Phoenix Bride

Phoenix Bride
Episode 14


__ADS_3

Setelah Kyra dan rombongan


berhasil menemukan Alexi, mereka mengantarkan Kyra hingga ke kaki gunung es. Di


sanalah Kyra bertemu dengan teman-temannya.


Meena langsung berlari


begitu melihat Kyra. Ia melompat, memeluk erat-erat seakan mereka telah


berpisah begitu lama. “Kau membuat kami cemas.” Meena merengek, melepaskan rasa


segala rasa khawatirnya.


“Maaf, aku juga tak tahu


kenapa bisa berpindah tempat sendiri.” Kyra sibuk menghibur Meena. Tertawa-tawa


melupakan segala hal yang telah terjadi padanya.


Bara hanya melihat tingkah


gadis-gadis itu sambil geleng-geleng kepala. Dia tahu Kyra akan kembali, tapi


tak menyangka bersama dengan Alexi.


“Maaf, anak ini


menyusahkanmu lagi.”


“Tak apa-apa. Kebetulan


kami searah.”


Kedua pria itu berbincang


sebentar, bertukar informasi tentang kelompok Undead yang tengah dikejar oleh


Alexi. Setelahnya Alexi dan rombongannya pergi, memutar arah ke lokasi


berikutnya.


Bara pun membawa regunya


kembali ke Filia. Dia mendekati Kyra, memukul kepala gadis api tanpa


peringatan. “Kenapa bisa sampai bertemu dengan Letnan Alexi lagi?” Biarpun


Alexi sudah memberikan penjelasan, dia tetap ingin mendengar dari sudut pandang


Kyra.


“Kebetulan kok. Aku bertemu


anak buahnya di gunung api, tapi kenapa aku ada di sana ya?” Kyra memegangi


kepala, berpikir keras mencoba mengingat apa yang terjadi padanya sebelum


hilang kesadaran.


“Oh ya, misi kita gimana?”


Yang diingat Kyra hanya soal misi yang terlupakan.


“Sudah selesai.” Bara


mengacak kepala Kyra, mengucapkan sesuatu yang membuat Kyra merasa sedih.


“Lagi-lagi aku tak


berguna,” keluhnya.


“Tak usah kau pikirkan.


Daripada itu, kekuatanmu tambah besar. Apa yang kaulakukan di gunung itu?” Apa


Kyra bertemu dengan Phoenix? Apakah dia sudah tahu takdir apa yang dibawanya?


Bara ingin memastikan.


“Benarkah? Mungkin karena


aku terendam lava selama berjam-jam.” Jawaban apa itu? Bara sampai bingung mau


bereaksi seperti apa.


“Kau tak terbakar saat


menyentuh lava dengan tangan kosong?” Ditambah dengan rasa penasaran Martin


yang membuat Kyra mulai menyadari ada yang aneh padanya.


“Aku Penyihir bertipe api.


Mana mungkin terbakar.” Ia selalu mengira bahwa dirinya normal, tapi kenapa


teman-temannya menatapnya dengan aneh?


“Penyihir Api pun bisa


terbakar oleh api miliknya sendiri jika tak bisa mengendalikan. Apalagi api


yang berasal dari alam.” Bahkan Meena seperti mengetesnya, seakan


dirinya tengah menyembunyikan sesuatu dari mereka.


“Sungguh? Tapi sejak kecil


tak ada api yang bisa membakarku. Mungkin apiku berbeda.” Kyra tak mau


memikirkannya. Mungkin dia hanya terlalu sensitif. Dia akan menganggap


kekuatannya sebagai keberuntungan. Makhluk apa pun yang ditemuinya tadi, Kyra


berharap mereka bisa bertemu kembali.


***


Setelah tiba di Gedung


Serikat Petualang, Bara langsung pergi melapor dengan Martin. Ketiga orang


tersisa menunggu sambil makan. Tiba-tiba saja, Meena memukul meja meminta


perhatian.


“Sekarang pengganggu sudah


pergi. Jujur saja, akui rahasia kalian berdua!” Dia sudah begitu bersabar saat


menjalankan misi dan di perjalanan pulang. Sekarang tak ada Bara yang


mengganggu. Akan Meena buat Soli dan Kyra mengakui siapa sebenarnya mereka.


