
Setelah berdebat panjang
dengan Mary, mereka akhirnya mendapatkan misi dengan tingkat kesulitan
menengah. Alasannya karena Kyra masih amatiran, jadi dia tak akan membiarkan
regu mereka mengambil misi hanya dengan menilai standar kemampuan Bara.
“Aku tak bisa percaya ini,
setelah ratusan tahun jadi Petualang, baru kali ini aku diberi misi konyol
begini.” Tentu saja Bara tak puas. Dia selalu mengambil misi super berbahaya,
melibatkan pertarungan serius. Dan kali ini apa?
“Mengawal seorang Menteri
bukan misi konyol.” Meena biasa saja tuh. Mau misi apa pun tak masalah baginya,
toh mereka dibayar mahal.
“Ya, mengawalnya pergi
menjemput calon selir!” Bara mendengus. Ia berjalan menuju ke gerbang istana
sambil menendang batu kerikil.
“Bukan menjemputnya yang
harus kau lihat, tapi tujuannya!” Si mungil Meena menyusulnya, berlari hingga
ke depan Bara meladeni adu mulut tak penting itu.
“Kalian berdua sudah dong,
dari kemarin begitu terus.” Kyra belum terbiasa, dia masih mencoba melerai mereka.
Gadis api itu berdiri di
antara Bara dan Meena. Secara tak sengaja, siku Bara mengenainya. Kyra
meringis, termundur beberapa langkah. Ia terkejut, bukan karena dorongan Bara.
Melainkan karena dia tak sengaja menabrak seseorang yang baru saja keluar dari
gerbang itu.
Seper sekian detik, mata
mereka bertemu pandang. Pria itu memiliki tatapan yang begitu tajam. Alisnya
yang mengerut seakan sedang marah itu memberikan rasa takut pada Kyra. Refleks,
Kyra memutar tubuhnya. Segera menunduk berkali-kali.
“Maaf, aku tak sengaja.”
Ia meminta maaf secara berlebihan, membuat lawan bicaranya jadi bingung
bagaimana harus bereaksi.
“Letnan Alexi ternyata.
Sudah ada yang sekuat ini buat apa menyewa kami lagi?” Bara menimpali
pembicaraan, sudah selesai adu mulut dengan Meena.
Letnan Alexi merupakan
orang nomor dua dalam jajaran Ksatria yang melayani Raja. Siapa yang tak
mengenalnya? Pahlawan yang telah mengukir namanya di sepanjang perkamen sejarah
kerajaan selama ratusan tahun lamanya.
Dia terkenal sebagai
seorang Ksatria Elit, kelas Pengembara yang selalu berdiri di garis depan
setiap kali kaum Undead yang merupakan musuh utama kerajaan menyerang. Akan
tetapi, kehidupan pribadinya begitu misterius. Tak ada teman, tak ada keluarga
dan bahkan tak jelas rasnya apa.
“Perintah Yang Mulia Raja
adalah mutlak. Bila beliau ingin menambahkan pengamanan, aku hanya bisa patuh.
Daripada itu, sejak kapan kau menerima tugas semacam ini?” Alexi mengobrol
dengan Bara. Tampaknya mereka telah kenal begitu lama. Namun, arah matanya tertuju
pada kedua rekan sang Elf. Gadis berbau api dan gadis berbau amis reptil bukan
kombinasi biasa.
“Itu karena anggota reguku
berperingkat rendah. Pilihlah rute lebih berbahaya, bantu aku sedikit untuk
melatih si payah ini.” Bara merangkul Kyra secara tiba-tiba. Ia mengacak rambut
Kyra, menunjukkannya pada Alexi.
Sang Letnan menyingkirkan
tangan Bara dari bahu Kyra. Dia menatap mengancam, menunjukkan
ketidaksenangannya secara terang-terangan.
“Ups, aku lupa. Kau paling
benci melihat perempuan dan laki-laki berdekatan.” Sifat yang aneh, tapi ya
sudahlah ... Bara mana mau peduli.
“Rutenya telah ditentukan
oleh Tuan Wasa. Bicaralah dengannya.” Begitulah sifat Alexi, tak ada
ramah-ramahnya. Setelah tak ada urusan, langsung pergi tanpa dan niat
berkenalan dengan Meena dan Kyra.
“Ew! Aku tak mau. Musang
tua itu menjengkelkan sekali.”
“Eh ... kita berangkat
dengan Tuan Wasa, bukan Menteri Perdagangan ya?”
Bukan hanya Bara, Meena
juga sudah kapok bekerja pada Wasa, sang Menteri Budaya. Orangnya genit, rakus dan
sulit sekali dipuaskan maunya.
