
Usai berkumpul kembali
dengan teman-temannya, Bara dan Kyra menceritakan apa yang terjadi dan menyampaikan
apa tujuan utama mereka saat ini. Dengan banyaknya Undead yang menyebar di
seluruh hutan, mereka mungkin akan membutuhkan waktu lama untuk membersihkan
hutan tersebut. Makanya Bara memikirkan sebuah ide untuk mempersingkat proses
pembersihan mereka.
“Lebih baik kita
berpencar,” usulnya.
“Kenapa harus berpencar?”
tanya Soli.
Mengingat jumlah mereka
ada enam orang, jika ingin berpencar, mungkin saja mereka akan dibagi menjadi
dua atau tiga kelompok. Yang mana pun pilihannya, Soli tidak terlalu setuju. Masalahnya
mereka baru di sini dan musuh ada di mana-mana. Dia merasa lebih baik jika mereka
menyerang bersama-sama meskipun itu artinya mereka memerlukan lebih banyak
waktu untuk menyelesaikan tujuan mereka. Apalagi Meena tukang cari masalah dan
Kyra terlalu mudah terbujuk oleh si cebol satu itu hingga membuatnya semakin
merasa cemas.
“Lawan kita tak begitu
kuat. Berpencar bisa menghemat waktu.”
“Kupikir juga begitu.”
“Aku setuju saja.”
Meena dan Kyra setuju dengan
Bara. Mereka ingin merasakan petualangan kecil yang sudah lama tak mereka
lakukan. Lagian kekuatan mereka telah meningkat tajam dibandingkan dengan waktu
pertama kali bertemu dengan Soli. Setidaknya cukup kuat untuk melindungi diri
mereka sendiri.
“Nona Meena, tahan
dirimu.” Soli menggelengkan kepala. Ia sudah tahu isi pikiran Meena, makanya ia
berbicara terus terang di depan orangnya langsung daripada hanya menahan diri
memanjakan si cebol satu itu.
Meena mendelik kesal pada
Soli. Kemudian ia merangkul lengan Kyra, mencari pembelaan pada temannya seakan
dirinya sedang diomeli oleh seorang ayah yang protektif.
“Dasar bawel!” seru Meena.
“Kukatakan ini demi
kebaikan kalian!”
Kyra tertawa melihat Soli
memarahi Meena. Kemudian ia mengalihkan pandangan pada Bara. Sang Elf terlihat
tak puas. Keinginannya untuk segera menyelesaikan urusan di sini tak ingin ia
ubah. Karenanya Kyra memutuskan untuk membantu Bara.
“Um, kupikir tak masalah
membiarkan Bara dan Rhea berpisah dengan kita. Kekuatan mereka berada di atas
kita.” Pendapat Kyra cukup masuk akan dan dapat diterima oleh Soli. Alasan
kenapa dia tak setuju berpisah ya karena ingin mengawasi sendiri ketiga gadis
pengantin itu.
“Jika begitu tak masalah,
tapi aku ingin kalian yang pergi menyerang ke area tengah.” Kalian yang
dimaksudkan oleh Soli adalah Bara dan Rhea. Sebab area tengah adalah tempat
paling banyak ditinggali oleh musuh. Termasuk Bastian dan Anata yang paling
perlu mereka waspadai.
“Memang itu rencananya,”
balas Bara.
Mereka kemudian
mendiskusikan lebih lanjut apa yang harus mereka lakukan setelah berpencar dan
__ADS_1
menentukan lokasi bertemu setelah tugas mereka terselesaikan. Tim benar-benar
dibagi menjadi dua sepeti rencana awal. Bara dan Rhea akan pergi menghancurkan
markas musuh. Sedangkan Soli akan membawa ketiga gadis itu untuk membersihkan
sisa-sisa kelompok kecil lawan yang berada di lokasi terpisah.
“Kalau begitu kami pergi
dulu. Ayo, Rhea.”
“Aku tahu. Tak perlu kau
ulangi berkali-kali.”
Siapa pun bisa melihat
kekesalan Rhea, tapi tak ada yang mengungkapkannya secara langsung. Mereka rasa
biarkan Bara saja yang menghadapi Rhea seorang diri. Bukan karena mereka tak
peduli. Hanya saja Rhea cuma menunjukkan respeknya pada Bara. Sedangkan saat
berurusan dengan mereka, sang Siluman Rubah bahkan tak sudi mengucapkan satu
kata pun.
“Mereka sudah pergi, kita
juga pergi.”
Begitu Bara dan Rhea sudah
tak kelihatan, Kyra mengajak teman-temannya pergi ke lokasi tujuan mereka.
Berkah bangsa Treant yang ia terima membuatnya dapat mendeteksi keberadaan
bentuk kehidupan apa pun di sekitarnya. Sehingga lebih baik memercayakan arahan
padanya dari pada bergantung pada peta.
“Ayo! Ayo! Horeee! Tak ada
tukang omel!”
“Dasar Meena. Inilah
kenapa kau selalu dikhawatirkan.”
“Anak kecil memang seperti
itu.”
Tadinya Meena sudah
berlarian kegirangan, tetapi ucapan terlewat jujur Kanya membuat wajahnya
“Kalian menyebalkan!
Memang hanya Kyra yang berada di pihakku!”
“Sudah ... sudah ...
Meena, jangan marah-marah.”
