Phoenix Bride

Phoenix Bride
Episode 13


__ADS_3

Martin terjatuh, terbaring


di atas salju dikelilingi oleh Kera Salju tak terhitung jumlahnya. Inilah


alasannya kenapa dia tak mau mengambil pekerjaan ini sendiri. Martin tahu batas


kemampuannya. Dan keadaan membuatnya terpaksa harus berjuang sendirian.


Dia hampir putus asa.


Kedua senjatanya direbut dan tenaganya telah habis meladeni permainan mereka


dari tadi. Martin kira inilah akhir hidupnya. Dia tak pernah menyangka, bila


seekor Kera betina dengan tubuh berukuran besar akan memunculkan diri di


hadapannya.


“Apa maumu, manusia.


Datang ke wilayah kami dan membunuh saudara-saudara kami.” Kera itu berbicara


padanya, berdiri di tengah-tengah kawanan seakan dia adalah pemimpin mereka.


Martin memaksakan dirinya


untuk bangun. Dia duduk dengan tegap, menatap lurus pada lawan bicaranya.


Pemikiran positif Martin membuatnya mendapatkan sebuah ide. Bahwa masih ada


cara untuk menyelesaikan misi ini tanpa harus membunuh Kera-Kera itu.


“Keluarga dari gadis-gadis


manusia yang kalian culik menyewaku. Mereka ingin membalas dendam atas kematian


gadis-gadis itu.” Martin tidak berbohong, dia ingin membuat para Kera mengerti,


bila perbuatan mereka yang mendatangkan masalah ini.


“Kami tidak menyakiti


mereka, mereka mati karena alam. Apa yang harus dibalas.” Namun tampaknya ini


tak mudah, membuat mereka paham membutuhkan lebih dari sekadar ucapan semata.


“Jika kalian tahu mereka


tak bisa hidup di tempat seperti ini, maka jangan membawa mereka kemari. Kalian


punya gadis-gadis di sini. Kenapa masih membutuhkan manusia untuk melahirkan


keturunan kalian.” Lain cerita bila memang Kera Salju hanya ada penjantan


seperti kabar yang beredar. Nyatanya tidak demikian. Ada Kera betina di sini.


“Jumlah kami hanya sedikit


dan gadis manusia melahirkan lebih cepat.”


“Itu bukan alasan untuk


menculik mereka. Kalian membunuh mereka perlahan-lahan, akuilah.”


“Kau sungguh tidak tahu


diri! Harusnya kami tidak mengampunimu. Bunuh dia!”


Hasil negosiasi Martin


gagal. Dia malah membuat pemimpin mereka marah. Pria itu tetap duduk di


tempatnya, siap menerima keadaan dengan berani.


“Ingatlah satu hal. Kalian


bisa membunuhku, tapi akan selalu ada orang yang datang memburu kalian selama


kalian masih menculik anak manusia.” Kata-katanya begitu tegas hingga mampu


membuat bos Kera menggeretakkan giginya.


“Tunggu apalagi, bunuh


dia!” Kendatipun demikian, perintah menyingkirkan Martin tidak ditarik.


Para Kera bersorak,


menerjang Martin beramai-ramai. “Tak akan kami biarkan!” Di saat itulah, Bara dan


kawan-kawan datang menyelamatkan.


Satu serangan dari Bara


menjatuhkan semua Kera di sekitar Martin. Meena segera ke sana, memberikan bantuan


pada Martin sementara Soli menjaganya dari serangan balasan.


“Elf Salju dan dua orang


manusia. Apa yang bisa kaulakukan pada kami!” Teriakan bos Kera memanggil


ratusan Kera tambahan. Mereka mengepung seluruh wilayah, menutup jalan


pelarian.


Bara tak gentar sama


sekali. Memang lebih baik begini, menyelesaikan mereka semua sekaligus daripada


membuang waktu mencari mereka sedikit demi sedikit.


“Bagaimana kalau kau


menyaksikannya sendiri.” Bara menantang.


“Soli, lindungi Meena


hingga ia selesai memulihkan Martin. Serahkan mereka semua padaku.” Sang ketua


regu maju ke depan. Ia begitu percaya diri, membuat tanggapan Soli padanya


sedikit berubah.


