
Perjalanan melewati hutan
ternyata sangatlah mudah. Meskipun muncul beberapa monster, tapi mereka tidak
terlalu kuat. Rasanya seperti pergi piknik daripada berpetualang.
Hutan yang lebat terasa
sejuk. Terkadang terdengar suara nyanyian Driad yang merdu. Kyra dan Meena
asyik bersenang-senang sambil latihan tak jelas. Kelompok kedua yaitu Soli dan
Kanya yang baru-baru ini menemukan kecocokan juga terlihat menikmati waktu bersama
membicarakan hobi mereka.
Bara jadi merasa seperti punya
banyak anak pungut. Dia jalan sendirian di belakang mengawasi keempat orang
itu. Selain Soli, sisanya terlihat seperti bocah di matanya.
“Bara! Ada kucing lucu!” Meena
memanggil di kejauhan sambil mengangkat seekor kucing yang ia tangkap. Badannya
besar. Dengan bulu bermotif belang hitam dan emas. Sekali lihat saja Bara sudah
tahu kalau itu merupakan seekor Siluman Kucing Hutan.
“Nona Meena, turunkan dia!”
Soli langsung panik. Ia merampas kucing Meena. Sebab, ia tahu pasti kalau
kucing jenis ini memiliki kecerdasan tinggi dan sifat yang buas.
“Kau tak asyik, Soli!
Kembalikan mainanku!” Meena merajuk deh, mencoba merampas paksa kucing itu.
“Tidak!” Tentu saja Soli
tak mengembalikannya.
“Meena, aku dapat juga!
Yang ini lebih besar!” Hanya saja Kyra sama menyusahkannya dengan Meena. Ia
bahkan menangkap yang lebih besar. Dilempar-lemparkan sambil berlarian ke arah
Meena.
“Pinjamkan padaku, Kyra!”
Meena langsung ke sana, ikut melempar kucing bersama dengan Kyra.
“Hentikan Nona!” Soli
masih belum menyerah menghentikan mereka. Jadilah tiga orang itu berlarian
begitu ribut sambil beroper dua ekor kucing.
Bara terpaku, menghela
napas lelah. Ini sudah entah ke berapa kalinya mereka menangkap makhluk tak
jelas hanya karena sedang bosan. Kanya jadi kasihan. Ia berjalan ke samping
Bara, menepuk punggung sang Elf menghibur.
“Yang sabar. Aku janji tak
akan bertingkah seperti mereka.” Paling tidak, dengan sosok aslinya, Kanya tak
akan bersikap kekanakan seperti saat dia masih tinggal dengan Amara.
“Terima kasih.” Bara
sungguh bersyukur. Bocahnya cukup dua saja.
“Tak masalah, tapi kau
yakin tak mau menghentikan mereka? Kucing Hutan sebesar itu pasti sudah bisa
berubah wujud dan berbicara, tapi mereka tetap mengeong dipermainkan.” Kanya
takut kucing-kucing itu punya maksud jahat. Ingin memakan mereka misalnya?
“Ada Soli, jadi tak
masalah.”
“Kasihanilah Soli.”
“Bukan itu maksudku. Soli
itu Siluman Kucing Hutan, mungkin mereka menganggap kita temannya?” Bara tak
yakin, tapi harusnya sesama satu spesies bisa saling mengenali.
“Eh? Soli bukan manusia?
Jadi sosok aslinya ... kucing jelek ... begitu?” Kanya syok. Baru saja dia
merasa akrab dengan Soli, tak tahunya sosok teman barunya itu seekor Siluman
Kucing.
“Aku belum pernah
melihatnya, tapi ya, begitulah.” Sihir manusia tak akan bisa mengubah tubuhnya
menjadi bayangan seperti yang biasa Soli lakukan. Jadi sejak awal Bara sudah
bisa menebak ras apa dia. Lagian memang tak disembunyikan sejak awal.
__ADS_1
“Tapi Soli tak mengeong
atau menjilati tangannya.” Kanya agak bingung. Biasanya kucing bersosok semirip
apa pun dengan manusia, selalu menunjukkan kebiasaan aslinya biar hanya
sedikit. Dia tak pernah menduga karena perilaku Soli benar-benar seperti manusia
daripada kedua manusia menyusahkan di depan sana.
“Dia pasti sangat ahli
menyembunyikan kebiasaan aslinya. Posisi pengawal pribadi Raja itu bukan hanya
pajangan tahu.” Oh iya, Kanya lupa. Dia baru dikasih tahu kalau Soli bawahan
Nakula.
“Kau tak senang? Kau juga
dan aku juga bukan manusia tahu.”
“Cuma kaget. Aku tak
mendiskriminasi. Lagian ras di dunia ini bukan soal penting.”
“Benar, tapi akhir-akhir
ini aku mulai tak menyukai manusia setelah mengasuh dua bocah itu.” Yang Bara
maksudkan adalah Kyra dan Meena, bocah-bocah terlalu energik yang menganggap
kucing bermuka seram dengan hidung pesek dan gigi taring besar sebagai sesuatu
yang lucu.
“Manusia seaneh itu hanya
mereka berdua. Percayalah. Manusia normal sejuta kali lebih tak membuat emosi.”
Kanya bersimpati pada Bara. Dia sudah cukup lama bersama dengan mereka untuk
bisa memahami perasaan Bara dan Soli.
“Hah ... kau benar.” Bara
menghela napas lagi, berjalan lebih cepat menyusul ketiga orang di depan
mereka.
“Kyahahaha! Tangkap
kucingnya, Bara!” Baru sedetik saja Bara lengah, Meena sudah melemparkan satu
Siluman Kucing ke depan wajahnya.
