Phoenix Bride

Phoenix Bride
Episode 10


__ADS_3

Begitu tiga orang itu


sampai di kaki gunung batu, Bara sudah menunggu dengan tampang seram. Dia ingin


marah, tapi ia berubah pikiran saat melihat seperti apa ekspresi wajah Kyra dan


Meena. Itu bukan wajah seseorang yang habis bersenang-senang atau tampang masa


bodoh seperti biasanya. Bara segera tahu ada yang tak beres dan dia yakin masalahnya


ada pada Soli.


“Apa yang terjadi saat kau


menjemput mereka.” Bara menghampiri Soli, membiarkan Kyra dan Meena bergabung dengan


Martin.


“Tidak ada yang penting.


Mereka kembali dengan selamat. Apalagi yang kau inginkan.” Tak ada keraguan sedikit


pun dari balasan Soli. Menegaskan dengan jelas cara kerjanya yang hanya mementingkan


hasil.


Bara berbalik arah. Tak ada


gunanya berbicara. Sejak awal dia memang tak suka dengan Soli. Mau diapakan


juga rasanya mustahil untuk saling memahami.


“Istirahat tiga jam. Begitu


langit gelap kita langsung berangkat!” Bara memberi perintah, kemudian naik ke


atas batu besar sendirian.


Suasana di sana sangat


buruk. Selain Martin yang asyik memasak, tak ada yang memulai pembicaraan. Baru


kali ini rombongan mereka begini. Kyra menjadi gelisah. Dia mendekati Martin


untuk mencari ketenangan. Karena pria itu satu-satunya orang yang tidak


terlihat menyimpan sesuatu dalam benaknya.


Seakan tahu niat Kyra,


Martin menggeser tempat duduknya. Dia memberikan semangkuk sup hangat pada


Kyra. “Makanlah, perasaanmu akan membaik setelah kenyang.” Perhatiannya seperti


seorang ayah, mengingatkan Kyra akan nyamannya rumah di kampung halaman.


Kyra mengangguk, memakan


supnya perlahan. “Martin, apakah menjadi Petualang ... kita harus membunuh


manusia juga, bukan hanya monster jahat?” Dia membutuhkan sebuah saran dari


orang dewasa yang bisa diandalkan dan peran itu tak bisa diisi oleh


rekan-rekannya yang memiliki sifat kekanakan sepertinya.


Martin mengusap kepala


Kyra. Dia bilang, “Petualang bukan pahlawan, Kyra.”


Kata-kata Martin membuat


pikiran Kyra semakin bertanya-tanya akan makna dibaliknya. Pahlawan yang dia


tahu adalah para Ksatria kerajaan. Mereka yang menyelamatkan penduduk dengan


mengangkat senjata mereka untuk membunuh monster jahat.


“Tapi bukankah tugas kita


menolong orang seperti pahlawan?”


“Kita menolong klien,


bukan semua orang. Bahkan pahlawan terkadang membunuh. Sama halnya dengan kita.


Tak ada orang baik, tak ada yang jahat. Dalam jalan hidup Petualang, siapa yang


memiliki keteguhan hati yang akan berjaya.”


“Biarpun kita harus


membunuh?”


“Selama kau tidak membunuh


orang lemah dan tidak berdosa, tak akan ada yang menghakimimu. Dunia ini hidup


begitu banyak ras, terkadang mereka dianggap monster dan terkadang mereka


dianggap pahlawan tergantung bagaimana kau melihatnya. Dunia ini luas, Kyra.


Kau masih muda, tak perlu terburu-buru menemukan jawabannya.”


Kyra diam, mencerna


nasihat dari Martin. Mungkin memang benar adanya. Dia kurang pengalaman, lemah


dan tak tahu apa-apa. Menilai jahat dan baik hanya dari satu sudut pandang saja


merupakan sebuah kesombongan.


“Aku ingin belajar


memahami pemikiran Soli.” Heh? Jadi ini konsultasi tentang Soli? Martin kira


apa. Pertanyaan itu membuatnya mencemaskan banyak hal. Tak tahunya Kyra hanya


kesulitan berteman saja.


“Kalau begitu semangat.

__ADS_1


Aku akan mendukungmu, tapi untuk sekarang ayo fokus pada misi.” Selama mereka satu


regu, masalah di antara teman akan selalu ada. Memikirkannya hanya akan membuat


keadaan menjadi buruk.


