
Martin terjatuh, terbaring
di atas salju dikelilingi oleh Kera Salju tak terhitung jumlahnya. Inilah
alasannya kenapa dia tak mau mengambil pekerjaan ini sendiri. Martin tahu batas
kemampuannya. Dan keadaan membuatnya terpaksa harus berjuang sendirian.
Dia hampir putus asa.
Kedua senjatanya direbut dan tenaganya telah habis meladeni permainan mereka
dari tadi. Martin kira inilah akhir hidupnya. Dia tak pernah menyangka, bila
seekor Kera betina dengan tubuh berukuran besar akan memunculkan diri di
hadapannya.
“Apa maumu, manusia.
Datang ke wilayah kami dan membunuh saudara-saudara kami.” Kera itu berbicara
padanya, berdiri di tengah-tengah kawanan seakan dia adalah pemimpin mereka.
Martin memaksakan dirinya
untuk bangun. Dia duduk dengan tegap, menatap lurus pada lawan bicaranya.
Pemikiran positif Martin membuatnya mendapatkan sebuah ide. Bahwa masih ada
cara untuk menyelesaikan misi ini tanpa harus membunuh Kera-Kera itu.
“Keluarga dari gadis-gadis
manusia yang kalian culik menyewaku. Mereka ingin membalas dendam atas kematian
gadis-gadis itu.” Martin tidak berbohong, dia ingin membuat para Kera mengerti,
bila perbuatan mereka yang mendatangkan masalah ini.
“Kami tidak menyakiti
mereka, mereka mati karena alam. Apa yang harus dibalas.” Namun tampaknya ini
tak mudah, membuat mereka paham membutuhkan lebih dari sekadar ucapan semata.
“Jika kalian tahu mereka
tak bisa hidup di tempat seperti ini, maka jangan membawa mereka kemari. Kalian
punya gadis-gadis di sini. Kenapa masih membutuhkan manusia untuk melahirkan
keturunan kalian.” Lain cerita bila memang Kera Salju hanya ada penjantan
seperti kabar yang beredar. Nyatanya tidak demikian. Ada Kera betina di sini.
“Jumlah kami hanya sedikit
dan gadis manusia melahirkan lebih cepat.”
“Itu bukan alasan untuk
menculik mereka. Kalian membunuh mereka perlahan-lahan, akuilah.”
“Kau sungguh tidak tahu
diri! Harusnya kami tidak mengampunimu. Bunuh dia!”
Hasil negosiasi Martin
gagal. Dia malah membuat pemimpin mereka marah. Pria itu tetap duduk di
tempatnya, siap menerima keadaan dengan berani.
“Ingatlah satu hal. Kalian
bisa membunuhku, tapi akan selalu ada orang yang datang memburu kalian selama
kalian masih menculik anak manusia.” Kata-katanya begitu tegas hingga mampu
membuat bos Kera menggeretakkan giginya.
“Tunggu apalagi, bunuh
dia!” Kendatipun demikian, perintah menyingkirkan Martin tidak ditarik.
Para Kera bersorak,
menerjang Martin beramai-ramai. “Tak akan kami biarkan!” Di saat itulah, Bara dan
kawan-kawan datang menyelamatkan.
Satu serangan dari Bara
menjatuhkan semua Kera di sekitar Martin. Meena segera ke sana, memberikan bantuan
pada Martin sementara Soli menjaganya dari serangan balasan.
“Elf Salju dan dua orang
manusia. Apa yang bisa kaulakukan pada kami!” Teriakan bos Kera memanggil
ratusan Kera tambahan. Mereka mengepung seluruh wilayah, menutup jalan
pelarian.
Bara tak gentar sama
sekali. Memang lebih baik begini, menyelesaikan mereka semua sekaligus daripada
membuang waktu mencari mereka sedikit demi sedikit.
“Bagaimana kalau kau
menyaksikannya sendiri.” Bara menantang.
“Soli, lindungi Meena
hingga ia selesai memulihkan Martin. Serahkan mereka semua padaku.” Sang ketua
regu maju ke depan. Ia begitu percaya diri, membuat tanggapan Soli padanya
sedikit berubah.
