
\Setelah menerima arahan
dari Amara, semua Petualang dibubarkan untuk beristirahat. Besok baru mereka
akan mulai bekerja, bergantian menjaga benteng dari serangan yang datang sambil
menunggu Amara memutuskan kapan waktu yang tepat untuk menyerang balik.
Tentunya Meena dan Kyra
memanfaatkan kesempatan yang ada untuk mencari tahu tentang gadis kecil itu.
Selain ingin tahu rahasia kekuatannya, mereka juga ingin tahu kenapa Amara
berbohong dengan mengatakan dialah pengantin Kura-kura Hitam.
Meena dan Kyra menyelinap
masuk ke bangunan kastil utama yang merupakan tempat tinggal keluarga pemilik
benteng. Kastil itu terletak di tengah-tengah kumpulan kastil kecil yang
dipakai untuk tempat tinggal prajurit dan Petualang.
Tak banyak penjaga di
sana, hanya ada lapisan pelindung yang menghalang siapa pun dengan maksud buruk
untuk masuk. Meena dan Kyra bisa masuk karena mereka tak punya niat buruk.
Namun ternyata, tempat itu sangatlah luas. Selain halaman yang begitu padat,
banyaknya pintu di kastil tersebut membuat mereka sulit menemukan gadis kecil
itu.
Meena mengendus-endus,
berharap bisa menemukan bau sang pengantin Kura-kura Hitam. “Tak bisa, baunya
ada di mana-mana.” Sayangnya cara itu gagal. Si gadis kecil pandai menyebar
baunya secara merata, sehingga tak ada yang bisa menemukannya dengan bau.
“Dia sengaja menyebarnya?”
Untuk apa? Memang siapa yang akan mencari orang dengan mengendus seperti Meena?
Meena mengangguk. “Pasti
yang menyerangnya banyak dari kaum binatang buas.” Hanya itu kegunaan menyebar
bau seperti ini. Untuk membingungkan lawannya, tapi cara ini tidaklah mudah
dilakukan. Apalagi gadis itu masih begitu muda.
“Begitu ternyata. Kira-kira
berapa lama dia melatih kekuatannya ya?”
“Entahlah, aku melatih
lima tahun saja baru bisa terbang dengan lancar. Kekuatan serangku hampir tak
berguna.”
“Mengendalikan kekuatan
orang lain memang susah.” Kyra menghela napas. Dulu, dia butuh berapa tahun
baru bisa tenang bermain dengan api yang selalu muncul di tubuhnya. Sekarang
pun ia masih terus diajari oleh Bara.
“Memang. Udah ah, ayo
lanjut cari,” kata Meena.
“Apa yang kalian cari?”
Seseorang menjawabnya. Dia muncul begitu saja di dalam kolam ikan. Seakan
dirinya bagian dari kolam itu.
Meena dan Kyra segera
berbalik. Tubuh mereka menegang karena tekanan kuat dari kekuatan orang itu.
Gadis kecil yang mereka cari.
“Kamu. Kami ingin bertanya
sesuatu padamu.” Kyra memberanikan diri berbicara. Perlahan dia berjalan
mendekat, berusaha untuk tetap terlihat tenang di bawah tekanan gadis kecil itu.
“Kalau aku tak mau?” Detik
berikutnya, gadis itu melesat ke depan Kyra. Ia mengeluarkan sebuah pedang dan
pedang itu ditodongkan pada leher Kyra.
Gadis api menelan ludah. “Jangan
melukainya! Kami tak punya niat buruk, kalau punya kami tak akan bisa menembus
lapisan pelindung mu!” Meena yang berada di belakangnya segera berlari ke
depan.
“Siapa yang bilang kau
boleh mendekat!” Namun, langkahnya terhenti oleh ancaman gadis kecil itu.
“Tak apa-apa, Meena. Aku
akan hidup lagi meskipun dia membunuhku.” Kyra sudah pernah mati sekali dan dia
hidup kembali hanya dalam beberapa jam. Setelah merasakan pengalaman
kebangkitan itu, rasa takut Kyra pada bahaya mulai berkurang.
