
Bara dan Rhea telah sampai
pada posisi Anata berada. Wanita Elf itu berdiam diri di sana, di sebuah
lapangan luas yang dikelilingi oleh sejumlah pilar-pilar batu buatan. Tak ada seorang pun yang terlihat
di sekitar Anata, tapi Bara yakin bila tidak mungkin sepupunya itu berani
muncul sendiri setelah ia lukai beberapa hari yang lalu.
“Rhea, kau tetap di sini.
Aku akan menemuinya sendirian,” perintah Bara.
Rhea mengangguk. Ia
sendiri dapat menyadari adanya pergerakkan halus di area sekitar mereka. Entah
itu Elf ataupun Undead memang belum diketahui. Yang pasti hanyalah mereka
adalah musuh.
“Biar kuberitahukan dulu
padamu. Sihir ilusiku hanya bekerja pada makhluk hidup.” Rhea memberi tahu buat
jaga-jaga saja. Agar Bara tak berharap pada trik yang satu itu.
“Aku tahu. Tenang saja,
kau hanya perlu mendukungku dengan sihir pemanggil.” Meskipun Bara tahu Rhea
bisa mendukungnya secara langsung, ia tak berniat menunjukkan kekuatan asli
siluman rubah itu pada Anata. Sebab, Bara curiga bila Bastian masih menyembunyikan
banyak hal dari mereka. Jadi lebih baik mereka juga melakukan hal yang sama.
Ketika Bara menunjukkan
dirinya pada Anata, wanita itu tersenyum tipis. Dia bilang, “Aku tahu kau akan
datang.”
“Ya, dan aku datang untuk
menghukum pemberontak,” balas Bara kalem.
Akan tetapi, tenangnya
Bara hanya di permukaan saja. kepalan tangannya tidak terlihat setenang
ekspresi yang tampak pada wajah rupawan itu. Ia jelas tengah menahan emosi dan
Anata tahu benar akan hal itu.
“Kau sudah melewatkan
kesempatanmu!! Kalian muncullah!” Kemudian, dua Golem raksasa bangkit dari
tanah, terpanggil oleh perintah sang gadis Elf.
“Huh! Aku tahu kau tak
mungkin berani menghadapiku sendirian!”
Bara mendengus ketika
mengenali jenis Golem apa itu. Bentuknya terlihat sederhana seperti boneka batu
tua. Yang membuatnya spesial adalah karena Golem jenis satu ini tidak menyerap
mana penggunanya. Ia memiliki sumber energinya sendiri, yang tertanam dalam
bagian tengah dadanya. Tak salah lagi, itu adalah Golem yang digunakan oleh
sang Sorcerer – tuan dari segala Undead yang ada di seluruh tiga benua.
“Caranya tak masalah.
Siapa yang kuat, dialah yang akan berkuasa di sini. Kau memang naif Bara, tak
pernah bisa melihat kenyataan. Dunia ini sudah berakhir. Tuan Declan akan
segera menguasai seluruh daratan! Era sudah berubah.”
“Selama keempat binatang
__ADS_1
mistik legendaris masih hidup, era tak akan berubah. Kau yang buta karena tak
bisa melihat harapan.”
Bara bisa melihat harapan
yang ada. Saat ini, di sisinya sudah ada tiga kekuatan mistik yang terkumpul.
Ia percaya bila mereka bisa menemukan peninggalan dari Harimau Putih, maka
tidak mustahil untuk mengalahkan sang Sorcerer yang telah membawa kekacauan
selama ratusan tahun ini.
“Mereka akan segera mati,
tapi kau tak akan bisa melihatnya!”
“Kau yang tidak akan bisa
melihat kebenaran di masa depan.”
Tak ada lagi yang perlu
mereka perdebatkan. Anata tidak akan bisa memahami kesalahannya sendiri. Karena
jika bisa, mereka tak akan membuang-buang waktu selama ratusan tahun menjadi
pengikut kegelapan.
Kedua Golem itu telah
berada di depan Bara. Mereka memukul dari sisi kiri dan kanan, tapi Bara bisa
dengan mudah mengelakinya. Golem mungkin besar dan kuat, tapi kecepatan mereka
tidak sampai kecepatan seorang Elf.
Masalahnya hanya kedua
boneka batu itu memiliki jenis serangan area. Saat pukulan mereka dielaki,
otomatis tinju berkekuatan besar itu menghantam tanah. Permukaan tanah pun
menjadi hancur, retak membentuk sebuah lubang besar. Dari lubang itu, keluar
asap berwarna merah yang kemudian menyebar dan mematikan seluruh tanaman di
“Brengsek! Kau menggunakan
trik kotor seperti ini!” Bara mengumpat, tak percaya bila hati Anata telah
menjadi sebusuk itu hingga rela mengabaikan kerusakan alam demi sebuah
kemenangan.
