalian menginginkan


kedua gadis ini meninggalkan benteng, lalu siapa yang akan mengambil tanggung

__ADS_1


jawab melindungi perbatasan?” Entah kenapa Nakula lagi-lagi menyela. Sesaat


terlihat tak peduli dan sekarang mau ikut campur lagi.


Prajurit pelindung benteng


menelan ludah, merasa tertekan dengan pertanyaan Nakula. Mereka hanya ingin


menyalahkan Amara dan Kanya. Tak ada satu pun yang berpikir akan tanggung jawab


dari posisi pemilik benteng itu sendiri.


“Yang Mulia bisa


menentukannya. Aku, Roman akan menerima siapa pun yang akan terpilih menjadi


penerusku.” Kedatangan Roman membuat seluruh ruangan menjadi sunyi. Tak ada


yang berpikir seorang pria tua yang tengah berbaring sekarat bisa bangun dan


berdiri dengan tegap di hadapan mereka.


Nakula menyeringai. Sang


Raja tahu. Meena pura-pura merajuk meninggalkan kastil untuk melakukan sesuatu


pada Roman. Ia bisa merasakan kekuatan Meena melapisi tubuh Roman. Gadis mungil


kesayangannya pastilah menggunakan semua kekuatannya hanya untuk membuat Roman


bangun meski hanya dalam waktu singkat.


Pada akhirnya Meena


memilih untuk menolong kakak beradik itu. Dia tak mau tahu tentang konflik pribadi


penghuni benteng ataupun tentang kebohongan Kanya. Selama Roman bisa


mengeluarkan suara, maka semua bisa terselesaikan dengan baik.


“Bila Jenderal masih


begini sehat, kami tak perlu pengganti!” Prajurit-prajurit itu hanya melihat


dari luar. Sosok tegap Roman yang di depan mata mereka. Tak ada yang sadar


betapa lemahnya tubuh tua itu dan apa yang akan dia hadapi setelah seluruh efek


sihir Meena menghilang.


“Aku akan mati esok pagi.


Mulai dari sini, kalian yang harus melindungi Benteng Barat. Berdirilah yang


tegar, patuhi penerusku.” Permintaan terakhir Roman terasa menyakitkan.


Terlebih saat ia mengucapkannya dengan keadaan terlihat sehat.


“Karena kau sudah berkata


begitu, akan kuhormati keinginanmu, Jenderal Roman. Akan kuangkat Jenderal baru


untuk menjadi pemilik Benteng Barat dan orang itu akan menikahi putrimu, Amara.”


“Aku mengerti. Perintah


Yang Mulia akan diterima oleh seluruh penduduk Benteng Barat.”


Banyak yang tak setuju


dengan keputusan Nakula, tetapi karena Roman telah menyetuinya, tak ada yang


berani protes. Apalagi keputusan itu sebenarnya bisa dianggap paling tepat


mengingat bila keluarga pemilik benteng telah melindungi kota selama beberapa


generasi. Bila mereka mengesampingkan kesalahan Amara, membiarkan suaminya yang


memimpin bisa mempertahankan garis darah keluarga pemilik. Hanya saja, tak ada


seorang pun yang tahu siapa yang akan datang sebagai Jenderal baru.


“Bila Yang Mulia tak


keberatan, bolehkah aku mengetahui siapa penerusku?” Pertanyaan Roman mewakili


pertanyaan semua orang. Sorot matanya yang tertuju pada Alexi membuat mereka


mulai menduga-duga. Jika mengikuti urutan jabatan dalam tingkat Ksatria


kerajaan, posisi Alexi tepat di bawah Jenderal Roman. Kebetulan ia juga sudah


ada di sini. Jadi wajar bila Roman berpikir Alexi adalah kandidat utamanya.


Akan tetapi, bila melihat


dari keadaan sebenarnya ... Nakula tak akan punya nyali menunjuk Alexi. Tatapan


mengancam Letnan Alexi menyerangnya tanpa suara, membuat Nakula berkeringat


dingin takut pada bawahan sendiri.


“Jangan menatap Letnan


Alexi, Jenderal Roman. Aku membutuhkannya untuk memimpin pasukan penyerangan.


Menempatkannya untuk mempertahankan benteng akan melemahkan kekuatan serang


kerajaan. Letnan Oris yang akan menjadi penerusmu.” Nakula berbicara seakan serius


mempertimbangkan situasi kerajaan. Aslinya dia tak peduli siapa saja asalkan


tidak membuat Alexi marah.


“Syukurlah, Letnan Oris pengguna


sihir air bertahan. Kekuatannya memang cocok untuk memimpin Benteng Barat. Yang


Mulia sungguh bijaksana.”


“Haha! Tentu saja, aku


memang seorang Raja yang luar biasa.”


Dan begitulah bagaimana


keadaan Benteng Barat kembali terkontrol. Nama Letnan Oris sudah dikenal baik,


banyak orang yang menghormatinya dan Amara pun menyukai pribadi pria itu.


Menikah dan menjaga benteng bersama merupakan hal bagus untuknya, tetapi


bagaimana dengan nasib Kanya?


“Untuk urusan benteng,


sisanya kuserahkan kepada kalian. Sedangkan gadis-gadis pengantin harus ikut


denganku.” Sebelum Amara sempat bertanya, Nakula telah memberikan jawaban.


Lebih tepatnya perintah yang tak bisa dibantah.


Kanya pun terlihat tak


punya keinginan untuk membantah. Sehingga Amara dan Roman tak punya pilihan


selain mengucapkan selamat tinggal. Kyra sendiri tak yakin apa yang akan dia


lakukan. Tujuannya mencari Peri Mimpi sudah dekat, tapi setelah kekacauan ini,


dia tak bisa membantah perintah Nakula.


“Untuk sekarang jangan


melawan Raja, Kyra. Aku yakin beliau masih berpihak pada kita.” Bahkan Bara

__ADS_1


telah berkata seperti itu. Apalagi yang bisa dia lakukan. Kyra hanya berharap


besok pagi Meena tak mengamuk dan mulai mencakari Nakula.


__ADS_2