Meena jadi agak tenang. Ia
tahu Kyra punya api keabadian, tapi sebisa mungkin lebih baik kekuatan itu tak
pernah digunakan.
“Kalau begitu buktikan!” Sebaliknya,
gadis kecil itu menjadi kesal. Dia tak percaya pada omongan Kyra. Pedangnya
diayunkan dengan niat memenggal kepala Kyra.
“Kanya, hentikan! Mereka
Petualang yang kita sewa!” Pada saat itu, Amara menghentikannya. Ia berada di beranda
lantai tiga, tepat di atas posisi mereka saat ini.
“Cih! Kalian beruntung.”
Gadis kecil yang ternyata bernama Kanya itu menyimpan pedangnya kembali,
membiarkan Kyra hidup.
“Cepat katakan keperluan
kalian! Untuk apa Petualang masuk ke sini!” Hanya saja dia tak akan membiarkan
mereka pergi begitu saja.
Kyra dan Meena saling
tatap. Karena tak ada bau orang lain kecuali mereka berempat di sana, Meena
rasa aman untuk membicarakannya.
“Kami juga pengantin
binatang mistik seperti mu, Kanya.” Meena sengaja menyebut nama Kanya secara
__ADS_1
langsung. Agar gadis kecil itu mengerti bila mereka tahu kebohongannya.
Kanya dan Amara
terbelalak, tak menyangka rahasia mereka akan ketahuan secepat ini. Kendatipun
demikian, sebenarnya pengakuan Meena jauh lebih mengejutkan bagi mereka.
“Jangan berbohong padaku!”
Sekali lagi, Kanya mengeluarkan pedangnya. Kali ini ditodongkan pada Meena dan sekarang,
Amara tak menyuruhnya berhenti.
“Kau sudah sekuat itu,
tapi masih belum bisa membedakan? Kami langsung tahu hanya dengan sekali lihat.”
Meena cari masalah, membuat Kyra panik minta ampun. Dia tak takut mati, tapi
Meena tidak abadi.
“Percayalah! Meena tidak
berbohong.” Kyra menerobos antara Kanya dan Meena. Ia membiarkan pedang Kanya
melukainya. Tatapan mata gadis api begitu berani, menatap lurus pada Kanya.
“Buktikan padaku.
Perlihatkan tanda ikatan kalian.” Keyakinan Kanya mulai goyah. Pegangan pada
pedangnya mengendur, keinginan untuk memastikan ucapan kedua gadis di
hadapannya itu mulai menguat.
“Akan kutunjukkan, tapi
tidak di tempat terbuka. Kami masih lemah. Bila ada yang tak sengaja melihat,
nyawa kami akan terancam.” Meena memanfaatkan kesempatan itu untuk bernegosiasi
sebelum Kyra dengan polosnya menunjukkan.
Amara mendengar semua dari
atas. Dia mengangguk, menyetujui syarat Meena. Maka dari itu, Kanya menuruti
keputusan Amara. “Ikut aku!” Dia membawa Meena dan Kyra masuk ke dalam kastil. Tujuan
mereka adalah ruangan di mana Amara berada. Tempat itu segera ditutup setelah
mereka masuk.
“Sekarang tunjukkan.”
“Kalau begitu aku duluan.”
Meena yang maju pertama kali. Ia mengeluarkan sayapnya. Apa yang disebut
sebagai tanda ikatan oleh Kanya.
“Sayap ini ... warna biru
ini,” gumam Amara. Dia hanya sekali melihat, tapi selamanya tak akan bisa ia
lupakan. Entah hanya kebetulan warnanya sama, atau memang itu adalah sayap Raja
Nakula.
“Kamu tahu sayap apa itu?”
Kanya tak tahu. Banyak makhluk di dunia ini yang punya sayap. Beberapa spesies
bentuknya hampir sama. Itulah kenapa terkadang ada yang menganggap Meena
sebagai manusia kelelawar.
“Sayap Raja Nakula, Naga
Angin. Benar?”
“Benar. Aku pengantinnya.”
dirinya sebagai pengantin Naga genit satu itu.
“Bukankah itu artinya,
kamu adalah Ratu kami?” Astaga, Amara tak percaya. Dia bingung sekarang.
