Phoenix Bride

Phoenix Bride
Episode 5


__ADS_3

Wasa tersenyum menyambut


kedatangan para Petualang dan Letnan Alexi. Benar prediksinya, anak-anak muda


itu akan segera menyusul kemari. Langit belum gelap, tapi mereka telah sampai


ke Hutan Pinus.


Tampaknya perjalanan tak


perlu ditunda. Sang Menteri memutuskan untuk segera berangkat ketika melihat


tak ada luka pada mereka. Sebab, Meena telah menyembuhkan dengan baik.


Perkampungan Driad tak


begitu jauh. Mereka sampai di malam hari. Para peri pohon penghuni perkampungan


tersebut terbangun. Batang-batang pohon berpendar hijau keemasan. Sosok-sosok


cantik memunculkan diri dari batang pohon dengan efek luar biasa memesona.


Bunga-bunga lonceng


bermekaran di atas tanah, memanggil berbagai jenis kupu-kupu cantik dengan


aromanya yang wangi. Terdengar alunan musik yang begitu merdu, menggema dari berbagai


arah seakan ada perayaan di sana.


“Waaaw!” Kyra berseru


takjub. Ini pertama kalinya dia melihat Driad. Mulutnya ternganga. Matanya tak


bisa lepas dari sosok menawan yang tengah mendekati rombongan mereka.


Wanita itu berkulit


seputih salju. Dengan rambut panjang bergelombang berhiaskan bunga kuning pudar


di antara helaian berwarna hijau cerah. Matanya yang besar, hidung yang mancung


dan bibir mungil merah merekah seperti kelopak mawar merupakan kombinasi yang


sempurna.


Menteri Wasa memberi


hormat, diikuti oleh rombongannya. Kyra agak bingung. Akhirnya dia meniru apa


yang mereka lakukan.


“Nona Syra, kami kemari


atas perintah Yang Mulia Nakula. Percayakan keselamatan Nona kepada kami dan


datanglah ke istana untuk menjawab undangan Yang Mulia.”


Wasa yang memohon, tetapi


Kyra yang berdebar-debar menantikan jawaban sang Driad. Berkali-kali ia


mengangkat kepalanya sedikit, mengintip perubahan ekspresi di wajah cantik itu.


“Sudah kukatakan aku tidak


akan pergi ke istana sebelum Raja kalian mengenalkan kepadaku Ratunya!” Keadaan


menegang saat Syra berbicara. Suarannya ternyata begitu lantang dan kuat, tidak


selembut penampilan menawan yang tampak dari luar.


Bara menyenggol Alexi.


“Bukankah Raja Nakula tak punya istri?” Yang benar saja? Apa mereka harus


menghadapi drama bodoh ini tanpa alasan yang jelas?


Semua orang tahu. Raja


Mystisia tidak pernah menikah. Ia memiliki begitu banyak selir, tapi tidak


pernah mengangkat seorang Ratu pun selama ribuan tahun lamanya. Bahkan Tuan


Putri maupun Pangeran tak pernah lahir, seakan menegaskan kalau selamanya tak


akan pernah ada penggantian pemilik tahta.


Alexi tak menjawab. Dia


memelototi Bara, menyuruh Elf itu diam sebentar. Hanya Wasa yang berhak


berbicara sekarang. Jangan sampai membuat Syra semakin marah.


“Nona Syra, bagaimana kami


bisa memberikan Nona jawaban bila posisi Ratu yang Nona maksudkan tidak pernah


terisi?” Wasa mulai berkeringat dingin. Dia menatap Syra dengan berani, tetapi


nada suarannya tidak dapat menyakitkan sang Driad.


“Kau berbohong kepadaku!


Katakan pada Rajamu, aku tidak akan pernah menjadi selirnya sebelum dia


memberikan apa yang kuinginkan!”


Syra begitu yakin akan


adanya sosok Ratu yang bahkan telah disangkal oleh Wasa. Para Ksatria yang


mengawal mulai bingung. Mereka saling tatap satu sama lainnya, mempertanyakan


kebenaran akan ucapan Syra.


Masalahnya mereka tidak


bisa pulang sebelum Syra bersedia ikut bersama dengan mereka. Kembali hanya


untuk bertanya kepada Raja juga sebuah kebodohan. Misi yang dikira hampir usai


itu menjadi sulit.


Karena Wasa gagal


membujuk, mereka memutuskan untuk membuat perkemahan tak jauh dari Perkampungan


Driad. Para peri tak mengizinkan mereka untuk tinggal, malahan terlihat ingin


sekali mengusir.


Bara kesal sekali, dia


terus menggerutu di depan api unggun saat Wasa dan Alexi sibuk mendiskusikan


cara untuk membujuk Syra besok. Kyra jadi gelisah, duduk di samping Bara tanpa


berani mengajaknya berbicara.


“Misi yang menyebalkan!


Apanya yang tinggal menjemput! Masih mau dibujuk segala! Kita ini pengawal atau cupid!”


