Phoenix Bride

Phoenix Bride
Episode 21


__ADS_3

\Setelah menerima arahan


dari Amara, semua Petualang dibubarkan untuk beristirahat. Besok baru mereka


akan mulai bekerja, bergantian menjaga benteng dari serangan yang datang sambil


menunggu Amara memutuskan kapan waktu yang tepat untuk menyerang balik.


Tentunya Meena dan Kyra


memanfaatkan kesempatan yang ada untuk mencari tahu tentang gadis kecil itu.


Selain ingin tahu rahasia kekuatannya, mereka juga ingin tahu kenapa Amara


berbohong dengan mengatakan dialah pengantin Kura-kura Hitam.


Meena dan Kyra menyelinap


masuk ke bangunan kastil utama yang merupakan tempat tinggal keluarga pemilik


benteng. Kastil itu terletak di tengah-tengah kumpulan kastil kecil yang


dipakai untuk tempat tinggal prajurit dan Petualang.


Tak banyak penjaga di


sana, hanya ada lapisan pelindung yang menghalang siapa pun dengan maksud buruk


untuk masuk. Meena dan Kyra bisa masuk karena mereka tak punya niat buruk.


Namun ternyata, tempat itu sangatlah luas. Selain halaman yang begitu padat,


banyaknya pintu di kastil tersebut membuat mereka sulit menemukan gadis kecil


itu.


Meena mengendus-endus,


berharap bisa menemukan bau sang pengantin Kura-kura Hitam. “Tak bisa, baunya


ada di mana-mana.” Sayangnya cara itu gagal. Si gadis kecil pandai menyebar


baunya secara merata, sehingga tak ada yang bisa menemukannya dengan bau.


“Dia sengaja menyebarnya?”


Untuk apa? Memang siapa yang akan mencari orang dengan mengendus seperti Meena?


Meena mengangguk. “Pasti


yang menyerangnya banyak dari kaum binatang buas.” Hanya itu kegunaan menyebar


bau seperti ini. Untuk membingungkan lawannya, tapi cara ini tidaklah mudah


dilakukan. Apalagi gadis itu masih begitu muda.


“Begitu ternyata. Kira-kira


berapa lama dia melatih kekuatannya ya?”


“Entahlah, aku melatih


lima tahun saja baru bisa terbang dengan lancar. Kekuatan serangku hampir tak


berguna.”


“Mengendalikan kekuatan


orang lain memang susah.” Kyra menghela napas. Dulu, dia butuh berapa tahun


baru bisa tenang bermain dengan api yang selalu muncul di tubuhnya. Sekarang


pun ia masih terus diajari oleh Bara.


“Memang. Udah ah, ayo


lanjut cari,” kata Meena.


“Apa yang kalian cari?”


Seseorang menjawabnya. Dia muncul begitu saja di dalam kolam ikan. Seakan


dirinya bagian dari kolam itu.


Meena dan Kyra segera


berbalik. Tubuh mereka menegang karena tekanan kuat dari kekuatan orang itu.


Gadis kecil yang mereka cari.


“Kamu. Kami ingin bertanya


sesuatu padamu.” Kyra memberanikan diri berbicara. Perlahan dia berjalan


mendekat, berusaha untuk tetap terlihat tenang di bawah tekanan gadis kecil itu.


“Kalau aku tak mau?” Detik


berikutnya, gadis itu melesat ke depan Kyra. Ia mengeluarkan sebuah pedang dan


pedang itu ditodongkan pada leher Kyra.


Gadis api menelan ludah. “Jangan


melukainya! Kami tak punya niat buruk, kalau punya kami tak akan bisa menembus


lapisan pelindung mu!” Meena yang berada di belakangnya segera berlari ke


depan.


“Siapa yang bilang kau


boleh mendekat!” Namun, langkahnya terhenti oleh ancaman gadis kecil itu.


“Tak apa-apa, Meena. Aku


akan hidup lagi meskipun dia membunuhku.” Kyra sudah pernah mati sekali dan dia


hidup kembali hanya dalam beberapa jam. Setelah merasakan pengalaman


kebangkitan itu, rasa takut Kyra pada bahaya mulai berkurang.


