Phoenix Bride

Phoenix Bride
Episode 24


__ADS_3

Suara ledakan terdengar


saat Meena sedang berada di dalam kastil bersama dengan Amara dan Kanya. Mereka


segera berlari ke jendela untuk memastikan apa yang terjadi di luar sana.


Seperti dugaan mereka, ledakan itu adalah tanda serangan dari Persekutuan


Kegelapan.


“Sekarang apa yang akan


kalian lakukan? Sekali bertarung, mereka akan segera menyadari kebohongan kalian.”


Selain karena Amara tak bisa bertarung, energi sihir yang ia pantulkan juga


berbeda. Terlebih sihir Amara bertipe cahaya, tak sedikit pun memiliki unsur


air di dalamnya.


“Mereka tak akan tahu


kalau aku bersembunyi di belakang kakakku.” Kanya punya ide. Ia mengubah


tubuhnya menjadi air, masuk ke dalam suatu wadah yang akan disembunyikan di dekat


Amara.


Selama Amara tak bergerak


dari posisinya, maka trik ini tak akan ketahuan. Orang-orang akan berpikir bila


serangan Kanya adalah milik Amara. Begitulah cara mereka menyembunyikan


kenyataan selama ini.


Cara ini mungkin akan


berhasil. Bagaimanapun juga, Meena tak punya pilihan selain bertarung di sisi


kedua wanita itu. “Aku mengerti. Pegang baik-baik wadahnya, akan kubawa kau atas


benteng.” Meena mengeluarkan sayapnya, mengangkut Amara dan Kanya menuju atas


benteng di mana para Penyihir dan Dukun berkumpul untuk mendukung rekan-rekan


mereka yang berada di bawah sana.


“Wuaaa, cepatnya.”


“Tentu saja, aku melatih


sayap ini bertahun-tahun.”


Amara begitu senang. Itu


pertama kalinya ia terbang di atas langit. Baik Amara dan Meena tak memikirkan


apa pun selain cara agar tiba di benteng secepat mungkin.


“Kalian jangan kesenangan


sendiri. Sayap itu bisa memberitahukan pada musuh identitasmu. Segera


sembunyikan.” Kanya menegur Meena. Biarpun kini dia hanyalah berbentuk segelas


air, tapi ia bisa melihat sekeliling mereka.


Setidaknya ada puluhan


petarung di atas Rank A yang menjadi lawan mereka. Para Petualang yang mereka


sewa belum berkumpul semuanya. Di atas benteng memang banyak Penyihir dan Dukun


yang mendukung. Namun di bawah sana, jumlah Prajurit dan Pengembara begitu


sedikit.


Tersadar akan peringatan


Kanya, Meena segera menyembunyikan sayapnya. Ia kemudian berdiri di sisi Amara,


membantu menyembuhkan rekan-rekan mereka yang bertarung di garis depan.


“Aku tak bisa menemukan


Kyra.” Meena mengedarkan pandangannya ke bawah setelah mendengar perkataan


Kanya. Kyra tak ada di atas benteng bersama dengan mereka, tapi ia rasa itu bukan


masalah. Gadis api adalah tipe Penyihir yang bermain di garis depan. Bukan hal


yang aneh bila mereka tak bisa menemukannya di antara Penyihir lain yang selalu


mengambil posisi sejauh mungkin dari musuh.


“Dia mungkin di garis


paling depan dengan Bara,” balas Meena.


“Tak ada. Bara ada di


dekat parit sendirian.” Kanya mulai cemas. Semakin luas area mengawasannya,


semakin besar kecemasannya saat tak bisa menemukan Kyra.


“Soli, tinggalkan


pertarungan! Cari Kyra cepat!” Meena memutuskan untuk mengabaikan tugas,


memanggil Soli yang tengah bertarung tepat di bawahnya.


“Apa yang kaupikirkan,


Meena! Kita kekurangan orang di sini!” Seorang Petualang senior menegur, tapi


Soli dan Meena tak peduli. Pria itu segera berlari memanjat benteng untuk masuk


kembali ke dalam kota.


“Siapa yang bilang kalian


aku perbolehkan pergi!” Di saat itulah, seorang Penyihir dari pihak musuh


menembaknya dengan ledakan api. Soli terpaksa melawannya lebih dulu. Ia


melompat ke arah api itu, memotongnya menjadi dua. Kemudian dia berlari begitu cepat


ke arah Penyihir tersebut. Anehnya, tak peduli seberapa keras Soli menekan


Penyihir itu, dia tetap tak bisa melukainya. Sementara lawannya begitu agresif


membuat ledakan di sana-sini.


“Cih! Lawannya pasti lebih


kuat dari Soli. Dia dipermainkan.” Meena berdecak. Ia ingin menambahkan


kecepatan Soli, tetapi karena Soli terus bergerak, ia jadi tak bisa melepaskan


mantranya secara tepat ke tubuh Soli.


