Phoenix Bride

Phoenix Bride
Episode 45


__ADS_3

Tadinya Kyra ingin


membantu Bara ketika ia melihat Elf itu melompat turun dari tunggangan monster


laba-laba. Akan tetapi, sebuah suara samar terdengar dari kejauhan mengalihkan


perhatiannya. Ia merasa seperti terpanggil, tak dapat menolak suara sayup yang


menariknya meninggalkan teman-temannya.


Ketika Kyra sadar, ia


telah berada dalam ruangan tertutup di dalam tanah. Sebuah gua alami berisikan


batu mana di sekeliling dindingnya. Namun, bukan pemandangan indah itu yang


membuatnya tertegun. Melainkan sejumlah Wraith – sejenis hantu berbentuk


kerangka berbungkus kain hitam mirip mantel yang memiliki kemampuan menggunakan


sihir, melayang-layang di dalam gua.


Kyra menelan ludah, mundur


perlahan mencari tempat persembunyian sambil berharap sekumpulan hantu itu


tidak menyadari kedatangannya, tapi harapannya tidak terkabul. Sebuah batu


kecil tak sengaja ia tendang, mengeluarkan suara menggema yang membuat para


Wraith mengalihkan perhatian padanya.


“Tangkap penyusup itu,”


ucap salah satu Wraith yang membawa tongkat besar. Kemungkinan merupakan


pemimpin mereka di sana.


“Ugh, aku kurang


beruntung!” Refleks, Kyra berlari kembali ke arah dia datang. Rasa penasarannya


kalah akan keinginan untuk melarikan diri. Dia mungkin percaya diri dengan


kekuatannya, tapi dia tak tahu apakah serangan biasa dapat melukai makhluk tanpa


fisik di hadapannya itu atau tidak.


Sayangnya musuh ada di


mana-mana. Makhluk itu dapat menembus dinding, keluar dari arah depan dan kedua


sisi Kyra untuk menyergapnya. Kyra menarik keluar cambuk yang melingkar di


pinggangnya. Dia mengayunkan cambuk itu mengelilingi tubuhnya, menabrak


sekumpulan Wraith tersebut.


Kyra pikir, setidaknya dia


dapat mendorong mereka mundur untuk memberinya waktu mempersiapkan serangan


lain. Namun nyatanya, cambuk Kyra menembus tubuh lawannya. Ia benar tentang


satu hal, serangan fisik tak berarti di hadapan makhluk yang hanya memiliki


jiwa saja. Karenanya, Kyra tak dapat melukai mereka. Sedangkan lawannya bebas


menyerangnya, menyerbu Kyra dengan tiupan napas dingin yang membekukan udara di


sekitar mereka.


“Argh!” Kyra menjerit,


meringis merasakan dinginnya udara menyusup masuk dari pori-pori kulitnya. Pada


saat itulah, sebuah suara terdengar kembali. Bertiup dari arah belakang, seakan


tengah berbisik padanya.


“Gunakan sihir, kamu bisa


membakar jiwa mereka, Kyra.” Suara itu terasa familier, tapi terlalu pelan


untuk Kyra kenali. Gadis itu hanya bisa percaya pada hatinya untuk memercayai


suara samar yang menuntunnya kemari.


“Kuharap ini bukan

__ADS_1


jebakan,” gumam Kyra.


Kyra memejamkan matanya


sejenak. Kemudian membuka kelopak matanya kembali setelah mengumpulkan tekat.


Ia menyimpan kembali cambuknya, memutuskan untuk membakar seluruh tubuhnya. Setelah


itu api mulai menyebar, menyebabkan ledakan beruntun setiap kali Kyra


menabrakkan kedua kepalan tangannya. Tiupan api Kyra menunjukkan reaksi yang ia


harapkan.


Para Wraith terlihat


takut, refleks bergerak menjauhi Kyra. Asal suara itu tidak jelas, tapi kini


Kyra tahu bila orang yang memanggilnya berada di pihaknya. Kepercayaan diri


Kyra kembali. Ia tersenyum puas, berbalik mengejar para hantu dengan gerakan


indah layaknya tengah menari dalam lautan api. Semua jiwa penasaran itu


terbakar habis. Begitu juga dengan bebatuan yang memenuhi gua. Apinya ia padamkan


ketika oksigen di dalam sana habis nyaris, tapi tak apa. Lawan Kyra pun sudah


tidak ada lagi yang tersisa.


Begitu yakin hanya ada


dirinya sendiri di sana, Kyra memutuskan untuk berjalan masuk lebih dalam. Ia


ingin memeriksa sendiri siapa sebenarnya orang yang memanggilnya dari dalam


sana.