“Rahasia apa sih?” Kyra


tak paham. Dia pikir Meena sedang memainkan sesuatu. Sedangkan Soli memilih


untuk bungkam dulu, menilai keadaan setelah melihat reaksi Kyra sebelum


mengucapkan sesuatu.


“Nggak usah pura-pura


bodoh, Kyra. Kita, kan teman. Kenapa tak bisa percaya padaku?” Meena semakin


mengotot, memaksa Kyra agar terbuka padanya. Dengan begitu, ia pun akan bisa


mengumpulkan keberanian mengakui rahasianya.


“Aku selalu percaya


padamu, tapi aku benar-benar tak mengerti maksudmu, Meena.” Sayangnya Kyra


sudah mengungkapnya dengan jujur, dia begitu bingung. Apa yang sebenarnya Meena


bicarakan dengannya.


Tatapan Kyra seperti anak


tersesat, memohon kepercayaan darinya dengan ekspresi wajah kebingungan. Meena


jadi merasa dirinya jahat pada Kyra. Padahal dia hanya ingin mereka terbuka


satu sama lainnya.


“Lalu siapa yang kautemui


di gunung apa itu? Bau api yang kuat itu sama sekali tak bisa kau sembunyikan.”

__ADS_1


Hidung Meena tak bisa dikelabui. Dia sudah begitu terganggu sejak kemarin. Bau


tubuh Phoenix yang sengaja ditinggalkan pada Kyra seperti tengah mengintimidasi


orang-orang agar tidak mendekati Kyra.


“Kau bisa mencium baunya?


Burung api itu besar sekali! Aku berdiri saja hanya setinggi dadanya!” Dan


tingkah Kyra sangat berlawan dengan prediksi Meena. Setelah tak pura-pura tak


paham, sekarang malah menceritakan pertemuannya dengan sang Phoenix.


“Dia bisa bicara! Api kami


juga selaras sekali, tapi dia tak mau mengenalkan dirinya. Dia bilang aku harus


berusaha mengingatnya sendiri.” Ekspresi wajah Kyra berubah-ubah. Dari senang,


bingung, sedih dan menjadi kesal.


“Kupikir itu burung api berumur


ratusan tahun! Makanya tumbuh besar begitu.” Phoenix Kyra samakan dengan jenis


burung api biasa yang bisa ditemukan sepanjang tahun di dekat tambang batu


mana.


Meena jadi sakit kepala.


Dia merasa bodoh berpikir bila anak polos seperti Kyra sengaja menyembunyikan


sesuatu darinya. Kyra pastilah benar-benar tak tahu apa-apa. Dia hanya tidak


beruntung, terikat dengan binatang mistik tanpa menyadarinya.


“Kyra, itu adalah Phoenix.


Bukan burung api biasa.” Kyra terdiam, mendadak lupa untuk mengoceh. Phoenix


adalah legenda di Nebula, makhluk yang keberadaannya dianggap sebagai Dewa di


kota kelahirannya.


Bila dipikirkan baik-baik,


memang dongeng sebelum tidur di masa kecilnya menceritakan bila Phoenix hidup


di tengah-tengah gunung api di sebelah utara Nebula. Kenapa dia bisa begitu


bodoh, sampai tidak menyadarinya?


“Apa dia melakukan sesuatu


padamu?” Karena tingkah Kyra aneh, Meena bertanya. Gadis api itu menggeleng.


“Kami hanya mengobrol. Dia


berbicara seakan kami saling kenal, memintaku untuk menjadi kuat dan


mengingatnya, lalu kembali lagi ke gunung itu. Setelah itu dia menghilang.”


Kyra termenung sesaat. Dia memang lupa akan pertemuan yang dibicarakan oleh


sang Phoenix, tapi dia ingat sensasi saat menyentuh tubuh besar dipenuhi oleh


energi itu. Rasanya seperti, burung itulah yang dia kejar seumur hidupnya.


“Jadi kau bukannya tak


sadar, tapi melupakannya. Sekarang aku paham.” Suara Bara membuat Kyra


tersentak kaget. Refleks ia berbalik, menemukan Bara seorang diri berdiri di belakangnya.


“Di mana Martin dan kenapa


kau berbicara seakan tahu segalanya?” Kyra mulai merasa aneh, reaksi


teman-temannya menunjukkan seakan mereka semua lebih tahu daripada dia.


