Phoenix Bride

Phoenix Bride
Episode 30


__ADS_3

Meena menoleh ke belakang.


Ia bertanya, “Apa kau mencium bau rubah?”


“Tidak, bau amis ikan di


sini terlalu kuat,” jawab Soli.


Baunya sangat tipis dan


langsung menghilang dibawa angin, tapi Meena merasa yakin mengendus bau itu


dari arah belakang. Apa Meena salah mengenali bau atau penciuman Soli yang terlalu


tumpul?


Bicara soal bau, kenapa


bau Kyra menghilang? Sosoknya pun tak terlihat di mana pun. Padahal hingga


beberapa saat yang lalu, Kyra masih ada tepat di belakang mereka.


“Siluman Rubah membawa


Kyra pergi.” Wajah Meena memucat. Mereka begitu dekat, tapi tak seorang pun


yang menyadari keberadaan penyusup itu.


“Soli, kau besar di hutan


ini, kan? Apa kau tahu di – ” Ketika Meena menoleh sekali lagi, Soli ikut


menghilang. Hanya meninggalkan sedikit bau Siluman Rubah seperti apa yang


terjadi pada Kyra.


“Apa siluman itu sengaja


memisahkan kami?” Bertanya-tanya sendiri pun percuma saja. Ia harus segera


bergerak mencari mereka, tapi ke arah mana?


Meena kebingungan. Ia baru


sadar bila hutan ini sangatlah luas. Riak sungai di depannya terlalu sunyi,


seakan Kanya dan Bara tak ada di dalam sana. Dan hutan di belakangnya mulai


terasa menakutkan, menelan Kyra dan Soli tanpa ia sadari.


Kalau diingat kembali,


dulu Meena selalu berpetualang seorang diri, tapi ia tak pernah merasa takut


seperti ini. Apa ini mimpi. Kenapa Meena seperti melihat seseorang yang ia


kenal di depannya?


“Guru, kau masih hidup?”


Sosok yang membesarkannya. Penyihir hebat yang ia kagumi kini kembali padanya.


Berdiri di depannya seperti tak pernah terjadi apa-apa.


“Apa yang kau tangisi,


Meena. Kau seperti melihat hantu saja.” Hantu? Memang memang benar. Ada sihir


yang bisa memanggil roh makhluk yang telah mati. Mungkin ini yang tengah ia


lihat. Mungkin juga mimpi atau sihir ilusi. Yang mana pun, Meena tak peduli.


Gadis bertubuh mungil itu


tetap berlari ke pelukan pria renta itu. Rasa hangatnya tetap sama seperti yang


ia ingat. Perasaan seperti berada di rumah.


***


Kyra terbangun sendirian.


Ia memegangi kepalanya, terasa begitu kosong mengambang. Sosok wanita cantik


yang menangkapnya tak terlihat di mana-mana. Seakan penculikan itu tak pernah


terjadi.


Namun, keberadaannya yang jauh


dari air terjun membuat Kyra mengerti bila dia sungguhan diculik. Hanya saja,


tujuannya tak jelas. Tempat ia berpijak saat ini merupakan tepi hutan, tapi


bukan hutan di mana teman-temannya berada.


“Aku ingat tempat ini,”


gumam Kyra.


Selangkah demi selangkah


Kyra bergerak maju. Seperti dugaannya, ini adalah tepi hutan belakang kota


Nebula, kampung halamannya. Ia memang berniat singgah ke rumah sebelum


meninggalkan kerajaan, tapi rasanya ada yang salah.


“Kenapa dingin sekali?”


Ini masih musim panas. Kenapa jalanan begitu sepi dan udaranya sangat dingin


seperti musim dingin?


“Kyra, sudah ibu bilang


jangan keluar rumah! Bagaimana kalau penyakit mu kambuh lagi!” Suara pertama


yang Kyra dengar adalah suara ibunya dan sosok yang ia temukan saat menoleh


adalah sosok yang membawa nostalgia.


Kyra paham ada yang


janggal, tapi ia tak bisa bergerak saat ibunya memeluknya. “Di sini dingin


sekali, cepat pulang Nak.” Pulang? Kenapa? Ia telah dewasa sekarang, kenapa


ibunya masih menggendongnya seperti anak kecil?

__ADS_1


“Tapi aku sudah sembuh,”


bantah Kyra.


