
Meena dan Kanya keluar
lebih dulu dari sungai. Mereka mengedarkan pandangan, mencari anak buah siluman
rubah yang mungkin saja masih berjaga di sana. Saat menemukan dua ekor siluman
rubah kecil, Meena dan Kanya terbang ke atas langit.
“Di sana!”
“Kejar!”
Kedua siluman kecil itu
segera berlari mengejar Meena dan Kanya dari bawah. Sungai tersebut menjadi
bebas dari pengawasan. Saat itulah, Bara membawa Kyra dan Soli keluar dari
sungai. Mereka memanjat pohon, bergerak hati-hati ke arah sarang siluman rubah
ekor sembilan.
Setelah sampai di dekat
sarang, induk siluman tersebut menyadari keberadaan mereka seperti yang
diharapkan oleh Bara. Siluman itu menebar sihir ilusi untuk menjebak mereka
untuk kedua kalinya.
“Sekarang, Kyra!” perintah
Bara.
Kyra meniup api keluar
dari mulutnya, bercampur dengan embusan angin, membakar sihir ilusi hingga tak
bersisa. Kemudian dia berlari ke depan siluman rubah, mencoba membakar tubuh
elok wanita berbahaya tersebut.
Permukaan tanah naik ke
atas, menjadi bendungan yang menghalangi serangan Kyra. Bara dan Soli berpencar
ke arah berlawan, menyerang dari sisi kanan dan sisi Kiri wanita rubah menyusul
serangan Kyra. Dan kali ini pula, serangan mereka ikut terhalang oleh tembok
yang sama.
Tanah tersebut naik
semakin ke atas membentuk sebuah gundukan setinggi 3 meter. Siluman rubah
berdiri di puncak gundukan. Di atas langit, Meena dan Kanya beterbangan. Sedangkan
di sekeliling mereka telah dipenuhi oleh puluhan ekor siluman rubah kecil yang
telah dipancing oleh kedua rekan mereka ke sini.
“Kalian sengaja
mengumpulkan anak buahku ternyata,” ujar sang induk siluman rubah.
Tak ada rasa takut dari
siluman rubah tersebut. Dia malah tersenyum. Terlihat bersenang-senang seakan
tidak terkepung oleh musuhnya.
“Aku akan membakar kalian
semua,” balas Kyra.
Api telah menyebar di
seluruh tubuh Kyra. Di saat yang sama, Bara berlari menjauh membangun pagar
dari es untuk mengurung seluruh kawanan siluman rubah dan Kyra dalam satu area
serang. Soli telah menghilang, bersembunyi di dalam bayangan pohon menunggu
gilirannya dengan sabar.
“Bakar, jika bisa!”
Karena siluman tersebut
menantang, Kyra tak akan segan. Lautan api menyebar dengan cepat, memenuhi area
sekitar 30 meter persegi yang berpusat pada induk siluman rubah. Anak-anak
rubah terbakar, berubah menjadi seikat bulu. Sedangkan induk rubah berhasil
membentengi dirinya sebelum ia terbakar.
Api Kyra telah padam oleh
tiupan angin dari lawannya. Bara pun maju, melemparkan ratusan tombak es yang
berhasil menancap pada tubuh sang siluman.
“Apa kita berhasil?” tanya
Kyra, ragu-ragu.
“Tidak. Itu hanya tubuh
tipuan.” Tepat saat Bara menyentuh siluman rubah yang terkapar, tubuhnya
menghilang.
“Kau tak bisa lari dari
kami!” Jauh di depan Bara dan Kyra, Soli menangkap sang siluman. Dia menarik
__ADS_1
keluar wanita rubah dari dalam bayangan, melemparkannya kembali ke arah Kyra.
Kyra mengumpulkan
kekuatannya di kepalan tangan. Kemudian melemparkannya dalam sekali serang.
Ledakan menyusul, melukai siluman rubah yang tak sempat mengelak.
“Apimu menjengkelkan
sekali!” Siluman itu menjadi marah. Dengan cepat dia datang ke depan Kyra,
menggunakan cakarnya untuk merobek tubuh gadis api.
“Jangan lupakan
keberadaanku.” Untungnya, Bara cepat bereaksi. Dia mengumpulkan batu membentuk
tameng besar yang mematahkan cakar siluman tersebut.
“ARGHHH!”
“Ayo pergi!”
Siluman rubah menjerit
kesakitan, melepas ledakan cahaya yang mematikan indera penglihatan Kyra dan
Bara. Namun Soli telah bereaksi lebih dulu, dia menyelinap membawa pergi kedua
rekannya tersebut.
Melihat Soli telah membawa
Kyra dan Bara pergi. Kanya dan Meena menggabungkan sihir angin dan air menjadi
satu. Dalam satu lemparan, mereka melepaskan serangan terkuat itu pada si
siluman rubah.
Suara ledakan besar
terdengar, disusul oleh hancurnya pohon, tanah dan bebatuan di sekitar. Ketika
sisa serangan dari kedua pihak telah menghilang, yang tampak hanyalah seekor
siluman kecil berukuran tak lebih dari setengah meter.
Kelima Petualang itu
berkumpul mengelilingi siluman rubah yang tak sadarkan diri. Dari kondisi tubuh
yang terlihat, mereka mengetahui bila siluman ekor sembilan itu telah
menghabiskan seluruh tenaganya.
“Apa dia mati?” tanya Meena.
Kyra maju, menyentuh tubuh
rubah itu untuk mengecek. Dia menggeleng, masih merasakan detakan jantung dari
“Cuma pingsan.”
“Kalau begitu biar kubunuh
saja.”