“Akan kubantu dia.” Kanya


mulai bergerak. Mumpung semua orang tengah sibuk, ia rasa tak akan ada yang sadar


bila dia menyerang dengan air pada saat yang sama ketika Amara tengah


menyembuhkan seseorang.

__ADS_1


Sebuah ombak besar datang


dari arah benteng, menerjang beberapa musuh sekaligus. Api Penyihir yang


melawan Soli pun padam, memberi kesempatan padanya untuk melukai pria itu.


Sesaat keadaan terlihat


telah berbalik ketika serangan dari Kanya terus berdatangan. Rekan-rekan mereka


merasa bersemangat, melawan dengan lebih agresif karena berpikir pertarungan


telah mendekati akhir.


Tak ada siapa pun yang


sadar bila tidak semua lawan ikut bertarung. Ada sekumpulan orang yang tengah


melayang di atas langit mengawasi jalannya pertikaian.


“Kalian lihat itu, Tuan


Putri sedang menyembuhkan seseorang saat serangan air datang.”


“Ya, ternyata kecurigaan


kita benar. Pengantinnya adalah adik angkat Tuan Putri. Dia mungkin bersembunyi


di dekat benteng.”


“Sebaiknya kita mundur.


Ada Pengantin Phoenix dalam kelompok ini.” Kelompok yang menyerang Kyra tadi


baru saja bergabung dengan mereka. Si nenek terluka parah. Sedangkan kedua


muridnya hanya diam membopong guru mereka.


“Gadis api yang kalian


cegat?” Komandan yang memimpin serangan menyeringai. Ia sudah merasa curiga saat


mendengar Meena dan Kyra mendekati Amara diam-diam.


“Benar, Tuan. Sudah


kupastikan. Dia tidaklah kuat, tetapi ada sedikit jiwa Phoenix yang tinggal di


tubuhnya sebagai penjaga.”


“Kita sungguh beruntung.


Ada tiga pengantin di tempat ini. Suruh anak-anak mundur. Kita kembali lagi


setelah mengumpulkan kekuatan.”


“Tiga, maksud Tuan!?”


Sekelompok orang itu terkejut. Organisasi mereka telah memburu pengantin


binatang mistik sejak didirikan. Sangat jarang sekali mereka bisa menemukannya,


dan kini muncul begitu banyak seakan minta ditangkap.


“Lihat baik-baik gadis


kecil di samping Tuan Putri. Dia pandai menyembunyikan kekuatan dan baunya,


tapi dia lupa bila sayapnya merupakan bagian yang terelakkan.”


“Kalau begitu tunggu


apalagi. Jangan mundur, kita tangkap mereka sekarang!” Seseorang di antara


mereka tak mendengarkan. Dia nekat menyerang ke arah Meena.


“Karan, kembali!” Sang


“HAHA! Aku mendapatmu!”


Karan telah sampai di samping Meena. Pedangnya berada di leher Meena, menggores


kulit si gadis mungil.


“Lepaskan dia! Akulah yang


kalian incar!” Amara begitu kaget, refleks berbalik memasang kuda-kuda seperti ingin


menyerang.


“Kami tak butuh pengantin


palsu. Gadis ini dan adikmu yang kami inginkan.” Karan tertawa keras-keras


membongkar segalanya hingga membuat orang-orang mulai kebingungan.


Amara sendiri tak bisa


berkata-kata. Dia tak menyangka bila mereka akan ketahuan secepat ini. Bila ia


mengaku, kepercayaan orang-orang padanya akan hilang. Dan lebih buruk lagi,


Kanya yang akan disalahkan.


“Tuan, mereka mulai panik.


Haruskah kita menyerang?” Di atas sana, pihak lawan juga tengah bingung.


Keadaan kacau di pihak lawannya bisa jadi kesempatan. Mungkin bila mereka


nekat, setidaknya mereka bisa menangkap dua pengantin saat ini.


“Baiklah. Kita menyerang.”


Dengan perintah itu, orang-orang yang menyembunyikan dirinya muncul.


“Musuhnya bertambah!


Pertahankan benteng!” Seruan dari Petualang menggema, menggantikan posisi Amara


sebagai pemimpin. Amara jadi paham. Tak ada gunanya lagi berbohong, sudah tak


ada yang mau mendengarkannya.


“Lepaskan Meena!” Di saat


itulah, Kyra kembali pada mereka. Ia melompat naik ke atas benteng dari sisi


dalam. Langsung menyerang Karan menggunakan cambuk api. Meena terlepas dari


cengkeraman Karan, jatuh ke bawah benteng sisi luar.


“Meena!”


“Aku baik-baik saja!”


Terpaksa Meena menunjukkan


sayapnya. Lagi pula mereka sudah ketahuan. Ia terbang kembali ke atas,


mengambil posisi di samping Kyra.


Karan tertawa makin


senang. Mau satu atau dua tak masalah, toh lawannya lemah. “Kalian


cantik-cantik sekali, tapi sayang kecantikan bukan sesuatu yang abadi. Aku


sudah tak sabar membunuh dan mencuri kekuatan binatang mistik dalam jantung kalian.”

