
Begitu tiga orang itu
sampai di kaki gunung batu, Bara sudah menunggu dengan tampang seram. Dia ingin
marah, tapi ia berubah pikiran saat melihat seperti apa ekspresi wajah Kyra dan
Meena. Itu bukan wajah seseorang yang habis bersenang-senang atau tampang masa
bodoh seperti biasanya. Bara segera tahu ada yang tak beres dan dia yakin masalahnya
ada pada Soli.
“Apa yang terjadi saat kau
menjemput mereka.” Bara menghampiri Soli, membiarkan Kyra dan Meena bergabung dengan
Martin.
“Tidak ada yang penting.
Mereka kembali dengan selamat. Apalagi yang kau inginkan.” Tak ada keraguan sedikit
pun dari balasan Soli. Menegaskan dengan jelas cara kerjanya yang hanya mementingkan
hasil.
Bara berbalik arah. Tak ada
gunanya berbicara. Sejak awal dia memang tak suka dengan Soli. Mau diapakan
juga rasanya mustahil untuk saling memahami.
“Istirahat tiga jam. Begitu
langit gelap kita langsung berangkat!” Bara memberi perintah, kemudian naik ke
atas batu besar sendirian.
Suasana di sana sangat
buruk. Selain Martin yang asyik memasak, tak ada yang memulai pembicaraan. Baru
kali ini rombongan mereka begini. Kyra menjadi gelisah. Dia mendekati Martin
untuk mencari ketenangan. Karena pria itu satu-satunya orang yang tidak
terlihat menyimpan sesuatu dalam benaknya.
Seakan tahu niat Kyra,
Martin menggeser tempat duduknya. Dia memberikan semangkuk sup hangat pada
Kyra. “Makanlah, perasaanmu akan membaik setelah kenyang.” Perhatiannya seperti
seorang ayah, mengingatkan Kyra akan nyamannya rumah di kampung halaman.
Kyra mengangguk, memakan
supnya perlahan. “Martin, apakah menjadi Petualang ... kita harus membunuh
manusia juga, bukan hanya monster jahat?” Dia membutuhkan sebuah saran dari
orang dewasa yang bisa diandalkan dan peran itu tak bisa diisi oleh
rekan-rekannya yang memiliki sifat kekanakan sepertinya.
Martin mengusap kepala
Kyra. Dia bilang, “Petualang bukan pahlawan, Kyra.”
Kata-kata Martin membuat
pikiran Kyra semakin bertanya-tanya akan makna dibaliknya. Pahlawan yang dia
tahu adalah para Ksatria kerajaan. Mereka yang menyelamatkan penduduk dengan
mengangkat senjata mereka untuk membunuh monster jahat.
“Tapi bukankah tugas kita
menolong orang seperti pahlawan?”
“Kita menolong klien,
bukan semua orang. Bahkan pahlawan terkadang membunuh. Sama halnya dengan kita.
Tak ada orang baik, tak ada yang jahat. Dalam jalan hidup Petualang, siapa yang
memiliki keteguhan hati yang akan berjaya.”
“Biarpun kita harus
membunuh?”
“Selama kau tidak membunuh
orang lemah dan tidak berdosa, tak akan ada yang menghakimimu. Dunia ini hidup
begitu banyak ras, terkadang mereka dianggap monster dan terkadang mereka
dianggap pahlawan tergantung bagaimana kau melihatnya. Dunia ini luas, Kyra.
Kau masih muda, tak perlu terburu-buru menemukan jawabannya.”
Kyra diam, mencerna
nasihat dari Martin. Mungkin memang benar adanya. Dia kurang pengalaman, lemah
dan tak tahu apa-apa. Menilai jahat dan baik hanya dari satu sudut pandang saja
merupakan sebuah kesombongan.
“Aku ingin belajar
memahami pemikiran Soli.” Heh? Jadi ini konsultasi tentang Soli? Martin kira
apa. Pertanyaan itu membuatnya mencemaskan banyak hal. Tak tahunya Kyra hanya
kesulitan berteman saja.
“Kalau begitu semangat.
__ADS_1
Aku akan mendukungmu, tapi untuk sekarang ayo fokus pada misi.” Selama mereka satu
regu, masalah di antara teman akan selalu ada. Memikirkannya hanya akan membuat
keadaan menjadi buruk.