“Ah! Apa yang kaulakukan
Meena!?” Kyra jadi histeris. Pasalnya kucing itu melampiaskan kekesalan pada
dengan cakar-cakar tajam berbau lumut.
“Hihihi! Salah Bara
sendiri. Siapa suruh tak bisa menangkapnya. Lempar lagi Kyra! Lempar cepat!” Si
pelaku masih lari-lari minta mengoper kucing yang lebih kecil. Dia bahkan tak
meminta maaf pada Bara.
“Ceboool sialaaan satu
ituuu.” Bara mengeram.
“RASAKAN INI CEBOL!”
Kemudian dia melemparkan kucing itu kembali pada Meena.
Karena Meena sedang
membelakangi Bara, dia tak sempat menangkap kucingnya. Akhirnya kucing itu
menabrak belakang kepala Meena. Ia mengeong menakutkan, menarik-narik rambut
Meena untuk balas dendam karena dilempar-lempar tadi.
“Ahhh! Elf tua jahat!”
Adegan tarik-tarik diwarnai oleh jeritan tertindas Meena menggema di dalam
hutan.
“Aku akan menolongmu,
Meena.” Satu-satunya orang yang menolong hanyalah Kyra.
“Hahaha! Itu karmamu, bocah
cebol.” Bara masih tertawa terbahak-bahak. Sedangkan Kanya dan Soli terdiam
terpaku.
“Kupikir Bara sudah
dewasa, tak tahunya ... hah.” Tak Kanya sangka, Bara bisa bertingkah seperti
itu juga.
“Mereka membuat regu
bersama. Apa yang kau harapkan?” Soli sih sudah pasrah. Bara hanya dewasa di
depan saja. Aslinya malah mungkin dia yang paling kekanakan berhubung umurnya
sudah ratusan tahun.
__ADS_1
***
Satu jam berlalu. Siluman
Kucing Hutan sudah dilepaskan, tapi Meena masih merajuk, menggerutu merapikan
rambutnya bersama dengan Kyra. Mereka beristirahat di dekat air terjun.
Tempat itu begitu sunyi
hingga suara burung pun tak terdengar, membuat Kyra merasa merinding. Ia
merasakan aura suatu makhluk, tetapi sosoknya tak terlihat sama sekali.
“Meena, kau merasakan
sesuatu?”
“Sesuatu? Hanya ada bau
ikan dan rubah di dekat sini.”
“Nona Meena, bilang apa?”
Wajah Soli memucat seketika ketika mendengar kata rubah. Satu-satunya rubah yang
ia tahu tinggal di dekat kawanan Siluman Kucing Hutan hanyalah Siluman Rubah.
“Ikan dan rubah.” Meena
tak paham kenapa Soli terlihat ketakutan. Dia tak merasakan niat jahat dari bau
yang tercium.
“Kita bergerak sekarang.”
Meskipun demikian, Soli tetap bersikap waspada. Pria itu bangkit berdiri,
mengajak teman-temannya untuk segera meninggalkan air terjun itu.
“Kenapa buru-buru, Soli?
Apa yang salah dengan rubah?” Bara tak familier pada hutan ini. Dia tak tahu
banyak tentang Siluman Rubah karena makhluk itu sangat jarang meninggalkan
sarang.
“Siluman Rub – ”
“ARGHHH!”
“KANYA!”
Semuanya terjadi begitu
cepat. Hanya dengan satu tiupan angin, Kanya terhempas jatuh ke dalam air.
Kemudian sesuatu seperti ekor belut menangkapnya, menariknya ke dasar sungai. Kyra
dan Meena yang duduk paling dekat dengan lokasi jatuh Kanya langsung berlari
menyusulnya. Namun Bara dan Soli menarik tangan mereka, memastikan kedua gadis
manusia itu tidak terjun ke dalam air.
“Jangan idiot! Kalian akan
mati kalau bertarung di dalam air,” bentak Bara.
“Kami tak akan mengabaikan
teman!” Kyra dan Meena membalas bentakan Bara lebih keras.
“Aku yang terjun sendiri.
Kalian yang bukan bertipe sihir air dilarang ikut!” Kemudian kedua gadis itu
terdiam. Ketegasan Bara membuat pikiran mereka sedikit tenang. Yang punya sihir
air hanyalah Bara dan Kanya. Harusnya mereka paham maksud Bara sejak awal.
Mereka hanya akan menjadi beban.
“Akan kuawasi mereka. Kau
fokuslah menolong Kanya.” Ucapan Soli berikutnya semakin menusuk hati Kyra dan
Meena. Mereka marah, tak terima, tapi tak bisa berbuat apa-apa.
Bara tetap masuk ke dalam
air sendirian untuk mencari Kanya. Di tepi air terjun itu, Soli mengawasi.
Meena marah-marah di sampingnya. Sedangkan Kyra sedikit menjauh. Gadis api
mudah merasa terganggu setiap kali ia sadar dirinya tak bisa menolong temannya.
Ia tak punya hati setegar Meena yang bisa menyembunyikan keresahan dengan
berpura-pura marah.
“Aku masih terlalu lemah.
Semoga Kanya baik-baik saja.” Sikap rendah diri inilah yang menjadi kelemahan
Kyra. Kelengahan yang membuatnya tak sadar ada seseorang yang tengah
mendekatinya dari belakang.
“Kau harusnya mencemaskan
dirimu lebih dulu, gadis kecil.”
“Siapa – hump!” Saat Kyra sadar, orang itu telah
__ADS_1
menangkapnya, menariknya pergi tanpa sepengetahuan Soli dan Meena.