
Benturan serangan antara
Bara dan Bastian bertemu untuk ke sekian kalinya. Percikkan es yang pecah
menyebar ke sekeliling, jatuh ke tanah meninggalkan kerak yang membekukan tanah
gersang. Turunnya suhu udara yang diakibatkan oleh kebangkitan Roh Salju menjadi
pemicu semakin besarnya bentrokan kekuatan serupa tersebut.
Bara termundur beberapa
langkah akibat dorongan arus ombak yang dipanggil oleh Bastian. Namun, ia
sempat membekukan ombak tersebut sebelum menabrak tubuhnya secara langsung. Tak
memberi kesempatan pada Bastian untuk melakukan serangan susulan, Bara segera
melompat menaiki ombak beku tersebut. Ia meluncur dengan indah, mendarat dengan
kasar tepat di depan sepupunya itu.
Mata Bastian terbelalak.
Ia nyaris tak dapat mengelaki tendangan kedua kaki Bara. Paling tidak, ia
sempat menahan tendangan tersebut dengan kedua tangannya. Kemudian, ia
mendorong Bara dengan kuat hingga Bara terlontar kembali hingga terjatuh ke
ombak beku yang akhirnya pecah oleh berat tubuhnya.
Sebelum Bara bangkit
kembali, Bastian segera membalikkan badannya dan berlari menaiki gunung. Ia
merasakan bahaya, tak percaya sepenuhnya pada pasukan makhluk hidup yang ia
kendalikan. Instingnya memberitahukan padanya untuk mencari solusi lain, jika
kalau anak buahnya gagal menghentikan kebangkitan Roh Salju yang sudah hampir
terbangun.
“Kaupikir aku akan
membiarkanmu lari di depan mataku lagi!?” Bara menjerit murka. Ia mengira
Bastian ingin melarikan diri darinya. Padahal sebenarnya tidak. Bastian ingin
mengiringnya pada altar buatan para Undead. Ia berniat menggunakan kekuatan
jahat itu untuk mengalahkan Bara yang dinilai lebih kuat darinya.
Bastian tidak membalas
gertakan Bara. Dia menyeringai, masih sambil berlari secepat yang ia bisa.
Sayangnya, Bara tidak melihat seringai jahat itu. Emosinya membuat ia
terpancing dengan mudah. Ia meninggalkan teman-temannya di sana, melawan
sekumpulan mayat hidup yang tak habis-habisnya.
Meena yang melihat
kelakuan Bara mendengus kesal. Ia menyadari ada yang tidak beres dengan reaksi
Bastian dan Bara terlalu dibutakan amarah untuk menyadari sesuatu yang begitu
jelas tersebut.
“Soli, aku akan menyusul
Bara! Kamu tahan mereka di sini bersama dengan lainnya!”
“Jangan melakukan hal yang
tak perlu, Nona Meena!”
Tanpa mendengarkan
perkataan Soli, Meena segera berlari mengejar Bara. Ia ingin terbang, tapi
kuatnya tiupan angin yang disertai oleh hujan itu terlalu menyakitkan untuk
sayapnya yang mungil.
Soli menjadi panik, Sudah
Kyra tak kelihatan, Meena lagi ingin memisahkan diri. Ia berniat mengejar Meena,
tapi Kanya terlebih dahulu menahan tangannya. Sang Roh Air melotot kesal,
menunjuk betapa kacaunya keadaan di sekitar mereka.
“Biarkan Meena. Dia bukan
anak kecil lagi. Kalau kau juga pergi, kaupikir aku dan Rhea bisa menahan
mereka semua?”
Tentu saja tak mungkin bisa.
Sang siluman rubah sudah terlalu sibuk melindungi Roh Salju. Dia tak mau
membuang-buang tenaga membantu Kanya. Karena perintah Bara hanya satu, yakni
melindungi Roh Salju hingga bangkit sepenuhnya.
“Aku mengerti, ayo
bereskan mereka secepatnya.” Melihat sikap acuh tak acuh Rhea yang bahkan tak
mau berbicara padanya, Soli menyerah. Dia menahan diri untuk tidak mengejar
Meena.
