
Beberapa hari telah
berlalu dan usaha pembujukan Wasa tetap tidak membuahkan hasil. Bukan hanya
Bara saja yang kesal. Kyra bisa melihat kalau Meena dan Alexi juga ikut kesal. Mereka
punya banyak hal yang harus dilakukan. Membuang-buang waktu percuma hanya
karena keegoisan satu orang merupakan sesuatu yang tidak bisa dimaklumi.
“Aku akan menemui Driad
itu!” Akhirnya Meena memutuskan untuk bertindak.
“Bagus sekali. Paman
senang mendengarnya.” Wasa langsung bersikap begitu manis, membuat dugaan Kyra
semakin menguat.
“Mau kutemani?”
“Tidak, aku pergi sendiri.
Ini urusan wanita!”
“Aku juga wanita kok.”
“Sudah, biarkan saja si
cebol itu. Kau itu gadis kecil naif, bukan wanita.”
Kyra menawarkan diri
menemani Meena, tapi Meena tak mau dan Bara menahannya dengan kata-kata
menjengkelkan.
“Dilihat dari mana pun aku
lebih dewasa dari Meena.”
Ya, hanya penampilan luar.
Bila bicara soal usia dan pengalaman hidup, Meena jelas lebih dewasa dan bisa
dipercayai daripada Kyra. Bara berpikir demikian, tapi lebih baik tidak
diucapkan.
Akhirnya Meena tetap pergi
menemui Syra sendirian. Dia tidak suka cara ini, tapi lebih baik daripada
menahan semua orang dalam kondisi tidak tentu.
Dukun kecil itu memasuki
Perkampungan Driad dengan berani. Pandangan penasaran dan tak senang dari para
peri penghuni pohon ia abaikan. Fokusnya hanya tertuju pada Syra, wanita cantik
yang saat ini berada di hadapannya.
“Ayo bicara berdua!” ujar
Meena.
Syra menoleh. Tatapannya
pada Meena penuh akan rasa kesal. Baru saja dia mengusir Wasa dan sekarang
mereka malah mengirimkan perwakilan lain.
“Sudah kusampaikan
semuanya pada Menteri itu. Tak ada lagi yang perlu kubicarakan denganmu!”
“Bukankah kau yang berkata
ingin bertemu denganku?”
“Maksudmu?”
Tentu saja Meena tahu bila
dia tak akan diladeni hanya dengan datang dan meminta dengan paksa. Dia harus
memberikan kemauan Syra. Mempertemukan sang Driad dengan sosok Ratu yang dia
cari.
“Lihat baik-baik. Kamu
mengenali ini?”
Sayap Naga yang bersemayam
di dalam tubuhnya, ia keluarkan. Melebar dengan kokoh. Besarnya dua kali ukuran
tubuh Meena. Kerasnya melebih keras batu berlian. Namun, begitu ringan dipenuhi
oleh aliran sihir angin yang terhubung kepada pemilik sesungguhnya.
Syra kehilangan kata-kata.
Rasa takjub dan kaget tiap kali melihat sayap berwarna biru pudar kokoh itu tak
pernah membuatnya terbiasa. Seabad lalu sayap ini masih berada di punggung
gagah sang Raja dan kini, telah berpindah ke punggung gadis mungil yang
terlihat rapuh.
“Jadi benar, Nakula telah
menemukan Ratunya dan wanita itu adalah kau.”
Perasaan Syra begitu
bercampur aduk. Ia tahu bila cintanya tidak akan pernah terbalaskan. Dia hanya
satu dari sekian banyaknya wanita di sisi sang Raja. Sampai batas tertentu,
Syra bisa menerima. Akan tetapi, saat melihat seperti apa sosok wanita pencuri
hati kekasihnya ... rasanya sakit sekali.
“Kenapa Nakula memilihmu?
Kau hanya manusia lemah.” Syra menutup wajahnya dengan telapak tangan, menangis
dengan pilu. Dia yang ingin membuktikan isu itu, memaksa dipertemukan dengan
Ratu pilihan Nakula dan setelahnya, dia menyesal.
“Jangan salah paham. Kata Ratu
itu terlalu berlebihan. Aku tidak pernah setuju dan tidak pernah memberikan
hatiku kepadanya. Dia yang seenaknya mengikatku dengan sayapnya. Bila ada yang
tidak kau sukai, katakan itu kepada Nakula. Sekarang berhenti banyak tingkah.
Ikut kami ke istana. Setelah itu terserah. Kau bisa menamparnya, mencampakkannya
atau tinggal di sisinya seperti ratusan selir lain.”
