Phoenix Bride

Phoenix Bride
Episode 43


__ADS_3

Bara dan Rhea telah sampai


pada posisi Anata berada. Wanita Elf itu berdiam diri di sana, di sebuah


lapangan luas yang dikelilingi oleh sejumlah pilar-pilar  batu buatan. Tak ada seorang pun yang terlihat


di sekitar Anata, tapi Bara yakin bila tidak mungkin sepupunya itu berani


muncul sendiri setelah ia lukai beberapa hari yang lalu.


“Rhea, kau tetap di sini.


Aku akan menemuinya sendirian,” perintah Bara.


Rhea mengangguk. Ia


sendiri dapat menyadari adanya pergerakkan halus di area sekitar mereka. Entah


itu Elf ataupun Undead memang belum diketahui. Yang pasti hanyalah mereka


adalah musuh.


“Biar kuberitahukan dulu


padamu. Sihir ilusiku hanya bekerja pada makhluk hidup.” Rhea memberi tahu buat


jaga-jaga saja. Agar Bara tak berharap pada trik yang satu itu.


“Aku tahu. Tenang saja,


kau hanya perlu mendukungku dengan sihir pemanggil.” Meskipun Bara tahu Rhea


bisa mendukungnya secara langsung, ia tak berniat menunjukkan kekuatan asli


siluman rubah itu pada Anata. Sebab, Bara curiga bila Bastian masih menyembunyikan


banyak hal dari mereka. Jadi lebih baik mereka juga melakukan hal yang sama.


Ketika Bara menunjukkan


dirinya pada Anata, wanita itu tersenyum tipis. Dia bilang, “Aku tahu kau akan


datang.”


“Ya, dan aku datang untuk


menghukum pemberontak,” balas Bara kalem.


Akan tetapi, tenangnya


Bara hanya di permukaan saja. kepalan tangannya tidak terlihat setenang


ekspresi yang tampak pada wajah rupawan itu. Ia jelas tengah menahan emosi dan


Anata tahu benar akan hal itu.


“Kau sudah melewatkan


kesempatanmu!! Kalian muncullah!” Kemudian, dua Golem raksasa bangkit dari


tanah, terpanggil oleh perintah sang gadis Elf.


“Huh! Aku tahu kau tak


mungkin berani menghadapiku sendirian!”


Bara mendengus ketika


mengenali jenis Golem apa itu. Bentuknya terlihat sederhana seperti boneka batu


tua. Yang membuatnya spesial adalah karena Golem jenis satu ini tidak menyerap


mana penggunanya. Ia memiliki sumber energinya sendiri, yang tertanam dalam


bagian tengah dadanya. Tak salah lagi, itu adalah Golem yang digunakan oleh


sang Sorcerer – tuan dari segala Undead yang ada di seluruh tiga benua.


“Caranya tak masalah.


Siapa yang kuat, dialah yang akan berkuasa di sini. Kau memang naif Bara, tak


pernah bisa melihat kenyataan. Dunia ini sudah berakhir. Tuan Declan akan


segera menguasai seluruh daratan! Era sudah berubah.”


“Selama keempat binatang

__ADS_1


mistik legendaris masih hidup, era tak akan berubah. Kau yang buta karena tak


bisa melihat harapan.”


Bara bisa melihat harapan


yang ada. Saat ini, di sisinya sudah ada tiga kekuatan mistik yang terkumpul.


Ia percaya bila mereka bisa menemukan peninggalan dari Harimau Putih, maka


tidak mustahil untuk mengalahkan sang Sorcerer yang telah membawa kekacauan


selama ratusan tahun ini.


“Mereka akan segera mati,


tapi kau tak akan bisa melihatnya!”


“Kau yang tidak akan bisa


melihat kebenaran di masa depan.”


Tak ada lagi yang perlu


mereka perdebatkan. Anata tidak akan bisa memahami kesalahannya sendiri. Karena


jika bisa, mereka tak akan membuang-buang waktu selama ratusan tahun menjadi


pengikut kegelapan.


Kedua Golem itu telah


berada di depan Bara. Mereka memukul dari sisi kiri dan kanan, tapi Bara bisa


dengan mudah mengelakinya. Golem mungkin besar dan kuat, tapi kecepatan mereka


tidak sampai kecepatan seorang Elf.