Soli mengangguk, mencoba


percaya kepada Bara. Dia membangun sebuah benteng yang terbuat dari batu dan tanah, mengurung Meena dan Martin


di dalamnya. Dia sendiri berada di atas benteng itu, menyerang siapa saja yang


berani mendekat.


Di samping Soli, salju-salju


naik ke atas mengeliling Bara. Kemudian, bentuk salju itu berubah menjadi ratusan


anak panah yang terus bertambah tiap detiknya. Bara mengeluarkan sebuah busur


yang terbuat dari emas, berhias batu mana murni yang menyimpan kekuatan besar.


Panah-panah diambil dengan


cepat, ditembakkan lima buah sekaligus, menancap dengan kokoh pada sasaran


tanpa ada satu pun yang meleset. Bos Kera menjadi marah. Ia memukul tanah,


diikuti oleh anak buahnya.


“Timbun mereka!” Mendengar


teriakan itu, Bara segera bisa membaca situasi. Kera-Kera Salju berniat membuat


longsor, menimbun mereka dengan berton-ton salju yang jatuh dari puncak.


“Soli, kita juga masuk ke


dalam bentengmu. Tambah tiga lapisan lagi!” Bara dan Soli segera masuk. Sihir


perkuat benteng pun segera dibuat. Namun, benturan keras dan getaran dari


longsoran itu tetap saja menggoyahkan pijakan mereka.


“Apa yang terjadi?” Meena


terkaget, tiba-tiba saja tanah berguncang seakan ada gempa bumi.


“Tidak ada apa-apa


lanjutkan pekerjaanmu. Inilah kenapa kita membawa pengguna sihir tanah bersama

__ADS_1


dengan kita.” Membuat longsor adalah kebiasaan Kera Salju saat sudah terdesak.


Mary tahu akan hal itu, makanya ia menyarankan agar mereka menambah seorang


anggota bertipe tanah. Karena hanya sihir pelindung tanah yang bisa menahan


tabrakan longsoran salju sekuat ini.


“Aku sudah selesai memulihkan


tenaga Martin.” Bara tersenyum. Tak masalah bila Soli jatuh setelah ini. Dia dan


Martin akan bisa menghabisi Kera-Kera itu.


“Bagus. Kau siap untuk


membalas Martin?”


“Ya, ayo balas mereka.”


Begitu getaran tanah


berhenti, benteng Soli pun hancur. Pria itu jatuh terduduk, seluruh tenaganya


habis demi mempertahankan benteng itu. Meena menemaninya di belakang,


menyaksikan Bara dan Martin berlari ke arah para Kera yang berada di atas


mereka.


“Kalian berhasil selamat


rupanya. Coba lihat apa yang bisa kalian lakukan sekarang!” Kera-kera juga


berlari ke arah mereka, menyerang beramai-ramai.


Martin menangkap seekor


Kera, menggunakannya sebagai pengganti palu yang hilang. Dia begitu


bersemangat, memukul ke mana pun ia melangkah. Sedangkan Bara mengumpulkan


kembali anak panah, menembak mereka sebelum ada satu pun yang mendekatinya.


Keadaan berbalik dengan


cepat, dalam sekejap, mereka telah menjatuhkan musuh-musuhnya. Pemimpin kawanan


terdiam terpaku, tak bisa berbuat apa-apa menerima kehilangan sebesar itu.


“Sudah cukup, kan. Apa


semua ini masih membuatmu tidak mengerti? Naiklah ke puncak gunung dan jangan pernah


menangkap manusia lagi. Maka akan kami biarkan sisa dari kalian pergi


hidup-hidup.” Martin berjalan mendekati pemimpin kawanan, memintanya untuk


mundur baik-baik. Mereka sudah membunuh lebih dari seluruh kawanan. Mengampuni beberapa


saja pasti tak akan membuat  penduduk


desa yang menyewa mereka sakit hati.


“Kami hanya ingin mempertahankan


ras kami.”


“Lakukan itu tanpa


membunuh manusia.”


Sang Kera dan Martin


saling bertatapan selama beberapa detik. Kemudian, Kera-Kera betina itu membawa


sisa kawan mereka yang masih hidup ke puncak gunung. Mereka telah mengerti,


bila perbuatan mereka yang mendatangkan bencana ini.


