Phoenix Bride

Phoenix Bride
Episode 27


__ADS_3

Esok paginya, Raja


mengumpulkan regu Bara dan Kanya dalam satu ruangan. Dia berniat membawa mereka


semua meninggalkan Benteng Barat sebelum rombongan Letnan Orin sampai.


“Semakin cepat kalian


menghilang dari sini, semakin baik juga keadaan Benteng Barat,” ujar Nakula


serius.


Meena menghentak-hentakkan


kakinya, gemas ingin mencakar muka Nakula. Kalau saat ini Bara tak menahannya,


dia pasti sudah berlarian ke depan Raja dan mulai menindasnya tanpa peduli pada


apa pun.


“Kami mengerti akan hal


ini, tetapi kenapa kami harus berangkat denganmu, Yang Mulia.” Bara menjawab


dengan formal, tetapi sebenarnya ia tengah mencoba memberi isyarat agar Raja


melihat kekesalan Meena. Seperti ingin berkata, lihatlah tingkah cebol ini.


Sebaiknya kau berhenti membuat keputusan yang memancing emosinya.


“Karena aku ingin bermanja-manja


dengan Meena kecilku,” jawab Nakula bercanda.


“Bicara apa kau! Dasar Genit!


Jangan menatapku!” Meena mengamuk, mengeluarkan semua batu mananya untuk


dipakai melempar Nakula. Ia semakin emosi karena tak satu pun lemparannya yang


mengenai Raja.


“Haha! Bercanda! Bercanda,


Meena. Kau manis sekali kalau marah begitu.” Nakula tertawa lantang. Hanya


dengan sedikit usaha, dia merampas Meena dari Bara. Kini gadis bertubuh mungil


itu telah berada di pelukannya. Berwajah seram seperti ingin mengutuk.


“Kalau hanya bercanda, lepaskan


Meena dong.” Hanya Kyra yang serius ingin menolong Meena. Sedangkan teman-teman


yang lain masa bodoh, pasrah melihat tingkah mereka. Lagian mereka pacaran,


kan? Siapa yang mau terlibat pertengkaran antara kekasih.


“Kyra, kamu memang


temanku. Tak seperti Elf tua jahat itu.”


“Kau sendiri yang mau jadi


pengantinnya, jangan menyalahkanku!”


“Siapa yang mau! Aku


dipaksa!”


“Bisakah kalian diam? Bila


kalian lupa, lawan bicara kalian tetaplah seorang Raja.” Kyra, Bara dan Meena


diam seketika. Kata-kata Alexi seperti sebuah perintah yang tak bisa dibantah.


“Yang Mulia juga, lepaskan


dia.” Bahkan Nakula mendengarkan. Ia melepaskan Meena dengan tampang kecut tak


rela.


“Kalian serius sekali,


membosankan,” keluh Nakula.


Pembicaraan ini semakin


tak jelas. Entah apa maunya Nakula, tak satu pun dari mereka yang bisa


memahaminya. Bila dilihat dari keadaan, membiarkan ketiga gadis itu dalam


perlindungan Nakula adalah keputusan terbaik.


Masalahnya adalah mereka


tak akan mau menghabiskan seumur hidupnya di dalam istana. Bara juga yakin,


Nakula tak ada niat membawa mereka ke istana. Hanya saja ia tak paham kenapa


Nakula menyuruh mereka mengikutinya.


“Kenapa Yang Mulia tidak


menjelaskan apa yang sebenarnya Yang Mulia inginkan?” Akhirnya Soli bertanya


juga. Dari tadi dia mencoba untuk tidak memotong pembicaraan atau ikut campur


urusan pribadi Nakula. Namun, mereka semua butuh kejelasan.


Selain Meena dan Kyra yang


bertingkah kekanakan, yang lainnya berpikir dengan serius. Kanya telah berhenti


berpura-pura bertingkah seperti anak kecil. Ia tengah waspada pada Nakula.


Karena Kanya tahu, kebanyakan binatang mistik tidak akur. Dia belum tahu apa


mau Nakula padanya. Apa memang hanya ingin menolong demi Meena, atau punya niat


terselubung lain.


