Phoenix Bride

Phoenix Bride
Episode 6


__ADS_3

Beberapa hari telah


berlalu dan usaha pembujukan Wasa tetap tidak membuahkan hasil. Bukan hanya


Bara saja yang kesal. Kyra bisa melihat kalau Meena dan Alexi juga ikut kesal. Mereka


punya banyak hal yang harus dilakukan. Membuang-buang waktu percuma hanya


karena keegoisan satu orang merupakan sesuatu yang tidak bisa dimaklumi.


“Aku akan menemui Driad


itu!” Akhirnya Meena memutuskan untuk bertindak.


“Bagus sekali. Paman


senang mendengarnya.” Wasa langsung bersikap begitu manis, membuat dugaan Kyra


semakin menguat.


“Mau kutemani?”


“Tidak, aku pergi sendiri.


Ini urusan wanita!”


“Aku juga wanita kok.”


“Sudah, biarkan saja si


cebol itu. Kau itu gadis kecil naif, bukan wanita.”


Kyra menawarkan diri


menemani Meena, tapi Meena tak mau dan Bara menahannya dengan kata-kata


menjengkelkan.


“Dilihat dari mana pun aku


lebih dewasa dari Meena.”


Ya, hanya penampilan luar.


Bila bicara soal usia dan pengalaman hidup, Meena jelas lebih dewasa dan bisa


dipercayai daripada Kyra. Bara berpikir demikian, tapi lebih baik tidak


diucapkan.


Akhirnya Meena tetap pergi


menemui Syra sendirian. Dia tidak suka cara ini, tapi lebih baik daripada


menahan semua orang dalam kondisi tidak tentu.


Dukun kecil itu memasuki


Perkampungan Driad dengan berani. Pandangan penasaran dan tak senang dari para


peri penghuni pohon ia abaikan. Fokusnya hanya tertuju pada Syra, wanita cantik


yang saat ini berada di hadapannya.


“Ayo bicara berdua!” ujar


Meena.


Syra menoleh. Tatapannya


pada Meena penuh akan rasa kesal. Baru saja dia mengusir Wasa dan sekarang


mereka malah mengirimkan perwakilan lain.


“Sudah kusampaikan


semuanya pada Menteri itu. Tak ada lagi yang perlu kubicarakan denganmu!”


“Bukankah kau yang berkata


ingin bertemu denganku?”


“Maksudmu?”


Tentu saja Meena tahu bila


dia tak akan diladeni hanya dengan datang dan meminta dengan paksa. Dia harus


memberikan kemauan Syra. Mempertemukan sang Driad dengan sosok Ratu yang dia


cari.


“Lihat baik-baik. Kamu


mengenali ini?”


Sayap Naga yang bersemayam


di dalam tubuhnya, ia keluarkan. Melebar dengan kokoh. Besarnya dua kali ukuran


tubuh Meena. Kerasnya melebih keras batu berlian. Namun, begitu ringan dipenuhi


oleh aliran sihir angin yang terhubung kepada pemilik sesungguhnya.


Syra kehilangan kata-kata.


Rasa takjub dan kaget tiap kali melihat sayap berwarna biru pudar kokoh itu tak


pernah membuatnya terbiasa. Seabad lalu sayap ini masih berada di punggung


gagah sang Raja dan kini, telah berpindah ke punggung gadis mungil yang


terlihat rapuh.


“Jadi benar, Nakula telah


menemukan Ratunya dan wanita itu adalah kau.”


Perasaan Syra begitu


bercampur aduk. Ia tahu bila cintanya tidak akan pernah terbalaskan. Dia hanya


satu dari sekian banyaknya wanita di sisi sang Raja. Sampai batas tertentu,


Syra bisa menerima. Akan tetapi, saat melihat seperti apa sosok wanita pencuri


hati kekasihnya ... rasanya sakit sekali.


“Kenapa Nakula memilihmu?


Kau hanya manusia lemah.” Syra menutup wajahnya dengan telapak tangan, menangis


dengan pilu. Dia yang ingin membuktikan isu itu, memaksa dipertemukan dengan


Ratu pilihan Nakula dan setelahnya, dia menyesal.


“Jangan salah paham. Kata Ratu


itu terlalu berlebihan. Aku tidak pernah setuju dan tidak pernah memberikan


hatiku kepadanya. Dia yang seenaknya mengikatku dengan sayapnya. Bila ada yang


tidak kau sukai, katakan itu kepada Nakula. Sekarang berhenti banyak tingkah.


Ikut kami ke istana. Setelah itu terserah. Kau bisa menamparnya, mencampakkannya


atau tinggal di sisinya seperti ratusan selir lain.”


