
Sekarang rombongan Raja berada
di kediaman sementara di kota Nero. Mereka memutuskan untuk berpisah di sini.
Dan cara yang terpikirkan adalah membuat penyamaran untuk ketiga gadis itu saat
Nakula meninggalkan kediamannya.
“Jadi hanya sampai di
sini. Selanjutnya lakukan apa yang kalian inginkan, tapi pastikan tidak ada
yang mengikuti kalian.” Karena Meena ngotot ingin tetap pergi ke Perkemahan
Centaur, Nakula hanya bisa mengingatkan.
“Kami mengerti, Yang
Mulia.” Hanya Bara yang keluar mengantarkan rombongan Raja kembali ke dalam
kereta kuda. Bahkan pengawal yang menemani tak sadar bila Kyra, Meena dan Kanya
yang masuk ke dalam kereta Nakula hanyalah sihir ilusi sang Raja.
Setelah Nakula pergi, Bara
masuk kembali ke dalam. Mereka berencana tinggal beberapa hari sampai tak ada
lagi yang mengawasi gedung itu, berulah setelahnya mereka akan berangkat ke
Perkemahan Centaur.
“Jadi, kita benar-benar
akan memutar kembali ke Benteng Barat?” tanya Soli. Sedangkan ketiga gadis
dalam regu mereka berada di lantai atas, entah tengah merencanakan apa.
“Tidak. Terlalu berisiko.”
“Biar kau bilang begitu
pun, Nona Meena sudah mendapatkan izin untuk pergi ke Perkemahan Centaur.”
Soli dan Bara sama-sama
menghela napas. Setelah semua masalah itu, gadis-gadis kecil tersebut masih
belum kapok. Ditambah lagi, orang yang harus mereka jaga menjadi tiga bocah
menyusahkan.
“Makanya, kita terpaksa
harus lewat jalan di jalur timur.” Sebenarnya Bara tak mau, tapi lebih baik
melewati jalan penuh monster daripada mengambil risiko bertemu dengan musuh
mereka.
Dibilang jalan, sebenarnya
jalur itu bahkan tak memiliki jalan. Selain harus memutar jauh, mereka juga
harus melewati hutan, naik ke bukit, turun memasuki kota Nebula dan kemudian
melewati hutan lagi hingga ke kaki gunung api, baru terakhir memasuki wilayah
para Centaur.
“Tak ada pilihan lain,
huh.” Soli memijit keningnya. Dengan kemampuannya dan Bara, melewati jalur itu
tak masalah. Cuma rasa cemas kalau bocah-bocah itu mengacau membuatnya tak bisa
tenang.
“Aku akan mulai membeli
perbekalan, kau jaga saja mereka agar tak nekat keluar.” Bara yang curigaan
begitu menambah rasa cemas Soli, seakan gadis-gadis kecil itu sungguhan akan
mencoba menyelinap keluar untuk bermain-main.
***
Di lantai atas, Meena
mengintip Bara dari jendela kamarnya. Dia mendengus saat melihat sang Elf pergi
berbelanja. “Kita tak dipercayai, dasar Elf tua menyebalkan!” Aslinya mereka
bertiga menguping pembicaraan Soli dan Bara dari tadi dengan menggunakan
kemampuan Kanya menangkap gelombang suara dari percakapan di lantai dasar.
“Bukannya itu karena
kalian memang sering menyelinap pergi main saat menjalankan misi?” Kanya tahu
saja kebiasaan Meena. Padahal dia baru saja bergabung dengan kelompok mereka.
“Mana ada, fitnah!”
“Heh, Kyra yang bercerita
padaku.”
Arah pandangan mata Meena
tertuju pada Kyra seketika, tetapi gadis api tak sadar. Dari tadi dia sibuk
sendiri membaca buku yang ditinggalkan oleh Letnan Alexi.
“Kyra, jangan bengong
terus.” Meena mendekati Kyra, mencubit pipi temannya itu. Refleks Kyra
menengadah, menatap Meena dengan bingung.
“Aku lagi belajar,” balas
__ADS_1
Meena.
Kali ini Kanya juga
mendekati Kyra. Buku yang dia tunjukkan menarik perhatian Kanya. Sebuah buku
tentang sihir api tingkat tinggi yang tak pernah dia lihat sebelumnya.
