Phoenix Bride

Phoenix Bride
Episode 38


__ADS_3

Karena Kyra disita oleh


Alexi, Meena dan Kanya terbengkalai. Sudah begitu Bara dan Soli menghilang


membawa Rhea. Katanya sih ingin berlatih, tapi mana kedua gadis itu percaya.


Kan laki-laki tua – Bara suka main rahasia-rahasiaan dengannya.


“Mereka semua seenaknya


sendiri!” keluh Meena.


Si cebol berjalan sambil


menghentak-hentakkan kaki. Ceritanya sedang menemani Kanya menjelajahi bukit di


dekat perkemahan. Apa yang dicari oleh Roh Air itu pun tidak ia ketahui.


Soalnya Kanya hanya bilang bila dia merasakan suatu kekuatan familier dari arah


bukit.


“Biarkan saja mereka.


Jalan lebih cepat, Meena. Kita sudah dekat.”


Sebaliknya, Kanya begitu


tenang dan cuek. Dia tak peduli apakah mereka berkelompok atau tidak. Tujuan


hidupnya jelas dan satu-satunya alasan kenapa dia melakukan perjalanan dengan


mereka hanya karena kebetulan Kyra dan Meena senasib dengannya.


“Memangnya apa yang


kaucari sih!”


“Tidak tahu, tapi aku


yakin apa pun itu yang mengeluarkan aura sejenis ini pastilah berhubungan


dengan bangsa Peri.”


“Jangan-jangan Peri Mimpi


memang ada di sini?”


Mereka sudah tidak membutuhkan


Peri Mimpi lagi, tapi bila memang bisa menemukannya, kenapa tidak? Bangsa Peri


merupakan keberadaan yang murni. Apa pun jenisnya tidak masalah. Karena


asal-muasal bangsa Peri adalah dari Aurora Sea, kampung halaman Kanya dan Bara.


“Kita akan tahu setelah


melihatnya sendiri. Ke arah sini,” balas Kanya.


Meena melompati batu-batu


di sekitar kakinya, mengejar Kanya seperti anak kecil yang sedang bermain. Dia


berhenti di depan sebuah mulut gua karena Kanya berhenti terlebih dahulu.


“Kenapa?” tanya Meena.


“Apa ada bahaya?”


“Tidak.”


Bukan bahaya. Melainkan


aura yang ia rasakan terlalu lemah bahkan untuk ukuran Peri tingkat rendah


sekalipun. Firasat Kanya jadi tak enak, cemas bahwa Peri yang akan mereka


temukan sudah tak memiliki daya hidup.


“Ayo masuk.”


“Apaan sih, aneh sekali.”


Tingkah Kanya tak jelas.


Tadi berhenti, sekarang berlari tiba-tiba. Meena sebal tahu. Mau ditinggal tak


tega, ikut juga jadi malas.


Akhirnya Meena tetap


menyusul Kanya masuk ke dalam. Gua itu tidak dalam, tetapi agak aneh. Udara di


daerah ini cukup hangat, tetapi bagian dalam gua sepenuhnya tertutup oleh


kristal es.


Saat Meena ingin menyentuh


kristal es tersebut, Kanya menahan tangan Meena. Ia menggeleng, melarang Meena


menyentuhnya.


“Bukan Peri. Apa yang


tertidur di sini adalah Roh Salju,” jelas Kanya.


“Roh Salju? Apa itu?


Sesuatu sejenismu?” Tampang Meena berubah bingung. Dia tak tahu ada yang


namanya Roh Salju. Kalau Roh Air sih ada, itu tepat di sampingnya.


“Bara tahu lebih banyak.


Kita harus membawanya pada Bara.” Sedangkan Kanya begitu serius. Ia


berhati-hati mendekati tengah gua di mana sesosok makhluk kecil mirip Peri itu


tertidur. Kemudian dia mengangkat sebuah kristal berwarna biru besar yang


menjadi tempat tidur Roh Salju.


“Dia sejenis Elf juga?”


Bukannya Bara itu Elf Salju? Mungkin mereka masih termasuk saudara jauh.


“Setahuku, Roh Salju adalah


pelindung bangsa Elf Salju. Dia tidak berasal dari sini.” Selain itu, hidup dan


matinya Roh Salju sama saja dengan hidup dan matinya seluruh bangsa Elf Salju.


Dia punya kekuatan untuk membangkitkan yang mati dan membangun kembali apa yang


hancur di tanah bangsa Elf Salju.


Namun, Kanya tak berani


mengungkapnya dengan suara keras. Karena dia sendiri tak yakin sampai di mana

__ADS_1


kebenaran informasi yang sebenarnya. Sebab, hanya secuil dari bangsa Elf Salju


yang mengetahui kebenaran akan Roh Salju.