“Martin sedang memilih


misi dengan regu lain. Kupikir sudah saatnya kita membicarakannya semuanya secara


siapa dirimu.” Bara sudah menguping dari tadi. Telinganya cukup peka untuk bisa


menangkap suara dari jauh. Dia sengaja membiarkan Meena mencari tahu, baru


kemudian mengambil keputusan ini.


“Sudah kuduga, kau tahu dia


suruhan Nakula dan masih membiarkannya bergabung. Elf tua sialan! Rasakan ini!”


Mengamuklah Meena, melampiaskan segala kekesalannya pada Bara dengan pukulan


brutal.


“Kau boleh marah kalau kau


dan Kyra sudah bisa melindungi diri kalian sendiri.” Ujung-ujungnya Meena


ditangkap lagi oleh Bara, diangkut paksa, dibawa keluar.


“Apa kaitannya denganku?”


Kyra segera menyusul, diikuti oleh Soli.


Mereka pindah ke rumah


Meena. Barulah setelah itu, Bara menjabarkan semuanya dengan jelas. Memastikan


bila tak ada satu pun dari mereka berempat yang menyimpan rahasia.


Meena merajuk setelah itu.


Kyra bengong sulit menerima kenyataan dan Soli kebingungan. Pria itu berkata, “Aku


tak akan kembali ke istana sekalipun kalian tak menyukaiku. Perintah Raja


adalah mutlak.” Dia mungkin akan dianggap menentang perintah jika meninggalkan


Meena dan Kyra hanya karena Meena tak senang akan keberadaannya.


“Siapa yang peduli! Aku tak


suka diawasi!” Gadis mungil itu mengguncang-guncang tangannya, menunjuk wajah


Soli melampiaskan kemarahan.


“Sudah kubilang, katakan


itu setelah kau sanggup menjaga dirimu sendiri. Aku juga tak suka membawanya,


tapi aku tak bisa menjaga kalian berdua seorang diri.” Bara membela Soli.


Selain alasan yang disebutkan di atas, ia pun tak berani melawan perintah Raja.


“Kyra, katakan sesuatu!


Kau juga pasti tak senang diawasi!” Kalah adu mulut dengan Bara, Meena minta


dukungan Kyra.


“Semua itu bohong, kan?


Bagaimana mungkin kita bisa menjadi pengantin makhluk dalam legenda begitu!?”


Detik berikutnya, segala emosi Meena padam. Kyra masih tersangkut di sana,


antara percaya tak percaya.


“Lihat? Si payah ini tak


akan berdaya kalau tak ada yang menjaga. Kau mungkin merasa sanggup melindungi


dirimu sendiri, tapi Kyra membutuhkan perlindungan.” Bara segera memanfaatkan


kesempatan, memastikan agar tak ada lagi pertentangan tak perlu di antara


mereka.


“Aku tak selalu mengawasi


kalian dan melaporkan segalanya pada Yang Mulia. Tugasku hanya memastikan


kalian berdua tidak terbunuh sebelum kekuatan kalian bangkit.” Soli mendukung

__ADS_1


pernyataan Bara. Dia menegaskan, meyakinkan Meena bila tak ada salahnya


membiarkan dia tetap berada di dalam regu.


“Baiklah, tapi jangan


harap aku mau berteman denganmu!”


“Aku mengerti, Yang Mulia


Ratu.”


“Jangan memanggilku


begitu!”


“Tapi – ”


“Tak ada tapi-tapian!”


Akhirnya, masalah Soli dan


Meena teratasi. Biarpun mereka terus beradu mulut tak ada habisnya, tapi


keadaan ini sudah cukup untuk Bara. Masalahnya adalah ... mau sampai kapan Kyra


melarikan diri dari kenyataan?


“Kau mungkin tak bisa


mengingatnya, tapi inilah kenyataan. Angkat kepalamu, hadapilah masalahmu


dengan berani.” Bara duduk di samping Kyra, mengusap kepalanya sembari


memberikan nasihat. Dia mengerti kebingungan anak itu, tapi melarikan diri tak


akan bisa menyelesaikan apa pun.


Kyra menatap mata Bara


sejenak, kemudian ia menundukkan kepalanya. Kedua tangannya terkepal erat.


Berbagai hal yang terjadi belakang ini berputar-putar di benaknya.