“Kita tak perlu membujuk,

__ADS_1


itu tugas Tuan Wasa. Kita hanya perlu menunggu perintah mereka. Tinggal ya


tinggal, kembali ya kembali.”


“Iya kalau besok


perintahnya keluar, kalau bulan depan? Tahun depan? Cih! Inilah kenapa aku


benci misi tingkat menengah!”


“Errr ... maaf.” Kyra


merasa ini salahnya. Karena ada dia, mereka harus mengambil misi seperti ini.


Bara jadi tambah jengkel. Dia tidak menyalahkan Kyra, hanya mengutuk Rajanya


sendiri. Kesal kenapa pria itu suka mengoleksi selir seakan tak pernah cukup.


Kepala Kyra dipukul dengan


punggung tangan. “Jangan bicarakan hal bodoh, aku tak marah padamu.” Dikasih


tahu Kyra seakan mengasuh anak kecil daripada berbicara dengan rekan.


“Lebih baik kau mulai


belajar menggunakan sihir. Hei, cebol! Ajarkan Kyra!”


“Panggil namaku yang


benar!”


“Kenyataannya kau memang


cebol!”


“Daripada kau muka kecut!”


Setelah itu dia


menyuruh-nyuruh Meena. Caranya sudah pasti tak sopan. Gadis mungil itu


mengembungkan pipinya kesal, memukul Bara dengan ranting yang akan dipakai


untuk membesarkan api unggun.


“Sudah dong, kalian kenapa


selalu begini sih?”


“Elf tua itu yang mulai!”


“Aku hanya mengajakmu


berbicara!”


Kyra menahan tubuh Meena,


menjauhkan mereka agar gadis itu tidak mulai mencakar wajah Bara lagi. Soalnya


gemas, sudah dicakar, nanti minta maaf dan menyembuhkan. Besok cakar lagi


seakan tak ada akhirnya.


“Haha, kalian akur sekali.


Paman baik hati ini boleh bergabung?” Wasa mendekati mereka, duduk di sebelah


Meena. Pastinya membuat gadis itu tambah kesal, tapi pekerjaan membuatnya harus


sopan kepada sang Menteri.


“Tak ada yang melarang


kok, tapi lebih baik Tuan Wasa masuk ke tenda saja. Di luar banyak serangga.” Bilangnya


“Kupikir serangga tak akan


berani mendekat. Kalau Nona Meena sudah tak kesal, mau menolong paman?”


Pertanyaan Wasa membuat Bara dan Kyra bingung. Tak ada yang perlu Meena tolong


di saat seperti ini, tapi sorot mata Meena pada Wasa menunjukkan kalau dia


sudah tahu apa yang Wasa inginkan darinya.


Meena diam selama beberapa


detik. Kemudian dia membuang muka. “Tidak mau! Usaha saja sendiri. Itu


pekerjaan kalian!” Permohonan Wasa ditolak, tetapi Wasa tak tampak tersinggung.


Musang tua itu malah tertawa kecil seakan memaklumi.


“Apa boleh buat kalau


begitu. Mungkin kita akan berkemah di sini cukup lama.” Wasa pun beranjak


pergi, meninggalkan kalimat yang membingungkan.


Meena diam lagi, seakan


tengah memikirkannya dengan serius. Kyra dan Bara merasa penasaran. Sang Elf


mulai bertingkah. Pipi Meena dicubit, sengaja memancing kemarahan rekan tukang


ngambek satu itu.


“Hei, kalau kau bisa


membantu mereka membujuk Driad itu, bantu sana. Daripada berkemah di sini


lama-lama.”


Tangan Bara ditepis oleh


Meena. Pelototan tak senang pun ia terima, membuatnya sedikit kaget. Baru kali


ini merasa benar-benar membuat cebol satu itu marah.


“Memangnya aku peduli! Kau


penghuni hutan, kan? Betah-betahkan saja di sini! Aku mau tidur!” Meena berucap


dengan ketus, meninggalkan mereka begitu saja.


“Sabar, kita tak berhak


memaksanya.” Kyra lagi yang susah, harus membujuk Bara yang begitu emosi.


“Si cebol itu ... apa


sebenarnya maunya!” Akhirnya Bara ikut meninggalkannya, pergi memanjat pohon


sambil marah-marah. Seperti yang Meena bilang, Bara memang penghuni hutan. Dia selalu


tidur di atas pohon, mau saat sedang berpetualang atau saat berada di kota


Filia.


Kyra jadi sendirian,


menjaga api saat para Ksatria beristirahat. Dia punya tubuh yang sedikit


berbeda, tak butuh banyak istirahat selama berada di tempat dengan suhu tinggi.

__ADS_1


Satu-satunya orang yang selalu


menemaninya sepanjang malam adalah Alexi. Orang yang memiliki kondisi tubuh


serupa dengannya. Benar apa pikir Kyra. Setiap kali dia ditinggal sendirian,


sang Letnan mulai mendekatinya lagi.


