
Begitu telah mendapatkan
token dari Alexi, Kyra dan teman-temannya segera memasuki kuil di mana para
Centaur menjaga lingkaran sihir teleportasi yang ingin mereka gunakan. Penjaga
kuil tak mempertanyakan apa pun karena Kyra membawa token yang merupakan surat
izin keluar dan masuk Kerajaan Draco.
Sang Centaur mengirimkan
mereka dengan cara melintasi dua lingkaran sihir teleportasi. Pemindahan
berhasil, membawa mereka pada kuil yang berada di luar perbatasan. Kuil
tersebut sudah hampir roboh dan tidak dijaga oleh siapa pun, tapi setidaknya
masih bisa berfungsi.
Kyra melebarkan pandangan
matanya mencoba mencari tanda-tanda kehidupan di sekeliling mereka. Dan yang ia
temukan hanya luasnya hamparan rumput dan sisa reruntuhan kuil.
“Di mana orang-orang?”
tanya Kyra.
“Tidak ada yang hidup di
sini. Sepanjang jalan pun, hanya ada monster dan Undead,” jawab Bara.
Sudah ratusan tahun
berlalu sejak kekacauan terjadi di seluruh daratan tiga benua. Adapun makhluk
hidup yang selamat dari peperangan, mereka pastilah hidup dalam persembunyian.
Tak ada yang berani membangun kota di tempat terbuka. Apalagi tetap tinggal di
tempat yang telah diruntuhkan.
“Ternyata seburuk ini
keadaan di luar sini.” Meena telah tahu bila tak ada hal bagus yang bisa ia
temukan dalam perjalanan ini, tapi ia tak menyangka bila keadaan lebih buruk
dari yang ia dengar.
Selain Bara dan Kanya,
keempat orang lainnya tak pernah meninggalkan tanah kelahiran mereka. Makanya
keadaan seperti ini tidak membuat mereka merasa nyaman. Terlepas dari tenangnya
keadaan sekitar, ada aura berbahaya yang bisa mereka rasakan dari seluruh
penjuru arah.
“Kalian pasti gila, ingin
melewati jalan seperti ini sampai ke Aurora Sea.” Rhea mendelik, waspada pada
sekelilingnya.
“Ini masih termasuk aman.
Justru wilayah perairan lebih berbahaya.”
“Benar kata Kanya,
sebaiknya kita segera bergerak. Hutan itu terlihat aman.”
Bara tak ingin
berlama-lama di kuil tersebut. Dia merasa lebih aman setelah mereka memasuki
hutan. Setidaknya gelapnya tanah yang tertutupi oleh daun dan batang pohon
membuat apa pun – predator lokal sulit menemukan mereka.
“Baiklah, kau di depan,
Bara.” Soli memilih berjalan paling belakang agar mudah mengawasi Meena dan
Kyra. Dia curiga mereka akan tersesat bila ia mengalihkan pandangan sejenak
saja.
“Tak masalah. Rhea, ke
sini.”
“Jangan memerintahku, aku
tak suka mengasuh anak-anak.”
“Yah, mengurus anak kecil
itu menyusahkan,” ujar Kanya, menimpali.
Kyra tertawa canggung,
sadar bila yang disinggung adalah dia dan Meena.
“Siapa yang kalian sebut
anak-anak!” Meena sudah pasti protes. Pipinya mengembung tak senang. Kakinya
juga tak bisa diam. Jalan sambil dihentak-hentakkan hingga semakin terlihat
seperti bocah menyusahkan.
Soli hanya bisa menghela
__ADS_1
napas, sudah terbiasa akan sikap mereka. Tak ada yang menanggapi Meena dengan
serius. Mereka memasuki hutan bersama. Sambil berhati-hati pada sekeliling.
Awalnya keadaan terasa
tenang, tapi lama kelamaan ketenangan itu membuat mereka merasa tegang.
Masalahnya, hutan itu terlalu mati. Tak ada suara serangga atau burung. Hanya
ada suara dedaunan yang tertiup angin.
Kyra yang lebih dulu
menyadari keanehan tersebut. Ia menahan tangan Bara, mengisyaratkan agar
pemimpin regu mereka mengecek keadaan. Bara mengangguk, mengecek sekeliling dan
menemukan adanya tanda-tanda keberadaan bangsa Treant di dalam hutan tersebut.
“Treant, tak salah lagi,”
jelas Bara.
“Apa mereka musuh?”
“Tidak tahu.”
Tak pernah ada yang tahu
keinginan bangsa tersebut. Mereka sudah ada sejak berabad-abad lalu. Namun,
kemunculan mereka bisa dihitung dengan jari. Selain para Treant suka
bersembunyi, mereka juga menjaga jarak dengan bangsa lain.
“Ayo tanyakan pada
mereka,” usul Meena.
“Mungkin sebaiknya kita
mengabaikan mereka saja.” Soli tidak setuju. Hanya kebetulan mereka bertemu di
satu tempat, bukan berarti mereka harus berkomunikasi dengan pohon berjalan
tersebut.
“Kupikir kita tak bisa
mengabaikan mereka. Jika memang mereka tidak peduli pada kita, mereka tak akan
mengikuti kita.” Memang benar mereka belum memunculkan diri secara terbuka,
tetapi hanya dengan mengikuti mereka saja, sudah membuktikan adanya niat
tertentu.
Baru saja dibicarakan,
Bara telah ditangkap oleh salah satu dari bangsa pohon tersebut. Meena mencoba
akar pohon tersebut.
“Bara kemarikan tanganmu!”
jerit Meena.
“Cepat kejar,” sambung
Kanya.