“Jangan.”
Bara menahan tangan Kanya
ketika Kanya berniat membunuh siluman rubah itu. Sang Elf merasa bila siluman
ini masih bisa berguna. Daripada membunuhnya, dia lebih berniat membawa siluman
ini bersama dengan mereka.
“Jangan tinggalkan rasa
kasihan pada musuh, Bara.”
“Aku tak bilang merasa
kasihan padanya. Aku hanya merasa kita membutuhkannya.” Karena Bara sepertinya
serius dan Kanya agak terlalu waspada pada siluman itu, Soli mengusulkan sebuah
cara untuk menjawab permasalahan kedua orang itu.
“Aku bisa membuatnya
menjadi budakmu,” ujar Soli.
Sihir perbudakkan
merupakan cabang dari elemen kegelapan. Biasanya dibuat paksa pada seseorang
dan terikat sepenuhnya pada orang yang dijadikan tuannya. Sang tuan memegang
kendali penuh pada sang budak, termasuk kendali atas hidup mereka.
“Itu sihir terlarang, apa
kau gila?” Mata Meena melotot kaget, seperti akan keluar dari tengkoraknya. Dia
tak percaya bila anak buah Nakula mengusulkan mereka menggunakan sihir terkutuk
seperti itu.
“Yang Mulia Nakula biasa
menggunakannya pada tawanan, Nona Meena.”
“Kalau begitu lakukanlah.”
“Bara, jangan ikut-ikutan
__ADS_1
menjadi sebusuk Naga murahan itu!”
“Kita butuh orang yang
bisa melatih sihir tipe cahaya Kyra.”
Serangan terakhir siluman
rubah itu begitu kuat hingga membuat Bara terkagum. Selain itu, dia merasa
bahwa elemen cahaya Kyra menjadi sia-sia bila tak dilatih sama sekali.
“Bila itu tujuannya, maka
terima saja, Meena. Pengguna sihir cahaya yang mampu menggunakannya sebagai
serangan itu cukup langka.” Kanya tak keberatan dengan sihir terlarang. Karena
larangan dibuat oleh manusia untuk melindungi bangsa mereka.
“Aku juga ingin melatih
elemen cahayaku, Meena.” Kyra juga ikut mengeluarkan pendapatnya.
Awalnya Kyra tak berniat
melatih kekuatan yang satu itu karena mengira sihir cahaya hanya bisa digunakan
untuk menghapus sihir kegelapan, membuat perlindungan terhadap lawan tipe mayat
hidup dan penyembuhan saja. Bila ada cara lain untuk menggunakannya, sekalipun
cara itu berasal dari siluman, Kyra tetap ingin mempelajarinya.
“Sampai Kyra juga setuju!?
Ada apa dengan otak kalian! bodoh!” Merajuklah Meena. Si cebol mengguncang-guncang
kepalan tangannya. Pindah jauh-jauh dari mereka sambil menggerutu sendiri.
Kadang Meena merasa tak
kenal lagi pada rekan-rekannya. Soli jangan di kata, sejak awal baginya pria
kucing itu tak pernah benar-benar menjadi rekan. Bara banyak menyimpan rahasia.
Dan si polos Kyra, tidak selalu menjadi pendiam yang mengucapkan kata-kata
indah dan naif lagi.
Meena mengerti bila Kyra
juga bisa menjadi dewasa dalam perjalanan mereka, tapi dia tak ingin kelembutan
hati Kyra, berubah menjadi mati seperti Kanya.
Sambil menunggu Soli
membuat sihir perbudakkan antara Bara dan wanita rubah, Kyra mengajak Kanya
mengobrol. Mereka membiarkan Meena sendirian, menunggu gadis mungil itu
berhenti merajuk dengan sendirinya.
Setelah tanda perbudakan
muncul, siluman itu dibangunkan. Dia kembali ke sosok manusia. Terlihat sangat
marah saat menyadari ada segel yang melilit jiwanya.
“Kalian makhluk-makhluk
terkutuk,” umpatnya.
“Kau bisa mengutukku
semaumu, tapi biar kuingatkan. Kaulah yang menyerang kami lebih dulu. Sekarang
katakan siapa namamu.”
Bara yang menghadapi
siluman rubah tersebut. Sikapnya benar-benar terlalu tenang dan angkuh di depan
mata teman-temannya. Kyra dan Meena mengalihkan pandangan, ada rasa tak enak
melihat bagaimana mereka membuat seseorang menjadi budak Bara. Sedangkan Kanya
dan Soli biasa saja. Mereka duduk di belakang Bara. Tak peduli sama sekali
dengan apa yang Bara lakukan pada wanita rubah itu.
Melihat reaksi kelima
orang itu, siluman rubah tahu bila tak ada gunanya mengumpat. Dia harus tenang.
Patut sambil mencari kesempatan menemukan orang bisa memutus sihir perbudakan
tersebut. Barulah dia akan membalas dendam nanti.
“Rhea, itu namaku,”
jawabnya dengan nada ketus.
“Baik. Sekarang beri
tahukan semua hal yang ingin kuketahui.” Bara memulai dengan menanyai batas
kekuatan dan apa saja yang bisa Rhea lakukan. Kemudian barulah dia bertanya
tentang kondisi wilayah yang akan mereka lewati. Diakhiri dengan menjelaskan
apa yang dia mau pada Rhea.
Mau tak mau, Rhea hanya
bisa patuh pada Bara tak peduli apa pun tujuan sang Elf. Dia memberitahukan
__ADS_1
rute aman menuju ke kota Nebula, mempersingkat waktu perjalanan dari rencana
awal mereka.