Phoenix Bride

Phoenix Bride
Episode 33


__ADS_3

Meena dan Kanya keluar


lebih dulu dari sungai. Mereka mengedarkan pandangan, mencari anak buah siluman


rubah yang mungkin saja masih berjaga di sana. Saat menemukan dua ekor siluman


rubah kecil, Meena dan Kanya terbang ke atas langit.


“Di sana!”


“Kejar!”


Kedua siluman kecil itu


segera berlari mengejar Meena dan Kanya dari bawah. Sungai tersebut menjadi


bebas dari pengawasan. Saat itulah, Bara membawa Kyra dan Soli keluar dari


sungai. Mereka memanjat pohon, bergerak hati-hati ke arah sarang siluman rubah


ekor sembilan.


Setelah sampai di dekat


sarang, induk siluman tersebut menyadari keberadaan mereka seperti yang


diharapkan oleh Bara. Siluman itu menebar sihir ilusi untuk menjebak mereka


untuk kedua kalinya.


“Sekarang, Kyra!” perintah


Bara.


Kyra meniup api keluar


dari mulutnya, bercampur dengan embusan angin, membakar sihir ilusi hingga tak


bersisa. Kemudian dia berlari ke depan siluman rubah, mencoba membakar tubuh


elok wanita berbahaya tersebut.


Permukaan tanah naik ke


atas, menjadi bendungan yang menghalangi serangan Kyra. Bara dan Soli berpencar


ke arah berlawan, menyerang dari sisi kanan dan sisi Kiri wanita rubah menyusul


serangan Kyra. Dan kali ini pula, serangan mereka ikut terhalang oleh tembok


yang sama.


Tanah tersebut naik


semakin ke atas membentuk sebuah gundukan setinggi 3 meter. Siluman rubah


berdiri di puncak gundukan. Di atas langit, Meena dan Kanya beterbangan. Sedangkan


di sekeliling mereka telah dipenuhi oleh puluhan ekor siluman rubah kecil yang


telah dipancing oleh kedua rekan mereka ke sini.


“Kalian sengaja


mengumpulkan anak buahku ternyata,” ujar sang induk siluman rubah.


Tak ada rasa takut dari


siluman rubah tersebut. Dia malah tersenyum. Terlihat bersenang-senang seakan


tidak terkepung oleh musuhnya.


“Aku akan membakar kalian


semua,” balas Kyra.


Api telah menyebar di


seluruh tubuh Kyra. Di saat yang sama, Bara berlari menjauh membangun pagar


dari es untuk mengurung seluruh kawanan siluman rubah dan Kyra dalam satu area


serang. Soli telah menghilang, bersembunyi di dalam bayangan pohon menunggu


gilirannya dengan sabar.


“Bakar, jika bisa!”


Karena siluman tersebut


menantang, Kyra tak akan segan. Lautan api menyebar dengan cepat, memenuhi area


sekitar 30 meter persegi yang berpusat pada induk siluman rubah. Anak-anak


rubah terbakar, berubah menjadi seikat bulu. Sedangkan induk rubah berhasil


membentengi dirinya sebelum ia terbakar.


Api Kyra telah padam oleh


tiupan angin dari lawannya. Bara pun maju, melemparkan ratusan tombak es yang


berhasil menancap pada tubuh sang siluman.


“Apa kita berhasil?” tanya


Kyra, ragu-ragu.


“Tidak. Itu hanya tubuh


tipuan.” Tepat saat Bara menyentuh siluman rubah yang terkapar, tubuhnya


menghilang.


“Kau tak bisa lari dari


kami!” Jauh di depan Bara dan Kyra, Soli menangkap sang siluman. Dia menarik

__ADS_1


keluar wanita rubah dari dalam bayangan, melemparkannya kembali ke arah Kyra.


Kyra mengumpulkan


kekuatannya di kepalan tangan. Kemudian melemparkannya dalam sekali serang.


Ledakan menyusul, melukai siluman rubah yang tak sempat mengelak.


“Apimu menjengkelkan


sekali!” Siluman itu menjadi marah. Dengan cepat dia datang ke depan Kyra,


menggunakan cakarnya untuk merobek tubuh gadis api.


“Jangan lupakan


keberadaanku.” Untungnya, Bara cepat bereaksi. Dia mengumpulkan batu membentuk


tameng besar yang mematahkan cakar siluman tersebut.


“ARGHHH!”


“Ayo pergi!”


Siluman rubah menjerit


kesakitan, melepas ledakan cahaya yang mematikan indera penglihatan Kyra dan


Bara. Namun Soli telah bereaksi lebih dulu, dia menyelinap membawa pergi kedua


rekannya tersebut.


Melihat Soli telah membawa


Kyra dan Bara pergi. Kanya dan Meena menggabungkan sihir angin dan air menjadi


satu. Dalam satu lemparan, mereka melepaskan serangan terkuat itu pada si


siluman rubah.


Suara ledakan besar


terdengar, disusul oleh hancurnya pohon, tanah dan bebatuan di sekitar. Ketika


sisa serangan dari kedua pihak telah menghilang, yang tampak hanyalah seekor


siluman kecil berukuran tak lebih dari setengah meter.


Kelima Petualang itu


berkumpul mengelilingi siluman rubah yang tak sadarkan diri. Dari kondisi tubuh


yang terlihat, mereka mengetahui bila siluman ekor sembilan itu telah


menghabiskan seluruh tenaganya.


“Apa dia mati?” tanya Meena.


Kyra maju, menyentuh tubuh


rubah itu untuk mengecek. Dia menggeleng, masih merasakan detakan jantung dari


“Cuma pingsan.”


