
Pertempuran telah
berlangsung selama berjam-jam. Mereka yang berperingkat rendah hampir tak ada
lagi yang bisa bertempur. Amara sudah nyaris putus asa melihat kekacauan di
bentengnya.
Di depannya, Meena dan
Kanya masih berhadapan dengan musuh bernama Rhea, Penyihir Angin yang begitu
kuat hingga mampu mendominasi pertarungan dua lawan satu.
Di bawah sana, Kyra dan
Bara tengah melawan komandan mereka, Aksa. Kalau saja Bara melawan Aksa
sendirian, ia yakin bisa menang. Namun Aksa selalu menghindarinya, berfokus
hanya mengejar Kyra seorang. Terlihat sekali apa mau mereka dan semua ini
terjadi karena gadis-gadis itu nekat ingin datang ke tempat seperti ini.
“Jangan hanya bisa
melarikan diri! Lawanmu adalah aku!” Bara menerjang Aksa, memotong serangannya
yang tertuju pada Kyra.
Pria berwajah dingin itu
menghentakkan kakinya. Batu-batu di sekitar mereka naik ke atas udara,
terlontar secara serentak ke arah bara. Untung menghentikannya, Bara membangun
pelindung dari es mengitari seluruh tubuhnya. Gara-gara itu, Aksa berhasil
melewatinya mengejar Kyra.
Tanah naik ke atas
permukaan, memotong jalan Kyra, membangun sebuah jeruji batu yang mengurung ke
dua kaki Kyra. “Sebaiknya kau tak melawan.” Satelah Kyra tak bisa bergerak, ia
menajamkan telapak tangannya menjadi sebuah ujung tombak.
Kyra menelan ludah,
memajukan kedua kepalan tinjunya ke arah depan. Ia tak tahu apakah ini akan ada
gunanya, tapi setidaknya ia tak mau menyerah begitu saja. Sebuah ledakan
kembali terjadi setelah benturan lapisan pelindung di kepalan tangan Kyra dan
mata tombak Aksa.
Kyra terpental jatuh
terlentang di atas tanah. Kurungan kakinya pecah, tapi ia tak bisa melarikan
diri. Suara burung yang ia dengar siang tadi tak lagi terdengar. Sebab,
kempingan jiwa sang Phoenix telah terbakar saat ia menggunakannya tadi.
“Aku tak ... akan
menyerah.” Kyra masih berusaha bangkit mengumpulkan kekuatan. Sementara Aksa
terus mendekat membawa tekanan besar.
Di saat yang sama, Bara
tengah disibukkan oleh bawahan Aksa. Ia ingin meminta bantuan yang lain. Namun,
semuanya terlalu sibuk. Bahkan Meena dan Kanya juga terlontar jatuh dari atas
benteng.
“Percuma saja kau keras kepala.
Lihatlah sekelilingmu, kami telah mendapatkan kalian semua,” ujar Aksa.
Setelah itu, musuh-musuh
mereka menangkap Kanya dan Meena. Hanya dirinya yang masih berdiri tertatih,
menunggu tertangkap juga.
“Siapa yang bilang
percuma.” Detik berikut, sebuah ledakan datang di antara Kyra dan Aksa. Api
yang muncul dari ledakan tersebut berubah menjadi Alexi. Kyra terpaku tak
percaya, kemunculan sang Letnan terlalu mengejutkannya.
“Kau ... Alexi ... DASAR
PENGGANGGU!” Aksa pun terkejut, tapi lebih dari kejutan yang memuakkan. Ia
menyerang Alexi dengan hujan meteor yang cukup untuk meratakan seluruh area
pertempuran.
“Kau sudah berjuang dengan
baik, Kyra. Setelah ini serahkan padaku.” Kyra ditarik ke dalam dekapan Alexi. Di
saat yang sama, sang Letnan mengangkat satu tangannya, menembakkan sebuah laser
panjang menembus tubuh Aksa. Meteor yang jatuh tak ia pedulikan, seakan hal itu
bukan masalah sama sekali.
Sesaat kemudian, batu-batu
berbahaya itu menabrak sesuatu tak terlihat di atas mereka. Pecah menjadi sehalus
butiran pasir. Tak hanya itu, embusan angin pun mulai bergerak tak wajar,
menyapu habis musuh-musuhnya dalam hitungan detik.
Sekali lagi Kyra terpaku
takjub melihat keajaiban menakutkan tersebut. Kekuatan sang Raja. Naga buas
yang kini telah merebut kembali Meena dan Kanya dari tangan musuh mereka.
“Astaga, kulitmu yang
indah jadi rusak Meena. Kan sudah kubilang, panggil aku kalau kau dalam bahaya.
Mau keras kepala sampai kapan?” Nakul mengusap pipi Meena dengan ekspresi culas
yang membuat si cebol emosi.
__ADS_1
“Jangan menyentuhku!”
