Phoenix Bride

Phoenix Bride
Episode 44


__ADS_3

Ketika rombongan Kyra


sampai pada lokasi Bara dan Rhea, ketegangan mereka langsung sirna.


Kekhawatirannya ternyata tidak diperlukan. Penyerangan Bara telah selesai lebih


cepat dan mudah yang ia kira.


“Kalian baik-baik saja?”


Kyra berlari kecil


mendekati Bara, ia tersenyum. Namun, senyumannya pudar saat melihat kerutan di


dahi dan tatapan tak puas Bara.


“Apa terjadi sesuatu?”


Pertanyaan Kyra berubah, menarik perhatian Bara padanya. Kemudian, sang Elf


berujar, “Aku punya firasat buruk. Kita harus meninggalkan hutan ini


secepatnya.”


“Kau menemukan sesuatu?”


tanya Soli.


Bara mengangguk, menatap


kepalan tangannya dengan pandangan tajam. Isi pikirannya penuh dengan dugaan.


Dan dari semua dugaan tersebut, ada satu yang ia rasa paling memungkinkan.


“Bastian pasti pergi ke altar


utama dan kita harus segera mengejarnya.”


“Kalau begitu tunggu


apalagi? Cepat naik,” balas Rhea, seraya menunjuk laba-laba raksasa yang


menjadi tunggangannya.


Mereka semua terdiam


sejenak, sempat tertakjub melihat kendaraan dadakan berbentuk monster


menakutkan yang pernah hampir membunuh mereka belum lama ini.


Kyra mengalihkan


pandangan. Dan Meena menggelengkan kepala kuat-kuat. Mereka berujar bersamaan,


“Tidak, terima kasih.” Kedua gadis itu menolak tawaran naik monster laba-laba


yang dipanggil oleh Rhea. Rasanya tak nyaman dan sedikit menakutkan bagi


mereka.


“Manja sekali. Kalau


begitu kalian terbang saja sana,” balas Kanya acuh tak acuh. Kemudian, gadis


bertampang cuek itu melompat naik ke atas monster laba-laba. Dia duduk santai


di samping Rhea seakan bukan masalah besar. Soli dan Bara menyusul kemudian.


Setuju tanpa perlu berkata-kata apa-apa.


Monster laba-laba itu


terus bergerak, berlari cepat ke arah yang Bara tunjukkan. Meena dan Kyra


sampai tak dapat berkata-kata. Mereka sungguhan ditinggalkan karena terlalu


banyak merengek.


“Argh! Dasar menyebalkan,”


teriak Meena. Kemudian ia melebarkan sayapnya, mengepak dengan kuat mengejar


teman-temannya.


“Jangan marah Meena, aku


akan menemanimu.” Di belakang Meena, Kyra menyusul. Mereka terbang bersama di


atas monster laba-laba yang ditunggangi oleh teman-temannya, membiarkan angin

__ADS_1


dingin menerpa kulit mereka.


Rasanya begitu bebas, Tak


pernah Kyra merasa begitu tak berbeban mengeluarkan sayapnya, terbang bebas


melupakan kenyataan bahwa tak ada manusia normal yang dapat melayang bebas di


atas udara seperti dirinya dan Meena.


Sampai ketika Kyra


mendengar keluhan Meena. Si cebol itu tampak gemetaran, memeluk dirinya sendiri


tak bisa menahan rendahnya suhu angin di daratan tinggi itu.


“Kyra, ayo turun,” ajak


Meena.


“Ah, ok.” Baru Kyra ingat,


bila Meena tak punya tubuh yang dapat membakar terus seperti dirinya. Kasihan


juga, melihat betapa pucatnya kulit gadis bertubuh mungil itu.


Saat mereka berdua


menginjakkan kaki di atas monster laba-laba milik Rhea, Bara tertawa mengejek.


Soli geleng-geleng kepala, seakan sudah tahu kalau Meena tak akan tahan lama


terbang di atas langit dingin Aurora Sea.


“Makanya, jangan banyak


mengeluh.”


“Masih ingin terbang,


Nona?”


“Diam! Diam! Dasar


menyebalkan!”


Kyra hanya tertawa melihat


terganggu oleh sekeliling seakan dirinya hanya sendirian di tempat itu. Kyra jadi


penasaran, apa yang sebenarnya dilihat oleh pandangan misterius Kanya. Namun


sebelum rasa penasaran Kyra terjawab, mereka sudah tiba ke tujuan mereka.


