Phoenix Bride

Phoenix Bride
Episode 39


__ADS_3

Begitu telah mendapatkan


token dari Alexi, Kyra dan teman-temannya segera memasuki kuil di mana para


Centaur menjaga lingkaran sihir teleportasi yang ingin mereka gunakan. Penjaga


kuil tak mempertanyakan apa pun karena Kyra membawa token yang merupakan surat


izin keluar dan masuk Kerajaan Draco.


Sang Centaur mengirimkan


mereka dengan cara melintasi dua lingkaran sihir teleportasi. Pemindahan


berhasil, membawa mereka pada kuil yang berada di luar perbatasan. Kuil


tersebut sudah hampir roboh dan tidak dijaga oleh siapa pun, tapi setidaknya


masih bisa berfungsi.


Kyra melebarkan pandangan


matanya mencoba mencari tanda-tanda kehidupan di sekeliling mereka. Dan yang ia


temukan hanya luasnya hamparan rumput dan sisa reruntuhan kuil.


“Di mana orang-orang?”


tanya Kyra.


“Tidak ada yang hidup di


sini. Sepanjang jalan pun, hanya ada monster dan Undead,” jawab Bara.


Sudah ratusan tahun


berlalu sejak kekacauan terjadi di seluruh daratan tiga benua. Adapun makhluk


hidup yang selamat dari peperangan, mereka pastilah hidup dalam persembunyian.


Tak ada yang berani membangun kota di tempat terbuka. Apalagi tetap tinggal di


tempat yang telah diruntuhkan.


“Ternyata seburuk ini


keadaan di luar sini.” Meena telah tahu bila tak ada hal bagus yang bisa ia


temukan dalam perjalanan ini, tapi ia tak menyangka bila keadaan lebih buruk


dari yang ia dengar.


Selain Bara dan Kanya,


keempat orang lainnya tak pernah meninggalkan tanah kelahiran mereka. Makanya


keadaan seperti ini tidak membuat mereka merasa nyaman. Terlepas dari tenangnya


keadaan sekitar, ada aura berbahaya yang bisa mereka rasakan dari seluruh


penjuru arah.


“Kalian pasti gila, ingin


melewati jalan seperti ini sampai ke Aurora Sea.” Rhea mendelik, waspada pada


sekelilingnya.


“Ini masih termasuk aman.


Justru wilayah perairan lebih berbahaya.”


“Benar kata Kanya,


sebaiknya kita segera bergerak. Hutan itu terlihat aman.”


Bara tak ingin


berlama-lama di kuil tersebut. Dia merasa lebih aman setelah mereka memasuki


hutan. Setidaknya gelapnya tanah yang tertutupi oleh daun dan batang pohon


membuat apa pun – predator lokal sulit menemukan mereka.


“Baiklah, kau di depan,


Bara.” Soli memilih berjalan paling belakang agar mudah mengawasi Meena dan


Kyra. Dia curiga mereka akan tersesat bila ia mengalihkan pandangan sejenak


saja.


“Tak masalah. Rhea, ke


sini.”


“Jangan memerintahku, aku


tak suka mengasuh anak-anak.”


“Yah, mengurus anak kecil


itu menyusahkan,” ujar Kanya, menimpali.


Kyra tertawa canggung,


sadar bila yang disinggung adalah dia dan Meena.


“Siapa yang kalian sebut


anak-anak!” Meena sudah pasti protes. Pipinya mengembung tak senang. Kakinya


juga tak bisa diam. Jalan sambil dihentak-hentakkan hingga semakin terlihat


seperti bocah menyusahkan.


Soli hanya bisa menghela

__ADS_1


napas, sudah terbiasa akan sikap mereka. Tak ada yang menanggapi Meena dengan


serius. Mereka memasuki hutan bersama. Sambil berhati-hati pada sekeliling.


Awalnya keadaan terasa


tenang, tapi lama kelamaan ketenangan itu membuat mereka merasa tegang.


Masalahnya, hutan itu terlalu mati. Tak ada suara serangga atau burung. Hanya


ada suara dedaunan yang tertiup angin.


Kyra yang lebih dulu


menyadari keanehan tersebut. Ia menahan tangan Bara, mengisyaratkan agar


pemimpin regu mereka mengecek keadaan. Bara mengangguk, mengecek sekeliling dan


menemukan adanya tanda-tanda keberadaan bangsa Treant di dalam hutan tersebut.


“Treant, tak salah lagi,”


jelas Bara.


“Apa mereka musuh?”


“Tidak tahu.”


Tak pernah ada yang tahu


keinginan bangsa tersebut. Mereka sudah ada sejak berabad-abad lalu. Namun,


kemunculan mereka bisa dihitung dengan jari. Selain para Treant suka


bersembunyi, mereka juga menjaga jarak dengan bangsa lain.


“Ayo tanyakan pada


mereka,” usul Meena.


“Mungkin sebaiknya kita


mengabaikan mereka saja.” Soli tidak setuju. Hanya kebetulan mereka bertemu di


satu tempat, bukan berarti mereka harus berkomunikasi dengan pohon berjalan


tersebut.


“Kupikir kita tak bisa


mengabaikan mereka. Jika memang mereka tidak peduli pada kita, mereka tak akan


mengikuti kita.” Memang benar mereka belum memunculkan diri secara terbuka,


tetapi hanya dengan mengikuti mereka saja, sudah membuktikan adanya niat


tertentu.


Baru saja dibicarakan,


Bara telah ditangkap oleh salah satu dari bangsa pohon tersebut. Meena mencoba


akar pohon tersebut.


“Bara kemarikan tanganmu!”


jerit Meena.


“Cepat kejar,” sambung


Kanya.