Gadis Elf tertawa. Ia tahu
kelemahan Bara. Sepupunya masih sama, selalu begitu totalitas ingin menjaga
kekuatan alami hutan.
“Kau sebaiknya hati-hati
jika tak ingin seluruh hutan ini menjadi mati.” Tidak perlu Anata katakan juga
Bara sudah mengerti. Ia tidak bisa lagi mengelaki serangan Golem itu, tapi
bukan berarti ia tidak punya jalan keluar.
Bara tak perlu banyak
berbicara, dia hanya membalas ocehan Anata dengan sebuah tatapan tajam yang
membuat wanita itu bungkam. Kemudian, Bara melompat masuk ke dalam lubang tanah
itu kembali dan mengurung dirinya bersama dengan kedua Golem itu menggunakan
kurungan es.
Anata terbelalak, tak bisa
menebak apa yang Bara pikirkan dengan berbuat seperti itu. Beberapa saat
kemudian, ia baru mengerti ketika melihat sekumpulan monster laba-laba muncul
entah dari mana. Lebih tepatnya, Bara telah selesai mengulur waktu agar Rhea
__ADS_1
dapat memanggil cukup monster untuk mereka pergunakan.
“Siluman Rubah!? Apa yang
kau – ah!” Anata tak sempat menyelesaikan kalimatnya. Seluruh tubuhnya telah
terlilit oleh jaring, kemudian diseret dengan kasar hingga terlontar ke depan
Rhea. Di saat yang sama, anak-anak laba-laba yang Rhea panggil telah menyebar
untuk memburu bawahan Rhea yang masih bersembunyi.
“Aku benci perempuan
berisik. Kau diamlah,” ujarnya dengan nada dingin.
Setelah itu, Anata mati
dengan satu cengkeraman tangan yang menghancurkan tengkoraknya. Rhea tak ingin
berbasa-basi melakukan tugas rendahan seperti ini. Bila bukan karena terikat
kontrak dengan Bara, makhluk sekuat dirinya bahkan tak sudi datang ke tempat
seperti ini.
Selanjutnya, suara-suara
jeritan penuh kehancuran terdengar di mana-mana. Pertempuran antara monster
laba-laba dan Undead yang mendominasi. Rhea sendiri hanya berdiam diri,
menunggu Bara keluar sendiri dari kurungan es tersebut.
Ia menghela napas lega
saat akhirnya Bara keluar dengan membawa batu mana yang menjadi sumber energi
sang Golem. Sang Elf sendiri hanya terluka sedikit. Malahan dia kaget, takjub
melihat hasil kerja Rhea. Tidak salah lagi, wanita rubah satu ini pastilah
sangat meremehkan mereka sebelumnya. Jika tidak, mustahil Rhea akan
mengikutinya saat ini.
“Tugasku sudah selesai.
Semua yang ada di sini sudah mati,” lapor Rhea.
Menakutkan. Tak ada kata
lain yang bisa menggambarkan pemandangan brutal tersebut. Entah menjadikan Rhea
sebagai budaknya adalah sebuah keberuntungan atau kesialan, Bara mulai tak bisa
lagi membedakannya.
“Di mana Bastian?”
Bara tak bisa melihat
mayat Elf selain Anata. Jumlah Undead yang telah dihancurkan oleh Rhea pun,
tidak sebanyak perkiraannya.
“Tidak tahu.”
Rhea mengangkat bahu acuh
tak acuh. Mungkin orang yang Bara cari sudah kabur dari tadi. Sebab tak ada
lagi siapa pun di sekitar sana selain mereka berdua. Dengan kata lain, Anata
sengaja ditinggalkan untuk menahan mereka di sini.
Tidak salah lagi. Bastian
pasti telah melarikan diri membawa sebagian pasukannya, tapi kenapa? Bila ia
yakin bisa menang dari mereka, kenapa harus kabur terburu-buru seperti itu?
Apa jangan-jangan ...
Bastian memiliki sesuatu yang lebih penting daripada membangun altar?
“Kita harus segera
__ADS_1
mengejarnya!” Jika tebakan Bara benar, maka tak boleh ia biarkan. Apa pun itu
yang lebih penting daripada altar, pastilah berhubungan dengan binatang mistik.