“Karena bawahanku sudah


bertanya, aku akan bersikap layaknya tuan yang baik. Jadi ini rencananya,” ujar


Nakula.


Ternyata Nakula hanya


ingin membuat seakan ketiga gadis itu dibawa ke istana bersama dengannya.


Kemudian, di tengah jalan mereka berpisah. Tujuannya adalah untuk menyebar


informasi palsu pada orang-orang yang ingin memburu para pengantin.


Saat semua orang sibuk


mencoba menerobos masuk ke dalam istana, gadis-gadis itu bisa melatih diri


mereka di tempat lain. Cara seperti ini memang tak terlalu berguna, tapi


setidaknya bisa mengulur sedikit waktu hingga gadis-gadis itu bertambah kuat.


“Apa sekarang kamu masih


marah padaku, Meena?” Saat semua orang mendengarkan dengan serius, Nakula curi kesempatan


merangkul Meena. Kecepatannya begitu luar biasa sampai tak ada yang sadar kapan


pria itu berpindah tempat.


“Huft! Jangan sentuh!” Meena membuang muka, menepis tangan Nakula

__ADS_1


dari pundaknya. Ia memang selalu bersikap kasar pada Nakula, tapi sebenarnya ada


rasa kagum yang tersembunyi dibalik segala luapan emosinya.


Sekilas, Kyra bisa melihat


sorot mata berbeda Meena pada Nakula. Dan itu membuat tanggapan Kyra pada


hubungan Meena dan Nakula sedikit berubah. Bila dipikirkan kembali, hubungan


antara manusia dan binatang mistik memang terlalu misterius. Bagi Kyra,


memahami Letnan Alexi saja sudah cukup sulit. Apalagi memahami Phoenix yang tak


diketahui isi pikirannya.


“Baiklah. Karena sudah


diputuskan. Kita berangkat sekarang. Amara sudah menyiapkan pengawal dan kereta


kuda untuk kita.” Alexi bangkit berdiri, memimpin jalan karena Nakula terlalu


sibuk menggoda Meena tak peduli pada apa pun.


Kyra mengikuti Alexi di


belakang. Sesekali ia mencuri pandang, bertanya-tanya apa maksud dari tiap


tindakan ambigu sang Letnan. Sesaat seakan pria itu sangat perhatian padanya,


dan di lain waktu, seperti ada tembok pembatas di antara mereka.


“Jangan jatuh cinta kepada


orang lain. Binatang mistik tak akan memaafkan pengkhianatan.” Kyra tersentak


kaget. Kanya mendadak ada di sampingnya, mengucapkan sesuatu yang membuatnya


panik.


“Apa yang kau bicarakan


Kanya. Siapa yang suka siapa, aku tak mengerti perasaan seperti itu ....” Kata-kata


Kyra terdengar bagai alasan bagi Kanya. Rona wajah dan ekspresi Kyra terlalu


mudah terbaca, termasuk perasaannya pada Alexi yang tak mau ia akui.


“Aku hanya memberi tahu.”


“Aku sungguh-sungguh tak


mau memikirkan hal seperti itu sebelum ingatanku kembali.” Kyra punya


pertimbangannya sendiri. Dia merasa sulit karena keadaannya tidak sama dengan


Meena dan Kanya. Mereka kenal dengan pasangan mereka, sempat menghabiskan waktu


bersama sebelum berpisah. Sedangkan dirinya tak tahu apa-apa tentang pemilik


darah yang mengalir dalam tubuhnya. Apa yang terjadi di masa lalu hingga dia


bisa menjadi pengantin saja tak Kyra pahami. Bagaimana mungkin Kyra berani


mengejar cinta yang lain.


***


Perjalanan sudah


berlangsung selama setengah hari. Meena bisa melihat ada beberapa orang yang


mengikuti mereka dari Benteng Barat. Jelas orang-orang itu musuh. Entah dari organisasi


mana, semuanya sama saja.


