
Gadis Elf Salju bernamakan
Anata tersebut tersenyum culas. Jemarinya yang indah mengangkat dagu Bara
seperti tuan yang sedang memainkan mainan favoritnya. Pandangan terluka, rasa
kaget dan kekecewaan yang terpancarkan pada mata Bara membuatnya merasa
terhibur.
“Oh! Maaf, aku salah. Kamu
bukan lagi Yang Mulia. Raja dari kerajaan yang telah runtuh, sama saja seperti
orang biasa,” sambung Anata kemudian.
Bara tak bisa
menyangkalnya. Dia juga tak ingin dipanggil dengan sebutan ‘yang mulia’ oleh
orang yang tidak menghargai atau menganggapnya sebagai pemimpin. Bahkan jika
ada hubungan darah di antara mereka, dia tetap tak bisa memaafkan apa yang
telah wanita ini lakukan pada bangsa mereka sendiri.
“Jangan menyentuhku! Kau
tak pantas!”
Bara menepis tangan Anata.
Kemudian ia bangkit berdiri, memperkuat posisinya di hadapan mereka. Para
Undead yang berada di sekeliling mereka mulai bereaksi, bersiap untuk
menyerang.
“Lihat di sekelilingmu.
Apa kau pikir dirimu ada di mana?”
Anata mengancam,
menggertak Bara. Ia kira, dengan menang jumlah maka Bara akan takut padanya. Ia
tak menyangka, bila hal seperti itu saja tidak dapat menghentikan Bara.
Bara melepaskan ledakan di
sisi kiri dan kanannya, menghancurkan pijakan di sekitar hingga para mayat
hidup tersebut berjatuhan. Anata juga hampir terjatuh, untungnya ia sempat
melompat menghindari area tanah yang hancur.
“Kaupikir dengan bersekutu
dengan musuh, maka aku akan takut padamu? Jangan harap!” seru Bara.
Anata mengatup erat
mulutnya. Kemudian ia memberi aba-aba, menyuruh anak buahnya menyergap Bara
bersama-sama.
“Kita lihat saja nanti.
Bunuh dia!” perintah Anata.
Lawan mulai menyerang
bersamaan, tapi Bara bisa dengan mudah menyapu mereka semua hanya dengan satu
serangan. Selain itu, Kyra yang tadinya bersembunyi, telah keluar untuk
membantu Bara. Ia segera mengambil posisi di belakang Bara, saling menjaga punggung
satu sama lain.
“Kyra, bagaimana kamu bisa
ada di sini?”
“Tak penting. Kita
kalahkan mereka lebih dulu. Aku akan membantumu,” balas Kyra.
Bara mengangguk, kemudian
memindahkan fokusnya pada lawan-lawan mereka. Undead tingkat rendah seperti ini
tidaklah kuat, tapi menyusahkan. Mereka jatuh hanya dengan serangan dan
kemudian bangkit lagi untuk menyerang tanpa rasa takut.
Karena Bara sibuk mengurus
Anata, maka Kyra berinisiatif untuk menangani seluruh Undead sendirian. Ia mengubah
sekelilingnya menjadi lautan api, membakar tulang-tulang menjadi debu.
Melihat hasil serangannya,
Kyra terkejut sendiri. Ia tahu bila kekuatannya meningkat berkali-kali lipat
setelah bertemu dengan Alexi versi burung api, tapi tak ia sangka bila panas
apinya bisa sekuat ini membakar hingga menjadi debu. Senyuman merekah di wajah
manisnya, semangat bertempur meningkat berkali-kali lipat. Kecemasan Bara juga
berkurang melihat betapa Kyra bisa diandalkan saat ini.
“Kuserahkan mereka semua
__ADS_1
padamu, Kyra!”
“Siap! Kamu kejarlah
wanita itu!”
Anata yang merasa keadaan
tidak menjadi baik di pihaknya, mencoba melarikan diri. Namun, Bara
menghentikannya. Tombak-tombak es berjatuhan dari atas langit, jatuh berjejer
menjadi jeruji yang menutupi jalan di sekitar mereka.
“Jangan sombong hanya
karena temanmu sedikit kuat! Kekuatan kita tak jauh beda!”
“Kau hanya bisa bicara.
Kemari!”
Saling bentrok kembali
terjadi antara Bara dan Anata. Bukan hanya semburan air yang datang dari kedua
arah, tetapi juga jarum es terus beterbangan mengincar tubuh lawannya.
Hutan tersebut menjadi
kacau. Satu sisi panas membara dan di sisi lain dingin membekukan tanah dan
tanaman. Altar yang sudah hampir selesai dibangun, berkali-kali dihantam oleh bola
api yang dilemparkan oleh Kyra.
Anata menjadi geram, tak
fokus menghadapi Bara. Ia memanggil ombak untuk menyapu Kyra yang sedang sibuk
dikelilingi oleh sisa anak buahnya. Melihat itu, Bara membekukan ombak Anata.
Lalu ia menghancurkan es besar tersebut mencari pecahan-pecahan kecil berujung
runcing yang kemudian lemparkan kembali ke arah Anata.
“Lawanmu aku, Anata. Ke
mana kau menyerang,” teriak Bara, mencoba mengalihkan perhatian Anata kembali
padanya.
Serangan berupa hempasan
batu-batu es runcing itu dipantulkan kembali oleh Anata, tapi sapuan api Kyra
melelahkannya sebelum sampai pada dia dan Bara. Anata merasa kesal pada Kyra
dan ingin menyerang gadis itu lagi, tapi lagi-lagi Bara menghalanginya.
Pelototan mata Bara begitu
seperti itu tak pernah disukai oleh Anata. Terlebih ketika kekuatan mereka
memiliki begitu banyak kemiripan, tetapi hanya dirinya yang selalu seperti
ditinggalkan oleh Bara.