Harga diri Meena berasa direndahkan oleh kata-kata Nakula. Tepisan tangan yang
kasar dan rontaan yang membuatnya lepas dari dekapan sang Raja merupakan cara
untuk menunjukkan penolakan.
Kericuhan yang ada lenyap
seketika. Kesunyian di antara orang-orang yang selamat terasa mencekam. Aksa,
Rhea dan sejumlah lawan yang masih hidup telah melarikan diri, tapi tak ada
satu pun orang yang merasa telah aman di sana. Mereka takut akan kemarahan
Nakula. Seorang yang mampu menghentikan peperangan hanya dengan menjentikkan
jari, jelas lebih menakutkan daripada sekumpulan anggota Persekutuan Kegelapan.
“Kukuku ... tatapan muakmu
itulah yang membuatku menyukaimu.” Tawa Nakula tak terdengar berbahaya. Ia
memang menangkap Meena kembali, tapi Kyra bisa melihat bila Nakula tengah
menyembuhkan luka temannya itu.
“Letnan Alexi, Yang Mulia
tak marah pada Meena, kan?” Untuk jaga-jaga, Kyra bertanya pada Alexi.
Alexi pun tersadar bahwa
ia tengah memeluk Kyra. Refleks ia melepaskan pelukannya, menjaga jarak dua
langkah dari Kyra. “Tak perlu cemas. Yang Mulia sengaja datang untuk
menolongnya. Beliau tak akan marah karena hal kecil.” Mereka memang
membicarakan Nakula dan Meena, tapi rasa canggung di antara kedua orang itu hadir
karena hal lain.
“Baguslah.” Kyra menghela
napas lega. Tertunduk malu mencoba mengendalikan debaran hati yang ia rasakan.
Sesaat yang lalu, dia merasa bahwa Alexi begitu keren. Datang seperti pahlawan
menyelamatkannya.
“Apa kamu terluka?” Setelah
menjaga jarak, Alexi mendekat lagi. Ia menunduk menyejajarkan arah pandangan
mata mereka. Tangannya ada di atas kepala Kyra, membelai dengan lembut membuat
gadis api gugup tak karuan.
Terkadang, Kyra merasa
bila Alexi memperlakukannya dengan spesial. Sikapnya yang biasa dingin, berubah
perhatian. Bila terus seperti ini, Kyra takut ia akan salah paham mengira
dirinya disayangi oleh Alexi.
“Aku hanya kelelahan.”
gugupnya.
“Sungguh? Kulihat kau
punya banyak luka.” Alexi seperti tak sadar. Dengan santainya ia mengangkat
dagu Kyra, mendekatkan wajah mereka hingga Kyra kehilangan ketenangan.
“Aku baik-baik saja!”
Gadis api menjadi panik. Secara tak sengaja mendorong Alexi menjauh. Wajahnya
merah padam. Kakinya terus mundur berniat menjauh berupaya menyembunyikan
perasaannya.
Bara yang melihat tingkah
mereka dari kejauhan merasa malu sendiri. Percuma ia cemas. Alexi selalu bisa
membalikkan situasi dengan cepat, tapi sebenarnya apa yang membuatnya datang ke
sini? Masa hanya untuk menolong Kyra? Rasanya aneh sekali.
Ah sudah, biar ia pikirkan
nanti. Sekarang lebih baik Bara menolong Kyra. Kasihan, gadis itu seperti
tengah dipermainkan oleh tingkah ambigu Alexi.
“Kyra, ayo kembali ke
kastil. Raja dan Meena sudah masuk lebih dulu.”
Bara mendekati mereka,
memuluk punggung Kyra seperti biasanya. Saat itulah, Kyra sadar kalau
sekeliling mereka sudah mulai kosong. Orang-orang yang terluka telah dibawa
masuk dan mereka yang tewas telah dikumpulkan. Rasanya dirinya bodoh sekali.
Malah terbawa perasaan, lupa bahwa mereka tidak dalam kondisi yang baik untuk
bercanda.
“Kau juga ikut, kan Letnan?”
Setelah berbicara dengan Kyra, Bara mengalihkan perhatiannya pada Alexi.
“Ya, aku akan tinggal
selama Yang Mulia ada di sini.” Kyra mengikuti mereka dari belakang. Sikap
Alexi yang tenang saat mengobrol dengan Bara membuat Kyra sedikit merasa
kecewa. Ternyata hanya dia yang gelisah dan kebingungan. Alexi tak memikirkan
sama sekali tentang sentuhan-sentuhan kecil yang mengganggunya.
“Mungkin aku hanya
dianggap anak kecil,” gumam Kyra.
Kyra terus saja jalan
tertunduk, menghela napas tanpa menyadari bahwa Alexi berkali-kali mencuri pandang
__ADS_1
padanya. Bara yang sadar memilih untuk pura-pura tak lihat. Dia berharap kalau
firasatnya salah. Jangan sampai mereka saling jatuh cinta. Karena pada
akhirnya, Kyra harus kembali pada sang Phoenix.