Meena jadi agak tenang. Ia


tahu Kyra punya api keabadian, tapi sebisa mungkin lebih baik kekuatan itu tak


pernah digunakan.


“Kalau begitu buktikan!” Sebaliknya,


gadis kecil itu menjadi kesal. Dia tak percaya pada omongan Kyra. Pedangnya


diayunkan dengan niat memenggal kepala Kyra.


“Kanya, hentikan! Mereka


Petualang yang kita sewa!” Pada saat itu, Amara menghentikannya. Ia berada di beranda


lantai tiga, tepat di atas posisi mereka saat ini.


“Cih! Kalian beruntung.”


Gadis kecil yang ternyata bernama Kanya itu menyimpan pedangnya kembali,


membiarkan Kyra hidup.


“Cepat katakan keperluan


kalian! Untuk apa Petualang masuk ke sini!” Hanya saja dia tak akan membiarkan


mereka pergi begitu saja.


Kyra dan Meena saling


tatap. Karena tak ada bau orang lain kecuali mereka berempat di sana, Meena


rasa aman untuk membicarakannya.


“Kami juga pengantin


binatang mistik seperti mu, Kanya.” Meena sengaja menyebut nama Kanya secara

__ADS_1


langsung. Agar gadis kecil itu mengerti bila mereka tahu kebohongannya.


Kanya dan Amara


terbelalak, tak menyangka rahasia mereka akan ketahuan secepat ini. Kendatipun


demikian, sebenarnya pengakuan Meena jauh lebih mengejutkan bagi mereka.


“Jangan berbohong padaku!”


Sekali lagi, Kanya mengeluarkan pedangnya. Kali ini ditodongkan pada Meena dan sekarang,


Amara tak menyuruhnya berhenti.


“Kau sudah sekuat itu,


tapi masih belum bisa membedakan? Kami langsung tahu hanya dengan sekali lihat.”


Meena cari masalah, membuat Kyra panik minta ampun. Dia tak takut mati, tapi


Meena tidak abadi.


“Percayalah! Meena tidak


berbohong.” Kyra menerobos antara Kanya dan Meena. Ia membiarkan pedang Kanya


melukainya. Tatapan mata gadis api begitu berani, menatap lurus pada Kanya.


“Buktikan padaku.


Perlihatkan tanda ikatan kalian.” Keyakinan Kanya mulai goyah. Pegangan pada


pedangnya mengendur, keinginan untuk memastikan ucapan kedua gadis di


hadapannya itu mulai menguat.


“Akan kutunjukkan, tapi


tidak di tempat terbuka. Kami masih lemah. Bila ada yang tak sengaja melihat,


nyawa kami akan terancam.” Meena memanfaatkan kesempatan itu untuk bernegosiasi


sebelum Kyra dengan polosnya menunjukkan.


Amara mendengar semua dari


atas. Dia mengangguk, menyetujui syarat Meena. Maka dari itu, Kanya menuruti


keputusan Amara. “Ikut aku!” Dia membawa Meena dan Kyra masuk ke dalam kastil. Tujuan


mereka adalah ruangan di mana Amara berada. Tempat itu segera ditutup setelah


mereka masuk.


“Sekarang tunjukkan.”


“Kalau begitu aku duluan.”


Meena yang maju pertama kali. Ia mengeluarkan sayapnya. Apa yang disebut


sebagai tanda ikatan oleh Kanya.


“Sayap ini ... warna biru


ini,” gumam Amara. Dia hanya sekali melihat, tapi selamanya tak akan bisa ia


lupakan. Entah hanya kebetulan warnanya sama, atau memang itu adalah sayap Raja


Nakula.


“Kamu tahu sayap apa itu?”


Kanya tak tahu. Banyak makhluk di dunia ini yang punya sayap. Beberapa spesies


bentuknya hampir sama. Itulah kenapa terkadang ada yang menganggap Meena


sebagai manusia kelelawar.


“Sayap Raja Nakula, Naga


Angin. Benar?”


“Benar. Aku pengantinnya.”


dirinya sebagai pengantin Naga genit satu itu.


“Bukankah itu artinya,


kamu adalah Ratu kami?” Astaga, Amara tak percaya. Dia bingung sekarang.


