
Setelah Kyra dan rombongan
berhasil menemukan Alexi, mereka mengantarkan Kyra hingga ke kaki gunung es. Di
sanalah Kyra bertemu dengan teman-temannya.
Meena langsung berlari
begitu melihat Kyra. Ia melompat, memeluk erat-erat seakan mereka telah
berpisah begitu lama. “Kau membuat kami cemas.” Meena merengek, melepaskan rasa
segala rasa khawatirnya.
“Maaf, aku juga tak tahu
kenapa bisa berpindah tempat sendiri.” Kyra sibuk menghibur Meena. Tertawa-tawa
melupakan segala hal yang telah terjadi padanya.
Bara hanya melihat tingkah
gadis-gadis itu sambil geleng-geleng kepala. Dia tahu Kyra akan kembali, tapi
tak menyangka bersama dengan Alexi.
“Maaf, anak ini
menyusahkanmu lagi.”
“Tak apa-apa. Kebetulan
kami searah.”
Kedua pria itu berbincang
sebentar, bertukar informasi tentang kelompok Undead yang tengah dikejar oleh
Alexi. Setelahnya Alexi dan rombongannya pergi, memutar arah ke lokasi
berikutnya.
Bara pun membawa regunya
kembali ke Filia. Dia mendekati Kyra, memukul kepala gadis api tanpa
peringatan. “Kenapa bisa sampai bertemu dengan Letnan Alexi lagi?” Biarpun
Alexi sudah memberikan penjelasan, dia tetap ingin mendengar dari sudut pandang
Kyra.
“Kebetulan kok. Aku bertemu
anak buahnya di gunung api, tapi kenapa aku ada di sana ya?” Kyra memegangi
kepala, berpikir keras mencoba mengingat apa yang terjadi padanya sebelum
hilang kesadaran.
“Oh ya, misi kita gimana?”
Yang diingat Kyra hanya soal misi yang terlupakan.
“Sudah selesai.” Bara
mengacak kepala Kyra, mengucapkan sesuatu yang membuat Kyra merasa sedih.
“Lagi-lagi aku tak
berguna,” keluhnya.
“Tak usah kau pikirkan.
Daripada itu, kekuatanmu tambah besar. Apa yang kaulakukan di gunung itu?” Apa
Kyra bertemu dengan Phoenix? Apakah dia sudah tahu takdir apa yang dibawanya?
Bara ingin memastikan.
“Benarkah? Mungkin karena
aku terendam lava selama berjam-jam.” Jawaban apa itu? Bara sampai bingung mau
bereaksi seperti apa.
“Kau tak terbakar saat
menyentuh lava dengan tangan kosong?” Ditambah dengan rasa penasaran Martin
yang membuat Kyra mulai menyadari ada yang aneh padanya.
“Aku Penyihir bertipe api.
Mana mungkin terbakar.” Ia selalu mengira bahwa dirinya normal, tapi kenapa
teman-temannya menatapnya dengan aneh?
“Penyihir Api pun bisa
terbakar oleh api miliknya sendiri jika tak bisa mengendalikan. Apalagi api
yang berasal dari alam.” Bahkan Meena seperti mengetesnya, seakan
dirinya tengah menyembunyikan sesuatu dari mereka.
“Sungguh? Tapi sejak kecil
tak ada api yang bisa membakarku. Mungkin apiku berbeda.” Kyra tak mau
memikirkannya. Mungkin dia hanya terlalu sensitif. Dia akan menganggap
kekuatannya sebagai keberuntungan. Makhluk apa pun yang ditemuinya tadi, Kyra
berharap mereka bisa bertemu kembali.
***
Setelah tiba di Gedung
Serikat Petualang, Bara langsung pergi melapor dengan Martin. Ketiga orang
tersisa menunggu sambil makan. Tiba-tiba saja, Meena memukul meja meminta
perhatian.
“Sekarang pengganggu sudah
pergi. Jujur saja, akui rahasia kalian berdua!” Dia sudah begitu bersabar saat
menjalankan misi dan di perjalanan pulang. Sekarang tak ada Bara yang
mengganggu. Akan Meena buat Soli dan Kyra mengakui siapa sebenarnya mereka.
“Rahasia apa sih?” Kyra
tak paham. Dia pikir Meena sedang memainkan sesuatu. Sedangkan Soli memilih
untuk bungkam dulu, menilai keadaan setelah melihat reaksi Kyra sebelum
mengucapkan sesuatu.
