Phoenix Bride

Phoenix Bride
Episode 28


__ADS_3

Sekarang rombongan Raja berada


di kediaman sementara di kota Nero. Mereka memutuskan untuk berpisah di sini.


Dan cara yang terpikirkan adalah membuat penyamaran untuk ketiga gadis itu saat


Nakula meninggalkan kediamannya.


“Jadi hanya sampai di


sini. Selanjutnya lakukan apa yang kalian inginkan, tapi pastikan tidak ada


yang mengikuti kalian.” Karena Meena ngotot ingin tetap pergi ke Perkemahan


Centaur, Nakula hanya bisa mengingatkan.


“Kami mengerti, Yang


Mulia.” Hanya Bara yang keluar mengantarkan rombongan Raja kembali ke dalam


kereta kuda. Bahkan pengawal yang menemani tak sadar bila Kyra, Meena dan Kanya


yang masuk ke dalam kereta Nakula hanyalah sihir ilusi sang Raja.


Setelah Nakula pergi, Bara


masuk kembali ke dalam. Mereka berencana tinggal beberapa hari sampai tak ada


lagi yang mengawasi gedung itu, berulah setelahnya mereka akan berangkat ke


Perkemahan Centaur.


“Jadi, kita benar-benar


akan memutar kembali ke Benteng Barat?” tanya Soli. Sedangkan ketiga gadis


dalam regu mereka berada di lantai atas, entah tengah merencanakan apa.


“Tidak. Terlalu berisiko.”


“Biar kau bilang begitu


pun, Nona Meena sudah mendapatkan izin untuk pergi ke Perkemahan Centaur.”


Soli dan Bara sama-sama


menghela napas. Setelah semua masalah itu, gadis-gadis kecil tersebut masih


belum kapok. Ditambah lagi, orang yang harus mereka jaga menjadi tiga bocah


menyusahkan.


“Makanya, kita terpaksa


harus lewat jalan di jalur timur.” Sebenarnya Bara tak mau, tapi lebih baik


melewati jalan penuh monster daripada mengambil risiko bertemu dengan musuh


mereka.


Dibilang jalan, sebenarnya


jalur itu bahkan tak memiliki jalan. Selain harus memutar jauh, mereka juga


harus melewati hutan, naik ke bukit, turun memasuki kota Nebula dan kemudian


melewati hutan lagi hingga ke kaki gunung api, baru terakhir memasuki wilayah


para Centaur.


“Tak ada pilihan lain,


huh.” Soli memijit keningnya. Dengan kemampuannya dan Bara, melewati jalur itu


tak masalah. Cuma rasa cemas kalau bocah-bocah itu mengacau membuatnya tak bisa


tenang.


“Aku akan mulai membeli


perbekalan, kau jaga saja mereka agar tak nekat keluar.” Bara yang curigaan


begitu menambah rasa cemas Soli, seakan gadis-gadis kecil itu sungguhan akan


mencoba menyelinap keluar untuk bermain-main.


***


Di lantai atas, Meena


mengintip Bara dari jendela kamarnya. Dia mendengus saat melihat sang Elf pergi


berbelanja. “Kita tak dipercayai, dasar Elf tua menyebalkan!” Aslinya mereka


bertiga menguping pembicaraan Soli dan Bara dari tadi dengan menggunakan


kemampuan Kanya menangkap gelombang suara dari percakapan di lantai dasar.


“Bukannya itu karena


kalian memang sering menyelinap pergi main saat menjalankan misi?” Kanya tahu


saja kebiasaan Meena. Padahal dia baru saja bergabung dengan kelompok mereka.


“Mana ada, fitnah!”


“Heh, Kyra yang bercerita


padaku.”


Arah pandangan mata Meena


tertuju pada Kyra seketika, tetapi gadis api tak sadar. Dari tadi dia sibuk


sendiri membaca buku yang ditinggalkan oleh Letnan Alexi.


“Kyra, jangan bengong


terus.” Meena mendekati Kyra, mencubit pipi temannya itu. Refleks Kyra


menengadah, menatap Meena dengan bingung.


“Aku lagi belajar,” balas

__ADS_1


Meena.


Kali ini Kanya juga


mendekati Kyra. Buku yang dia tunjukkan menarik perhatian Kanya. Sebuah buku


tentang sihir api tingkat tinggi yang tak pernah dia lihat sebelumnya.