Meena benci drama ini. Dia

__ADS_1


tidak pernah mengharapkan ikatan dengan Raja Nakula. Jika tahu sedikit belas


kasih yang diberikan kepada seekor Naga terluka tak dikenal bisa mengacaukan


hidupnya, dia tidak akan pernah menolong sang Naga.


Ingatan lima tahun lalu


masih begitu membekas di benak Meena. Dia yang saat itu masih dalam tahap latihan


dengan seorang guru sihir di puncak gunung api, tak sengaja melihat perkelahian


seekor Naga dan Phoenix.


Sang Phoenix menang dan


Naga itu jatuh ke atas tanah. Meena muda merasa kasihan melihat makhluk raksasa


yang terkenal kuat, merintih kesakitan. Dia memutuskan menolongnya dengan menggunakan


semua energi sihir hingga ia kelelahan dan kehilangan kesadaran.


Saat Meena sadar, Naga itu


telah berubah menjadi sosok pria tampan yang dia kenal sebagai Raja Mystisia. Bukan


hanya itu, sebuah tanda telah ditinggalkan di punggungnya. Tanda yang merupakan


pengikatan di antara mereka. Sesuatu yang saat ini Meena sebut dengan istilah sayap


pinjaman.


‘Mulai hari ini kau adalah


milikku. Ratuku.’ Kata-kata egois Nakula saat itu masih begitu membuat Meena


kesal hanya dengan mengingatnya saja.


Dia berhasil kabur karena


memang sengaja dibiarkan bebas, tapi siapa yang tahu kapan Raja semena-mena itu


akan kembali mengejarnya? Lima tahun lalu Meena baru berumur 15 tahun dengan penampilan


yang tampak seperti anak-anak.


Bila dilihat dari selera


wanita Nakula yang senang mengoleksi selir berbadan molek, bertubuh tinggi


dengan kecantikan ala wanita dewasa ... Meena sendiri tak tahu apa yang membuat


sang Raja memilihnya. Dia jelas kebalikan dari tipe wanita kesukaan Nakula.


Meena hanya setinggi 140


sentimeter di usianya yang telah genap 20 tahun. Badannya juga kurus dengan


dada nyaris rata. Wajahnya termasuk golongan imut daripada cantik sehingga


sering dikira lebih muda dari usia sesungguhnya.


Jangankan dirinya, Syra


bahkan sulit percaya. Lihat saja tatapan sang Driad. Setelah menangis, dia


menatap Meena dari ujung kaki hingga ujung kepala dengan anehnya. “Kenapa aku


kalah dengan anak kecil begini!” Kemudian menangis lagi mencari perhatian.


Teman-teman Syra


menghibur, mengatakan hal-hal manis yang terkesan membandingkan mereka. Inilah


kenapa Meena ingin merahasiakan hubungannya dengan Nakula, karena tak akan ada


mau menerima Ratu sepertinya. Termasuk dirinya sendiri.


Jika sudah, mulailah berpamitan. Kau harus ikut kami kembali sekarang juga dan


pastikan menjaga rahasia ini. Baik pada teman-temanku atau selir lainnya.


Paham?”


“Gadis kecil ini


menakutkan sekali! Aku tak percaya dia memaksaku pergi untuk melayani suaminya!”


“Tenanglah, Syra. Kami


mengerti perasaanmu.”


“Cerewet! Kau sendiri yang


mau jadi pacarnya! Jangan membuatku kesal!”


Emosi Meena sudah tak


tertahankan. Sayap besar itu mulai mengeluarkan gelombang udara seperti akan


meledak kapan saja. Para Driad berlarian, masuk ke dalam pohon meninggalkan


Syra sendirian.


“Tidakkah kamu merasa


cemburu?” Setelahnya, Syra berubah menjadi serius. Tadi dia hanya setengah


bercanda. Tak ada sedikit pun rasa takut pada Meena. Niat sebenarnya adalah


menguji perasaan saingannya.


“Cemburu? Padamu? Atau pada semua selirnya?” Meena mendengus, tertawa konyol. Dia tak perlu


menjawabnya, karena tak ada alasan untuk itu.


“Aku tidak peduli. Hidupku


bukan miliknya.”


Entah kenapa tawa Meena


menular pada Syra. Mungkin karena lega setelah mengetahui bukan hanya cintanya


yang bertepuk sebelah tangan.


“Baiklah, aku akan ikut


kalian ke istana. Akan kukatakan apa yang kauucapkan tadi pada Nakula.”


“Silakan! Sesukamu saja!”


Meena membuang muka,


menyimpan sayapnya dan kembali ke tempat teman-temannya berada. Dia tak mau


beradu mulut sia-sia dengan Syra. Mau mengadu? Silakan. Meena tak takut.