Misi kali ini cukup berat.
Martin berniat mempersiapkan Kyra sebelum gadis ini mengacau dan membuat Bara
emosi. Terlebih gunung batu ini memiliki penghuni yang bisa dibilang berbahaya.
“Iya, tapi kenapa harus panjat
gunung malam-malam? Bukannya pagi lebih aman?” Kyra menatap ke atas. Gunung
batu itu sangat tinggi, memiliki jalan menanjak yang terlihat cukup mulus.
Ditumbuhi dengan beberapa jenis tanaman di sekitarnya. Hanya bagian jurang di
sebelah kiri yang berbahaya kalau sampai terpeleset. Dengan berjalan di malam
hari, bukannya akan membuat pandangan mereka memburuk?
“Tidak. Malam hari adalah
waktu paling aman. Dionaea aktif di siang hari, itu yang coba kita hindari.” Martin
dan Bara pernah melawati rute ini sebelumnya, jadi mereka paham benar. Melawan
monster tanaman berumur ratusan tahun itu tak akan mudah.
“Gunung ini hidup Dionaea?”
Meena menyela. Suara percakapan Martin dan Kyra menarik perhatiannya. Tanaman
karnivora satu itu biasanya memakan serangga, tapi energi tanah di daratan
Mystisia membuat mereka tumbuh lebih besar dan kuat hingga memakan serangga tak
lagi mencukupi nutrisi mereka. Banyak kabar yang mengatakan kalau bukan hanya
bisa bergerak, Dionaea juga mulai memakan manusia setelah mereka hidup lebih
dari seratus tahun.
“Bukan hanya ada, tapi
sudah menjadi habitat mereka. Sepanjang jalan dari bawah hingga pertengahan
gunung dan jumlah mereka tidak main-main.” Meena menelan ludah. Itu artinya
mereka harus bergerak cepat menaiki setengah jalan sebelum pagi.
“Memangnya seberbahaya
itu?” Kyra pernah belajar tentang tanaman ini, tapi dia belum pernah melihat
dan mendengar tentang yang telah berumur ratusan tahun hingga berubah menjadi
monster.
mereka tak akan melepaskanmu sampai mereka berhasil mencernamu. Dimakan
hidup-hidup selama berhari-hari hingga tubuhmu meleleh menjadi nutrisi mereka.
Menurutmu seberbahaya apa?” Kedengarannya menakutkan. Kyra bahkan tak berani
membayangkannya.
“Ukuran mereka besar?”
Kalau kecil mungkin masih lebih baik, tak ada yang perlu ditakutkan.
“Paling kecil setinggi
tiga meter.” Kalau Martin tidak salah ingat atau mereka tidak tumbuh lebih
cepat dari yang dia lihat tahun lalu.
Kyra tak berani lagi
bertanya. Wajahnya sudah begitu pucat. Pantas saja Bara sensitif sekali,
pastilah ketuanya itu merasa dia tak akan sanggup menghadapi monster tanaman
satu ini.
“Tak perlu takut. Selama
kita bisa melewati mereka sebelum pagi, kita tak perlu berhadapan dengannya,”
ujar Bara.
Bara telah turun dari atas
batu. Dia menghampiri mereka, mengingatkan untuk segera memulai perjalanan.
Matahari sudah tenggelam, tak ada gunanya lagi mereka berlama-lama di sini.
Barang-barang segera
dibereskan. Martin yang memimpin jalan. Diikuti oleh Meena dan Kyra. Bara di belakang
bersama dengan Soli.
Jalan yang dilewati tidak
terlalu sulit, tapi agak melelahkan karena harus berjalan dengan cepat. Di sini
kelemahan Meena mulai terlihat. Kemampuan fisiknya yang tidak cukup baik. Sangat
tidak seimbang dengan ketahanan saat menggunakan sihir. Malahan Kyra lebih
baik. Tidak terlihat lelah memanjat gunung. Karena dia tumbuh di kota yang
terletak di kaki gunung. Jadi ia terbiasa memanjat gunung, memasuki hutan dan
berlarian sepanjang hari sebagai bagian dari dasar bela diri.
Bara maju ke depan,
__ADS_1
mengulurkan tangannya pada Meena. “Kau mau kugendong? Atau pakai saja sayapmu.”
