Phoenix Bride

Phoenix Bride
Episode 25


__ADS_3

Pertempuran telah


berlangsung selama berjam-jam. Mereka yang berperingkat rendah hampir tak ada


lagi yang bisa bertempur. Amara sudah nyaris putus asa melihat kekacauan di


bentengnya.


Di depannya, Meena dan


Kanya masih berhadapan dengan musuh bernama Rhea, Penyihir Angin yang begitu


kuat hingga mampu mendominasi pertarungan dua lawan satu.


Di bawah sana, Kyra dan


Bara tengah melawan komandan mereka, Aksa. Kalau saja Bara melawan Aksa


sendirian, ia yakin bisa menang. Namun Aksa selalu menghindarinya, berfokus


hanya mengejar Kyra seorang. Terlihat sekali apa mau mereka dan semua ini


terjadi karena gadis-gadis itu nekat ingin datang ke tempat seperti ini.


“Jangan hanya bisa


melarikan diri! Lawanmu adalah aku!” Bara menerjang Aksa, memotong serangannya


yang tertuju pada Kyra.


Pria berwajah dingin itu


menghentakkan kakinya. Batu-batu di sekitar mereka naik ke atas udara,


terlontar secara serentak ke arah bara. Untung menghentikannya, Bara membangun


pelindung dari es mengitari seluruh tubuhnya. Gara-gara itu, Aksa berhasil


melewatinya mengejar Kyra.


Tanah naik ke atas


permukaan, memotong jalan Kyra, membangun sebuah jeruji batu yang mengurung ke


dua kaki Kyra. “Sebaiknya kau tak melawan.” Satelah Kyra tak bisa bergerak, ia


menajamkan telapak tangannya menjadi sebuah ujung tombak.


Kyra menelan ludah,


memajukan kedua kepalan tinjunya ke arah depan. Ia tak tahu apakah ini akan ada


gunanya, tapi setidaknya ia tak mau menyerah begitu saja. Sebuah ledakan


kembali terjadi setelah benturan lapisan pelindung di kepalan tangan Kyra dan


mata tombak Aksa.


Kyra terpental jatuh


terlentang di atas tanah. Kurungan kakinya pecah, tapi ia tak bisa melarikan


diri. Suara burung yang ia dengar siang tadi tak lagi terdengar. Sebab,


kempingan jiwa sang Phoenix telah terbakar saat ia menggunakannya tadi.


“Aku tak ... akan


menyerah.” Kyra masih berusaha bangkit mengumpulkan kekuatan. Sementara Aksa


terus mendekat membawa tekanan besar.


Di saat yang sama, Bara


tengah disibukkan oleh bawahan Aksa. Ia ingin meminta bantuan yang lain. Namun,


semuanya terlalu sibuk. Bahkan Meena dan Kanya juga terlontar jatuh dari atas


benteng.


“Percuma saja kau keras kepala.


Lihatlah sekelilingmu, kami telah mendapatkan kalian semua,” ujar Aksa.


Setelah itu, musuh-musuh


mereka menangkap Kanya dan Meena. Hanya dirinya yang masih berdiri tertatih,


menunggu tertangkap juga.


“Siapa yang bilang


percuma.” Detik berikut, sebuah ledakan datang di antara Kyra dan Aksa. Api


yang muncul dari ledakan tersebut berubah menjadi Alexi. Kyra terpaku tak


percaya, kemunculan sang Letnan terlalu mengejutkannya.


“Kau ... Alexi ... DASAR


PENGGANGGU!” Aksa pun terkejut, tapi lebih dari kejutan yang memuakkan. Ia


menyerang Alexi dengan hujan meteor yang cukup untuk meratakan seluruh area


pertempuran.


“Kau sudah berjuang dengan


baik, Kyra. Setelah ini serahkan padaku.” Kyra ditarik ke dalam dekapan Alexi. Di


saat yang sama, sang Letnan mengangkat satu tangannya, menembakkan sebuah laser


panjang menembus tubuh Aksa. Meteor yang jatuh tak ia pedulikan, seakan hal itu


bukan masalah sama sekali.


Sesaat kemudian, batu-batu


berbahaya itu menabrak sesuatu tak terlihat di atas mereka. Pecah menjadi sehalus


butiran pasir. Tak hanya itu, embusan angin pun mulai bergerak tak wajar,


menyapu habis musuh-musuhnya dalam hitungan detik.


Sekali lagi Kyra terpaku


takjub melihat keajaiban menakutkan tersebut. Kekuatan sang Raja. Naga buas


yang kini telah merebut kembali Meena dan Kanya dari tangan musuh mereka.


“Astaga, kulitmu yang


indah jadi rusak Meena. Kan sudah kubilang, panggil aku kalau kau dalam bahaya.


Mau keras kepala sampai kapan?” Nakul mengusap pipi Meena dengan ekspresi culas


yang membuat si cebol emosi.

