Phoenix Bride

Phoenix Bride
Episode 40


__ADS_3

Gadis Elf Salju bernamakan


Anata tersebut tersenyum culas. Jemarinya yang indah mengangkat dagu Bara


seperti tuan yang sedang memainkan mainan favoritnya. Pandangan terluka, rasa


kaget dan kekecewaan yang terpancarkan pada mata Bara membuatnya merasa


terhibur.


“Oh! Maaf, aku salah. Kamu


bukan lagi Yang Mulia. Raja dari kerajaan yang telah runtuh, sama saja seperti


orang biasa,” sambung Anata kemudian.


Bara tak bisa


menyangkalnya. Dia juga tak ingin dipanggil dengan sebutan ‘yang mulia’ oleh


orang yang tidak menghargai atau menganggapnya sebagai pemimpin. Bahkan jika


ada hubungan darah di antara mereka, dia tetap tak bisa memaafkan apa yang


telah wanita ini lakukan pada bangsa mereka sendiri.


“Jangan menyentuhku! Kau


tak pantas!”


Bara menepis tangan Anata.


Kemudian ia bangkit berdiri, memperkuat posisinya di hadapan mereka. Para


Undead yang berada di sekeliling mereka mulai bereaksi, bersiap untuk


menyerang.


“Lihat di sekelilingmu.


Apa kau pikir dirimu ada di mana?”


Anata mengancam,


menggertak Bara. Ia kira, dengan menang jumlah maka Bara akan takut padanya. Ia


tak menyangka, bila hal seperti itu saja tidak dapat menghentikan Bara.


Bara melepaskan ledakan di


sisi kiri dan kanannya, menghancurkan pijakan di sekitar hingga para mayat


hidup tersebut berjatuhan. Anata juga hampir terjatuh, untungnya ia sempat


melompat menghindari area tanah yang hancur.


“Kaupikir dengan bersekutu


dengan musuh, maka aku akan takut padamu? Jangan harap!” seru Bara.


Anata mengatup erat


mulutnya. Kemudian ia memberi aba-aba, menyuruh anak buahnya menyergap Bara


bersama-sama.


“Kita lihat saja nanti.


Bunuh dia!” perintah Anata.


Lawan mulai menyerang


bersamaan, tapi Bara bisa dengan mudah menyapu mereka semua hanya dengan satu


serangan. Selain itu, Kyra yang tadinya bersembunyi, telah keluar untuk


membantu Bara. Ia segera mengambil posisi di belakang Bara, saling menjaga punggung


satu sama lain.


“Kyra, bagaimana kamu bisa


ada di sini?”


“Tak penting. Kita


kalahkan mereka lebih dulu. Aku akan membantumu,” balas Kyra.


Bara mengangguk, kemudian


memindahkan fokusnya pada lawan-lawan mereka. Undead tingkat rendah seperti ini


tidaklah kuat, tapi menyusahkan. Mereka jatuh hanya dengan serangan dan


kemudian bangkit lagi untuk menyerang tanpa rasa takut.


Karena Bara sibuk mengurus


Anata, maka Kyra berinisiatif untuk menangani seluruh Undead sendirian. Ia mengubah


sekelilingnya menjadi lautan api, membakar tulang-tulang menjadi debu.


Melihat hasil serangannya,


Kyra terkejut sendiri. Ia tahu bila kekuatannya meningkat berkali-kali lipat


setelah bertemu dengan Alexi versi burung api, tapi tak ia sangka bila panas


apinya bisa sekuat ini membakar hingga menjadi debu. Senyuman merekah di wajah


manisnya, semangat bertempur meningkat berkali-kali lipat. Kecemasan Bara juga


berkurang melihat betapa Kyra bisa diandalkan saat ini.


“Kuserahkan mereka semua

__ADS_1


padamu, Kyra!”


“Siap! Kamu kejarlah


wanita itu!”


Anata yang merasa keadaan


tidak menjadi baik di pihaknya, mencoba melarikan diri. Namun, Bara


menghentikannya. Tombak-tombak es berjatuhan dari atas langit, jatuh berjejer


menjadi jeruji yang menutupi jalan di sekitar mereka.


“Jangan sombong hanya


karena temanmu sedikit kuat! Kekuatan kita tak jauh beda!”


“Kau hanya bisa bicara.


Kemari!”


Saling bentrok kembali


terjadi antara Bara dan Anata. Bukan hanya semburan air yang datang dari kedua


arah, tetapi juga jarum es terus beterbangan mengincar tubuh lawannya.


Hutan tersebut menjadi


kacau. Satu sisi panas membara dan di sisi lain dingin membekukan tanah dan


tanaman. Altar yang sudah hampir selesai dibangun, berkali-kali dihantam oleh bola


api yang dilemparkan oleh Kyra.


Anata menjadi geram, tak


fokus menghadapi Bara. Ia memanggil ombak untuk menyapu Kyra yang sedang sibuk


dikelilingi oleh sisa anak buahnya. Melihat itu, Bara membekukan ombak Anata.


Lalu ia menghancurkan es besar tersebut mencari pecahan-pecahan kecil berujung


runcing yang kemudian lemparkan kembali ke arah Anata.


“Lawanmu aku, Anata. Ke


mana kau menyerang,” teriak Bara, mencoba mengalihkan perhatian Anata kembali


padanya.


Serangan berupa hempasan


batu-batu es runcing itu dipantulkan kembali oleh Anata, tapi sapuan api Kyra


melelahkannya sebelum sampai pada dia dan Bara. Anata merasa kesal pada Kyra


dan ingin menyerang gadis itu lagi, tapi lagi-lagi Bara menghalanginya.


