
Meena menoleh ke belakang.
Ia bertanya, “Apa kau mencium bau rubah?”
“Tidak, bau amis ikan di
sini terlalu kuat,” jawab Soli.
Baunya sangat tipis dan
langsung menghilang dibawa angin, tapi Meena merasa yakin mengendus bau itu
dari arah belakang. Apa Meena salah mengenali bau atau penciuman Soli yang terlalu
tumpul?
Bicara soal bau, kenapa
bau Kyra menghilang? Sosoknya pun tak terlihat di mana pun. Padahal hingga
beberapa saat yang lalu, Kyra masih ada tepat di belakang mereka.
“Siluman Rubah membawa
Kyra pergi.” Wajah Meena memucat. Mereka begitu dekat, tapi tak seorang pun
yang menyadari keberadaan penyusup itu.
“Soli, kau besar di hutan
ini, kan? Apa kau tahu di – ” Ketika Meena menoleh sekali lagi, Soli ikut
menghilang. Hanya meninggalkan sedikit bau Siluman Rubah seperti apa yang
terjadi pada Kyra.
“Apa siluman itu sengaja
memisahkan kami?” Bertanya-tanya sendiri pun percuma saja. Ia harus segera
bergerak mencari mereka, tapi ke arah mana?
Meena kebingungan. Ia baru
sadar bila hutan ini sangatlah luas. Riak sungai di depannya terlalu sunyi,
seakan Kanya dan Bara tak ada di dalam sana. Dan hutan di belakangnya mulai
terasa menakutkan, menelan Kyra dan Soli tanpa ia sadari.
Kalau diingat kembali,
dulu Meena selalu berpetualang seorang diri, tapi ia tak pernah merasa takut
seperti ini. Apa ini mimpi. Kenapa Meena seperti melihat seseorang yang ia
kenal di depannya?
“Guru, kau masih hidup?”
Sosok yang membesarkannya. Penyihir hebat yang ia kagumi kini kembali padanya.
Berdiri di depannya seperti tak pernah terjadi apa-apa.
“Apa yang kau tangisi,
Meena. Kau seperti melihat hantu saja.” Hantu? Memang memang benar. Ada sihir
yang bisa memanggil roh makhluk yang telah mati. Mungkin ini yang tengah ia
lihat. Mungkin juga mimpi atau sihir ilusi. Yang mana pun, Meena tak peduli.
Gadis bertubuh mungil itu
tetap berlari ke pelukan pria renta itu. Rasa hangatnya tetap sama seperti yang
ia ingat. Perasaan seperti berada di rumah.
***
Kyra terbangun sendirian.
Ia memegangi kepalanya, terasa begitu kosong mengambang. Sosok wanita cantik
yang menangkapnya tak terlihat di mana-mana. Seakan penculikan itu tak pernah
terjadi.
Namun, keberadaannya yang jauh
dari air terjun membuat Kyra mengerti bila dia sungguhan diculik. Hanya saja,
tujuannya tak jelas. Tempat ia berpijak saat ini merupakan tepi hutan, tapi
bukan hutan di mana teman-temannya berada.
“Aku ingat tempat ini,”
gumam Kyra.
Selangkah demi selangkah
Kyra bergerak maju. Seperti dugaannya, ini adalah tepi hutan belakang kota
Nebula, kampung halamannya. Ia memang berniat singgah ke rumah sebelum
meninggalkan kerajaan, tapi rasanya ada yang salah.
“Kenapa dingin sekali?”
Ini masih musim panas. Kenapa jalanan begitu sepi dan udaranya sangat dingin
seperti musim dingin?
“Kyra, sudah ibu bilang
jangan keluar rumah! Bagaimana kalau penyakit mu kambuh lagi!” Suara pertama
yang Kyra dengar adalah suara ibunya dan sosok yang ia temukan saat menoleh
adalah sosok yang membawa nostalgia.
Kyra paham ada yang
janggal, tapi ia tak bisa bergerak saat ibunya memeluknya. “Di sini dingin
sekali, cepat pulang Nak.” Pulang? Kenapa? Ia telah dewasa sekarang, kenapa
ibunya masih menggendongnya seperti anak kecil?
__ADS_1
“Tapi aku sudah sembuh,”
bantah Kyra.
