
Tadinya Kyra ingin
membantu Bara ketika ia melihat Elf itu melompat turun dari tunggangan monster
laba-laba. Akan tetapi, sebuah suara samar terdengar dari kejauhan mengalihkan
perhatiannya. Ia merasa seperti terpanggil, tak dapat menolak suara sayup yang
menariknya meninggalkan teman-temannya.
Ketika Kyra sadar, ia
telah berada dalam ruangan tertutup di dalam tanah. Sebuah gua alami berisikan
batu mana di sekeliling dindingnya. Namun, bukan pemandangan indah itu yang
membuatnya tertegun. Melainkan sejumlah Wraith – sejenis hantu berbentuk
kerangka berbungkus kain hitam mirip mantel yang memiliki kemampuan menggunakan
sihir, melayang-layang di dalam gua.
Kyra menelan ludah, mundur
perlahan mencari tempat persembunyian sambil berharap sekumpulan hantu itu
tidak menyadari kedatangannya, tapi harapannya tidak terkabul. Sebuah batu
kecil tak sengaja ia tendang, mengeluarkan suara menggema yang membuat para
Wraith mengalihkan perhatian padanya.
“Tangkap penyusup itu,”
ucap salah satu Wraith yang membawa tongkat besar. Kemungkinan merupakan
pemimpin mereka di sana.
“Ugh, aku kurang
beruntung!” Refleks, Kyra berlari kembali ke arah dia datang. Rasa penasarannya
kalah akan keinginan untuk melarikan diri. Dia mungkin percaya diri dengan
kekuatannya, tapi dia tak tahu apakah serangan biasa dapat melukai makhluk tanpa
fisik di hadapannya itu atau tidak.
Sayangnya musuh ada di
mana-mana. Makhluk itu dapat menembus dinding, keluar dari arah depan dan kedua
sisi Kyra untuk menyergapnya. Kyra menarik keluar cambuk yang melingkar di
pinggangnya. Dia mengayunkan cambuk itu mengelilingi tubuhnya, menabrak
sekumpulan Wraith tersebut.
Kyra pikir, setidaknya dia
dapat mendorong mereka mundur untuk memberinya waktu mempersiapkan serangan
lain. Namun nyatanya, cambuk Kyra menembus tubuh lawannya. Ia benar tentang
satu hal, serangan fisik tak berarti di hadapan makhluk yang hanya memiliki
jiwa saja. Karenanya, Kyra tak dapat melukai mereka. Sedangkan lawannya bebas
menyerangnya, menyerbu Kyra dengan tiupan napas dingin yang membekukan udara di
sekitar mereka.
“Argh!” Kyra menjerit,
meringis merasakan dinginnya udara menyusup masuk dari pori-pori kulitnya. Pada
saat itulah, sebuah suara terdengar kembali. Bertiup dari arah belakang, seakan
tengah berbisik padanya.
“Gunakan sihir, kamu bisa
membakar jiwa mereka, Kyra.” Suara itu terasa familier, tapi terlalu pelan
untuk Kyra kenali. Gadis itu hanya bisa percaya pada hatinya untuk memercayai
suara samar yang menuntunnya kemari.
“Kuharap ini bukan
__ADS_1
jebakan,” gumam Kyra.
Kyra memejamkan matanya
sejenak. Kemudian membuka kelopak matanya kembali setelah mengumpulkan tekat.
Ia menyimpan kembali cambuknya, memutuskan untuk membakar seluruh tubuhnya. Setelah
itu api mulai menyebar, menyebabkan ledakan beruntun setiap kali Kyra
menabrakkan kedua kepalan tangannya. Tiupan api Kyra menunjukkan reaksi yang ia
harapkan.
Para Wraith terlihat
takut, refleks bergerak menjauhi Kyra. Asal suara itu tidak jelas, tapi kini
Kyra tahu bila orang yang memanggilnya berada di pihaknya. Kepercayaan diri
Kyra kembali. Ia tersenyum puas, berbalik mengejar para hantu dengan gerakan
indah layaknya tengah menari dalam lautan api. Semua jiwa penasaran itu
terbakar habis. Begitu juga dengan bebatuan yang memenuhi gua. Apinya ia padamkan
ketika oksigen di dalam sana habis nyaris, tapi tak apa. Lawan Kyra pun sudah
tidak ada lagi yang tersisa.
Begitu yakin hanya ada
dirinya sendiri di sana, Kyra memutuskan untuk berjalan masuk lebih dalam. Ia
ingin memeriksa sendiri siapa sebenarnya orang yang memanggilnya dari dalam
sana.