***
Malam harinya, keadaan
sudah terkontrol dengan baik. Tak ada yang berani membuat keributan saat Nakula
ada di dalam kastil. Soal kebohongan Amara dan Kanya sudah terlupakan oleh
kemunculan Nakula.
Sang Raja yang jarang
meninggalkan istana kini ada di area perbatasan dan kedatangannya itu hanya
untuk menolong Meena. Gadis kecil yang tak pernah mereka anggap seperti idola.
Jamuan untuk Nakula
sengaja disiapkan oleh Amara, tetapi keadaannya tetaplah tidak terlihat
memuaskan. Pasalnya sang Raja seperti tak peduli. Yang dilakukannya hanya
mengganggu Meena sepanjang waktu.
“Kyra, tolong aku! Naga
mesum itu selalu saja memelukku!” Meena sudah mulai gila, kabur bersembunyi di
belakang Kyra. Kontak fisik dengan Nakula bisa menyembuhkan dan memberinya
kekuatan, tapi Meena tetap merasa terganggu. Rasanya seperti tengah dilecehkan
oleh om-om genit.
“Sabarlah, Yang Mulia
hanya berniat menolongmu.” Kyra tertawa dengan canggung. Ia tak pernah merasa
nyaman berhadapan dengan Nakula. Apalagi Alexi duduk di sampingnya seperti tengah
mengawasi dalam diam.
“Aku tak minta ditolong!”
Meena hentak-hentak kaki dan tangan gemas. Tatapannya sinis sekali pada Nakula.
Sedangkan Naga itu hanya senyum-senyum mencurigakan, duduk di hadapan mereka
sambil minum anggur dengan Bara.
“Kamu bisa bilang seperti
itu setelah menjadi kuat, Meena.” Kata-kata Nakula bagai sabetan pisau bagi
Meena. Karena dia sadar diri, kelemahannya yang membuat ia harus berhutang budi
pada Nakula.
“Aku tak bisa jadi kuat
kalau kau selalu ikut campur dengan urusanku!” Kendatipun demikian, Meena tetap
tak senang. Dia benci bergantung dengan seseorang, terutama orang yang
seenaknya mengaku sebagai pemiliknya.
“Aku tak mencampuri
urusanmu. Aku hanya kangen padamu, Ratuku.” Rayuan memalukan yang keluar dari
mulai Nakula membuat Meena frustrasi. Wajahnya tersipu, suarannya tertahan di
tenggorokkan.
“Kalau kau masih begini
lemahnya, datanglah ke istana. Aku akan melatihmu sendiri." Kemudian,
tawaran Nakula menghapus segala rasa frustrasi itu. Berganti menjadi kemarahan.
Datang ke istana dan bergabung dengan koleksi selir Nakula adalah sebuah penghinaan
untuknya. Itulah kenapa Meena tak pernah sudi menerima pertolongan dari Nakula.
“Maksudmu menjadi wanita
koleksimu? Lebih baik aku mati di pertempuran. Dasar Naga tua menjijikkan.” Mulut
tajam Meena yang berucap, mengubah suasana memalukan itu menjadi menakutkan.
Sekarang orang-orang mulai takut kalau penghinaan Meena membuat Nakula murka.
“Astaga, gadis kecilku
sudah dewasa rupanya. Kau cemburu pada mereka, Meena?” Detik berikutnya, mereka
tercengang. Sang Raja tertawa, mengedipkan mata penuh percaya menanggapi segala
kelakuan Meena dengan candaan.
“Siapa yang cemburu! Bodoh!”
Tak bisa melawan, Meena berteriak dan kabur meninggalkan kastil. Sedangkan
Nakula hanya tertawa, merasa sikap Meena begitu menggemaskan.
Membawa Meena ke istana
memang mustahil. Lagian sejak awal Nakula tak punya niat membiarkan Meena
tinggal di sisinya hanya untuk dilindungi. Bagaimanapun juga, Meena harus
menjadi kuat dengan sendirinya. Nakula tak bisa terus menolongnya sepanjang
waktu. Masih ada aturan yang harus dipatuhi. Syarat utama untuk bisa diterima
menjadi pengantin oleh seluruh kawanan binatang mistik.
Yakni, gadis pengantin
harus bisa membangkitkan kekuatannya sendiri tanpa bantuan siapa pun. Bila
Nakula terlalu ikut campur, takutnya kawanan yang selama ini bersembunyi akan
memunculkan diri dan membinasakan Meena karena dianggap tak layak menjadi bagian
keluarga mereka. Kondisi ini juga berlaku untuk Kyra dan Kanya, tapi tak ada
satu pun binatang mistik kekasih mereka yang berniat mengatakan persyaratan
tersebut.
__ADS_1