Phoenix Bride

Phoenix Bride
Episode 2


__ADS_3

Setelah berdebat panjang


dengan Mary, mereka akhirnya mendapatkan misi dengan tingkat kesulitan


menengah. Alasannya karena Kyra masih amatiran, jadi dia tak akan membiarkan


regu mereka mengambil misi hanya dengan menilai standar kemampuan Bara.


“Aku tak bisa percaya ini,


setelah ratusan tahun jadi Petualang, baru kali ini aku diberi misi konyol


begini.” Tentu saja Bara tak puas. Dia selalu mengambil misi super berbahaya,


melibatkan pertarungan serius. Dan kali ini apa?


“Mengawal seorang Menteri


bukan misi konyol.” Meena biasa saja tuh. Mau misi apa pun tak masalah baginya,


toh mereka dibayar mahal.


“Ya, mengawalnya pergi


menjemput calon selir!” Bara mendengus. Ia berjalan menuju ke gerbang istana


sambil menendang batu kerikil.


“Bukan menjemputnya yang


harus kau lihat, tapi tujuannya!” Si mungil Meena menyusulnya, berlari hingga


ke depan Bara meladeni adu mulut tak penting itu.


“Kalian berdua sudah dong,


dari kemarin begitu terus.” Kyra belum terbiasa, dia masih mencoba melerai mereka.


Gadis api itu berdiri di


antara Bara dan Meena. Secara tak sengaja, siku Bara mengenainya. Kyra


meringis, termundur beberapa langkah. Ia terkejut, bukan karena dorongan Bara.


Melainkan karena dia tak sengaja menabrak seseorang yang baru saja keluar dari


gerbang itu.


Seper sekian detik, mata


mereka bertemu pandang. Pria itu memiliki tatapan yang begitu tajam. Alisnya


yang mengerut seakan sedang marah itu memberikan rasa takut pada Kyra. Refleks,


Kyra memutar tubuhnya. Segera menunduk berkali-kali.


“Maaf, aku tak sengaja.”


Ia meminta maaf secara berlebihan, membuat lawan bicaranya jadi bingung


bagaimana harus bereaksi.


“Letnan Alexi ternyata.


Sudah ada yang sekuat ini buat apa menyewa kami lagi?” Bara menimpali


pembicaraan, sudah selesai adu mulut dengan Meena.


Letnan Alexi merupakan


orang nomor dua dalam jajaran Ksatria yang melayani Raja. Siapa yang tak


mengenalnya? Pahlawan yang telah mengukir namanya di sepanjang perkamen sejarah


kerajaan selama ratusan tahun lamanya.


Dia terkenal sebagai


seorang Ksatria Elit, kelas Pengembara yang selalu berdiri di garis depan


setiap kali kaum Undead yang merupakan musuh utama kerajaan menyerang. Akan


tetapi, kehidupan pribadinya begitu misterius. Tak ada teman, tak ada keluarga


dan bahkan tak jelas rasnya apa.


“Perintah Yang Mulia Raja


adalah mutlak. Bila beliau ingin menambahkan pengamanan, aku hanya bisa patuh.


Daripada itu, sejak kapan kau menerima tugas semacam ini?” Alexi mengobrol


dengan Bara. Tampaknya mereka telah kenal begitu lama. Namun, arah matanya tertuju


pada kedua rekan sang Elf. Gadis berbau api dan gadis berbau amis reptil bukan


kombinasi biasa.


“Itu karena anggota reguku


berperingkat rendah. Pilihlah rute lebih berbahaya, bantu aku sedikit untuk


melatih si payah ini.” Bara merangkul Kyra secara tiba-tiba. Ia mengacak rambut


Kyra, menunjukkannya pada Alexi.


Sang Letnan menyingkirkan


tangan Bara dari bahu Kyra. Dia menatap mengancam, menunjukkan


ketidaksenangannya secara terang-terangan.


“Ups, aku lupa. Kau paling


benci melihat perempuan dan laki-laki berdekatan.” Sifat yang aneh, tapi ya


sudahlah ... Bara mana mau peduli.


“Rutenya telah ditentukan


oleh Tuan Wasa. Bicaralah dengannya.” Begitulah sifat Alexi, tak ada


ramah-ramahnya. Setelah tak ada urusan, langsung pergi tanpa dan niat


berkenalan dengan Meena dan Kyra.


“Ew! Aku tak mau. Musang


tua itu menjengkelkan sekali.”


“Eh ... kita berangkat


dengan Tuan Wasa, bukan Menteri Perdagangan ya?”


Bukan hanya Bara, Meena


juga sudah kapok bekerja pada Wasa, sang Menteri Budaya. Orangnya genit, rakus dan


sulit sekali dipuaskan maunya.