Haruskah ia memberi hormat?
“Bukan! Bukan! Aku tak
sudi!” Setelah mengakui, sekarang Meena menyangkal. Dia menghentak-hentakkan
kakinya emosi. Maunya menahan diri, tapi akhirnya tak tahan sendiri.
“Tenanglah, Meena. Nanti
kita dicurigai lagi.” Kyra mencoba membujuk, paham betapa bencinya Meena pada
sang Raja.
“Jadi kalian berbohong?”
Sebenarnya sayap itu telah membuktikan, terlebih Amara yang menilainya, tapi
sikap Meena membuatnya mulai ragu.
“Bukan begitu, Meena hanya
benci pada Yang Mulia. Jadi dia selalu marah-marah dipanggil dengan sebutan
ratu.” Gagal membujuk Meena, Kyra berganti membujuk Kanya. Tawa gadis api
begitu canggung, tetapi tidak meninggalkan kesan buruk sama sekali.
“Baiklah, sekarang
giliranmu.” Karenanya, Kanya memberi mereka satu kesempatan lagi.
“Oh, itu ... aku – Meena,
bagaimana caranya membuktikan tanda ikatanku?” Begitu mau jawab, Kyra sadar
bila dia tak punya anggota tubuh seekor Phoenix. Bagaimana caranya membuktikan?
“Jadi memang kalian
menipu.”
“Siapa yang penipu! Kyra
mendapatkan darah, bagaimana kami membuktikannya! Lagian kau sendiri yang yang
payah. Harusnya kekuatanmu bisa mengenali kami dengan mudah!”
“Kau bilang apa!? Kurang
ajar sekali!”
“Kau yang kurang ajar!
Kecil-kecil banyak lagaknya! Hormati orang yang lebih tua!”
“Tua? Dilihat dari mana
pun kau lebih kecil dari ku!”
“Uh, itu ... sudah dong.”
“Kamu diam saja!”
Kyra mundur, tak bisa
melerai Meena dan Kanya yang mulai ribut. Suaranya selalu kalah oleh kerasnya
suara mereka. Namun, sebenarnya pertengkaran itu merupakan tanda bila mereka
sudah dipercaya. Bila tidak, Kanya pastilah langsung menyerang menggunakan
__ADS_1
senjata.
“Kanya, berhentilah. Umur
minimum untuk menjadi Petualang adalah enam belas tahun. Jadi mereka pasti
lebih tua dari mu.” Sekali Amara yang melerai Kanya langsung berhenti.
Meena menyeringai puas,
senang melihatnya muka kesal Kanya. Meskipun begitu, dengan kehadiran Amara ...
mereka bisa berbicara baik-baik.
Ternyata Kanya adalah anak
angkat Roman. Alasan kenapa mereka membuat kebohongan itu adalah karena Roman
sedang sakit saat ini. Orang-orang kota air menjadi takut akan serangan musuh
saat petarung terbaik mereka tak ada. Maka dari itu, untuk menenangkan penduduk
lokal, mereka mengatakan bila kota mereka mendapatkan perlindungan dari
Kura-kura Hitam karena pengantinnya ada di sini.
Namun ternyata, setelah
kabar itu menyebar ... bukannya tambah aman, kota mereka malah mendapatkan
lebih banyak serangan. Amara tak punya pilihan selain mengumpulkan Petualang
untuk melindungi mereka. Dia mengaku bila dialah pengantinnya agar seluruh perhatian
musuh datang padanya.
“Kanya masih kecil, mana mungkin
aku membiarkan dia dalam bahaya,” ujar Amara kemudian. Dialah yang menyebar kabar
itu. Karenanya, dia ingin bertanggung jawab atas kesalahannya itu.
“Dan kaupikir kamu bisa
melindunginya dengan cara ini? Cepat atau lambat kebohongan kalian akan
ketahuan. Ras binatang buas tingkat tinggi akan bisa membedakan dari jenis sihir
dan bau kalian.” Meena bukannya mau menentang, dia hanya ingin memberitahukan
kalau cara ini tak akan bisa menipu semua orang.
“Jangan menyalahkan kakakku!