Bara menghela napas


melihat perbuatan Martin. Dia pikir berbelas kasih tak ada gunanya, tapi kalau


sudah dilakukan ya sudah. Mungkin memang Kera-Kera itu bisa berubah.


“Kalau begitu kita juga


berbalik, mengangkut Soli berjalan ke arah kaki gunung es berlawanan arah dari


gunung batu. Saat itulah, Martin baru sadar kalau Kyra tak ada di antara


mereka.


“Ke mana Kyra? Bagaimana


dia bisa hilang sendirian di sini?”


“Puncak gunung api. Dia


pasti ada di sana.”


“Aku tidak pernah ke sana.”


Tak ada yang pernah meminta misi berkaitan dengan tempat itu. Martin harap Kyra


baik-baik saja di sana. Meskipun sejujurnya dia tak mengerti, kenapa gadis


kecil itu bisa sampai di tempat sejauh itu dalam waktu singkat.


“Tak masalah. Selain


Meena, kurasa tak ada orang nekat yang berani ke sana tanpa alasan jelas.”


“Aku punya alasan jelas.


Puncak gunung api sangat dekat dengan sarang Naga. Angin yang bertiup di sana memiliki


kekuatan sihir. Tempat yang sempurna untuk latihan seorang bertipe angin


seperti ku.”


“Iya, iya tahu kok.” Bara


paham, tapi tetap saja tak banyak orang yang nekat ke sana biarpun


menguntungkan bagi latihannya. Meena dan gurunya saja yang begitu berani,


mungkin karena itulah kenapa Raja Nakula menyukainya.


***


Kyra tak bisa menggerakkan


tubuhnya. Dia bisa melihat sekeliling. Di mana lava mengenang di mana-mana.


Panasnya tempat itu menaikkan energi sihir di tubuhnya dengan sangat cepat.


Dia tak mengerti kenapa ia


bisa terbangun di sini. Kyra yakin, dia nyaris tewas di gunung es. Lalu


bagaimana caranya dia berpindah sendiri tanpa melakukan apa-apa?


“Diamlah di sana sebentar.


Tubuhmu belum terbentuk sepenuhnya.” Suara familier terdengar menggema di


sekeliling, tapi tak peduli mencari ke mana pun, Kyra tetap tak bisa menemukan


siapa pun di sekitarnya.


Apa yang ia lihat adalah


perubahan aneh pada tubuhnya. Api yang mengelilinginya berbentuk untaian


benang, tengah menjahit sendiri menciptakan darah dan daging baru untuknya.


“Aku telah mati?”


“Ya, dan inilah proses


kebangkitan kembalimu. Tak perlu takut. Selama masa hidupmu masih ada, tak akan


ada yang bisa membunuhmu.”


“Kau siapa? Keluarlah!”


Kyra sudah bisa bangun,

__ADS_1


dia berdiri di antara lava yang mengalir. Sebuah batu besar di tengah-tengah


kawah gunung api menjadi tempatnya berpijak. Gadis itu begitu kebingungan,


mencari asal suara itu dengan begitu frustrasi.


“Aku ada di sini. Selalu


bersama denganmu.”


“Apa maksudmu?”


Tak ada siapa pun di


sisinya. Hanya ada api yang menari-nari mengelilingi, selalu menjadi bagian


tubuhnya. Terlihat begitu tak nyata hingga sulit diterima oleh akal sehat. Namun,


tak bisa disangkal oleh penglihatan yang membuktikan keberadaannya.


“Kau akan mengerti bila


kau membuka pikiranmu. Jangan tolak aku, ingatlah janjimu sepuluh tahun yang


lalu.” Kyra tidak tahu apa yang dimaksudkan asal suara itu, tapi sepuluh tahun


yang lalu merupakan waktu spesial di mana dia kehilangan separuh ingatan dan


mendadak sembuh dari penyakitnya.


Makhluk apa pun yang


tengah berbicara dengannya saat ini pastilah tahu. Apa yang terjadi saat itu


hingga membawanya pada dirinya saat ini. Kyra ingin tahu. Dia tak berharap pada


ingatannya yang hilang. Maka dari itu, dia ingin mencari kebenaran pada


penghuni gunung ini.


