
Karena tujuan mereka cukup
jauh, Bara memutuskan untuk menyewa kereta kuda hingga setengah jalan. Ketiga
rekannya bersenang-senang di dalam kereta, asyik bergosip tak jelas. Dia
sendiri berada di luar. Duduk bersebelahan dengan pemilik kereta.
Jalur perjalanan kali ini
aman. Bara tidak perlu merasa waspada. Setidaknya hingga melewati perkebunan
anggur sampai kaki gunung batu. Soli berada di atas kereta, duduk sendirian
tanpa mengucapkan apa pun dari tadi. Mencoba berteman pun tidak.
“Mau sampai kapan kau di
sana. Sana masuk, dekati mereka.” Bara menoleh, menatap sinis pada pria itu.
Wajah yang sengaja disembunyikan membuatnya kesal, tak peduli sekalipun dia
tahu apa gunanya topeng itu.
“Kau bisa mengabaikanku.
Aku datang bukan untuk berteman.”
“Cih!” Bara berdecak
kesal. Orang yang terlalu serius memang tak cocok dengannya. Penuh misteri,
menanggung beban sendiri seperti memantulkan kepribadiannya sendiri.
Kyra mengeluarkan
kepalanya dari jendela, mengintip sedikit setelah mendengar sedikit obrolan
Bara dan Soli. Dia masuk kembali setelah melihat kedua orang itu kembali
diam-diaman, begitu serius melihat jalan.
“Memangnya jalur ini
berbahaya ya? Kenapa Bara serius sekali?” Kyra tak mengerti. Sepanjang jalan
dia berpapasan dengan banyak kereta pengangkut barang. Pemandangannya pun
begitu indah, bukankah itu artinya jalan di sini aman untuk dilewati.
“Nggak kok. Ini jalur
perdagangan resmi. Di bawah perlindungan istana. Biarkan saja Elf tua itu,
palingan dia masih dendam karena Martin mengambil misi ini.”
“Yang menyetujui, kan
kamu, Meena.”
“Tapi yang memilih kamu.”
“Sudah dong. Lihat keluar,
ada jembatan besar.”
Meena membuka pintu
kereta. Ia berdiri di depan pintu yang terbuka, hanya perpegangan pada bingkai
pintu. Dia begitu senang. Indahnya ukiran bunga pada jembatan kota Filia memang
tak ada tandingannya. Di seberang jembatan terdapat kincir angin yang
mengalirkan air dari sungai hingga ke perkebunan anggur di dekatnya.
“Lihat itu, Kyra. Kebunnya
sudah kelihatan, di belakang kincir angin.”
“Wow, kelihatannya enak.
Kita boleh mampir dulu?”
“Ini misi bebas, asalkan
Bara setuju tak masalah.” Martin sama sekali tidak tertarik dengan pemandangan
indah dan buah. Dia asyik memoles senjata, mengasahnya hingga setajam mungkin.
Kedua gadis itu saling tatap,
tersenyum penuh niat terselubung. Kemudian, mereka melompat turun dari kereta
kuda. Sayap Meena dikeluarkan, membawanya terbang ke sana bersama dengan Kyra.
“Percuma tanya Bara, tak
bakal diizikan! Kita main sebentar ya! Nanti menyusul!” teriak Meena seenaknya.
“Kalian kembali!” Martin
sampai terkejut dengan tingkah mereka, betapa kekanakan dan bebas. Dia
mengeluarkan setengah tubuhnya dari pintu, mengecek reaksi Bara di depan.
“Kita tak berhenti?”
Martin berkeringat dingin. Aura pembunuh Bara sudah kelihatan dari punggungnya.
Orangnya sendiri hanya duduk bersedekap masih menatap ke depan jalan.
“Tidak ada perubahan
rencana. Kita harus sampai ke gunung batu nanti malam. Jangan lupa, gunung es berada
di atas gunung batu. Kalau tidak mengejar waktu, perjalanan akan lebih
berbahaya esok hari.” Bara yang memegang pelana kuda, memastikan tak ada yang
menghentikan kereta mereka.
