Phoenix Bride

Phoenix Bride
Episode 12


__ADS_3

Bentrokan pedang api dan


tengkorak abadi masih terus berlanjut. Akan tetapi, Kyra mulai menyadari satu


hal. Semakin sering kepala tengkorak itu dihancurkan, semakin lama pula proses


pembentukan ulangnya.


Kyra merasa telah


mendapatkan secerah harapan. Dia berniat mencoba meledakkan kepala musuhnya. Gadis


itu melompat ke atas menghindari serangan, mengarahkan ujung pedangnya ke arah


bawah. Yakni puncak kepala lawannya. Setelah menusuknya, Kyra mengalirkan


sejumlah api bertekanan besar.


Boom!


Ledakan yang diperkirakan


berhasil. Kepingan tulang gosong terlempar ke mana-mana. Kali ini, tak lagi


bergerak. Tak ada tanda-tanda akan menyatu kembali. Akhirnya ditemukan juga,


cara untuk membunuh lawannya.


Tanpa menunggul lebih lama


lagi, Kyra melakukan hal yang sama pada pasukan Undead yang lain. Setengah jam


kemudian, ia berdiri di tengah-tengah tumpukkan tulang. Napasnya


terengah-engah. Tubuhnya begitu kelelahan setelah menggunakan semua energi yang


tersisa.


“Tidak ... aku harus ....”


Brak!


Kyra jatuh, kehilangan


kesadarannya. Apinya padam, lenyap setelah semua tenaga tersisa. Dinginnya


lantai salju membekukan tumbuhnya, menariknya mendekati kematian.


***


Sang Kapten telah membawa


Meena ke sebuah gua yang dipakainya sebagai markas sementara. Ia melemparkan


Meena ke dinding gua, membangunkan dengan cara yang brutal.


“Bangun!” Pria itu


menendang pundak Meena.


“Ugh, apa maumu.” Meena membuka


matanya, memegangi bagian tubuh yang baru saja di tendang. Dia mungkin terduduk


tidak berdaya, tapi nyalinya tak pernah ciut.


“Apa hubunganmu dengan


Nakula!” Sudah Meena duga, bentuk sayapnya yang membuat mayat hidup ini


tertarik padanya. Gadis bertumbuh mungil itu tersenyum sinis, tanpa berniat


menjawab pertanyaan sang Kapten.


“Gadis sialan! Jawab


pertanyaanku!” Tendangan susulan datang, tapi kali ini berhasil Meena tangkis.


Ia menggunakan sayapnya untuk membungkus tubuh bagian depan, mengurung dirinya


sendiri seperti di dalam cangkang telur. Kerasnya sayap itu membuat kaki sang


Kapten pecah.


Meskipun pada akhirnya


kaki itu kembali menyatu lagi, ia tahu tak ada gunanya mencoba. Pria itu


mengeram marah, menarik pedangnya berniat menusuk Meena melewati celah terbuka.


Di saat itulah, Soli berhasil menyusul.


“Tak akan kubiarkan kau


membunuhnya.” Serangan dadakan diluncurkan, tapi berhasil ditangkis.


“Kalau begitu aku hanya


perlu membunuhmu terlebih dulu!” Kini Undead itu berhadapan satu lawan satu


dengan Soli. Mereka sesama pemakai pedang. Kecepatan dan ketajaman senjata


merupakan kunci kemenangan.


Meena tak menyangka orang


yang akan datang menolongnya adalah Soli, tapi tak masalah. Dia tetap berterima


kasih. Gadis itu berdiri, menyimpan kembali sayapnya. Dia mengeluarkan sebuah


batu mana dari sakunya. Benda itu berfungsi untuk meningkatkan efek sihir


mendukung. Kecepatan Soli meningkat 50%, pertahanan meningkat 20% dan kekuatan


serang meningkat 30%.

__ADS_1


“Terima kasih, Nona Meena.