“Nggak usah pura-pura
bodoh, Kyra. Kita, kan teman. Kenapa tak bisa percaya padaku?” Meena semakin
mengotot, memaksa Kyra agar terbuka padanya. Dengan begitu, ia pun akan bisa
mengumpulkan keberanian mengakui rahasianya.
“Aku selalu percaya
padamu, tapi aku benar-benar tak mengerti maksudmu, Meena.” Sayangnya Kyra
sudah mengungkapnya dengan jujur, dia begitu bingung. Apa yang sebenarnya Meena
bicarakan dengannya.
Tatapan Kyra seperti anak
tersesat, memohon kepercayaan darinya dengan ekspresi wajah kebingungan. Meena
jadi merasa dirinya jahat pada Kyra. Padahal dia hanya ingin mereka terbuka
satu sama lainnya.
“Lalu siapa yang kautemui
di gunung apa itu? Bau api yang kuat itu sama sekali tak bisa kau sembunyikan.”
__ADS_1
Hidung Meena tak bisa dikelabui. Dia sudah begitu terganggu sejak kemarin. Bau
tubuh Phoenix yang sengaja ditinggalkan pada Kyra seperti tengah mengintimidasi
orang-orang agar tidak mendekati Kyra.
“Kau bisa mencium baunya?
Burung api itu besar sekali! Aku berdiri saja hanya setinggi dadanya!” Dan
tingkah Kyra sangat berlawan dengan prediksi Meena. Setelah tak pura-pura tak
paham, sekarang malah menceritakan pertemuannya dengan sang Phoenix.
“Dia bisa bicara! Api kami
juga selaras sekali, tapi dia tak mau mengenalkan dirinya. Dia bilang aku harus
berusaha mengingatnya sendiri.” Ekspresi wajah Kyra berubah-ubah. Dari senang,
bingung, sedih dan menjadi kesal.
“Kupikir itu burung api berumur
ratusan tahun! Makanya tumbuh besar begitu.” Phoenix Kyra samakan dengan jenis
burung api biasa yang bisa ditemukan sepanjang tahun di dekat tambang batu
mana.
Meena jadi sakit kepala.
Dia merasa bodoh berpikir bila anak polos seperti Kyra sengaja menyembunyikan
sesuatu darinya. Kyra pastilah benar-benar tak tahu apa-apa. Dia hanya tidak
beruntung, terikat dengan binatang mistik tanpa menyadarinya.
“Kyra, itu adalah Phoenix.
Bukan burung api biasa.” Kyra terdiam, mendadak lupa untuk mengoceh. Phoenix
adalah legenda di Nebula, makhluk yang keberadaannya dianggap sebagai Dewa di
kota kelahirannya.
Bila dipikirkan baik-baik,
memang dongeng sebelum tidur di masa kecilnya menceritakan bila Phoenix hidup
di tengah-tengah gunung api di sebelah utara Nebula. Kenapa dia bisa begitu
bodoh, sampai tidak menyadarinya?
“Apa dia melakukan sesuatu
padamu?” Karena tingkah Kyra aneh, Meena bertanya. Gadis api itu menggeleng.
“Kami hanya mengobrol. Dia
berbicara seakan kami saling kenal, memintaku untuk menjadi kuat dan
mengingatnya, lalu kembali lagi ke gunung itu. Setelah itu dia menghilang.”
Kyra termenung sesaat. Dia memang lupa akan pertemuan yang dibicarakan oleh
sang Phoenix, tapi dia ingat sensasi saat menyentuh tubuh besar dipenuhi oleh
energi itu. Rasanya seperti, burung itulah yang dia kejar seumur hidupnya.
“Jadi kau bukannya tak
sadar, tapi melupakannya. Sekarang aku paham.” Suara Bara membuat Kyra
tersentak kaget. Refleks ia berbalik, menemukan Bara seorang diri berdiri di belakangnya.
“Di mana Martin dan kenapa
kau berbicara seakan tahu segalanya?” Kyra mulai merasa aneh, reaksi
teman-temannya menunjukkan seakan mereka semua lebih tahu daripada dia.
