Phoenix Bride

Phoenix Bride
Episode 9


__ADS_3

Karena tujuan mereka cukup


jauh, Bara memutuskan untuk menyewa kereta kuda hingga setengah jalan. Ketiga


rekannya bersenang-senang di dalam kereta, asyik bergosip tak jelas. Dia


sendiri berada di luar. Duduk bersebelahan dengan pemilik kereta.


Jalur perjalanan kali ini


aman. Bara tidak perlu merasa waspada. Setidaknya hingga melewati perkebunan


anggur sampai kaki gunung batu. Soli berada di atas kereta, duduk sendirian


tanpa mengucapkan apa pun dari tadi. Mencoba berteman pun tidak.


“Mau sampai kapan kau di


sana. Sana masuk, dekati mereka.” Bara menoleh, menatap sinis pada pria itu.


Wajah yang sengaja disembunyikan membuatnya kesal, tak peduli sekalipun dia


tahu apa gunanya topeng itu.


“Kau bisa mengabaikanku.


Aku datang bukan untuk berteman.”


“Cih!” Bara berdecak


kesal. Orang yang terlalu serius memang tak cocok dengannya. Penuh misteri,


menanggung beban sendiri seperti memantulkan kepribadiannya sendiri.


Kyra mengeluarkan


kepalanya dari jendela, mengintip sedikit setelah mendengar sedikit obrolan


Bara dan Soli. Dia masuk kembali setelah melihat kedua orang itu kembali


diam-diaman, begitu serius melihat jalan.


“Memangnya jalur ini


berbahaya ya? Kenapa Bara serius sekali?” Kyra tak mengerti. Sepanjang jalan


dia berpapasan dengan banyak kereta pengangkut barang. Pemandangannya pun


begitu indah, bukankah itu artinya jalan di sini aman untuk dilewati.


“Nggak kok. Ini jalur


perdagangan resmi. Di bawah perlindungan istana. Biarkan saja Elf tua itu,


palingan dia masih dendam karena Martin mengambil misi ini.”


“Yang menyetujui, kan


kamu, Meena.”


“Tapi yang memilih kamu.”


“Sudah dong. Lihat keluar,


ada jembatan besar.”


Meena membuka pintu


kereta. Ia berdiri di depan pintu yang terbuka, hanya perpegangan pada bingkai


pintu. Dia begitu senang. Indahnya ukiran bunga pada jembatan kota Filia memang


tak ada tandingannya. Di seberang jembatan terdapat kincir angin yang


mengalirkan air dari sungai hingga ke perkebunan anggur di dekatnya.


“Lihat itu, Kyra. Kebunnya


sudah kelihatan, di belakang kincir angin.”


“Wow, kelihatannya enak.


Kita boleh mampir dulu?”


“Ini misi bebas, asalkan


Bara setuju tak masalah.” Martin sama sekali tidak tertarik dengan pemandangan


indah dan buah. Dia asyik memoles senjata, mengasahnya hingga setajam mungkin.


Kedua gadis itu saling tatap,


tersenyum penuh niat terselubung. Kemudian, mereka melompat turun dari kereta


kuda. Sayap Meena dikeluarkan, membawanya terbang ke sana bersama dengan Kyra.


“Percuma tanya Bara, tak


bakal diizikan! Kita main sebentar ya! Nanti menyusul!” teriak Meena seenaknya.


“Kalian kembali!” Martin


sampai terkejut dengan tingkah mereka, betapa kekanakan dan bebas. Dia


mengeluarkan setengah tubuhnya dari pintu, mengecek reaksi Bara di depan.


“Kita tak berhenti?”


Martin berkeringat dingin. Aura pembunuh Bara sudah kelihatan dari punggungnya.


Orangnya sendiri hanya duduk bersedekap masih menatap ke depan jalan.


“Tidak ada perubahan


rencana. Kita harus sampai ke gunung batu nanti malam. Jangan lupa, gunung es berada


di atas gunung batu. Kalau tidak mengejar waktu, perjalanan akan lebih


berbahaya esok hari.” Bara yang memegang pelana kuda, memastikan tak ada yang


menghentikan kereta mereka.


