
Saat Kyra kembali dari
gunung api, teman-temannya telah menunggu untuk menginterogasinya. Dia tak bisa
melarikan diri atau mencari alasan. Lagi pula dia tak perlu berbuat seperti
itu. Kyra mengangkat kepalanya tinggi-tinggi, melangkah dengan berani ke
hadapan Bara. Ia telah sepenuhnya siap menerima kemarahan rekan satu regunya.
“Kyra, kautahu kenapa kami
menghadangmu seperti ini?” tanya Bara.
“Aku tahu dan aku tidak
akan meminta maaf untuk itu.” Sikap percaya diri Kyra menghapus rasa marah dan
cemas dari teman-temannya. Gadis kecil naif itu terlihat berbeda dari yang
mereka kenal. Tampaknya tanpa sadar, Kyra telah tumbuh dewasa di sisi mereka.
“Lalu apa yang sebenarnya
kaulakukan dengan menemui Phoenix itu?”
“Aku tak diizinkan
menemuinya? Meena dan Kanya menemui pasangan mereka tanpa perlu bertanya pada
siapa pun.”
Bukan begitu maksud Bara.
Dia tak bermaksud melarang atau mencampuri hubungan pribadi Kyra. Hanya saja
Kyra tak punya ingatan kekasihnya sendiri, interaksi mereka pun agak janggal.
Bara hanya khawatir mempertemukan mereka saat ini akan membawa kesalahpahaman
dan masalah untuk Kyra.
“Selama pertemuan kalian bersifat
positif, aku tak akan berkomentar. Hanya saja kau tak mengenalnya dan baru saja
mendengar cerita dari ayahmu. Jadi kupikir kaupergi untuk mencari masalah
sendiri.”
“Bara benar, kami
mencemaskanmu, Kyra. Bukan ingin melarang atau membatasimu.” Meena ikut campur,
dia tak ingin Kyra dan Bara bertengkar.
Melihat bagaimana Bara dan
Meena bertingkah seperti orang tua yang mencemaskan anaknya, Kyra hanya bisa
menghela napas. Mereka begini karena selama ini dia tak kompeten dan selalu
menerima perlindungan dari mereka. Namun setelah ini tidak lagi, Kyra akan
berjuang dengan kekuatannya sendiri tanpa harus bergantung pada mereka.
“Tenang saja, aku hanya
menemuinya untuk berbicara. Dan setelah bertemu dengannya secara langsung, aku
merasa bahwa kami memang ditakdirkan bersama.” Kyra tersenyum. Hatinya tidak
lagi bimbang, maka pikirannya pun menjadi jernih.
Kemudian Kyra menjelaskan
apa yang dia temukan setelah bertemu dengan sang Phoenix. Teman-temannya
dekatnya pun bisa mengerti. Kyra menjadi pengantin sang Phoenix bukan tanpa
alasan. Gadis ini mampu mencuri hati binatang mistik yang terkenal paling sulit
didekati. Tak mungkin hanya kebetulan semata. Mereka yang terlalu meremehkan
Kyra dan sekarang pandangan mereka telah berubah.
“Jadi karena itulah, aku
tetap ingin keluar dari kerajaan ini dan mencari bagian tubuhnya yang ketiga.
Aku ingin membangkitnya kembali dan juga ingin mendapatkan informasi dari hasil
pengintainya. Semua ini demi diriku sendiri dan kerajaanku.”
__ADS_1
Kyra percaya bila
kedamaian tak akan bertahan selamanya. Itulah kenapa Nakula dan Alexi
mempersiapkan semua hal sejak ratusan tahun lalu. Mereka pasti telah
memprediksi bila cepat atau lambat, musuh abadi mereka akan berhasil
mengumpulkan kekuatan dan menyerang kerjaan mereka.
Bila seluruh bagian tubuh
sang Phoenix menyatu kembali dan mereka bertiga mampu membangkitkan
kekuatannya, maka dunia ini akan bisa diselamatkan. Dan jika gagal, kedua
kekuatan besar yang melindungi kerjaan ini akan melemah.
“Karena kau sudah
memutuskan, aku akan mengikutimu ke mana pun kaumau pergi. Hugo juga tengah
bergerak diam-diam melemahkan mereka, membantu kalian sama saja membantunya.”
Begitu Kanya berbicara, semua pandangan langsung berpindah padanya. Mereka kira
Kanya mengikuti mereka hanya demi keamanan dan mempermudah kebangkitan
kekuatannya sendiri, tak disangka ada niat lain dibaliknya.
“Jadi kau mau bilang bila
Kura-kura Hitam juga berpihak pada Naga dan Phoenix?” Bara tak salah dengar? Apa
dunia memang telah mencapai batasnya hingga terjadi perubahan sebesar ini?
Sejak dahulu kala, empat
penguasa itu terkenal tak saling berkomunikasi satu sama lainnya. Mereka tidak
bermusuhan, tapi juga tidak bersekutu. Selain Naga dan Phoenix yang menetap di
wilayah Kerajaan Draco, dua lainnya memiliki wilayahnya sendiri.