“Kalau begitu biar kubunuh


saja.”


“Jangan.”


Bara menahan tangan Kanya


ketika Kanya berniat membunuh siluman rubah itu. Sang Elf merasa bila siluman


ini masih bisa berguna. Daripada membunuhnya, dia lebih berniat membawa siluman


ini bersama dengan mereka.


“Jangan tinggalkan rasa


kasihan pada musuh, Bara.”


“Aku tak bilang merasa


kasihan padanya. Aku hanya merasa kita membutuhkannya.” Karena Bara sepertinya


serius dan Kanya agak terlalu waspada pada siluman itu, Soli mengusulkan sebuah


cara untuk menjawab permasalahan kedua orang itu.


“Aku bisa membuatnya


menjadi budakmu,” ujar Soli.


Sihir perbudakkan


merupakan cabang dari elemen kegelapan. Biasanya dibuat paksa pada seseorang


dan terikat sepenuhnya pada orang yang dijadikan tuannya. Sang tuan memegang


kendali penuh pada sang budak, termasuk kendali atas hidup mereka.


“Itu sihir terlarang, apa


kau gila?” Mata Meena melotot kaget, seperti akan keluar dari tengkoraknya. Dia


tak percaya bila anak buah Nakula mengusulkan mereka menggunakan sihir terkutuk


seperti itu.


“Yang Mulia Nakula biasa


menggunakannya pada tawanan, Nona Meena.”


“Kalau begitu lakukanlah.”


“Bara, jangan ikut-ikutan

__ADS_1


menjadi sebusuk Naga murahan itu!”


“Kita butuh orang yang


bisa melatih sihir tipe cahaya Kyra.”


Serangan terakhir siluman


rubah itu begitu kuat hingga membuat Bara terkagum. Selain itu, dia merasa


bahwa elemen cahaya Kyra menjadi sia-sia bila tak dilatih sama sekali.


“Bila itu tujuannya, maka


terima saja, Meena. Pengguna sihir cahaya yang mampu menggunakannya sebagai


serangan itu cukup langka.” Kanya tak keberatan dengan sihir terlarang. Karena


larangan dibuat oleh manusia untuk melindungi bangsa mereka.


“Aku juga ingin melatih


elemen cahayaku, Meena.” Kyra juga ikut mengeluarkan pendapatnya.


Awalnya Kyra tak berniat


melatih kekuatan yang satu itu karena mengira sihir cahaya hanya bisa digunakan


untuk menghapus sihir kegelapan, membuat perlindungan terhadap lawan tipe mayat


hidup dan penyembuhan saja. Bila ada cara lain untuk menggunakannya, sekalipun


cara itu berasal dari siluman, Kyra tetap ingin mempelajarinya.


“Sampai Kyra juga setuju!?


Ada apa dengan otak kalian! bodoh!” Merajuklah Meena. Si cebol mengguncang-guncang


kepalan tangannya. Pindah jauh-jauh dari mereka sambil menggerutu sendiri.


Kadang Meena merasa tak


kenal lagi pada rekan-rekannya. Soli jangan di kata, sejak awal baginya pria


kucing itu tak pernah benar-benar menjadi rekan. Bara banyak menyimpan rahasia.


Dan si polos Kyra, tidak selalu menjadi pendiam yang mengucapkan kata-kata


indah dan naif lagi.


Meena mengerti bila Kyra


juga bisa menjadi dewasa dalam perjalanan mereka, tapi dia tak ingin kelembutan


hati Kyra, berubah menjadi mati seperti Kanya.


Sambil menunggu Soli


membuat sihir perbudakkan antara Bara dan wanita rubah, Kyra mengajak Kanya


mengobrol. Mereka membiarkan Meena sendirian, menunggu gadis mungil itu


berhenti merajuk dengan sendirinya.


Setelah tanda perbudakan


muncul, siluman itu dibangunkan. Dia kembali ke sosok manusia. Terlihat sangat


marah saat menyadari ada segel yang melilit jiwanya.


“Kalian makhluk-makhluk


terkutuk,” umpatnya.


“Kau bisa mengutukku


semaumu, tapi biar kuingatkan. Kaulah yang menyerang kami lebih dulu. Sekarang


katakan siapa namamu.”


Bara yang menghadapi


siluman rubah tersebut. Sikapnya benar-benar terlalu tenang dan angkuh di depan


mata teman-temannya. Kyra dan Meena mengalihkan pandangan, ada rasa tak enak


melihat bagaimana mereka membuat seseorang menjadi budak Bara. Sedangkan Kanya


dan Soli biasa saja. Mereka duduk di belakang Bara. Tak peduli sama sekali


dengan apa yang Bara lakukan pada wanita rubah itu.


Melihat reaksi kelima


orang itu, siluman rubah tahu bila tak ada gunanya mengumpat. Dia harus tenang.


Patut sambil mencari kesempatan menemukan orang bisa memutus sihir perbudakan


tersebut. Barulah dia akan membalas dendam nanti.


“Rhea, itu namaku,”


jawabnya dengan nada ketus.


“Baik. Sekarang beri


tahukan semua hal yang ingin kuketahui.” Bara memulai dengan menanyai batas


kekuatan dan apa saja yang bisa Rhea lakukan. Kemudian barulah dia bertanya


tentang kondisi wilayah yang akan mereka lewati. Diakhiri dengan menjelaskan


apa yang dia mau pada Rhea.


Mau tak mau, Rhea hanya


bisa patuh pada Bara tak peduli apa pun tujuan sang Elf. Dia memberitahukan

__ADS_1


rute aman menuju ke kota Nebula, mempersingkat waktu perjalanan dari rencana


awal mereka.


__ADS_2