Phoenix Bride

Phoenix Bride
Episode 46


__ADS_3

Benturan serangan antara


Bara dan Bastian bertemu untuk ke sekian kalinya. Percikkan es yang pecah


menyebar ke sekeliling, jatuh ke tanah meninggalkan kerak yang membekukan tanah


gersang. Turunnya suhu udara yang diakibatkan oleh kebangkitan Roh Salju menjadi


pemicu semakin besarnya bentrokan kekuatan serupa tersebut.


Bara termundur beberapa


langkah akibat dorongan arus ombak yang dipanggil oleh Bastian. Namun, ia


sempat membekukan ombak tersebut sebelum menabrak tubuhnya secara langsung. Tak


memberi kesempatan pada Bastian untuk melakukan serangan susulan, Bara segera


melompat menaiki ombak beku tersebut. Ia meluncur dengan indah, mendarat dengan


kasar tepat di depan sepupunya itu.


Mata Bastian terbelalak.


Ia nyaris tak dapat mengelaki tendangan kedua kaki Bara. Paling tidak, ia


sempat menahan tendangan tersebut dengan kedua tangannya. Kemudian, ia


mendorong Bara dengan kuat hingga Bara terlontar kembali hingga terjatuh ke


ombak beku yang akhirnya pecah oleh berat tubuhnya.


Sebelum Bara bangkit


kembali, Bastian segera membalikkan badannya dan berlari menaiki gunung. Ia


merasakan bahaya, tak percaya sepenuhnya pada pasukan makhluk hidup yang ia


kendalikan. Instingnya memberitahukan padanya untuk mencari solusi lain, jika


kalau anak buahnya gagal menghentikan kebangkitan Roh Salju yang sudah hampir


terbangun.


“Kaupikir aku akan


membiarkanmu lari di depan mataku lagi!?” Bara menjerit murka. Ia mengira


Bastian ingin melarikan diri darinya. Padahal sebenarnya tidak. Bastian ingin


mengiringnya pada altar buatan para Undead. Ia berniat menggunakan kekuatan


jahat itu untuk mengalahkan Bara yang dinilai lebih kuat darinya.


Bastian tidak membalas


gertakan Bara. Dia menyeringai, masih sambil berlari secepat yang ia bisa.


Sayangnya, Bara tidak melihat seringai jahat itu. Emosinya membuat ia


terpancing dengan mudah. Ia meninggalkan teman-temannya di sana, melawan


sekumpulan mayat hidup yang tak habis-habisnya.


Meena yang melihat


kelakuan Bara mendengus kesal. Ia menyadari ada yang tidak beres dengan reaksi


Bastian dan Bara terlalu dibutakan amarah untuk menyadari sesuatu yang begitu


jelas tersebut.


“Soli, aku akan menyusul


Bara! Kamu tahan mereka di sini bersama dengan lainnya!”


“Jangan melakukan hal yang


tak perlu, Nona Meena!”


Tanpa mendengarkan


perkataan Soli, Meena segera berlari mengejar Bara. Ia ingin terbang, tapi


kuatnya tiupan angin yang disertai oleh hujan itu terlalu menyakitkan untuk


sayapnya yang mungil.


Soli menjadi panik, Sudah


Kyra tak kelihatan, Meena lagi ingin memisahkan diri. Ia berniat mengejar Meena,


tapi Kanya terlebih dahulu menahan tangannya. Sang Roh Air melotot kesal,


menunjuk betapa kacaunya keadaan di sekitar mereka.


“Biarkan Meena. Dia bukan


anak kecil lagi. Kalau kau juga pergi, kaupikir aku dan Rhea bisa menahan


mereka semua?”


Tentu saja tak mungkin bisa.


Sang siluman rubah sudah terlalu sibuk melindungi Roh Salju. Dia tak mau


membuang-buang tenaga membantu Kanya. Karena perintah Bara hanya satu, yakni


melindungi Roh Salju hingga bangkit sepenuhnya.


