
Wasa tersenyum menyambut
kedatangan para Petualang dan Letnan Alexi. Benar prediksinya, anak-anak muda
itu akan segera menyusul kemari. Langit belum gelap, tapi mereka telah sampai
ke Hutan Pinus.
Tampaknya perjalanan tak
perlu ditunda. Sang Menteri memutuskan untuk segera berangkat ketika melihat
tak ada luka pada mereka. Sebab, Meena telah menyembuhkan dengan baik.
Perkampungan Driad tak
begitu jauh. Mereka sampai di malam hari. Para peri pohon penghuni perkampungan
tersebut terbangun. Batang-batang pohon berpendar hijau keemasan. Sosok-sosok
cantik memunculkan diri dari batang pohon dengan efek luar biasa memesona.
Bunga-bunga lonceng
bermekaran di atas tanah, memanggil berbagai jenis kupu-kupu cantik dengan
aromanya yang wangi. Terdengar alunan musik yang begitu merdu, menggema dari berbagai
arah seakan ada perayaan di sana.
“Waaaw!” Kyra berseru
takjub. Ini pertama kalinya dia melihat Driad. Mulutnya ternganga. Matanya tak
bisa lepas dari sosok menawan yang tengah mendekati rombongan mereka.
Wanita itu berkulit
seputih salju. Dengan rambut panjang bergelombang berhiaskan bunga kuning pudar
di antara helaian berwarna hijau cerah. Matanya yang besar, hidung yang mancung
dan bibir mungil merah merekah seperti kelopak mawar merupakan kombinasi yang
sempurna.
Menteri Wasa memberi
hormat, diikuti oleh rombongannya. Kyra agak bingung. Akhirnya dia meniru apa
yang mereka lakukan.
“Nona Syra, kami kemari
atas perintah Yang Mulia Nakula. Percayakan keselamatan Nona kepada kami dan
datanglah ke istana untuk menjawab undangan Yang Mulia.”
Wasa yang memohon, tetapi
Kyra yang berdebar-debar menantikan jawaban sang Driad. Berkali-kali ia
mengangkat kepalanya sedikit, mengintip perubahan ekspresi di wajah cantik itu.
“Sudah kukatakan aku tidak
akan pergi ke istana sebelum Raja kalian mengenalkan kepadaku Ratunya!” Keadaan
menegang saat Syra berbicara. Suarannya ternyata begitu lantang dan kuat, tidak
selembut penampilan menawan yang tampak dari luar.
Bara menyenggol Alexi.
“Bukankah Raja Nakula tak punya istri?” Yang benar saja? Apa mereka harus
menghadapi drama bodoh ini tanpa alasan yang jelas?
Semua orang tahu. Raja
Mystisia tidak pernah menikah. Ia memiliki begitu banyak selir, tapi tidak
pernah mengangkat seorang Ratu pun selama ribuan tahun lamanya. Bahkan Tuan
Putri maupun Pangeran tak pernah lahir, seakan menegaskan kalau selamanya tak
akan pernah ada penggantian pemilik tahta.
Alexi tak menjawab. Dia
memelototi Bara, menyuruh Elf itu diam sebentar. Hanya Wasa yang berhak
berbicara sekarang. Jangan sampai membuat Syra semakin marah.
“Nona Syra, bagaimana kami
bisa memberikan Nona jawaban bila posisi Ratu yang Nona maksudkan tidak pernah
terisi?” Wasa mulai berkeringat dingin. Dia menatap Syra dengan berani, tetapi
nada suarannya tidak dapat menyakitkan sang Driad.
“Kau berbohong kepadaku!
Katakan pada Rajamu, aku tidak akan pernah menjadi selirnya sebelum dia
memberikan apa yang kuinginkan!”
Syra begitu yakin akan
adanya sosok Ratu yang bahkan telah disangkal oleh Wasa. Para Ksatria yang
mengawal mulai bingung. Mereka saling tatap satu sama lainnya, mempertanyakan
kebenaran akan ucapan Syra.
Masalahnya mereka tidak
bisa pulang sebelum Syra bersedia ikut bersama dengan mereka. Kembali hanya
untuk bertanya kepada Raja juga sebuah kebodohan. Misi yang dikira hampir usai
itu menjadi sulit.
Karena Wasa gagal
membujuk, mereka memutuskan untuk membuat perkemahan tak jauh dari Perkampungan
Driad. Para peri tak mengizinkan mereka untuk tinggal, malahan terlihat ingin
sekali mengusir.
Bara kesal sekali, dia
terus menggerutu di depan api unggun saat Wasa dan Alexi sibuk mendiskusikan
cara untuk membujuk Syra besok. Kyra jadi gelisah, duduk di samping Bara tanpa
berani mengajaknya berbicara.
“Misi yang menyebalkan!
Apanya yang tinggal menjemput! Masih mau dibujuk segala! Kita ini pengawal atau cupid!”