Meena benci drama ini. Dia
__ADS_1
tidak pernah mengharapkan ikatan dengan Raja Nakula. Jika tahu sedikit belas
kasih yang diberikan kepada seekor Naga terluka tak dikenal bisa mengacaukan
hidupnya, dia tidak akan pernah menolong sang Naga.
Ingatan lima tahun lalu
masih begitu membekas di benak Meena. Dia yang saat itu masih dalam tahap latihan
dengan seorang guru sihir di puncak gunung api, tak sengaja melihat perkelahian
seekor Naga dan Phoenix.
Sang Phoenix menang dan
Naga itu jatuh ke atas tanah. Meena muda merasa kasihan melihat makhluk raksasa
yang terkenal kuat, merintih kesakitan. Dia memutuskan menolongnya dengan menggunakan
semua energi sihir hingga ia kelelahan dan kehilangan kesadaran.
Saat Meena sadar, Naga itu
telah berubah menjadi sosok pria tampan yang dia kenal sebagai Raja Mystisia. Bukan
hanya itu, sebuah tanda telah ditinggalkan di punggungnya. Tanda yang merupakan
pengikatan di antara mereka. Sesuatu yang saat ini Meena sebut dengan istilah sayap
pinjaman.
‘Mulai hari ini kau adalah
milikku. Ratuku.’ Kata-kata egois Nakula saat itu masih begitu membuat Meena
kesal hanya dengan mengingatnya saja.
Dia berhasil kabur karena
memang sengaja dibiarkan bebas, tapi siapa yang tahu kapan Raja semena-mena itu
akan kembali mengejarnya? Lima tahun lalu Meena baru berumur 15 tahun dengan penampilan
yang tampak seperti anak-anak.
Bila dilihat dari selera
wanita Nakula yang senang mengoleksi selir berbadan molek, bertubuh tinggi
dengan kecantikan ala wanita dewasa ... Meena sendiri tak tahu apa yang membuat
sang Raja memilihnya. Dia jelas kebalikan dari tipe wanita kesukaan Nakula.
Meena hanya setinggi 140
sentimeter di usianya yang telah genap 20 tahun. Badannya juga kurus dengan
dada nyaris rata. Wajahnya termasuk golongan imut daripada cantik sehingga
sering dikira lebih muda dari usia sesungguhnya.
Jangankan dirinya, Syra
bahkan sulit percaya. Lihat saja tatapan sang Driad. Setelah menangis, dia
menatap Meena dari ujung kaki hingga ujung kepala dengan anehnya. “Kenapa aku
kalah dengan anak kecil begini!” Kemudian menangis lagi mencari perhatian.
Teman-teman Syra
menghibur, mengatakan hal-hal manis yang terkesan membandingkan mereka. Inilah
kenapa Meena ingin merahasiakan hubungannya dengan Nakula, karena tak akan ada
mau menerima Ratu sepertinya. Termasuk dirinya sendiri.
Jika sudah, mulailah berpamitan. Kau harus ikut kami kembali sekarang juga dan
pastikan menjaga rahasia ini. Baik pada teman-temanku atau selir lainnya.
Paham?”
“Gadis kecil ini
menakutkan sekali! Aku tak percaya dia memaksaku pergi untuk melayani suaminya!”
“Tenanglah, Syra. Kami
mengerti perasaanmu.”
“Cerewet! Kau sendiri yang
mau jadi pacarnya! Jangan membuatku kesal!”
Emosi Meena sudah tak
tertahankan. Sayap besar itu mulai mengeluarkan gelombang udara seperti akan
meledak kapan saja. Para Driad berlarian, masuk ke dalam pohon meninggalkan
Syra sendirian.
“Tidakkah kamu merasa
cemburu?” Setelahnya, Syra berubah menjadi serius. Tadi dia hanya setengah
bercanda. Tak ada sedikit pun rasa takut pada Meena. Niat sebenarnya adalah
menguji perasaan saingannya.
“Cemburu? Padamu? Atau pada semua selirnya?” Meena mendengus, tertawa konyol. Dia tak perlu
menjawabnya, karena tak ada alasan untuk itu.
“Aku tidak peduli. Hidupku
bukan miliknya.”
Entah kenapa tawa Meena
menular pada Syra. Mungkin karena lega setelah mengetahui bukan hanya cintanya
yang bertepuk sebelah tangan.
“Baiklah, aku akan ikut
kalian ke istana. Akan kukatakan apa yang kauucapkan tadi pada Nakula.”
“Silakan! Sesukamu saja!”
Meena membuang muka,
menyimpan sayapnya dan kembali ke tempat teman-temannya berada. Dia tak mau
beradu mulut sia-sia dengan Syra. Mau mengadu? Silakan. Meena tak takut.