Masalahnya hanya kedua


boneka batu itu memiliki jenis serangan area. Saat pukulan mereka dielaki,


otomatis tinju berkekuatan besar itu menghantam tanah. Permukaan tanah pun


menjadi hancur, retak membentuk sebuah lubang besar. Dari lubang itu, keluar


asap berwarna merah yang kemudian menyebar dan mematikan seluruh tanaman di


“Brengsek! Kau menggunakan


trik kotor seperti ini!” Bara mengumpat, tak percaya bila hati Anata telah


menjadi sebusuk itu hingga rela mengabaikan kerusakan alam demi sebuah


kemenangan.


Gadis Elf tertawa. Ia tahu


kelemahan Bara. Sepupunya masih sama, selalu begitu totalitas ingin menjaga


kekuatan alami hutan.


“Kau sebaiknya hati-hati


jika tak ingin seluruh hutan ini menjadi mati.” Tidak perlu Anata katakan juga


Bara sudah mengerti. Ia tidak bisa lagi mengelaki serangan Golem itu, tapi


bukan berarti ia tidak punya jalan keluar.


Bara tak perlu banyak


berbicara, dia hanya membalas ocehan Anata dengan sebuah tatapan tajam yang


membuat wanita itu bungkam. Kemudian, Bara melompat masuk ke dalam lubang tanah


itu kembali dan mengurung dirinya bersama dengan kedua Golem itu menggunakan


kurungan es.


Anata terbelalak, tak bisa


menebak apa yang Bara pikirkan dengan berbuat seperti itu. Beberapa saat


kemudian, ia baru mengerti ketika melihat sekumpulan monster laba-laba muncul


entah dari mana. Lebih tepatnya, Bara telah selesai mengulur waktu agar Rhea

__ADS_1


dapat memanggil cukup monster untuk mereka pergunakan.


“Siluman Rubah!? Apa yang


kau – ah!” Anata tak sempat menyelesaikan kalimatnya. Seluruh tubuhnya telah


terlilit oleh jaring, kemudian diseret dengan kasar hingga terlontar ke depan


Rhea. Di saat yang sama, anak-anak laba-laba yang Rhea panggil telah menyebar


untuk memburu bawahan Rhea yang masih bersembunyi.


“Aku benci perempuan


berisik. Kau diamlah,” ujarnya dengan nada dingin.


Setelah itu, Anata mati


dengan satu cengkeraman tangan yang menghancurkan tengkoraknya. Rhea tak ingin


berbasa-basi melakukan tugas rendahan seperti ini. Bila bukan karena terikat


kontrak dengan Bara, makhluk sekuat dirinya bahkan tak sudi datang ke tempat


seperti ini.


Selanjutnya, suara-suara


jeritan penuh kehancuran terdengar di mana-mana. Pertempuran antara monster


laba-laba dan Undead yang mendominasi. Rhea sendiri hanya berdiam diri,


menunggu Bara keluar sendiri dari kurungan es tersebut.


Ia menghela napas lega


saat akhirnya Bara keluar dengan membawa batu mana yang menjadi sumber energi


sang Golem. Sang Elf sendiri hanya terluka sedikit. Malahan dia kaget, takjub


melihat hasil kerja Rhea. Tidak salah lagi, wanita rubah satu ini pastilah


sangat meremehkan mereka sebelumnya. Jika tidak, mustahil Rhea akan


mengikutinya saat ini.


“Tugasku sudah selesai.


Semua yang ada di sini sudah mati,” lapor Rhea.


Menakutkan. Tak ada kata


lain yang bisa menggambarkan pemandangan brutal tersebut. Entah menjadikan Rhea


sebagai budaknya adalah sebuah keberuntungan atau kesialan, Bara mulai tak bisa


lagi membedakannya.


“Di mana Bastian?”


Bara tak bisa melihat


mayat Elf selain Anata. Jumlah Undead yang telah dihancurkan oleh Rhea pun,


tidak sebanyak perkiraannya.


“Tidak tahu.”


Rhea mengangkat bahu acuh


tak acuh. Mungkin orang yang Bara cari sudah kabur dari tadi. Sebab tak ada


lagi siapa pun di sekitar sana selain mereka berdua. Dengan kata lain, Anata


sengaja ditinggalkan untuk menahan mereka di sini.


Tidak salah lagi. Bastian


pasti telah melarikan diri membawa sebagian pasukannya, tapi kenapa? Bila ia


yakin bisa menang dari mereka, kenapa harus kabur terburu-buru seperti itu?


Apa jangan-jangan ...


Bastian memiliki sesuatu yang lebih penting daripada membangun altar?


“Kita harus segera

__ADS_1


mengejarnya!” Jika tebakan Bara benar, maka tak boleh ia biarkan. Apa pun itu


yang lebih penting daripada altar, pastilah berhubungan dengan binatang mistik.


__ADS_2