“Walah ... mereka mengirim Meena rupanya. Syukurlah aku terima
pekerjaan ini.” Baru juga dibicarakan, sudah muncul. Langsung menyambung dari
__ADS_1
atas kereta kuda.
Bara dan Meena langsung
hilang semangat kerja. Sedangkan Kyra masih bingung dari tadi. Berasa anak
nyasar, tak tahu harus bagaimana saat kedua rekannya mulai bergerak mengisi
posisi ketika rombongan sang Menteri telah keluar dari gerbang.
“Aku akan jaga di
belakang,” ujar Bara.
“Kalau begitu aku di dekat
perbekalan saja.”
“Kemari Meena, anak manis
jangan duduk di kereta barang. Keretaku kosong. Silakan masuk, sini temani
paman mengobrol.”
“Pergilah, Meena.
Melindunginya juga bagian dari misi.”
Bara sialan! Meena akan
ingat perlakuannya ini. Sengaja menumbalkannya menemani paman genit satu ini.
Pasti Bara masih dendam karena dia dari tadi terus berteriak tak ada yang salah
dari misi kali ini.
“Aku?” Kyra terlantar deh.
Tak tahu harus bagaimana dan sepertinya kedua rekannya terlalu kesal untuk
ditanyai.
“Kemari. Kau bersamaku di
kereta depan.” Di saat itulah, kereta Alexi berhenti di depannya. Dia disuruh
naik, duduk di bersebelahan dengan Letnan menakutkan itu.
Berhubung Kyra masih baru
dan masih tak ada gambaran, dia patuh saja. Gadis desa itu naik, duduk dengan
canggung menemani dalam kesunyian. Kereta telah bergerak, memecah angin
melewati Danau Duyung untuk bisa sampai ke Hutan Pinus yang merupakan tujuan
mereka.
Calon selir yang akan
dijemput merupakan seorang Driad. Itulah kenapa penjemputannya membutuhkan
begitu banyak orang. Sebab, bukan hanya sang calon selir, melainkan pohon yang
dihuninya pun harus mereka bawa ke istana.
Masalahnya juga tidak
sesederhana itu, ada bahaya dari rute yang diambil. Danau Duyung terdengar
bagai nama yang indah. Nyatanya tidak demikian. Makhluk setengah ikan yang
menghuninya begitu buas. Mereka sangat menjaga teritori. Menyerang siapa pun
Setelah mempelajari dengan
serius keseluruhan misi dari catatan pemberian Mary, Kyra mengarahkan
pandangannya pada Alexi.
“Kapan kita sampai di
Danau Duyung?”
“Besok pagi.” Sudah.
Begitu saja, pembicaraan terputus. Orang kaku seperti Alexi memang pandai
sekali mengakhiri obrolan dengan alami.
Kyra belum menyerah. Dia
percaya setiap orang bisa akrab selama ada usaha saling mengenal. “Apa kau bisa
menggunakan sihir? Bisa mengajariku?” Berhubung Bara yang sombong berkata kalau
Alexi kuat, maka itu artinya orang ini benar-benar kuat. Niat mengajak berteman
Kyra, berubah menjadi niat merekrut guru sihir.
Biarpun dia terlihat
pasrah, sebenarnya Kyra kepikiran soal perkataan Bara sebelumnya. Bahwa dia
payah dan hanya bisa membebani mereka saja. Paling tidak Kyra ingin menguasai
satu saja kemampuan menyerang.
“Berikan tanganmu padaku.”
Paham tak paham, Kyra
tetap menyodorkan tangannya ke dekat Alexi. Dia menegang saat pria itu mendadak
memegangnya, mengubah posisi tangan Kyra menjadikan telapak di atas.
“Tanganku mau diapakan?”
“Seberapa bisa kau
mengendalikan apimu?”
Sorot mata tajam itu lagi,
selalu bisa membuat Kyra merinding. Merah gelap bagai darah. Sangat serasi
dengan rambutnya, meninggalkan kesan ngeri yang tak sanggup Kyra terima. Bahkan
ucapannya pun begitu menakutkan, mampu mengetahui sesuatu yang tidak dia beri tahukan.
“Bagaimana kau tahu kalau
aku bertipe Api?” Kalau Meena dan Bara memang sudah mengenal Alexi, tapi dia
tidak. Kyra yakin ini pertemuan pertama mereka dan dari tadi dia tidak menggunakan
kekuatannya sama sekali.
“Aku bertanya padamu,
jawablah!” Tak ada jawaban, Kyra dibuat bungkam oleh kalimat bernada memerintah
itu.
__ADS_1
“Eh ... ah ... hanya
seperti bermain api.” Paniklah Kyra, merasa bagai dapat guru super galak.
“Dan kau menerima
pekerjaan seperti ini?”
“Ehehe ... kan ada Meena
dan Bara.”