“Kau dapat dari mana itu?
Itu bukan buku yang ditulis oleh manusia.” Tulisan itu terlihat seperti alfabet
kuno. Bahasa yang sudah hampir punah.
“Dikasih Letnan Alexi. Dia
bilang banyak sihir di buku ini yang akan menolongku nanti.” Karena itu adalah
buku yang ditulis dengan tinta sihir dengan kondisi tertentu, Kyra bisa
membacanya sekalipun ia tak tahu bahasa apa yang digunakan. Sesuatu dalam
darahnya mengandung pemahaman yang membuka segel buku itu.
“Itu bahasa bangsa burung
api, tulisan kuno hanya saat ini hanya digunakan oleh Phoenix. Kau tak
penasaran kenapa Letnan itu memilikinya?” Bagi Kanya yang telah hidup lebih
dari 2.000 tahun, mengenali tulisan-tulisan kuno bukanlah masalah. Meskipun ia
tak bisa memahaminya, tapi ia bisa membedakan dari satu jenis ke jenis lainnya.
“Mungkin didapat dari
Phoenix sendiri. Letnan Alexi adalah Naga, jadi tak heran kalau dia punya teman
Phoenix.” Penjelasannya Kyra terdengar bodoh oleh Kanya. Memang Sarang Naga dan
gunung api berdekatan satu sama lainnya, tapi itu bukan berarti kedua ras
tersebut berhubungan sangat baik sampai bertukar buku berharga seperti itu.
“Aku pribadi lebih kaget
Kyra bisa membacanya. Meskipun sebenarnya aku juga punya satu yang serupa, buku
tentang sihir angin Naga pemberian si genit itu.” Meena tersadar, dia bisa
membaca buku itu karena di dalam tubuhnya terdapat sihir Naga, Nakula bilang
itulah kunci untuk menerjemahkan isinya. Apa yang dia pusingkan, pastilah buku
Kyra sama cara kerjanya.
“Aku juga punya satu. Buku
tentang sihir air, tapi seperti Meena. Kudapatkan dari pasanganku. Kenapa
punyamu didapat dari orang lain? Memangnya kau tak pernah bertemu dengan
pasanganmu sendiri?” Kyra tertegun mendengar pertanyaan Kanya. Kaitan Alexi
diberikannya, sesuatu yang harusnya diberikan oleh pasangannya.
“Lagian kalau kita bicara
soal Naga, seingatku di kerajaan ini hanya ada Naga Angin dan bau Letnan Alexi
tak seperti bau Naga.” Setelah memulai pembicaraan ini, Meena baru menyadari
akan hal ini. Selama ini dia sibuk akan banyak hal dan tidak pernah tertarik
untuk mengetahui sejuta rahasia sang Letnan.
“Bau? Apa kau sejenis
anjing?”
“Berisik! Naga termasuk makhluk
dengan penciuman tajam. Aku bukannya senang mengendus-endus seperti binatang!”
Sementara Meena dan Kanya
berdebat, Kyra memikirkan kembali kata-kata mereka. Sejak awal, yang mengatakan
bila Alexi seekor Naga adalah Ksatria kerajaan. Orangnya sendiri tak mengatakan
apa pun, jadi mungkin dia yang salah paham sendiri.
“Oh ya, siapa nama Phoenix
yang jadi pasanganmu, Kyra?” Belum juga Kyra menemukan jawaban atas rasa
bimbangnya, Kanya kembali mempertanyakan hal yang membuatnya terdiam.
“Aku ... tak tahu,” jawab
Kyra pelan.
“Hei, cebol. Temanmu ini
kenapa? Nama pasangannya sendiri tak tahu.” Kanya langsung menarik Meena ke
sudut ruangan, bisik-bisik merasa tak enak mempertanyakan sesuatu yang membuat
Kyra mendadak murung.
“Itu yang mau kami cari
tahu. Makanya kita harus mencari Peri Mimpi dulu.” Jadilah Meena menjelaskan
situasi mereka pada Kanya. Saat bersama dengan rombongan Raja, mereka tak bisa
berbicara sebebas ini. Makanya baru sekarang Kanya mempertanyakan banyak hal.
“Begitu ... ini mungkin
akan jadi perjalanan sangat panjang.”