“Betapa bahagiannya ibu
bila itu benar.” Dan ia membuat ibunya menangis. Gadis api tertegun, merasa
sangat kenal perasaan ini. Rasa sakit melihat orang-orang di sekitarnya
menangisi hidupnya.
Benar, sekarang Kyra
ingat. Ini yang selalu ia rasakan saat masih kecil. Perasaan frustrasi dan
putus asa yang membuatnya merasa lebih baik mati daripada terus membuat keluarganya
menderita.
Tubuhnya juga berubah mengecil,
begitu kurus dan lemah. Semakin Kyra mendekati rumahnya, semakin banyak rasa
sakit yang kembali padanya. Rasa dingin yang membekukan tulang, sesak yang
meremukkan dada dan pusing yang membuat isi kepala mengambang.
Api yang selalu membungkus
Kyra tak bisa dikeluarkan, seakan semuanya direbut kembali darinya. Kalau
begini jadinya, Kyra tak akan mau pulang ke rumah.
Phoenix. Benar, ia harus
memanggil Phoenix itu, tapi tunggu dulu. Siapa namanya? Bagaimana cara
memanggilnya? Kyra kecil kebingungan. Bukan hanya tubuhnya yang melemah, tetapi
pikirannya juga semakin kacau.
“Tolong aku, Letnan Alexi,”
gumam Kyra berkali-kali. Memanggil satu-satunya nama yang terngiang dalam
benaknya. Dan kemudian, kesadarannya pun ikut terenggut.
***
Kanya mengambang di atas
laut. Birunya langit dan suara burung camar terdengar di mana-mana. Ke mana pun
ia memandang, hanya ada warna biru dan bau laut yang tercium. Perasaan seperti
ini sangatlah hampa, kosong tak berpenghujung. Kehidupan membosankan yang dia
jalani selama ribuan tahun lamanya.
“Ah ... kenapa aku kembali
ke sini?” Kanya menggaruk kepalanya bingung, duduk di atas air menatap punggung
tangannya. Sisik Kura-kura Hitam di sana menghilang. Begitu pun cangkang lunak
yang ada di punggungnya.
kau membuangku?” Begitu melihat kura-kura di dekatnya, Kanya langsung menangkap
binatang kecil itu. Dia tahu kura-kura itu bukan Hugo, tapi berbicara dengan makhluk
sejenis kekasihnya lebih baik daripada berbicara sendirian.
“Temukan jawabannya
sendiri, Kanya. Jangan meleleh menjadi air, kau tak akan merasakan hidup dengan
menyatu bersama laut.”
“Serius? Kura-kura kecil
jelek ini berbicara seperti Hugo?”
“Mulutmu kembali kurang
ajar seperti sebelum bertemu dengan Amara.”
Oh, oke. Ini bukan
halusinasi. Hugo pastilah menggunakan kekuatannya dari suatu tempat untuk
berbicara dengannya menggunakan perantara. Di tengah laut begini memang
mustahil ada kura-kura kecil, ini pastilah hanya jelmaan pecahan roh Hugo.
“Tapi kau bilang tak akan
menghubungi atau menolongku kecuali jika aku dalam keadaan sekarat. Kenapa kau
langsung datang sekarang?” Kanya merasa dirinya baik-baik saja, hanya tersesat
di celah waktu kembali ke 500 tahun lalu sesaat sebelum ia bertemu dengan Hugo.
“Kau sudah tahu
jawabannya. Aku datang untuk menolongmu. Bangunlah, jangan biarkan jiwamu
termakan hingga habis.” Bangun? Oh begitu ternyata. Ia tak terlempar ke dalam
sungai di bawah air terjun, tetapi ditelan sihir ilusi.
Tepat ketika Kanya
menyadari keadaan sebenarnya, cangkang dan sisik Kura-kura Hitam kembali
padanya, memadatkan tubuhnya mengambil sosok manusia yang biasa ia gunakan.
“Ini lebih baik. Aku sudah
bosan mengapung di laut terus.”
“Bagus, akan kuledakkan
tempat ini. Segera tangkap dan kalahkan Siluman Rubah itu sebelum ia menyerang
pikiranmu lagi.”
“Kau tak mau mengobrol
__ADS_1
sebentar dulu? Bagaimana kalau kencan singkat sebelum aku bangun?”
