
Ketika rombongan Kyra
sampai pada lokasi Bara dan Rhea, ketegangan mereka langsung sirna.
Kekhawatirannya ternyata tidak diperlukan. Penyerangan Bara telah selesai lebih
cepat dan mudah yang ia kira.
“Kalian baik-baik saja?”
Kyra berlari kecil
mendekati Bara, ia tersenyum. Namun, senyumannya pudar saat melihat kerutan di
dahi dan tatapan tak puas Bara.
“Apa terjadi sesuatu?”
Pertanyaan Kyra berubah, menarik perhatian Bara padanya. Kemudian, sang Elf
berujar, “Aku punya firasat buruk. Kita harus meninggalkan hutan ini
secepatnya.”
“Kau menemukan sesuatu?”
tanya Soli.
Bara mengangguk, menatap
kepalan tangannya dengan pandangan tajam. Isi pikirannya penuh dengan dugaan.
Dan dari semua dugaan tersebut, ada satu yang ia rasa paling memungkinkan.
“Bastian pasti pergi ke altar
utama dan kita harus segera mengejarnya.”
“Kalau begitu tunggu
apalagi? Cepat naik,” balas Rhea, seraya menunjuk laba-laba raksasa yang
menjadi tunggangannya.
Mereka semua terdiam
sejenak, sempat tertakjub melihat kendaraan dadakan berbentuk monster
menakutkan yang pernah hampir membunuh mereka belum lama ini.
Kyra mengalihkan
pandangan. Dan Meena menggelengkan kepala kuat-kuat. Mereka berujar bersamaan,
“Tidak, terima kasih.” Kedua gadis itu menolak tawaran naik monster laba-laba
yang dipanggil oleh Rhea. Rasanya tak nyaman dan sedikit menakutkan bagi
mereka.
“Manja sekali. Kalau
begitu kalian terbang saja sana,” balas Kanya acuh tak acuh. Kemudian, gadis
bertampang cuek itu melompat naik ke atas monster laba-laba. Dia duduk santai
di samping Rhea seakan bukan masalah besar. Soli dan Bara menyusul kemudian.
Setuju tanpa perlu berkata-kata apa-apa.
Monster laba-laba itu
terus bergerak, berlari cepat ke arah yang Bara tunjukkan. Meena dan Kyra
sampai tak dapat berkata-kata. Mereka sungguhan ditinggalkan karena terlalu
banyak merengek.
“Argh! Dasar menyebalkan,”
teriak Meena. Kemudian ia melebarkan sayapnya, mengepak dengan kuat mengejar
teman-temannya.
“Jangan marah Meena, aku
akan menemanimu.” Di belakang Meena, Kyra menyusul. Mereka terbang bersama di
atas monster laba-laba yang ditunggangi oleh teman-temannya, membiarkan angin
__ADS_1
dingin menerpa kulit mereka.
Rasanya begitu bebas, Tak
pernah Kyra merasa begitu tak berbeban mengeluarkan sayapnya, terbang bebas
melupakan kenyataan bahwa tak ada manusia normal yang dapat melayang bebas di
atas udara seperti dirinya dan Meena.
Sampai ketika Kyra
mendengar keluhan Meena. Si cebol itu tampak gemetaran, memeluk dirinya sendiri
tak bisa menahan rendahnya suhu angin di daratan tinggi itu.
“Kyra, ayo turun,” ajak
Meena.
“Ah, ok.” Baru Kyra ingat,
bila Meena tak punya tubuh yang dapat membakar terus seperti dirinya. Kasihan
juga, melihat betapa pucatnya kulit gadis bertubuh mungil itu.
Saat mereka berdua
menginjakkan kaki di atas monster laba-laba milik Rhea, Bara tertawa mengejek.
Soli geleng-geleng kepala, seakan sudah tahu kalau Meena tak akan tahan lama
terbang di atas langit dingin Aurora Sea.
“Makanya, jangan banyak
mengeluh.”
“Masih ingin terbang,
Nona?”
“Diam! Diam! Dasar
menyebalkan!”
Kyra hanya tertawa melihat
terganggu oleh sekeliling seakan dirinya hanya sendirian di tempat itu. Kyra jadi
penasaran, apa yang sebenarnya dilihat oleh pandangan misterius Kanya. Namun
sebelum rasa penasaran Kyra terjawab, mereka sudah tiba ke tujuan mereka.