Kyra hanya tertawa saat
Meena berlari kembali padanya untuk menggunakan tubuhnya sebagai pembatas
antara dirinya dengan Soli dan Kanya. Habis tingkah Meena menggemaskan sekali
hingga terkadang Kyra lupa bahwa dia yang paling muda di dalam kelompok mereka.
“Kita sudah kedatangan
tamu,” sambung Kyra kemudian.
Ekspresi wajah Kyra
berubah serius. Matanya bergerak ke arah kanan tanpa memalingkan wajah sama
sekali. Seketika itu juga, teman-temannya segera sadar akan lokasi orang-orang
yang datang menyergap mereka. Entah mereka yang masuk ke wilayah musuh terlalu
ceroboh atau tujuan mereka sudah diketahui, tak ada yang tahu. Mereka hanya
perlu mengalahkan semua.
“Aku mengerti.” Setelah
berkata seperti itu, Soli segera menghilang dari hadapan Kyra. Lebih tepatnya,
dia telah menggunakan keahlian bangsanya untuk bersembunyi di dalam bayangan
pohon sambil menyerang mangsanya diam-diam.
Kanya juga melakukan hal
yang sama. Ia memecah tubuhnya menjadi ratusan tetesan air yang kemudian ia
sebarkan ke seluruh area untuk memusingkan dan menjerat lawan-lawannya. Sedangkan
Meena masih berada di balik punggung Kyra. Bersembunyi sambil mengawasi pola
gerak sekumpulan Undead tersebut.
“Aku akan menghadapi
__ADS_1
mereka secara langsung. Tolong bantu aku, Meena.”
“Oh, ok!”
Karena sudah diputuskan,
maka mereka berdua bekerja sama. Dengan menjadikan Kyra sebagai penyerang
utama, Meena bergerak di belakang untuk membantu dengan sihir pendukung. Dalam
hitungan detik, keadaan di sekitar berubah drastis.
Pohon-pohon tumbang oleh
pukulan musuh yang berhasil dielaki oleh Kyra. Namun, serangan tak berhenti
hingga di sana. Mereka datang lagi dari sisi kanan dan kiri Kyra, mendesak Kyra
untuk memilih menghindar ke arah depan atau belakang di mana ada musuh lain
yang menghadang.
Kyra dapat membaca
strategis sederhana tersebut. Ia tidak memilih untuk menghadapi mereka secara langsung.
Ia berjongkok, memukul tanah dengan kedua kepalan tinjunya. Permukaan tanah
retak di area seluas satu meter mengelilingi mereka. Dari keretakan tersebut
keluar ledakan api yang mendorong tubuh Kyra ke atas udara.
Sekumpulan Undead tersebut
terkejut. Refleks mereka menengadah, mengikuti ke mana pergerakan Kyra. Di saat
itulah, Kyra melebarkan sayapnya. Dari sayap Phoenix itu, meluncur sejumlah
bulu api yang berubah menjadi seperti hujan tombak pendek yang menargetkan
kepala mereka di waktu bersamaan.
Suara ledakan terdengar
menggema di hutan bersama dengan musnahnya setengah dari kelompok Undead yang
menyergap mereka.
Kyra mendarat kembali ke
tanah. Ia langsung berkumpul kembali dengan Meena. Mereka berniat menolong
Kanya dan Soli yang diincar oleh setengah lagi musuh, tapi tampaknya bantuan
mereka tak diperlukan. Sebab, saat mereka menoleh ke belakang, Kanya dan Soli
sudah mengalahkan mereka semudah apa yang Kyra lakukan.
“Wow! Secepat ini?”
Meena tak percaya. Ia
bahkan tak banyak membantu Kyra dan segala penyergapan itu selesai terlalu
cepat dari perkiraan. Musuh mereka terlalu lemah. Seperti produk gagal yang
bisa dibuat dan dibuang kapan pun mereka mau tak peduli seberapa banyak pun
jumlah yang telah dihancurkan.
“Rasanya ada yang aneh.
Mereka terlalu lemah,” komentar Kanya.
“Mungkin kalian yang sudah
bertambah kuat.”
Setidaknya ada Soli yang berpikiran
positif. Ia percaya bila tak ada batasan perkembangan kekuatan ketiga gadis
itu. Bila memang demikian, Kyra juga merasa senang, tapi ia sudah berkali-kali
berhadapan dengan pasukan Undead dan menyadari adanya perbedaan kekuatan dari
tingkat dan jenis pasukan mayat hidup tersebut.
“Tidak, Soli. Kanya benar.
Undead yang kulawan kemarin jauh lebih kuat.” Kyra takut, bila ternyata pihak
lawan telah mengetahui rencana mereka hingga terpikir untuk mengirim pasukan
bunuh diri seperti ini.
“Kita harus segera pergi
menolong Bara!” Ya, pasti itu! Musuh mereka pastilah telah menunggu kedatangan
Bara dengan kekuatan tempur terbesar yang mereka miliki. Ini jelas jebakan.
Jebakan yang terlalu sederhana hingga tak perpikirkan oleh mereka sebelumnya.
Setelah menyadari apa yang
terjadi di sini, Kyra segera berlari ke arang Bara. Sontak, teman-temannya
segera mengikuti Kyra. Tak ada yang merasa sangsi maupun ragu padanya. Karena
__ADS_1
mereka pun merasa cemas pada Bara, sekaligus percaya pada pandangan Kyra.