Akan segera kuselesaikan pertarungan ini untukmu!” Soli menjadi bersemangat.


Dia menyerang dengan gencar, memotong tiap bagian tubuh lawannya. Berkali-kali


hingga tulang-tulang beruang mati itu tidak dapat menyatu kembali.


Selesai. Lawan dibunuh


dengan begitu cepat, menunjukkan seberapa besar perbedaan tingkat kemampuan


mereka. Meena tidak berkata apa-apa, tapi dia mulai bisa mendapatkan gambaran.


Soli terlalu kuat untuk


hitungan seorang Petualang baru. Dia bahkan belum menggunakan sihir tanah


sekalipun, tapi sudah sanggup membunuh seorang Undead berkedudukan. Waktu


kedatangan yang terlalu kebetulan, sikap Bara pada Soli dan cara pria ini


memanggilnya membuat Meena mendapatkan sebuah kesimpulan. Soli adalah orang


kiriman Nakula.


“Nona Meena terluka?”


“Lukaku bisa kusembuhkan


sendiri.”


“Di mana yang lain?”


“Bara menyuruhku


menolongmu. Jadi aku meninggalkan mereka di sana.”


“Kalau begitu kita


kembali.”


Mereka berhadapan dengan


canggung. Soli mencoba menghargai Meena, tapi menjadi sulit karena Meena mulai


mewaspadainya. Akhirnya mereka kembali ke lokasi awal tanpa membicarakan apa


pun.


***


Bara telah berlari cukup


jauh. Dia sengaja memisahkan sekelompok besar musuh dari Kyra dan Martin. Sekarang


dia telah siap menggunakan kemampuan sesungguhnya untuk menghadapi mereka.


“Kemarilah, lawan aku!”


tengkorak itu untuk mengepungnya di atas sebuah danau beku. Ketika mereka menyerangnya


bersamaan, Bara menghentakkan kaki, menghancurkan danaunya.


Musuh-musuhnya jatuh ke dalam


air es, bersusah-payah merangkak naik. Namun, Bara memberi kesempatan. Dia mengendalikan


air membentuk spiral, menarik para Undead hingga jatuh ke dasar danau.


Kemudian, dia membekukan danaunya kembali. Bila tak bisa dibunuh, maka menyegel


mereka sekaligus adalah cara terbaik yang ia pilih.


Setelah mengalahkan


bagiannya, Bara berbalik arah kembali ke tempat semua. Dia bertemu dengan Meena


dan Soli di tengah jalan. Mereka terlihat baik-baik saja.


“Hei, cebol. Baguslah kau


selamat,” ujar Bara. Muncul-muncul langsung mengacak rambut Meena.


“Kenapa kau sendiri? Di


mana Kyra dan Martin?” Meena mendorong Bara. Sebagai balasan, Bara menangkap


pinggangnya. Kemudian Meena diangkat dengan satu tangan seperti menggendong


anak kecil. Soli ingin menyuruhnya menurunkan Meena, tapi Bara telah lebih dulu


berlari sambil membawa gadis mungil itu.


“Kutinggalkan di sana.


Harusnya mereka baik-baik.”


“Bodoh! Kenapa


kautinggalkan!”


“Aku terpaksa tahu! Kau


pikir mudah membuat para Undead itu hanya fokus padaku saja!”


Bara hanya meninggalkan


lima orang lawan untuk Kyra dan Martin terlihat tak kesulitan melawan


sekumpulan Kera Salju. Dia telah membawa pergi semua musuh yang sulit. Kalau


memang mereka berdua masih tak sanggup, sebaiknya berhenti jadi Petualang saja!


Sayangnya anggapan Bara

__ADS_1


pada rekan-rekannya terlalu tinggi dan keadaan bukan sesuatu yang bisa ia


prediksi. Saat sampai di tempat pertarungan awal, tak ada yang bisa mereka


temukan di sana.