“Soli, seret dua gadis
kecil itu kembali.” Dia mengetes pengawal pribadi Raja, memberikan perintah
dengan tatapan mengancam.
“Menyeret terlalu kasar.
Sayap itu – ” Soli jadi serba salah. Dia diberitahukan oleh Raja untuk
melindungi Meena selayaknya menjaga seorang Ratu.
“Selama mereka menjadi rekanku.
Kedua gadis itu hanya anak manusia nakal. Perlakukan mereka seperti itu. Sana
pergi.” Namun, keinginan Bara bertentangan dengan keinginan Nakula. Dan orang
yang menjadi atasan sementaranya saat ini adalah Bara.
“Baik.” Soli segera
bergerak, melompat turun. Berlari ke arah perkebunan dengan kecepatan luar
biasa.
Martin sampai tak berkedip.
Dia terkagum. Ternyata kecepatan kelas Pembunuh di Rank A dan Rank S memiliki
perbedaan yang begitu besar. “Aku tahu dia anak baru, tapi memerintah seorang
dengan Rank S seperti itu agak keterlaluan, Bara.” Setelah mendengar sedikit
kata-kata Bara, Martin masih saja tidak mendapatkan gambaran mengenai alasan
dibalik perlakuan Bara pada Soli.
“Kau lupa? Aku berada di
Rank SS.”
“Haha, aku lupa.”
Bara berdecak kesal lagi,
membuat Martin masuk kembali ke dalam kereta. Dia sebenarnya tidak lupa. Karena
__ADS_1
hanya ada sekitar 100 orang dengan Rank SS di dunia ini. Memiliki satu di
dekatnya merupakan hal yang luar biasa.
***
Meena dan Kyra turun di
depan perkebunan. Mereka melihat-lihat sebuah pasar kios di depannya. Di sana
menjual semua produk olahan anggur hingga pakaian khas wilayah itu.
“Lihat ini, Meena. Gaunnya
cantik sekali!”
“Belilah, uang dari misi
kemarin masih adakan.”
“Tapi tak akan terpakai.”
“Pasti terpakai. Kadang kita
bisa masuk ke acara istana lho! Punya satu atau dua pakaian formal itu wajib.”
Mata Kyra berbinar-binar.
Dia selalu ingin melihat kemegahan istana, ingin tahu seperti apa pesta dansa
yang terkenal itu. “Kita bisa melihat pangeran juga? Ada tuan putri cantik?”
Kepalanya terisi oleh dongeng romantis, begitu penasaran akan sesuatu yang
tidak nyata.
“Kerajaan kita tak punya
pangeran dan tuan putri. Itu pengetahuan umum. Jangan sampai Bara mengetahui
kalau kau tak tahu.” Meena tersenyum sendu. Sayangnya itu mustahil terjadi.
Pesta kerajaan hanya dihadiri oleh Menteri, Ksatria, dan para bangsawan karena
tak ada satu pun anggota keluarga kerajaan yang pernah terlihat.
“Kalau kerajaan lain? Kita
bisa ambil misi dari luar?”
Akhirnya Kyra membeli
gaunnya, dengan beberapa tambahan asesoris. Mereka mengobrol sambil jalan,
mencari toko yang menjual barang-barang menarik lainnya.
“Mungkin ada.” Meena
berbohong.
Tidak ada kerajaan lain
lagi di Mystisia. Semuanya telah dijatuhkan oleh Undead. Sebagian lagi memilih
menyatu dengan kerajaan mereka agar mendapatkan perlindungan Raja Nakula.
Mereka bisa hidup nyaman
karena Raja mereka seorang Naga yang perkasa. Lapisan pelindung mengelilingi seluruh
wilayahnya bukan main-main, begitu kokoh tak tertembus oleh kekacauan di luar
sana.
Gadis naif seperti Kyra
lebih baik tidak tahu akan dunia seperti itu. Dia cukup menikmati kehidupan
seorang Petualang dari sisi manisnya saja.