Pelototan mata Bara begitu


seperti itu tak pernah disukai oleh Anata. Terlebih ketika kekuatan mereka


memiliki begitu banyak kemiripan, tetapi hanya dirinya yang selalu seperti


ditinggalkan oleh Bara.


“Diam kau!” Bersama dengan


bentakan tersebut, pasak-pasak es keluar dari bawah tanah, tepat di kaki Bara.


Menyadari serangan tersebut, Bara segera melompat ke depan sembari menembakkan


sebuah anak panah.


Anata menghindari anak


panah tersebut. Ia berlari kembali ke arah Kyra ketika ia melihat anak buahnya


sudah tak bersisa. Wanita itu ingin menyerang Kyra dari belakang saat si gadis


api sedang lengah. Ujung pedangnya terarah pada punggung Kyra, terhunus dengan


kecepatan tinggi.


“Kyra, awas belakangmu!”


Beruntung, suara teriakan


Bara memberi Kyra cukup waktu. Ia berbalik dengan tenang. Dari kedua tangannya


keluar bara api keemasan. Yang kemudian ia lemparkan ke arah pedang Anata.


Bukan hanya pedang itu


yang meleleh. Api Kyra pun tak padam, terus melaju hingga menabrak tubuh Anata.


Wanita Elf itu terbelalak kaget, tak sempat menghindari serangan tersebut. Ia


terjatuh menabrak altarnya. Bangunan berbahan batu itu pun hancur, jatuh


tercerai berai menindih tubuhnya. Pertarungan selesai dengan mudah.


Bara dan Kyra saling tatap


sejenak, kemudian bersama-sama berjalan ke arah Anata untuk mengecek keadaan


wanita itu.


“Tangannya masih


bergerak,” ujar Kyra, menunjuk pada tangan kanan Anata yang tampak dari


sela-sela tumpukan batu.

__ADS_1


“Bagus, aku juga ingin


menanyainya.” Bara curiga, bila Anata tidak bekerja sendirian. Sebab Anata bukan


orang yang pandai mengambil inisiatif sendiri untuk bekerja sama dengan Undead.


Dia curiga, bila saudaranya yang lain, yang memulai pemberontakan tersebut.


Saat Bara telah selesai


mengeluarkan Anata yang pingsan dari timbunan bebatuan, panah-panah runcing


berdatangan dari arah depannya. Refleks Bara membangun lapisan pelindung untuk


melindunginya dan Kyra.


Di saat singkat itulah,


seorang Elf laki-laki datang mengambil Anata. Ia kabur begitu cepat hingga tak


sempat Bara hentikan. Akan tetapi, wajahnya sempat terlihat. Wajah yang sangat


Bara kenali dan memang sudah ia curigai berada di belakang Anata.


“Seperti dugaanku, pasti


Bastian terlibat,” gumam Bara.


“Siapa? Kita tidak


mengejar mereka?”


“Tidak perlu. Lebih baik


kita mencari teman-teman yang lain.”


Sudah terlambat untuk


mengejar mereka. Kira-kira Bara juga bisa menebak apa yang sebenarnya terjadi


di sini. Altar yang telah hancur sudah cukup membantu mereka untuk saat ini.


“Oh ya, tadi mereka


mengejarmu.”


“Ya, mereka sudah dekat.


Aku bisa merasakan posisi Rhea.”


“Kalau begitu baguslah,


tapi sebenarnya apa yang terjadi di sini? Treant-Treant itu juga mengatakan


sesuatu yang aneh padaku. Sesuatu tentang Elf Salju melakukan sesuatu yang


buruk pada hutan ini.”


Kyra menceritakan apa yang


terjadi setelah Bara dibawa pergi. Bagaimana ia dipisahkan dan diberi


peringatan oleh pohon-pohon berjalan yang terlihat bijaksana. Hingga akhirnya


dia dituntun hingga sampai di tempat ini.


Elf Salju yang dimaksudkan


oleh bangsa Treant pastilah Anata dan Bastian. Mereka sampai menggerakkan


sejumlah Undead hanya untuk membangun Altar di tanah bangsa Treant. Tak mungkin


hanya sesimpel itu. Bara curiga, bila masih ada rencana lain dibalik semua


tindakan ini.


“Kita akan mencari tahu.


Kyra, bawa aku pada Treant yang menuntunmu kemari." Jika Bara tak salah,


ada kemungkinan bila mereka akan mau mendengarkan Kyra. Jika tidak, sejak awal


mereka tak akan sengaja memisahkan Kyra dengan teman-temannya hanya untuk


memberikan peringatan.


“Aku bisa kembali ke


tempat yang tadi, tapi mungkin mereka tak mau memunculkan diri.” Kyra takut


para Treant melihat Bara sama seperti mereka melihat Elf Salju yang menyerang


mereka, tapi Bara tetap bersikeras ingin bertemu langsung dan mempertanyakan


apa yang sebenarnya terjadi di sini. Bila mungkin, ia bahkan akan sukarela


menolong pemilik wilayah untuk melawan Bastian dan Anata demi membersihkan nama


baik bangsanya.


“Mereka pasti akan keluar


dan mungkin, mereka juga punya petunjuk tentang burung kecil yang kita cari.”


Hanya itu yang bisa menjelaskan kenapa bangsa Treant menghargai Kyra yang baru


pertama kali ia temui. Pastilah, aura sang Phoenix dalam tubuh gadis itu yang mereka


kenali sebagai kawan lama.


“Kalau begitu cepat! Ke


arah sini! Tadi tiba-tiba saja mereka muncul beramai-ramai, lalu menghilang


lagi.” Mungkin berubah kembali jadi pohon atau bersembunyi. Yang pasti tidak

__ADS_1


akan pergi terlalu jauh. Entah apakah dugaan Bara benar atau tidak, tak ada


salahnya mencoba bertanya.


__ADS_2