Dan gadis itu malah menepis tangannya. “Aku masih bisa jalan!” Kemudian ia berjalan
ke depan setelah membuang muka.
“Cebol satu itu ... akan
kupukul kepalanya.” Bara mengepalkan tangannya, berniat menjitak Meena. Namun,
Kyra lebih dulu menahan tangannya.
“Jangan marah, percaya
sedikit pada Meena ya?” Kyra rasa Meena bukanya gengsi. Karena dari awal Meena
sudah mengatakan padanya kalau dia tidak akan pernah menggunakan sayapnya di
atas gunung ini bila tidak dalam kondisi mendesak. Alasan pastinya Kyra kurang tahu,
tapi mungkin karena Sarang Naga mengapung di atas langit sekitar area ini.
Bara bukannya tidak
percaya, tapi mereka dikejar waktu dan Meena memperlambat pergerakan. Tatapan
menusuk Soli di belakangnya juga menyebalkan. Seakan tengah memberinya
peringatan secara tak langsung.
“Martin, angkat si cebol
itu. Kita harus berlari dari sini.” Mana Bara mau tahu soal pendapat Meena dan
Soli. Keputusannya dibuat demi keselamatan regu.
“Mari berangkat, Meena.”
Martin segera mengangkatnya dengan satu tangan, dibawa lari dengan cepat.
“Awas kau, Bara! Ingat
ini, aku tak akan pernah memaafkanmu!” Meena teriak-teriak memaki Bara. Namun,
yang dimaki tak peduli. Dia menarik Kyra berlari bersama dengannya. Soli tak
sudah dipikirkan, orang itu bisa mengimbangi mereka dengan mudah.
Di pertengahan jalan, sekumpulan
kecil Dionaea mulai bergerak. Suara teriakan Meena ternyata bisa membangunkan
mereka. Soli segera sadar. Dia berhenti berlari, memotong-motong monster
tanaman itu sebelum mereka membuka mata.
Hal itu disaksikan oleh
Bara, membuat sang Elf semakin emosi. “Apa yang kaulakukan! Bau getah mereka
akan membangunkan yang lain!” Dia benci anggota regu yang kurang pengetahuan.
Bergerak seenaknya tanpa memikirkan dampaknya. Percuma saja mereka buru-buru
menghindar, bila monster itu malah dipanggil dengan sengaja.
“Kalau begitu kita hanya
perlu membunuh mereka semua.” Jawaban sombong itu ... bertapa murkanya Bara.
Jumlah Dionaea yang berada
di depan mereka saat ini ada sekitar dua puluhan, tapi hanya masalah waktu hingga
teman-temannya datang. Mereka harus segera membunuh semuanya, menghilangkan bau
getahnya dan pergi dari sana.
“Cih. Kyra, aku dan Soli
akan menghadapi mereka. Kau bakar semua getah dari mayat tanaman itu.”
Setidaknya bila dibakar, baunya akan tersamarkan. Bara tak bisa menemukan
solusi lain untuk masalah ini.
Monster tanaman itu begitu
menakutkan saat bangun, kepala yang berbentuk daun itu terbuka, mengeluarkan
gigi-gigi runcing yang menakutkan. Mereka meneteskan getah dari mulutnya,
menyebar bau dan cairan asam yang digunakan untuk menyerang dan mencerna
makanan.
Kyra takut, tapi dia tak
mau menjadi beban lagi. Gadis itu maju, mempertahankan posisinya di belakang
Bara dan Soli. Seluruh tubuhnya ia balut dengan api. Kemudian dia mengumpulkan
bola-bola api kecil di telapak tangannya, dilemparkan pada musuh yang telah dijatuhkan
sambil terus bergerak.
Martin menjaga Kyra dari serangan
belakang. Sementara Meena mendukung Martin, ia meningkatkan kecepatan dan
kekuatan otot pria itu. Kerja sama dadakan mereka membereskan musuh dengan
cepat tanpa memberi kesempatan kawanan lain untuk datang menolong. Setelah itu
perjalanan menjadi mudah. Bagian atas gunung batu adalah tempat teraman di
sana. Mereka bisa beristirahat dengan tenang, tapi bukan berarti mereka bisa
merasa lega. Karena masalah utama mereka bukanlah Dionaea, melainkan Kera
Salju.
__ADS_1