Ada jejak perkelahian Kyra


di sana. Lengkap dengan jejak salju seukuran tubuh gadis itu, tapi sosoknya


sendiri tak ada. Di sekitar jejak itu tak ada jejak kaki atau tanda-tanda


kehadiran orang lain. Sedangkan di arah berlawan, jejaknya lebih jelas


menunjukkan ke mana arah tujuan Martin.


“Haruskah kita berpencar?”


Soli bertanya. Baginya Kyra adalah prioritas, tapi justru jejak gadis api itu


yang tidak terlihat.


“Tidak. Kita akan mencari Martin


dan menolongnya.”


“Bagaimana dengan Kyra!


Mungkin mereka menangkapnya!”


“Martin lebih kuat, Nona


Kyra yang harus kaucemaskan!”


Bara memutuskan untuk


mengabaikan Kyra. Mengejar Martin dan menyelesaikan misi. Keputusannya membuat


Meena dan Soli menentang. Tak ada yang mau mengikuti Bara.


Bara menunjuk pada jejak


yang tertinggal dari pertarungan Kyra. “Lihat ini baik-baik! Kyra telah menang.


Sisa pasukan lain telah kubekukan dan pemimpinnya telah dikalah oleh Soli. Tak


ada lagi Undead yang tersisa di gunung ini. Ada alasan lain yang membuat Kyra


menghilang di sini dan alasan itu bukan sesuatu yang bisa kita kendalikan! Dia


hanya kembali pada pemiliknya.” Menurut analisa Bara, satu-satunya makhluk yang


bisa membawa Kyra tanpa meninggalkan jejak apa pun adalah mereka yang punya


sayap. Di gunung es jelas tak ada satu pun makhluk seperti itu, tetapi gunung


api di sebelahnya ada satu.


“Apa maksudmu?” Meena


belum tahu siapa sebenarnya Kyra. Dia hanya berpikir bahwa Kyra adalah gadis


muda berbakat yang menyenangkan.


“Kyra sama denganmu. Masih


belum mengerti juga? Hanya ada satu pemilik kekuatan api keabadian.” Saat


mengucapkannya, Bara menunjukkan ke arah gunung api di sebelah barat. Gunung


itu adalah tempat Meena berlatih sejak kecil, tempat yang dikenal sebagai rumah


Phoenix.


“Kyra adalah pengantin


Phoenix!?” Soli yang mengucapkan. Karena Meena tak mau percaya akan hal itu. Tak


peduli seberapa jelas kenyataan telah tampak. Pengantin binatang mistik jarang


sekali muncul. Hanya dengan keberadaan dirinya saja sudah akan mengubah banyak


hal dan sekarang Bara mengatakan kalau Kyra juga sama sepertinya.


“Kalau kalian sudah


mengerti, ayo kita selamatkan Martin. Setelah itu baru kita pergi ke gunung


api.” Bara tak berniat membuang Kyra. Lagi pula dia yakin sang Phoenix akan


melepaskan Kyra kembali. Tak mungkin dia akan mengurung gadis itu di sana tanpa


memberinya kesempatan untuk membangkitkan kekuatan.


Mereka harus berpikiran


jernih. Menyelesaikan satu per satu masalah yang ada. Mengejar semuanya


sekaligus tanpa menyadari kelemahan mereka sendiri hanya akan mendatangkan


sebuah kegagalan.


“Kyra akan baik-baik saja.


Kau yang paling tahu seberapa pedulinya makhluk-makhluk menakutkan itu pada


pengantinnya.” Bara kembali menegaskan, meminta Meena untuk berhenti melarikan


diri dari kenyataan.


Kali ini Meena tak bisa


menyangkal. Dia mengepalkan tangannya erat-erat, berbalik arah dan mengikuti


Bara mencari Martin. Kalau sudah begini, Soli bisa apalagi? Dia hanya perlu

__ADS_1


tunduk apa mau Ratunya.


__ADS_2