Phoenix Bride

Phoenix Bride
Episode 41


__ADS_3

Bara dan Kyra telah


kembali ke tempat Kyra bertemu dengan para Treant. Seperti dugaan Bara, mereka


akan memunculkan diri saat dia dan Kyra datang mencari mereka. Pohon-pohon itu


mengelilingi Kyra dan Bara seperti membuat sangkar burung dengan sedikit celah


yang tak bisa dilewati oleh tubuh mereka.


Salah satu Treant yang


terlihat lebih besar dan tua, menunduk menatap mata Kyra. Dialah yang


sebelumnya memberi gadis api itu sebuah peringatan. Tatapannya begitu kuat,


seakan mampu menembus pikiran dan membaca niat dalam hati Kyra. Namun, tak ada


rasa tak nyaman yang Kyra rasakan. Makhluk ini memang layak dianggap spesial.


Karena kemurnian kekuatan jiwa dan aura mereka dapat menghapus rasa tak tak


tenang.


“Aku sudah melihat apa


yang ingin kalian tunjukkan padaku. Dan setelah itu pun, aku tetap percaya pada


temanku, Bara. Mereka memang Elf Salju. Namun, sama seperti halnya manusia, Elf


Salju juga ada yang baik dan jahat.”


Kyra menegaskan pada


mereka, bila Bara benar-benar tidak sama dengan Anata dan Bastian. Dia ingin


para Treant tidak menghakimi dari ras, melainkan melihat hati seseorang secara objektif.


“Jadi kamu ingin berkata


bila temanmu ini tidak ada kaitannya sama sekali dengan mereka?” Ketika


bertanya pada Kyra, arah pandangan Treant itu tertuju pada Bara. Tak ada niat


jahat ataupun kebencian dalam tatapannya. Hanya rasa curiga dan waspada yang


Bara rasakan. Maka dari itu, Bara merasa perlu untuk menegaskan diri. Tak perlu


menyimpan rahasia maupun berhati-hati pada mereka. Bangsa Treant yang merupakan


korban atas pertikaian keluarganya.


“Aku tidak akan berkata


tidak mengenal mereka. Mereka adalah sepupuku, pemberontak dari bangsaku.” Bara


mengakui hubungannya dengan Anata dan Bastian. Karena dia ingin bangsa Treant


memercayakan urusan kedua sepupunya itu padanya.


Bammm!


Tanah berguncang hanya


karena satu hentakan dari sang Treant. Akar pohon yang besar dan kokoh itu bisa


menahan beratnya, sekaligus bisa menghancurkan pijakan saat ia memutuskan untuk


bergerak. Kyra dan Bara sampai kehilangan keseimbangan. Mereka teroleng, nyaris


jatuh jika saja keduanya tidak segera saling perpegangan untuk memperbaiki


keseimbangan.


“Kumohon, dengarkan


penjelasan Bara dulu! Mereka memang sepupunya, tapi bukan berarti Bara akan


membela atau menolong mereka!” Kyra berteriak, mencoba meyakinkan sang pohon


raksasa agar mau memberi Bara kesempatan untuk menjelaskan. Bara memang tak


berkata banyak, tapi Kyra sudah bisa menebak apa yang Elf itu inginkan.


“Jadi kau meminta kami


menutup mata dan membiarkan kalian pergi begitu saja?”


Ada tekanan kuat dalam


suara berat yang dikeluarkan oleh sang Treant. Kyra sampai tertekan secara


mental. Suaranya tak keluar, tertahan di tenggorokkan. Ia hanya diam, menatap


lawan bicaranya tanpa kedip. Bara yang berada di sampingnya, meremas lengan


Kyra sembari menarik gadis api itu mundur ke belakangnya.


“Yang kuinginkan adalah


izin untuk membereskan mereka sendiri. Aku bersumpah, menghukum atau membunuh mereka,


akan kulakukan dengan tanganku sendiri. Aku tidak akan meminta bantuan kalian.


Yang kuminta hanyalah informasi yang kalian ketahui.”


