
Karena Kyra disita oleh
Alexi, Meena dan Kanya terbengkalai. Sudah begitu Bara dan Soli menghilang
membawa Rhea. Katanya sih ingin berlatih, tapi mana kedua gadis itu percaya.
Kan laki-laki tua – Bara suka main rahasia-rahasiaan dengannya.
“Mereka semua seenaknya
sendiri!” keluh Meena.
Si cebol berjalan sambil
menghentak-hentakkan kaki. Ceritanya sedang menemani Kanya menjelajahi bukit di
dekat perkemahan. Apa yang dicari oleh Roh Air itu pun tidak ia ketahui.
Soalnya Kanya hanya bilang bila dia merasakan suatu kekuatan familier dari arah
bukit.
“Biarkan saja mereka.
Jalan lebih cepat, Meena. Kita sudah dekat.”
Sebaliknya, Kanya begitu
tenang dan cuek. Dia tak peduli apakah mereka berkelompok atau tidak. Tujuan
hidupnya jelas dan satu-satunya alasan kenapa dia melakukan perjalanan dengan
mereka hanya karena kebetulan Kyra dan Meena senasib dengannya.
“Memangnya apa yang
kaucari sih!”
“Tidak tahu, tapi aku
yakin apa pun itu yang mengeluarkan aura sejenis ini pastilah berhubungan
dengan bangsa Peri.”
“Jangan-jangan Peri Mimpi
memang ada di sini?”
Mereka sudah tidak membutuhkan
Peri Mimpi lagi, tapi bila memang bisa menemukannya, kenapa tidak? Bangsa Peri
merupakan keberadaan yang murni. Apa pun jenisnya tidak masalah. Karena
asal-muasal bangsa Peri adalah dari Aurora Sea, kampung halaman Kanya dan Bara.
“Kita akan tahu setelah
melihatnya sendiri. Ke arah sini,” balas Kanya.
Meena melompati batu-batu
di sekitar kakinya, mengejar Kanya seperti anak kecil yang sedang bermain. Dia
berhenti di depan sebuah mulut gua karena Kanya berhenti terlebih dahulu.
“Kenapa?” tanya Meena.
“Apa ada bahaya?”
“Tidak.”
Bukan bahaya. Melainkan
aura yang ia rasakan terlalu lemah bahkan untuk ukuran Peri tingkat rendah
sekalipun. Firasat Kanya jadi tak enak, cemas bahwa Peri yang akan mereka
temukan sudah tak memiliki daya hidup.
“Ayo masuk.”
“Apaan sih, aneh sekali.”
Tingkah Kanya tak jelas.
Tadi berhenti, sekarang berlari tiba-tiba. Meena sebal tahu. Mau ditinggal tak
tega, ikut juga jadi malas.
Akhirnya Meena tetap
menyusul Kanya masuk ke dalam. Gua itu tidak dalam, tetapi agak aneh. Udara di
daerah ini cukup hangat, tetapi bagian dalam gua sepenuhnya tertutup oleh
kristal es.
Saat Meena ingin menyentuh
kristal es tersebut, Kanya menahan tangan Meena. Ia menggeleng, melarang Meena
menyentuhnya.
“Bukan Peri. Apa yang
tertidur di sini adalah Roh Salju,” jelas Kanya.
“Roh Salju? Apa itu?
Sesuatu sejenismu?” Tampang Meena berubah bingung. Dia tak tahu ada yang
namanya Roh Salju. Kalau Roh Air sih ada, itu tepat di sampingnya.
“Bara tahu lebih banyak.
Kita harus membawanya pada Bara.” Sedangkan Kanya begitu serius. Ia
berhati-hati mendekati tengah gua di mana sesosok makhluk kecil mirip Peri itu
tertidur. Kemudian dia mengangkat sebuah kristal berwarna biru besar yang
menjadi tempat tidur Roh Salju.
“Dia sejenis Elf juga?”
Bukannya Bara itu Elf Salju? Mungkin mereka masih termasuk saudara jauh.
“Setahuku, Roh Salju adalah
pelindung bangsa Elf Salju. Dia tidak berasal dari sini.” Selain itu, hidup dan
matinya Roh Salju sama saja dengan hidup dan matinya seluruh bangsa Elf Salju.
Dia punya kekuatan untuk membangkitkan yang mati dan membangun kembali apa yang
hancur di tanah bangsa Elf Salju.
Namun, Kanya tak berani
mengungkapnya dengan suara keras. Karena dia sendiri tak yakin sampai di mana
__ADS_1
kebenaran informasi yang sebenarnya. Sebab, hanya secuil dari bangsa Elf Salju
yang mengetahui kebenaran akan Roh Salju.