“Soli, seret dua gadis


kecil itu kembali.” Dia mengetes pengawal pribadi Raja, memberikan perintah


dengan tatapan mengancam.


“Menyeret terlalu kasar.


Sayap itu – ” Soli jadi serba salah. Dia diberitahukan oleh Raja untuk


melindungi Meena selayaknya menjaga seorang Ratu.


“Selama mereka menjadi rekanku.


Kedua gadis itu hanya anak manusia nakal. Perlakukan mereka seperti itu. Sana


pergi.” Namun, keinginan Bara bertentangan dengan keinginan Nakula. Dan orang


yang menjadi atasan sementaranya saat ini adalah Bara.


“Baik.” Soli segera


bergerak, melompat turun. Berlari ke arah perkebunan dengan kecepatan luar


biasa.


Martin sampai tak berkedip.


Dia terkagum. Ternyata kecepatan kelas Pembunuh di Rank A dan Rank S memiliki


perbedaan yang begitu besar. “Aku tahu dia anak baru, tapi memerintah seorang


dengan Rank S seperti itu agak keterlaluan, Bara.” Setelah mendengar sedikit


kata-kata Bara, Martin masih saja tidak mendapatkan gambaran mengenai alasan


dibalik perlakuan Bara pada Soli.


“Kau lupa? Aku berada di


Rank SS.”


“Haha, aku lupa.”


Bara berdecak kesal lagi,


membuat Martin masuk kembali ke dalam kereta. Dia sebenarnya tidak lupa. Karena

__ADS_1


hanya ada sekitar 100 orang dengan Rank SS di dunia ini. Memiliki satu di


dekatnya merupakan hal yang luar biasa.


***


Meena dan Kyra turun di


depan perkebunan. Mereka melihat-lihat sebuah pasar kios di depannya. Di sana


menjual semua produk olahan anggur hingga pakaian khas wilayah itu.


“Lihat ini, Meena. Gaunnya


cantik sekali!”


“Belilah, uang dari misi


kemarin masih adakan.”


“Tapi tak akan terpakai.”


“Pasti terpakai. Kadang kita


bisa masuk ke acara istana lho! Punya satu atau dua pakaian formal itu wajib.”


Mata Kyra berbinar-binar.


Dia selalu ingin melihat kemegahan istana, ingin tahu seperti apa pesta dansa


yang terkenal itu. “Kita bisa melihat pangeran juga? Ada tuan putri cantik?”


Kepalanya terisi oleh dongeng romantis, begitu penasaran akan sesuatu yang


tidak nyata.


“Kerajaan kita tak punya


pangeran dan tuan putri. Itu pengetahuan umum. Jangan sampai Bara mengetahui


kalau kau tak tahu.” Meena tersenyum sendu. Sayangnya itu mustahil terjadi.


Pesta kerajaan hanya dihadiri oleh Menteri, Ksatria, dan para bangsawan karena


tak ada satu pun anggota keluarga kerajaan yang pernah terlihat.


“Kalau kerajaan lain? Kita


bisa ambil misi dari luar?”


Akhirnya Kyra membeli


gaunnya, dengan beberapa tambahan asesoris. Mereka mengobrol sambil jalan,


mencari toko yang menjual barang-barang menarik lainnya.


“Mungkin ada.” Meena


berbohong.


Tidak ada kerajaan lain


lagi di Mystisia. Semuanya telah dijatuhkan oleh Undead. Sebagian lagi memilih


menyatu dengan kerajaan mereka agar mendapatkan perlindungan Raja Nakula.


Mereka bisa hidup nyaman


karena Raja mereka seorang Naga yang perkasa. Lapisan pelindung mengelilingi seluruh


wilayahnya bukan main-main, begitu kokoh tak tertembus oleh kekacauan di luar


sana.


Gadis naif seperti Kyra


lebih baik tidak tahu akan dunia seperti itu. Dia cukup menikmati kehidupan


seorang Petualang dari sisi manisnya saja.