Berkali-kali Meena melihat


keluar jendela, merasa waspada sekaligus bosan diganggu oleh Nakula. Semua teman-temannya


mesum.


“Mereka hanya


memata-matai, Meena.”


“Tahu kok. Hanya orang


idiot yang nekat menyerang rombonganmu.”


Meena bersedekap,


menyilangkan kaki memasang tampang jutek. Sesebal apa pun dia pada Nakula,


logikanya tetap jalan. Mereka aman karena si mesum ini ada bersama dengan mereka.


Biar hanya sedikit, ia harus berterima kasih pada kebaikan Nakula.


Meena beda dengan Kanya


dan Kyra yang tak tahu apa-apa. Ia tahu hampir semua yang boleh diketahui oleh


gadis pengantin. Nakula tidak bermain tarik ulur atau melepaskannya begitu saja


seperti yang dilakukan oleh binatang mistik lain.


Meena juga paham, bila


semakin banyak Nakula menolongnya, maka posisinya akan makin sulit di antara


Naga-Naga lain. Makanya ia begitu kesal. Karena kebaikan Nakula membuatnya


merasa bersalah. Mereka tidak membangun ikatan dari cinta, tak ada alasan bagi


Nakula untuk memberinya perlakukan spesial.


“Kenapa kau selalu tertawa


seperti orang bodoh di depanku?”


“Karena aku sangat senang


berada di dekatmu.”


Meena menelan ludah. Ia


menyesal telah bertanya. Nakula terlalu dekat. Menjawab saja perlu memajukan


tubuhnya segala. Lagi-lagi Nakula menyentuh sesukanya, membelai wajah Meena


dengan ujung jarinya.


Pipi Meena merona. Sentuh


ujung jari Nakula terasa seperti sengatan listrik, mengingatkannya kembali akan


kesan kuat saat mereka pertama kali bertemu. Bola mata Nakula sangat indah,


berwarna seperti laut malam yang mampu menelan dirinya.


“Kenapa aku? Kau punya


ratusan wanita lain.” Setelah sekian lama, akhirnya Meena bertanya kenapa dia


yang dipilih menjadi pengantin Nakula. Omong kosong bila Naga itu berkata


karena dia menolongnya. Sebab, Meena tahu. Sekalipun ia tak menolong Nakula


saat itu, Naga satu ini tak akan mati. Dia hanya begitu bodoh dan naif sampai


melakukan hal sia-sia yang mengubah hidupnya.


“Kau percaya pada cinta

__ADS_1


pada pandangan pertama?” Curang sekali. Mengucapkan hal seperti itu dengan


suara yang begitu lembut dan tatapan mata begitu hangat seolah memang dirinya


dicintai.


“Berapa wanita yang


kaugombali dengan kata-kata sama?” Meena menepis pernyataan Nakula dengan pertanyaan


bernada menuduh. Dalam hati dia bersikeras meyakinkan diri agar tidak tertipu


gombalan Nakula.


Sang Raja kehilangan


senyumannya. Dia menjauh perlahan dari Meena. Helaan napas panjang membuat


wajah menawan itu terlihat muram.


“Biarpun aku berkata


mencintaimu sejuta kali, kau pastikan akan berpikir aku mengatakannya sebanyak


itu pada wanita lain juga. Pembicaraan ini sia-sia, Meena.” Memang sia-sia.


Karena Meena tak akan pernah percaya kata cinta dari pria yang senang


mengoleksi selir. Ada kalanya hatinya ingin percaya bila Nakula memang jatuh


cinta kepadanya lima tahun yang lalu, tetapi kenyataan yang berada di depan


matanya membuat ia menepis rasa percaya yang hanya sedikit tersebut.


“Kalau begitu jangan


menggombal lagi. Aku akan membangkitkan kekuatanku dan mendapatkan keabadian.


Kemudian, kita akan punya waktu selamanya untuk mencari jawaban.” Ada hal yang


harus Meena lakukan dulu sebelum memastikan cinta Nakula. Yakni perasaannya


sendiri. Tak ada gunanya ia mencari tahu atau mencoba memahami saat ia bahkan


tak mencintai Nakula. Lagian prioritas utamanya saat ini adalah menjadi kuat.