“Martin sedang memilih
misi dengan regu lain. Kupikir sudah saatnya kita membicarakannya semuanya secara
siapa dirimu.” Bara sudah menguping dari tadi. Telinganya cukup peka untuk bisa
menangkap suara dari jauh. Dia sengaja membiarkan Meena mencari tahu, baru
kemudian mengambil keputusan ini.
“Sudah kuduga, kau tahu dia
suruhan Nakula dan masih membiarkannya bergabung. Elf tua sialan! Rasakan ini!”
Mengamuklah Meena, melampiaskan segala kekesalannya pada Bara dengan pukulan
brutal.
“Kau boleh marah kalau kau
dan Kyra sudah bisa melindungi diri kalian sendiri.” Ujung-ujungnya Meena
ditangkap lagi oleh Bara, diangkut paksa, dibawa keluar.
“Apa kaitannya denganku?”
Kyra segera menyusul, diikuti oleh Soli.
Mereka pindah ke rumah
Meena. Barulah setelah itu, Bara menjabarkan semuanya dengan jelas. Memastikan
bila tak ada satu pun dari mereka berempat yang menyimpan rahasia.
Meena merajuk setelah itu.
Kyra bengong sulit menerima kenyataan dan Soli kebingungan. Pria itu berkata, “Aku
tak akan kembali ke istana sekalipun kalian tak menyukaiku. Perintah Raja
adalah mutlak.” Dia mungkin akan dianggap menentang perintah jika meninggalkan
Meena dan Kyra hanya karena Meena tak senang akan keberadaannya.
“Siapa yang peduli! Aku tak
suka diawasi!” Gadis mungil itu mengguncang-guncang tangannya, menunjuk wajah
Soli melampiaskan kemarahan.
“Sudah kubilang, katakan
itu setelah kau sanggup menjaga dirimu sendiri. Aku juga tak suka membawanya,
tapi aku tak bisa menjaga kalian berdua seorang diri.” Bara membela Soli.
Selain alasan yang disebutkan di atas, ia pun tak berani melawan perintah Raja.
“Kyra, katakan sesuatu!
Kau juga pasti tak senang diawasi!” Kalah adu mulut dengan Bara, Meena minta
dukungan Kyra.
“Semua itu bohong, kan?
Bagaimana mungkin kita bisa menjadi pengantin makhluk dalam legenda begitu!?”
Detik berikutnya, segala emosi Meena padam. Kyra masih tersangkut di sana,
antara percaya tak percaya.
“Lihat? Si payah ini tak
akan berdaya kalau tak ada yang menjaga. Kau mungkin merasa sanggup melindungi
dirimu sendiri, tapi Kyra membutuhkan perlindungan.” Bara segera memanfaatkan
kesempatan, memastikan agar tak ada lagi pertentangan tak perlu di antara
mereka.
“Aku tak selalu mengawasi
kalian dan melaporkan segalanya pada Yang Mulia. Tugasku hanya memastikan
kalian berdua tidak terbunuh sebelum kekuatan kalian bangkit.” Soli mendukung
__ADS_1
pernyataan Bara. Dia menegaskan, meyakinkan Meena bila tak ada salahnya
membiarkan dia tetap berada di dalam regu.
“Baiklah, tapi jangan
harap aku mau berteman denganmu!”
“Aku mengerti, Yang Mulia
Ratu.”
“Jangan memanggilku
begitu!”
“Tapi – ”
“Tak ada tapi-tapian!”
Akhirnya, masalah Soli dan
Meena teratasi. Biarpun mereka terus beradu mulut tak ada habisnya, tapi
keadaan ini sudah cukup untuk Bara. Masalahnya adalah ... mau sampai kapan Kyra
melarikan diri dari kenyataan?
“Kau mungkin tak bisa
mengingatnya, tapi inilah kenyataan. Angkat kepalamu, hadapilah masalahmu
dengan berani.” Bara duduk di samping Kyra, mengusap kepalanya sembari
memberikan nasihat. Dia mengerti kebingungan anak itu, tapi melarikan diri tak
akan bisa menyelesaikan apa pun.
Kyra menatap mata Bara
sejenak, kemudian ia menundukkan kepalanya. Kedua tangannya terkepal erat.
Berbagai hal yang terjadi belakang ini berputar-putar di benaknya.