***
Malam hari, saat
teman-temannya telah kembali ke perkemahan, Kanya mengumpulkan mereka dalam
satu pondok untuk menunjukkan Roh Salju yang mereka temukan tadi siang.
“Peri beku?” Kyra
menatapnya lekat-lekat. Baru pertama kali melihat sosok kecil cantik dengan
sayap transparan yang mencolok. Tangannya juga ikut mendekat, penasaran ingin
menyentuh sosok kecil itu.
Ekspresi wajah Bara
langsung berubah pucat. Refleks ia mendorong kepala Kyra menjauh. Reaksi Bara
tersebut membuat Kyra kaget. Dia menurunkan tangan Bara dari wajahnya.
“Jangan terlalu dekat.
Apimu akan melelehkannya.” Belum sempat Kyra bertanya, Bara telah menjawab. Kyra
langsung mundur sejauhnya dari Kanya dan Roh Salju itu. Takut bila ia tak
sengaja melelehkannya.
“Memangnya itu apa?”
Sepertinya penting sekali buat Bara.
“Roh Salju ini adalah
harapan bangsaku. Sejak awal, kedatanganku ke Kerajaan Draco adalah untuk
mencarinya.” Tak Bara sangka, pencarian selama ratusan tahun yang sia-sia itu,
bisa berbalik begitu saja hanya karena kebetulan Kanya menemukannya.
Seseorang menculik Roh
Salju dari altar kerjaannya. Itulah kenapa bangsa Elf Salju bisa hancur hanya
karena serangan Undead. Usut diusut, mereka menemukan petunjuk bila orang itu
membawa Roh Salju ke Kerajaan Draco, tapi setelah itu semua petunjuk hilang
begitu saja.
Apa yang sebenarnya
terjadi dan kenapa Roh Salju itu tertidur secara tak wajar tak bisa lagi mereka
ketahui. Namun, Bara tahu cara untuk membangunkannya dan untuk itu, mereka
harus pergi ke Aurora Sea.
“Lalu apa yang ingin
kaulakukan, Elf tua?”
Meena bisa melihat bila
fokus Bara sudah beralih. Bisa jadi malah Bara berniat berpisah dengan mereka
karena telah memiliki tujuannya tersendiri. Hanya tinggal sehari lagi dari
harap, Bara tidak mendadak berkata ingin berpisah begitu mereka keluar dari
lapisan pelindung.
“Kembali ke Aurora Sea.
Aku tak tahu apakah kalian mau ikut atau tidak, tapi aku tak akan berubah
pikiran apa pun yang terjadi.” Bara tak tahu berapa lama lagi Roh Salju itu
bisa bertahan. Dia harus membawanya kembali ke altar sebelum sisa aura terakhir
Roh Salju lenyap.
“Kami akan ikut. Daripada
berkeliaran tak jelas, pergi ke kampung halamanmu lebih jelas. Kanya juga
berasal dari sana. Jadi kenapa tidak?” Kyra langsung setuju. Pencariannya tak
ada petunjuk. Di saat yang sama, Bara menemukan solusi dari masalahnya. Kenapa
mereka tidak membantu Bara dulu, baru setelah itu mencari informasi untuk
dirinya sendiri.
“Aku setuju. Tanah di
Aurora Sea bisa meningkatkan kekuatan pengguna sihir air dan es. Secara alami
tempat itu adalah surga bagiku dan Bara.” Kanya juga setuju. Sisanya hanya
Meena yang memutuskan. Soli tak perlu ditanya. Dia akan ikut ke mana pun Meena
pergi.
“Kalian sudah putuskan
sendiri. Untuk apa menatapku seperti itu? Mau pergi ya pergi. Ke mana pun sama
saja. Aku hanya mau berlatih.” Cara berbicara Meena tak manis sih, kurang bisa
jujur mengakui bila sejak awal dia memang sudah berniat mengikuti mereka ke
mana pun tujuannya.
“Karena Nona Meena sudah
setuju, aku tak akan mengatakan apa pun,” ujar Soli.
Bara tersenyum tipis,
merasa senang mendapatkan dukungan penuh teman-temannya. Dia hanya tak
mengucapnya secara langsung, tapi semua orang mengerti akan hal itu kecuali
Rhea.
“Aku tak ingin pergi ke
tempat dingin dan berair seperti itu.” Siluman rubah itu bersedekap, mendengus
tak senang. Seluruh elemen sihirnya merupakan elemen paling lemah terhadap
udara di Aurora Sea. Pergi ke tempat seperti itu sama saja dengan menekan
setidaknya 40% kekuatannya. Belum lagi ada kontrak budak yang mengikatnya.
