
Kyra tak tahu sudah berapa
hari berlalu sejak ia terbaring tak berdaya di kasurnya. Dia hanya menyadari
bahwa langit tak pernah berubah. Tetap berada di waktu senja ketika matahari
terbenam dan bulan tidak tampak.
Butiran salju berjatuhan
ke tanah, menebalkan lapisan beku yang telah tertutupi warna putih. Sedikit
bara api yang tertinggal di dasar jiwa Kyra membangkitkan keberaniannya,
memaksa tubuh rapuhnya untuk bangun.
Kemudian Kyra berjalan
tertatih keluar rumah. Ketika ia menyentuh butiran salju yang jatuh, telapak
tangannya bisa merasakan kehampaan. Rasa dingin menusuk itu bukan datang dari
salju palsu itu, tetapi datang dari kelemahan hatinya.
Saat Kyra akhirnya
menyadari kejanggalan tersebut, ingatan yang kacau mulai tersusun kembali.
Suara-suara aneh dan sosok yang dikenalnya dulu, perlahan mulai lenyap. Kota
Nebula di depan matanya mulai runtuh, retak bersama dengan sihir ilusi yang
dihancurkan.
Di akhir pemandangan
tersebut, seberkas cahaya bara api melintas di atas langit. Kyra menengadah
menatapnya. Matanya bertemu pandangan dengan mata si pemilik cahaya. Burung api
raksasa yang kini terbang menukik turun ke arahnya.
Kyra mengejap. Ketika
kelopak matanya terbuka kembali, dia melihat dirinya sewaktu kecil, berbaring
dalam dekapan ayahnya di halaman depan rumah. Sosok raksasa indah itu berada di
depannya, seperti tengah berkomunikasi dengan ayah dan ibunya. Orang-orang desa
muncul lagi, mengeliling mereka dengan pandangan takut.
Kyra mengerti bila ini
merupakan ingatannya, tapi tak satu pun suara dari mereka yang bisa dia dengar.
Hanya sorot mata tajam dan keindahan sang Phoenix yang membuatnya jatuh cinta.
Sebelum bisa melihat akhir
dari pemandangan tersebut, seluruh dunia tersebut hancur. Mata Kyra terbuka
kembali. Kali ini di dunia nyata, tempat seharusnya dia berada.
“Kenapa aku tak bisa
mengingatnya dengan jelas?” Kyra bertanya pada dirinya sendiri ketika bangun.
Suarannya itu, memberi sukacita kepada teman-temannya.
“Kyra, syukurlah kau
bangun!” Kanya melompat memeluk Kyra dengan erat. Bara dan Soli menyaksikan
dengan kelegaan hati. Setelah Kyra bangun, maka Meena pun akan bisa mereka
selamatkan.
“Teman-teman apa yang
terjadi? Di mana ini?”
Kyra masih
terbingung-bingung, tak ingat bagaimana dia bisa sampai di dalam gua bawah air
tersebut. Namun, mereka tak memberinya waktu untuk bertanya lebih lanjut.
Keadaan Meena jauh lebih penting saat ini.
“Nanti saja bicaranya,
Kyra. Cepat alirkan sihirmu ke tubuh Meena!” seru Bara.
“Baik!”
Kyra akhirnya melihat
Meena. Hanya dia seorang yang terbaring tak berdaya. Kulitnya telah berubah
membiru, kaku seperti akan membeku kapan saja. Dengan segera dia mendekati
Meena, meletakkan tangannya di atas dada gadis bertubuh mungil itu. Insting
Kyra mengajarkannya cara menggunakan apinya dengan benar. Meskipun ia membakar
tubuh Meena, tapi yang terbakar hanyalah sihir yang merasuki kesadaran Meena.
Saat pengaruh sihir ilusi
siluman rubah itu menghilang, keadaan tubuh Meena pun berangsur-angsur membaik
dengan cepat. Mereka menjadi tenang. Akhirnya mereka bisa beristirahat sambil
__ADS_1
menunggu Meena sadarkan diri.
