Phoenix Bride

Phoenix Bride
Episode 8


__ADS_3

Waktu janjian sudah tiba.


Meena yang lebih dulu sampai di Gedung Serikat Petualang. Gadis bertubuh mungil


itu mondar-mandir di sekitar Papan Informasi. Sebelum Bara datang dan memilih


misi tak masuk akal, dia berniat memilih lebih dulu.


“Hem ... yang mana ya?


Misi tingkat kesulitan tinggi yang cocok untuk melatih Kyra.” Meena bingung.


Selain harus memilih lawan yang lemah pada sihir api, akan lebih baik jika rute


yang dilalui juga sedikit sulit agar Bara tidak mengamuk.


“Belum memutuskan? Ada


serangan bandit di perkebunan anggur. Kalian bisa mengambil yang itu.” Mary


merekomendasikan.


“Terlalu mudah, Bara pasti


marah-marah.”


“Rata-rata anggota bandit


itu berada di Rank B ke atas, masih anggap mudah?” Rank B ke atas cocok untuk


melatih dia dan Kyra, tapi Bara tetap tak akan puas.


“Ya sudahlah. Aku ambil yang


itu saja!” Biar saja Bara marah-marah, prioritas mereka sekarang adalah


memperkuat Kyra dulu. Kalau mau unjuk gigi mengejar musuh kuat, nanti saja.


Setidaknya menunggu Kyra naik ke Rank A.


“Bara pernah mengalahkan


bandit yang satu ini. Dia pasti marah. Sebaiknya hentikan, Meena.” Baru saja


Meena ingin menarik selebaran misi, Martin menekannya kembali ke papan.


“Jangan mengagetkan dong!”


“Haha! Pertahananmu masih


lemah kalau begini saja kaget.”


“Bodoh! Bodoh! Aku, kan


tak sedang mengambil misi. Buat apa waspada segala!” Saking seriusnya Meena


berpikir, dia sampai tak sadar ada yang mendekat. Gadis kecil itu melompat


kaget. Berputar tiba-tiba dan kemudian memukuli perut Martin.


“Paman Martin mau ambil


misi juga? Sendirian? Rekan-rekanmu ke mana?” Sudah puas marah, barulah ia


bertanya dengan serius. Seingat Meena Martin punya seorang rekan kelas Pembunuh


dan seorang lagi kelas Dukun veteran.


“Meena yang manis, sudah


kukatakan berkali-kali umurku hanya lima tahun di atasmu. Mau sampai kapan kau


memanggilku paman?” Bukan hanya Meena, bahkan anggota muda mereka semua salah


paham mengira Martin sudah cukup berumur karena penampilannya yang mengerikan.


Zirah yang kokoh membalut


tubuh setinggi 240 cm. Dilengkapi dengan sebuah pedang seberat 10 kg dan sebuah


palu seberat 18 kg sebagai senjata utama. Dan dari semua itu, dia begitu kuat


biarpun tidak bisa menggunakan sihir.


“Ehehe, maaf. Badanmu


penuh otot dan wajahmu terlihat tua.” Kalau sudah dimarahi, Meena tertawa saja


dan biasanya akan langsung dimaafkan.


Gadis satu ini memang agak


mengesalkan, tapi bekerja dengan Meena mendapatkan keuntungan tersendiri. Kelas


Dukun memang banyak yang berada tingkat lebih tinggi dari Meena, tapi


kebanyakan dari mereka tidak punya stamina dan keberanian sebesar nona satu


ini.


“Hei, Meena. Mau bekerja


sama? Rekan-rekanku baru saja pensiun. Aku ingin mengambil misi ini, tapi


mustahil kuselesaikan sendirian. Bantuan Bara dan dukunganmu akan sangat bernilai.


Sebagai gantinya akan kubantu kalian mengajari anak baru itu.”


Misi yang Martin inginkan


adalah memburu Kera Salju di gunung belakang air terjun. Lokasinya berada di


sebelah utara gunung api. Tingkat kesulitan tinggi yang sesuai untuk Petualang


Rank A ke atas.


