
Bara dan Kyra telah
kembali ke tempat Kyra bertemu dengan para Treant. Seperti dugaan Bara, mereka
akan memunculkan diri saat dia dan Kyra datang mencari mereka. Pohon-pohon itu
mengelilingi Kyra dan Bara seperti membuat sangkar burung dengan sedikit celah
yang tak bisa dilewati oleh tubuh mereka.
Salah satu Treant yang
terlihat lebih besar dan tua, menunduk menatap mata Kyra. Dialah yang
sebelumnya memberi gadis api itu sebuah peringatan. Tatapannya begitu kuat,
seakan mampu menembus pikiran dan membaca niat dalam hati Kyra. Namun, tak ada
rasa tak nyaman yang Kyra rasakan. Makhluk ini memang layak dianggap spesial.
Karena kemurnian kekuatan jiwa dan aura mereka dapat menghapus rasa tak tak
tenang.
“Aku sudah melihat apa
yang ingin kalian tunjukkan padaku. Dan setelah itu pun, aku tetap percaya pada
temanku, Bara. Mereka memang Elf Salju. Namun, sama seperti halnya manusia, Elf
Salju juga ada yang baik dan jahat.”
Kyra menegaskan pada
mereka, bila Bara benar-benar tidak sama dengan Anata dan Bastian. Dia ingin
para Treant tidak menghakimi dari ras, melainkan melihat hati seseorang secara objektif.
“Jadi kamu ingin berkata
bila temanmu ini tidak ada kaitannya sama sekali dengan mereka?” Ketika
bertanya pada Kyra, arah pandangan Treant itu tertuju pada Bara. Tak ada niat
jahat ataupun kebencian dalam tatapannya. Hanya rasa curiga dan waspada yang
Bara rasakan. Maka dari itu, Bara merasa perlu untuk menegaskan diri. Tak perlu
menyimpan rahasia maupun berhati-hati pada mereka. Bangsa Treant yang merupakan
korban atas pertikaian keluarganya.
“Aku tidak akan berkata
tidak mengenal mereka. Mereka adalah sepupuku, pemberontak dari bangsaku.” Bara
mengakui hubungannya dengan Anata dan Bastian. Karena dia ingin bangsa Treant
memercayakan urusan kedua sepupunya itu padanya.
Bammm!
Tanah berguncang hanya
karena satu hentakan dari sang Treant. Akar pohon yang besar dan kokoh itu bisa
menahan beratnya, sekaligus bisa menghancurkan pijakan saat ia memutuskan untuk
bergerak. Kyra dan Bara sampai kehilangan keseimbangan. Mereka teroleng, nyaris
jatuh jika saja keduanya tidak segera saling perpegangan untuk memperbaiki
keseimbangan.
“Kumohon, dengarkan
penjelasan Bara dulu! Mereka memang sepupunya, tapi bukan berarti Bara akan
membela atau menolong mereka!” Kyra berteriak, mencoba meyakinkan sang pohon
raksasa agar mau memberi Bara kesempatan untuk menjelaskan. Bara memang tak
berkata banyak, tapi Kyra sudah bisa menebak apa yang Elf itu inginkan.
“Jadi kau meminta kami
menutup mata dan membiarkan kalian pergi begitu saja?”
Ada tekanan kuat dalam
suara berat yang dikeluarkan oleh sang Treant. Kyra sampai tertekan secara
mental. Suaranya tak keluar, tertahan di tenggorokkan. Ia hanya diam, menatap
lawan bicaranya tanpa kedip. Bara yang berada di sampingnya, meremas lengan
Kyra sembari menarik gadis api itu mundur ke belakangnya.
“Yang kuinginkan adalah
izin untuk membereskan mereka sendiri. Aku bersumpah, menghukum atau membunuh mereka,
akan kulakukan dengan tanganku sendiri. Aku tidak akan meminta bantuan kalian.
Yang kuminta hanyalah informasi yang kalian ketahui.”
