
Suara ledakan terdengar
saat Meena sedang berada di dalam kastil bersama dengan Amara dan Kanya. Mereka
segera berlari ke jendela untuk memastikan apa yang terjadi di luar sana.
Seperti dugaan mereka, ledakan itu adalah tanda serangan dari Persekutuan
Kegelapan.
“Sekarang apa yang akan
kalian lakukan? Sekali bertarung, mereka akan segera menyadari kebohongan kalian.”
Selain karena Amara tak bisa bertarung, energi sihir yang ia pantulkan juga
berbeda. Terlebih sihir Amara bertipe cahaya, tak sedikit pun memiliki unsur
air di dalamnya.
“Mereka tak akan tahu
kalau aku bersembunyi di belakang kakakku.” Kanya punya ide. Ia mengubah
tubuhnya menjadi air, masuk ke dalam suatu wadah yang akan disembunyikan di dekat
Amara.
Selama Amara tak bergerak
dari posisinya, maka trik ini tak akan ketahuan. Orang-orang akan berpikir bila
serangan Kanya adalah milik Amara. Begitulah cara mereka menyembunyikan
kenyataan selama ini.
Cara ini mungkin akan
berhasil. Bagaimanapun juga, Meena tak punya pilihan selain bertarung di sisi
kedua wanita itu. “Aku mengerti. Pegang baik-baik wadahnya, akan kubawa kau atas
benteng.” Meena mengeluarkan sayapnya, mengangkut Amara dan Kanya menuju atas
benteng di mana para Penyihir dan Dukun berkumpul untuk mendukung rekan-rekan
mereka yang berada di bawah sana.
“Wuaaa, cepatnya.”
“Tentu saja, aku melatih
sayap ini bertahun-tahun.”
Amara begitu senang. Itu
pertama kalinya ia terbang di atas langit. Baik Amara dan Meena tak memikirkan
apa pun selain cara agar tiba di benteng secepat mungkin.
“Kalian jangan kesenangan
sendiri. Sayap itu bisa memberitahukan pada musuh identitasmu. Segera
sembunyikan.” Kanya menegur Meena. Biarpun kini dia hanyalah berbentuk segelas
air, tapi ia bisa melihat sekeliling mereka.
Setidaknya ada puluhan
petarung di atas Rank A yang menjadi lawan mereka. Para Petualang yang mereka
sewa belum berkumpul semuanya. Di atas benteng memang banyak Penyihir dan Dukun
yang mendukung. Namun di bawah sana, jumlah Prajurit dan Pengembara begitu
sedikit.
Tersadar akan peringatan
Kanya, Meena segera menyembunyikan sayapnya. Ia kemudian berdiri di sisi Amara,
membantu menyembuhkan rekan-rekan mereka yang bertarung di garis depan.
“Aku tak bisa menemukan
Kyra.” Meena mengedarkan pandangannya ke bawah setelah mendengar perkataan
Kanya. Kyra tak ada di atas benteng bersama dengan mereka, tapi ia rasa itu bukan
masalah. Gadis api adalah tipe Penyihir yang bermain di garis depan. Bukan hal
yang aneh bila mereka tak bisa menemukannya di antara Penyihir lain yang selalu
mengambil posisi sejauh mungkin dari musuh.
“Dia mungkin di garis
paling depan dengan Bara,” balas Meena.
“Tak ada. Bara ada di
dekat parit sendirian.” Kanya mulai cemas. Semakin luas area mengawasannya,
semakin besar kecemasannya saat tak bisa menemukan Kyra.
“Soli, tinggalkan
pertarungan! Cari Kyra cepat!” Meena memutuskan untuk mengabaikan tugas,
memanggil Soli yang tengah bertarung tepat di bawahnya.
“Apa yang kaupikirkan,
Meena! Kita kekurangan orang di sini!” Seorang Petualang senior menegur, tapi
Soli dan Meena tak peduli. Pria itu segera berlari memanjat benteng untuk masuk
kembali ke dalam kota.
“Siapa yang bilang kalian
aku perbolehkan pergi!” Di saat itulah, seorang Penyihir dari pihak musuh
menembaknya dengan ledakan api. Soli terpaksa melawannya lebih dulu. Ia
melompat ke arah api itu, memotongnya menjadi dua. Kemudian dia berlari begitu cepat
ke arah Penyihir tersebut. Anehnya, tak peduli seberapa keras Soli menekan
Penyihir itu, dia tetap tak bisa melukainya. Sementara lawannya begitu agresif
membuat ledakan di sana-sini.
“Cih! Lawannya pasti lebih
kuat dari Soli. Dia dipermainkan.” Meena berdecak. Ia ingin menambahkan
kecepatan Soli, tetapi karena Soli terus bergerak, ia jadi tak bisa melepaskan
mantranya secara tepat ke tubuh Soli.
“Akan kubantu dia.” Kanya
mulai bergerak. Mumpung semua orang tengah sibuk, ia rasa tak akan ada yang sadar
bila dia menyerang dengan air pada saat yang sama ketika Amara tengah
menyembuhkan seseorang.