Sang Elf begitu berwibawa


dan tegas. Keteguhan dan semangat hatinya yang kokoh itu, menyolidkan keraguan


bangsa Treant. Para pohon berbisik dengan gerakan daun yang khas, tampak bagai

__ADS_1


tarian dedaunan musim gugur yang menghangatkan hati. Mereka tengah berdiskusi,


mencari keputusan bulat untuk percaya atau tidak pada Bara.


Beberapa pohon yang dari


tadi diam, menatap Kyra dan Bara penuh intimidasi seakan tengah menguji mereka.


Saat dirasa kedua anak muda itu layak untuk dipercayai, mereka mengendurkan


kewaspadaan.


“Baik. Kami setuju, tapi


sebagai syaratnya ... kalian tidak akan kami biarkan keluar dari hutan ini


selama mereka masih ada di sini. Bawa mereka pergi bersama dengan kalian atau


binasakan mereka semua,” ujar sang Treant.


Bara mengangguk sekali.


“Aku mengerti,” jawabnya.


Pohon raksasa itu beserta


teman-temannya, kembali memendamkan akar mereka ke dalam tanah. Sekilas lihat,


mereka tampak seperti pohon raksasa biasa. Namun, saat mereka sengaja


mengeluarkan kekuatan dan menunjukkan wajahnya, Kyra akan tahu bila mereka


berbeda.


“Terima kasih sudah


bersedia memberikan Bara kesempatan.” Kyra tersenyum tulus. Tak ada rasa takut


maupun marah setelah menerima perlakuan tidak ramah dari para Treant. Ia bersyukur,


bila ternyata ada jalan keluar damai seperti ini.


Kelembutan hati Kyra


menggugah nurani sang Treant. Ia yang awalnya hanya ingin pergi setelah


memberikan Bara informasi, memutuskan untuk memberikan Kyra sebuah berkah.


Ujung daun dari batang kecil sang Treant mendekat ke kening Kyra, menyentuh


dengan pelan meninggalkan tanda samar di atas permukaan gadis api. Kyra


tertegun, merasakan aliran kekuatan sejuk yang masuk ke dalam tubuhnya. Penglihatannya


menjadi lebih jelas dan kepekaan pada kekuatan lain yang berada di dekatnya


menjadi menguat.


“Apa ini? Apa yang terjadi


“Itu adalah berkah bangsa


Treant, Kyra,” jawab Bara, memberitahukan pada Kyra. Setahunya berkah bangsa


Treant tak mudah diberikan berkah mereka. Hanya orang yang mereka akui dan


dihargai yang memperolehnya.


Kyra begitu terkejut. Ia


merasa senang, tapi juga bingung. Bara yang membuat perjanjian dengan mereka,


tapi kenapa dia yang tidak berbuat apa-apa, justru diberikan sesuatu yang


spesial seperti ini.


“Apa tak apa-apa diberikan


padaku?”


“Kuberikan padamu, maka


kamu pantas memilikinya. Dengan itu, menemukan burung api biru akan lebih


mudah.”


“Kalian tahu apa yang


kucari?”


Sang Treant hanya mengulas


senyuman misterius. Mereka tahu segalanya yang terjadi di dunia ini. Akar


mereka memanjang ke dalam tanah, terhubung pada saudara-saudaranya yang berada


di dataran lain. Jika mereka ingin mengetahui tentang seseorang, maka akan


mudah untuk mengetahuinya.


“Selesaikan urusan kalian


dengan Elf dan Undead itu. Kemudian cari dan hancurkan semua altar yang mereka


bangun. Dengan mengikuti pola ini, kalian akan menemukan titik temu dengan apa


yang kalian cari.” Daripada memberikan Kyra jawaban yang pasti, mereka lebih


senang menguji pemikiran Kyra layaknya orang tua yang ingin melihat anaknya


tumbuh perlahan mengumpulkan pengalaman hidup.