Sebuah gunung gersang dengan suhu begitu rendah yang tak sesuai.
Ekspresi wajah Bara
berubah keras, membuat Kyra dapat menebak tempat apa itu. Inilah tanah
kelahiran Bara. Tempat yang dulunya merupakan gunung es yang kini telah
mencair.
Sekeliling mereka segera
dipenuhi oleh musuh. Keadaan tidak memberi mereka waktu untuk bersiap. Bastian
muncul di depan mereka membawa seluruh bantuan yang bisa ia dapatkan. Sang Elf
Salju menyeringai puas, mempertegas dugaan Bara akan apa yang direncanakan oleh
sepupunya tersebut.
“Jadi kita dijebak,” ujar
Kanya sinis.
“Ya, tapi aku membawa
kalian kemari karena sadar lebih dulu akan jebakan ini.” Bara sudah siap. Dia
tahu Bastian sengaja menjebak mereka datang kemari, dan dia memilih untuk
melemparkan dirinya dan teman-temannya dalam jebakan tersebut.
“Kau sudah gila? Jangan
libatkan bocah-bocah ini kalau kau sudah merasa begitu frustrasi.”
__ADS_1
“Kausalah, Soli. Aku tidak
merasa frustrasi, melainkan percaya pada kekuatan kalian. Kita tak akan kalah
hanya karena jumlah mereka berlipat ganda di sini.”
Bara melompat turun dari
monster laba-laba. Dia mengeluarkan sebuah pedang, diangkat ke depan menunjuk
tepat ke depan wajah Bastian.
“Kau mungkin punya bala
bantuan dan sandera sekarang, tapi kau tetap tak bisa mengalahkanku di sini,
Bastian!”
“Dasar sombong! Memangnya
kau bisa apa tanpa Roh Salju!”
Bastian salah. Bara tidak sendirian.
Dia punya Roh Salju di sisinya, kunci yang dapat membangkitkan kekuatan kuno
yang tersegel dalam darah Bara. Darah dari keturunan langsung raja bangsa Elf
Salju di tanah kelahiran mereka.
Keberadaan Roh Salju itu
kemudian tampak. Es yang melindungi sosok kecil tersebut melayang keluar dari
tas Bara. Terbang ke atas langit, menyerap seluruh kekuatan dari sekitarnya.
Gerakan sang Roh Salju tak terhenti, begitu cepat dan mengejutkan siapa pun
yang melihatnya.
Tak lama kemudian, mata
sang Roh Salju terbuka. Bersama dengan itu, hujan salju jatuh. Sebuah altar raksasa
keluar dari bawah tanah. Terbuat dari es yang dipenuhi oleh begitu bayak batu
mana berelemen air.
Mata Bastian terbelalak
kaget. Tak percaya bila makhluk yang ia segel ratusan tahun lalu berhasil
ditemukan oleh Bara. Ia menjadi panik, tahu bila dengan bangkitnya Roh Salju
itu, maka kekuatan asli Bara pun akan kembali.
“Apa lagi yang kalian
tunggu! Serang mereka! Hancurkan altar es dan musnahkan Roh Salju itu!”
perintah Bastian.
Para Undead berseru penuh
semangat, menyebar mengejarkan segala perintah Bastian. Bara pun tak mau kalah,
dia segera bergerak menghadapi musuh-musuhnya.
“Rhea, lindungi Roh Salju
hingga ia terbangun sepenuhnya!” Hanya satu tugas Rhea, tugas paling sulit yang
akan menentukan akhir pertempuran mereka saat ini. Rhea pun paham. Makanya dia
tak berkata apa pun. Hanya memerintahkan monsternya berjaga, menemaninya
menghancurkan siapa pun yang berani mendekatinya. Sedangkan Bara telah berlari
ke depan, mengejar Bastian dengan seluruh yang ia punya. Tujuannya adalah untuk
memastikan si pengkhianat kembali ke tanah.
Melihat keadaan yang
berubah drastis, teman-teman Bara pun segera bergerak sendiri mengikuti kata
hatinya. Di mana ada lawan, di sanalah mereka bertarung. Kecuali Kyra, gadis
api yang saat ini telah menghilang dari medan pertempuran tanpa diketahui oleh
__ADS_1
siapa pun ke mana dan kapan ia pergi meninggalkan tempat itu.