“Aku tak akan pernah


mengakuinya. Setidaknya hingga ingatanku kembali. Kumohon bantu aku, Bara! Apa


pun akan kulakukan selama bisa mengembalikan ingatan sepuluh tahun silam!” Dan


akhirnya, inilah yang menjadi keputusan Kyra. Dia tak lagi mencari rahasia dari


kekuatannya, tetapi mencari cara mengembalikan ingatannya.


“Aku ingin membantumu,


tapi mengembalikan ingatan itu rasanya mustahil.” Apa yang membuatnya ingatan


Kyra hilang saja Bara tak tahu, bagaimana mungkin dia mengembalikannya?


“Tidak mustahil, bila kita


bisa menemukan Peri Mimpi.” Di antara kebingungan Kyra dan Bara, Soli menimpali.


Dia pernah mendengarnya, cerita tentang makhluk kecil yang memiliki kekuatan


istimewa untuk menarik jiwa seorang mengelilingi masa lalunya.


“Aku juga pernah


mendengarnya! Katanya Peri Mimpi lahir dari harapan para pejuang yang gugur di


medan perang. Mereka mengabulkan permintaan terakhir para prajurit,


memperlihatkan mimpi berupa ingatan masa bahagia sebagai hadiah perpisahan. Itu


adalah legenda di Perkemahan Centaur!” Meena juga tahu, bahkan begitu


bersemangat ingin mencari sosok dalam cerita itu.


“Jangan idiot. Itu hanya


legenda. Tak ada bukti mereka ada. Lagi pula Perkemahan Centaur adalah batas


terakhir wilayah kerajaan. Peperangan terjadi tak hentinya di sana. Tak akan


kubiarkan kalian pergi ke sana untuk mengejar sesuatu yang tak nyata.” Di lain


pihak, Bara menentang ide mereka. Dia tak mau mengambil risiko terlalu besar


untuk sesuatu yang tidak pasti.


“Naga dan Phoenix juga


legenda, tapi mereka ada. Mungkin Peri Mimpi juga ada.” Bara pura-pura tak


dengar perkataan Kyra. Paksaan Meena saja sudah memusingkan. Jangan sampai anak


ini ikut-ikutan bilang mau pergi.


“Tak ada. Rapat selesai.


Aku akan pergi mengambil misi baru.” Bara memutuskan untuk kabur, berjalan


cepat meninggalkan rumah Meena mengabaikan segala ocehan mereka.


Baru sampai di depan rumah,


Martin memanggilnya dari atas kereta kuda yang melintas. “Bara, ada permintaan


dari Benteng Barat, mereka butuh bantuan untuk mempertahankan benteng. Kalau


kalian belum ambil misi, ikutlah dengan kami!” Ternyata misi yang baru saja


diambil Martin tadi adalah misi yang paling ingin Bara hindari.


“Aku tidak – ”


“Kami ikut! Aku, Kyra,


Soli dan Bara! Masukkan kami ke regu kalian!” Bara berniat menolak, tapi


suaranya kalah keras oleh teriakan Meena yang muncul dari jendela. Si cebol itu


telah seenaknya memasukkan nama mereka ke regu gabungan Martin.


“Oke, sudah kukirim nama


kalian. Cepatlah bersiap, susul kami!”


“Baik! Kita bertemu di


kota Nero nanti malam!”


Martin juga telah mengirim


surat ke Gedung Serikat Petualang. Surat yang terbuat dari gulungan sihir,


begitu sudah dikirim, tak akan bisa dibatalkan hingga sampai ke tangan


penerima.


Bara menatap Meena begitu


sinis, Benteng Barat hanya berjarak lima kilometer dari Perkemahan Centaur.


Menerima misi ini sama saja dengan membuat rencana mencari Peri Mimpi.


“Cepat, Bara. Jangan


merajuk. Kita ada misi penting,” ujar Meena.


“Misi penting apa! Bilang


saja kau mau curi kesempatan pergi ke Perkemahan Centaur!”


“Lalala ... Elf tua marah-marah, Nona Meena yang imut tidak


mendengar.” Tak peduli seberapa kesalnya Bara, Meena tetap berbuat seenaknya.


Menari-nari sambil berkemas, bersenandung tak jelas sengaja membuat Bara makin


emosi.


“Kami pergi berkemas dulu,


sejam lagi kami kembali.” Kalau sudah begini, barulah Kyra pintar. Dia kabur


dengan Soli.

__ADS_1


__ADS_2