***


Malam hari, saat


teman-temannya telah kembali ke perkemahan, Kanya mengumpulkan mereka dalam


satu pondok untuk menunjukkan Roh Salju yang mereka temukan tadi siang.


“Peri beku?” Kyra


menatapnya lekat-lekat. Baru pertama kali melihat sosok kecil cantik dengan


sayap transparan yang mencolok. Tangannya juga ikut mendekat, penasaran ingin


menyentuh sosok kecil itu.


Ekspresi wajah Bara


langsung berubah pucat. Refleks ia mendorong kepala Kyra menjauh. Reaksi Bara


tersebut membuat Kyra kaget. Dia menurunkan tangan Bara dari wajahnya.


“Jangan terlalu dekat.


Apimu akan melelehkannya.” Belum sempat Kyra bertanya, Bara telah menjawab. Kyra


langsung mundur sejauhnya dari Kanya dan Roh Salju itu. Takut bila ia tak


sengaja melelehkannya.


“Memangnya itu apa?”


Sepertinya penting sekali buat Bara.


“Roh Salju ini adalah


harapan bangsaku. Sejak awal, kedatanganku ke Kerajaan Draco adalah untuk


mencarinya.” Tak Bara sangka, pencarian selama ratusan tahun yang sia-sia itu,


bisa berbalik begitu saja hanya karena kebetulan Kanya menemukannya.


Seseorang menculik Roh


Salju dari altar kerjaannya. Itulah kenapa bangsa Elf Salju bisa hancur hanya


karena serangan Undead. Usut diusut, mereka menemukan petunjuk bila orang itu


membawa Roh Salju ke Kerajaan Draco, tapi setelah itu semua petunjuk hilang


begitu saja.


Apa yang sebenarnya


terjadi dan kenapa Roh Salju itu tertidur secara tak wajar tak bisa lagi mereka


ketahui. Namun, Bara tahu cara untuk membangunkannya dan untuk itu, mereka


harus pergi ke Aurora Sea.


“Lalu apa yang ingin


kaulakukan, Elf tua?”


Meena bisa melihat bila


fokus Bara sudah beralih. Bisa jadi malah Bara berniat berpisah dengan mereka


karena telah memiliki tujuannya tersendiri. Hanya tinggal sehari lagi dari


harap, Bara tidak mendadak berkata ingin berpisah begitu mereka keluar dari


lapisan pelindung.


“Kembali ke Aurora Sea.


Aku tak tahu apakah kalian mau ikut atau tidak, tapi aku tak akan berubah


pikiran apa pun yang terjadi.” Bara tak tahu berapa lama lagi Roh Salju itu


bisa bertahan. Dia harus membawanya kembali ke altar sebelum sisa aura terakhir


Roh Salju lenyap.


“Kami akan ikut. Daripada


berkeliaran tak jelas, pergi ke kampung halamanmu lebih jelas. Kanya juga


berasal dari sana. Jadi kenapa tidak?” Kyra langsung setuju. Pencariannya tak


ada petunjuk. Di saat yang sama, Bara menemukan solusi dari masalahnya. Kenapa


mereka tidak membantu Bara dulu, baru setelah itu mencari informasi untuk


dirinya sendiri.


“Aku setuju. Tanah di


Aurora Sea bisa meningkatkan kekuatan pengguna sihir air dan es. Secara alami


tempat itu adalah surga bagiku dan Bara.” Kanya juga setuju. Sisanya hanya


Meena yang memutuskan. Soli tak perlu ditanya. Dia akan ikut ke mana pun Meena


pergi.


“Kalian sudah putuskan


sendiri. Untuk apa menatapku seperti itu? Mau pergi ya pergi. Ke mana pun sama


saja. Aku hanya mau berlatih.” Cara berbicara Meena tak manis sih, kurang bisa


jujur mengakui bila sejak awal dia memang sudah berniat mengikuti mereka ke


mana pun tujuannya.


“Karena Nona Meena sudah


setuju, aku tak akan mengatakan apa pun,” ujar Soli.


Bara tersenyum tipis,


merasa senang mendapatkan dukungan penuh teman-temannya. Dia hanya tak


mengucapnya secara langsung, tapi semua orang mengerti akan hal itu kecuali


Rhea.


“Aku tak ingin pergi ke


tempat dingin dan berair seperti itu.” Siluman rubah itu bersedekap, mendengus


tak senang. Seluruh elemen sihirnya merupakan elemen paling lemah terhadap


udara di Aurora Sea. Pergi ke tempat seperti itu sama saja dengan menekan


setidaknya 40% kekuatannya. Belum lagi ada kontrak budak yang mengikatnya.

