
Esok paginya, Raja
mengumpulkan regu Bara dan Kanya dalam satu ruangan. Dia berniat membawa mereka
semua meninggalkan Benteng Barat sebelum rombongan Letnan Orin sampai.
“Semakin cepat kalian
menghilang dari sini, semakin baik juga keadaan Benteng Barat,” ujar Nakula
serius.
Meena menghentak-hentakkan
kakinya, gemas ingin mencakar muka Nakula. Kalau saat ini Bara tak menahannya,
dia pasti sudah berlarian ke depan Raja dan mulai menindasnya tanpa peduli pada
apa pun.
“Kami mengerti akan hal
ini, tetapi kenapa kami harus berangkat denganmu, Yang Mulia.” Bara menjawab
dengan formal, tetapi sebenarnya ia tengah mencoba memberi isyarat agar Raja
melihat kekesalan Meena. Seperti ingin berkata, lihatlah tingkah cebol ini.
Sebaiknya kau berhenti membuat keputusan yang memancing emosinya.
“Karena aku ingin bermanja-manja
dengan Meena kecilku,” jawab Nakula bercanda.
“Bicara apa kau! Dasar Genit!
Jangan menatapku!” Meena mengamuk, mengeluarkan semua batu mananya untuk
dipakai melempar Nakula. Ia semakin emosi karena tak satu pun lemparannya yang
mengenai Raja.
“Haha! Bercanda! Bercanda,
Meena. Kau manis sekali kalau marah begitu.” Nakula tertawa lantang. Hanya
dengan sedikit usaha, dia merampas Meena dari Bara. Kini gadis bertubuh mungil
itu telah berada di pelukannya. Berwajah seram seperti ingin mengutuk.
“Kalau hanya bercanda, lepaskan
Meena dong.” Hanya Kyra yang serius ingin menolong Meena. Sedangkan teman-teman
yang lain masa bodoh, pasrah melihat tingkah mereka. Lagian mereka pacaran,
kan? Siapa yang mau terlibat pertengkaran antara kekasih.
“Kyra, kamu memang
temanku. Tak seperti Elf tua jahat itu.”
“Kau sendiri yang mau jadi
pengantinnya, jangan menyalahkanku!”
“Siapa yang mau! Aku
dipaksa!”
“Bisakah kalian diam? Bila
kalian lupa, lawan bicara kalian tetaplah seorang Raja.” Kyra, Bara dan Meena
diam seketika. Kata-kata Alexi seperti sebuah perintah yang tak bisa dibantah.
“Yang Mulia juga, lepaskan
dia.” Bahkan Nakula mendengarkan. Ia melepaskan Meena dengan tampang kecut tak
rela.
“Kalian serius sekali,
membosankan,” keluh Nakula.
Pembicaraan ini semakin
tak jelas. Entah apa maunya Nakula, tak satu pun dari mereka yang bisa
memahaminya. Bila dilihat dari keadaan, membiarkan ketiga gadis itu dalam
perlindungan Nakula adalah keputusan terbaik.
Masalahnya adalah mereka
tak akan mau menghabiskan seumur hidupnya di dalam istana. Bara juga yakin,
Nakula tak ada niat membawa mereka ke istana. Hanya saja ia tak paham kenapa
Nakula menyuruh mereka mengikutinya.
“Kenapa Yang Mulia tidak
menjelaskan apa yang sebenarnya Yang Mulia inginkan?” Akhirnya Soli bertanya
juga. Dari tadi dia mencoba untuk tidak memotong pembicaraan atau ikut campur
urusan pribadi Nakula. Namun, mereka semua butuh kejelasan.
Selain Meena dan Kyra yang
bertingkah kekanakan, yang lainnya berpikir dengan serius. Kanya telah berhenti
berpura-pura bertingkah seperti anak kecil. Ia tengah waspada pada Nakula.
Karena Kanya tahu, kebanyakan binatang mistik tidak akur. Dia belum tahu apa
mau Nakula padanya. Apa memang hanya ingin menolong demi Meena, atau punya niat
terselubung lain.