Haruskah ia memberi hormat?


“Bukan! Bukan! Aku tak


sudi!” Setelah mengakui, sekarang Meena menyangkal. Dia menghentak-hentakkan


kakinya emosi. Maunya menahan diri, tapi akhirnya tak tahan sendiri.


“Tenanglah, Meena. Nanti


kita dicurigai lagi.” Kyra mencoba membujuk, paham betapa bencinya Meena pada


sang Raja.


“Jadi kalian berbohong?”


Sebenarnya sayap itu telah membuktikan, terlebih Amara yang menilainya, tapi


sikap Meena membuatnya mulai ragu.


“Bukan begitu, Meena hanya


benci pada Yang Mulia. Jadi dia selalu marah-marah dipanggil dengan sebutan


ratu.” Gagal membujuk Meena, Kyra berganti membujuk Kanya. Tawa gadis api


begitu canggung, tetapi tidak meninggalkan kesan buruk sama sekali.


“Baiklah, sekarang


giliranmu.” Karenanya, Kanya memberi mereka satu kesempatan lagi.


“Oh, itu ... aku – Meena,


bagaimana caranya membuktikan tanda ikatanku?” Begitu mau jawab, Kyra sadar


bila dia tak punya anggota tubuh seekor Phoenix. Bagaimana caranya membuktikan?


“Jadi memang kalian


menipu.”


“Siapa yang penipu! Kyra


mendapatkan darah, bagaimana kami membuktikannya! Lagian kau sendiri yang yang


payah. Harusnya kekuatanmu bisa mengenali kami dengan mudah!”


“Kau bilang apa!? Kurang


ajar sekali!”


“Kau yang kurang ajar!


Kecil-kecil banyak lagaknya! Hormati orang yang lebih tua!”


“Tua? Dilihat dari mana


pun kau lebih kecil dari ku!”


“Uh, itu ... sudah dong.”


“Kamu diam saja!”


Kyra mundur, tak bisa


melerai Meena dan Kanya yang mulai ribut. Suaranya selalu kalah oleh kerasnya


suara mereka. Namun, sebenarnya pertengkaran itu merupakan tanda bila mereka


sudah dipercaya. Bila tidak, Kanya pastilah langsung menyerang menggunakan

__ADS_1


senjata.


“Kanya, berhentilah. Umur


minimum untuk menjadi Petualang adalah enam belas tahun. Jadi mereka pasti


lebih tua dari mu.” Sekali Amara yang melerai Kanya langsung berhenti.


Meena menyeringai puas,


senang melihatnya muka kesal Kanya. Meskipun begitu, dengan kehadiran Amara ...


mereka bisa berbicara baik-baik.


Ternyata Kanya adalah anak


angkat Roman. Alasan kenapa mereka membuat kebohongan itu adalah karena Roman


sedang sakit saat ini. Orang-orang kota air menjadi takut akan serangan musuh


saat petarung terbaik mereka tak ada. Maka dari itu, untuk menenangkan penduduk


lokal, mereka mengatakan bila kota mereka mendapatkan perlindungan dari


Kura-kura Hitam karena pengantinnya ada di sini.


Namun ternyata, setelah


kabar itu menyebar ... bukannya tambah aman, kota mereka malah mendapatkan


lebih banyak serangan. Amara tak punya pilihan selain mengumpulkan Petualang


untuk melindungi mereka. Dia mengaku bila dialah pengantinnya agar seluruh perhatian


musuh datang padanya.


“Kanya masih kecil, mana mungkin


aku membiarkan dia dalam bahaya,” ujar Amara kemudian. Dialah yang menyebar kabar


itu. Karenanya, dia ingin bertanggung jawab atas kesalahannya itu.


“Dan kaupikir kamu bisa


melindunginya dengan cara ini? Cepat atau lambat kebohongan kalian akan


ketahuan. Ras binatang buas tingkat tinggi akan bisa membedakan dari jenis sihir


dan bau kalian.” Meena bukannya mau menentang, dia hanya ingin memberitahukan


kalau cara ini tak akan bisa menipu semua orang.


“Jangan menyalahkan kakakku!