“Kita tak perlu membujuk,
__ADS_1
itu tugas Tuan Wasa. Kita hanya perlu menunggu perintah mereka. Tinggal ya
tinggal, kembali ya kembali.”
“Iya kalau besok
perintahnya keluar, kalau bulan depan? Tahun depan? Cih! Inilah kenapa aku
benci misi tingkat menengah!”
“Errr ... maaf.” Kyra
merasa ini salahnya. Karena ada dia, mereka harus mengambil misi seperti ini.
Bara jadi tambah jengkel. Dia tidak menyalahkan Kyra, hanya mengutuk Rajanya
sendiri. Kesal kenapa pria itu suka mengoleksi selir seakan tak pernah cukup.
Kepala Kyra dipukul dengan
punggung tangan. “Jangan bicarakan hal bodoh, aku tak marah padamu.” Dikasih
tahu Kyra seakan mengasuh anak kecil daripada berbicara dengan rekan.
“Lebih baik kau mulai
belajar menggunakan sihir. Hei, cebol! Ajarkan Kyra!”
“Panggil namaku yang
benar!”
“Kenyataannya kau memang
cebol!”
“Daripada kau muka kecut!”
Setelah itu dia
menyuruh-nyuruh Meena. Caranya sudah pasti tak sopan. Gadis mungil itu
mengembungkan pipinya kesal, memukul Bara dengan ranting yang akan dipakai
untuk membesarkan api unggun.
“Sudah dong, kalian kenapa
selalu begini sih?”
“Elf tua itu yang mulai!”
“Aku hanya mengajakmu
berbicara!”
Kyra menahan tubuh Meena,
menjauhkan mereka agar gadis itu tidak mulai mencakar wajah Bara lagi. Soalnya
gemas, sudah dicakar, nanti minta maaf dan menyembuhkan. Besok cakar lagi
seakan tak ada akhirnya.
“Haha, kalian akur sekali.
Paman baik hati ini boleh bergabung?” Wasa mendekati mereka, duduk di sebelah
Meena. Pastinya membuat gadis itu tambah kesal, tapi pekerjaan membuatnya harus
sopan kepada sang Menteri.
“Tak ada yang melarang
kok, tapi lebih baik Tuan Wasa masuk ke tenda saja. Di luar banyak serangga.” Bilangnya
“Kupikir serangga tak akan
berani mendekat. Kalau Nona Meena sudah tak kesal, mau menolong paman?”
Pertanyaan Wasa membuat Bara dan Kyra bingung. Tak ada yang perlu Meena tolong
di saat seperti ini, tapi sorot mata Meena pada Wasa menunjukkan kalau dia
sudah tahu apa yang Wasa inginkan darinya.
Meena diam selama beberapa
detik. Kemudian dia membuang muka. “Tidak mau! Usaha saja sendiri. Itu
pekerjaan kalian!” Permohonan Wasa ditolak, tetapi Wasa tak tampak tersinggung.
Musang tua itu malah tertawa kecil seakan memaklumi.
“Apa boleh buat kalau
begitu. Mungkin kita akan berkemah di sini cukup lama.” Wasa pun beranjak
pergi, meninggalkan kalimat yang membingungkan.
Meena diam lagi, seakan
tengah memikirkannya dengan serius. Kyra dan Bara merasa penasaran. Sang Elf
mulai bertingkah. Pipi Meena dicubit, sengaja memancing kemarahan rekan tukang
ngambek satu itu.
“Hei, kalau kau bisa
membantu mereka membujuk Driad itu, bantu sana. Daripada berkemah di sini
lama-lama.”
Tangan Bara ditepis oleh
Meena. Pelototan tak senang pun ia terima, membuatnya sedikit kaget. Baru kali
ini merasa benar-benar membuat cebol satu itu marah.
“Memangnya aku peduli! Kau
penghuni hutan, kan? Betah-betahkan saja di sini! Aku mau tidur!” Meena berucap
dengan ketus, meninggalkan mereka begitu saja.
“Sabar, kita tak berhak
memaksanya.” Kyra lagi yang susah, harus membujuk Bara yang begitu emosi.
“Si cebol itu ... apa
sebenarnya maunya!” Akhirnya Bara ikut meninggalkannya, pergi memanjat pohon
sambil marah-marah. Seperti yang Meena bilang, Bara memang penghuni hutan. Dia selalu
tidur di atas pohon, mau saat sedang berpetualang atau saat berada di kota
Filia.
Kyra jadi sendirian,
menjaga api saat para Ksatria beristirahat. Dia punya tubuh yang sedikit
berbeda, tak butuh banyak istirahat selama berada di tempat dengan suhu tinggi.
__ADS_1
Satu-satunya orang yang selalu
menemaninya sepanjang malam adalah Alexi. Orang yang memiliki kondisi tubuh
serupa dengannya. Benar apa pikir Kyra. Setiap kali dia ditinggal sendirian,
sang Letnan mulai mendekatinya lagi.