***


Baru saja Meena kembali,


Wasa dan Bara sudah mendatanginya dengan tak sabaran. Mereka sudah sangat ingin


pulang secepatnya. “Bagaimana?” Pertanyaan serupa dilontarkan, membuat Meena


memutar bola mata.


“Dia setuju untuk pergi ke

__ADS_1


istana.”


“Gitu dong! Harusnya dari


kemarin kau membujuknya. Cebol satu ini, sini kupuji!” Saking senangnya Bara


mengacak-acak rambut Meena, melontarkan pujian yang terdengar menjengkelkan.


“Memuji apanya! Kau hanya


ingin menggangguku! Sana jauh-jauh!” Meena mengamuk lagi, memukul-mukul dada


Bara main-main.


Wasa telah meninggalkan


mereka. Ia menemui Alexi menyampaikan kabar tersebut. Begitu mendengarnya,


ekspresi wajah Alexi berubah. Mereka berdua berdiskusi diam-diam.


“Jadi memang Meena?”


“Kemungkinan besar, iya. Jika


bukan tidak mungkin Nona Meena bisa membujuk Nona Syra.”


“Haruskah kita membawanya kepada


Raja juga?”


“Jangan, akan kusampaikan


dulu. Kita tak bisa seenaknya menyinggung Nona Meena.”


Fakta kalau Meena adalah


Ratu yang disembunyikan tak bisa disangkal, tetapi juga tidak ada yang


membuktikan. Selama Raja sendiri membiarkannya menjalani kehidupan sebagai


Petualangan, siapa yang berani menghentikan Meena?


Akhirnya mereka memutuskan


untuk menanggulangi masalah ini. Yang lebih penting adalah membawa Syra pulang.


Soal Meena biarkan Raja yang menentukan.


Persiapan pun segera


dimulai. Tenda-tenda dibongkar, pelana kuda segera dipasang. Begitu Syra


datang, mereka telah siap berangkat.


Wasa berjalan mendekati


Syra, memastikan dua orang Ksatria segera membawakan barang-barang selir baru


Raja.


“Bagaimana dengan pohon


Nona? Apa kami perlu menggalinya?”


“Tidak perlu. Aku hanya perlu


membawa bibit pohonku dan menanamnya kembali di sana.”


“Baguslah kalau begitu.


Silakan masuk ke sini, Nona Syra.”


“Aku ingin gadis kecil itu


menemaniku.”


“Maaf, kami tak bisa


memintanya.”


Syra memang berbicara


dengan Wasa, tapi tatapannya begitu tajam tertuju pada Meena. Si gadis mungil


membuang muka, masuk ke kereta Alexi dan Kyra. Tak ada yang melarangnya,


meskipun Syra terlihat tak senang.


Dengan keadaan begitu,


mereka berangkat melewati rute yang sama. Kali ini Danau Duyung tidak lagi


berbahaya. Ikan-ikan itu hanya mengintip dari tepian danau tanpa ada niat


menyerang. Sosok Bara yang duduk di atas kereta mengintimidasi mereka. Tak ada


yang mau berenang di danau es atau dibakar dengan luapan api tanpa henti.


Mereka tiba di istana


dalam dua hari. Para Petualangan hanya mengantarkan hingga ke depan gerbang


istana. Mereka kembali ke Gedung Serikat Petualang. Melaporkan keberhasilan


misi dan mengambil bayaran.


“Aku mau pulang, jangan


ambil misi baru dulu!” Meena mengingatkan. Tahu Bara suka seenaknya. Kasihan


Kyra, belum terbiasa sudah diseret ke sana kemari.


“Iya, tahu! Aku akan


melatih Kyra selama tiga hari. Setelah itu kita berkumpul di sini.” Ternyata dugaan


Meena salah, Bara juga punya kepedulian pada rekan. Dia tersenyum manis,


melambaikan tangan meninggalkan mereka.


“Kyra, lapor padaku kalau


Bara terlalu keras padamu ya!”


“Kau itu menganggap aku


apa! Dasar cebol cerewet!”


Bara mengomel, tapi setelahnya


dia tertawa konyol. Kyra jadi senyum-senyum sendiri melihat tingkah mereka. Tak


pernah berubah, seakan pembicaraan rahasia dengan Alexi tak pernah ada.


“Jangan tertawa, latihan


keras menanti. Ayo pulang ke rumahmu.”


“Siap!”


Benar. Meena bukan Ratu


dan mereka tak akan bertemu lagi dengan Alexi. Tak ada yang perlu Kyra cemaskan.


Setidaknya, itulah yang Kyra pikirkan saat ini. Karena tak ada seorang pun yang


bisa menebak masa depan.


Author’s Note :

__ADS_1


Kelas Pengembara merupakan


penyerang utama. Memiliki kekuatan serangan yang tinggi.


__ADS_2