Kalian sendiri berkeliaran ke sana kemari tanpa ketahuan! Kenapa kalian yakin
sekali kami akan ketahuan!” Kanya menanggapi reaksi Meena dengan kemarahan. Dia
tumbuh dalam kastil tanpa pernah melihat dunia luar. Musuh yang ia tahu hanyalah
Undead yang selalu menyerang. Gadis kecil itu tidak tahu bila musuh pengantin
binatang mistik adalah seluruh orang yang berambisi mengejar kekuatan.
“Kyra masih lemah, bau Phoenix
dari tubuhnya belum kuat. Beberapa tahun lagi dia pasti tak akan bisa
bersembunyi. Aku juga sudah mati-matian menggunakan alat sihir untuk menekan
kekuatan dan bau Naga dari tubuhku.” Meena yang paling paham bahwa ia tak bisa
bersembunyi selamanya. Bara dan Soli juga tak akan bisa melindungi mereka
setiap saat.
Meena tak bisa menahan
emosinya. Kedua tangannya terkepal erat hanya dengan mengucapkan kenyataan itu.
Rasa takut menguasai, mengingatkan padanya untuk segera berkembang dan menjadi
kuat agar tidak terus menjadi beban.
“Meena, tenanglah. Kamu
tidak sendirian.” Kyra memeluk Meena. Perlahan, ia mulai bisa memahami situasi mereka.
Dia mengerti alasan dari ketakutan yang terus mengejar. Bahkan Kanya saja
sadar, dia hanya berusaha mengabaikannya karena tak ingin membuat Amara cemas.
“Kalau begitu apa mau
kalian sebenarnya?” Kanya rasa, kedatangan Meena dan Kyra bukan hanya untuk
membongkar kebohongannya.
“Kamu lebih kuat dari
kami, jadi ... aku dan Meena ingin bertanya bagaimana caramu menjadi kuat
dengan cepat.” Kyra langsung mengatakan niat kedatangannya.
“Awalnya kami kira
kekuatanmu sudah dibangkitkan, tapi melihat situasi di sini, aku rasa kamu juga
belum bisa membangkitkannya.” Kemudian, Meena menimpali.
Kanya menatap mereka sekilas,
lalu menundukkan kepalanya. “Belum, aku sendiri tak tahu bagaimana cara
membangkitkannya. Hugo bilang kalau aku harus mengumpulkan pengalaman dan
membongkar caranya sendiri. Dia hanya melatihku sebentar dan menghilang setelah
itu.” Kanya bisa begitu kuat karena pasangannya tinggal di kota ini selama
beberapa saat sebelum menghilang. Kura-kura Hitam mewariskan sejumlah jurusnya,
memastikan dia punya kekuatan yang cukup untuk bertahan hidup. Setelahnya dia ditinggalkan.
“Hugo? Kura-Kura Hitam?”
tanya Meena memastikan.
“Iya, itu namanya.” Kanya
mengangguk.
“Kalau begitu kami bisa
bertemu?” Kyra langsung bersemangat. Jika Kura-kura Hitam ada di sini, mereka
mungkin bisa berbicara langsung dengannya.
“Tidak ada. Beliau pergi
tahun lalu.” Sayang sekali, ucapan Amara menghancurkan harapan Kyra.
Benar juga. Nakula tidak
terlalu membantu Meena. Dia hanya menempatkan Soli dan menemui Meena sekali.
Phoenix sendiri juga hanya pernah Kyra temui sekali, setelah itu dia disuruh
pergi. Mungkin memang begitu cara mereka membesarkan pengantinnya. Kyra tak
tahu bagaimana binatang mistik berpikir, makanya dia juga tak bisa sembarangan
menyalahkan.
Selain itu, karena tak
bisa mengingat apa yang membuat dirinya menjadi pengantin Phoenix, Kyra jadi
tak tahu apakah burung api itu adalah musuhnya atau bukan. Ada kemungkinan dia
dipaksa jadi pengantin seperti Meena, tapi bisa jadi dia memang menyetuinya
__ADS_1
seperti Kanya. Sebelum bisa memastikannya, Kyra bertekat untuk tidak akan
pernah mencari Phoenix itu lagi.