Phoenix Bride

Phoenix Bride
Episode 29


__ADS_3

Perjalanan melewati hutan


ternyata sangatlah mudah. Meskipun muncul beberapa monster, tapi mereka tidak


terlalu kuat. Rasanya seperti pergi piknik daripada berpetualang.


Hutan yang lebat terasa


sejuk. Terkadang terdengar suara nyanyian Driad yang merdu. Kyra dan Meena


asyik bersenang-senang sambil latihan tak jelas. Kelompok kedua yaitu Soli dan


Kanya yang baru-baru ini menemukan kecocokan juga terlihat menikmati waktu bersama


membicarakan hobi mereka.


Bara jadi merasa seperti punya


banyak anak pungut. Dia jalan sendirian di belakang mengawasi keempat orang


itu. Selain Soli, sisanya terlihat seperti bocah di matanya.


“Bara! Ada kucing lucu!” Meena


memanggil di kejauhan sambil mengangkat seekor kucing yang ia tangkap. Badannya


besar. Dengan bulu bermotif belang hitam dan emas. Sekali lihat saja Bara sudah


tahu kalau itu merupakan seekor Siluman Kucing Hutan.


“Nona Meena, turunkan dia!”


Soli langsung panik. Ia merampas kucing Meena. Sebab, ia tahu pasti kalau


kucing jenis ini memiliki kecerdasan tinggi dan sifat yang buas.


“Kau tak asyik, Soli!


Kembalikan mainanku!” Meena merajuk deh, mencoba merampas paksa kucing itu.


“Tidak!” Tentu saja Soli


tak mengembalikannya.


“Meena, aku dapat juga!


Yang ini lebih besar!” Hanya saja Kyra sama menyusahkannya dengan Meena. Ia


bahkan menangkap yang lebih besar. Dilempar-lemparkan sambil berlarian ke arah


Meena.


“Pinjamkan padaku, Kyra!”


Meena langsung ke sana, ikut melempar kucing bersama dengan Kyra.


“Hentikan Nona!” Soli


masih belum menyerah menghentikan mereka. Jadilah tiga orang itu berlarian


begitu ribut sambil beroper dua ekor kucing.


Bara terpaku, menghela


napas lelah. Ini sudah entah ke berapa kalinya mereka menangkap makhluk tak


jelas hanya karena sedang bosan. Kanya jadi kasihan. Ia berjalan ke samping


Bara, menepuk punggung sang Elf menghibur.


“Yang sabar. Aku janji tak


akan bertingkah seperti mereka.” Paling tidak, dengan sosok aslinya, Kanya tak


akan bersikap kekanakan seperti saat dia masih tinggal dengan Amara.


“Terima kasih.” Bara


sungguh bersyukur. Bocahnya cukup dua saja.


“Tak masalah, tapi kau


yakin tak mau menghentikan mereka? Kucing Hutan sebesar itu pasti sudah bisa


berubah wujud dan berbicara, tapi mereka tetap mengeong dipermainkan.” Kanya


takut kucing-kucing itu punya maksud jahat. Ingin memakan mereka misalnya?


“Ada Soli, jadi tak


masalah.”


“Kasihanilah Soli.”


“Bukan itu maksudku. Soli


itu Siluman Kucing Hutan, mungkin mereka menganggap kita temannya?” Bara tak


yakin, tapi harusnya sesama satu spesies bisa saling mengenali.


“Eh? Soli bukan manusia?


Jadi sosok aslinya ... kucing jelek ... begitu?” Kanya syok. Baru saja dia


merasa akrab dengan Soli, tak tahunya sosok teman barunya itu seekor Siluman


Kucing.


“Aku belum pernah


melihatnya, tapi ya, begitulah.” Sihir manusia tak akan bisa mengubah tubuhnya


menjadi bayangan seperti yang biasa Soli lakukan. Jadi sejak awal Bara sudah


bisa menebak ras apa dia. Lagian memang tak disembunyikan sejak awal.

__ADS_1


“Tapi Soli tak mengeong


atau menjilati tangannya.” Kanya agak bingung. Biasanya kucing bersosok semirip


apa pun dengan manusia, selalu menunjukkan kebiasaan aslinya biar hanya


sedikit. Dia tak pernah menduga karena perilaku Soli benar-benar seperti manusia


daripada kedua manusia menyusahkan di depan sana.


“Dia pasti sangat ahli


menyembunyikan kebiasaan aslinya. Posisi pengawal pribadi Raja itu bukan hanya


pajangan tahu.” Oh iya, Kanya lupa. Dia baru dikasih tahu kalau Soli bawahan


Nakula.


“Kau tak senang? Kau juga


dan aku juga bukan manusia tahu.”


“Cuma kaget. Aku tak


mendiskriminasi. Lagian ras di dunia ini bukan soal penting.”


“Benar, tapi akhir-akhir


ini aku mulai tak menyukai manusia setelah mengasuh dua bocah itu.” Yang Bara


maksudkan adalah Kyra dan Meena, bocah-bocah terlalu energik yang menganggap


kucing bermuka seram dengan hidung pesek dan gigi taring besar sebagai sesuatu


yang lucu.


“Manusia seaneh itu hanya


mereka berdua. Percayalah. Manusia normal sejuta kali lebih tak membuat emosi.”


Kanya bersimpati pada Bara. Dia sudah cukup lama bersama dengan mereka untuk


bisa memahami perasaan Bara dan Soli.


“Hah ... kau benar.” Bara


menghela napas lagi, berjalan lebih cepat menyusul ketiga orang di depan


mereka.


“Kyahahaha! Tangkap


kucingnya, Bara!” Baru sedetik saja Bara lengah, Meena sudah melemparkan satu


Siluman Kucing ke depan wajahnya.