Kanya menceritakan apa
yang terjadi kepada Kyra. Bara dan Soli juga ikut menimpali mencocokkan cerita
untuk memahami situasi dengan baik. Tempat persembunyian mereka aman karena
siluman rubah tak bisa masuk ke dalam air, tapi mereka tak bisa selamanya
bersembunyi di sana.
“Setelah Meena pulih, kita
harus keluar melawannya,” usul Bara.
Soli dan Kanya mengerutkan
kening. Melawan siluman sekuat itu sama saja cari mati. Belum lagi ada
kemungkinan mereka akan kembali terjerat sihir ilusi tersebut.
“Bagaimana kalau mengambil
jalan memutar dan menghindarinya?” Bagi Kanya, selalu ada pilihan kedua bila
pilihan pertama terlalu berisiko. Meskipun lima lawan satu, tetap saja
kemungkinan menang mereka sangat tipis.
“Tidak mungkin bisa, Nona
Kanya. Siluman rubah tersebut telah mengusai seluruh hutan. Begitu kita keluar
dari sini, dia akan langsung menemukan kita.” Soli merupakan penghuni asli
hutan ini. Dari dulu, sukunya percaya bila siluman rubah ekor sembilan itu
merupakan penguasa di sini. Mereka aman selama menghindari sarang rubah, tapi
itu pun karena sang rubah membiarkan sukunya. Rombongannya saat ini lain cerita.
Setelah siluman itu tahu siapa sebenarnya ketiga gadis pengantin tersebut, dia
pasti tak akan membiarkan mereka lolos begitu saja.
“Kalau satu-satunya jalan
adalah melawan, maka ayo kita hadapi!” Di luar dugaan, Kyra yang pertama kali
mengusulkan perlawanan. Gadis desa itu tampaknya sudah mulai dewasa dan bisa
memahami kondisinya saat ini.
“Kyra, itu terlalu
berisiko.” Bara juga ingin melawan, tapi dia tak yakin bisa saat harus
“Hidup sebagai Petualang
sendiri penuh risiko, Elf tua bodoh!” Meena bangun-bangun langsung menyela
pembicaraan. Belum bisa duduk saja sudah meledek Bara. Memang minta disiksa si
cebol itu.
“Cebol yang tak bisa
melakukan apa pun diam saja!” Bara mencubit pipi Meena keras-keras, gemas pada
ocehan si cebol satu itu.
“Aku sudah tahu itu ilusi,
tapi aku tetap tak mau bangun.” Meena menyesali perbuatannya. Dia bisa
merasakan sihir Kyra membungkus tubuhnya dan itu pula yang membawanya bangun
dari mimpi indah.
“Jangan mengatakan sesuatu
yang tolol. Kamulah sosok Ratu ideal yang dipilih oleh Yang Mulia Nakula. Apa
menurutmu, kamu layak menyerahkan hidupmu pada seekor siluman seperti itu?”
Untuk pertama kalinya, Soli serius memarahi Meena. Dia menampar sang ratu,
memberikan tatapan sinis menyadarkan hati Meena.
Gadis setengah Naga itu
merapatkan giginya, mencengkeram erat selimut yang membungkus tubuhnya.
Perkataan Soli terlalu benar untuk dibantah olehnya. Dirinya yang memilih hanyut
pada masa lalu dan menyerah pada keinginannya memang tak pantas bersikap
angkuh.
“Aku tahu, aku yang
salah,” jawab Meena dengan suara pelan.
Tidak ada yang membela
Meena, mereka memahami perasaan Soli. Mereka membiarkan kejadian kali ini
menjadi pengalaman yang akan membantu Meena kelak.
“Bagus kalau kau sudah
mengerti, cebol. Bangun, kita diskusikan langkah selanjutnya.” Bara segera
__ADS_1
mencairkan suasana ketika dirasa Meena sudah paham dan Soli sudah puas menegur
Meena. Kyra dan Kanya mengamati keadaan, mengikuti arahan Bara yang ingin
membiarkan hal itu berlalu.