__ADS_1


“Jangan menyentuhku!”


Harga diri Meena berasa direndahkan oleh kata-kata Nakula. Tepisan tangan yang


kasar dan rontaan yang membuatnya lepas dari dekapan sang Raja merupakan cara


untuk menunjukkan penolakan.


Kericuhan yang ada lenyap


seketika. Kesunyian di antara orang-orang yang selamat terasa mencekam. Aksa,


Rhea dan sejumlah lawan yang masih hidup telah melarikan diri, tapi tak ada


satu pun orang yang merasa telah aman di sana. Mereka takut akan kemarahan


Nakula. Seorang yang mampu menghentikan peperangan hanya dengan menjentikkan


jari, jelas lebih menakutkan daripada sekumpulan anggota Persekutuan Kegelapan.


“Kukuku ... tatapan muakmu


itulah yang membuatku menyukaimu.” Tawa Nakula tak terdengar berbahaya. Ia


memang menangkap Meena kembali, tapi Kyra bisa melihat bila Nakula tengah


menyembuhkan luka temannya itu.


“Letnan Alexi, Yang Mulia


tak marah pada Meena, kan?” Untuk jaga-jaga, Kyra bertanya pada Alexi.


Alexi pun tersadar bahwa


ia tengah memeluk Kyra. Refleks ia melepaskan pelukannya, menjaga jarak dua


langkah dari Kyra. “Tak perlu cemas. Yang Mulia sengaja datang untuk


menolongnya. Beliau tak akan marah karena hal kecil.” Mereka memang


membicarakan Nakula dan Meena, tapi rasa canggung di antara kedua orang itu hadir


karena hal lain.


“Baguslah.” Kyra menghela


napas lega. Tertunduk malu mencoba mengendalikan debaran hati yang ia rasakan.


Sesaat yang lalu, dia merasa bahwa Alexi begitu keren. Datang seperti pahlawan


menyelamatkannya.


“Apa kamu terluka?” Setelah


menjaga jarak, Alexi mendekat lagi. Ia menunduk menyejajarkan arah pandangan


mata mereka. Tangannya ada di atas kepala Kyra, membelai dengan lembut membuat


gadis api gugup tak karuan.


Terkadang, Kyra merasa


bila Alexi memperlakukannya dengan spesial. Sikapnya yang biasa dingin, berubah


perhatian. Bila terus seperti ini, Kyra takut ia akan salah paham mengira


dirinya disayangi oleh Alexi.


“Aku hanya kelelahan.”


gugupnya.


“Sungguh? Kulihat kau


punya banyak luka.” Alexi seperti tak sadar. Dengan santainya ia mengangkat


dagu Kyra, mendekatkan wajah mereka hingga Kyra kehilangan ketenangan.


“Aku baik-baik saja!”


Gadis api menjadi panik. Secara tak sengaja mendorong Alexi menjauh. Wajahnya


merah padam. Kakinya terus mundur berniat menjauh berupaya menyembunyikan


perasaannya.


Bara yang melihat tingkah


mereka dari kejauhan merasa malu sendiri. Percuma ia cemas. Alexi selalu bisa


membalikkan situasi dengan cepat, tapi sebenarnya apa yang membuatnya datang ke


sini? Masa hanya untuk menolong Kyra? Rasanya aneh sekali.


Ah sudah, biar ia pikirkan


nanti. Sekarang lebih baik Bara menolong Kyra. Kasihan, gadis itu seperti


tengah dipermainkan oleh tingkah ambigu Alexi.


“Kyra, ayo kembali ke


kastil. Raja dan Meena sudah masuk lebih dulu.”


Bara mendekati mereka,


memuluk punggung Kyra seperti biasanya. Saat itulah, Kyra sadar kalau


sekeliling mereka sudah mulai kosong. Orang-orang yang terluka telah dibawa


masuk dan mereka yang tewas telah dikumpulkan. Rasanya dirinya bodoh sekali.


Malah terbawa perasaan, lupa bahwa mereka tidak dalam kondisi yang baik untuk


bercanda.


“Kau juga ikut, kan Letnan?”


Setelah berbicara dengan Kyra, Bara mengalihkan perhatiannya pada Alexi.


“Ya, aku akan tinggal


selama Yang Mulia ada di sini.” Kyra mengikuti mereka dari belakang. Sikap


Alexi yang tenang saat mengobrol dengan Bara membuat Kyra sedikit merasa


kecewa. Ternyata hanya dia yang gelisah dan kebingungan. Alexi tak memikirkan


sama sekali tentang sentuhan-sentuhan kecil yang mengganggunya.


“Mungkin aku hanya


dianggap anak kecil,” gumam Kyra.


Kyra terus saja jalan


tertunduk, menghela napas tanpa menyadari bahwa Alexi berkali-kali mencuri pandang

__ADS_1


padanya. Bara yang sadar memilih untuk pura-pura tak lihat. Dia berharap kalau


firasatnya salah. Jangan sampai mereka saling jatuh cinta. Karena pada


akhirnya, Kyra harus kembali pada sang Phoenix.