__ADS_1


“Tidak ada yang bertanya


padamu. Ingatlah, kau adalah budak kami,” balas Soli, mengingatkan.


Bahkan bila para gadis


pengantin merasa kasihan pada Rhea, mereka tidak melakukan apa pun untuk


membelanya. Siluman rubah itu yang terlebih dulu ingin mencelakai mereka. Apa


yang dia dapatkan saat ini adalah karma dari perbuatannya dulu.


“Akan kubatalkan kontrak


budakmu bila kau berhenti mempersulit kami dan bersedia membantuku


membangkitkan kembali bangsaku.”


Sejak awal, Bara tak ingin


mengikat Rhea untuk selamanya. Dia melakukan hal itu karena butuh kekuatan Rhea


dan menjamin keselamatan mereka. Bila memang Rhea tak akan berbuat buruk lagi


dan mau meminjamkan kekuatannya dengan sukarela, tak ada alasan bagi Bara untuk


memaksanya terus tunduk.


“Aku tidak percaya


padamu!” Rhea rasa, mustahil mereka tidak menyimpan dendam setelah apa yang dia


lakukan. Apalagi kekuatannya berada di atas mereka semua. Bila kontraknya


dibatalkan, sama saja mereka memberikan kesempatan baginya untuk balas dendam.


“Kalian bisa mengalahkanku


sebelumnya hanya karena aku lengah dan meremehkan kalian. Tak akan ada lain kali.


Bila aku bebas, kalian akan mati. Mana mungkin kalian sebodoh itu melepaskanku hanya


karena satu bantuan kecil. Dan aku juga tak sebodoh itu untuk percaya pada


janji kalian.”


“Kau memandang dirimu


terlalu tinggi, rubah. Saat ini kami memang lebih lemah, tapi setelah bangsaku


dibangkitkan, kekuatanku sendiri sudah cukup untuk mengalahkanmu. Belum


termasuk Kyra, Meena dan Kanya yang akan berkembang pesat saat waktu itu tiba.”


Bara berpikir panjang ke depan. Dia berani menjanjikan sesuatu, maka dia yakin


bisa mengatasi masalah yang  datang


bersama kebebasan Rhea.


Alasan kenapa kekuatan


Bara hanya sebatas Rank SS karena Roh Salju menghilang dari altar bangsanya.


Setelah Roh Salju kembali ke altar, bukan hanya bangsanya bisa dihidupkan


kembali, tetapi kekuatan sihir seluruh Elf Salju juga akan meningkat dua kali


lipat.


“Ugh, sekarang kau berniat


mengintimidasiku?”


Keseriusan Bara membuat


Rhea takut. Dia tak tahu aura mendominasi apa yang keluar dari tubuh Bara, tapi


ia tahu bila itu adalah kekuatan kuno yang tak bisa dijelaskan dengan


kata-kata.


“Aku memberimu kesempatan


untuk mendapatkan kebebasan kembali. Kaumau terima atau tidak?”


“Percuma kau bertanya


padanya, Bara. Dia sekarang terikat kontrak denganmu. Perintahkan saja padanya,


maka dia tidak akan bisa menolak.”


Bara paham maksud Soli.


Setuju atau tidak setujunya Rhea tak akan mengubah apa pun. Dia tetap bisa


menggunakan Rhea untuk mewujudkan tujuannya. Akan tetapi, hati nurani Bara


tidak ingin mengambil jalan seperti itu. Kontraknya hanya jaminan, dan sebisa


mungkin Bara berharap Rhea tetap punya kebebasan untuk memutuskan jalan


hidupnya sendiri.


“Tak apa, Soli. Aku ingin


dengar pendapatnya.”


Rhea berpikir dengan


keras. Perkataan Soli lebih masuk akal baginya. Apa pun pilihannya, dia tetap


harus membantu mereka. Yang membedakan hanya apakah Bara akan menepati janjinya


atau tidak.


“Baiklah. Aku akan


membantumu. Pastikan saja kau tidak mengingkari janjimu sendiri. Bebaskan aku


setelah urusanmu selesai.” Memangnya Rhea punya pilihan? Dia hanya bisa mempertaruhkan


semuanya.


“Tenang saja, aku tak akan


mengecewakanmu.”


Bara tersenyum tulus.


Merasa senang karena Rhea mau mendengarkan dan percaya padanya walaupun tidak


100%. Reaksi tak diduga itu membuat Rhea bungkam, merasa sedikit bersalah atas


apa yang tidak ia pahami.


Orang-orang ini hanya


orang asing yang punya dendam padanya. Berteman dengan mereka tak ada


bagus-bagusnya sama sekali. Lebih baik tidak mengharapkan apa pun, tapi kenapa hatinya

__ADS_1


masih saja tergoyahkan?


__ADS_2