“Karena bawahanku sudah
bertanya, aku akan bersikap layaknya tuan yang baik. Jadi ini rencananya,” ujar
Nakula.
Ternyata Nakula hanya
ingin membuat seakan ketiga gadis itu dibawa ke istana bersama dengannya.
Kemudian, di tengah jalan mereka berpisah. Tujuannya adalah untuk menyebar
informasi palsu pada orang-orang yang ingin memburu para pengantin.
Saat semua orang sibuk
mencoba menerobos masuk ke dalam istana, gadis-gadis itu bisa melatih diri
mereka di tempat lain. Cara seperti ini memang tak terlalu berguna, tapi
setidaknya bisa mengulur sedikit waktu hingga gadis-gadis itu bertambah kuat.
“Apa sekarang kamu masih
marah padaku, Meena?” Saat semua orang mendengarkan dengan serius, Nakula curi kesempatan
merangkul Meena. Kecepatannya begitu luar biasa sampai tak ada yang sadar kapan
pria itu berpindah tempat.
“Huft! Jangan sentuh!” Meena membuang muka, menepis tangan Nakula
__ADS_1
dari pundaknya. Ia memang selalu bersikap kasar pada Nakula, tapi sebenarnya ada
rasa kagum yang tersembunyi dibalik segala luapan emosinya.
Sekilas, Kyra bisa melihat
sorot mata berbeda Meena pada Nakula. Dan itu membuat tanggapan Kyra pada
hubungan Meena dan Nakula sedikit berubah. Bila dipikirkan kembali, hubungan
antara manusia dan binatang mistik memang terlalu misterius. Bagi Kyra,
memahami Letnan Alexi saja sudah cukup sulit. Apalagi memahami Phoenix yang tak
diketahui isi pikirannya.
“Baiklah. Karena sudah
diputuskan. Kita berangkat sekarang. Amara sudah menyiapkan pengawal dan kereta
kuda untuk kita.” Alexi bangkit berdiri, memimpin jalan karena Nakula terlalu
sibuk menggoda Meena tak peduli pada apa pun.
Kyra mengikuti Alexi di
belakang. Sesekali ia mencuri pandang, bertanya-tanya apa maksud dari tiap
tindakan ambigu sang Letnan. Sesaat seakan pria itu sangat perhatian padanya,
dan di lain waktu, seperti ada tembok pembatas di antara mereka.
“Jangan jatuh cinta kepada
orang lain. Binatang mistik tak akan memaafkan pengkhianatan.” Kyra tersentak
kaget. Kanya mendadak ada di sampingnya, mengucapkan sesuatu yang membuatnya
panik.
“Apa yang kau bicarakan
Kanya. Siapa yang suka siapa, aku tak mengerti perasaan seperti itu ....” Kata-kata
Kyra terdengar bagai alasan bagi Kanya. Rona wajah dan ekspresi Kyra terlalu
mudah terbaca, termasuk perasaannya pada Alexi yang tak mau ia akui.
“Aku hanya memberi tahu.”
“Aku sungguh-sungguh tak
mau memikirkan hal seperti itu sebelum ingatanku kembali.” Kyra punya
pertimbangannya sendiri. Dia merasa sulit karena keadaannya tidak sama dengan
Meena dan Kanya. Mereka kenal dengan pasangan mereka, sempat menghabiskan waktu
bersama sebelum berpisah. Sedangkan dirinya tak tahu apa-apa tentang pemilik
darah yang mengalir dalam tubuhnya. Apa yang terjadi di masa lalu hingga dia
bisa menjadi pengantin saja tak Kyra pahami. Bagaimana mungkin Kyra berani
mengejar cinta yang lain.
***
Perjalanan sudah
berlangsung selama setengah hari. Meena bisa melihat ada beberapa orang yang
mengikuti mereka dari Benteng Barat. Jelas orang-orang itu musuh. Entah dari organisasi
mana, semuanya sama saja.