__ADS_1
Sebuah ombak besar datang
dari arah benteng, menerjang beberapa musuh sekaligus. Api Penyihir yang
melawan Soli pun padam, memberi kesempatan padanya untuk melukai pria itu.
Sesaat keadaan terlihat
telah berbalik ketika serangan dari Kanya terus berdatangan. Rekan-rekan mereka
merasa bersemangat, melawan dengan lebih agresif karena berpikir pertarungan
telah mendekati akhir.
Tak ada siapa pun yang
sadar bila tidak semua lawan ikut bertarung. Ada sekumpulan orang yang tengah
melayang di atas langit mengawasi jalannya pertikaian.
“Kalian lihat itu, Tuan
Putri sedang menyembuhkan seseorang saat serangan air datang.”
“Ya, ternyata kecurigaan
kita benar. Pengantinnya adalah adik angkat Tuan Putri. Dia mungkin bersembunyi
di dekat benteng.”
“Sebaiknya kita mundur.
Ada Pengantin Phoenix dalam kelompok ini.” Kelompok yang menyerang Kyra tadi
baru saja bergabung dengan mereka. Si nenek terluka parah. Sedangkan kedua
muridnya hanya diam membopong guru mereka.
“Gadis api yang kalian
cegat?” Komandan yang memimpin serangan menyeringai. Ia sudah merasa curiga saat
mendengar Meena dan Kyra mendekati Amara diam-diam.
“Benar, Tuan. Sudah
kupastikan. Dia tidaklah kuat, tetapi ada sedikit jiwa Phoenix yang tinggal di
tubuhnya sebagai penjaga.”
“Kita sungguh beruntung.
Ada tiga pengantin di tempat ini. Suruh anak-anak mundur. Kita kembali lagi
setelah mengumpulkan kekuatan.”
“Tiga, maksud Tuan!?”
Sekelompok orang itu terkejut. Organisasi mereka telah memburu pengantin
binatang mistik sejak didirikan. Sangat jarang sekali mereka bisa menemukannya,
dan kini muncul begitu banyak seakan minta ditangkap.
“Lihat baik-baik gadis
kecil di samping Tuan Putri. Dia pandai menyembunyikan kekuatan dan baunya,
tapi dia lupa bila sayapnya merupakan bagian yang terelakkan.”
“Kalau begitu tunggu
apalagi. Jangan mundur, kita tangkap mereka sekarang!” Seseorang di antara
mereka tak mendengarkan. Dia nekat menyerang ke arah Meena.
“Karan, kembali!” Sang
“HAHA! Aku mendapatmu!”
Karan telah sampai di samping Meena. Pedangnya berada di leher Meena, menggores
kulit si gadis mungil.
“Lepaskan dia! Akulah yang
kalian incar!” Amara begitu kaget, refleks berbalik memasang kuda-kuda seperti ingin
menyerang.
“Kami tak butuh pengantin
palsu. Gadis ini dan adikmu yang kami inginkan.” Karan tertawa keras-keras
membongkar segalanya hingga membuat orang-orang mulai kebingungan.
Amara sendiri tak bisa
berkata-kata. Dia tak menyangka bila mereka akan ketahuan secepat ini. Bila ia
mengaku, kepercayaan orang-orang padanya akan hilang. Dan lebih buruk lagi,
Kanya yang akan disalahkan.
“Tuan, mereka mulai panik.
Haruskah kita menyerang?” Di atas sana, pihak lawan juga tengah bingung.
Keadaan kacau di pihak lawannya bisa jadi kesempatan. Mungkin bila mereka
nekat, setidaknya mereka bisa menangkap dua pengantin saat ini.
“Baiklah. Kita menyerang.”
Dengan perintah itu, orang-orang yang menyembunyikan dirinya muncul.
“Musuhnya bertambah!
Pertahankan benteng!” Seruan dari Petualang menggema, menggantikan posisi Amara
sebagai pemimpin. Amara jadi paham. Tak ada gunanya lagi berbohong, sudah tak
ada yang mau mendengarkannya.
“Lepaskan Meena!” Di saat
itulah, Kyra kembali pada mereka. Ia melompat naik ke atas benteng dari sisi
dalam. Langsung menyerang Karan menggunakan cambuk api. Meena terlepas dari
cengkeraman Karan, jatuh ke bawah benteng sisi luar.
“Meena!”
“Aku baik-baik saja!”
Terpaksa Meena menunjukkan
sayapnya. Lagi pula mereka sudah ketahuan. Ia terbang kembali ke atas,
mengambil posisi di samping Kyra.
Karan tertawa makin
senang. Mau satu atau dua tak masalah, toh lawannya lemah. “Kalian
cantik-cantik sekali, tapi sayang kecantikan bukan sesuatu yang abadi. Aku
sudah tak sabar membunuh dan mencuri kekuatan binatang mistik dalam jantung kalian.”
__ADS_1
“Jangan jadi idiot.