__ADS_1
“Tidak ada yang bertanya
padamu. Ingatlah, kau adalah budak kami,” balas Soli, mengingatkan.
Bahkan bila para gadis
pengantin merasa kasihan pada Rhea, mereka tidak melakukan apa pun untuk
membelanya. Siluman rubah itu yang terlebih dulu ingin mencelakai mereka. Apa
yang dia dapatkan saat ini adalah karma dari perbuatannya dulu.
“Akan kubatalkan kontrak
budakmu bila kau berhenti mempersulit kami dan bersedia membantuku
membangkitkan kembali bangsaku.”
Sejak awal, Bara tak ingin
mengikat Rhea untuk selamanya. Dia melakukan hal itu karena butuh kekuatan Rhea
dan menjamin keselamatan mereka. Bila memang Rhea tak akan berbuat buruk lagi
dan mau meminjamkan kekuatannya dengan sukarela, tak ada alasan bagi Bara untuk
memaksanya terus tunduk.
“Aku tidak percaya
padamu!” Rhea rasa, mustahil mereka tidak menyimpan dendam setelah apa yang dia
lakukan. Apalagi kekuatannya berada di atas mereka semua. Bila kontraknya
dibatalkan, sama saja mereka memberikan kesempatan baginya untuk balas dendam.
“Kalian bisa mengalahkanku
sebelumnya hanya karena aku lengah dan meremehkan kalian. Tak akan ada lain kali.
Bila aku bebas, kalian akan mati. Mana mungkin kalian sebodoh itu melepaskanku hanya
karena satu bantuan kecil. Dan aku juga tak sebodoh itu untuk percaya pada
janji kalian.”
“Kau memandang dirimu
terlalu tinggi, rubah. Saat ini kami memang lebih lemah, tapi setelah bangsaku
dibangkitkan, kekuatanku sendiri sudah cukup untuk mengalahkanmu. Belum
termasuk Kyra, Meena dan Kanya yang akan berkembang pesat saat waktu itu tiba.”
Bara berpikir panjang ke depan. Dia berani menjanjikan sesuatu, maka dia yakin
bisa mengatasi masalah yang datang
bersama kebebasan Rhea.
Alasan kenapa kekuatan
Bara hanya sebatas Rank SS karena Roh Salju menghilang dari altar bangsanya.
Setelah Roh Salju kembali ke altar, bukan hanya bangsanya bisa dihidupkan
kembali, tetapi kekuatan sihir seluruh Elf Salju juga akan meningkat dua kali
lipat.
“Ugh, sekarang kau berniat
mengintimidasiku?”
Keseriusan Bara membuat
Rhea takut. Dia tak tahu aura mendominasi apa yang keluar dari tubuh Bara, tapi
ia tahu bila itu adalah kekuatan kuno yang tak bisa dijelaskan dengan
kata-kata.
“Aku memberimu kesempatan
untuk mendapatkan kebebasan kembali. Kaumau terima atau tidak?”
“Percuma kau bertanya
padanya, Bara. Dia sekarang terikat kontrak denganmu. Perintahkan saja padanya,
maka dia tidak akan bisa menolak.”
Bara paham maksud Soli.
Setuju atau tidak setujunya Rhea tak akan mengubah apa pun. Dia tetap bisa
menggunakan Rhea untuk mewujudkan tujuannya. Akan tetapi, hati nurani Bara
tidak ingin mengambil jalan seperti itu. Kontraknya hanya jaminan, dan sebisa
mungkin Bara berharap Rhea tetap punya kebebasan untuk memutuskan jalan
hidupnya sendiri.
“Tak apa, Soli. Aku ingin
dengar pendapatnya.”
Rhea berpikir dengan
keras. Perkataan Soli lebih masuk akal baginya. Apa pun pilihannya, dia tetap
harus membantu mereka. Yang membedakan hanya apakah Bara akan menepati janjinya
atau tidak.
“Baiklah. Aku akan
membantumu. Pastikan saja kau tidak mengingkari janjimu sendiri. Bebaskan aku
setelah urusanmu selesai.” Memangnya Rhea punya pilihan? Dia hanya bisa mempertaruhkan
semuanya.
“Tenang saja, aku tak akan
mengecewakanmu.”
Bara tersenyum tulus.
Merasa senang karena Rhea mau mendengarkan dan percaya padanya walaupun tidak
100%. Reaksi tak diduga itu membuat Rhea bungkam, merasa sedikit bersalah atas
apa yang tidak ia pahami.
Orang-orang ini hanya
orang asing yang punya dendam padanya. Berteman dengan mereka tak ada
bagus-bagusnya sama sekali. Lebih baik tidak mengharapkan apa pun, tapi kenapa hatinya
__ADS_1
masih saja tergoyahkan?