“Betapa bahagiannya ibu


bila itu benar.” Dan ia membuat ibunya menangis. Gadis api tertegun, merasa


sangat kenal perasaan ini. Rasa sakit melihat orang-orang di sekitarnya


menangisi hidupnya.


Benar, sekarang Kyra


ingat. Ini yang selalu ia rasakan saat masih kecil. Perasaan frustrasi dan


putus asa yang membuatnya merasa lebih baik mati daripada terus membuat keluarganya


menderita.


Tubuhnya juga berubah mengecil,


begitu kurus dan lemah. Semakin Kyra mendekati rumahnya, semakin banyak rasa


sakit yang kembali padanya. Rasa dingin yang membekukan tulang, sesak yang


meremukkan dada dan pusing yang membuat isi kepala mengambang.


Api yang selalu membungkus


Kyra tak bisa dikeluarkan, seakan semuanya direbut kembali darinya. Kalau


begini jadinya, Kyra tak akan mau pulang ke rumah.


Phoenix. Benar, ia harus


memanggil Phoenix itu, tapi tunggu dulu. Siapa namanya? Bagaimana cara


memanggilnya? Kyra kecil kebingungan. Bukan hanya tubuhnya yang melemah, tetapi


pikirannya juga semakin kacau.


“Tolong aku, Letnan Alexi,”


gumam Kyra berkali-kali. Memanggil satu-satunya nama yang terngiang dalam


benaknya. Dan kemudian, kesadarannya pun ikut terenggut.


***


Kanya mengambang di atas


laut. Birunya langit dan suara burung camar terdengar di mana-mana. Ke mana pun


ia memandang, hanya ada warna biru dan bau laut yang tercium. Perasaan seperti


ini sangatlah hampa, kosong tak berpenghujung. Kehidupan membosankan yang dia


jalani selama ribuan tahun lamanya.


“Ah ... kenapa aku kembali


ke sini?” Kanya menggaruk kepalanya bingung, duduk di atas air menatap punggung


tangannya. Sisik Kura-kura Hitam di sana menghilang. Begitu pun cangkang lunak


yang ada di punggungnya.


kau membuangku?” Begitu melihat kura-kura di dekatnya, Kanya langsung menangkap


binatang kecil itu. Dia tahu kura-kura itu bukan Hugo, tapi berbicara dengan makhluk


sejenis kekasihnya lebih baik daripada berbicara sendirian.


“Temukan jawabannya


sendiri, Kanya. Jangan meleleh menjadi air, kau tak akan merasakan hidup dengan


menyatu bersama laut.”


“Serius? Kura-kura kecil


jelek ini berbicara seperti Hugo?”


“Mulutmu kembali kurang


ajar seperti sebelum bertemu dengan Amara.”


Oh, oke. Ini bukan


halusinasi. Hugo pastilah menggunakan kekuatannya dari suatu tempat untuk


berbicara dengannya menggunakan perantara. Di tengah laut begini memang


mustahil ada kura-kura kecil, ini pastilah hanya jelmaan pecahan roh Hugo.


“Tapi kau bilang tak akan


menghubungi atau menolongku kecuali jika aku dalam keadaan sekarat. Kenapa kau


langsung datang sekarang?” Kanya merasa dirinya baik-baik saja, hanya tersesat


di celah waktu kembali ke 500 tahun lalu sesaat sebelum ia bertemu dengan Hugo.


“Kau sudah tahu


jawabannya. Aku datang untuk menolongmu. Bangunlah, jangan biarkan jiwamu


termakan hingga habis.” Bangun? Oh begitu ternyata. Ia tak terlempar ke dalam


sungai di bawah air terjun, tetapi ditelan sihir ilusi.


Tepat ketika Kanya


menyadari keadaan sebenarnya, cangkang dan sisik Kura-kura Hitam kembali


padanya, memadatkan tubuhnya mengambil sosok manusia yang biasa ia gunakan.


“Ini lebih baik. Aku sudah


bosan mengapung di laut terus.”


“Bagus, akan kuledakkan


tempat ini. Segera tangkap dan kalahkan Siluman Rubah itu sebelum ia menyerang


pikiranmu lagi.”


“Kau tak mau mengobrol

__ADS_1


sebentar dulu? Bagaimana kalau kencan singkat sebelum aku bangun?”