Setelah itu, kaki gunung
tersebut menjadi semakin sibuk. Monster laba-laba terus berdatangan
mengelilingi Rhea seakan tengah melindunginya ratu mereka dari serangan para
Undead.
Tak jauh di sana, hujan
bola air terlontar ke mana-mana. Seperti peluru besar yang diluncurkan untuk
menghancurkan lawannya. Satu per satu pasukan kerangka yang berada di sekitar
Kanya kehilangan kaki mereka, jatuh telungkup di atas pasir bersalju. Namun,
itu saja tak cukup untuk menghentikan mereka. Tulang manusia yang telah mati
tak memiliki saraf yang membuat mereka merasakan sakit. Kehilangan satu atau
dua buah anggota tubuh mereka tak memberi banyak perubahan.
Kanya menghela napas kesal
ketika melihat pecahan tulang dari kaki kerangka tersebut terkumpul sendiri dan
membentuk kembali. Tak peduli berapa kali ia hancurkan, musuhnya tak pernah ada
habisnya.
“Ke mana Kyra, aku butuh
apinya!” teriak Kanya.
“Tenanglah, api bukan
satu-satunya yang bisa mengalahkan mereka,” balas Soli. Kucing hutan itu berada
__ADS_1
di belakang Kanya, ia bergerak dalam bayangan Roh Air tersebut. Entah apa yang
ia pikirkan dan akan dilakukan, yang jelas, Kanya tak dapat menebak sama
sekali.
“Lalu kita harus melakukan
apa?” Sampai kapan Soli akan terus bersembunyi di belakangnya sambil mengatakan
kata-kata tak berguna seperti itu? Kanya butuh solusi. Satu-satunya yang ia
punya hanyalah sihir air, dan tipe sihir yang satu ini merupakan jenis terburuk
untuk menghadapi Undead tipe kerangka.
“Kamu pisahkan mereka
menjadi kelompok kecil, selanjutnya serahkan padaku.”
“Oke, tapi awas kalau kamu
hanya bicara saja.”
Karena Soli terlihat
yakin, Kanya bersedia bekerja sama. Meskipun ia tak tahu apa yang bisa Soli
lakukan dan dari mana datangnya pedang panjang berwarna hitam mencurigakan yang
kini berada di tangan Soli. Mungkin sesuatu yang berhubungan dengan elemen
bayangan yang kini digunakan oleh lelaki itu.
“Percayalah padaku.”
Kanya memulai kembali
serangannya. Kali ini ia menggunakan genangan air untuk memperlambat pasukan
kerangka tersebut. Kemudian ombak menjadi lebih besar di beberapa sisi. Ombak
itu menyeret satu per satu kerangka hidup yang mendekat padanya, dilemparkan ke
arah Soli.
Soli menggunakan pedangnya
untuk membela bagian dada pasukan tengkorak di mana batu mana yang menjadi
sumber kekuatan mereka berada. Sayatan pedang soli begitu tajam dan halus,
membelah dengan rapi batu mana sumber kehidupan kerangka tersebut menjadi dua.
Setelahnya, tulang-tulang yang tadinya dapat menyatu kembali setelah
dihancurkan, jatuh berantakan di atas salju. Terlihat seperti boneka rusak yang
kehilangan baut sambungan di setiap siku bagian tubuhnya.
“Bagus! Hancurkan yang ini
juga!” Sekarang Kanya mengerti cara kerja Soli. Ia menyeringai. Akhirnya ada
solusi dari perkelahian berulang dan membosankan tersebut.
Kelompok tengkorak lainnya
mulai Kanya lemparkan pada Soli. Dan kemudian satu per satu dihancurkan dengan
cepat olehnya. Tepat dan akurat, seperti itulah gerakan mematikan sang pemburu.
***
Jauh ke atas gunung salju
tersebut, Bara dan Meena akhirnya berhasil mengejar Bastian. Lebih tepatnya,
Bastian telah berhasil memancing mereka ke tempat yang ia inginkan. Altar batu
salju di sekitar mereka.