Sebuah gunung gersang dengan suhu begitu rendah yang tak sesuai.


Ekspresi wajah Bara


berubah keras, membuat Kyra dapat menebak tempat apa itu. Inilah tanah


kelahiran Bara. Tempat yang dulunya merupakan gunung es yang kini telah


mencair.


Sekeliling mereka segera


dipenuhi oleh musuh. Keadaan tidak memberi mereka waktu untuk bersiap. Bastian


muncul di depan mereka membawa seluruh bantuan yang bisa ia dapatkan. Sang Elf


Salju menyeringai puas, mempertegas dugaan Bara akan apa yang direncanakan oleh


sepupunya tersebut.


“Jadi kita dijebak,” ujar


Kanya sinis.


“Ya, tapi aku membawa


kalian kemari karena sadar lebih dulu akan jebakan ini.” Bara sudah siap. Dia


tahu Bastian sengaja menjebak mereka datang kemari, dan dia memilih untuk


melemparkan dirinya dan teman-temannya dalam jebakan tersebut.


“Kau sudah gila? Jangan


libatkan bocah-bocah ini kalau kau sudah merasa begitu frustrasi.”

__ADS_1


“Kausalah, Soli. Aku tidak


merasa frustrasi, melainkan percaya pada kekuatan kalian. Kita tak akan kalah


hanya karena jumlah mereka berlipat ganda di sini.”


Bara melompat turun dari


monster laba-laba. Dia mengeluarkan sebuah pedang, diangkat ke depan menunjuk


tepat ke depan wajah Bastian.


“Kau mungkin punya bala


bantuan dan sandera sekarang, tapi kau tetap tak bisa mengalahkanku di sini,


Bastian!”


“Dasar sombong! Memangnya


kau bisa apa tanpa Roh Salju!”


Bastian salah. Bara tidak sendirian.


Dia punya Roh Salju di sisinya, kunci yang dapat membangkitkan kekuatan kuno


yang tersegel dalam darah Bara. Darah dari keturunan langsung raja bangsa Elf


Salju di tanah kelahiran mereka.


Keberadaan Roh Salju itu


kemudian tampak. Es yang melindungi sosok kecil tersebut melayang keluar dari


tas Bara. Terbang ke atas langit, menyerap seluruh kekuatan dari sekitarnya.


Gerakan sang Roh Salju tak terhenti, begitu cepat dan mengejutkan siapa pun


yang melihatnya.


Tak lama kemudian, mata


sang Roh Salju terbuka. Bersama dengan itu, hujan salju jatuh. Sebuah altar raksasa


keluar dari bawah tanah. Terbuat dari es yang dipenuhi oleh begitu bayak batu


mana berelemen air.


Mata Bastian terbelalak


kaget. Tak percaya bila makhluk yang ia segel ratusan tahun lalu berhasil


ditemukan oleh Bara. Ia menjadi panik, tahu bila dengan bangkitnya Roh Salju


itu, maka kekuatan asli Bara pun akan kembali.


“Apa lagi yang kalian


tunggu! Serang mereka! Hancurkan altar es dan musnahkan Roh Salju itu!”


perintah Bastian.


Para Undead berseru penuh


semangat, menyebar mengejarkan segala perintah Bastian. Bara pun tak mau kalah,


dia segera bergerak menghadapi musuh-musuhnya.


“Rhea, lindungi Roh Salju


hingga ia terbangun sepenuhnya!” Hanya satu tugas Rhea, tugas paling sulit yang


akan menentukan akhir pertempuran mereka saat ini. Rhea pun paham. Makanya dia


tak berkata apa pun. Hanya memerintahkan monsternya berjaga, menemaninya


menghancurkan siapa pun yang berani mendekatinya. Sedangkan Bara telah berlari


ke depan, mengejar Bastian dengan seluruh yang ia punya. Tujuannya adalah untuk


memastikan si pengkhianat kembali ke tanah.


Melihat keadaan yang


berubah drastis, teman-teman Bara pun segera bergerak sendiri mengikuti kata


hatinya. Di mana ada lawan, di sanalah mereka bertarung. Kecuali Kyra, gadis


api yang saat ini telah menghilang dari medan pertempuran tanpa diketahui oleh

__ADS_1


siapa pun ke mana dan kapan ia pergi meninggalkan tempat itu.


__ADS_2