“Kau dapat dari mana itu?


Itu bukan buku yang ditulis oleh manusia.” Tulisan itu terlihat seperti alfabet


kuno. Bahasa yang sudah hampir punah.


“Dikasih Letnan Alexi. Dia


bilang banyak sihir di buku ini yang akan menolongku nanti.” Karena itu adalah


buku yang ditulis dengan tinta sihir dengan kondisi tertentu, Kyra bisa


membacanya sekalipun ia tak tahu bahasa apa yang digunakan. Sesuatu dalam


darahnya mengandung pemahaman yang membuka segel buku itu.


“Itu bahasa bangsa burung


api, tulisan kuno hanya saat ini hanya digunakan oleh Phoenix. Kau tak


penasaran kenapa Letnan itu memilikinya?” Bagi Kanya yang telah hidup lebih


dari 2.000 tahun, mengenali tulisan-tulisan kuno bukanlah masalah. Meskipun ia


tak bisa memahaminya, tapi ia bisa membedakan dari satu jenis ke jenis lainnya.


“Mungkin didapat dari


Phoenix sendiri. Letnan Alexi adalah Naga, jadi tak heran kalau dia punya teman


Phoenix.” Penjelasannya Kyra terdengar bodoh oleh Kanya. Memang Sarang Naga dan


gunung api berdekatan satu sama lainnya, tapi itu bukan berarti kedua ras


tersebut berhubungan sangat baik sampai bertukar buku berharga seperti itu.


“Aku pribadi lebih kaget


Kyra bisa membacanya. Meskipun sebenarnya aku juga punya satu yang serupa, buku


tentang sihir angin Naga pemberian si genit itu.” Meena tersadar, dia bisa


membaca buku itu karena di dalam tubuhnya terdapat sihir Naga, Nakula bilang


itulah kunci untuk menerjemahkan isinya. Apa yang dia pusingkan, pastilah buku


Kyra sama cara kerjanya.


“Aku juga punya satu. Buku


tentang sihir air, tapi seperti Meena. Kudapatkan dari pasanganku. Kenapa


punyamu didapat dari orang lain? Memangnya kau tak pernah bertemu dengan


pasanganmu sendiri?” Kyra tertegun mendengar pertanyaan Kanya. Kaitan Alexi


diberikannya, sesuatu yang harusnya diberikan oleh pasangannya.


“Lagian kalau kita bicara


soal Naga, seingatku di kerajaan ini hanya ada Naga Angin dan bau Letnan Alexi


tak seperti bau Naga.” Setelah memulai pembicaraan ini, Meena baru menyadari


akan hal ini. Selama ini dia sibuk akan banyak hal dan tidak pernah tertarik


untuk mengetahui sejuta rahasia sang Letnan.


“Bau? Apa kau sejenis


anjing?”


“Berisik! Naga termasuk makhluk


dengan penciuman tajam. Aku bukannya senang mengendus-endus seperti binatang!”


Sementara Meena dan Kanya


berdebat, Kyra memikirkan kembali kata-kata mereka. Sejak awal, yang mengatakan


bila Alexi seekor Naga adalah Ksatria kerajaan. Orangnya sendiri tak mengatakan


apa pun, jadi mungkin dia yang salah paham sendiri.


“Oh ya, siapa nama Phoenix


yang jadi pasanganmu, Kyra?” Belum juga Kyra menemukan jawaban atas rasa


bimbangnya, Kanya kembali mempertanyakan hal yang membuatnya terdiam.


“Aku ... tak tahu,” jawab


Kyra pelan.


“Hei, cebol. Temanmu ini


kenapa? Nama pasangannya sendiri tak tahu.” Kanya langsung menarik Meena ke


sudut ruangan, bisik-bisik merasa tak enak mempertanyakan sesuatu yang membuat


Kyra mendadak murung.


“Itu yang mau kami cari


tahu. Makanya kita harus mencari Peri Mimpi dulu.” Jadilah Meena menjelaskan


situasi mereka pada Kanya. Saat bersama dengan rombongan Raja, mereka tak bisa


berbicara sebebas ini. Makanya baru sekarang Kanya mempertanyakan banyak hal.


“Begitu ... ini mungkin


akan jadi perjalanan sangat panjang.”