Kalian sendiri berkeliaran ke sana kemari tanpa ketahuan! Kenapa kalian yakin


sekali kami akan ketahuan!” Kanya menanggapi reaksi Meena dengan kemarahan. Dia


tumbuh dalam kastil tanpa pernah melihat dunia luar. Musuh yang ia tahu hanyalah


Undead yang selalu menyerang. Gadis kecil itu tidak tahu bila musuh pengantin


binatang mistik adalah seluruh orang yang berambisi mengejar kekuatan.


“Kyra masih lemah, bau Phoenix


dari tubuhnya belum kuat. Beberapa tahun lagi dia pasti tak akan bisa


bersembunyi. Aku juga sudah mati-matian menggunakan alat sihir untuk menekan


kekuatan dan bau Naga dari tubuhku.” Meena yang paling paham bahwa ia tak bisa


bersembunyi selamanya. Bara dan Soli juga tak akan bisa melindungi mereka


setiap saat.


Meena tak bisa menahan


emosinya. Kedua tangannya terkepal erat hanya dengan mengucapkan kenyataan itu.


Rasa takut menguasai, mengingatkan padanya untuk segera berkembang dan menjadi


kuat agar tidak terus menjadi beban.


“Meena, tenanglah. Kamu


tidak sendirian.” Kyra memeluk Meena. Perlahan, ia mulai bisa memahami situasi mereka.


Dia mengerti alasan dari ketakutan yang terus mengejar. Bahkan Kanya saja


sadar, dia hanya berusaha mengabaikannya karena tak ingin membuat Amara cemas.


“Kalau begitu apa mau


kalian sebenarnya?” Kanya rasa, kedatangan Meena dan Kyra bukan hanya untuk


membongkar kebohongannya.


“Kamu lebih kuat dari


kami, jadi ... aku dan Meena ingin bertanya bagaimana caramu menjadi kuat


dengan cepat.” Kyra langsung mengatakan niat kedatangannya.


“Awalnya kami kira


kekuatanmu sudah dibangkitkan, tapi melihat situasi di sini, aku rasa kamu juga


belum bisa membangkitkannya.” Kemudian, Meena menimpali.


Kanya menatap mereka sekilas,


lalu menundukkan kepalanya. “Belum, aku sendiri tak tahu bagaimana cara


membangkitkannya. Hugo bilang kalau aku harus mengumpulkan pengalaman dan


membongkar caranya sendiri. Dia hanya melatihku sebentar dan menghilang setelah


itu.” Kanya bisa begitu kuat karena pasangannya tinggal di kota ini selama


beberapa saat sebelum menghilang. Kura-kura Hitam mewariskan sejumlah jurusnya,


memastikan dia punya kekuatan yang cukup untuk bertahan hidup. Setelahnya dia ditinggalkan.


“Hugo? Kura-Kura Hitam?”


tanya Meena memastikan.


“Iya, itu namanya.” Kanya


mengangguk.


“Kalau begitu kami bisa


bertemu?” Kyra langsung bersemangat. Jika Kura-kura Hitam ada di sini, mereka


mungkin bisa berbicara langsung dengannya.


“Tidak ada. Beliau pergi


tahun lalu.” Sayang sekali, ucapan Amara menghancurkan harapan Kyra.


Benar juga. Nakula tidak


terlalu membantu Meena. Dia hanya menempatkan Soli dan menemui Meena sekali.


Phoenix sendiri juga hanya pernah Kyra temui sekali, setelah itu dia disuruh


pergi. Mungkin memang begitu cara mereka membesarkan pengantinnya. Kyra tak


tahu bagaimana binatang mistik berpikir, makanya dia juga tak bisa sembarangan


menyalahkan.


Selain itu, karena tak


bisa mengingat apa yang membuat dirinya menjadi pengantin Phoenix, Kyra jadi


tak tahu apakah burung api itu adalah musuhnya atau bukan. Ada kemungkinan dia


dipaksa jadi pengantin seperti Meena, tapi bisa jadi dia memang menyetuinya

__ADS_1


seperti Kanya. Sebelum bisa memastikannya, Kyra bertekat untuk tidak akan


pernah mencari Phoenix itu lagi.


__ADS_2