“Aku mengerti, ayo


bereskan mereka secepatnya.” Melihat sikap acuh tak acuh Rhea yang bahkan tak


mau berbicara padanya, Soli menyerah. Dia menahan diri untuk tidak mengejar


Meena.


Setelah itu, kaki gunung


tersebut menjadi semakin sibuk. Monster laba-laba terus berdatangan


mengelilingi Rhea seakan tengah melindunginya ratu mereka dari serangan para


Undead.


Tak jauh di sana, hujan


bola air terlontar ke mana-mana. Seperti peluru besar yang diluncurkan untuk


menghancurkan lawannya. Satu per satu pasukan kerangka yang berada di sekitar


Kanya kehilangan kaki mereka, jatuh telungkup di atas pasir bersalju. Namun,


itu saja tak cukup untuk menghentikan mereka. Tulang manusia yang telah mati


tak memiliki saraf yang membuat mereka merasakan sakit. Kehilangan satu atau


dua buah anggota tubuh mereka tak memberi banyak perubahan.


Kanya menghela napas kesal


ketika melihat pecahan tulang dari kaki kerangka tersebut terkumpul sendiri dan


membentuk kembali. Tak peduli berapa kali ia hancurkan, musuhnya tak pernah ada


habisnya.


“Ke mana Kyra, aku butuh


apinya!” teriak Kanya.


“Tenanglah, api bukan


satu-satunya yang bisa mengalahkan mereka,” balas Soli. Kucing hutan itu berada

__ADS_1


di belakang Kanya, ia bergerak dalam bayangan Roh Air tersebut. Entah apa yang


ia pikirkan dan akan dilakukan, yang jelas, Kanya tak dapat menebak sama


sekali.


“Lalu kita harus melakukan


apa?” Sampai kapan Soli akan terus bersembunyi di belakangnya sambil mengatakan


kata-kata tak berguna seperti itu? Kanya butuh solusi. Satu-satunya yang ia


punya hanyalah sihir air, dan tipe sihir yang satu ini merupakan jenis terburuk


untuk menghadapi Undead tipe kerangka.


“Kamu pisahkan mereka


menjadi kelompok kecil, selanjutnya serahkan padaku.”


“Oke, tapi awas kalau kamu


hanya bicara saja.”


Karena Soli terlihat


yakin, Kanya bersedia bekerja sama. Meskipun ia tak tahu apa yang bisa Soli


lakukan dan dari mana datangnya pedang panjang berwarna hitam mencurigakan yang


kini berada di tangan Soli. Mungkin sesuatu yang berhubungan dengan elemen


bayangan yang kini digunakan oleh lelaki itu.


“Percayalah padaku.”


Kanya memulai kembali


serangannya. Kali ini ia menggunakan genangan air untuk memperlambat pasukan


kerangka tersebut. Kemudian ombak menjadi lebih besar di beberapa sisi. Ombak


itu menyeret satu per satu kerangka hidup yang mendekat padanya, dilemparkan ke


arah Soli.


Soli menggunakan pedangnya


untuk membela bagian dada pasukan tengkorak di mana batu mana yang menjadi


sumber kekuatan mereka berada. Sayatan pedang soli begitu tajam dan halus,


membelah dengan rapi batu mana sumber kehidupan kerangka tersebut menjadi dua.


Setelahnya, tulang-tulang yang tadinya dapat menyatu kembali setelah


dihancurkan, jatuh berantakan di atas salju. Terlihat seperti boneka rusak yang


kehilangan baut sambungan di setiap siku bagian tubuhnya.


“Bagus! Hancurkan yang ini


juga!” Sekarang Kanya mengerti cara kerja Soli. Ia menyeringai. Akhirnya ada


solusi dari perkelahian berulang dan membosankan tersebut.


Kelompok tengkorak lainnya


mulai Kanya lemparkan pada Soli. Dan kemudian satu per satu dihancurkan dengan


cepat olehnya. Tepat dan akurat, seperti itulah gerakan mematikan sang pemburu.