Berkali-kali Meena melihat
keluar jendela, merasa waspada sekaligus bosan diganggu oleh Nakula. Semua teman-temannya
mesum.
“Mereka hanya
memata-matai, Meena.”
“Tahu kok. Hanya orang
idiot yang nekat menyerang rombonganmu.”
Meena bersedekap,
menyilangkan kaki memasang tampang jutek. Sesebal apa pun dia pada Nakula,
logikanya tetap jalan. Mereka aman karena si mesum ini ada bersama dengan mereka.
Biar hanya sedikit, ia harus berterima kasih pada kebaikan Nakula.
Meena beda dengan Kanya
dan Kyra yang tak tahu apa-apa. Ia tahu hampir semua yang boleh diketahui oleh
gadis pengantin. Nakula tidak bermain tarik ulur atau melepaskannya begitu saja
seperti yang dilakukan oleh binatang mistik lain.
Meena juga paham, bila
semakin banyak Nakula menolongnya, maka posisinya akan makin sulit di antara
Naga-Naga lain. Makanya ia begitu kesal. Karena kebaikan Nakula membuatnya
merasa bersalah. Mereka tidak membangun ikatan dari cinta, tak ada alasan bagi
Nakula untuk memberinya perlakukan spesial.
“Kenapa kau selalu tertawa
seperti orang bodoh di depanku?”
“Karena aku sangat senang
berada di dekatmu.”
Meena menelan ludah. Ia
menyesal telah bertanya. Nakula terlalu dekat. Menjawab saja perlu memajukan
tubuhnya segala. Lagi-lagi Nakula menyentuh sesukanya, membelai wajah Meena
dengan ujung jarinya.
Pipi Meena merona. Sentuh
ujung jari Nakula terasa seperti sengatan listrik, mengingatkannya kembali akan
kesan kuat saat mereka pertama kali bertemu. Bola mata Nakula sangat indah,
berwarna seperti laut malam yang mampu menelan dirinya.
“Kenapa aku? Kau punya
ratusan wanita lain.” Setelah sekian lama, akhirnya Meena bertanya kenapa dia
yang dipilih menjadi pengantin Nakula. Omong kosong bila Naga itu berkata
karena dia menolongnya. Sebab, Meena tahu. Sekalipun ia tak menolong Nakula
saat itu, Naga satu ini tak akan mati. Dia hanya begitu bodoh dan naif sampai
melakukan hal sia-sia yang mengubah hidupnya.
“Kau percaya pada cinta
__ADS_1
pada pandangan pertama?” Curang sekali. Mengucapkan hal seperti itu dengan
suara yang begitu lembut dan tatapan mata begitu hangat seolah memang dirinya
dicintai.
“Berapa wanita yang
kaugombali dengan kata-kata sama?” Meena menepis pernyataan Nakula dengan pertanyaan
bernada menuduh. Dalam hati dia bersikeras meyakinkan diri agar tidak tertipu
gombalan Nakula.
Sang Raja kehilangan
senyumannya. Dia menjauh perlahan dari Meena. Helaan napas panjang membuat
wajah menawan itu terlihat muram.
“Biarpun aku berkata
mencintaimu sejuta kali, kau pastikan akan berpikir aku mengatakannya sebanyak
itu pada wanita lain juga. Pembicaraan ini sia-sia, Meena.” Memang sia-sia.
Karena Meena tak akan pernah percaya kata cinta dari pria yang senang
mengoleksi selir. Ada kalanya hatinya ingin percaya bila Nakula memang jatuh
cinta kepadanya lima tahun yang lalu, tetapi kenyataan yang berada di depan
matanya membuat ia menepis rasa percaya yang hanya sedikit tersebut.
“Kalau begitu jangan
menggombal lagi. Aku akan membangkitkan kekuatanku dan mendapatkan keabadian.
Kemudian, kita akan punya waktu selamanya untuk mencari jawaban.” Ada hal yang
harus Meena lakukan dulu sebelum memastikan cinta Nakula. Yakni perasaannya
sendiri. Tak ada gunanya ia mencari tahu atau mencoba memahami saat ia bahkan
tak mencintai Nakula. Lagian prioritas utamanya saat ini adalah menjadi kuat.