“Meena, ada toko alat
sihir! Ayo masuk! Tas sihirku hanya muat diisi sedikit barang saja. Ayah bilang
kalau aku harus membeli tas baru di toko alat sihir.”
usang. Aku mau beli.”
“Maaf, tapi Ketua marah
sekali. Ikut aku kembali.” Baru saja mereka akan masuk, Soli telah menyusul.
Pria itu berhenti di depan mereka menghalangi pintu, mengingatkan akan
kemarahan Bara.
“Meena, gimana nih? Kalau
Soli sampai datang, mungkin sebentar lagi Bara akan sampai.” Kyra langsung
takut. Galaknya Bara tak berani dia lawan.
“Biarkan saja. Palingan
dia hanya duduk di kereta sambil marah-marah. Tahunya menyuruh anak baru.” Kalau
Meena jangan ditanya, makin dilarang semakin ingin cari perkara.
“Biarkan saja Bara. Ayo
belanja sama kami.” Soli panik tangannya ditarik oleh Meena. Bayangan akan
wajah murka bosnya muncul di dalam kepala.
“Akan kutemani, tapi
tolong lepaskan.”
“Gitu dong! Ayo cepat,
Kyra!”
“Iya!” Kyra berjalan masuk
di belakang Meena. Dia agak kasihan melihat Soli seperti ditindas oleh Bara dan
tak berkutik di depan Meena.
“Sikap Bara dan Meena
jangan diambil hati ya. Kita semua teman.” Soli mengangkat kepalanya. Senyuman
tulus Kyra menghangatkan hatinya. Pria itu ikut tersenyum, meskipun tersembunyi
di balik topengnya.
“Kyra sini! Tasnya
manis-manis!”
“Iya!”
Kedua gadis itu asyik
sendiri memilih tas. Ujung-ujungnya Soli jadi pajangan menunggu mereka. Tak
berani menyeret kembali, tapi juga tak tertarik berbelanja. Dia berpikir keras.
Mempertanyakan alasan kenapa Raja memerintahkan untuk menjaga dua orang padahal
Ratunya hanya Meena seorang.
“Soli, cepat. Kita masuk
ke kebun sekarang!” Puas berbelanja, mereka masih mau memetik buah. Tak heran
Bara begitu kesal. Bagaimana mereka bisa menyusul sebelum gelap jika kedua
gadis ini tak pernah puas bermain.
“Wah ... wah ... ternyata
ada gadis secantik ini di sini. Bagaimana kalau ikut kami saja?”
Belum juga masalah
kemarahan Bara teratasi, masalah lain muncul. Sekumpulan bandit datang
mengacau. Mengingatkan Meena pada misi yang ia lihat tadi pagi. Belum ada regu
__ADS_1
lain yang mengambil misi itu.
“Hanya kalau kalian bisa
mengalahkan kami!” Meena menantang.
“Soli, Kyra, maju!”
Lagaknya seakan dia bisa bertarung, kenyataannya hanya memerintah saja.
“Bukannya kita tak boleh
ribut dengan orang lokal?” Kyra bingung, masih belum sadar kalau kios-kios
mulai tutup dan orang-orang bersembunyi, berlarian melarikan diri dari
sekumpulan pengacau itu.
“Mereka tak masalah. Akan
kuselesaikan. Nona Kyra menunggu saja di belakang.” Soli melewati Kyra,
langsung menyerang.
“Meena, bagaimana nih?”
“Serang, Kyra! Anggap saja
ini latihan.”
Meena tahu Soli bisa
menghabisi mereka dengan mudah, tapi ini kesempatan untuk melihat perkembangan
pelatihan Kyra dengan Bara. Kyra patuh, menghadapi dua orang yang mendekatinya.
Gerakan Kyra jauh lebih
halus dari sebelumnya. Kobaran api yang melapisi tubuhnya sudah lebih terkontrol,
mampu digunakan untuk membentuk sebuah cambuk dan tameng. Bahkan memperkuat
efek tinjuan Kyra sebanyak 25 %, tapi cara bertarung seperti ini bukan cara
seorang Penyihir.