Alexi berpindah duduk di
samping Kyra, diam tanpa mengucapkan apa pun. Tak mungkin dia abaikan, habis
Kyra takut. Selain itu Kyra juga tidak membenci keadaan ini.
“Bagaimana hasil diskusi
kalian?” Kyra mencoba berbasa-basi. Bertanya soal apa yang sebenarnya tak dia
pedulikan. Gadis itu menunduk, bermain api tak mau terjebak kecanggungan bila
sampai bertatapan mata dengan Alexi.
“Tak ada solusi. Kau tak perlu
memikirkannya. Biarkan Tuan Wasa yang membujuk.” Sudah begitu saja. Setelahnya
mereka diam lagi tanpa ada pembicaraan.
Pandangan Alexi masih
tertuju padanya, mengawasi begitu ketat latihan ringan Kyra. Seakan
menggerakkan sedikit api saja bisa membuatnya mengacau. Rasanya agak sedih, tak
dipercayai seperti itu.
Nyatanya tidak demikian,
Alexi hanya berniat mengajari. Kyra baru menyadari niat Alexi saat dia melakukan
sedikit kesalahan. Ke cekatan Alexi segera memperbaikinya, kemudian dia
diajarkan cara mengatasi masalah tersebut. Beberapa jurus serangannya pun
diturunkan pada Kyra. Padahal sebelumnya pria ini menolak menjadi gurunya.
Kyra jadi semakin bingung.
Suhu tubuhnya meninggi tiap kali Alexi menyentuh tangannya. Komponen api mereka
begitu cocok, menyatu sendiri seakan merupakan satu bentuk yang sama.
Baru kali ini Kyra bertemu
dengan sesama pengguna sihir api, jadi dia tak ada gambaran apakah reaksi ini
normal atau tidak. Hanya satu hal yang dia pahami. Ia tak ingin mengakhiri
momen ini dengan cepat.
“Kyra, apakah Meena
memberitahukan padamu apa yang membuatnya mendapatkan sayap Naga?” Tiba-tiba saja,
Alexi bertanya soal Meena.
Kyra mengernyit. Meena
hanya bilang dipinjamkan oleh seseorang dan Alexi sudah mendengarnya sendiri.
Jadi dia rasa bukan bagian itu yang ingin Alexi ketahui. Hem, tunggu dulu!?
Sejak awal saja sudah aneh.
“Sayap itu, kan bagian
dari tubuhnya. Bagaimana caranya si Naga meminjamkan kepada Meena?” Kyra balik
bertanya, tak bisa menemukan penjelasan masuk akal akan hal itu.
“Aneh bukan? Tapi bukan
berarti tidak bisa. Binatang mistik punya kemampuan spesial yang tidak dimiliki
makhluk lain.”
“Maksud Letnan?”
“Misalnya saja, memberikan
bagian tubuhnya kepada orang yang dicintai sebagai tanda kepemilikan. Simbol
untuk memperingatkan makhluk lain, bila wanita itu miliknya.”
Jantung Kyra
berdebar-debar. Merahnya kobaran api dari tatapan mata Alexi membuat
kesadarannya terasa tersedot. Bayang-bayang aneh akan kejadian serupa mengisi
pikirannya.
Sesaat kemudian, Kyra
tersentak kaget sendiri. Kesadarannya kembali, tapi dia lupa dengan apa yang
baru saja dia rasakan. Seperti kehilangan sesuatu yang penting, tapi apa itu?
Dia tak bisa mengingatnya.
Si gadis api
terbengong-bengong memegangi kepalanya. Dia mencoba mengingat, tapi berakhir
sia-sia. Alexi hanya menatap Kyra tanpa mengucapkan apa pun tentang perilaku
aneh Kyra barusan. Benaknya penuh dengan perhitungannya sendiri.
“Binatang mistik hanya
menikah sekali seumur hidup. Begitu pun seekor Naga. Itulah kenapa Raja Nakula
tidak pernah menikah. Karena jika menikahi seorang wanita, maka dia tak akan
pernah bisa hidup tanpa wanita itu. Karena dia akan memberikan setengah keabadiannya.
Berupa kekuatan dan bagian tubuhnya.” Di antara kebingungan itu, Alexi
melanjutkan penjelasannya.
Kyra mengangkat kepala,
diam menatap Alexi mencerna kata-kata itu. Dia merasa Alexi seperti berkata
bila Meena adalah sosok Ratu yang Syra maksudkan, tapi mulutnya tak berani berucap.
Karena hingga saat ini, Raja sendiri tidak pernah mengumumkan mengenai
keberadaan sosok Ratu tersebut. Bahkan Meena tak mengucapkan apa pun. Punya hak
apa dia, berani menebak-nebak sesuatu yang begitu sensitif?
Author’s Note :
Kelas Penyihir merupakan
__ADS_1
penyerang garis tengah. Unggul dalam pertarungan melawan banyak musuh
sekaligus.