“Sepakat. Ayo buat ini
menjadi janji.” Nakula kembali tersenyum. Sedikit kelengahan Meena memberinya
kesempatan untuk mendekat. Saat Meena sadar, Nakula telah berpindah ke
sampingnya, memeluknya erat-erat seraya memainkan rambutnya.
“Cih. Ajarkan aku cara
menggunakan kekuatanmu dulu!” Meena tahu bila dia bisa menggunakan kekuatan
Nakula untuk bertarung. Ia hanya terlalu gengsi mencoba memakainya selama ini. Namun
sekarang berbeda, gengsi hanya akan menghancurkan dirinya sendiri.
Kemampuan asli Meena
sebagai pendukung sudah sangat baik, tapi sebagai petarung dia tak berguna.
Bila dia bisa menggunakan kekuatan Nakula dengan baik, dia bisa menjadi Dukun
yang ahli dalam mendukung, bertahan dan menyerang.
Sihir Naga adalah salah
satu jenis serangan terkuat. Meena telah banyak mempelajarinya, tapi karena tidak
cocok dengan kelasnya, ia tidak pernah berpikir bisa menggunakannya dengan
maksimal. Setelah bertemu dengan Kanya, mata Meena terbuka.
Jenis kekuatan Roh Air dan
Kura-kura Hitam adalah sihir air pertahanan, tetapi Kanya justru memperlihatkan
keunggulan pada kemampuan serang. Itulah yang membuat Meena menyadari bila
teori yang selama ini ia percayai tidak sepenuhnya akurat. Pasti ada cara
mengembangkan kekuatan dan cara itu merupakan rahasia binatang mistik. Hugo
mengajari Kanya, jadi harusnya Nakula boleh mengajarkan padanya juga.
“Dengan senang hati Meena,
tapi bayaranku tak murah lho!” Ugh. Meena lupa, si mesum ini senang cari
kesempatan. Tiba-tiba Meena jadi ragu untuk meminta tolong pada Nakula.
“Akan kupikirkan kembali.”
Meena merinding, refleks mendorong Nakula menjauh karena merasakan niat terselubung
pria itu.
“Kenapa menjauh, aku hanya
ingin satu ciuman. Jangan pelit seperti itu.” Tak peduli berapa keras ia
berusaha menyingkirkan Nakula, Meena tak bisa. Ia selalu bisa lolos karena
Nakula sengaja mengalah, tapi saat Nakula serius menginginkannya, Meena tak
akan bisa berbuat apa-apa.
“Meena, tak perlu takut,”
ujar Nakula.
“Siapa yang takut, bodoh!”
Meena mencengkeram baju Nakula, mendekatkan wajah mereka dan mencuri satu
ciuman singkat dari sang Raja.
Nakula tak mengira
candaannya ditanggapi dengan serius. Sikap malu-malu Meena terlihat menggemaskan,
membuatnya tak bisa menahan diri. Kali ini, Nakula yang mencuri ciuman dari
Meena. Ia ******* bibir mungil itu, menyisipkan lidahnya di antara ******* yang
intens.
Untuk sesaat, Meena sempat
terbius. Kemudian, ia mendorong Nakula dan mulai memukulinya sekuat tenaga. “Penipu!
Dasar mesum! Katanya cuma sekali!” Segala omelan keluar dari mulutnya untuk
menutupi rasa malu.
“Siapa suruh percaya
padaku.” Dan bagi Nakula, tingkah Meena yang begini pun begitu menggemaskan.
“Diam! Cepat ajarkan aku!”
“Yang sabar dong.”
Setelah itu, Meena tak
memberinya kesempatan sama sekali. Setiap detik waktu yang dilewati bersama,
terisi oleh latihan tanpa henti. Tak peduli berapa cemberut muka Nakula, Meena
__ADS_1
bertingkah seakan tak sadar.