***
Baru saja Meena kembali,
Wasa dan Bara sudah mendatanginya dengan tak sabaran. Mereka sudah sangat ingin
pulang secepatnya. “Bagaimana?” Pertanyaan serupa dilontarkan, membuat Meena
memutar bola mata.
“Dia setuju untuk pergi ke
__ADS_1
istana.”
“Gitu dong! Harusnya dari
kemarin kau membujuknya. Cebol satu ini, sini kupuji!” Saking senangnya Bara
mengacak-acak rambut Meena, melontarkan pujian yang terdengar menjengkelkan.
“Memuji apanya! Kau hanya
ingin menggangguku! Sana jauh-jauh!” Meena mengamuk lagi, memukul-mukul dada
Bara main-main.
Wasa telah meninggalkan
mereka. Ia menemui Alexi menyampaikan kabar tersebut. Begitu mendengarnya,
ekspresi wajah Alexi berubah. Mereka berdua berdiskusi diam-diam.
“Jadi memang Meena?”
“Kemungkinan besar, iya. Jika
bukan tidak mungkin Nona Meena bisa membujuk Nona Syra.”
“Haruskah kita membawanya kepada
Raja juga?”
“Jangan, akan kusampaikan
dulu. Kita tak bisa seenaknya menyinggung Nona Meena.”
Fakta kalau Meena adalah
Ratu yang disembunyikan tak bisa disangkal, tetapi juga tidak ada yang
membuktikan. Selama Raja sendiri membiarkannya menjalani kehidupan sebagai
Petualangan, siapa yang berani menghentikan Meena?
Akhirnya mereka memutuskan
untuk menanggulangi masalah ini. Yang lebih penting adalah membawa Syra pulang.
Soal Meena biarkan Raja yang menentukan.
Persiapan pun segera
dimulai. Tenda-tenda dibongkar, pelana kuda segera dipasang. Begitu Syra
datang, mereka telah siap berangkat.
Wasa berjalan mendekati
Syra, memastikan dua orang Ksatria segera membawakan barang-barang selir baru
Raja.
“Bagaimana dengan pohon
Nona? Apa kami perlu menggalinya?”
“Tidak perlu. Aku hanya perlu
membawa bibit pohonku dan menanamnya kembali di sana.”
“Baguslah kalau begitu.
Silakan masuk ke sini, Nona Syra.”
“Aku ingin gadis kecil itu
menemaniku.”
“Maaf, kami tak bisa
memintanya.”
Syra memang berbicara
dengan Wasa, tapi tatapannya begitu tajam tertuju pada Meena. Si gadis mungil
membuang muka, masuk ke kereta Alexi dan Kyra. Tak ada yang melarangnya,
meskipun Syra terlihat tak senang.
Dengan keadaan begitu,
mereka berangkat melewati rute yang sama. Kali ini Danau Duyung tidak lagi
berbahaya. Ikan-ikan itu hanya mengintip dari tepian danau tanpa ada niat
menyerang. Sosok Bara yang duduk di atas kereta mengintimidasi mereka. Tak ada
yang mau berenang di danau es atau dibakar dengan luapan api tanpa henti.
Mereka tiba di istana
dalam dua hari. Para Petualangan hanya mengantarkan hingga ke depan gerbang
istana. Mereka kembali ke Gedung Serikat Petualang. Melaporkan keberhasilan
misi dan mengambil bayaran.
“Aku mau pulang, jangan
ambil misi baru dulu!” Meena mengingatkan. Tahu Bara suka seenaknya. Kasihan
Kyra, belum terbiasa sudah diseret ke sana kemari.
“Iya, tahu! Aku akan
melatih Kyra selama tiga hari. Setelah itu kita berkumpul di sini.” Ternyata dugaan
Meena salah, Bara juga punya kepedulian pada rekan. Dia tersenyum manis,
melambaikan tangan meninggalkan mereka.
“Kyra, lapor padaku kalau
Bara terlalu keras padamu ya!”
“Kau itu menganggap aku
apa! Dasar cebol cerewet!”
Bara mengomel, tapi setelahnya
dia tertawa konyol. Kyra jadi senyum-senyum sendiri melihat tingkah mereka. Tak
pernah berubah, seakan pembicaraan rahasia dengan Alexi tak pernah ada.
“Jangan tertawa, latihan
keras menanti. Ayo pulang ke rumahmu.”
“Siap!”
Benar. Meena bukan Ratu
dan mereka tak akan bertemu lagi dengan Alexi. Tak ada yang perlu Kyra cemaskan.
Setidaknya, itulah yang Kyra pikirkan saat ini. Karena tak ada seorang pun yang
bisa menebak masa depan.
Author’s Note :
__ADS_1
Kelas Pengembara merupakan
penyerang utama. Memiliki kekuatan serangan yang tinggi.