Meena cemas, apa tidak
masalah membiarkan Kyra mengembangkan kemampuan sebagai penyerang garis depan.
Aliran mana Kyra begitu kuat, tapi tubuhnya tak sanggup menggunakan dengan
maksimal.
“Lihat ke mana kau! Berani
sekali bersantai-santai di depan kami!” Seseorang menyelinap ke belakang Meena,
mengacungkan pedangnya ke punggung gadis itu.
“Siapa bilang aku
bersantai.” Meena mengeluarkan sayapnya, mematakan pedang si penyerang dengan
kerasnya permukaan luar sisik Naga. Kemudian dia berbalik, menggunakan sayap
itu untuk memukul lawannya, melontarkan pria itu sejauh dua meter. Kalau hanya
ini Meena bisa. Manfaatkan sayapnya untuk bertahan, tapi hanya itu. Setelahnya
dia tak akan bisa apa-apa bila ada yang menyerangnya dari depan.
“Gadis kelelawar ini
berani sekali. Bunuh dia!”
“Sayap siapa yang kausebut
sayap kelelawar.”
Meena menutup matanya saat
tiga orang pria menyerangnya dengan agresif. Namun, sebelum serangan itu
mengenai Meena ... Soli telah berhasil mematahkan pertahanan lawan. Dia membunuh
mereka dalam sekejap, memutus pembulu darah utama ketiga pria itu semudah
memotong buah.
Semenit kemudian, semuanya
telah dia bantai dengan brutal. Keinginan Meena untuk memberi kesempatan pada Kyra
untuk berlatih, Soli abaikan. Musuh mereka telah berani menghina sayap sang
Raja. Tak ada ampun bagi mereka.
Meena dan Kyra terpaku.
Tadinya mereka pikir Soli orangnya pendiam dan baik hati. Sekarang pandangan
mereka berubah. Pria ini orang yang berbahaya.
“Kamu tidak perlu membunuh
mereka, cukup melukai dan menakuti mereka.” Kyra mengepalkan tangannya, menatap
tak suka pada perbuatan Soli.
“Dan membiarkan mereka kembali
lagi lain kali? Sampah seperti ini layak disingkirkan.” Tatapan Kyra tak ada
artinya. Soli tak gentar pada apa pun. Tugas adalah segalanya. Tak akan dia biarkan
rasa kasihan mengacaukan keberhasilan.
“Meena?” Kyra jadi merasa
terintimidasi, dia berpindah ke samping Meena mempertanyakan bagaimana cara
bersikap menghadapi keadaan seperti ini.
“Tak apa, Kyra. Kadang
membunuh dalam pertempuran itu tak bisa
dielaki. Tak perlu takut. Orang-orang ini hanya mendapatkan karma mereka.”
Sebenarnya Meena berpikiran sama dengan Kyra, tapi saat ini lebih baik mereka
tidak mencari masalah dengan Soli. Dia harus memastikan dulu, pria ini sungguh
bisa menjadi teman atau tidak.
“Mereka membunuh
bandit-bandit itu!”
“Kita selamat!”
Kyra tak sempat membalas
kata-kata Meena. Orang-orang yang tengah bersembunyi telah keluar. Mereka
terlihat senang, melampiaskan kemarahan pada bandit-bandit yang telah tewas.
Hal itu membuat Kyra mengerti bila lawan mereka memang bukan orang baik.
Akan tetapi, jauh di dalam
hatinya dia belajar satu hal. Bila yang namanya manusia itu merupakan makhluk yang mengerikan. Apa pun alasannya, bersenang-senang atas kematian orang lain
membuatnya merasa ngeri.
“Ayo pergi.”
“Iya.”
Keadaan berbalik. Meena
dan Kyra yang harus mendengarkan Soli sekarang. Kyra diangkat oleh Meena,
dibawa terbang mengejar kereta kuda Bara. Soli berlari di bawah, melompati pepohonan
dengan kecepatan melebihi kepakan sayapnya. Itu berarti, bila mereka melawan
... mereka tak akan punya kesempatan untuk lari dari kejaran pria itu.
__ADS_1