Sang Elf begitu berwibawa
dan tegas. Keteguhan dan semangat hatinya yang kokoh itu, menyolidkan keraguan
bangsa Treant. Para pohon berbisik dengan gerakan daun yang khas, tampak bagai
__ADS_1
tarian dedaunan musim gugur yang menghangatkan hati. Mereka tengah berdiskusi,
mencari keputusan bulat untuk percaya atau tidak pada Bara.
Beberapa pohon yang dari
tadi diam, menatap Kyra dan Bara penuh intimidasi seakan tengah menguji mereka.
Saat dirasa kedua anak muda itu layak untuk dipercayai, mereka mengendurkan
kewaspadaan.
“Baik. Kami setuju, tapi
sebagai syaratnya ... kalian tidak akan kami biarkan keluar dari hutan ini
selama mereka masih ada di sini. Bawa mereka pergi bersama dengan kalian atau
binasakan mereka semua,” ujar sang Treant.
Bara mengangguk sekali.
“Aku mengerti,” jawabnya.
Pohon raksasa itu beserta
teman-temannya, kembali memendamkan akar mereka ke dalam tanah. Sekilas lihat,
mereka tampak seperti pohon raksasa biasa. Namun, saat mereka sengaja
mengeluarkan kekuatan dan menunjukkan wajahnya, Kyra akan tahu bila mereka
berbeda.
“Terima kasih sudah
bersedia memberikan Bara kesempatan.” Kyra tersenyum tulus. Tak ada rasa takut
maupun marah setelah menerima perlakuan tidak ramah dari para Treant. Ia bersyukur,
bila ternyata ada jalan keluar damai seperti ini.
Kelembutan hati Kyra
menggugah nurani sang Treant. Ia yang awalnya hanya ingin pergi setelah
memberikan Bara informasi, memutuskan untuk memberikan Kyra sebuah berkah.
Ujung daun dari batang kecil sang Treant mendekat ke kening Kyra, menyentuh
dengan pelan meninggalkan tanda samar di atas permukaan gadis api. Kyra
tertegun, merasakan aliran kekuatan sejuk yang masuk ke dalam tubuhnya. Penglihatannya
menjadi lebih jelas dan kepekaan pada kekuatan lain yang berada di dekatnya
menjadi menguat.
“Apa ini? Apa yang terjadi
“Itu adalah berkah bangsa
Treant, Kyra,” jawab Bara, memberitahukan pada Kyra. Setahunya berkah bangsa
Treant tak mudah diberikan berkah mereka. Hanya orang yang mereka akui dan
dihargai yang memperolehnya.
Kyra begitu terkejut. Ia
merasa senang, tapi juga bingung. Bara yang membuat perjanjian dengan mereka,
tapi kenapa dia yang tidak berbuat apa-apa, justru diberikan sesuatu yang
spesial seperti ini.
“Apa tak apa-apa diberikan
padaku?”
“Kuberikan padamu, maka
kamu pantas memilikinya. Dengan itu, menemukan burung api biru akan lebih
mudah.”
“Kalian tahu apa yang
kucari?”
Sang Treant hanya mengulas
senyuman misterius. Mereka tahu segalanya yang terjadi di dunia ini. Akar
mereka memanjang ke dalam tanah, terhubung pada saudara-saudaranya yang berada
di dataran lain. Jika mereka ingin mengetahui tentang seseorang, maka akan
mudah untuk mengetahuinya.
“Selesaikan urusan kalian
dengan Elf dan Undead itu. Kemudian cari dan hancurkan semua altar yang mereka
bangun. Dengan mengikuti pola ini, kalian akan menemukan titik temu dengan apa
yang kalian cari.” Daripada memberikan Kyra jawaban yang pasti, mereka lebih
senang menguji pemikiran Kyra layaknya orang tua yang ingin melihat anaknya
tumbuh perlahan mengumpulkan pengalaman hidup.
