Phoenix Bride

Phoenix Bride
Episode 32


__ADS_3

Kyra tak tahu sudah berapa


hari berlalu sejak ia terbaring tak berdaya di kasurnya. Dia hanya menyadari


bahwa langit tak pernah berubah. Tetap berada di waktu senja ketika matahari


terbenam dan bulan tidak tampak.


Butiran salju berjatuhan


ke tanah, menebalkan lapisan beku yang telah tertutupi warna putih. Sedikit


bara api yang tertinggal di dasar jiwa Kyra membangkitkan keberaniannya,


memaksa tubuh rapuhnya untuk bangun.


Kemudian Kyra berjalan


tertatih keluar rumah. Ketika ia menyentuh butiran salju yang jatuh, telapak


tangannya bisa merasakan kehampaan. Rasa dingin menusuk itu bukan datang dari


salju palsu itu, tetapi datang dari kelemahan hatinya.


Saat Kyra akhirnya


menyadari kejanggalan tersebut, ingatan yang kacau mulai tersusun kembali.


Suara-suara aneh dan sosok yang dikenalnya dulu, perlahan mulai lenyap. Kota


Nebula di depan matanya mulai runtuh, retak bersama dengan sihir ilusi yang


dihancurkan.


Di akhir pemandangan


tersebut, seberkas cahaya bara api melintas di atas langit. Kyra menengadah


menatapnya. Matanya bertemu pandangan dengan mata si pemilik cahaya. Burung api


raksasa yang kini terbang menukik turun ke arahnya.


Kyra mengejap. Ketika


kelopak matanya terbuka kembali, dia melihat dirinya sewaktu kecil, berbaring


dalam dekapan ayahnya di halaman depan rumah. Sosok raksasa indah itu berada di


depannya, seperti tengah berkomunikasi dengan ayah dan ibunya. Orang-orang desa


muncul lagi, mengeliling mereka dengan pandangan takut.


Kyra mengerti bila ini


merupakan ingatannya, tapi tak satu pun suara dari mereka yang bisa dia dengar.


Hanya sorot mata tajam dan keindahan sang Phoenix yang membuatnya jatuh cinta.


Sebelum bisa melihat akhir


dari pemandangan tersebut, seluruh dunia tersebut hancur. Mata Kyra terbuka


kembali. Kali ini di dunia nyata, tempat seharusnya dia berada.


“Kenapa aku tak bisa


mengingatnya dengan jelas?” Kyra bertanya pada dirinya sendiri ketika bangun.


Suarannya itu, memberi sukacita kepada teman-temannya.


“Kyra, syukurlah kau


bangun!” Kanya melompat memeluk Kyra dengan erat. Bara dan Soli menyaksikan


dengan kelegaan hati. Setelah Kyra bangun, maka Meena pun akan bisa mereka


selamatkan.


“Teman-teman apa yang


terjadi? Di mana ini?”


Kyra masih


terbingung-bingung, tak ingat bagaimana dia bisa sampai di dalam gua bawah air


tersebut. Namun, mereka tak memberinya waktu untuk bertanya lebih lanjut.


Keadaan Meena jauh lebih penting saat ini.


“Nanti saja bicaranya,


Kyra. Cepat alirkan sihirmu ke tubuh Meena!” seru Bara.


“Baik!”


Kyra akhirnya melihat


Meena. Hanya dia seorang yang terbaring tak berdaya. Kulitnya telah berubah


membiru, kaku seperti akan membeku kapan saja. Dengan segera dia mendekati


Meena, meletakkan tangannya di atas dada gadis bertubuh mungil itu. Insting


Kyra mengajarkannya cara menggunakan apinya dengan benar. Meskipun ia membakar


tubuh Meena, tapi yang terbakar hanyalah sihir yang merasuki kesadaran Meena.


Saat pengaruh sihir ilusi


siluman rubah itu menghilang, keadaan tubuh Meena pun berangsur-angsur membaik


dengan cepat. Mereka menjadi tenang. Akhirnya mereka bisa beristirahat sambil

__ADS_1


menunggu Meena sadarkan diri.