“Meena, ada toko alat


sihir! Ayo masuk! Tas sihirku hanya muat diisi sedikit barang saja. Ayah bilang


kalau aku harus membeli tas baru di toko alat sihir.”


usang. Aku mau beli.”


“Maaf, tapi Ketua marah


sekali. Ikut aku kembali.” Baru saja mereka akan masuk, Soli telah menyusul.


Pria itu berhenti di depan mereka menghalangi pintu, mengingatkan akan


kemarahan Bara.


“Meena, gimana nih? Kalau


Soli sampai datang, mungkin sebentar lagi Bara akan sampai.” Kyra langsung


takut. Galaknya Bara tak berani dia lawan.


“Biarkan saja. Palingan


dia hanya duduk di kereta sambil marah-marah. Tahunya menyuruh anak baru.” Kalau


Meena jangan ditanya, makin dilarang semakin ingin cari perkara.


“Biarkan saja Bara. Ayo


belanja sama kami.” Soli panik tangannya ditarik oleh Meena. Bayangan akan


wajah murka bosnya muncul di dalam kepala.


“Akan kutemani, tapi


tolong lepaskan.”


“Gitu dong! Ayo cepat,


Kyra!”


“Iya!” Kyra berjalan masuk


di belakang Meena. Dia agak kasihan melihat Soli seperti ditindas oleh Bara dan


tak berkutik di depan Meena.


“Sikap Bara dan Meena


jangan diambil hati ya. Kita semua teman.” Soli mengangkat kepalanya. Senyuman


tulus Kyra menghangatkan hatinya. Pria itu ikut tersenyum, meskipun tersembunyi


di balik topengnya.


“Kyra sini! Tasnya


manis-manis!”


“Iya!”


Kedua gadis itu asyik


sendiri memilih tas. Ujung-ujungnya Soli jadi pajangan menunggu mereka. Tak


berani menyeret kembali, tapi juga tak tertarik berbelanja. Dia berpikir keras.


Mempertanyakan alasan kenapa Raja memerintahkan untuk menjaga dua orang padahal


Ratunya hanya Meena seorang.


“Soli, cepat. Kita masuk


ke kebun sekarang!” Puas berbelanja, mereka masih mau memetik buah. Tak heran


Bara begitu kesal. Bagaimana mereka bisa menyusul sebelum gelap jika kedua


gadis ini tak pernah puas bermain.


“Wah ... wah ... ternyata


ada gadis secantik ini di sini. Bagaimana kalau ikut kami saja?”


Belum juga masalah


kemarahan Bara teratasi, masalah lain muncul. Sekumpulan bandit datang


mengacau. Mengingatkan Meena pada misi yang ia lihat tadi pagi. Belum ada regu

__ADS_1


lain yang mengambil misi itu.


“Hanya kalau kalian bisa


mengalahkan kami!” Meena menantang.


“Soli, Kyra, maju!”


Lagaknya seakan dia bisa bertarung, kenyataannya hanya memerintah saja.


“Bukannya kita tak boleh


ribut dengan orang lokal?” Kyra bingung, masih belum sadar kalau kios-kios


mulai tutup dan orang-orang bersembunyi, berlarian melarikan diri dari


sekumpulan pengacau itu.


“Mereka tak masalah. Akan


kuselesaikan. Nona Kyra menunggu saja di belakang.” Soli melewati Kyra,


langsung menyerang.


“Meena, bagaimana nih?”


“Serang, Kyra! Anggap saja


ini latihan.”


Meena tahu Soli bisa


menghabisi mereka dengan mudah, tapi ini kesempatan untuk melihat perkembangan


pelatihan Kyra dengan Bara. Kyra patuh, menghadapi dua orang yang mendekatinya.


Gerakan Kyra jauh lebih


halus dari sebelumnya. Kobaran api yang melapisi tubuhnya sudah lebih terkontrol,


mampu digunakan untuk membentuk sebuah cambuk dan tameng. Bahkan memperkuat


efek tinjuan Kyra sebanyak 25 %, tapi cara bertarung seperti ini bukan cara


seorang Penyihir.


