Phoenix Bride

Phoenix Bride
Episode 42


__ADS_3

Usai berkumpul kembali


dengan teman-temannya, Bara dan Kyra menceritakan apa yang terjadi dan menyampaikan


apa tujuan utama mereka saat ini. Dengan banyaknya Undead yang menyebar di


seluruh hutan, mereka mungkin akan membutuhkan waktu lama untuk membersihkan


hutan tersebut. Makanya Bara memikirkan sebuah ide untuk mempersingkat proses


pembersihan mereka.


“Lebih baik kita


berpencar,” usulnya.


“Kenapa harus berpencar?”


tanya Soli.


Mengingat jumlah mereka


ada enam orang, jika ingin berpencar, mungkin saja mereka akan dibagi menjadi


dua atau tiga kelompok. Yang mana pun pilihannya, Soli tidak terlalu setuju. Masalahnya


mereka baru di sini dan musuh ada di mana-mana. Dia merasa lebih baik jika mereka


menyerang bersama-sama meskipun itu artinya mereka memerlukan lebih banyak


waktu untuk menyelesaikan tujuan mereka. Apalagi Meena tukang cari masalah dan


Kyra terlalu mudah terbujuk oleh si cebol satu itu hingga membuatnya semakin


merasa cemas.


“Lawan kita tak begitu


kuat. Berpencar bisa menghemat waktu.”


“Kupikir juga begitu.”


“Aku setuju saja.”


Meena dan Kyra setuju dengan


Bara. Mereka ingin merasakan petualangan kecil yang sudah lama tak mereka


lakukan. Lagian kekuatan mereka telah meningkat tajam dibandingkan dengan waktu


pertama kali bertemu dengan Soli. Setidaknya cukup kuat untuk melindungi diri


mereka sendiri.


“Nona Meena, tahan


dirimu.” Soli menggelengkan kepala. Ia sudah tahu isi pikiran Meena, makanya ia


berbicara terus terang di depan orangnya langsung daripada hanya menahan diri


memanjakan si cebol satu itu.


Meena mendelik kesal pada


Soli. Kemudian ia merangkul lengan Kyra, mencari pembelaan pada temannya seakan


dirinya sedang diomeli oleh seorang ayah yang protektif.


“Dasar bawel!” seru Meena.


“Kukatakan ini demi


kebaikan kalian!”


Kyra tertawa melihat Soli


memarahi Meena. Kemudian ia mengalihkan pandangan pada Bara. Sang Elf terlihat


tak puas. Keinginannya untuk segera menyelesaikan urusan di sini tak ingin ia


ubah. Karenanya Kyra memutuskan untuk membantu Bara.


“Um, kupikir tak masalah


membiarkan Bara dan Rhea berpisah dengan kita. Kekuatan mereka berada di atas


kita.” Pendapat Kyra cukup masuk akan dan dapat diterima oleh Soli. Alasan


kenapa dia tak setuju berpisah ya karena ingin mengawasi sendiri ketiga gadis


pengantin itu.


“Jika begitu tak masalah,


tapi aku ingin kalian yang pergi menyerang ke area tengah.” Kalian yang


dimaksudkan oleh Soli adalah Bara dan Rhea. Sebab area tengah adalah tempat


paling banyak ditinggali oleh musuh. Termasuk Bastian dan Anata yang paling


perlu mereka waspadai.


“Memang itu rencananya,”


balas Bara.


Mereka kemudian


mendiskusikan lebih lanjut apa yang harus mereka lakukan setelah berpencar dan

__ADS_1


menentukan lokasi bertemu setelah tugas mereka terselesaikan. Tim benar-benar


dibagi menjadi dua sepeti rencana awal. Bara dan Rhea akan pergi menghancurkan


markas musuh. Sedangkan Soli akan membawa ketiga gadis itu untuk membersihkan


sisa-sisa kelompok kecil lawan yang berada di lokasi terpisah.


“Kalau begitu kami pergi


dulu. Ayo, Rhea.”


“Aku tahu. Tak perlu kau


ulangi berkali-kali.”


Siapa pun bisa melihat


kekesalan Rhea, tapi tak ada yang mengungkapkannya secara langsung. Mereka rasa


biarkan Bara saja yang menghadapi Rhea seorang diri. Bukan karena mereka tak


peduli. Hanya saja Rhea cuma menunjukkan respeknya pada Bara. Sedangkan saat


berurusan dengan mereka, sang Siluman Rubah bahkan tak sudi mengucapkan satu


kata pun.


“Mereka sudah pergi, kita


juga pergi.”


Begitu Bara dan Rhea sudah


tak kelihatan, Kyra mengajak teman-temannya pergi ke lokasi tujuan mereka.


Berkah bangsa Treant yang ia terima membuatnya dapat mendeteksi keberadaan


bentuk kehidupan apa pun di sekitarnya. Sehingga lebih baik memercayakan arahan


padanya dari pada bergantung pada peta.


“Ayo! Ayo! Horeee! Tak ada


tukang omel!”


“Dasar Meena. Inilah


kenapa kau selalu dikhawatirkan.”


“Anak kecil memang seperti


itu.”


Tadinya Meena sudah


berlarian kegirangan, tetapi ucapan terlewat jujur Kanya membuat wajahnya


“Kalian menyebalkan!


Memang hanya Kyra yang berada di pihakku!”


“Sudah ... sudah ...


Meena, jangan marah-marah.”