Bara menatap marah melihat
apa yang Bastian lakukan. Sebab api yang menyala pada altar tersebut tidak
hanya memengaruhi suhu udara, melainkan juga memanggil kabut tebal di atas
langit untuk menutupi cahaya matahari. Selain itu, mana di sekitar mereka juga
terasa kacau. Seperti tengah mengamuk, mencoba menghancurkan apa pun yang ada
di dekatnya.
“Jadi kamu mengkhianati
bangsamu sendiri demi altar terkutuk itu!?”
“Terkutuk? Kamu tak
mengerti Bara, ini adalah karya luar biasa yang dapat mengubah dunia.” Lihatlah
betapa bangganya Bastian pada kreasi berbahaya tersebut. Seakan pikiran sudah
mati. Tak sadar pengaruh buruk apalagi yang bisa didatangkan oleh Altar
tersebut bila terus dibiarkan aktif seperti itu.
“Kamu sungguh bodoh,
Bastian!”
“Kaulah yang tak pernah
bisa mengerti, Bara!”
Bara ingin sekali mencekik
Bastian. Membungkam selamanya mulut hina yang terus mengeluarkan kata-kata
bodoh itu. Ia tak peduli pada altar tersebut. Tidak juga pada kekuatan aneh
yang mulai menyatu dengan udara di sekitarnya. Sang Elf segera berlari ke arah
Bastian. Tanah pijakan di sekitar kakinya kakinya ia bekukan, membuatnya lebih
mudah meluncur ke depan lawannya.
“Meena, bantu aku!”
“Siap!”
Refleks Meena segera
menggunakan sihir pendukung pada Bara. Kecepatan, pertahanan dan kekuatan
pukulannya meningkat.
Satu pukulan yang mendarat
pada perut Bastian, cukup untuk membuat tubuhnya terlontar hingga menabrak
tiang altar. Sayangnya, lokasi tersebut tidak menguntungkan bagi Bara. Bastian
yang terjatuh, kembali bangkit berdiri. Kondisi tubuhnya terlihat bagus. Seakan
pukulan Bara tak berarti apa-apa padanya. Seketika itu juga, Bara sadar bila ia
telah terjebak. Altar itu punya fungsi lain yang tidak ia ketahui dan kini
tengah digunakan oleh Bastian untuk mengunggulinya.
“Meena, ganti pola serang.
Aku akan bergantung pada anginmu sekarang.”
__ADS_1
“Eh, kenapa?”
Meena agaknya sedikit
bingung. Ia terkaget ketika Bara mendadak melompat mundur mendekat padanya.
Sang Elf yang tadinya terlihat sangat emosinya, saat ini mengambil posisi
bertahan. Terlihat sangat waspada pada sesuatu yang tak dapat ia lihat. Meena
tahu mereka telah terjebak dan nampaknya keadaan tidak menguntungkan lagi bagi
mereka. Akan tetapi, Meena tak tahu seberapa banyak ia dapat membantu Bara
dengan kekuatan Naga yang belum dapat ia kuasai sepenuhnya.
“Tak perlu menahan diri
lagi, Meena. Gunakan semua sihir serangan yang kamu bisa.” Makanya kenapa? Bara
memang suka bicara kurang jelas dan membuatnya bingung. Jelas-jelas kekuatan
utama Meena adalah pendukung dan penyembuh. Adapun sedikit sihir tipe penyerang,
tapi tetap tak sebaik kemampuan pendukungnya.
“Terserahlah! Pokoknya
nanti jangan salahkan aku!” Meena malas bertanya lagi. Ia melepaskan semua mana
yang tersembunyi dari tubuhnya, mengeluarkan sayap Naga untuk membantunya
mengendalikan kekuatan pinjaman dari Nakula.
“Sekarang!”
“Ckck. Tiba-tiba sekali!”