Meena cemas, apa tidak


masalah membiarkan Kyra mengembangkan kemampuan sebagai penyerang garis depan.


Aliran mana Kyra begitu kuat, tapi tubuhnya tak sanggup menggunakan dengan


maksimal.


“Lihat ke mana kau! Berani


sekali bersantai-santai di depan kami!” Seseorang menyelinap ke belakang Meena,


mengacungkan pedangnya ke punggung gadis itu.


“Siapa bilang aku


bersantai.” Meena mengeluarkan sayapnya, mematakan pedang si penyerang dengan


kerasnya permukaan luar sisik Naga. Kemudian dia berbalik, menggunakan sayap


itu untuk memukul lawannya, melontarkan pria itu sejauh dua meter. Kalau hanya


ini Meena bisa. Manfaatkan sayapnya untuk bertahan, tapi hanya itu. Setelahnya


dia tak akan bisa apa-apa bila ada yang menyerangnya dari depan.


“Gadis kelelawar ini


berani sekali. Bunuh dia!”


“Sayap siapa yang kausebut


sayap kelelawar.”


Meena menutup matanya saat


tiga orang pria menyerangnya dengan agresif. Namun, sebelum serangan itu


mengenai Meena ... Soli telah berhasil mematahkan pertahanan lawan. Dia membunuh


mereka dalam sekejap, memutus pembulu darah utama ketiga pria itu semudah


memotong buah.


Semenit kemudian, semuanya


telah dia bantai dengan brutal. Keinginan Meena untuk memberi kesempatan pada Kyra


untuk berlatih, Soli abaikan. Musuh mereka telah berani menghina sayap sang


Raja. Tak ada ampun bagi mereka.


Meena dan Kyra terpaku.


Tadinya mereka pikir Soli orangnya pendiam dan baik hati. Sekarang pandangan


mereka berubah. Pria ini orang yang berbahaya.


“Kamu tidak perlu membunuh


mereka, cukup melukai dan menakuti mereka.” Kyra mengepalkan tangannya, menatap


tak suka pada perbuatan Soli.


“Dan membiarkan mereka kembali


lagi lain kali? Sampah seperti ini layak disingkirkan.” Tatapan Kyra tak ada


artinya. Soli tak gentar pada apa pun. Tugas adalah segalanya. Tak akan dia biarkan


rasa kasihan mengacaukan keberhasilan.


“Meena?” Kyra jadi merasa


terintimidasi, dia berpindah ke samping Meena mempertanyakan bagaimana cara


bersikap menghadapi keadaan seperti ini.


“Tak apa, Kyra. Kadang


membunuh dalam pertempuran itu  tak bisa


dielaki. Tak perlu takut. Orang-orang ini hanya mendapatkan karma mereka.”


Sebenarnya Meena berpikiran sama dengan Kyra, tapi saat ini lebih baik mereka


tidak mencari masalah dengan Soli. Dia harus memastikan dulu, pria ini sungguh


bisa menjadi teman atau tidak.


“Mereka membunuh


bandit-bandit itu!”


“Kita selamat!”


Kyra tak sempat membalas


kata-kata Meena. Orang-orang yang tengah bersembunyi telah keluar. Mereka


terlihat senang, melampiaskan kemarahan pada bandit-bandit yang telah tewas.


Hal itu membuat Kyra mengerti bila lawan mereka memang bukan orang baik.


Akan tetapi, jauh di dalam


hatinya dia belajar satu hal. Bila yang namanya manusia itu merupakan makhluk yang mengerikan. Apa pun alasannya, bersenang-senang atas kematian orang lain


membuatnya merasa ngeri.


“Ayo pergi.”


“Iya.”


Keadaan berbalik. Meena


dan Kyra yang harus mendengarkan Soli sekarang. Kyra diangkat oleh Meena,


dibawa terbang mengejar kereta kuda Bara. Soli berlari di bawah, melompati pepohonan


dengan kecepatan melebihi kepakan sayapnya. Itu berarti, bila mereka melawan


... mereka tak akan punya kesempatan untuk lari dari kejaran pria itu.

__ADS_1


__ADS_2