“Aku tak akan pernah
mengakuinya. Setidaknya hingga ingatanku kembali. Kumohon bantu aku, Bara! Apa
pun akan kulakukan selama bisa mengembalikan ingatan sepuluh tahun silam!” Dan
akhirnya, inilah yang menjadi keputusan Kyra. Dia tak lagi mencari rahasia dari
kekuatannya, tetapi mencari cara mengembalikan ingatannya.
“Aku ingin membantumu,
tapi mengembalikan ingatan itu rasanya mustahil.” Apa yang membuatnya ingatan
Kyra hilang saja Bara tak tahu, bagaimana mungkin dia mengembalikannya?
“Tidak mustahil, bila kita
bisa menemukan Peri Mimpi.” Di antara kebingungan Kyra dan Bara, Soli menimpali.
Dia pernah mendengarnya, cerita tentang makhluk kecil yang memiliki kekuatan
istimewa untuk menarik jiwa seorang mengelilingi masa lalunya.
“Aku juga pernah
mendengarnya! Katanya Peri Mimpi lahir dari harapan para pejuang yang gugur di
medan perang. Mereka mengabulkan permintaan terakhir para prajurit,
memperlihatkan mimpi berupa ingatan masa bahagia sebagai hadiah perpisahan. Itu
adalah legenda di Perkemahan Centaur!” Meena juga tahu, bahkan begitu
bersemangat ingin mencari sosok dalam cerita itu.
“Jangan idiot. Itu hanya
legenda. Tak ada bukti mereka ada. Lagi pula Perkemahan Centaur adalah batas
terakhir wilayah kerajaan. Peperangan terjadi tak hentinya di sana. Tak akan
kubiarkan kalian pergi ke sana untuk mengejar sesuatu yang tak nyata.” Di lain
pihak, Bara menentang ide mereka. Dia tak mau mengambil risiko terlalu besar
untuk sesuatu yang tidak pasti.
“Naga dan Phoenix juga
legenda, tapi mereka ada. Mungkin Peri Mimpi juga ada.” Bara pura-pura tak
dengar perkataan Kyra. Paksaan Meena saja sudah memusingkan. Jangan sampai anak
ini ikut-ikutan bilang mau pergi.
“Tak ada. Rapat selesai.
Aku akan pergi mengambil misi baru.” Bara memutuskan untuk kabur, berjalan
cepat meninggalkan rumah Meena mengabaikan segala ocehan mereka.
Baru sampai di depan rumah,
Martin memanggilnya dari atas kereta kuda yang melintas. “Bara, ada permintaan
dari Benteng Barat, mereka butuh bantuan untuk mempertahankan benteng. Kalau
kalian belum ambil misi, ikutlah dengan kami!” Ternyata misi yang baru saja
diambil Martin tadi adalah misi yang paling ingin Bara hindari.
“Aku tidak – ”
“Kami ikut! Aku, Kyra,
Soli dan Bara! Masukkan kami ke regu kalian!” Bara berniat menolak, tapi
suaranya kalah keras oleh teriakan Meena yang muncul dari jendela. Si cebol itu
telah seenaknya memasukkan nama mereka ke regu gabungan Martin.
“Oke, sudah kukirim nama
kalian. Cepatlah bersiap, susul kami!”
“Baik! Kita bertemu di
kota Nero nanti malam!”
Martin juga telah mengirim
surat ke Gedung Serikat Petualang. Surat yang terbuat dari gulungan sihir,
begitu sudah dikirim, tak akan bisa dibatalkan hingga sampai ke tangan
penerima.
Bara menatap Meena begitu
sinis, Benteng Barat hanya berjarak lima kilometer dari Perkemahan Centaur.
Menerima misi ini sama saja dengan membuat rencana mencari Peri Mimpi.
“Cepat, Bara. Jangan
merajuk. Kita ada misi penting,” ujar Meena.
“Misi penting apa! Bilang
saja kau mau curi kesempatan pergi ke Perkemahan Centaur!”
“Lalala ... Elf tua marah-marah, Nona Meena yang imut tidak
mendengar.” Tak peduli seberapa kesalnya Bara, Meena tetap berbuat seenaknya.
Menari-nari sambil berkemas, bersenandung tak jelas sengaja membuat Bara makin
emosi.
“Kami pergi berkemas dulu,
sejam lagi kami kembali.” Kalau sudah begini, barulah Kyra pintar. Dia kabur
dengan Soli.
__ADS_1