“Kanya, bangunlah!”
“Ahhh! Hugo bodoh!”
Ombak datang menerjang,
menghancurkan laut dalam benak Kanya. Berikutnya, saat mata Kanya terbuka,
sekelilingnya berubah drastis. Keempat temannya berbaring di sekitarnya
kehilangan kesadaran.
“Siluman Rubah Ekor Sembilan
rupanya. Lawan yang langka,” komentar Kanya.
“Kalian juga merupakan
kelompok yang langka. Ingatan kalian mengandung kekuatan benar, terutama yang
dua ini.” Dua yang siluman itu maksudkan adalah Bara dan Kyra. Ia bahkan segera
menarik kedua orang itu ke belakangnya agar Kanya tak bisa menolong mereka.
“Cih. Ilusi bodoh begini
saja, biar kutenggelamkan kau!” Tak masalah. Selama ia bisa membunuh siluman
itu, pengaruh ilusi mereka pasti akan lenyap dengan sendirinya.
“Bicaramu hebat sekali.
Dasar roh air sombong! Padahal kau bisa lolos karena bantuan kura-kura sialan
itu.” Kata-kata seperti ini tak ada pengaruhnya bagi Kanya. Dia berada dalam
kondisi yang baik dan dikelilingi oleh banyak air. Tak perlu takut pada siluman
semacam ini.
“Salahmu sendiri yang tak
sadar ada pecahan roh lain di tubuhku!” Harusnya Meena dan Kyra juga punya
pecahan roh kekasih mereka. Kanya hanya perlu menunggu roh itu bereaksi.
“Cih! Kalau begitu
matilah! Biar kumakan kau setelah kau mati!” Wanita rubah itu melayangkan
ekornya memukul Kanya, melempar tubuh gadis air hingga terlontar menabrak
batang pohon.
Akan tetapi, tubuh Kanya
meleleh menjadi air dan menghilang. Kemudian muncul di samping wanita rubah. “Aku
di sini, apa yang kau serang?” Ia tertawa manis, melemparkan terpaan air
bertekanan tinggi.
“Kau pikir serangan kecil
ini bisa melukaiku?” Hanya dengan mengepalkan tangannya, wanita rubah
menghancurkan serangan Kanya.
Refleks Kanya mundur sejauh
mungkin. Kemudian ia menarik keluar air dari sungai, menerjang dengan serangan
lebih besar. Dan kali ini pun, serangannya berhasil dipatahkan hanya dengan
satu hentakkan kaki wanita rubah. Hentakkan yang membuat tanah naik ke atas
permukaan membentuk bendungan untuk menahan dan mendorong kembali air itu ke
dalam sungai.
“Sihir tipe cahaya, angin
dan tanah. Begitu, umurmu juga sudah ribuan tahun rupanya.” Kanya sedang sial.
Siluman Rubah Ekor Sembilan adalah jenis paling kuat dari famili Siluman Rubah.
Semakin tua umurnya, semakin banyak juga tipe sihir yang ia kuasai. Bagi makhluk
berumur panjang seperti mereka, semakin tua, semakin kuat pula ia.
“Kau sungguh punya
pengetahuan, tapi sayang sekali. Tipe sihirku bukan hanya tiga.” Apa? Jangan
bilang kalau umurnya sudah puluhan ribu tahun!? Kenapa masih ada makhluk seperti
ini yang hidup dalam kerajaan. Apa saja kerja Raja Naga itu!
“Lalu kenapa? Aku punya
kekuatan Kura-kura Hitam dalam tubuhku.” Percuma panik. Lebih baik mengerahkan
semuanya untuk menang. Cepat atau lambat lawannya akan mengeluarkan tipe sihir
keempat.
“Apa kau bisa menahan ini?”
“Serangan tipe kegelapan? Bawa
sini.” Akan Kanya hancurkan.
GRRRGGG!
BRAK!
KRAK!
Suara makhluk buas
terdengar dari belakang wanita rubah. Pohon-pohon tumbang dan tanah bergetar
seakan ada raksasa yang tengah mendekat. Dan memang ada iblis laba-laba raksasa
di sana.
Sungguh sial. Ternyata
__ADS_1
tipe keempat adalah sihir pemanggil.