Walaupun Meena mengeluh,
tapi ia mengerjakan apa yang Bara minta. Mereka bahkan tak perlu diskusi
terlebih dahulu. Saking lamanya mereka menjadi rekan dan teman latihan yang
telah mengetahui kekuatan satu sama lainnya.
Meena mengembuskan angin
dari sayapnya, berubah menjadi pisau sabit besar yang menebas dengan tajam ke
arah Bastian. Setelah serangan tersebut, Bara kembali berlari ke depan. Ia
melemparkan tombak-tombak es dengan agresif menyusul serangan dari Meena.
Bastian dapat melihat
serangan kombinasi tersebut. Ia terbang ke atas udara, mengelaki serangan
tersebut dengan cepat. Pisau sabit angin Meena berakhir menabrak ke altar,
menghancurkan dua tiang sekaligus. Dan tombak es dari Bara menusuk meretakkan
batu yang menjadi lantai altar tersebut.
Mereka bertiga merasa tak
senang. Bara dan Meena kesal serangan mereka meleset, sedangkan Bastian menjadi
waswas melihat kerusakan pada altar. Ia menyesal mengelak, cemas kedua lawan
brutal itu akan menghancurkan lebih banyak bagian dari altarnya. Namun, ia tak
mengatakan apa-apa. Karena ia tak mau Bara dan Meena menyadari keresahannya.
“Hanya itu yang bisa
kalian lakukan?” Bastian sengaja memancing emosi Bara dan Meena. Ia menatap
merendahkan mereka dari atas.
Meena sih biasa saja, tapi
Bara terlihat sangat kesal. Pasalnya Elf tidak bisa terbang. Alasan kenapa
Bastian bisa melayang seperti itu, pastilah karena menggunakan alat sihir
buatan Declan sang Sorcerer.
“Turun kemari!”
Bara kembali melemparkan
puluhan tombak es ke arah Bastian. Serangannya kali ini tidak terarah, hanya
untuk memaksa Bastian mendekat pada mereka. tapi Bastian tidak bodoh. Ia tak
berniat mendengarkan Bara karena dia lebih diuntungkan bila bertarung di atas
udara.
“Kenapa tak kau saja yang
kemari? Gadis kecil itu bisa membawamu ke sini.”
“Siapa yang kamu panggil
kecil!” Oow ... Meena ikutan kesal. Merasa dihina hanya karena badannya kecil.
Ia langsung melesat ke atas, mengabaikan udara dingin yang mengganggunya dari
tadi.
Bastian kira sangat mudah
mengalahkan Meena yang jelas-jelas bukan tipe petarung. Ia menyerang secara tak
serius. Hanya menggunakan hujan anak panah dari es ke bawah – menargetkan sayap
Meena. Ia pikir, Meena akan jatuh begitu bagian runcing dari puluhan anak panah
itu menusuk dan merobek bagian tipis sayap yang tidak dilindungi oleh tulang.
Namun, keyakinan dan kesombongan Bastian sirna ketika melihat anak-anak panah es
tersebut hancur saat mengenai sayap Meena.
“Tidak mungkin – sayap apa
itu!?” Panah es Bastian telah dilapisi oleh mana dan dikuatkan oleh aura dari
altar di bawah sana. Ia tak percaya ... sayap Meena lebih kuat dari senjata
kebanggaannya itu.
“Kaget? Makanya jangan
mengataiku kecil!”
Memanfaatkan keterkejutan
Bastian, Meena segera memotong jarak di antara mereka. Ia menendang dagu
Bastian dengan brutal, menyentakkan tubuh Bastian hingga kehilangan
keseimbangan. Kemudian, ia berpindah ke bagian belakang Bastian, berlanjut
dengan tendangan susulan di tengkuk yang membuat Elf itu jatuh kembali ke tanah.
Tubuh Naga adalah yang
terkuat di antara semua binatang mistik. Wajar saja bila senjata buatan tak
cukup untuk melukainya. Inilah kesalahan Bastian. Ketidaktahuan membuatnya
lengah dan berakhir jatuh ke atas permukaan tanah.
__ADS_1