“Apa ada orang di dalam?”
seru Kyra.
Tak ada jawaban. Hanya ada
suara langkah kaki Kyra yang memenuhi seluruh gua. Semakin ke dalam,
tambahan. Banyaknya batu mana yang memenuhi dinding bukan hanya membuat gua
menjadi terang, tetapi juga terasa panas seperti di dalam pemanggang roti.
Kyra mulai merasa waswas,
tak mengerti kenapa semua batu mana di dalam gua itu berelemenkan api. Padahal
jelas-jelas mereka berada di tanah beku, dataran salju di mana pengguna sihir
api nyaris tak dapat ditemukan. Rasanya tak nyata, bisa menemukan begitu banyak
batu mana api di tempat tak ada panas bumi alami.
“Halo!!! Ada yang bisa
mendengarku?” teriak Kyra sekali lagi.
Namun, tetap tak ada
jawaban apa pun hingga ia tiba ke bagian terdalam gua. Sebuah ruangan bundar
terbuat dari batu mana.
Apa yang kemudian ia
temukan di akhir gua itu membuat mulut Kyra terbungkam. Ia berjongkok, mencoba
meraih sebuah cahaya biru di lantai batu mana tersebut. Saat cahaya itu
menyentuh kulit Kyra, ia segera mengenali rasa familier yang mengganggu
pikirannya dari tadi.
“Apa ini kamu?”
Kyra sedikit bingung,
dengan nama apa ia harus memanggil sang Phoenix dalam bentuk yang lain.
Terlebih yang berada di tangannya bukanlah burung api biru yang ia cari. Bukan
juga Letnan kesayangan yang selalu menolongnya.
__ADS_1
“Boleh kupanggil Alexi?
Apa kamu mengerti perkataanku?”
Kyra hanya bisa mencoba
berkomunikasi. Berharap dapat memahami apa yang berada di tangannya itu dan
bagaimana caranya untuk menolong bentuk kehidupan kecil yang tak dapat ia
pahami.
“Aku bukan dia. Aku bahkan
bukan makhluk hidup.”
Betapa senangnya Kyra,
ternyata dia tidak bertingkah bodoh. Cahaya api biru itu dapat berbicara.
Meskipun suaranya tidak terdengar langsung seperti percakapan dua orang makhluk
hidup. Melainkan hanya seperti tiupan angin yang langsung masuk ke benak Kyra. Layaknya
telepati atau sejenisnya.
“Tapi aku merasakan
getaran jiwa yang sama dengannya ... apa mungkin kamu punya nama lain?”
“Sudah kukatakan, aku
bukan makhluk hidup.”
Belum lagi Kyra sempat
bertanya kembali, cahaya api itu telah bertiup masuk ke dalam mulutnya. Ia
memaksa Kyra menelannya, meleleh bersama, menyatu dengan api di dalam tubuh
Kyra. Setelah itu, segala kebingungan Kyra terjawab. Api itu adalah pecahan
kesadaran dan ingatan dari burung api biru yang ia cari. Entah bagaimana sang
Phoenix dapat memisahkan dan menyimpannya di sini. Dan kini, semua yang
tersimpan di dalamnya telah menjadi milik Kyra. Pengetahuan, ingatan dan
kekuatan dari belahan jiwanya.
“Batu-batu mana itu harus
kuambil kembali.” Itulah hal pertama yang terpikir oleh Kyra. Sebab, kini ia
mengerti kenapa begitu banyak batu mana api di sini. Karena ternyata, batu mana
itu lahir dari kekuatan api kecil tersebut.
Selama ini Bastian tidak
tahu dari mana datangnya batu mana itu. Ia hanya memanfaatkannya,
menggunakannya sebagai energi untuk mengaktifkan altar yang ia bangun. Makanya
Kyra ingin mengambilnya kembali. Agar peninggalan burung api biru tak
disalahgunakan oleh musuh mereka.
Sekali lagi, Kyra membakar
seluruh gua. Namun kali ini, seluruh batu mana ia bakar habis, meleleh dan menyatu
ke dalam tubuhnya. Kekuatannya bertambah dua kali lipat dengan cepat, semakin
mendekati ekstensi yang tidak nyata.
“Sekarang aku harus
kembali ke teman-temanku.”
Usai urusannya selesai di
dalam sana, Kyra segera berlari keluar. Dia tak tahu apa yang terjadi, tapi
suara berisik di atas sana cukup membuatnya mengerti bila pertempuran tengah
berlangsung. Dan ia harap, dia tidak terlambat untuk bergabung bersama dengan
mereka.
__ADS_1