Kura-kura Hitam merupakan
pelindung dari Aurora Sea dan setelah seluruh kerajaan di wilayah tersebut
dendam. Siapa yang sangka bila saat ini dia berubah pikiran?
“Mustahil. Yang Mulia
tidak berhubungan dengan mereka. Bekerja sama dengan Phoenix saja sudah
mengagetkan. Tidakkah kalian merasa aneh mendengar bila Yang Mulia juga bekerja
sama dengan Kura-kura Hitam?” Soli tak pernah mendengar atau melihat Nakula
terlibat dengan gunung api. Dia bahkan masih belum percaya bila Letnan Alexi
adalah Phoenix.
“Apanya yang mustahil?
Saat ini satu-satunya tempat yang aman adalah Wilayah Nakula. Bila dia ingin
mengundang kekuatan lain bergabung dengannya untuk memenangkan pertempuran, bukannya
itu lebih masuk akal?” Meena percaya sepenuhnya pada Kyra. Dia bahkan bisa
menebak apa yang kira-kira Nakula rencanakan dengan semua ini.
“Tumben kau membela
pacarmu,” ejek Bara.
“Berisik! Aku bukan
pacarnya!” Meena memukul kepala Bara, masih juga menyangkal bila dirinya punya
sedikit rasa kagum pada Nakula.
“Seperti kata Meena,
setiap penguasa punya cara berpikirnya sendiri. Daripada menunggu kehancuran,
lebih baik mengumpulkan semua kekuatan untuk bertarung sampai akhir. Albus
Tiger telah musnah, keturunan terakhir Harimau Putih telah mati. Bila terus
dibiarkan, tak akan ada lagi binatang mistik yang bisa bertahan.” Kanya tahu
lebih banyak dari mereka kira. Kabar tentang kematian Harimau Putih tak pernah
__ADS_1
terdengar sampai ke sini. Juga tak ada bukti yang bisa membenarkan perkataan
Kanya, tapi bila Roh Air itu mengetahui dari Hugo, berarti kabar itu bisa
dipastikan kebenarannya.
Meskipun binatang mistik
tidak saling berhubungan satu sama lainnya, mereka saling mengawasi selama
waktu tak terhitung lamanya. Pasti inilah alasan kenapa Phoenix dan Kura-kura
Hitam bersedia membantu Nakula. Karena mereka tahu, lawannya cukup kuat untuk
membunuh mereka bila mereka tetap bersikukuh melawan seorang diri.
“Kalau begitu tunggu
apalagi? Jangan terlalu lama membuang waktu di sini. Kita pergi ke Aurora Sea
untuk mencari informasi dari orang-orang yang masih hidup. Tak mungkin semua
bangsa yang hidup di sana telah dibantai.” Bara telah mengambil keputusan. Dia
akan mendukung Kyra sepenuhnya bukan sebagai ketua regu lagi. Melainkan sebagai
seorang teman yang akan berjuang bersama.
“Kami setuju, tapi apa kau
yakin ingin membawa Rhea?”
Meena melirik pada Rhea.
Mereka berniat pergi ke tempat berbahaya. Membawa satu musuh dalam selimut
hanya akan mencelakai mereka nantinya.
Kanya dan Kyra saling
tatap, agaknya paham maksud Meena. Mereka setuju membawa Rhea awalnya hanya
agar bisa sampai ke kota Nebula dengan aman. Meskipun mereka melepaskan Rhea di
sini, siluman rubah itu tak akan berani macam-macam setelah tahu Phoenix
melindungi penduduk kota.
“Kita akan membawanya.
Melepaskannya hanya akan menyebar informasi pergerakkan kita. Lagi pula dia
bisa bertarung dengan baik.” Jika mereka tak tega membunuh Rhea untuk menutup
mulut, maka jangan berharap melepaskannya. Memelihara musuh memang tak baik,
tapi mereka aman selama kontrak budak dan tuan buatan Soli masih mengikat Rhea.
“Huh, berharaplah kontrak
sialan ini bisa menahanku. Karena bila ada kesempatan untuk membebaskan diri,
akan kubalas perbuatan kalian padaku.” Rhea terang-terangan mengancam. Dia tak
takut pada mereka. Malahan dia menyimpan dendam. Inilah yang menjadi kecemasan
gadis-gadis itu.
“Kau dengar itu, Soli?” Bara
jadi agak ragu ingin membawa Rhea. Dia memindahkan pandangan pada Soli, meminta
jaminan atas keberadaan Rhea.
“Abaikan saja ocehannya.
Kontrak buatanku tak akan bisa diputuskan secara paksa. Satu-satunya cara
membebaskannya hanya bila kau bersedia, Bara.”
“Karena Soli begitu yakin,
aku rasa kita tak perlu cemas. Kita tetap akan membawanya.”
“Ya sudahlah.”
Karena Bara bersikeras,
tak ada melarang. Mereka pun mulai berkemas untuk melakukan perjalanan esok
hari. Perkemahan Centaur hanya butuh waktu setengah hari dari sini. Dan mereka yakin bila mendapatkan token dari
Centaur tidak akan sulit.
__ADS_1