Kepanikan gadis itu tak
bertahan lama. Senyumannya selalu bisa kembali kapan saja, mengalirkan aura
baik yang menenangkan.
Alexi menghela napas.
Kesadaran Kyra akan bahaya rendah sekali.
“Kau tak bisa bergantung
pada mereka. Terkadang kalian bisa terpisah dan di lain waktu mungkin mereka
yang terluka dan butuh bantuanmu. Itulah yang dinamakan regu, saling tolong-menolong.”
Pemikiran Kyra pada Alexi berubah seketika. Nasihatnya mengena di hati tanpa
ada niat menghina atau melukai perasaan.
Tangan Kyra yang berada di
tangan Alexi diremas dengan kuat. Kyra jadi tak tenang, rasanya api dalam
tubuhnya seperti diseret paksa keluar. Dia ingin menariknya sebelum berubah
menjadi ledakan, tetapi cengkeraman tangan Alexi terlalu kokoh untuk
diruntuhkan.
“Ingat sensasi ini. Tarik
kekuatan dalam tubuhmu hingga ke tangan dan saat kau merasa akan meledak,
lontarkan pada musuhmu.” Rupanya dia sedang diajarkan. Ya ampun ... Kyra malu,
sudah seenaknya berprasangka sendiri.
“Paham?” Kyra mengangguk.
Kemudian, apinya kembali
ke dalam tubuh. Tepat ketika Alexi melepaskan tangannya. Kyra terus menatap kedua
telapak tangannya dengan aneh. Benaknya penuh tanda tanya, mencoba mengingat
kembali bagaimana menggerakkan api itu dari inti tubuhnya ke telapak tangan.
Rasanya mudah sekali saat
Alexi menuntunnya, tapi saat dia coba tak ada reaksi apa pun. Tunggu dulu!?
Kyra baru sadar. Bukan hanya tipe saja, melainkan kemampuannya menggunakan
sihir tanpa alat pun diketahui oleh Alexi. Karena jika tak tahu, dia tak akan
diajarkan tanpa diminta menggunakan alat pendukung seperti buku, tongkat atau
perhiasan berbahan dasar batu mana.
Kepala Kyra terangkat,
menoleh ke samping. Matanya menyorot penuh tanda tanya pada Pria yang duduk di
sampingnya saat ini. “Bagaimana kau bisa tahu kalau aku tidak perlu menggunakan
alat bantu untuk menggunakan sihir?” Kali ini, dia tak akan teralihkan lagi.
Alexi yang ditanya diam
selama beberapa saat. Setelah itu, dia menunjuk ke arah ikat pinggang Kyra.
“Kau tak bawa apa pun, bahkan senjata kecil sekalipun. Terkadang ujung rambutmu
ada percikkan api. Dari itulah kusimpulkan bahwa kamu merupakan Penyihir
bertipe Api yang tak memerlukan bantun alat.” Penjelasannya detail sekali,
sampai membuat Kyra terbengong takjub.
“Matamu jeli sekali.” Orang
lain biasanya tak sadar, tapi Alexi berbeda.
“Kejelian dan pengamatan
adalah kunci untuk memenangkan peperangan.”
Masuk akal, mungkin memang
semua Ksatria pintar begini.
Oke, sudah Kyra putuskan!
“Apa kau bersedia jadi
guru sihirku?”
Kyra langsung bertindak,
menggenggam tangan Kiri Alexi degan kedua tangannya. Tatapannya penuh harap,
begitu murni hingga membuat orang yang melihat tak tega menolak.
“Ksatria punya kode etik
tersendiri dan salah satunya adalah tidak diperbolehkan melakukan apa pun di
luar perintah dari Yang Mulia Raja.” Alexi tega menolak sih. Dia terlalu serius
pada perannya. Yakni, menjadi pribadi yang hanya setia kepada Raja.
“Yah ... terus aku belajar
pada siapa dong?” Kyra melepaskan tangan Alexi dengan kecewa. Baru saja merasa
dapat pencerahan, semuanya sirna seketika.
“Saat sempat, pergilah ke
Perpustakaan Umum. Kau akan menemukan banyak buku tentang pengendalian sihir
dan jenis serangan.” Detik berikutnya, senyuman kembali menghiasi wajah cantik
Kyra. Dia salah, Alexi tidak mengabaikannya. Letnan menakutkan ini ternyata
begitu perhatian!
Author's Note :
Driad/Dryad adalah sejenis peri wanita yang hidup di dalam pohon. Memiliki penampilan yang sangat cantik dan suara merdu. Jika ada istilah lain yang tidak kalian pahami, atau terlewatkan waktu kujelaskan, silakan tanya saja. Nanti jawabannya aku sisipkan di bab selanjutnya.
__ADS_1