
Bentrokan pedang api dan
tengkorak abadi masih terus berlanjut. Akan tetapi, Kyra mulai menyadari satu
hal. Semakin sering kepala tengkorak itu dihancurkan, semakin lama pula proses
pembentukan ulangnya.
Kyra merasa telah
mendapatkan secerah harapan. Dia berniat mencoba meledakkan kepala musuhnya. Gadis
itu melompat ke atas menghindari serangan, mengarahkan ujung pedangnya ke arah
bawah. Yakni puncak kepala lawannya. Setelah menusuknya, Kyra mengalirkan
sejumlah api bertekanan besar.
Boom!
Ledakan yang diperkirakan
berhasil. Kepingan tulang gosong terlempar ke mana-mana. Kali ini, tak lagi
bergerak. Tak ada tanda-tanda akan menyatu kembali. Akhirnya ditemukan juga,
cara untuk membunuh lawannya.
Tanpa menunggul lebih lama
lagi, Kyra melakukan hal yang sama pada pasukan Undead yang lain. Setengah jam
kemudian, ia berdiri di tengah-tengah tumpukkan tulang. Napasnya
terengah-engah. Tubuhnya begitu kelelahan setelah menggunakan semua energi yang
tersisa.
“Tidak ... aku harus ....”
Brak!
Kyra jatuh, kehilangan
kesadarannya. Apinya padam, lenyap setelah semua tenaga tersisa. Dinginnya
lantai salju membekukan tumbuhnya, menariknya mendekati kematian.
***
Sang Kapten telah membawa
Meena ke sebuah gua yang dipakainya sebagai markas sementara. Ia melemparkan
Meena ke dinding gua, membangunkan dengan cara yang brutal.
“Bangun!” Pria itu
menendang pundak Meena.
“Ugh, apa maumu.” Meena membuka
matanya, memegangi bagian tubuh yang baru saja di tendang. Dia mungkin terduduk
tidak berdaya, tapi nyalinya tak pernah ciut.
“Apa hubunganmu dengan
Nakula!” Sudah Meena duga, bentuk sayapnya yang membuat mayat hidup ini
tertarik padanya. Gadis bertumbuh mungil itu tersenyum sinis, tanpa berniat
menjawab pertanyaan sang Kapten.
“Gadis sialan! Jawab
pertanyaanku!” Tendangan susulan datang, tapi kali ini berhasil Meena tangkis.
Ia menggunakan sayapnya untuk membungkus tubuh bagian depan, mengurung dirinya
sendiri seperti di dalam cangkang telur. Kerasnya sayap itu membuat kaki sang
Kapten pecah.
Meskipun pada akhirnya
kaki itu kembali menyatu lagi, ia tahu tak ada gunanya mencoba. Pria itu
mengeram marah, menarik pedangnya berniat menusuk Meena melewati celah terbuka.
Di saat itulah, Soli berhasil menyusul.
“Tak akan kubiarkan kau
membunuhnya.” Serangan dadakan diluncurkan, tapi berhasil ditangkis.
“Kalau begitu aku hanya
perlu membunuhmu terlebih dulu!” Kini Undead itu berhadapan satu lawan satu
dengan Soli. Mereka sesama pemakai pedang. Kecepatan dan ketajaman senjata
merupakan kunci kemenangan.
Meena tak menyangka orang
yang akan datang menolongnya adalah Soli, tapi tak masalah. Dia tetap berterima
kasih. Gadis itu berdiri, menyimpan kembali sayapnya. Dia mengeluarkan sebuah
batu mana dari sakunya. Benda itu berfungsi untuk meningkatkan efek sihir
mendukung. Kecepatan Soli meningkat 50%, pertahanan meningkat 20% dan kekuatan
serang meningkat 30%.
__ADS_1
“Terima kasih, Nona Meena.
Akan segera kuselesaikan pertarungan ini untukmu!” Soli menjadi bersemangat.
Dia menyerang dengan gencar, memotong tiap bagian tubuh lawannya. Berkali-kali
hingga tulang-tulang beruang mati itu tidak dapat menyatu kembali.
Selesai. Lawan dibunuh
dengan begitu cepat, menunjukkan seberapa besar perbedaan tingkat kemampuan
mereka. Meena tidak berkata apa-apa, tapi dia mulai bisa mendapatkan gambaran.
Soli terlalu kuat untuk
hitungan seorang Petualang baru. Dia bahkan belum menggunakan sihir tanah
sekalipun, tapi sudah sanggup membunuh seorang Undead berkedudukan. Waktu
kedatangan yang terlalu kebetulan, sikap Bara pada Soli dan cara pria ini
memanggilnya membuat Meena mendapatkan sebuah kesimpulan. Soli adalah orang
kiriman Nakula.
“Nona Meena terluka?”
“Lukaku bisa kusembuhkan
sendiri.”
“Di mana yang lain?”
“Bara menyuruhku
menolongmu. Jadi aku meninggalkan mereka di sana.”
“Kalau begitu kita
kembali.”
Mereka berhadapan dengan
canggung. Soli mencoba menghargai Meena, tapi menjadi sulit karena Meena mulai
mewaspadainya. Akhirnya mereka kembali ke lokasi awal tanpa membicarakan apa
pun.
***
Bara telah berlari cukup
jauh. Dia sengaja memisahkan sekelompok besar musuh dari Kyra dan Martin. Sekarang
dia telah siap menggunakan kemampuan sesungguhnya untuk menghadapi mereka.
“Kemarilah, lawan aku!”
tengkorak itu untuk mengepungnya di atas sebuah danau beku. Ketika mereka menyerangnya
bersamaan, Bara menghentakkan kaki, menghancurkan danaunya.