***


Jauh ke atas gunung salju


tersebut, Bara dan Meena akhirnya berhasil mengejar Bastian. Lebih tepatnya,


Bastian telah berhasil memancing mereka ke tempat yang ia inginkan. Altar batu


salju di sekitar mereka.


Bara menatap marah melihat


apa yang Bastian lakukan. Sebab api yang menyala pada altar tersebut tidak


hanya memengaruhi suhu udara, melainkan juga memanggil kabut tebal di atas


langit untuk menutupi cahaya matahari. Selain itu, mana di sekitar mereka juga


terasa kacau. Seperti tengah mengamuk, mencoba menghancurkan apa pun yang ada


di dekatnya.


“Jadi kamu mengkhianati


bangsamu sendiri demi altar terkutuk itu!?”


“Terkutuk? Kamu tak


mengerti Bara, ini adalah karya luar biasa yang dapat mengubah dunia.” Lihatlah


betapa bangganya Bastian pada kreasi berbahaya tersebut. Seakan pikiran sudah


mati. Tak sadar pengaruh buruk apalagi yang bisa didatangkan oleh Altar


tersebut bila terus dibiarkan aktif seperti itu.


“Kamu sungguh bodoh,


Bastian!”


“Kaulah yang tak pernah


bisa mengerti, Bara!”


Bara ingin sekali mencekik


Bastian. Membungkam selamanya mulut hina yang terus mengeluarkan kata-kata


bodoh itu. Ia tak peduli pada altar tersebut. Tidak juga pada kekuatan aneh


yang mulai menyatu dengan udara di sekitarnya. Sang Elf segera berlari ke arah


Bastian. Tanah pijakan di sekitar kakinya kakinya ia bekukan, membuatnya lebih


mudah meluncur ke depan lawannya.


“Meena, bantu aku!”


“Siap!”


Refleks Meena segera


menggunakan sihir pendukung pada Bara. Kecepatan, pertahanan dan kekuatan


pukulannya meningkat.


Satu pukulan yang mendarat


pada perut Bastian, cukup untuk membuat tubuhnya terlontar hingga menabrak


tiang altar. Sayangnya, lokasi tersebut tidak menguntungkan bagi Bara. Bastian


yang terjatuh, kembali bangkit berdiri. Kondisi tubuhnya terlihat bagus. Seakan


pukulan Bara tak berarti apa-apa padanya. Seketika itu juga, Bara sadar bila ia


telah terjebak. Altar itu punya fungsi lain yang tidak ia ketahui dan kini


tengah digunakan oleh Bastian untuk mengunggulinya.


“Meena, ganti pola serang.


Aku akan bergantung pada anginmu sekarang.”

__ADS_1


“Eh, kenapa?”


Meena agaknya sedikit


bingung. Ia terkaget ketika Bara mendadak melompat mundur mendekat padanya.


Sang Elf yang tadinya terlihat sangat emosinya, saat ini mengambil posisi


bertahan. Terlihat sangat waspada pada sesuatu yang tak dapat ia lihat. Meena


tahu mereka telah terjebak dan nampaknya keadaan tidak menguntungkan lagi bagi


mereka. Akan tetapi, Meena tak tahu seberapa banyak ia dapat membantu Bara


dengan kekuatan Naga yang belum dapat ia kuasai sepenuhnya.


“Tak perlu menahan diri


lagi, Meena. Gunakan semua sihir serangan yang kamu bisa.” Makanya kenapa? Bara


memang suka bicara kurang jelas dan membuatnya bingung. Jelas-jelas kekuatan


utama Meena adalah pendukung dan penyembuh. Adapun sedikit sihir tipe penyerang,


tapi tetap tak sebaik kemampuan pendukungnya.


“Terserahlah! Pokoknya


nanti jangan salahkan aku!” Meena malas bertanya lagi. Ia melepaskan semua mana


yang tersembunyi dari tubuhnya, mengeluarkan sayap Naga untuk membantunya


mengendalikan kekuatan pinjaman dari Nakula.


“Sekarang!”


“Ckck. Tiba-tiba sekali!”