“Walah ... mereka mengirim Meena rupanya. Syukurlah aku terima


pekerjaan ini.” Baru juga dibicarakan, sudah muncul. Langsung menyambung dari

__ADS_1


atas kereta kuda.


Bara dan Meena langsung


hilang semangat kerja. Sedangkan Kyra masih bingung dari tadi. Berasa anak


nyasar, tak tahu harus bagaimana saat kedua rekannya mulai bergerak mengisi


posisi ketika rombongan sang Menteri telah keluar dari gerbang.


“Aku akan jaga di


belakang,” ujar Bara.


“Kalau begitu aku di dekat


perbekalan saja.”


“Kemari Meena, anak manis


jangan duduk di kereta barang. Keretaku kosong. Silakan masuk, sini temani


paman mengobrol.”


“Pergilah, Meena.


Melindunginya juga bagian dari misi.”


Bara sialan! Meena akan


ingat perlakuannya ini. Sengaja menumbalkannya menemani paman genit satu ini.


Pasti Bara masih dendam karena dia dari tadi terus berteriak tak ada yang salah


dari misi kali ini.


“Aku?” Kyra terlantar deh.


Tak tahu harus bagaimana dan sepertinya kedua rekannya terlalu kesal untuk


ditanyai.


“Kemari. Kau bersamaku di


kereta depan.” Di saat itulah, kereta Alexi berhenti di depannya. Dia disuruh


naik, duduk di bersebelahan dengan Letnan menakutkan itu.


Berhubung Kyra masih baru


dan masih tak ada gambaran, dia patuh saja. Gadis desa itu naik, duduk dengan


canggung menemani dalam kesunyian. Kereta telah bergerak, memecah angin


melewati Danau Duyung untuk bisa sampai ke Hutan Pinus yang merupakan tujuan


mereka.


Calon selir yang akan


dijemput merupakan seorang Driad. Itulah kenapa penjemputannya membutuhkan


begitu banyak orang. Sebab, bukan hanya sang calon selir, melainkan pohon yang


dihuninya pun harus mereka bawa ke istana.


Masalahnya juga tidak


sesederhana itu, ada bahaya dari rute yang diambil. Danau Duyung terdengar


bagai nama yang indah. Nyatanya tidak demikian. Makhluk setengah ikan yang


menghuninya begitu buas. Mereka sangat menjaga teritori. Menyerang siapa pun


Setelah mempelajari dengan


serius keseluruhan misi dari catatan pemberian Mary, Kyra mengarahkan


pandangannya pada Alexi.


“Kapan kita sampai di


Danau Duyung?”


“Besok pagi.” Sudah.


Begitu saja, pembicaraan terputus. Orang kaku seperti Alexi memang pandai


sekali mengakhiri obrolan dengan alami.


Kyra belum menyerah. Dia


percaya setiap orang bisa akrab selama ada usaha saling mengenal. “Apa kau bisa


menggunakan sihir? Bisa mengajariku?” Berhubung Bara yang sombong berkata kalau


Alexi kuat, maka itu artinya orang ini benar-benar kuat. Niat mengajak berteman


Kyra, berubah menjadi niat merekrut guru sihir.


Biarpun dia terlihat


pasrah, sebenarnya Kyra kepikiran soal perkataan Bara sebelumnya. Bahwa dia


payah dan hanya bisa membebani mereka saja. Paling tidak Kyra ingin menguasai


satu saja kemampuan menyerang.


“Berikan tanganmu padaku.”


Paham tak paham, Kyra


tetap menyodorkan tangannya ke dekat Alexi. Dia menegang saat pria itu mendadak


memegangnya, mengubah posisi tangan Kyra menjadikan telapak di atas.


“Tanganku mau diapakan?”


“Seberapa bisa kau


mengendalikan apimu?”


Sorot mata tajam itu lagi,


selalu bisa membuat Kyra merinding. Merah gelap bagai darah. Sangat serasi


dengan rambutnya, meninggalkan kesan ngeri yang tak sanggup Kyra terima. Bahkan


ucapannya pun begitu menakutkan, mampu mengetahui sesuatu yang tidak dia beri tahukan.


“Bagaimana kau tahu kalau


aku bertipe Api?” Kalau Meena dan Bara memang sudah mengenal Alexi, tapi dia


tidak. Kyra yakin ini pertemuan pertama mereka dan dari tadi dia tidak menggunakan


kekuatannya sama sekali.


“Aku bertanya padamu,


jawablah!” Tak ada jawaban, Kyra dibuat bungkam oleh kalimat bernada memerintah


itu.

__ADS_1


“Eh ... ah ... hanya


seperti bermain api.” Paniklah Kyra, merasa bagai dapat guru super galak.


“Dan kau menerima


pekerjaan seperti ini?”


“Ehehe ... kan ada Meena


dan Bara.”