Tawaran mengajari Kyra


cukup menggiurkan. Martin sudah begitu berpengalaman. Dia bisa bertahan hidup lama hanya dengan mengandalkan bantuan baju zirah, senjata dan otot. Memang kelasnya


adalah Prajurit, tak akan bisa mengajarkan sihir. Namun, dia bisa mengajarkan


cara menilai medan, membaca jejak dan bertahan melawan musuh dengan tingkatan


lebih tinggi.


Regu mereka hanya terdiri


dari penyerang tengah dan pendukung. Posisi Martin yang berada di garis depan


akan memberikan mereka keuntungan lebih. Rank-nya berada di Rank A hampir


masuk Rank S. Kalau bukan karena Martin tidak bisa menggunakan sihir, Bara mungkin


mau merekrutnya.


“Oke! Akan kita coba!”


Kalau setelah misi ini selesai dan Bara merasa puas, Meena akan memaksanya membiarkan


Martin bergabung. Regu yang terbaik adalah regu yang memiliki anggota dari


kelima kelas sekaligus.


“Bagus! Aku suka


semangatmu!” Kedua orang itu berjabat tangan. Mencabut selebaran dan langsung


mendaftarkannya dengan nama empat orang.


Mary tertawa, tetapi tetap


mendaftarkan mereka karena rata-rata tingkatan anggota mereka memang sesuai.


Rank B, A, A dan SS dihitung rata-ratanya sama dengan Rank A. Jadi tak masalah


dengan persyaratan.

__ADS_1


Hanya saja, misi ini tidak


semudah kelihatannya. Kera Salju hidup berkelompok, memiliki tingkat kecerdasan


menengah. Medan di gunung es mungkin sanggup dilewati oleh Bara dan Meena, tapi


bagaimana dengan Martin dan Kyra?


“Kalian sudah terdaftar,


tapi kusarankan untuk menambah satu anggota lagi dengan Rank A ke atas kelas


Pembunuh. Lawan kalian banyak, seseorang dengan kecepatan tinggi akan sangat


berguna.” Mary memberikan data lebih rinci tentang bayaran dan informasi


mengenai musuh mereka.


“Ah! Aku lupa! Kekuatan


Kyra melemah di tempat dingin. Kera Salju juga gesit dan agresif! Lawan dengan


tipe tanah sangat mempengaruhi hasil pertarungan!” Beginilah kalau Meena kebanyakan


berpikir, dikacaukan sedikit saja lupa akan tujuan awal.


“Tak apa-apa! Semakin sulit


tantangannya, semakin menyenangkan! Haha!” Ia bahkan lupa, kalau Martin setipe


Bara yang senang mencari lawan kuat tanpa memikirkan hal lainnya. Mau mengambil


misi mudah, malah dapat yang sulit. Mana ada tipe tanah dalam regu mereka.


“Dasar maniak berlatih.”


Meena meninggalkan Martin, pergi mengecek Papan Kerja. Di sana terdapat data


lengkap siapa saya yang sedang tidak mengambil misi. Jika ia beruntung, mungkin


ada seorang kelas Pembunuh dengan Rank A bertipe tanah yang menganggur.


“Kenapa Serikat Petualang


sebesar ini hanya punya lima orang kelas Pembunuh?” Semuanya sudah punya regu


dan tengah mengambil misi. Masa mereka sungguh harus berangkat dengan anggota


seperti ini?


“Kamu tidak tahu? Sejak


puluhan tahun lalu, Raja mengumpulkan semua orang dengan kelas Pembunuh untuk


dijadikan pengawal pribadi. Jadi kebanyakan yang punya bakat bekerja di istana.”


Masa? Lalu apa gunanya para Ksatria? Selama ini Meena pikir mereka yang


bertugas mengawal Raja.


“Pengawal pribadi Raja,


Letnan Alexi, kan?” Meena yakin, masih orang itu yang menemani Nakula ke


mana-mana.