Kanya menceritakan apa


yang terjadi kepada Kyra. Bara dan Soli juga ikut menimpali mencocokkan cerita


untuk memahami situasi dengan baik. Tempat persembunyian mereka aman karena


siluman rubah tak bisa masuk ke dalam air, tapi mereka tak bisa selamanya


bersembunyi di sana.


“Setelah Meena pulih, kita


harus keluar melawannya,” usul Bara.


Soli dan Kanya mengerutkan


kening. Melawan siluman sekuat itu sama saja cari mati. Belum lagi ada


kemungkinan mereka akan kembali terjerat sihir ilusi tersebut.


“Bagaimana kalau mengambil


jalan memutar dan menghindarinya?” Bagi Kanya, selalu ada pilihan kedua bila


pilihan pertama terlalu berisiko. Meskipun lima lawan satu, tetap saja


kemungkinan menang mereka sangat tipis.


“Tidak mungkin bisa, Nona


Kanya. Siluman rubah tersebut telah mengusai seluruh hutan. Begitu kita keluar


dari sini, dia akan langsung menemukan kita.” Soli merupakan penghuni asli


hutan ini. Dari dulu, sukunya percaya bila siluman rubah ekor sembilan itu


merupakan penguasa di sini. Mereka aman selama menghindari sarang rubah, tapi


itu pun karena sang rubah membiarkan sukunya. Rombongannya saat ini lain cerita.


Setelah siluman itu tahu siapa sebenarnya ketiga gadis pengantin tersebut, dia


pasti tak akan membiarkan mereka lolos begitu saja.


“Kalau satu-satunya jalan


adalah melawan, maka ayo kita hadapi!” Di luar dugaan, Kyra yang pertama kali


mengusulkan perlawanan. Gadis desa itu tampaknya sudah mulai dewasa dan bisa


memahami kondisinya saat ini.


“Kyra, itu terlalu


berisiko.” Bara juga ingin melawan, tapi dia tak yakin bisa saat harus


“Hidup sebagai Petualang


sendiri penuh risiko, Elf tua bodoh!” Meena bangun-bangun langsung menyela


pembicaraan. Belum bisa duduk saja sudah meledek Bara. Memang minta disiksa si


cebol itu.


“Cebol yang tak bisa


melakukan apa pun diam saja!” Bara mencubit pipi Meena keras-keras, gemas pada


ocehan si cebol satu itu.


“Aku sudah tahu itu ilusi,


tapi aku tetap tak mau bangun.” Meena menyesali perbuatannya. Dia bisa


merasakan sihir Kyra membungkus tubuhnya dan itu pula yang membawanya bangun


dari mimpi indah.


“Jangan mengatakan sesuatu


yang tolol. Kamulah sosok Ratu ideal yang dipilih oleh Yang Mulia Nakula. Apa


menurutmu, kamu layak menyerahkan hidupmu pada seekor siluman seperti itu?”


Untuk pertama kalinya, Soli serius memarahi Meena. Dia menampar sang ratu,


memberikan tatapan sinis menyadarkan hati Meena.


Gadis setengah Naga itu


merapatkan giginya, mencengkeram erat selimut yang membungkus tubuhnya.


Perkataan Soli terlalu benar untuk dibantah olehnya. Dirinya yang memilih hanyut


pada masa lalu dan menyerah pada keinginannya memang tak pantas bersikap


angkuh.


“Aku tahu, aku yang


salah,” jawab Meena dengan suara pelan.


Tidak ada yang membela


Meena, mereka memahami perasaan Soli. Mereka membiarkan kejadian kali ini


menjadi pengalaman yang akan membantu Meena kelak.


“Bagus kalau kau sudah


mengerti, cebol. Bangun, kita diskusikan langkah selanjutnya.” Bara segera

__ADS_1


mencairkan suasana ketika dirasa Meena sudah paham dan Soli sudah puas menegur


Meena. Kyra dan Kanya mengamati keadaan, mengikuti arahan Bara yang ingin


membiarkan hal itu berlalu.