Sedangkan Rhea dan Soli
telah berlari mengejar lebih dulu, meninggalkan ketiga gadis pengantin yang
lambat bereaksi. Setelah itu, Kanya dan Meena menyusul. Hanya Kyra yang masih
berdiri di tempatnya semula. Ia tak bergerak karena mendengar suara yang
mencoba menjangkaunya.
“Semuanya ini adalah
salahnya sendiri, jangan ikut campur.” Itulah yang Kyra dengar dari belakangnya,
suara lembut nan berat dipenuhi oleh wibawa.
“Siapa yang kamu maksudkan?”
Kyra membalas, bertanya siapa yang dibilang memiliki salah pada bangsa Treant.
Apa mungkin itu Bara, tapi kapan ia membuat mereka marah?
“Elf Salju tidak membawa
hal baik, gadis kecil. Sebaiknya kamu dan teman-temanmu menjauhinya.” Kyra
tidak merasakan niat buruk dari saran sang Treant. Dia hanya bingung, kenapa
Bara yang sebaik itu bisa dianggap sebagai makhluk jahat.
“Kamu pasti salah, Tuan
Treant. Bara adalah orang yang baik, dia juga baru kembali ke tanah ini setelah
meninggalkannya selama ratusan tahun. Memangnya apa alasan Tuan Treant hingga
berkata seperti itu padanya?”
“Pergilah arah ke timur.
Lihatlah sendiri apa yang dilakukan oleh Elf Salju dan para Undead.”
Kyra baru saja ingin
bertanya apa yang dimaksud oleh sang Treant, tapi si asal suara telah
__ADS_1
menghilang dari jarak jangkauannya. Gadis api ditinggalkan dengan sejuta tanda
tanya dalam benaknya. Ia yakin, bila Bara dan Kanya berkata bahwa satu-satunya
Elf Salju yang tersisa hanyalah Bara.
Lalu Elf Salju mana lagi
yang disebutkan oleh sang Treant. Dari cara berbicaranya, orang itu telah
berurusan dengan Undead sebelum mereka datang ke hutan ini. Jangan-jangan
sebenarnya ada lebih dari satu Elf Salju. Pokoknya Kyra harus memeriksanya
lebih dulu.
Dengan begitu, Kyra
mengikuti petunjuk arah sang Treant. Ia masuk ke dalam hutan sebelah timur.
Semakin dalam ia masuk, semakin kecil juga tanda-tanda kehidupan di sekitarnya.
Bukan seperti tempat yang
dihuni oleh Treant, tetapi lebih seperti tempat yang dipenuhi oleh terlalu
banyak aura buruk hingga daun-daun berguguran, batang pohon mengering dan akar
pohon membusuk. Jalannya pun tidak rata. Bertanjak dipenuhi oleh air dan
lumpur. Jenis lumpur yang pekat dan mengeluarkan bau busuk seperti tumpukan
daging yang dibiarkan di luar ruangan selama berhari-hari lamanya.
“Tempat macam apa ini?”
tanya Kyra pada dirinya sendiri.
Meskipun Kyra merasa tak
nyaman, ia terus melangkah maju ke depan. Dan yang dia temukan di akhir
petualangan singkatnya merupakan sebuah sarang. Atau lebih tempat adalah sebuah
perkemahan prajurit yang dibuat seadanya.
Di sekeliling tempat itu
di penuhi banyak kerangka berbentuk binatang yang dijadikan tunggangan, ratusan
Undead yang mengenakan baju zirah dan lima orang Dukun yang memanggil dan
mengendalikan puluhan iblis.
Lalu yang paling menarik
perhatian Kyra adalah seorang sosok cantik menawan yang berdiri berdampingan
dengan makhluk-makhluk mengerikan tersebut. Wanita itu mengenakan mantel
berbulu putih. Wajahnya kecil dan cantik dengan telinga runcing dan bibir yang
indah. Sosok yang Kyra kenali sebagai bangsa Elf Salju.
“Bara salah, sisa bangsanya
masih ada.”
Hanya saja, Kyra tak kenapa
gadis Elf itu berada bersama dengan Undead yang telah meratakan kerajaan dan
tanah kelahirannya. Lalu yang lebih membuatnya penasaran lagi adalah
makhluk-makhluk itu seperti sangat sibuk membangun sebuah altar.
Apa mungkin pembangunan
altar tersebutlah yang membuat Treant merasa terganggu dan memutuskan untuk
memunculkan sosok mereka. Jika memang benar, maka altar tersebut mungkin saja
merupakan sesuatu yang buruk.
Aku
harus segera berkumpul kembali dengan teman-teman dan barulah setelah itu kami
pergi mengecek mereka, pikir Kyra.
“Arghhh!” Namun sebelum
Kyra meninggalkan tempat tersebut, akar pohon yang menjerat Bara telah
menariknya hingga ke tempat itu. Lebih tepatnya, Bara dilemparkan pada kumpulan
Undead tersebut.
“Kami kembalikan temanmu.
Jangan sampai kami melihat orang-orangmu memasuki hutan kami lagi.” Tepat
ketika Bara mendarat dengan buruk, suatu suara kembali terdengar menggema di
sekitar mereka.
Perhatian gadis Elf
tersebut segera teralihkan pada Bara. Wajahnya terlihat kaget, lalu berubah
menjadi senyuman misterius. Di hadapannya, Bara juga menatapnya dengan penuh
arti. Seakan mereka memiliki masa lalu bersama.
“Kukira siapa yang membuat
monster pohon itu marah. Ternyata Yang Mulia Bara,” ujarnya kemudian.
__ADS_1
Bara mengepalkan
tangannya, menatap gadis itu dengan tajam. Dia memanggilnya, “Anata.”