“Diam kau!” Bersama dengan
bentakan tersebut, pasak-pasak es keluar dari bawah tanah, tepat di kaki Bara.
Menyadari serangan tersebut, Bara segera melompat ke depan sembari menembakkan
sebuah anak panah.
Anata menghindari anak
panah tersebut. Ia berlari kembali ke arah Kyra ketika ia melihat anak buahnya
sudah tak bersisa. Wanita itu ingin menyerang Kyra dari belakang saat si gadis
api sedang lengah. Ujung pedangnya terarah pada punggung Kyra, terhunus dengan
kecepatan tinggi.
“Kyra, awas belakangmu!”
Beruntung, suara teriakan
Bara memberi Kyra cukup waktu. Ia berbalik dengan tenang. Dari kedua tangannya
keluar bara api keemasan. Yang kemudian ia lemparkan ke arah pedang Anata.
Bukan hanya pedang itu
yang meleleh. Api Kyra pun tak padam, terus melaju hingga menabrak tubuh Anata.
Wanita Elf itu terbelalak kaget, tak sempat menghindari serangan tersebut. Ia
terjatuh menabrak altarnya. Bangunan berbahan batu itu pun hancur, jatuh
tercerai berai menindih tubuhnya. Pertarungan selesai dengan mudah.
Bara dan Kyra saling tatap
sejenak, kemudian bersama-sama berjalan ke arah Anata untuk mengecek keadaan
wanita itu.
“Tangannya masih
bergerak,” ujar Kyra, menunjuk pada tangan kanan Anata yang tampak dari
sela-sela tumpukan batu.
__ADS_1
“Bagus, aku juga ingin
menanyainya.” Bara curiga, bila Anata tidak bekerja sendirian. Sebab Anata bukan
orang yang pandai mengambil inisiatif sendiri untuk bekerja sama dengan Undead.
Dia curiga, bila saudaranya yang lain, yang memulai pemberontakan tersebut.
Saat Bara telah selesai
mengeluarkan Anata yang pingsan dari timbunan bebatuan, panah-panah runcing
berdatangan dari arah depannya. Refleks Bara membangun lapisan pelindung untuk
melindunginya dan Kyra.
Di saat singkat itulah,
seorang Elf laki-laki datang mengambil Anata. Ia kabur begitu cepat hingga tak
sempat Bara hentikan. Akan tetapi, wajahnya sempat terlihat. Wajah yang sangat
Bara kenali dan memang sudah ia curigai berada di belakang Anata.
“Seperti dugaanku, pasti
Bastian terlibat,” gumam Bara.
“Siapa? Kita tidak
mengejar mereka?”
“Tidak perlu. Lebih baik
kita mencari teman-teman yang lain.”
Sudah terlambat untuk
mengejar mereka. Kira-kira Bara juga bisa menebak apa yang sebenarnya terjadi
di sini. Altar yang telah hancur sudah cukup membantu mereka untuk saat ini.
“Oh ya, tadi mereka
mengejarmu.”
“Ya, mereka sudah dekat.
Aku bisa merasakan posisi Rhea.”
“Kalau begitu baguslah,
tapi sebenarnya apa yang terjadi di sini? Treant-Treant itu juga mengatakan
sesuatu yang aneh padaku. Sesuatu tentang Elf Salju melakukan sesuatu yang
buruk pada hutan ini.”
Kyra menceritakan apa yang
terjadi setelah Bara dibawa pergi. Bagaimana ia dipisahkan dan diberi
peringatan oleh pohon-pohon berjalan yang terlihat bijaksana. Hingga akhirnya
dia dituntun hingga sampai di tempat ini.
Elf Salju yang dimaksudkan
oleh bangsa Treant pastilah Anata dan Bastian. Mereka sampai menggerakkan
sejumlah Undead hanya untuk membangun Altar di tanah bangsa Treant. Tak mungkin
hanya sesimpel itu. Bara curiga, bila masih ada rencana lain dibalik semua
tindakan ini.
“Kita akan mencari tahu.
Kyra, bawa aku pada Treant yang menuntunmu kemari." Jika Bara tak salah,
ada kemungkinan bila mereka akan mau mendengarkan Kyra. Jika tidak, sejak awal
mereka tak akan sengaja memisahkan Kyra dengan teman-temannya hanya untuk
memberikan peringatan.
“Aku bisa kembali ke
tempat yang tadi, tapi mungkin mereka tak mau memunculkan diri.” Kyra takut
para Treant melihat Bara sama seperti mereka melihat Elf Salju yang menyerang
mereka, tapi Bara tetap bersikeras ingin bertemu langsung dan mempertanyakan
apa yang sebenarnya terjadi di sini. Bila mungkin, ia bahkan akan sukarela
menolong pemilik wilayah untuk melawan Bastian dan Anata demi membersihkan nama
baik bangsanya.
“Mereka pasti akan keluar
dan mungkin, mereka juga punya petunjuk tentang burung kecil yang kita cari.”
Hanya itu yang bisa menjelaskan kenapa bangsa Treant menghargai Kyra yang baru
pertama kali ia temui. Pastilah, aura sang Phoenix dalam tubuh gadis itu yang mereka
kenali sebagai kawan lama.
“Kalau begitu cepat! Ke
arah sini! Tadi tiba-tiba saja mereka muncul beramai-ramai, lalu menghilang
lagi.” Mungkin berubah kembali jadi pohon atau bersembunyi. Yang pasti tidak
__ADS_1
akan pergi terlalu jauh. Entah apakah dugaan Bara benar atau tidak, tak ada
salahnya mencoba bertanya.