“Ah! Apa yang kaulakukan


Meena!?” Kyra jadi histeris. Pasalnya kucing itu melampiaskan kekesalan pada


dengan cakar-cakar tajam berbau lumut.


“Hihihi! Salah Bara


sendiri. Siapa suruh tak bisa menangkapnya. Lempar lagi Kyra! Lempar cepat!” Si


pelaku masih lari-lari minta mengoper kucing yang lebih kecil. Dia bahkan tak


meminta maaf pada Bara.


“Ceboool sialaaan satu


ituuu.” Bara mengeram.


“RASAKAN INI CEBOL!”


Kemudian dia melemparkan kucing itu kembali pada Meena.


Karena Meena sedang


membelakangi Bara, dia tak sempat menangkap kucingnya. Akhirnya kucing itu


menabrak belakang kepala Meena. Ia mengeong menakutkan, menarik-narik rambut


Meena untuk balas dendam karena dilempar-lempar tadi.


“Ahhh! Elf tua jahat!”


Adegan tarik-tarik diwarnai oleh jeritan tertindas Meena menggema di dalam


hutan.


“Aku akan menolongmu,


Meena.” Satu-satunya orang yang menolong hanyalah Kyra.


“Hahaha! Itu karmamu, bocah


cebol.” Bara masih tertawa terbahak-bahak. Sedangkan Kanya dan Soli terdiam


terpaku.


“Kupikir Bara sudah


dewasa, tak tahunya ... hah.” Tak Kanya sangka, Bara bisa bertingkah seperti


itu juga.


“Mereka membuat regu


bersama. Apa yang kau harapkan?” Soli sih sudah pasrah. Bara hanya dewasa di


depan saja. Aslinya malah mungkin dia yang paling kekanakan berhubung umurnya


sudah ratusan tahun.

__ADS_1


***


Satu jam berlalu. Siluman


Kucing Hutan sudah dilepaskan, tapi Meena masih merajuk, menggerutu merapikan


rambutnya bersama dengan Kyra. Mereka beristirahat di dekat air terjun.


Tempat itu begitu sunyi


hingga suara burung pun tak terdengar, membuat Kyra merasa merinding. Ia


merasakan aura suatu makhluk, tetapi sosoknya tak terlihat sama sekali.


“Meena, kau merasakan


sesuatu?”


“Sesuatu? Hanya ada bau


ikan dan rubah di dekat sini.”


“Nona Meena, bilang apa?”


Wajah Soli memucat seketika ketika mendengar kata rubah. Satu-satunya rubah yang


ia tahu tinggal di dekat kawanan Siluman Kucing Hutan hanyalah Siluman Rubah.


“Ikan dan rubah.” Meena


tak paham kenapa Soli terlihat ketakutan. Dia tak merasakan niat jahat dari bau


yang tercium.


“Kita bergerak sekarang.”


Meskipun demikian, Soli tetap bersikap waspada. Pria itu bangkit berdiri,


mengajak teman-temannya untuk segera meninggalkan air terjun itu.


“Kenapa buru-buru, Soli?


Apa yang salah dengan rubah?” Bara tak familier pada hutan ini. Dia tak tahu


banyak tentang Siluman Rubah karena makhluk itu sangat jarang meninggalkan


sarang.


“Siluman Rub – ”


“ARGHHH!”


“KANYA!”


Semuanya terjadi begitu


cepat. Hanya dengan satu tiupan angin, Kanya terhempas jatuh ke dalam air.


Kemudian sesuatu seperti ekor belut menangkapnya, menariknya ke dasar sungai. Kyra


dan Meena yang duduk paling dekat dengan lokasi jatuh Kanya langsung berlari


menyusulnya. Namun Bara dan Soli menarik tangan mereka, memastikan kedua gadis


manusia itu tidak terjun ke dalam air.


“Jangan idiot! Kalian akan


mati kalau bertarung di dalam air,” bentak Bara.


“Kami tak akan mengabaikan


teman!” Kyra dan Meena membalas bentakan Bara lebih keras.


“Aku yang terjun sendiri.


Kalian yang bukan bertipe sihir air dilarang ikut!” Kemudian kedua gadis itu


terdiam. Ketegasan Bara membuat pikiran mereka sedikit tenang. Yang punya sihir


air hanyalah Bara dan Kanya. Harusnya mereka paham maksud Bara sejak awal.


Mereka hanya akan menjadi beban.


“Akan kuawasi mereka. Kau


fokuslah menolong Kanya.” Ucapan Soli berikutnya semakin menusuk hati Kyra dan


Meena. Mereka marah, tak terima, tapi tak bisa berbuat apa-apa.


Bara tetap masuk ke dalam


air sendirian untuk mencari Kanya. Di tepi air terjun itu, Soli mengawasi.


Meena marah-marah di sampingnya. Sedangkan Kyra sedikit menjauh. Gadis api


mudah merasa terganggu setiap kali ia sadar dirinya tak bisa menolong temannya.


Ia tak punya hati setegar Meena yang bisa menyembunyikan keresahan dengan


berpura-pura marah.


“Aku masih terlalu lemah.


Semoga Kanya baik-baik saja.” Sikap rendah diri inilah yang menjadi kelemahan


Kyra. Kelengahan yang membuatnya tak sadar ada seseorang yang tengah


mendekatinya dari belakang.


“Kau harusnya mencemaskan


dirimu lebih dulu, gadis kecil.”


“Siapa – hump!” Saat Kyra sadar, orang itu telah

__ADS_1


menangkapnya, menariknya pergi tanpa sepengetahuan Soli dan Meena.


__ADS_2