“Bukan. Pekerjaan utama


Ksatria adalah berperang. Mereka sering bepergian, menjaga wilayah luar dari


serangan Undead.”


Meena kembali berpikir dengan


serius. Dia terlalu kesal pada Nakula hingga tak mau repot mencari tahu soal


keadaan istana dan sekarang itu membuatnya buta akan informasi. Ini tak bagus.


Bila dia ingin lari dari takdirnya sebagai Ratu Mystisia, dia harus tahu jelas


seberapa besar kekuatan Nakula.


lemah, mereka mengurus politik dan rakyat. Ksatria kuat, kebanyakan dari mereka


berada di kelas Prajurit. Sisanya pengawal pribadi yang terdiri dari gabungan kelas


Pembunuh. Belum lagi selir-selirnya kebanyakan dari spesies berumur ratusan


tahun.


Rasanya memang nyaris


mustahil melawan kekuatan istana. Meena pesimis sekali. Dia hanya bisa berharap


bila kebangkitan yang Nakula nantikan bisa dia gunakan untuk membalikkan


keadaan.


Meena mondar-mandir lagi.


Sambil lompat-lompat tiap kali isi pikirannya membuatnya kesal. Tingkah itu


seperti hiburan tersendiri bagi orang-orang yang makan di sana.


Bara yang baru saja datang  memijat keningnya. Tingkah bodoh itu,


tak bisa dipercaya mampu mencuri hati Raja. “Hei, cebol! Jangan bertingkah


aneh. Kau mempermalukan reguku saja.” Dia menghampiri Meena, memukul kepala


gadis itu dengan punggung tangan. Meena tersadar. Dia segera menyusul Bara yang


telah melewatinya menuju ke Papan Informasi. Seperti biasa, mulai menindas


Bara.


“Elf tua bodoh! Jangan


pukul-pukul! Aku sudah ambil misi!”


Tendangan-tendangan brutal


di kakinya sama sekali tidak Bara pedulikan. Baginya semua itu hanya terasa seperti


digigit nyamuk. Masalahnya, misi pilihan Meena yang membuatnya terganggu.


“Jadi misi bodoh apa yang


kau ambil, cebol?” Bara berbalik, menekan kepala Meena ke bawah. Tatapannya


begitu emosi, terpengaruh stres memikirkan bagaimana caranya menjaga si cebol


menyusahkan satu ini.


“Ini misi kesukaanmu!”


teriak Meena, penuh percaya diri.


“Ya, tingkat kesulitan


tinggi dengan jumlah musuh banyak! Haha!” Martin menimpali, menunjukkan selebaran


yang telah mereka ambil.


Mata Bara melotot. Bukan


hanya tugas *****, tapi juga merugikan dan menambahkan anggota tanpa konsultasi


lebih dulu.


“Cebol bodoh! Kesukaanku apanya!


Kau tahu apa soal Kera Salju! Mereka semuanya jantan, senang menculik gadis


manusia untuk dijadikan istri! Tak ada satu pun perempuan yang mau ambil misi


ini!” Dari semua kecerobohan Meena, kenapa malah mengambil yang sekacau ini?

__ADS_1


Mau taruh di mana mukanya bila sampai kedua gadis itu diculik sekumpulan Kera


mesum.


“I-itu ... SALAH MARTIN! DIA


YANG AMBIL!” Tak mau disalahkan, Meena lemparkan pada Martin.


“PENGKHIANAT! TADI KITA


SEPAKAT BERSAMA!”


“KAU TAK BILANG KERANYA


MESUM! AKU MANA TAHU!”


“AKU JUGA TAK TAHU!”


“Idiot.” Bara mendengus,


meninggalkan mereka bertengkar di sana. Dia menemui Mary untuk menukar misi.


“Mary, bisa – ”


“Tidak bisa. Peraturan


tetap peraturan. Kalian bisa menambah atau menukar anggota, tapi membatalkan


misi dilarang. Apalagi misi yang jarang peminatnya begini.” Sayang sekali, Mary


bersifat sadis dibalik senyuman ramahnya. Dia tak akan memberikan kemudahan


pada misi yang masih sanggup diselesaikan.