Misi kali ini cukup berat.


Martin berniat mempersiapkan Kyra sebelum gadis ini mengacau dan membuat Bara


emosi. Terlebih gunung batu ini memiliki penghuni yang bisa dibilang berbahaya.


“Iya, tapi kenapa harus panjat


gunung malam-malam? Bukannya pagi lebih aman?” Kyra menatap ke atas. Gunung


batu itu sangat tinggi, memiliki jalan menanjak yang terlihat cukup mulus.


Ditumbuhi dengan beberapa jenis tanaman di sekitarnya. Hanya bagian jurang di


sebelah kiri yang berbahaya kalau sampai terpeleset. Dengan berjalan di malam


hari, bukannya akan membuat pandangan mereka memburuk?


“Tidak. Malam hari adalah


waktu paling aman. Dionaea aktif di siang hari, itu yang coba kita hindari.” Martin


dan Bara pernah melawati rute ini sebelumnya, jadi mereka paham benar. Melawan


monster tanaman berumur ratusan tahun itu tak akan mudah.


“Gunung ini hidup Dionaea?”


Meena menyela. Suara percakapan Martin dan Kyra menarik perhatiannya. Tanaman


karnivora satu itu biasanya memakan serangga, tapi energi tanah di daratan


Mystisia membuat mereka tumbuh lebih besar dan kuat hingga memakan serangga tak


lagi mencukupi nutrisi mereka. Banyak kabar yang mengatakan kalau bukan hanya


bisa bergerak, Dionaea juga mulai memakan manusia setelah mereka hidup lebih


dari seratus tahun.


“Bukan hanya ada, tapi


sudah menjadi habitat mereka. Sepanjang jalan dari bawah hingga pertengahan


gunung dan jumlah mereka tidak main-main.” Meena menelan ludah. Itu artinya


mereka harus bergerak cepat menaiki setengah jalan sebelum pagi.


“Memangnya seberbahaya


itu?” Kyra pernah belajar tentang tanaman ini, tapi dia belum pernah melihat


dan mendengar tentang yang telah berumur ratusan tahun hingga berubah menjadi


monster.


mereka tak akan melepaskanmu sampai mereka berhasil mencernamu. Dimakan


hidup-hidup selama berhari-hari hingga tubuhmu meleleh menjadi nutrisi mereka.


Menurutmu seberbahaya apa?” Kedengarannya menakutkan. Kyra bahkan tak berani


membayangkannya.


“Ukuran mereka besar?”


Kalau kecil mungkin masih lebih baik, tak ada yang perlu ditakutkan.


“Paling kecil setinggi


tiga meter.” Kalau Martin tidak salah ingat atau mereka tidak tumbuh lebih


cepat dari yang dia lihat tahun lalu.


Kyra tak berani lagi


bertanya. Wajahnya sudah begitu pucat. Pantas saja Bara sensitif sekali,


pastilah ketuanya itu merasa dia tak akan sanggup menghadapi monster tanaman


satu ini.


“Tak perlu takut. Selama


kita bisa melewati mereka sebelum pagi, kita tak perlu berhadapan dengannya,”


ujar Bara.


Bara telah turun dari atas


batu. Dia menghampiri mereka, mengingatkan untuk segera memulai perjalanan.


Matahari sudah tenggelam, tak ada gunanya lagi mereka berlama-lama di sini.


Barang-barang segera


dibereskan. Martin yang memimpin jalan. Diikuti oleh Meena dan Kyra. Bara di belakang


bersama dengan Soli.


Jalan yang dilewati tidak


terlalu sulit, tapi agak melelahkan karena harus berjalan dengan cepat. Di sini


kelemahan Meena mulai terlihat. Kemampuan fisiknya yang tidak cukup baik. Sangat


tidak seimbang dengan ketahanan saat menggunakan sihir. Malahan Kyra lebih


baik. Tidak terlihat lelah memanjat gunung. Karena dia tumbuh di kota yang


terletak di kaki gunung. Jadi ia terbiasa memanjat gunung, memasuki hutan dan


berlarian sepanjang hari sebagai bagian dari dasar bela diri.


Bara maju ke depan,

__ADS_1


mengulurkan tangannya pada Meena. “Kau mau kugendong? Atau pakai saja sayapmu.”