Kepanikan gadis itu tak


bertahan lama. Senyumannya selalu bisa kembali kapan saja, mengalirkan aura


baik yang menenangkan.


Alexi menghela napas.


Kesadaran Kyra akan bahaya rendah sekali.


“Kau tak bisa bergantung


pada mereka. Terkadang kalian bisa terpisah dan di lain waktu mungkin mereka


yang terluka dan butuh bantuanmu. Itulah yang dinamakan regu, saling tolong-menolong.”


Pemikiran Kyra pada Alexi berubah seketika. Nasihatnya mengena di hati tanpa


ada niat menghina atau melukai perasaan.


Tangan Kyra yang berada di


tangan Alexi diremas dengan kuat. Kyra jadi tak tenang, rasanya api dalam


tubuhnya seperti diseret paksa keluar. Dia ingin menariknya sebelum berubah


menjadi ledakan, tetapi cengkeraman tangan Alexi terlalu kokoh untuk


diruntuhkan.


“Ingat sensasi ini. Tarik


kekuatan dalam tubuhmu hingga ke tangan dan saat kau merasa akan meledak,


lontarkan pada musuhmu.” Rupanya dia sedang diajarkan. Ya ampun ... Kyra malu,


sudah seenaknya berprasangka sendiri.


“Paham?” Kyra mengangguk.


Kemudian, apinya kembali


ke dalam tubuh. Tepat ketika Alexi melepaskan tangannya. Kyra terus menatap kedua


telapak tangannya dengan aneh. Benaknya penuh tanda tanya, mencoba mengingat


kembali bagaimana menggerakkan api itu dari inti tubuhnya ke telapak tangan.


Rasanya mudah sekali saat


Alexi menuntunnya, tapi saat dia coba tak ada reaksi apa pun. Tunggu dulu!?


Kyra baru sadar. Bukan hanya tipe saja, melainkan kemampuannya menggunakan


sihir tanpa alat pun diketahui oleh Alexi. Karena jika tak tahu, dia tak akan


diajarkan tanpa diminta menggunakan alat pendukung seperti buku, tongkat atau


perhiasan berbahan dasar batu mana.


Kepala Kyra terangkat,


menoleh ke samping. Matanya menyorot penuh tanda tanya pada Pria yang duduk di


sampingnya saat ini. “Bagaimana kau bisa tahu kalau aku tidak perlu menggunakan


alat bantu untuk menggunakan sihir?” Kali ini, dia tak akan teralihkan lagi.


Alexi yang ditanya diam


selama beberapa saat. Setelah itu, dia menunjuk ke arah ikat pinggang Kyra.


“Kau tak bawa apa pun, bahkan senjata kecil sekalipun. Terkadang ujung rambutmu


ada percikkan api. Dari itulah kusimpulkan bahwa kamu merupakan Penyihir


bertipe Api yang tak memerlukan bantun alat.” Penjelasannya detail sekali,


sampai membuat Kyra terbengong takjub.


“Matamu jeli sekali.” Orang


lain biasanya tak sadar, tapi Alexi berbeda.


“Kejelian dan pengamatan


adalah kunci untuk memenangkan peperangan.”


Masuk akal, mungkin memang


semua Ksatria pintar begini.


Oke, sudah Kyra putuskan!


“Apa kau bersedia jadi


guru sihirku?”


Kyra langsung bertindak,


menggenggam tangan Kiri Alexi degan kedua tangannya. Tatapannya penuh harap,


begitu murni hingga membuat orang yang melihat tak tega menolak.


“Ksatria punya kode etik


tersendiri dan salah satunya adalah tidak diperbolehkan melakukan apa pun di


luar perintah dari Yang Mulia Raja.” Alexi tega menolak sih. Dia terlalu serius


pada perannya. Yakni, menjadi pribadi yang hanya setia kepada Raja.


“Yah ... terus aku belajar


pada siapa dong?” Kyra melepaskan tangan Alexi dengan kecewa. Baru saja merasa


dapat pencerahan, semuanya sirna seketika.


“Saat sempat, pergilah ke


Perpustakaan Umum. Kau akan menemukan banyak buku tentang pengendalian sihir


dan jenis serangan.” Detik berikutnya, senyuman kembali menghiasi wajah cantik


Kyra. Dia salah, Alexi tidak mengabaikannya. Letnan menakutkan ini ternyata


begitu perhatian!


Author's Note :


Driad/Dryad adalah sejenis peri wanita yang hidup di dalam pohon. Memiliki penampilan yang sangat cantik dan suara merdu. Jika ada istilah lain yang tidak kalian pahami, atau terlewatkan waktu kujelaskan, silakan tanya saja. Nanti jawabannya aku sisipkan di bab selanjutnya.

__ADS_1


__ADS_2