Walaupun Meena mengeluh,


tapi ia mengerjakan apa yang Bara minta. Mereka bahkan tak perlu diskusi


terlebih dahulu. Saking lamanya mereka menjadi rekan dan teman latihan yang


telah mengetahui kekuatan satu sama lainnya.


Meena mengembuskan angin


dari sayapnya, berubah menjadi pisau sabit besar yang menebas dengan tajam ke


arah Bastian. Setelah serangan tersebut, Bara kembali berlari ke depan. Ia


melemparkan tombak-tombak es dengan agresif menyusul serangan dari Meena.


Bastian dapat melihat


serangan kombinasi tersebut. Ia terbang ke atas udara, mengelaki serangan


tersebut dengan cepat. Pisau sabit angin Meena berakhir menabrak ke altar,


menghancurkan dua tiang sekaligus. Dan tombak es dari Bara menusuk meretakkan


batu yang menjadi lantai altar tersebut.


Mereka bertiga merasa tak


senang. Bara dan Meena kesal serangan mereka meleset, sedangkan Bastian menjadi


waswas melihat kerusakan pada altar. Ia menyesal mengelak, cemas kedua lawan


brutal itu akan menghancurkan lebih banyak bagian dari altarnya. Namun, ia tak


mengatakan apa-apa. Karena ia tak mau Bara dan Meena menyadari keresahannya.


“Hanya itu yang bisa


kalian lakukan?” Bastian sengaja memancing emosi Bara dan Meena. Ia menatap


merendahkan mereka dari atas.


Meena sih biasa saja, tapi


Bara terlihat sangat kesal. Pasalnya Elf tidak bisa terbang. Alasan kenapa


Bastian bisa melayang seperti itu, pastilah karena menggunakan alat sihir


buatan Declan sang Sorcerer.


“Turun kemari!”


Bara kembali melemparkan


puluhan tombak es ke arah Bastian. Serangannya kali ini tidak terarah, hanya


untuk memaksa Bastian mendekat pada mereka. tapi Bastian tidak bodoh. Ia tak


berniat mendengarkan Bara karena dia lebih diuntungkan bila bertarung di atas


udara.


“Kenapa tak kau saja yang


kemari? Gadis kecil itu bisa membawamu ke sini.”


“Siapa yang kamu panggil


kecil!” Oow ... Meena ikutan kesal. Merasa dihina hanya karena badannya kecil.


Ia langsung melesat ke atas, mengabaikan udara dingin yang mengganggunya dari


tadi.


Bastian kira sangat mudah


mengalahkan Meena yang jelas-jelas bukan tipe petarung. Ia menyerang secara tak


serius. Hanya menggunakan hujan anak panah dari es ke bawah – menargetkan sayap


Meena. Ia pikir, Meena akan jatuh begitu bagian runcing dari puluhan anak panah


itu menusuk dan merobek bagian tipis sayap yang tidak dilindungi oleh tulang.


Namun, keyakinan dan kesombongan Bastian sirna ketika melihat anak-anak panah es


tersebut hancur saat mengenai sayap Meena.


“Tidak mungkin – sayap apa


itu!?” Panah es Bastian telah dilapisi oleh mana dan dikuatkan oleh aura dari


altar di bawah sana. Ia tak percaya ... sayap Meena lebih kuat dari senjata


kebanggaannya itu.


“Kaget? Makanya jangan


mengataiku kecil!”


Memanfaatkan keterkejutan


Bastian, Meena segera memotong jarak di antara mereka. Ia menendang dagu


Bastian dengan brutal, menyentakkan tubuh Bastian hingga kehilangan


keseimbangan. Kemudian, ia berpindah ke bagian belakang Bastian, berlanjut


dengan tendangan susulan di tengkuk yang membuat Elf itu jatuh kembali ke tanah.


Tubuh Naga adalah yang


terkuat di antara semua binatang mistik. Wajar saja bila senjata buatan tak


cukup untuk melukainya. Inilah kesalahan Bastian. Ketidaktahuan membuatnya


lengah dan berakhir jatuh ke atas permukaan tanah.

__ADS_1


__ADS_2