Dan gadis itu malah menepis tangannya. “Aku masih bisa jalan!” Kemudian ia berjalan


ke depan setelah membuang muka.


“Cebol satu itu ... akan


kupukul kepalanya.” Bara mengepalkan tangannya, berniat menjitak Meena. Namun,


Kyra lebih dulu menahan tangannya.


“Jangan marah, percaya


sedikit pada Meena ya?” Kyra rasa Meena bukanya gengsi. Karena dari awal Meena


sudah mengatakan padanya kalau dia tidak akan pernah menggunakan sayapnya di


atas gunung ini bila tidak dalam kondisi mendesak. Alasan pastinya Kyra kurang tahu,


tapi mungkin karena Sarang Naga mengapung di atas langit sekitar area ini.


Bara bukannya tidak


percaya, tapi mereka dikejar waktu dan Meena memperlambat pergerakan. Tatapan


menusuk Soli di belakangnya juga menyebalkan. Seakan tengah memberinya


peringatan secara tak langsung.


“Martin, angkat si cebol


itu. Kita harus berlari dari sini.” Mana Bara mau tahu soal pendapat Meena dan


Soli. Keputusannya dibuat demi keselamatan regu.


“Mari berangkat, Meena.”


Martin segera mengangkatnya dengan satu tangan, dibawa lari dengan cepat.


“Awas kau, Bara! Ingat


ini, aku tak akan pernah memaafkanmu!” Meena teriak-teriak memaki Bara. Namun,


yang dimaki tak peduli. Dia menarik Kyra berlari bersama dengannya. Soli tak


sudah dipikirkan, orang itu bisa mengimbangi mereka dengan mudah.


Di pertengahan jalan, sekumpulan


kecil Dionaea mulai bergerak. Suara teriakan Meena ternyata bisa membangunkan


mereka. Soli segera sadar. Dia berhenti berlari, memotong-motong monster


tanaman itu sebelum mereka membuka mata.


Hal itu disaksikan oleh


Bara, membuat sang Elf semakin emosi. “Apa yang kaulakukan! Bau getah mereka


akan membangunkan yang lain!” Dia benci anggota regu yang kurang pengetahuan.


Bergerak seenaknya tanpa memikirkan dampaknya. Percuma saja mereka buru-buru


menghindar, bila monster itu malah dipanggil dengan sengaja.


“Kalau begitu kita hanya


perlu membunuh mereka semua.” Jawaban sombong itu ... bertapa murkanya Bara.


Jumlah Dionaea yang berada


di depan mereka saat ini ada sekitar dua puluhan, tapi hanya masalah waktu hingga


teman-temannya datang. Mereka harus segera membunuh semuanya, menghilangkan bau


getahnya dan pergi dari sana.


“Cih. Kyra, aku dan Soli


akan menghadapi mereka. Kau bakar semua getah dari mayat tanaman itu.”


Setidaknya bila dibakar, baunya akan tersamarkan. Bara tak bisa menemukan


solusi lain untuk masalah ini.


Monster tanaman itu begitu


menakutkan saat bangun, kepala yang berbentuk daun itu terbuka, mengeluarkan


gigi-gigi runcing yang menakutkan. Mereka meneteskan getah dari mulutnya,


menyebar bau dan cairan asam yang digunakan untuk menyerang dan mencerna


makanan.


Kyra takut, tapi dia tak


mau menjadi beban lagi. Gadis itu maju, mempertahankan posisinya di belakang


Bara dan Soli. Seluruh tubuhnya ia balut dengan api. Kemudian dia mengumpulkan


bola-bola api kecil di telapak tangannya, dilemparkan pada musuh yang telah dijatuhkan


sambil terus bergerak.


Martin menjaga Kyra dari serangan


belakang. Sementara Meena mendukung Martin, ia meningkatkan kecepatan dan


kekuatan otot pria itu. Kerja sama dadakan mereka membereskan musuh dengan


cepat tanpa memberi kesempatan kawanan lain untuk datang menolong. Setelah itu


perjalanan menjadi mudah. Bagian atas gunung batu adalah tempat teraman di


sana. Mereka bisa beristirahat dengan tenang, tapi bukan berarti mereka bisa


merasa lega. Karena masalah utama mereka bukanlah Dionaea, melainkan Kera


Salju.

__ADS_1


__ADS_2