Mereka berlima duduk
melingkari api unggun. Pertama-tama, mereka ingin mendengar pendapat Meena
terlebih dulu. Kemudian mereka membahas strategi penyerangan bersama-sama.
“Kyra yang akan menjadi
penyerang utama. Hanya apinya yang bisa menaklukkan sihir ilusi. Setelah ilusi
siluman sepenuhnya tak bisa dipakai, aku dan Soli akan membantu Kyra
menjatuhkannya.” Bara memikirkan ide serangan dua arah. Tiga orang menyerang
dari darat dengan menjadikan Kyra sebagai pusat serangan dan dua orang
menyerang dari atas. Di luar area pertahanan lawannya.
“Aku tak masalah terbang
lama sendirian, tapi bila sambil membawa Kanya, aku tak bisa menyerang sama
sekali.” Kelemahan Meena adalah dia butuh tangannya untuk menyalurkan seluruh
sihir ke dalam alat pendukung. Dia belum memahami cara penggunaan mana yang
lebih luas.
“Soal itu tak masalah.
Kanya harusnya bisa melayang juga di udara, benarkan?”
“Memang benar, tapi
bagaimana kau tahu?” Kanya tak ingat pernah menggunakan kemampuan yang satu
itu, tapi Bara telah mengetahuinya.
“Mengubah tubuh menjadi
air, mengendalikan berat massa agar bisa bertarung di udara adalah kekuatan
umum bangsamu. Dulu sekali aku pernah melihat sekelompok Roh Air bertarung.”
Penjelasan Bara selanjutnya membuat Kanya mengerti. Lelaki ini bukanlah Elf
biasa, melainkan Elf Salju yang berasal dari kampung halaman yang sama
dengannya.
“Bangsaku tidak pernah
meninggalkan Kerajaan Aurora Sea bahkan setelah wilayah kami dijajah. Jika kau
pernah melihat saudara-saudaraku bertarung, maka kau berasal dari tempat yang
sama denganku. Benar?” Kanya sudah tahu jawabannya. Dia sengaja bertanya untuk
menguji kejujuran Bara.
“Ya, aku tak akan
menyangkal.” Bagus. Kejujuran Bara sudah cukup untuk membuat Kanya
memercayainya. Setidaknya itu merupakan bukti bila Bara merupakan pelarian sama
sepertinya, bukan mereka yang menjual Kerajaan Aurora Sea pada Undead.
“Kerajaan Aurora Sea tepat
berada di lautan antara perbatasan Kerajaan Draco dan Kerajaan Albus Tiger.
Kita akan melewatinya dalam perjalanan mencari Peri Mimpi. Tempat itu yang
kalian maksudkan?”
Meena ikut penasaran. Dia
kira mereka semua sepenuhnya buta akan dunia luar. Ternyata Bara dan Kanya
merupakan pendatang. Entah bagaimana mereka bisa masuk dan menjadi rakyat
Kerjaan Draco, yang pasti apa pun alasannya, lebih baik punya penunjuk arah
daripada tidak sama sekali.
“Itu benar, tapi kita ke
sampingkan dulu soal ini. Saat ini keluar dari hutan adalah prioritas utama
kita.”
Kyra bisa merasakan
ketidaknyamanan Bara saat Meena dan Kanya membicarakan soal tempat kelahiran
Elf tersebut. “Bara benar, aku ingin mendengar ulang strateginya.” Dia sengaja mengalihkan
pembicaraan. Kembali memfokuskan masalah mereka terlebih dulu.
“Kalau begitu ayo ulangi
arahannya.” Tampaknya yang lain pun paham. Mereka serius mendengarkan, mempersiapkan
serangan untuk esok hari. Soal kampung halaman Bara dan Kanya, benar-benar
telah dikesampingkan.
__ADS_1