Soli mengangguk, mencoba
percaya kepada Bara. Dia membangun sebuah benteng yang terbuat dari batu dan tanah, mengurung Meena dan Martin
di dalamnya. Dia sendiri berada di atas benteng itu, menyerang siapa saja yang
berani mendekat.
Di samping Soli, salju-salju
naik ke atas mengeliling Bara. Kemudian, bentuk salju itu berubah menjadi ratusan
anak panah yang terus bertambah tiap detiknya. Bara mengeluarkan sebuah busur
yang terbuat dari emas, berhias batu mana murni yang menyimpan kekuatan besar.
Panah-panah diambil dengan
cepat, ditembakkan lima buah sekaligus, menancap dengan kokoh pada sasaran
tanpa ada satu pun yang meleset. Bos Kera menjadi marah. Ia memukul tanah,
diikuti oleh anak buahnya.
“Timbun mereka!” Mendengar
teriakan itu, Bara segera bisa membaca situasi. Kera-Kera Salju berniat membuat
longsor, menimbun mereka dengan berton-ton salju yang jatuh dari puncak.
“Soli, kita juga masuk ke
dalam bentengmu. Tambah tiga lapisan lagi!” Bara dan Soli segera masuk. Sihir
perkuat benteng pun segera dibuat. Namun, benturan keras dan getaran dari
longsoran itu tetap saja menggoyahkan pijakan mereka.
“Apa yang terjadi?” Meena
terkaget, tiba-tiba saja tanah berguncang seakan ada gempa bumi.
“Tidak ada apa-apa
lanjutkan pekerjaanmu. Inilah kenapa kita membawa pengguna sihir tanah bersama
__ADS_1
dengan kita.” Membuat longsor adalah kebiasaan Kera Salju saat sudah terdesak.
Mary tahu akan hal itu, makanya ia menyarankan agar mereka menambah seorang
anggota bertipe tanah. Karena hanya sihir pelindung tanah yang bisa menahan
tabrakan longsoran salju sekuat ini.
“Aku sudah selesai memulihkan
tenaga Martin.” Bara tersenyum. Tak masalah bila Soli jatuh setelah ini. Dia dan
Martin akan bisa menghabisi Kera-Kera itu.
“Bagus. Kau siap untuk
membalas Martin?”
“Ya, ayo balas mereka.”
Begitu getaran tanah
berhenti, benteng Soli pun hancur. Pria itu jatuh terduduk, seluruh tenaganya
habis demi mempertahankan benteng itu. Meena menemaninya di belakang,
menyaksikan Bara dan Martin berlari ke arah para Kera yang berada di atas
mereka.
“Kalian berhasil selamat
rupanya. Coba lihat apa yang bisa kalian lakukan sekarang!” Kera-kera juga
berlari ke arah mereka, menyerang beramai-ramai.
Martin menangkap seekor
Kera, menggunakannya sebagai pengganti palu yang hilang. Dia begitu
bersemangat, memukul ke mana pun ia melangkah. Sedangkan Bara mengumpulkan
kembali anak panah, menembak mereka sebelum ada satu pun yang mendekatinya.
Keadaan berbalik dengan
cepat, dalam sekejap, mereka telah menjatuhkan musuh-musuhnya. Pemimpin kawanan
terdiam terpaku, tak bisa berbuat apa-apa menerima kehilangan sebesar itu.
“Sudah cukup, kan. Apa
semua ini masih membuatmu tidak mengerti? Naiklah ke puncak gunung dan jangan pernah
menangkap manusia lagi. Maka akan kami biarkan sisa dari kalian pergi
hidup-hidup.” Martin berjalan mendekati pemimpin kawanan, memintanya untuk
mundur baik-baik. Mereka sudah membunuh lebih dari seluruh kawanan. Mengampuni beberapa
saja pasti tak akan membuat penduduk
desa yang menyewa mereka sakit hati.
“Kami hanya ingin mempertahankan
ras kami.”
“Lakukan itu tanpa
membunuh manusia.”
Sang Kera dan Martin
saling bertatapan selama beberapa detik. Kemudian, Kera-Kera betina itu membawa
sisa kawan mereka yang masih hidup ke puncak gunung. Mereka telah mengerti,
bila perbuatan mereka yang mendatangkan bencana ini.