Mereka berlima duduk


melingkari api unggun. Pertama-tama, mereka ingin mendengar pendapat Meena


terlebih dulu. Kemudian mereka membahas strategi penyerangan bersama-sama.


“Kyra yang akan menjadi


penyerang utama. Hanya apinya yang bisa menaklukkan sihir ilusi. Setelah ilusi


siluman sepenuhnya tak bisa dipakai, aku dan Soli akan membantu Kyra


menjatuhkannya.” Bara memikirkan ide serangan dua arah. Tiga orang menyerang


dari darat dengan menjadikan Kyra sebagai pusat serangan dan dua orang


menyerang dari atas. Di luar area pertahanan lawannya.


“Aku tak masalah terbang


lama sendirian, tapi bila sambil membawa Kanya, aku tak bisa menyerang sama


sekali.” Kelemahan Meena adalah dia butuh tangannya untuk menyalurkan seluruh


sihir ke dalam alat pendukung. Dia belum memahami cara penggunaan mana yang


lebih luas.


“Soal itu tak masalah.


Kanya harusnya bisa melayang juga di udara, benarkan?”


“Memang benar, tapi


bagaimana kau tahu?” Kanya tak ingat pernah menggunakan kemampuan yang satu


itu, tapi Bara telah mengetahuinya.


“Mengubah tubuh menjadi


air, mengendalikan berat massa agar bisa bertarung di udara adalah kekuatan


umum bangsamu. Dulu sekali aku pernah melihat sekelompok Roh Air bertarung.”


Penjelasan Bara selanjutnya membuat Kanya mengerti. Lelaki ini bukanlah Elf


biasa, melainkan Elf Salju yang berasal dari kampung halaman yang sama


dengannya.


“Bangsaku tidak pernah


meninggalkan Kerajaan Aurora Sea bahkan setelah wilayah kami dijajah. Jika kau


pernah melihat saudara-saudaraku bertarung, maka kau berasal dari tempat yang


sama denganku. Benar?” Kanya sudah tahu jawabannya. Dia sengaja bertanya untuk


menguji kejujuran Bara.


“Ya, aku tak akan


menyangkal.” Bagus. Kejujuran Bara sudah cukup untuk membuat Kanya


memercayainya. Setidaknya itu merupakan bukti bila Bara merupakan pelarian sama


sepertinya, bukan mereka yang menjual Kerajaan Aurora Sea pada Undead.


“Kerajaan Aurora Sea tepat


berada di lautan antara perbatasan Kerajaan Draco dan Kerajaan Albus Tiger.


Kita akan melewatinya dalam perjalanan mencari Peri Mimpi. Tempat itu yang


kalian maksudkan?”


Meena ikut penasaran. Dia


kira mereka semua sepenuhnya buta akan dunia luar. Ternyata Bara dan Kanya


merupakan pendatang. Entah bagaimana mereka bisa masuk dan menjadi rakyat


Kerjaan Draco, yang pasti apa pun alasannya, lebih baik punya penunjuk arah


daripada tidak sama sekali.


“Itu benar, tapi kita ke


sampingkan dulu soal ini. Saat ini keluar dari hutan adalah prioritas utama


kita.”


Kyra bisa merasakan


ketidaknyamanan Bara saat Meena dan Kanya membicarakan soal tempat kelahiran


Elf tersebut. “Bara benar, aku ingin mendengar ulang strateginya.” Dia sengaja mengalihkan


pembicaraan. Kembali memfokuskan masalah mereka terlebih dulu.


“Kalau begitu ayo ulangi


arahannya.” Tampaknya yang lain pun paham. Mereka serius mendengarkan, mempersiapkan


serangan untuk esok hari. Soal kampung halaman Bara dan Kanya, benar-benar


telah dikesampingkan.

__ADS_1


__ADS_2