“Kanya, bangunlah!”


“Ahhh! Hugo bodoh!”


Ombak datang menerjang,


menghancurkan laut dalam benak Kanya. Berikutnya, saat mata Kanya terbuka,


sekelilingnya berubah drastis. Keempat temannya berbaring di sekitarnya


kehilangan kesadaran.


“Siluman Rubah Ekor Sembilan


rupanya. Lawan yang langka,” komentar Kanya.


“Kalian juga merupakan


kelompok yang langka. Ingatan kalian mengandung kekuatan benar, terutama yang


dua ini.” Dua yang siluman itu maksudkan adalah Bara dan Kyra. Ia bahkan segera


menarik kedua orang itu ke belakangnya agar Kanya tak bisa menolong mereka.


“Cih. Ilusi bodoh begini


saja, biar kutenggelamkan kau!” Tak masalah. Selama ia bisa membunuh siluman


itu, pengaruh ilusi mereka pasti akan lenyap dengan sendirinya.


“Bicaramu hebat sekali.


Dasar roh air sombong! Padahal kau bisa lolos karena bantuan kura-kura sialan


itu.” Kata-kata seperti ini tak ada pengaruhnya bagi Kanya. Dia berada dalam


kondisi yang baik dan dikelilingi oleh banyak air. Tak perlu takut pada siluman


semacam ini.


“Salahmu sendiri yang tak


sadar ada pecahan roh lain di tubuhku!” Harusnya Meena dan Kyra juga punya


pecahan roh kekasih mereka. Kanya hanya perlu menunggu roh itu bereaksi.


“Cih! Kalau begitu


matilah! Biar kumakan kau setelah kau mati!” Wanita rubah itu melayangkan


ekornya memukul Kanya, melempar tubuh gadis air hingga terlontar menabrak


batang pohon.


Akan tetapi, tubuh Kanya


meleleh menjadi air dan menghilang. Kemudian muncul di samping wanita rubah. “Aku


di sini, apa yang kau serang?” Ia tertawa manis, melemparkan terpaan air


bertekanan tinggi.


“Kau pikir serangan kecil


ini bisa melukaiku?” Hanya dengan mengepalkan tangannya, wanita rubah


menghancurkan serangan Kanya.


Refleks Kanya mundur sejauh


mungkin. Kemudian ia menarik keluar air dari sungai, menerjang dengan serangan


lebih besar. Dan kali ini pun, serangannya berhasil dipatahkan hanya dengan


satu hentakkan kaki wanita rubah. Hentakkan yang membuat tanah naik ke atas


permukaan membentuk bendungan untuk menahan dan mendorong kembali air itu ke


dalam sungai.


“Sihir tipe cahaya, angin


dan tanah. Begitu, umurmu juga sudah ribuan tahun rupanya.” Kanya sedang sial.


Siluman Rubah Ekor Sembilan adalah jenis paling kuat dari famili Siluman Rubah.


Semakin tua umurnya, semakin banyak juga tipe sihir yang ia kuasai. Bagi makhluk


berumur panjang seperti mereka, semakin tua, semakin kuat pula ia.


“Kau sungguh punya


pengetahuan, tapi sayang sekali. Tipe sihirku bukan hanya tiga.” Apa? Jangan


bilang kalau umurnya sudah puluhan ribu tahun!? Kenapa masih ada makhluk seperti


ini yang hidup dalam kerajaan. Apa saja kerja Raja Naga itu!


“Lalu kenapa? Aku punya


kekuatan Kura-kura Hitam dalam tubuhku.” Percuma panik. Lebih baik mengerahkan


semuanya untuk menang. Cepat atau lambat lawannya akan mengeluarkan tipe sihir


keempat.


“Apa kau bisa menahan ini?”


“Serangan tipe kegelapan? Bawa


sini.” Akan Kanya hancurkan.


GRRRGGG!


BRAK!


KRAK!


Suara makhluk buas


terdengar dari belakang wanita rubah. Pohon-pohon tumbang dan tanah bergetar


seakan ada raksasa yang tengah mendekat. Dan memang ada iblis laba-laba raksasa


di sana.


Sungguh sial. Ternyata

__ADS_1


tipe keempat adalah sihir pemanggil.


__ADS_2