“Tunjukkan sosokmu padaku!”


Kyra menaikkan suaranya, memaksa dengan lancang memanggil orang yang telah


menolongnya.


Tempat itu menjadi sunyi


selama beberapa saat. Kemudian, genangan lava di bawah kakinya naik ke atas,


membelah menjadi dua dan memunculkan sosok yang begitu gagah.


Seekor burung api raksasa


dengan kekuatan yang begitu besar. Kyra merasa begitu kecil tak berdaya hanya


karena ditatap olehnya. Dia bungkam seketika, menelan ludah mengagumi sosok


yang begitu elok itu.


“Indahnya ... boleh aku


menyentuhmu?”


Burung itu mengangguk. Kyra


pun mendekat, berjalan melewati lava yang sama sekali tidak membakarnya. Dia


menyentuh dada burung api, merasakan panas api yang begitu selaras dengan


apinya.


Binaran mata yang cerah


dan senyuman tulus Kyra tak pernah berubah, mengingatkan sang Phoenix akan


malam pertemuan mereka. Burung api itu menundukkan kepalanya, membelai wajah


Kyra dengan paruhnya.


“Kau telah tumbuh menjadi


gadis yang cantik. Aku tidak sabar menunggumu bertambah kuat. Pergilah, Kyra.


Belum saatnya kau kembali ke sini.” Kyra bisa merasakan kepedulian besar burung


itu padanya, tetapi dia tetap tak bisa mengingat apa pun.


“Kau tidak akan


memberitahukan padaku tentang pertemuan kita sebelumnya?” Tak bisakah ia


mendapatkan jawaban setelah meminta sejauh ini?


Phoenix itu menggeleng.


Dia tak akan berkata apa pun. Karena lebih dari apa pun, ia ingin Kyra


mengingatnya sendiri. Tak ada gunanya berbicara pada orang yang telah


melupakannya.


“LETNAN ALEXI! DI MANA


KAU!”


“JAWABLAH KAMI!”


Suara teriakan manusia


terdengar dari luar kawah, memanggil nama yang tak asing. Perhatian Kyra segera


teralihkan. Pada saat itulah, burung raksasa itu masuk kembali ke dalam


genangan lava.


“Tunggu dulu! Kau belum


mengatakan namamu padaku!” Kyra terus memanggilnya, tapi tak ada lagi jawaban


hingga sekelompok orang yang berteriak sampai pada puncak gunung.


Dua orang berpakaian


seperti Ksatria kerajaan itu terbelalak kaget melihat Kyra di sana. Salah


satunya berteriak, “Ada seorang di tengah kawah! Dia masih hidup, panggil


bantuan!” Sepertinya mereka mengira Kyra terjebak di sini.


Kyra menyerah memanggil


sang penghuni gunung. Ia menggunakan lava gunung itu untuk mendorongnya naik ke


atas. Setelah sampai, Kyra memadamkan api yang membungkus tubuhnya.


“Tidak apa-apa. Aku


penyihir api. Semua ini tidak menyakitiku.” Kyra tersenyum, mencoba meyakinkan


mereka bila semuanya baik-baik saja.


Rombongan lain di bawah


mereka berhenti berlari. Salah satunya mengenali wajah Kyra. Kebetulan dia ikut


dalam misi penjemputan selir sebelumnya.


“Aku mengenalnya, dia


salah satu Petualang dari kota Filia!” ujar pria itu.


“Eh, kamu bukannya anak


buah Letnan Alexi? Jadi kalian memang mencarinya?”


“Iya, Letnan terpisah


dengan kami saat ada penyerangan.”


Setelahnya, Kyra dibiarkan


bergabung dengan rombongan mereka. Ternyata mereka adalah pasukan yang dipimpin


oleh Alexi untuk menghentikan sekelompok Undead yang diketahui tengah mencari


Bunga Kehidupan di gunung ini. Bunga yang terkenal memiliki efek penambah umur


bila dijadikan obat, sekaligus merupakan salah satu bahan pembuatan Ramuan

__ADS_1


Kebangkitan.


__ADS_2