__ADS_1


“Sekarang, kembali ke


tujuan awal. Dengarkan baik-baik, Bara.” Setelah itu, sang Treant segera


mengalihkan pembicaraan. Kyra sedikit tak puas, tapi ia tak bisa memaksakan


keinginan. Sudah bagus mereka mau ditolong, tak sepatutnya mereka jadi tak tahu


diri ingin meminta terlalu banyak.


“Tentu. Beri tahu semua


yang kalian ketahui,” balas Bara.


Singkat cerita, Anata dan


Bastian memimpin sejumlah Undead untuk menginvasi wilayah bangsa-bangsa lain


bukan tanpa alasan. Mereka tengah membangun altar dengan posisi tertentu dengan


tujuan membangun sebuah formasi khusus.


Formasi yang berfondasikan


puluhan altar batu tersebut dipercaya dapat mengacaukan aliran sihir bumi dan


menutupi langit dengan kegelapan abadi. Undead yang selama ini jumlahnya terbatas,


akan menjadi tak berbatas dan mendominasi dunia.


Untuk menghentikan semua


itu, berbagai bangsa di ketiga kerajaan besar telah mengorbankan banyak hal.


Namun tetap saja, mereka runtuh dan musuhnya terus melanjutkan pembangunan


hingga saat ini. Satu-satunya alasan kenapa pembangunan itu tak pernah selesai


hanya karena sang Phoenix terus menghancurkan altar dan melindungi harapan


orang-orang.


Semua itu sudah berjalan


selama ratusan tahun dan semakin lama, kekuatan burung api itu semakin lemah. Sebaliknya,


kekuatan bangsa Undead semakin membesar dengan banyaknya bangsa lain yang


bergabung dengan mereka. Hal ini membawa kecemasan bukan hanya pada Nakula,


melainkan bangsa Treant dan bangsa lemah lainnya.


“Sudah banyak altar yang


hancur dan dibangun kembali. Termasuk yang di wilayah kami. Akan tetapi keadaan


tidak akan terus kembali ke titik awal seperti ini, karena semakin lama,


semakin sedikit orang yang mau berjuang. Kami bisa melindungi tempat ini


sekarang, tapi bagaimana dengan nanti?”


Ketika akhirnya bangsa Treant


bisa dikalahkan dan wilayah mereka direbut, maka seluruh altar akan


terlengkapi. Itulah ketakutan mereka saat ini. Sebab, posisi altar lainnya


telah dikuasai sepenuhnya oleh kaki tangan Undead. Termasuk salah satu yang


dibangun di atas reruntuhan istana bangsa Elf Salju.


“Jadi kalian bilang,


sepupu-sepupuku yang selama ini menyerang ke sana kemari, termasuk


menghancurkan bangsaku sendiri hanya untuk membangun altar-altar itu?”


Bara tak bisa menahan


kemarahannya. Pantas saja sihir perlindungan di kerajaannya bisa padam tepat


ketika Undead menyerang. Ternyata karena sejak dulu Anata dan Bastian telah


membantu pasukan mayat hidup dalam diam. Itulah kenapa Peri Salju yang begitu


kuat, bisa kehilangan kekuatannya hingga tertidur selama ratusan tahun.


“Bila kamu tak percaya,


pergilah dan lihat sendiri. Gunung gersang yang dulunya merupakan gunung es


wilayah Elf Salju, kini telah berubah menjadi altar utama yang menjadi pusat


dari tiga puluh altar kecil lainnya.”


Siapa yang sangka bila


ternyata serangan di kerajaan Bara adalah awal mula dari rencana pembangunan


altar. Dan dia yang pergi meninggalkan tempat berharga itu tanpa tahu apa-apa,


benar-benar tak layak untuk dimaafkan.


“Tak akan kumaafkan


mereka!” teriak Bara, meledak-ledak.


Sekarang, yang ingin


dilakukannya adalah memburu habis kedua sepupu dan semua Undead di hutan ini.

__ADS_1


Kemudian kembali ke kampung halamannya dan meruntuhkan altar terkutuk yang


menimbun kenangan indah keluarganya.


__ADS_2