“Kita hanya perlu ke
__ADS_1
Perkemahan Centaur, kan?”
Kanya menggeleng. “Yang
Centaur miliki hanyalah kunci untuk meninggalkan Kerajaan Draco. Dan Peri Mimpi
sendiri berada di luar sana.” Bila Kanya tak salah ingat, makhluk-makhluk kecil
yang Kyra cari tinggal di sebuah kuil kuno di Kerajaan Albus, tempat yang telah
runtuh lebih dari 100 tahun silam.
“Jelaskan padaku, Kanya!”
Tiba-tiba saja Kyra memotong pembicaraan Meena dan Kanya. Suara bisikan mereka
yang terlalu keras sampai ke telinganya.
Bagi Kyra, pengetahuan
Kanya adalah sebuah harapan. Mereka yang sejak awal mencari sesuatu hanya dari
isu beredar saja, jadi merasa yakin bila Peri Mimpi itu sungguh ada saat
seorang ras kuno seperti Kanya mengonfirmasinya.
“Akan kukatakan padamu kalau
kita bisa mendapatkan token dari bangsa Centaur. Tak ada gunanya tahu kalau
kita tak bisa keluar dari wilayah Kerajaan Draco. Sihir Pelindung Naga ini
bersifat solid. Selain tak ada yang bisa masuk ke dalam, orang yang tinggal di
dalamnya juga tak bisa keluar dari wilayah kerjaan tanpa token yang dijaga oleh
bangsa Centaur.”
Kyra yang tak pernah
keluar dari kerajaan dan bahkan tak tahu nama kerjaannya tempatnya tinggal itu,
tak bisa membayangkan sama sekali dunia di luar sana. Dia bahkan tak tahu bila
tak ada lagi kerajaan lain yang masih berdiri. “Jadi begitu, intinya kita tetap
harus ke Perkemahan Centaur.” Namun, bila memang hanya ada satu cara, Kyra akan
berjuang mendapatkannya apa pun yang terjadi.
“Hm, ada cara lain. Pergi
ke istana. Jalan keluar dari Kerajaan Draco ada dua. Satu di istana dan satu
lagi di gerbang perbatasan paling akhir di Perkemahan Centaur. Berhubung kita
punya Meena di sini, bagaimana kalau kita putar arah saja ke istana.”
“Jangan harap aku sudi kau
jual ke Naga genit itu.” Meena bilang begitu, tapi sebenarnya alasan kenapa ia
menolak karena ia tahu pasti. Nakula tak akan pernah mengizinkan mereka meninggalkan
wilayah kerjaannya.
Di luar sana jauh lebih
berbahaya daripada serangan dari orang-orang yang berniat memburu mereka.
Selain itu, Nakula tak akan bisa datang menolong karena dia harus terus berada
dalam wilayahnya untuk menjaga lapisan pelindung.
Akan lebih baik bila
mereka pergi diam-diam mengikuti rencana awal. Meskipun Kyra akan terkejut
setelah melihat keadaan di luar sana, tapi Meena yakin kalau gadis api bukan
orang yang bersedia mundur hanya karena tujuannya merupakan tempat berbahaya.
“Kau dengar sendiri kata
Meena, Kyra.”
“Tak apa-apa, kita akan
mendapatkan tokennya.”
“Bagus! Sudah diputuskan!
Kita rahasiakan dari Bara dan Soli!”
“Ya!”
“Heh?” Kanya bertanya-tanya.
Ia sulit mengikuti semangat Meena dan Kyra yang cepat sekali berubah. Mereka
bahkan berniat menyimpan rahasia dari pemimpin regu.
“Tak apa-apa, Kanya. Bara
itu menyebalkan, nanti dia menyeret kita pulang kalau tahu tujuan asli kita.”
“Betul. Diam-diam sampai tokennya
didapatkan.”
Soal begini saja barulah
Meena dan Kyra kompak sekali. Tak ada rasa ragu dalam rencana mereka.
“Pantas saja kalian
dibilang gadis kecil. Dasar kekanakan.” Sekarang Kanya tahu kenapa Bara
curigaan pada kedua gadis itu, tapi dia bisa apa untuk menghentikan mereka? Lagian
melihat dunia luar mungkin akan menyenangkan. Setidaknya di sana tak ada yang
tahu siapa mereka.
__ADS_1