***


Malam harinya, keadaan


sudah terkontrol dengan baik. Tak ada yang berani membuat keributan saat Nakula


ada di dalam kastil. Soal kebohongan Amara dan Kanya sudah terlupakan oleh


kemunculan Nakula.


Sang Raja yang jarang


meninggalkan istana kini ada di area perbatasan dan kedatangannya itu hanya


untuk menolong Meena. Gadis kecil yang tak pernah mereka anggap seperti idola.


Jamuan untuk Nakula


sengaja disiapkan oleh Amara, tetapi keadaannya tetaplah tidak terlihat


memuaskan. Pasalnya sang Raja seperti tak peduli. Yang dilakukannya hanya


mengganggu Meena sepanjang waktu.


“Kyra, tolong aku! Naga


mesum itu selalu saja memelukku!” Meena sudah mulai gila, kabur bersembunyi di


belakang Kyra. Kontak fisik dengan Nakula bisa menyembuhkan dan memberinya


kekuatan, tapi Meena tetap merasa terganggu. Rasanya seperti tengah dilecehkan


oleh om-om genit.


“Sabarlah, Yang Mulia


hanya berniat menolongmu.” Kyra tertawa dengan canggung. Ia tak pernah merasa


nyaman berhadapan dengan Nakula. Apalagi Alexi duduk di sampingnya seperti tengah


mengawasi dalam diam.


“Aku tak minta ditolong!”


Meena hentak-hentak kaki dan tangan gemas. Tatapannya sinis sekali pada Nakula.


Sedangkan Naga itu hanya senyum-senyum mencurigakan, duduk di hadapan mereka


sambil minum anggur dengan Bara.


“Kamu bisa bilang seperti


itu setelah menjadi kuat, Meena.” Kata-kata Nakula bagai sabetan pisau bagi


Meena. Karena dia sadar diri, kelemahannya yang membuat ia harus berhutang budi


pada Nakula.


“Aku tak bisa jadi kuat


kalau kau selalu ikut campur dengan urusanku!” Kendatipun demikian, Meena tetap


tak senang. Dia benci bergantung dengan seseorang, terutama orang yang


seenaknya mengaku sebagai pemiliknya.


“Aku tak mencampuri


urusanmu. Aku hanya kangen padamu, Ratuku.” Rayuan memalukan yang keluar dari


mulai Nakula membuat Meena frustrasi. Wajahnya tersipu, suarannya tertahan di


tenggorokkan.


“Kalau kau masih begini


lemahnya, datanglah ke istana. Aku akan melatihmu sendiri." Kemudian,


tawaran Nakula menghapus segala rasa frustrasi itu. Berganti menjadi kemarahan.


Datang ke istana dan bergabung dengan koleksi selir Nakula adalah sebuah penghinaan


untuknya. Itulah kenapa Meena tak pernah sudi menerima pertolongan dari Nakula.


“Maksudmu menjadi wanita


koleksimu? Lebih baik aku mati di pertempuran. Dasar Naga tua menjijikkan.” Mulut


tajam Meena yang berucap, mengubah suasana memalukan itu menjadi menakutkan.


Sekarang orang-orang mulai takut kalau penghinaan Meena membuat Nakula murka.


“Astaga, gadis kecilku


sudah dewasa rupanya. Kau cemburu pada mereka, Meena?” Detik berikutnya, mereka


tercengang. Sang Raja tertawa, mengedipkan mata penuh percaya menanggapi segala


kelakuan Meena dengan candaan.


“Siapa yang cemburu! Bodoh!”


Tak bisa melawan, Meena berteriak dan kabur meninggalkan kastil. Sedangkan


Nakula hanya tertawa, merasa sikap Meena begitu menggemaskan.


Membawa Meena ke istana


memang mustahil. Lagian sejak awal Nakula tak punya niat membiarkan Meena


tinggal di sisinya hanya untuk dilindungi. Bagaimanapun juga, Meena harus


menjadi kuat dengan sendirinya. Nakula tak bisa terus menolongnya sepanjang


waktu. Masih ada aturan yang harus dipatuhi. Syarat utama untuk bisa diterima


menjadi pengantin oleh seluruh kawanan binatang mistik.


Yakni, gadis pengantin


harus bisa membangkitkan kekuatannya sendiri tanpa bantuan siapa pun. Bila


Nakula terlalu ikut campur, takutnya kawanan yang selama ini bersembunyi akan


memunculkan diri dan membinasakan Meena karena dianggap tak layak menjadi bagian


keluarga mereka. Kondisi ini juga berlaku untuk Kyra dan Kanya, tapi tak ada


satu pun binatang mistik kekasih mereka yang berniat mengatakan persyaratan


tersebut.

__ADS_1


__ADS_2