Kyra hanya tertawa saat


Meena berlari kembali padanya untuk menggunakan tubuhnya sebagai pembatas


antara dirinya dengan Soli dan Kanya. Habis tingkah Meena menggemaskan sekali


hingga terkadang Kyra lupa bahwa dia yang paling muda di dalam kelompok mereka.


“Kita sudah kedatangan


tamu,” sambung Kyra kemudian.


Ekspresi wajah Kyra


berubah serius. Matanya bergerak ke arah kanan tanpa memalingkan wajah sama


sekali. Seketika itu juga, teman-temannya segera sadar akan lokasi orang-orang


yang datang menyergap mereka. Entah mereka yang masuk ke wilayah musuh terlalu


ceroboh atau tujuan mereka sudah diketahui, tak ada yang tahu. Mereka hanya


perlu mengalahkan semua.


“Aku mengerti.” Setelah


berkata seperti itu, Soli segera menghilang dari hadapan Kyra. Lebih tepatnya,


dia telah menggunakan keahlian bangsanya untuk bersembunyi di dalam bayangan


pohon sambil menyerang mangsanya diam-diam.


Kanya juga melakukan hal


yang sama. Ia memecah tubuhnya menjadi ratusan tetesan air yang kemudian ia


sebarkan ke seluruh area untuk memusingkan dan menjerat lawan-lawannya. Sedangkan


Meena masih berada di balik punggung Kyra. Bersembunyi sambil mengawasi pola


gerak sekumpulan Undead tersebut.


“Aku akan menghadapi

__ADS_1


mereka secara langsung. Tolong bantu aku, Meena.”


“Oh, ok!”


Karena sudah diputuskan,


maka mereka berdua bekerja sama. Dengan menjadikan Kyra sebagai penyerang


utama, Meena bergerak di belakang untuk membantu dengan sihir pendukung. Dalam


hitungan detik, keadaan di sekitar berubah drastis.


Pohon-pohon tumbang oleh


pukulan musuh yang berhasil dielaki oleh Kyra. Namun, serangan tak berhenti


hingga di sana. Mereka datang lagi dari sisi kanan dan kiri Kyra, mendesak Kyra


untuk memilih menghindar ke arah depan atau belakang di mana ada musuh lain


yang menghadang.


Kyra dapat membaca


strategis sederhana tersebut. Ia tidak memilih untuk menghadapi mereka secara langsung.


Ia berjongkok, memukul tanah dengan kedua kepalan tinjunya. Permukaan tanah


retak di area seluas satu meter mengelilingi mereka. Dari keretakan tersebut


keluar ledakan api yang mendorong tubuh Kyra ke atas udara.


Sekumpulan Undead tersebut


terkejut. Refleks mereka menengadah, mengikuti ke mana pergerakan Kyra. Di saat


itulah, Kyra melebarkan sayapnya. Dari sayap Phoenix itu, meluncur sejumlah


bulu api yang berubah menjadi seperti hujan tombak pendek yang menargetkan


kepala mereka di waktu bersamaan.


Suara ledakan terdengar


menggema di hutan bersama dengan musnahnya setengah dari kelompok Undead yang


menyergap mereka.


Kyra mendarat kembali ke


tanah. Ia langsung berkumpul kembali dengan Meena. Mereka berniat menolong


Kanya dan Soli yang diincar oleh setengah lagi musuh, tapi tampaknya bantuan


mereka tak diperlukan. Sebab, saat mereka menoleh ke belakang, Kanya dan Soli


sudah mengalahkan mereka semudah apa yang Kyra lakukan.


“Wow! Secepat ini?”


Meena tak percaya. Ia


bahkan tak banyak membantu Kyra dan segala penyergapan itu selesai terlalu


cepat dari perkiraan. Musuh mereka terlalu lemah. Seperti produk gagal yang


bisa dibuat dan dibuang kapan pun mereka mau tak peduli seberapa banyak pun


jumlah yang telah dihancurkan.


“Rasanya ada yang aneh.


Mereka terlalu lemah,” komentar Kanya.


“Mungkin kalian yang sudah


bertambah kuat.”


Setidaknya ada Soli yang berpikiran


positif. Ia percaya bila tak ada batasan perkembangan kekuatan ketiga gadis


itu. Bila memang demikian, Kyra juga merasa senang, tapi ia sudah berkali-kali


berhadapan dengan pasukan Undead dan menyadari adanya perbedaan kekuatan dari


tingkat dan jenis pasukan mayat hidup tersebut.


“Tidak, Soli. Kanya benar.


Undead yang kulawan kemarin jauh lebih kuat.” Kyra takut, bila ternyata pihak


lawan telah mengetahui rencana mereka hingga terpikir untuk mengirim pasukan


bunuh diri seperti ini.


“Kita harus segera pergi


menolong Bara!” Ya, pasti itu! Musuh mereka pastilah telah menunggu kedatangan


Bara dengan kekuatan tempur terbesar yang mereka miliki. Ini jelas jebakan.


Jebakan yang terlalu sederhana hingga tak perpikirkan oleh mereka sebelumnya.


Setelah menyadari apa yang


terjadi di sini, Kyra segera berlari ke arang Bara. Sontak, teman-temannya


segera mengikuti Kyra. Tak ada yang merasa sangsi maupun ragu padanya. Karena

__ADS_1


mereka pun merasa cemas pada Bara, sekaligus percaya pada pandangan Kyra.


__ADS_2