Alexi berpindah duduk di


samping Kyra, diam tanpa mengucapkan apa pun. Tak mungkin dia abaikan, habis


Kyra takut. Selain itu Kyra juga tidak membenci keadaan ini.


“Bagaimana hasil diskusi


kalian?” Kyra mencoba berbasa-basi. Bertanya soal apa yang sebenarnya tak dia


pedulikan. Gadis itu menunduk, bermain api tak mau terjebak kecanggungan bila


sampai bertatapan mata dengan Alexi.


“Tak ada solusi. Kau tak perlu


memikirkannya. Biarkan Tuan Wasa yang membujuk.” Sudah begitu saja. Setelahnya


mereka diam lagi tanpa ada pembicaraan.


Pandangan Alexi masih


tertuju padanya, mengawasi begitu ketat latihan ringan Kyra. Seakan


menggerakkan sedikit api saja bisa membuatnya mengacau. Rasanya agak sedih, tak


dipercayai seperti itu.


Nyatanya tidak demikian,


Alexi hanya berniat mengajari. Kyra baru menyadari niat Alexi saat dia melakukan


sedikit kesalahan. Ke cekatan Alexi segera memperbaikinya, kemudian dia


diajarkan cara mengatasi masalah tersebut. Beberapa jurus serangannya pun


diturunkan pada Kyra. Padahal sebelumnya pria ini menolak menjadi gurunya.


Kyra jadi semakin bingung.


Suhu tubuhnya meninggi tiap kali Alexi menyentuh tangannya. Komponen api mereka


begitu cocok, menyatu sendiri seakan merupakan satu bentuk yang sama.


Baru kali ini Kyra bertemu


dengan sesama pengguna sihir api, jadi dia tak ada gambaran apakah reaksi ini


normal atau tidak. Hanya satu hal yang dia pahami. Ia tak ingin mengakhiri


momen ini dengan cepat.


“Kyra, apakah Meena


memberitahukan padamu apa yang membuatnya mendapatkan sayap Naga?” Tiba-tiba saja,


Alexi bertanya soal Meena.


Kyra mengernyit. Meena


hanya bilang dipinjamkan oleh seseorang dan Alexi sudah mendengarnya sendiri.


Jadi dia rasa bukan bagian itu yang ingin Alexi ketahui. Hem, tunggu dulu!?


Sejak awal saja sudah aneh.


“Sayap itu, kan bagian


dari tubuhnya. Bagaimana caranya si Naga meminjamkan kepada Meena?” Kyra balik


bertanya, tak bisa menemukan penjelasan masuk akal akan hal itu.


“Aneh bukan? Tapi bukan


berarti tidak bisa. Binatang mistik punya kemampuan spesial yang tidak dimiliki


makhluk lain.”


“Maksud Letnan?”


“Misalnya saja, memberikan


bagian tubuhnya kepada orang yang dicintai sebagai tanda kepemilikan. Simbol


untuk memperingatkan makhluk lain, bila wanita itu miliknya.”


Jantung Kyra


berdebar-debar. Merahnya kobaran api dari tatapan mata Alexi membuat


kesadarannya terasa tersedot. Bayang-bayang aneh akan kejadian serupa mengisi


pikirannya.


Sesaat kemudian, Kyra


tersentak kaget sendiri. Kesadarannya kembali, tapi dia lupa dengan apa yang


baru saja dia rasakan. Seperti kehilangan sesuatu yang penting, tapi apa itu?


Dia tak bisa mengingatnya.


Si gadis api


terbengong-bengong memegangi kepalanya. Dia mencoba mengingat, tapi berakhir


sia-sia. Alexi hanya menatap Kyra tanpa mengucapkan apa pun tentang perilaku


aneh Kyra barusan. Benaknya penuh dengan perhitungannya sendiri.


“Binatang mistik hanya


menikah sekali seumur hidup. Begitu pun seekor Naga. Itulah kenapa Raja Nakula


tidak pernah menikah. Karena jika menikahi seorang wanita, maka dia tak akan


pernah bisa hidup tanpa wanita itu. Karena dia akan memberikan setengah keabadiannya.


Berupa kekuatan dan bagian tubuhnya.” Di antara kebingungan itu, Alexi


melanjutkan penjelasannya.


Kyra mengangkat kepala,


diam menatap Alexi mencerna kata-kata itu. Dia merasa Alexi seperti berkata


bila Meena adalah sosok Ratu yang Syra maksudkan, tapi mulutnya tak berani berucap.


Karena hingga saat ini, Raja sendiri tidak pernah mengumumkan mengenai


keberadaan sosok Ratu tersebut. Bahkan Meena tak mengucapkan apa pun. Punya hak


apa dia, berani menebak-nebak sesuatu yang begitu sensitif?


Author’s Note :


Kelas Penyihir merupakan

__ADS_1


penyerang garis tengah. Unggul dalam pertarungan melawan banyak musuh


sekaligus.


__ADS_2