Memakan jantung kami tak akan memberimu kekuatan apa pun. Kekuatan binatang
mistik hanya bisa diberi dan diambil kembali oleh mereka.”
“Apa itu benar?” Kanya memunculkan
dirinya. Bila memang tak ada yang bisa mencuri kekuatannya setelah ia mati,
maka tak ada yang perlu Kanya takutkan lagi. Ia tak akan membuat musuh lebih kuat
apa pun yang mereka lakukan padanya.
“Naga genit itu yang
memberitahukannya padaku.” Tak mungkin salah. Segala isu yang beredar berasal
dari manusia yang hidup di zaman dulu, dipercayai hingga saat ini. Orang-orang
tak pernah berhenti memburu pengantin binatang mistik. Percaya akan cerita lama
tanpa pernah membuktikan kebenarannya.
“Kalau begitu aku akan
bertarung bersama denganmu.” Kanya percaya pada Meena. Kini ia telah
memunculkan tubuhnya sepenuhnya, berdiri di sisi Meena dan Kyra.
“Jangan kau kira akan ada
yang percaya kebohonganmu! Kau berbicara begitu hanya karena takut mati!” Musuh
mereka tak percaya dan memang selalu seperti ini. Makanya pemburuan tak pernah
berakhir. Karena manusia memercayai apa yang ingin mereka percayai daripada
kebenaran yang ada.
“Cobalah kalau bisa
membunuhku!” Meena jadi emosi. Ia mengeluarkan seluruh kekuatan yang ia tahan
selama ini. Luka-luka Kyra sembuh seketika. Mana dan staminanya juga kembali
seperti sebelum ia bertarung. Sedangkan kekuatan Kanya bertambah sebanyak 30%.
“Fufufu! Serangan dia!” Si
cebol tertawa aneh, memerintah Kyra dan Kanya.
Kyra tertawa saja, sudah
biasa melihat keanehan Meena. Sedangkan Kanya acuh tak acuh. Ia lebih fokus
pada lawannya saat ini. Karan yang mereka lawan tampaknya merupakan kelas
Pembunuh. Gerakannya begitu cepat. Setiap serangan yang Kanya lontarkan
berhasil dielaki. Cambuk Kyra juga tak bisa menangkapnya, selalu lolos tiap
kami hampir menyentuh kakinya.
Ketika Kyra memutuskan
untuk menyerang dari dekat, Kanya menariknya untuk mundur. “Jangan terlalu
dekat dengannya, seranganku akan mengenaimu juga!”
“Tapi kalau menyerang dari
jauh, seranganku akan menelan airmu.” Betapa buruknya kombinasi mereka. Sihir
tipe air dan api dengan tingkat yang sama adalah kombinasi terburuk dari segala
bentuk serangan.
“Tak usah dipikirkan.
Serang saja dari arah berlawanan!”
“Serahkan padaku!”
Kedua gadis muda itu tak
peduli biarpun sadar ketidakcocokan tipe sihir mereka bisa melemahkan serangan.
Kepolosan dan serangan tak terorganisir itu perlahan membuat Meena ragu.
“Harusnya aku tak menyuruh
mereka menyerang bersama,” ujar Meena.
“Kurasa juga begitu.”
Amara sependapat.
“Baiklah.” Meena sudah
memutuskan. Ia menggunakan angin untuk menangkap Kyra, kemudian melemparkan
gadis api ke area pertarungan di bawah sana.
“Bara, kuserahkan Kyra
padamu!” Setelah sudah dilemparkan, barulah ia memerintah.
“Jangan lempar Kyra
seenaknya, cebol! Sebaiknya kau serius! Jangan sampai tertangkap!” Bara
marah-marah, meskipun sebenarnya Kyra sudah ia tangkap.
“Bawel!” Meena memeletkan
lidah, kemudian terbang di atas Kanya.
“Temanmu sendiri kaulempar?”
Kanya tercengang. Tindakan Meena memang selalu sulit diprediksi.
“Begini lebih bagus. Aku
yang akan bertarung bersama denganmu. Serahkan pertahanan padaku. Kau fokuslah
menyerang.” Biar hanya beberapa jurus, setidaknya kemampuan bertahan Meena
terlatih dengan baik.
“Mau dengan siapa sama
saja!” Karan mendekati mereka, menebas pedangnya ke arah Kanya. Namun, perisai
angin Meena berhasil mementalkan tebasan tersebut. Karan bahkan termundur
beberapa langkah ke belakang.
Tentunya Kanya bisa
memanfaatkan kesempatan dengan baik. Ia melemparkan ratusan tombak es dari
berbagai arah. Menancap ke seluruh tubuh lawannya hingga tewas.
Pertarungan singkat itu
berakhir, tetapi peperangan sebenarnya baru saja dimulai. Jumlah mereka jelas
kalah total dari musuhnya. Hanya dengan melihatnya saja, para gadis kecil sadar
__ADS_1
bahwa akan ada banyak yang tewas di pihak mereka.