Sedangkan Rhea dan Soli


telah berlari mengejar lebih dulu, meninggalkan ketiga gadis pengantin yang


lambat bereaksi. Setelah itu, Kanya dan Meena menyusul. Hanya Kyra yang masih


berdiri di tempatnya semula. Ia tak bergerak karena mendengar suara yang


mencoba menjangkaunya.


“Semuanya ini adalah


salahnya sendiri, jangan ikut campur.” Itulah yang Kyra dengar dari belakangnya,


suara lembut nan berat dipenuhi oleh wibawa.


“Siapa yang kamu maksudkan?”


Kyra membalas, bertanya siapa yang dibilang memiliki salah pada bangsa Treant.


Apa mungkin itu Bara, tapi kapan ia membuat mereka marah?


“Elf Salju tidak membawa


hal baik, gadis kecil. Sebaiknya kamu dan teman-temanmu menjauhinya.” Kyra


tidak merasakan niat buruk dari saran sang Treant. Dia hanya bingung, kenapa


Bara yang sebaik itu bisa dianggap sebagai makhluk jahat.


“Kamu pasti salah, Tuan


Treant. Bara adalah orang yang baik, dia juga baru kembali ke tanah ini setelah


meninggalkannya selama ratusan tahun. Memangnya apa alasan Tuan Treant hingga


berkata seperti itu padanya?”


“Pergilah arah ke timur.


Lihatlah sendiri apa yang dilakukan oleh Elf Salju dan para Undead.”


Kyra baru saja ingin


bertanya apa yang dimaksud oleh sang Treant, tapi si asal suara telah

__ADS_1


menghilang dari jarak jangkauannya. Gadis api ditinggalkan dengan sejuta tanda


tanya dalam benaknya. Ia yakin, bila Bara dan Kanya berkata bahwa satu-satunya


Elf Salju yang tersisa hanyalah Bara.


Lalu Elf Salju mana lagi


yang disebutkan oleh sang Treant. Dari cara berbicaranya, orang itu telah


berurusan dengan Undead sebelum mereka datang ke hutan ini. Jangan-jangan


sebenarnya ada lebih dari satu Elf Salju. Pokoknya Kyra harus memeriksanya


lebih dulu.


Dengan begitu, Kyra


mengikuti petunjuk arah sang Treant. Ia masuk ke dalam hutan sebelah timur.


Semakin dalam ia masuk, semakin kecil juga tanda-tanda kehidupan di sekitarnya.


Bukan seperti tempat yang


dihuni oleh Treant, tetapi lebih seperti tempat yang dipenuhi oleh terlalu


banyak aura buruk hingga daun-daun berguguran, batang pohon mengering dan akar


pohon membusuk. Jalannya pun tidak rata. Bertanjak dipenuhi oleh air dan


lumpur. Jenis lumpur yang pekat dan mengeluarkan bau busuk seperti tumpukan


daging yang dibiarkan di luar ruangan selama berhari-hari lamanya.


“Tempat macam apa ini?”


tanya Kyra pada dirinya sendiri.


Meskipun Kyra merasa tak


nyaman, ia terus melangkah maju ke depan. Dan yang dia temukan di akhir


petualangan singkatnya merupakan sebuah sarang. Atau lebih tempat adalah sebuah


perkemahan prajurit yang dibuat seadanya.


Di sekeliling tempat itu


di penuhi banyak kerangka berbentuk binatang yang dijadikan tunggangan, ratusan


Undead yang mengenakan baju zirah dan lima orang Dukun yang memanggil dan


mengendalikan puluhan iblis.


Lalu yang paling menarik


perhatian Kyra adalah seorang sosok cantik menawan yang berdiri berdampingan


dengan makhluk-makhluk mengerikan tersebut. Wanita itu mengenakan mantel


berbulu putih. Wajahnya kecil dan cantik dengan telinga runcing dan bibir yang


indah. Sosok yang Kyra kenali sebagai bangsa Elf Salju.


“Bara salah, sisa bangsanya


masih ada.”


Hanya saja, Kyra tak kenapa


gadis Elf itu berada bersama dengan Undead yang telah meratakan kerajaan dan


tanah kelahirannya. Lalu yang lebih membuatnya penasaran lagi adalah


makhluk-makhluk itu seperti sangat sibuk membangun sebuah altar.


Apa mungkin pembangunan


altar tersebutlah yang membuat Treant merasa terganggu dan memutuskan untuk


memunculkan sosok mereka. Jika memang benar, maka altar tersebut mungkin saja


merupakan sesuatu yang buruk.


Aku


harus segera berkumpul kembali dengan teman-teman dan barulah setelah itu kami


pergi mengecek mereka, pikir Kyra.


“Arghhh!” Namun sebelum


Kyra meninggalkan tempat tersebut, akar pohon yang menjerat Bara telah


menariknya hingga ke tempat itu. Lebih tepatnya, Bara dilemparkan pada kumpulan


Undead tersebut.


“Kami kembalikan temanmu.


Jangan sampai kami melihat orang-orangmu memasuki hutan kami lagi.” Tepat


ketika Bara mendarat dengan buruk, suatu suara kembali terdengar menggema di


sekitar mereka.


Perhatian gadis Elf


tersebut segera teralihkan pada Bara. Wajahnya terlihat kaget, lalu berubah


menjadi senyuman misterius. Di hadapannya, Bara juga menatapnya dengan penuh


arti. Seakan mereka memiliki masa lalu bersama.


“Kukira siapa yang membuat


monster pohon itu marah. Ternyata Yang Mulia Bara,” ujarnya kemudian.

__ADS_1


Bara mengepalkan


tangannya, menatap gadis itu dengan tajam. Dia memanggilnya, “Anata.”


__ADS_2