“Orang idiot mana lagi


yang mau ambil misi ini selain dua idiot di sana itu.” Bara menjatuhkan kepala


ke atas meja Mary. Bantuan yang dijanjikan Nakula belum datang. Bagaimana bisa


dia fokus menjaga dua orang gadis ceroboh?


“Eh? Berburu Kera Salju?


Aku belum pernah lihat! Ayo tangkap satu! Aku mau menungganginya! Kudengar


mereka besar sekali!”


“Orang idiotnya anggota


barumu.” Mary tertawa.


Tingkah Kyra lucu sekali.


Baru datang sudah bersemangat tak jelas dengan Martin. Teriak-teriak seakan


misi itu menyenangkan tanpa memikirkan sama sekali dampak lokasi dengan


kemampuan tubuhnya.


“Beri aku anggota


tambahan.” Bara putus asa. Baru kali ini merasa terpuruk mendapatkan misi yang


tergolong mudah untuknya.


“Bagaimana denganku?” Di


saat itulah, seseorang berpindah di sampingnya. Begitu cepat, tanpa suara dan


tak disadari oleh orang lain kecuali dia dan Mary. Orang itu baru pertama


kali dia lihat, tapi bisa dipastikan kelas dan tipenya sesuai dengan keinginan


mereka. Pria yang wajahnya tertutup oleh topeng itu menatap Bara begitu


seriusnya. Sebuah lencana dimasukkan diam-diam ke dalam saku Bara.


“Aku ingin mendaftar.


Namaku Soli.”


“Baiklah, akan kuukur


kemampuanmu dulu.”


Karena pria bernama Soli


itu akan mendaftar, Bara diusir oleh Mary. Dia memanfaatkan itu untuk mencari


tempat sepi. Lencana yang diberikan padanya pun ia keluarkan. Seperti


dugaannya. Lambang pengawal pribadi Raja. Bantuannya yang Nakula janjikan.


Bara benci anggota regunya


ditentukan oleh orang lain, tapi demi Meena dan Kyra dia terpaksa menerima pria


itu. Begitu memastikan Soli selesai mendaftar, dia segera kembali ke meja Mary.


“Bergabunglah dengan


reguku. Kita akan berangkat siang ini juga.” Lencana itu dia lemparkan kembali


ke pada Soli. Saking cepatnya gerakan mereka saat melempar dan menangkap, tak


seorang pun tahu benda apa yang Bara lemparkan.


“Baik.” Hanya satu kata


sebagai jawaban. Setelahnya, mereka berjalan masing-masing tanpa mengucapkan


apa pun.


Ketiga anggota lainnya


terpaku, berhenti ribut melihat kejengkelan di wajah sinis Bara. Sang Elf terlihat


marah harus menerima orang asing, tapi dia sendiri yang merekrut.


“Apa Bara dendam sama


kita?”


“Bukannya dia putus asa


sampai membuang gengsinya asal rekrut orang?”


“Tapi orang itu Rank S,


kelas Pembunuh bertipe tanah.”


“Kalian bicara apa sih?”’


“Misi ini dibenci Bara.


Peka sedikit Kyra, nanti jangan membuatnya emosi.”


Mereka mulai diskusi


sendiri, menebak-nebak alasan tindakan tak biasa Bara. Meena yang memulai,


diikuti oleh Martin. Mereka bukan hanya bergosip, tetapi juga mengisi pikiran


polos Kyra dengan hal-hal aneh. Suaranya keras, bicaranya di tengah ruangan dan


pastinya terdengar oleh Bara.


“KALIAN CEPAT JALAN! INI


MISI PILIHAN KALIAN!” Mengamuklah Bara, memerintah mereka segera menyusulnya


dan Soli.


“Baik, Ketua! Jangan


marah-marah.” Kali ini saja mereka panggil Bara ketua, besok-besok tak akan

__ADS_1


lagi.


__ADS_2