__ADS_1


“Jangan jadi idiot.


Memakan jantung kami tak akan memberimu kekuatan apa pun. Kekuatan binatang


mistik hanya bisa diberi dan diambil kembali oleh mereka.”


“Apa itu benar?” Kanya memunculkan


dirinya. Bila memang tak ada yang bisa mencuri kekuatannya setelah ia mati,


maka tak ada yang perlu Kanya takutkan lagi. Ia tak akan membuat musuh lebih kuat


apa pun yang mereka lakukan padanya.


“Naga genit itu yang


memberitahukannya padaku.” Tak mungkin salah. Segala isu yang beredar berasal


dari manusia yang hidup di zaman dulu, dipercayai hingga saat ini. Orang-orang


tak pernah berhenti memburu pengantin binatang mistik. Percaya akan cerita lama


tanpa pernah membuktikan kebenarannya.


“Kalau begitu aku akan


bertarung bersama denganmu.” Kanya percaya pada Meena. Kini ia telah


memunculkan tubuhnya sepenuhnya, berdiri di sisi Meena dan Kyra.


“Jangan kau kira akan ada


yang percaya kebohonganmu! Kau berbicara begitu hanya karena takut mati!” Musuh


mereka tak percaya dan memang selalu seperti ini. Makanya pemburuan tak pernah


berakhir. Karena manusia memercayai apa yang ingin mereka percayai daripada


kebenaran yang ada.


“Cobalah kalau bisa


membunuhku!” Meena jadi emosi. Ia mengeluarkan seluruh kekuatan yang ia tahan


selama ini. Luka-luka Kyra sembuh seketika. Mana dan staminanya juga kembali


seperti sebelum ia bertarung. Sedangkan kekuatan Kanya bertambah sebanyak 30%.


“Fufufu! Serangan dia!” Si


cebol tertawa aneh, memerintah Kyra dan Kanya.


Kyra tertawa saja, sudah


biasa melihat keanehan Meena. Sedangkan Kanya acuh tak acuh. Ia lebih fokus


pada lawannya saat ini. Karan yang mereka lawan tampaknya merupakan kelas


Pembunuh. Gerakannya begitu cepat. Setiap serangan yang Kanya lontarkan


berhasil dielaki. Cambuk Kyra juga tak bisa menangkapnya, selalu lolos tiap


kami hampir menyentuh kakinya.


Ketika Kyra memutuskan


untuk menyerang dari dekat, Kanya menariknya untuk mundur. “Jangan terlalu


dekat dengannya, seranganku akan mengenaimu juga!”


“Tapi kalau menyerang dari


jauh, seranganku akan menelan airmu.” Betapa buruknya kombinasi mereka. Sihir


tipe air dan api dengan tingkat yang sama adalah kombinasi terburuk dari segala


bentuk serangan.


“Tak usah dipikirkan.


Serang saja dari arah berlawanan!”


“Serahkan padaku!”


Kedua gadis muda itu tak


peduli biarpun sadar ketidakcocokan tipe sihir mereka bisa melemahkan serangan.


Kepolosan dan serangan tak terorganisir itu perlahan membuat Meena ragu.


“Harusnya aku tak menyuruh


mereka menyerang bersama,” ujar Meena.


“Kurasa juga begitu.”


Amara sependapat.


“Baiklah.” Meena sudah


memutuskan. Ia menggunakan angin untuk menangkap Kyra, kemudian melemparkan


gadis api ke area pertarungan di bawah sana.


“Bara, kuserahkan Kyra


padamu!” Setelah sudah dilemparkan, barulah ia memerintah.


“Jangan lempar Kyra


seenaknya, cebol! Sebaiknya kau serius! Jangan sampai tertangkap!” Bara


marah-marah, meskipun sebenarnya Kyra sudah ia tangkap.


“Bawel!” Meena memeletkan


lidah, kemudian terbang di atas Kanya.


“Temanmu sendiri kaulempar?”


Kanya tercengang. Tindakan Meena memang selalu sulit diprediksi.


“Begini lebih bagus. Aku


yang akan bertarung bersama denganmu. Serahkan pertahanan padaku. Kau fokuslah


menyerang.” Biar hanya beberapa jurus, setidaknya kemampuan bertahan Meena


terlatih dengan baik.


“Mau dengan siapa sama


saja!” Karan mendekati mereka, menebas pedangnya ke arah Kanya. Namun, perisai


angin Meena berhasil mementalkan tebasan tersebut. Karan bahkan termundur


beberapa langkah ke belakang.


Tentunya Kanya bisa


memanfaatkan kesempatan dengan baik. Ia melemparkan ratusan tombak es dari


berbagai arah. Menancap ke seluruh tubuh lawannya hingga tewas.


Pertarungan singkat itu


berakhir, tetapi peperangan sebenarnya baru saja dimulai. Jumlah mereka jelas


kalah total dari musuhnya. Hanya dengan melihatnya saja, para gadis kecil sadar

__ADS_1


bahwa akan ada banyak yang tewas di pihak mereka.


__ADS_2