“Kita hanya perlu ke

__ADS_1


Perkemahan Centaur, kan?”


Kanya menggeleng. “Yang


Centaur miliki hanyalah kunci untuk meninggalkan Kerajaan Draco. Dan Peri Mimpi


sendiri berada di luar sana.” Bila Kanya tak salah ingat, makhluk-makhluk kecil


yang Kyra cari tinggal di sebuah kuil kuno di Kerajaan Albus, tempat yang telah


runtuh lebih dari 100 tahun silam.


“Jelaskan padaku, Kanya!”


Tiba-tiba saja Kyra memotong pembicaraan Meena dan Kanya. Suara bisikan mereka


yang terlalu keras sampai ke telinganya.


Bagi Kyra, pengetahuan


Kanya adalah sebuah harapan. Mereka yang sejak awal mencari sesuatu hanya dari


isu beredar saja, jadi merasa yakin bila Peri Mimpi itu sungguh ada saat


seorang ras kuno seperti Kanya mengonfirmasinya.


“Akan kukatakan padamu kalau


kita bisa mendapatkan token dari bangsa Centaur. Tak ada gunanya tahu kalau


kita tak bisa keluar dari wilayah Kerajaan Draco. Sihir Pelindung Naga ini


bersifat solid. Selain tak ada yang bisa masuk ke dalam, orang yang tinggal di


dalamnya juga tak bisa keluar dari wilayah kerjaan tanpa token yang dijaga oleh


bangsa Centaur.”


Kyra yang tak pernah


keluar dari kerajaan dan bahkan tak tahu nama kerjaannya tempatnya tinggal itu,


tak bisa membayangkan sama sekali dunia di luar sana. Dia bahkan tak tahu bila


tak ada lagi kerajaan lain yang masih berdiri. “Jadi begitu, intinya kita tetap


harus ke Perkemahan Centaur.” Namun, bila memang hanya ada satu cara, Kyra akan


berjuang mendapatkannya apa pun yang terjadi.


“Hm, ada cara lain. Pergi


ke istana. Jalan keluar dari Kerajaan Draco ada dua. Satu di istana dan satu


lagi di gerbang perbatasan paling akhir di Perkemahan Centaur. Berhubung kita


punya Meena di sini, bagaimana kalau kita putar arah saja ke istana.”


“Jangan harap aku sudi kau


jual ke Naga genit itu.” Meena bilang begitu, tapi sebenarnya alasan kenapa ia


menolak karena ia tahu pasti. Nakula tak akan pernah mengizinkan mereka meninggalkan


wilayah kerjaannya.


Di luar sana jauh lebih


berbahaya daripada serangan dari orang-orang yang berniat memburu mereka.


Selain itu, Nakula tak akan bisa datang menolong karena dia harus terus berada


dalam wilayahnya untuk menjaga lapisan pelindung.


Akan lebih baik bila


mereka pergi diam-diam mengikuti rencana awal. Meskipun Kyra akan terkejut


setelah melihat keadaan di luar sana, tapi Meena yakin kalau gadis api bukan


orang yang bersedia mundur hanya karena tujuannya merupakan tempat berbahaya.


“Kau dengar sendiri kata


Meena, Kyra.”


“Tak apa-apa, kita akan


mendapatkan tokennya.”


“Bagus! Sudah diputuskan!


Kita rahasiakan dari Bara dan Soli!”


“Ya!”


“Heh?” Kanya bertanya-tanya.


Ia sulit mengikuti semangat Meena dan Kyra yang cepat sekali berubah. Mereka


bahkan berniat menyimpan rahasia dari pemimpin regu.


“Tak apa-apa, Kanya. Bara


itu menyebalkan, nanti dia menyeret kita pulang kalau tahu tujuan asli kita.”


“Betul. Diam-diam sampai tokennya


didapatkan.”


Soal begini saja barulah


Meena dan Kyra kompak sekali. Tak ada rasa ragu dalam rencana mereka.


“Pantas saja kalian


dibilang gadis kecil. Dasar kekanakan.” Sekarang Kanya tahu kenapa Bara


curigaan pada kedua gadis itu, tapi dia bisa apa untuk menghentikan mereka? Lagian


melihat dunia luar mungkin akan menyenangkan. Setidaknya di sana tak ada yang


tahu siapa mereka.

__ADS_1


__ADS_2