Bara menghela napas
melihat perbuatan Martin. Dia pikir berbelas kasih tak ada gunanya, tapi kalau
sudah dilakukan ya sudah. Mungkin memang Kera-Kera itu bisa berubah.
“Kalau begitu kita juga
berbalik, mengangkut Soli berjalan ke arah kaki gunung es berlawanan arah dari
gunung batu. Saat itulah, Martin baru sadar kalau Kyra tak ada di antara
mereka.
“Ke mana Kyra? Bagaimana
dia bisa hilang sendirian di sini?”
“Puncak gunung api. Dia
pasti ada di sana.”
“Aku tidak pernah ke sana.”
Tak ada yang pernah meminta misi berkaitan dengan tempat itu. Martin harap Kyra
baik-baik saja di sana. Meskipun sejujurnya dia tak mengerti, kenapa gadis
kecil itu bisa sampai di tempat sejauh itu dalam waktu singkat.
“Tak masalah. Selain
Meena, kurasa tak ada orang nekat yang berani ke sana tanpa alasan jelas.”
“Aku punya alasan jelas.
Puncak gunung api sangat dekat dengan sarang Naga. Angin yang bertiup di sana memiliki
kekuatan sihir. Tempat yang sempurna untuk latihan seorang bertipe angin
seperti ku.”
“Iya, iya tahu kok.” Bara
paham, tapi tetap saja tak banyak orang yang nekat ke sana biarpun
menguntungkan bagi latihannya. Meena dan gurunya saja yang begitu berani,
mungkin karena itulah kenapa Raja Nakula menyukainya.
***
Kyra tak bisa menggerakkan
tubuhnya. Dia bisa melihat sekeliling. Di mana lava mengenang di mana-mana.
Panasnya tempat itu menaikkan energi sihir di tubuhnya dengan sangat cepat.
Dia tak mengerti kenapa ia
bisa terbangun di sini. Kyra yakin, dia nyaris tewas di gunung es. Lalu
bagaimana caranya dia berpindah sendiri tanpa melakukan apa-apa?
“Diamlah di sana sebentar.
Tubuhmu belum terbentuk sepenuhnya.” Suara familier terdengar menggema di
sekeliling, tapi tak peduli mencari ke mana pun, Kyra tetap tak bisa menemukan
siapa pun di sekitarnya.
Apa yang ia lihat adalah
perubahan aneh pada tubuhnya. Api yang mengelilinginya berbentuk untaian
benang, tengah menjahit sendiri menciptakan darah dan daging baru untuknya.
“Aku telah mati?”
“Ya, dan inilah proses
kebangkitan kembalimu. Tak perlu takut. Selama masa hidupmu masih ada, tak akan
ada yang bisa membunuhmu.”
“Kau siapa? Keluarlah!”
Kyra sudah bisa bangun,
__ADS_1
dia berdiri di antara lava yang mengalir. Sebuah batu besar di tengah-tengah
kawah gunung api menjadi tempatnya berpijak. Gadis itu begitu kebingungan,
mencari asal suara itu dengan begitu frustrasi.
“Aku ada di sini. Selalu
bersama denganmu.”
“Apa maksudmu?”
Tak ada siapa pun di
sisinya. Hanya ada api yang menari-nari mengelilingi, selalu menjadi bagian
tubuhnya. Terlihat begitu tak nyata hingga sulit diterima oleh akal sehat. Namun,
tak bisa disangkal oleh penglihatan yang membuktikan keberadaannya.
“Kau akan mengerti bila
kau membuka pikiranmu. Jangan tolak aku, ingatlah janjimu sepuluh tahun yang
lalu.” Kyra tidak tahu apa yang dimaksudkan asal suara itu, tapi sepuluh tahun
yang lalu merupakan waktu spesial di mana dia kehilangan separuh ingatan dan
mendadak sembuh dari penyakitnya.
Makhluk apa pun yang
tengah berbicara dengannya saat ini pastilah tahu. Apa yang terjadi saat itu
hingga membawanya pada dirinya saat ini. Kyra ingin tahu. Dia tak berharap pada
ingatannya yang hilang. Maka dari itu, dia ingin mencari kebenaran pada
penghuni gunung ini.