__ADS_1
“Sekarang, kembali ke
tujuan awal. Dengarkan baik-baik, Bara.” Setelah itu, sang Treant segera
mengalihkan pembicaraan. Kyra sedikit tak puas, tapi ia tak bisa memaksakan
keinginan. Sudah bagus mereka mau ditolong, tak sepatutnya mereka jadi tak tahu
diri ingin meminta terlalu banyak.
“Tentu. Beri tahu semua
yang kalian ketahui,” balas Bara.
Singkat cerita, Anata dan
Bastian memimpin sejumlah Undead untuk menginvasi wilayah bangsa-bangsa lain
bukan tanpa alasan. Mereka tengah membangun altar dengan posisi tertentu dengan
tujuan membangun sebuah formasi khusus.
Formasi yang berfondasikan
puluhan altar batu tersebut dipercaya dapat mengacaukan aliran sihir bumi dan
menutupi langit dengan kegelapan abadi. Undead yang selama ini jumlahnya terbatas,
akan menjadi tak berbatas dan mendominasi dunia.
Untuk menghentikan semua
itu, berbagai bangsa di ketiga kerajaan besar telah mengorbankan banyak hal.
Namun tetap saja, mereka runtuh dan musuhnya terus melanjutkan pembangunan
hingga saat ini. Satu-satunya alasan kenapa pembangunan itu tak pernah selesai
hanya karena sang Phoenix terus menghancurkan altar dan melindungi harapan
orang-orang.
Semua itu sudah berjalan
selama ratusan tahun dan semakin lama, kekuatan burung api itu semakin lemah. Sebaliknya,
kekuatan bangsa Undead semakin membesar dengan banyaknya bangsa lain yang
bergabung dengan mereka. Hal ini membawa kecemasan bukan hanya pada Nakula,
melainkan bangsa Treant dan bangsa lemah lainnya.
“Sudah banyak altar yang
hancur dan dibangun kembali. Termasuk yang di wilayah kami. Akan tetapi keadaan
tidak akan terus kembali ke titik awal seperti ini, karena semakin lama,
semakin sedikit orang yang mau berjuang. Kami bisa melindungi tempat ini
sekarang, tapi bagaimana dengan nanti?”
Ketika akhirnya bangsa Treant
bisa dikalahkan dan wilayah mereka direbut, maka seluruh altar akan
terlengkapi. Itulah ketakutan mereka saat ini. Sebab, posisi altar lainnya
telah dikuasai sepenuhnya oleh kaki tangan Undead. Termasuk salah satu yang
dibangun di atas reruntuhan istana bangsa Elf Salju.
“Jadi kalian bilang,
sepupu-sepupuku yang selama ini menyerang ke sana kemari, termasuk
menghancurkan bangsaku sendiri hanya untuk membangun altar-altar itu?”
Bara tak bisa menahan
kemarahannya. Pantas saja sihir perlindungan di kerajaannya bisa padam tepat
ketika Undead menyerang. Ternyata karena sejak dulu Anata dan Bastian telah
membantu pasukan mayat hidup dalam diam. Itulah kenapa Peri Salju yang begitu
kuat, bisa kehilangan kekuatannya hingga tertidur selama ratusan tahun.
“Bila kamu tak percaya,
pergilah dan lihat sendiri. Gunung gersang yang dulunya merupakan gunung es
wilayah Elf Salju, kini telah berubah menjadi altar utama yang menjadi pusat
dari tiga puluh altar kecil lainnya.”
Siapa yang sangka bila
ternyata serangan di kerajaan Bara adalah awal mula dari rencana pembangunan
altar. Dan dia yang pergi meninggalkan tempat berharga itu tanpa tahu apa-apa,
benar-benar tak layak untuk dimaafkan.
“Tak akan kumaafkan
mereka!” teriak Bara, meledak-ledak.
Sekarang, yang ingin
dilakukannya adalah memburu habis kedua sepupu dan semua Undead di hutan ini.
__ADS_1
Kemudian kembali ke kampung halamannya dan meruntuhkan altar terkutuk yang
menimbun kenangan indah keluarganya.