“Apa ada orang di dalam?”


seru Kyra.


Tak ada jawaban. Hanya ada


suara langkah kaki Kyra yang memenuhi seluruh gua. Semakin ke dalam,


tambahan. Banyaknya batu mana yang memenuhi dinding bukan hanya membuat gua


menjadi terang, tetapi juga terasa panas seperti di dalam pemanggang roti.


Kyra mulai merasa waswas,


tak mengerti kenapa semua batu mana di dalam gua itu berelemenkan api. Padahal


jelas-jelas mereka berada di tanah beku, dataran salju di mana pengguna sihir


api nyaris tak dapat ditemukan. Rasanya tak nyata, bisa menemukan begitu banyak


batu mana api di tempat tak ada panas bumi alami.


“Halo!!! Ada yang bisa


mendengarku?” teriak Kyra sekali lagi.


Namun, tetap tak ada


jawaban apa pun hingga ia tiba ke bagian terdalam gua. Sebuah ruangan bundar


terbuat dari batu mana.


Apa yang kemudian ia


temukan di akhir gua itu membuat mulut Kyra terbungkam. Ia berjongkok, mencoba


meraih sebuah cahaya biru di lantai batu mana tersebut. Saat cahaya itu


menyentuh kulit Kyra, ia segera mengenali rasa familier yang mengganggu


pikirannya dari tadi.


“Apa ini kamu?”


Kyra sedikit bingung,


dengan nama apa ia harus memanggil sang Phoenix dalam bentuk yang lain.


Terlebih yang berada di tangannya bukanlah burung api biru yang ia cari. Bukan


juga Letnan kesayangan yang selalu menolongnya.

__ADS_1


“Boleh kupanggil Alexi?


Apa kamu mengerti perkataanku?”


Kyra hanya bisa mencoba


berkomunikasi. Berharap dapat memahami apa yang berada di tangannya itu dan


bagaimana caranya untuk menolong bentuk kehidupan kecil yang tak dapat ia


pahami.


“Aku bukan dia. Aku bahkan


bukan makhluk hidup.”


Betapa senangnya Kyra,


ternyata dia tidak bertingkah bodoh. Cahaya api biru itu dapat berbicara.


Meskipun suaranya tidak terdengar langsung seperti percakapan dua orang makhluk


hidup. Melainkan hanya seperti tiupan angin yang langsung masuk ke benak Kyra. Layaknya


telepati atau sejenisnya.


“Tapi aku merasakan


getaran jiwa yang sama dengannya ... apa mungkin kamu punya nama lain?”


“Sudah kukatakan, aku


bukan makhluk hidup.”


Belum lagi Kyra sempat


bertanya kembali, cahaya api itu telah bertiup masuk ke dalam mulutnya. Ia


memaksa Kyra menelannya, meleleh bersama, menyatu dengan api di dalam tubuh


Kyra. Setelah itu, segala kebingungan Kyra terjawab. Api itu adalah pecahan


kesadaran dan ingatan dari burung api biru yang ia cari. Entah bagaimana sang


Phoenix dapat memisahkan dan menyimpannya di sini. Dan kini, semua yang


tersimpan di dalamnya telah menjadi milik Kyra. Pengetahuan, ingatan dan


kekuatan dari belahan jiwanya.


“Batu-batu mana itu harus


kuambil kembali.” Itulah hal pertama yang terpikir oleh Kyra. Sebab, kini ia


mengerti kenapa begitu banyak batu mana api di sini. Karena ternyata, batu mana


itu lahir dari kekuatan api kecil tersebut.


Selama ini Bastian tidak


tahu dari mana datangnya batu mana itu. Ia hanya memanfaatkannya,


menggunakannya sebagai energi untuk mengaktifkan altar yang ia bangun. Makanya


Kyra ingin mengambilnya kembali. Agar peninggalan burung api biru tak


disalahgunakan oleh musuh mereka.


Sekali lagi, Kyra membakar


seluruh gua. Namun kali ini, seluruh batu mana ia bakar habis, meleleh dan menyatu


ke dalam tubuhnya. Kekuatannya bertambah dua kali lipat dengan cepat, semakin


mendekati ekstensi yang tidak nyata.


“Sekarang aku harus


kembali ke teman-temanku.”


Usai urusannya selesai di


dalam sana, Kyra segera berlari keluar. Dia tak tahu apa yang terjadi, tapi


suara berisik di atas sana cukup membuatnya mengerti bila pertempuran tengah


berlangsung. Dan ia harap, dia tidak terlambat untuk bergabung bersama dengan


mereka.

__ADS_1


__ADS_2