Musuh-musuhnya jatuh ke dalam
air es, bersusah-payah merangkak naik. Namun, Bara memberi kesempatan. Dia mengendalikan
air membentuk spiral, menarik para Undead hingga jatuh ke dasar danau.
Kemudian, dia membekukan danaunya kembali. Bila tak bisa dibunuh, maka menyegel
mereka sekaligus adalah cara terbaik yang ia pilih.
Setelah mengalahkan
bagiannya, Bara berbalik arah kembali ke tempat semua. Dia bertemu dengan Meena
dan Soli di tengah jalan. Mereka terlihat baik-baik saja.
“Hei, cebol. Baguslah kau
selamat,” ujar Bara. Muncul-muncul langsung mengacak rambut Meena.
“Kenapa kau sendiri? Di
mana Kyra dan Martin?” Meena mendorong Bara. Sebagai balasan, Bara menangkap
pinggangnya. Kemudian Meena diangkat dengan satu tangan seperti menggendong
anak kecil. Soli ingin menyuruhnya menurunkan Meena, tapi Bara telah lebih dulu
berlari sambil membawa gadis mungil itu.
“Kutinggalkan di sana.
Harusnya mereka baik-baik.”
“Bodoh! Kenapa
kautinggalkan!”
“Aku terpaksa tahu! Kau
pikir mudah membuat para Undead itu hanya fokus padaku saja!”
Bara hanya meninggalkan
lima orang lawan untuk Kyra dan Martin terlihat tak kesulitan melawan
sekumpulan Kera Salju. Dia telah membawa pergi semua musuh yang sulit. Kalau
memang mereka berdua masih tak sanggup, sebaiknya berhenti jadi Petualang saja!
Sayangnya anggapan Bara
__ADS_1
pada rekan-rekannya terlalu tinggi dan keadaan bukan sesuatu yang bisa ia
prediksi. Saat sampai di tempat pertarungan awal, tak ada yang bisa mereka
temukan di sana.
Ada jejak perkelahian Kyra
di sana. Lengkap dengan jejak salju seukuran tubuh gadis itu, tapi sosoknya
sendiri tak ada. Di sekitar jejak itu tak ada jejak kaki atau tanda-tanda
kehadiran orang lain. Sedangkan di arah berlawan, jejaknya lebih jelas
menunjukkan ke mana arah tujuan Martin.
“Haruskah kita berpencar?”
Soli bertanya. Baginya Kyra adalah prioritas, tapi justru jejak gadis api itu
yang tidak terlihat.
“Tidak. Kita akan mencari Martin
dan menolongnya.”
“Bagaimana dengan Kyra!
Mungkin mereka menangkapnya!”
“Martin lebih kuat, Nona
Kyra yang harus kaucemaskan!”
Bara memutuskan untuk
mengabaikan Kyra. Mengejar Martin dan menyelesaikan misi. Keputusannya membuat
Meena dan Soli menentang. Tak ada yang mau mengikuti Bara.
Bara menunjuk pada jejak
yang tertinggal dari pertarungan Kyra. “Lihat ini baik-baik! Kyra telah menang.
Sisa pasukan lain telah kubekukan dan pemimpinnya telah dikalah oleh Soli. Tak
ada lagi Undead yang tersisa di gunung ini. Ada alasan lain yang membuat Kyra
menghilang di sini dan alasan itu bukan sesuatu yang bisa kita kendalikan! Dia
hanya kembali pada pemiliknya.” Menurut analisa Bara, satu-satunya makhluk yang
bisa membawa Kyra tanpa meninggalkan jejak apa pun adalah mereka yang punya
sayap. Di gunung es jelas tak ada satu pun makhluk seperti itu, tetapi gunung
api di sebelahnya ada satu.
“Apa maksudmu?” Meena
belum tahu siapa sebenarnya Kyra. Dia hanya berpikir bahwa Kyra adalah gadis
muda berbakat yang menyenangkan.
“Kyra sama denganmu. Masih
belum mengerti juga? Hanya ada satu pemilik kekuatan api keabadian.” Saat
mengucapkannya, Bara menunjukkan ke arah gunung api di sebelah barat. Gunung
itu adalah tempat Meena berlatih sejak kecil, tempat yang dikenal sebagai rumah
Phoenix.
“Kyra adalah pengantin
Phoenix!?” Soli yang mengucapkan. Karena Meena tak mau percaya akan hal itu. Tak
peduli seberapa jelas kenyataan telah tampak. Pengantin binatang mistik jarang
sekali muncul. Hanya dengan keberadaan dirinya saja sudah akan mengubah banyak
hal dan sekarang Bara mengatakan kalau Kyra juga sama sepertinya.
“Kalau kalian sudah
mengerti, ayo kita selamatkan Martin. Setelah itu baru kita pergi ke gunung
api.” Bara tak berniat membuang Kyra. Lagi pula dia yakin sang Phoenix akan
melepaskan Kyra kembali. Tak mungkin dia akan mengurung gadis itu di sana tanpa
memberinya kesempatan untuk membangkitkan kekuatan.
Mereka harus berpikiran
jernih. Menyelesaikan satu per satu masalah yang ada. Mengejar semuanya
sekaligus tanpa menyadari kelemahan mereka sendiri hanya akan mendatangkan
sebuah kegagalan.
“Kyra akan baik-baik saja.
Kau yang paling tahu seberapa pedulinya makhluk-makhluk menakutkan itu pada
pengantinnya.” Bara kembali menegaskan, meminta Meena untuk berhenti melarikan
diri dari kenyataan.
Kali ini Meena tak bisa
menyangkal. Dia mengepalkan tangannya erat-erat, berbalik arah dan mengikuti
Bara mencari Martin. Kalau sudah begini, Soli bisa apalagi? Dia hanya perlu
__ADS_1
tunduk apa mau Ratunya.