“Sepakat. Ayo buat ini


menjadi janji.” Nakula kembali tersenyum. Sedikit kelengahan Meena memberinya


kesempatan untuk mendekat. Saat Meena sadar, Nakula telah berpindah ke


sampingnya, memeluknya erat-erat seraya memainkan rambutnya.


“Cih. Ajarkan aku cara


menggunakan kekuatanmu dulu!” Meena tahu bila dia bisa menggunakan kekuatan


Nakula untuk bertarung. Ia hanya terlalu gengsi mencoba memakainya selama ini. Namun


sekarang berbeda, gengsi hanya akan menghancurkan dirinya sendiri.


Kemampuan asli Meena


sebagai pendukung sudah sangat baik, tapi sebagai petarung dia tak berguna.


Bila dia bisa menggunakan kekuatan Nakula dengan baik, dia bisa menjadi Dukun


yang ahli dalam mendukung, bertahan dan menyerang.


Sihir Naga adalah salah


satu jenis serangan terkuat. Meena telah banyak mempelajarinya, tapi karena tidak


cocok dengan kelasnya, ia tidak pernah berpikir bisa menggunakannya dengan


maksimal. Setelah bertemu dengan Kanya, mata Meena terbuka.


Jenis kekuatan Roh Air dan


Kura-kura Hitam adalah sihir air pertahanan, tetapi Kanya justru memperlihatkan


keunggulan pada kemampuan serang. Itulah yang membuat Meena menyadari bila


teori yang selama ini ia percayai tidak sepenuhnya akurat. Pasti ada cara


mengembangkan kekuatan dan cara itu merupakan rahasia binatang mistik. Hugo


mengajari Kanya, jadi harusnya Nakula boleh mengajarkan padanya juga.


“Dengan senang hati Meena,


tapi bayaranku tak murah lho!” Ugh. Meena lupa, si mesum ini senang cari


kesempatan. Tiba-tiba Meena jadi ragu untuk meminta tolong pada Nakula.


“Akan kupikirkan kembali.”


Meena merinding, refleks mendorong Nakula menjauh karena merasakan niat terselubung


pria itu.


“Kenapa menjauh, aku hanya


ingin satu ciuman. Jangan pelit seperti itu.” Tak peduli berapa keras ia


berusaha menyingkirkan Nakula, Meena tak bisa. Ia selalu bisa lolos karena


Nakula sengaja mengalah, tapi saat Nakula serius menginginkannya, Meena tak


akan bisa berbuat apa-apa.


“Meena, tak perlu takut,”


ujar Nakula.


“Siapa yang takut, bodoh!”


Meena mencengkeram baju Nakula, mendekatkan wajah mereka dan mencuri satu


ciuman singkat dari sang Raja.


Nakula tak mengira


candaannya ditanggapi dengan serius. Sikap malu-malu Meena terlihat menggemaskan,


membuatnya tak bisa menahan diri. Kali ini, Nakula yang mencuri ciuman dari


Meena. Ia ******* bibir mungil itu, menyisipkan lidahnya di antara ******* yang


intens.


Untuk sesaat, Meena sempat


terbius. Kemudian, ia mendorong Nakula dan mulai memukulinya sekuat tenaga. “Penipu!


Dasar mesum! Katanya cuma sekali!” Segala omelan keluar dari mulutnya untuk


menutupi rasa malu.


“Siapa suruh percaya


padaku.” Dan bagi Nakula, tingkah Meena yang begini pun begitu menggemaskan.


“Diam! Cepat ajarkan aku!”


“Yang sabar dong.”


Setelah itu, Meena tak


memberinya kesempatan sama sekali. Setiap detik waktu yang dilewati bersama,


terisi oleh latihan tanpa henti. Tak peduli berapa cemberut muka Nakula, Meena

__ADS_1


bertingkah seakan tak sadar.


__ADS_2