“Tunjukkan sosokmu padaku!”
Kyra menaikkan suaranya, memaksa dengan lancang memanggil orang yang telah
menolongnya.
Tempat itu menjadi sunyi
selama beberapa saat. Kemudian, genangan lava di bawah kakinya naik ke atas,
membelah menjadi dua dan memunculkan sosok yang begitu gagah.
Seekor burung api raksasa
dengan kekuatan yang begitu besar. Kyra merasa begitu kecil tak berdaya hanya
karena ditatap olehnya. Dia bungkam seketika, menelan ludah mengagumi sosok
yang begitu elok itu.
“Indahnya ... boleh aku
menyentuhmu?”
Burung itu mengangguk. Kyra
pun mendekat, berjalan melewati lava yang sama sekali tidak membakarnya. Dia
menyentuh dada burung api, merasakan panas api yang begitu selaras dengan
apinya.
Binaran mata yang cerah
dan senyuman tulus Kyra tak pernah berubah, mengingatkan sang Phoenix akan
malam pertemuan mereka. Burung api itu menundukkan kepalanya, membelai wajah
Kyra dengan paruhnya.
“Kau telah tumbuh menjadi
gadis yang cantik. Aku tidak sabar menunggumu bertambah kuat. Pergilah, Kyra.
Belum saatnya kau kembali ke sini.” Kyra bisa merasakan kepedulian besar burung
itu padanya, tetapi dia tetap tak bisa mengingat apa pun.
“Kau tidak akan
memberitahukan padaku tentang pertemuan kita sebelumnya?” Tak bisakah ia
mendapatkan jawaban setelah meminta sejauh ini?
Phoenix itu menggeleng.
Dia tak akan berkata apa pun. Karena lebih dari apa pun, ia ingin Kyra
mengingatnya sendiri. Tak ada gunanya berbicara pada orang yang telah
melupakannya.
“LETNAN ALEXI! DI MANA
KAU!”
“JAWABLAH KAMI!”
Suara teriakan manusia
terdengar dari luar kawah, memanggil nama yang tak asing. Perhatian Kyra segera
teralihkan. Pada saat itulah, burung raksasa itu masuk kembali ke dalam
genangan lava.
“Tunggu dulu! Kau belum
mengatakan namamu padaku!” Kyra terus memanggilnya, tapi tak ada lagi jawaban
hingga sekelompok orang yang berteriak sampai pada puncak gunung.
Dua orang berpakaian
seperti Ksatria kerajaan itu terbelalak kaget melihat Kyra di sana. Salah
satunya berteriak, “Ada seorang di tengah kawah! Dia masih hidup, panggil
bantuan!” Sepertinya mereka mengira Kyra terjebak di sini.
Kyra menyerah memanggil
sang penghuni gunung. Ia menggunakan lava gunung itu untuk mendorongnya naik ke
atas. Setelah sampai, Kyra memadamkan api yang membungkus tubuhnya.
“Tidak apa-apa. Aku
penyihir api. Semua ini tidak menyakitiku.” Kyra tersenyum, mencoba meyakinkan
mereka bila semuanya baik-baik saja.
Rombongan lain di bawah
mereka berhenti berlari. Salah satunya mengenali wajah Kyra. Kebetulan dia ikut
dalam misi penjemputan selir sebelumnya.
“Aku mengenalnya, dia
salah satu Petualang dari kota Filia!” ujar pria itu.
“Eh, kamu bukannya anak
buah Letnan Alexi? Jadi kalian memang mencarinya?”
“Iya, Letnan terpisah
dengan kami saat ada penyerangan.”
Setelahnya, Kyra dibiarkan
bergabung dengan rombongan mereka. Ternyata mereka adalah pasukan yang dipimpin
oleh Alexi untuk menghentikan sekelompok Undead yang diketahui tengah mencari
Bunga Kehidupan di gunung ini. Bunga yang terkenal memiliki efek penambah umur
bila dijadikan obat, sekaligus merupakan salah satu bahan pembuatan Ramuan
__ADS_1
Kebangkitan.